Your Secret Admirer (1/3)

yoursecretadmirer

Aku mengagumi sang pangeran. 

Pangeran yang dingin bagai es, namun ia dapat melakukan apa pun. Aku tahu dia juga sangat baik hati, sejak dia mengambilkan sapu tanganku yang terhembus ke atas dahan pohon tinggi di depan sekolah. Tidak banyak orang yang kukenal, jadi aku tidak bisa apa-apa selain menaikkan tumit kakiku dan berusaha untuk menggapai sapu tanganku yang tersangkut.

Kemudian pangeran itu datang…

Dan membuat aku jatuh cinta.

******

Aku mengagumi sang pangeran.

Pangeran yang dingin bagai es, namun ia dapat melakukan apapun. Aku tahu dia juga sangat baik hati, sejak dia mengambilkan sapu tanganku yang terhembus ke atas dahan pohon tinggi di depan sekolah. Tidak banyak orang yang kukenal, jadi aku tidak bisa apa-apa selain menaikkan tumit kakiku dan berusaha untuk menggapai sapu tanganku yang tersangkut.

Kemudian pangeran itu datang…

Dan membuat aku jatuh cinta.

******

PART.1: The Ice Prince

“Aku jatuh cinta pada sunbaenim!”

Aku memandang ke arah gadis-gadis yang berkumpul di tengah ruangan kelas. Mereka semua tertawa riang seraya menyebut orang yang disukainya, saling bertukar informasi dan mengomentari orang yang temannya sukai. Perempuan memang seperti itu.

Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Aku juga kurang bisa bergaul dengan mereka, jadi yang aku lakukan hanya membaca buku di perpustakaan. Kadang Haerin—sahabatku—menemaniku. Tapi dia sudah punya pacar, jadi waktunya untukku tak banyak.

“Aah kalau aku sih menyukai Ice Prince!”

Deg!

“Ngomong apa kamu? Gadis tercantik seangkatan saja ditolak olehnya, sudah pasti kamu ditolak sebelum bicara!”

Aku terdiam mendengarnya. Ya, itu benar. Yang dimaksud Ice Prince adalah Gong Chansik, cowok judes nan kalem namun bisa segalanya. Semua gadis ingin menjadi pacarnya, tapi tidak ada yang bisa meraihnya karena dia itu dingin dan judes bukan main.

Aku sadar aku kurang menarik, dan aku yakin tidak bisa mendapat Gongchan. Tapi cukup hanya melihatnya dari jauh saja hatiku sudah berbunga-bunga. Sebelumnya aku tidak tertarik padanya. Sampai hari itu, dimana sapu tanganku tersangkut saat upacara kenaikan kelas…

Flashback

“Uuuh! Susah sekali digapainya!!” keluhku sambil terus berjinjit, berharap sapu tangan merahku yang tersangkut itu bisa terambil. Kalau saja pohon ini hidup, mungkin dia sudah akan berbaik hati membungkukkan tubuh besarnya dan memberikan sapu tanganku. Semua ini gara-gara angin terkutuk itu.

Aku memandang sekeliling. Sama sekali tidak ada orang yang kukenal, dan semuanya sama sekali tidak tertarik untuk membantuku. Memang orang baik sudah berkurang di dunia ini.

“Uhhh…!” Aku terus menjinjit, sampai kakiku rasanya lemas sekali. Tanganku juga pegal diangkat lama-lama. Ah, sudahlah… Sapu tangan dari eomma, selamat tinggal…

Krek!

“Eh?”

BRAKKK!!!

Sesosok namja jatuh dari atas pohon. Aku kaget, dia terjatuh tepat di depanku dan kepalanya dipenuhi daun-daun yang gugur. Sejak kapan dia ada di atas sana?!

Aku hanya bisa melongo. Namja itu menatapku tajam, membuatku ketakutan. Dengan perlahan dia mendekatiku dan mengulurkan tangannya.

“Bangun.” Katanya. Aku hanya terus diam sambil menerima uluran tangannya. Bisa kurasakan wajahku panas. Aish… Kenapa sih, ini?

“… Kamsa hamnida.”

“Jangan terlalu formal. Angin sedang kencang.” Ungkapnya, lalu menyerahkan sapu tanganku, dan berlalu pergi.

Aku menatap punggung tegap yang tersirat aura dingin itu. Aku yakin dia orang baik, meski tatapan tajamnya menusukku. Entah kenapa aku terpesona melihatnya… Baru pertama kali aku merasakan hal ini… Apa ini, ya?

“Itu namanya love at the first sight!”

Mwo?” Aku membalikkan badanku. Haerin sudah berdiri di belakangku sambil berkacak pinggang, sebuah senyuman jahil menghiasi wajah mungilnya.

“Iya, cinta pada pandangan pertama! Kamu sungguh telat baru menyukai orang di umur 17 tahun, Rami-ah!” serunya seraya menatapku tajam. Dia menepuk pundakku dan tersenyum lebar. “Seleramu boleh juga.” Pujinya.

“Haerin-ah~ jangan begitu, dong!” seruku dengan kesal. Haerin memang biasa menggodaku, sedangkan orangnya sendiri hanya terkekeh geli.

“Aku akan membantumu.” Katanya mantap. Aku hanya terdiam dan melongo, lalu mencerna kata-katanya.

Mwo? Membantuku?”

Ne. Untuk mendapatkan Ice Prince yang dipuja banyak orang kan memerlukan perjuangan ekstra, bukan?” katanya sambil merangkulku, lalu menarikku masuk ke gedung sekolah. Dengan panik, aku menggeleng cepat.

“Aaah Haerin-ah! Aku tak pernah bermimpi menjadi pacarnya…”

“Tentu saja kau belum mimpi, kan ini masih siang!”

“Ah tunggu dulu… Haerin-ah~!”

Flashback end

Grek!

Suara pintu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke samping, debaran jantungku berdetak begitu keras tanpa kusadari. Itu Gongchan! Itu Gongchan!!

Jujur, aku merasa sangat beruntung karena letak tempat duduknya kebetulan berada di depanku. Bahkan saat pembagian tempat duduk ini ditentukan, aku bisa merasakan tatapan beberapa pasang mata yang memandangku iri.

Dia berjalan begitu dekat ke arahku, membuat debaran jantungku terdengar lebih keras. Dengan gayanya yang agak sombong, dia duduk di bangkunya dan menatap tajam ke arah depan. Tadinya aku takut pada tatapannya, tapi baru kusadari bahwa tatapan itu sangat keren. Kau tahu, dia nampak sangat tampan dengan rambut hitamnya yang berantakan, dan seragamnya yang tidak begitu rapi. Aigoo… Aku gemas melihatnya, kalau saja aku bebas menyentuhnya, aku akan membereskan seragamnya.

Selama beberapa hari ini, diam-diam aku selalu memperhatikannya.

“Gongchannie~ yakin nih nggak mau ikut nonton baseball? Kau nggak mau lihat para pemainnya? Kau tahu sendiri mereka keren! Siapa tahu kau bisa dapat bola saat home run!” tiba-tiba suara sahabat Gongchan, Cha Sunwoo—atau lebih akrab dipanggil Baro—terdengar dari sudut ruangan. Ia membuka pintu kelas dan melompat-lompat di hadapan Gongchan yang sedang duduk sambil menikmati susu.

“Nggak. Kau berisik sekali.” Keluh Gongchan, lalu memalingkan wajahnya dan memperhatikan pemandangan di jendela luar. Baro hanya memandangnya sambil cemberut lalu mencubit pipinya, membuat Gongchan melirik kesal pada namja itu. “Lepas, babo.”

“Makanya nonton baseball bersamaku!” perintah Baro.

Gongchan memasang wajah jengkel lalu berjalan keluar kelas lagi. “Aku sedang tidak mood untuk melakukan hal seperti itu.” Ujarnya, lalu mendobrak pintu. Baro hanya terkekeh geli sambil menyusul Gongchan. Dengan tergesa-gesa, aku berlari dan mengintip lewat pintu kelas. Baro melompat ke punggung Gongchan dan sukses membuat namja dingin itu marah. Mereka sangat akrab, aku iri melihatnya.

“Hayo lagi ngapain?”

Aku terkejut, Haerin sudah tersenyum lebar di belakangku. Aish… Dia ini hantu atau bagaimana, sih? Setiap aku sedang melakukan hal seperti ini dia selalu saja ada di belakangku!

“Yah! Haerin-ah~”

“Tuh, tanpa kubantu saja kamu sudah bergerak duluan.” Canda Haerin, membuat wajahku merah padam.

“Ti—tidak kok! Haerin terlalu blak-blakan…” bisikku, tapi aku yakin dia bisa mendengarnya karena tindakannya selanjutnya adalah mencubit pipiku.

“Ah! Lepaskan, dong..”

“Aigoo lucunya… Kamu kan cantik begini, mustahil si Gongchan babo itu tidak menyukaimu, kan?”

“Dia tidak babo! Dan aku tidak cantik!” sergahku dengan nada jengkel. Gadis tercantik seangkatan saja sepertinya sulit untuk mendapatkannya, apalagi aku, kan?

Haerin hanya tersenyum manis, lalu menarikku untuk duduk di bangkunya. “Dengar, Rami.” Ujarnya pelan. Dia menggenggam kedua tanganku. “Kamu harus menunjukkan perasaanmu. Beri dia sesuatu yang istimewa.”

“… Contohnya?” Aku menatap mata Haerin. Jika Haerin sudah bergaya seperti kakak begini, sudah pasti aku harus mendengarkannya. Begitu-begitu, dia punya aura seorang kakak yang lumayan kuat.

“Berikan dia hadiah. Kue, atau apapun itu. Zaman modern begini gadis-gadis di sekolah kita payah, hanya modal internet dan tanya-tanya teman tapi tidak memberikan apapun untuk menunjukkan perasaan mereka pada namja yang mereka sukai. Kau harus beri hadiah pada Ice Prince.” Jelasnya sambil mengacungkan jarinya.

“Ha—hadiah?” Aku tergagap. Apa aku berani memberikan hadiah padanya…? Bicara saja rasanya sudah sulit sekali…

“Ya, hadiah!” ulang Haerin, mantap.

“Hadiah apa?”

“Apapun bisa. Kue, cokelat, permen, baju musim panas, celana vintage…”

“Itu sih kesukaannya Haerin semua!”

“Ah, mian… Ini impianku sih sebenarnya, agak tidak rela juga cowok dingin dengan badan seperti tiang listrik begitu mendapatkan impianku. Tapi demi Rami, aku rela.”

“Aah… Gomawo, Haerin-ah. Nanti sekalian aku buatkan cookies kesukaanmu.”

Jinjja!? Uwaaa kamsaaaa!! Kalau aku belum punya Hoyou, Rami pasti sudah kunikahi! Rami harusnya jadi istriku sajaaa!” teriak Haerin girang. Ia memelukku dan mengacak-acak rambutku, tanda bahwa ia senang. Haerin memang seperti laki-laki, dulu rambutnya pendek dan hobinya bermain basket. Tapi sejak dia jatuh cinta pada tetangganya yang baik hati, dia mulai merubah dirinya untuk jadi feminin. Cinta memang manis, kata Haerin.

Aku tidak mengerti tentang itu. Dan baru pertama kalinya aku jatuh cinta.

Mungkinkah kalau aku jatuh cinta, aku bisa menjadikan diriku sendiri semakin manis?

******

Aku terdiam di depan loker sepatu Gongchan. Sekarang masih sangat pagi, dan aku memang biasa datang jam segini untuk menyiram bunga di halaman sekolah (ya, aku memang sangat rajin). Di tanganku sudah ada sekotak cookies yang dibungkus rapi dan tinggal dimasukkan ke dalam loker saja. Tapi kau tahu… Sulitnya minta ampun.

Aku menutup mataku, lalu berdoa. Ide Haerin yang diberikan padaku sebenarnya biasa saja, tapi aku… Entah kenapa tanganku tak mau bergerak daritadi. Sudah 15 menit lewat dan aku masih terpaku di depan situ.

Ayolah, Rami… Kamu pasti bisa!

Tanganku gemetaran. Dengan cepat, aku membuka loker Gongchan dan memasukkan hadiahku, lalu menutupnya dengan sekali bantingan. Uh… Sekarang pintu lokernya tidak bisa tertutup rapat karena terbanting, bagaimana ini? Bagaimana!?

Aku mondar-mandir di depan loker, lalu berusaha mendorong pintu lokernya agar tertutup, tapi sulit. Oh ayolah… Gongchan juga suka datang pagi-pagi, dan dia pasti akan mengambil sepatunya dulu di loker. Kalau ketahuan, matilah aku!

“Apa kubilang, kan? Baseballnya sangat asyik!”

Aku tersontak kaget. Itu suara Baro!!

“Bawel.”

Aish, suara Gongchan!!!

Bagaimana ini Tuhan? Oh tolonglah, kenapa tidak ada keajaiban yang terjadi sekarang!? Mati aku mati aku mati akuuu!!!

Dengan cepat, aku berlari terbirit-birit untuk bersembunyi, dan meninggalkan loker Gongchan yang masih terbuka. Maafkan aku, Ice Prince, maafkan aku…

“Heh? Kenapa terbuka begini?”

Deg!

“Hmm.”

“Aigoo ada hadiah di dalamnya! Dari penggemarmu? Penggemarmu?” Suara Baro meninggi, dia nampak bersemangat. Kuintip mereka, Gongchan sudah memegang kotak hadiahku dan membuka isinya. Dadaku semakin berdebar-debar. Apa dia akan menyukainya…? Apa dia akan senang mendapatkannya…?

“Whoa! Cookies!!!” teriak Baro, excited.

“Hah, yang benar saja. Aku nggak suka manis. Nih.” Gongchan memberikan kotak berisi cookiesku pada Baro. Badanku lemas seketika mendengarnya. Aah… Aku salah. Jadi harus memberikan apa ya, supaya dia suka? Aku ingin memberikan sesuatu yang bisa membuat Gongchan tersenyum dan memakannya dengan lahap. Selama ini dia tidak pernah tersenyum dan hanya minum susu saat istirahat. Pantas tulangnya saja yang tumbuh.

“Apa? Enak saja. Itu dari orang yang menyukaimu, ya makan sendiri, lah! Nanti kalau aku yang makan, dia bisa sedih! Dasar nggak peka!” tolak Baro dengan memasang wajah kesal. Entah kenapa aku lega mendengarnya.

“Makan? Nggak, ah.” Mendengarnya, badanku merosot ke lantai.

“Haish. Makan, babo!” teriak Baro dengan nada jengkel, lalu menyumpal mulut Gongchan dengan cookiesku. Perlahan, Gongchan mengunyah dan menelannya, membuatku merasa lebih lega sekaligus membuat debaran jantungku kembali bergemuruh.

Hening.

“… Gimana?” Suara Baro memecah keheningan. Ekspresinya nampak penasaran.

“Gimana apanya?”

“Aish, kau mengesalkan sekali, sih. Gimana rasanya?”

“Biasa saja.”

Jantungku hampir lepas.

Jadi biasa saja ya, rasanya? Bagaimana ya supaya Gongchan mau bilang bahwa rasanya enak?

“Ya sudah, habiskan! Itu dari siapa?”

“Nggak ada nama.”

“Wow, anonymous fans. Kau harus berterimakasih masih ada yang mau memberikan hadiah tanpa menunggu hari besar di zaman begini! Sudah, tinggalkan saja lokermu dan makan sampai habis!” omel Baro. Gongchan hanya memandang ke depan dengan cuek dan kembali melahap cookies pemberianku—maksudnya, cookies miliknya.

KYAAA!!! Aku senang. Aku senang!!! Dia memakannya, kan? Apa ini bukan mimpi?? Berarti dia menerimanya, kan? Aih… Aku senang sekali!

Dengan cepat, aku berlari ke arah yang berbeda dengan Gongchan dan Baro, meninggalkan tempat itu dengan kebahagiaan yang membuat tubuhku rasanya melayang. Akhirnya… Aku bisa memberikan sesuatu untuknya! Setidaknya makanan buatanku sudah dimakan oleh Gongchan! Aaah aku harus cerita pada Haerin nanti malam!

Author POV

“…” Gongchan memandang ke belakangnya, nampak seorang gadis yang sedang berlari sambil melompat-lompat. Rasanya pernah melihat siluet itu, tapi dimana, ya? Pikirnya.

“Ada apa?” tanya Baro, menatap Gongchan yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“… Bau vanilla.”

“Hah? Dasar aneh. Memangnya cookiesnya rasa vanilla?”

“Cookiesnya bau vanilla, bodoh.”

Jinjjayo? Ah, hidungmu memang penciumannya terlalu kuat. Kau binatang atau apa sih? Gadis-gadis itu mau saja menyukai binatang dingin macam kamu. Ayo cepat, keburu siang!”

“Bawel ah, aku tahu.”

******

Rami POV

“Kamu berhasil!?” Haerin memekik dari seberang telepon. Aku hanya menjawab dengan deheman dan mengangguk-angguk semangat, meski Haerin tidak melihatnya. “Lalu? Ice Prince bilang apa?”

“Uhm…” Aku memutar bola mataku, mencoba mengingat keseluruhan dari hal yang tadi terjadi. “Dia bilang rasanya biasa saja… ooh! Ternyata Ice Prince tidak suka manis!” seruku dengan heboh. Haerin terkekeh geli di seberang sana.

“Begitukah? Berarti kau harus berjuang lebih baik lagi, Rami-ah! Tunjukkan cintamu, jangan hanya cookies!” Haerin memberi semangat. Nada suaranya berapi-api, membuatku juga ikut semangat.

“Oke, Haerin seonsangnim!” Aku ikut bersemangat. Kami berdua tertawa, dan malam itu, aku melewatkan malam dengan berbicara dengan Haerin.

******

Besoknya, aku membawa sebuah hadiah lagi. Kali ini, aku mencoba membuat sesuatu yang tidak terlalu manis, jadi aku membuat dark cokelat untuknya. Dengan hati-hati, aku memasukkan kotak itu ke dalam lokernya, memastikan bahwa Gongchan dan Baro sudah berjalan mendekati gedung sekolah, lalu langsung berlari ke arah koridor, menunggu dia mengambilnya.

“Apa ini? Hadiah lagi?”

Jantungku berdegup keras. Sekarang, Baro dan Gongchan kembali mengacak-acak bungkus hadiahku dan menemukan sebuah dark cokelat berbentuk bundar. Tadinya Haerin menyuruhku untuk membuatnya dengan bentuk hati… Tapi… Omo, kalian tahu sendiri, aku malu…

“Wah, kayaknya enak! Siapa pengirimnya?” Baro kembali melompat-lompat. Dia memeriksa boks hadiahnya namun tidak dapat menemukan apapun. Aku sendiri tak pernah berpikir akan menulis ‘dari Min Rami’ di boks itu, selain karena aku yakin mereka tidak akan mengenali aku yang tidak menonjol di kelas ini, aku juga ingin Gongchan menebaknya sendiri.

“Ah, anonymous fans lagi. Yasudahlah, masuk saja, yuk!”

Aku langsung menunduk saat mereka berdua lewat. Jangan sampai mereka mengenali aku… Aah… Aku sangat malu…!

Saat mereka lewat, tidak kusadari bahwa Gongchan memperhatikanku dan menyadari sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi.

******

Esoknya, lapangan basket Indoor Samyang High School

Author POV

“KYAAAAAA!!!”

“ICE PRINCE!!! AAAAH ICE PRINCE!!!”

“HWAITING GONGCHAAAANNN!!! GONGCHAN! GONGCHAAAN!!!”

Gongchan, tanpa mengubris teriakan gadis-gadis yang menurutnya mengganggu itu, terus melesat dengan lihai melewati lawan-lawannya, sambil terus membawa bola. Poni panjangnya terkibas kemana-mana, membuat setengah isi stadium pingsan (?)

Rami kini duduk tergencet di kerumunan orang yang dengan nafsunya berdiri dan mengibas-ngibaskan tangan mereka untuk menyemangati Gongchan. Ia sendiri tak terlalu peduli, karena matanya tetap melekat pada sosok Gongchan yang terus berlari mendekati ring. Begitu mempesona, menurutnya. Sedangkan Haerin yang menemaninya merasa amat jengkel dengan gadis gendut seperti kingkong yang dengan sadisnya menekan-nekan dan mendorong tubuhnya sampai hampir jatuh ke depan.

“GONGCHAAAAN AAARRGGHH GONGCHAAAAN!!!” teriak siswi kingkong itu, lalu membentuk tanda hati dengan jarinya (anggap aja mukanya mirip Jung Joori), kemudian melompat-lompat sampai Haerin kembali tergencet.

“Hei gorilla! Jaga sikapmu!!” bentak Haerin dengan nada kesal. Ia sudah siap mengeluarkan death glarenya kalau saja siswi gendut itu mendengar bentakannya tadi.

“KYAAAA!! GONGCHAAAANNN!!!” Mendadak, stadium kecil itu menjadi gaduh.

“Omo…!” Rami menjerit, suaranya tertahan. Gongchan sudah melompat dan menciptakan sebuah dunk, memberikan nilai untuk teamnya, dan sukses membuat sekolahnya menang saat itu juga.

PRIIIITTT!!!

Peluit tanda berakhirnya pertandingan sudah dibunyikan. Nilai 64-60 sukses dicetak SMA Samyang di saat-saat akhir. Para pemain kembali masuk ke ruang loker masing-masing, dan para penonton juga sudah bubar. Tapi Rami masih disana—di bangku penonton—menatap lekat-lekat Gongchan yang masih berdiri di tengah lapangan, seraya memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulutnya.

Gongchan kenapa…? tanyanya dalam hati.

“Ah, baboya! Kenapa lagi kau!?” Baro tiba-tiba masuk dari pintu masuk penonton, kemudian melompat ke dalam lapangan. Ia segera menghampiri Gongchan dan memeriksa jari telunjuk namja itu. Sementara Baro menatap luka goresan di jari Gongchan, Gongchan hanya meringis kesakitan.

Ternyata, jarinya berdarah.

“Rami, sudah yuk! Disini terlalu panaaassss!!!” keluh Haerin. Menonton pertandingan basket sambil digencet-gencet oleh kingkong membuatnya seperti habis disiram air sebaskom sebanyak sepuluh kali. Dengan segera, ia menarik pelan tangan Rami.

E—eo…” Rami hanya mengangguk kecil, tanpa melepaskan tatapannya dari sosok tinggi berambut cokelat yang sudah melangkah masuk ke dalam ruang atlit itu. Bahkan, berkeringat seperti itu saja Gongchan tetap mempesona. Rami benar-benar iri saat melihat Baro yang bebas menyentuh dan merangkul Gongchan tanpa ragu. Memang sih mereka sahabat, tapi Rami juga ingin melakukannya, sekali… Saja.

“Ah, benar juga. Gongchan butuh plester.”

******

“Haish…” Gongchan masuk ke dalam kelas, dengan tetap menggenggam erat jarinya. Sakit di jari itu membuatnya ngilu. Tadi saat melakukan dunk, jarinya tergores dalam oleh-entah-apa dan akhirnya, cairan merah sialan itu keluar begitu saja.

“Ck… Merepotkan.” Keluhnya, lalu berjalan ke bangkunya. Ia agak terkejut saat menemukan sebuah plester di atas meja. Memang, plester itu untuk anak-anak, sudah tergambar jelas dari gambar di atasnya. Tapi setidaknya benda itulah yang ia butuhkan sekarang. Dengan perlahan, ia mengambil plester itu dan mengendus baunya.

“… Bau vanilla…”

******

The other day, 07.00AM

Hari ini, Rami membawa dua buah kotak bento untuk dirinya sendiri dan sudah tentu, untuk Gongchan. Keahliannya memang hanya memasak, jadi itulah satu-satunya yang bisa ia andalkan untuk hadiah. Dia sangat tahu, setiap istirahat Gongchan tidak pernah membeli apa-apa di kantin selain susu, dan setelah pulang sekolah pun namja itu harus mengikuti ekskul basket, jadi sama sekali tidak ada waktu untuk makan. Setidaknya, Rami bisa memberikan sesuatu untuk namja itu makan ketika jam istirahat, tanpa membayar.

Sebuah senyuman merekah di wajah mungilnya. Gongchan memakan semua makanan yang ia berikan, dan namja itu juga mau menggunakan plester yang ia beri. Rasanya benar-benar bahagia.

“Kira-kira, apa reaksi Ice prince, ya?” senandungnya, lalu dengan perlahan memasukkan kotak bekalnya ke dalam loker Gongchan yang sudah dibetulkan.

“—Ah!”

Rami menoleh ke arah sumber suara. Baro dan Gongchan sudah berdiri di sampingnya, dan masing-masing dari mereka hanya memandang dengan tatapan terkejut. Rami sendiri sudah tidak bisa mengelak lagi, karena sekarang posisi tangannya sedang berada di atas kotak bekalnya, yang sudah diletakkan di dalam loker Gongchan. Posisi yang mencurigakan.

Mati aku.

“Ah, jadi ini secret admirernya!” seru Baro, wajahnya tiba-tiba menjadi cerah. “Kalau tidak salah kita sekelas, kan? Siapa namamu?”

“Mi—Min Rami…” jawab Rami dengan kikuk. Ia tidak bisa berbicara apa-apa lagi pada saat itu.

“Aaaah jadi Min Rami, toh. Lihat Gongchanie, gadis yang memberimu makanan ini namanya Rami-ah!” Baro menatap mata Gongchan dengan pandangan jahilnya, lalu menyikut lengan Gongchan. Rami hanya bisa diam, pipinya bersemu merah. Kira-kira, apa yang akan dikatakan Gongchan tentang dirinya, ya?

“—Gu.”

Mwo? Kau bilang apa?”

“Mengganggu.”

Baro dan Rami terdiam. Rami langsung merasa gelisah, perasaannya campur aduk antara rasa bersalah, tidak enak, sedih, dan bingung. Kenapa tiba-tiba perasaan ini melandanya begitu saja? Dia bahkan tidak tahu harus menjawab apa dengan jawaban jujur Gongchan. Dia tidak tahu, ternyata selama ini dia malah mengganggu namja ini. Dia tidak tahu. Dadanya sesak.

“O—oi, ayolah… Padahal kau makan semua makanan pemberiannya, kan? Ah, ah… Walaupun aku yang menghabiskannya…” Baro menarik lengan Gongchan dengan panik, ikut merasa bersalah juga karena telah memicu sahabatnya itu untuk mengatakan hal tadi. Apalagi sekarang ia melihat mata Rami sudah berkaca-kaca.

“Aku benci orang baik.” Ujar Gongchan ketus, lalu mengambil bekal dari Rami di lokernya, kemudian menyerahkannya pada gadis itu. “Bawa pulang.”

Rami hanya diam, dia tidak sanggup berbicara. Dengan tangannya yang bergetar, ia segera mengambil kotak bekalnya dari tangan Gongchan, lalu mendekap kotak itu erat-erat.

“Semua makananmu dia yang habiskan. Jangan suruh aku balas budi.” Gongchan mendorong Baro ke hadapan Rami, lalu membenarkan posisi tas punggungnya dan berjalan meninggalkan mereka.

“… Mianhae…”

Gongchan menghentikan langkahnya. Suara Rami yang bergetar entah kenapa menggema di dalam kepalanya, menghentikan semua sendi-sendinya sehingga ia harus berhenti pada saat itu juga.

Mian… Sudah mengganggumu.” Rami menunduk ke arah Gongchan dengan cepat, lalu berlari meninggalkan mereka. Tidak, air matanya tidak dapat ia tahan lagi. Bulir-bulir kristal itu terus mendesak keluar, dan tanpa menunggu lagi, semuanya meluncur begitu saja, mengalir satu demi satu di pipi pucatnya.

“Rami-ah…!”

Rami terus berlari, tanpa berbalik. Ia tahu jika ia berbalik, ia akan semakin sakit saat melihat Gongchan yang terus berjalan tanpa mempedulikan air matanya. Dia memang ice prince, tapi Rami berharap ia dapat mengubah dan meluluhkan hati ice prince itu. Ternyata tidak. Dia memang hanya gadis biasa.

“… Rami?” Haerin—yang tumben datang pagi, baru saja keluar dari kelas ketika ia melihat Rami yang tengah berlari ke arahnya. Gadis yang berlari itu menatapnya dengan air mata yang masih berlinangan, lalu melompat dan memeluknya. “… Ada apa?”

Rami tidak menjawab. Ia hanya mempererat pelukannya.

“… Jangan bilang… kalau… Gongchan…?”

Rami terdiam sebentar, lalu mengangguk.

“Ck… Namja dingin itu benar-benar tak tahu terima kasih. Brengsek.” Umpat Haerin. Ia kembali memandang iba sahabat dari kecilnya itu lalu mengelus kepalanya. “Gwenchanaeyo? “

Ne…” Rami memberanikan dirinya untuk menjawab. Ia mengangkat wajahnya dan menatap mata tentram Haerin. “… Cinta pertama itu… Bisa sangat menyakitkan ya, Haerin-ah.” ujarnya perlahan.

“… Ne. Kamu benar.”

******

Rami duduk di bangku taman sekolah. Dia menerawang ke arah langit, mencoba menahan sinar matahari yang menerpa tubuhnya. Meski matanya sudah terlindung, sekujur tubuhnya tetap saja mandi sinar matahari.

“Kalau disitu terus nanti kepanasan loh, Rami-ah.”

Rami tidak berani menoleh. Dia tahu pemilik suara itu, karena sudah hampir setiap pagi ia mendengar suara renyahnya. Hampir setiap hari dia mendengar suara itu bergema di seluruh penjuru ruangan. Orang itu—Baro, mengambil tempat di sebelah Rami dengan tenang, lalu ikut memandang langit.

“Hari ini mendung, ya?”

“Mhm.”

“… Maafkan Gongchanie ya, dia memang kasar di luar, tapi dalamnya lembut, kok.” Baro memainkan jari-jarinya. Ia sedang berpikir untuk mengatur kata-kata yang tepat.

“… Ya, aku tahu.” Jawab Rami cepat. Ya, dia tahu Gongchan sebenarnya orang yang sangat baik, hatinya juga lembut. Sebenarnya jauh dari hari sebelum Gongchan menolongnya, ia sudah melihat namja itu. Meski dia tidak tahu namanya.

Flashback

Rami berjalan dengan tenang ke taman sekolah. Dia yakin tempat itu sangat sepi, dan dia bisa beristirahat disana tanpa diganggu siapapun. Rami tidak begitu suka keramaian, ditambah lagi sifatnya pemalu.

“… Ahahah!”

Langkah Rami terhenti. Ia merasa bahwa dia mendengar suara lelaki dari taman. Apa mungkin sudah ada orang lain disitu?

Dengan takut-takut, Rami mengintip ke arah taman. Disanalah ia melihat sang pangeran pertama kali, sedang tiduran di atas rumput seraya mengangkat seekor kelinci di atasnya. Biasanya gadis-gadis lain akan menjerit, tapi entah kenapa pemandangan yang dilihat Rami malah begitu manis… Menurutnya.

“Siapa dia?” bisik Rami. Dia masih mengintip dari balik tembok.

Rami akui pada saat itu dia sempat terpesona oleh namja itu. Poninya panjang semata, rambutnya yang kecokelatan berkilau tertimpa sinar matahari, serta senyumannya begitu mempesona. Namja itu terus tersenyum sambil menatap kelinci yang ia pegang, lalu menurunkan binatang itu perlahan. Ia meletakkan jarinya di depan bibir, lalu menyuruh kelinci itu berlari pulang. Dengan segera, kelinci liar itu berlari dan hilang dibalik semak-semak.

Rami tertegun melihatnya. Selama ini dia takut pada namja itu, tapi tak disangka… Hatinya benar-benar lembut.

Sebuah senyuman menghiasi wajah mungilnya. Ia menemukan sesuatu yang menarik, yang mengingatnya saja cukup membuat senyuman manis kembali menghiasi wajahnya.

Flashback end

Mianhae, dia memang tidak suka diperlakukan baik oleh orang. Dia punya masalah di masa lalu.” Baro melanjutkan ceritanya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. “… Ng… Semua bekalmu aku yang habiskan sih… tapi percayalah padaku, suapan pertama selalu Gongchan yang makan!” seru Baro seraya menunjukkan dua jarinya. Rami hanya tertawa kecil melihatnya.

“… Lalu, aku harus bagaimana? Gongchan marah padaku…”

“Tenanglah, dia tidak marah, hanya kesal. Untuk lanjutnya bagaimana kalau kamu tanya sendiri padanya?”

“… Mwoya!? ANDWAEEE!! Bagaimana kalau aku salah bicara? Bagaimana kalau dia malah makin marah??” Ekspresi Rami yang tadinya tenang-tenang saja berubah menjadi khawatir bercampur bingung. Hatinya terusik, apakah Ice prince mau memaafkannya?

“Tenang saja, Rami-ah. Kau menyukainya, kan?” tanya Baro, seraya menatap Rami dengan tatapan teduhnya.

“… Ne.” Pipi Rami bersemu merah, dia mengangguk-angguk dengan semangat. Ya, dia sangat menyukai Gongchan. Sangaaat sayang.

“Nah, begitu, dong! Hwaiting!!!” Baro tertawa renyah, lalu mengacak rambut Rami dan mengangkat tangannya ke udara. Rami tak bisa menahan tawanya lagi, kali ini yeoja itu ikut mengangkat tangannya ke atas, kemudian tertawa bersama Baro. Saking asyiknya, mereka tidak menyadari bahwa Gongchan sudah memperhatikan mereka, sejak awal.

“… Disukai itu merepotkan…” gumam Gongchan lirih, lalu melirik ke arah Rami dengan ujung matanya. Ia menghela nafas, lalu masuk ke dalam gedung sekolah.

******

“Kamu harus bicara dengan Gongchanie sekarang, Rami-ah!” teriak Baro, yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu. Namja itu melompat-lompat dengan semangat di atas batas kewajaran di depan Rami dan Haerin yang tengah melahap bekal mereka di meja.

MMwoya!? Secepat itu? Sekarang?? Harus!?” pekik Rami, setengah terkejut. Hampir saja ia tersedak sosis.

Ne! Tentu saja! Kapan lagi?”

“Ta—tapi aku…”

“Rami-ah!” Haerin menepuk pundak Rami. Matanya berbinar penuh harapan dan semangat *cielah. “Aku juga mendukung! Kau harus melakukannya! Hwaiting!!”

MMwo? Haerin juga!??” Rami makin kalap. Ia tidak bisa berpikir lagi sekarang, kedua orang gila di hadapannya ini terus menatap dirinya dengan tatapan penuh harap.

“Kau harus bilang bahwa kau ingin jadi temannya!” seru Baro, membara.

“Ya! Dan kau bisa mulai mendekatinya perlahan-lahan!” tambah Haerin.

“A—ah, aku… Haerin, Baro—”

“Hwaiting!” Baro dan Haerin memotong kata-kata Rami. Mereka tidak mau mendengar alasan apapun, seperti belum mempersiapkan diri atau yang lainnya dari yeoja itu. Pokoknya dalam otak mereka, Rami harus berbicara dengan Gongchan SECEPAT mungkin.

“… Baiklah.” Rami akhirnya menyerah. Cepat atau lambat, Baro dan Haerin akan tetap memaksa dia melakukan hal itu.

“Oke! Tenangkan dirimu, Rami-ah!” Haerin tersenyum puas, lalu mengerlingkan matanya pada Baro. Sepertinya pemaksaan tidak langsung mereka berhasil.

Grek!

“Oh! Ooh! Itu Gongchanie! Kajja kajja!” Baro segera mendorong punggung Rami, membuat gadis itu terdorong ke hadapan Gongchan langsung. Ia tidak bisa lari lagi, karena sekarang Gongchan sudah menatapnya dengan tatapan mau-apa-kau. Dan dia tahu kalau dia lari, Haerin dan Baro akan mengejarnya dan memaksanya melakukan hal ini lagi.

“Uh… Uhm… Aku…” Rami menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Ia melirik ke arah Haerin dan Baro, dua orang itu hanya nyengir seraya mengangkat dua jempol mereka ke atas. “Aish…” Ia berdecak kesal.

Gongchan memasang tampang sinis. Karena menurutnya Rami hanya membuang waktu, dia segera berjalan meninggalkannya. Tapi Rami langsung menarik kaos seragamnya dan berujar, “I—Izinkan aku jadi temanmu, Gongchan-ssi!”

Baro dan Haerin langsung cekikikan melihatnya. Tak mereka sangka Rami bisa seberani itu, tapi mereka juga merasa lega.

“… Mwo?” Gongchan tak mendengar perkataan Rami. Suara gadis itu terlalu kecil untuk telinganya, dan dia menundukkan tubuh tingginya untuk mendengar suara Rami. Tetapi Rami malah melangkah mundur, dia malu karena wajahnya hanya tinggal beberapa senti dari wajah Gongchan.

“A—aku… Ingin… jadi… temanmu..!” Rami menaikkan volume suaranya. Jika Gongchan menyuruhnya mengulang perkataannya lagi, dia yakin dia akan langsung mati di tempat. Untung saja kelasnya sangat sepi sekarang.

“Oh.”

Hening beberapa saat. Rami memejamkan matanya dan menggigit bibirnya. Keringat dingin membasahi dahinya dan dia terus merasa debaran jantungnya bergemuruh luar biasa. Mungkin aku akan benar-benar mati… Mungkin aku akan benar-benar mati… gumamnya.

“Terserah saja.”

“… He?” Rami mengangkat wajahnya, memandang Gongchan dengan tatapan bingung. Apa pendengarannya tidak salah?

“Apa kau tuli? Kubilang terserah saja.” Ujar Gongchan, masih dengan nada sinisnya. Smirk yang menghiasi wajahnya membuat dada Rami kembali bergemuruh, rasanya bahagia luar biasa. Baru pertama kali dia melihat senyuman—walaupun sedikit—terkembang di wajah sang ice prince. Sangat tampan.

“Ah… Apa kau marah?”

“Hm?”

“Soal bekal itu… Apa kau marah? Apa aku tak boleh membuatkanmu bekal?” Rami memainkan jarinya, tanda bahwa ia sedang nervous.

“… Bukan begitu. Aku tidak suka tipe orang macam kamu, kau bisa diperdaya lelaki kalau misalnya mereka sedang ingin mempermainkanmu. Bisa saja kau mau melakukan apapun untuknya. Itu yang membuatku benci.” Jelas Gongchan, Rami hanya mengangguk. “… Kedua, bau parfummu tertempel di makanan. Itu mengganggu rasa makanannya.”

“Ah… Junsung hamnida! Aku akan lebih hati-hati…” Ekspresi wajah Rami berubah, lalu ia menundukkan tubuhnya. Baro dan Haerin kesal mendengarnya. Dasar gadis lamban, itu berarti Gongchan menyukai makananmu dan dia tidak ingin bau parfummu mengganggu kenyamanannya dalam melahapnya!

“Mhm.” Gongchan hanya bergumam, lalu melangkah ke luar kelas.

Mata Rami berkaca-kaca entah kenapa. Dia sangat bahagia, sampai-sampai air matanya tanpa sadar mendesak keluar. “Ba—Baro-ssi… Haerin-ah…” Rami terisak. Ia menoleh ke arah Haerin dan Baro yang sudah tersenyum bangga padanya. “… Aku berhasil…!” seru yeoja itu, terharu. Haerin dan Baro yang melihatnya juga ikut terharu, lalu menghambur dan mendekati Rami. Haerin memeluk Rami yang masih menangis dan Baro menepuk kepala gadis itu. Mereka bertiga tertawa kecil, berteriak untuk menyemangati Rami.

Sedangkan Gongchan yang berdiri di depan pintu kelas, hanya tersenyum.

******

“Haerin tidak bisa pulang bersama?”

“Iyaaa! Mianhae, Rami-ah. Sudah lama aku nggak pulang dengan Hoyou. Gwenchana?” Haerin nampak khawatir, tapi Rami mengerti bahwa sahabatnya itu ingin meluangkan waktu dengan pacarnya sekali-kali, jadi sudah waktunya Rami untuk mengerti.

Ne, gwenchana. Salam untuk Hoyou dari aku yaa, Haerin-ah?” Rami menganggukkan kepalanya, membuat sebuah senyuman merekah di wajah mungil Haerin.

“Oke! Ah, tapi aku khawatir Rami yang cantik ini diikuti lelaki aneh…” Haerin memutar matanya, dan penglihatannya menangkap sesosok namja yang tengah membereskan barangnya ke dalam tas. Gongchan.

Sebuah ide terlintas di kepala Haerin.

“Gongchan-ssi! Antarkan Rami pulang, arasseo?” Haerin menarik Rami ke hadapan Gongchan, yang sekarang menatapnya dengan tatapan dingin.

“Kenapa aku harus—?”

“Kau pikir kau bisa membiarkan gadis ini pulang sendirian?” bisik Haerin pelan, ia menarik dan menggenggam tangan Gongchan erat-erat.

“Aish…”

“Lihat dia…” Haerin melirik ke arah Rami yang berdiri agak jauh di belakangnya. Gongchan juga ikut melirik ke arah gadis itu. “Begitu manis dan suci, bahkan dia sangat polos. Bayangkan ada lelaki yang mengikutinya… Dan kau sebagai lelaki jantan, apa yang akan kau lakukan…?”

Haerin menatap Gongchan dengan tatapan antar-dia-pulang-atau-mati, yang membuat Gongchan menelan ludahnya.

Jadi, apa yang bisa ia pilih…?

******

Gongchan dan Rami berjalan dengan kikuk menuju gerbang perguruan. Haerin sudah siap membunuhnya jika terjadi apa-apa pada Rami, jadi yang dilakukan Gongchan hanya terus memfokuskan pandangannya pada gadis disebelahnya sambil terus menjaga jarak.

“Ah… Suasananya benar-benar aneh..” gumam Rami. Dia kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kalau begini sih lebih nyaman pulang sendiri! Bahkan Gongchan tidak bicara apapun, suara nafasnya saja tidak terdengar.

“Gongchanie!”

Rami dan Gongchan sama-sama menoleh. Di lapangan sepakbola, Baro tengah melambaikan tangannya dengan semangat. Di sampingnya juga ada seorang wanita yang tersenyum manis.

“… Nayeul…” gumam Gongchan, lalu segera berlari ke lapangan bawah. Rami yang melihatnya juga ikut berlari mengikutinya.

Mwo? Rami-ah juga ada? Apa kalian pulang bersama? Uwaaah kalian benar-benar sesuatu…” gumam Baro dengan nada usilnya yang biasa. Dia terkekeh geli melihat wajah jengkel Gongchan dan wajah merah merona Rami.

“Ini gara-gara Haerin setan itu.” Komentar Gongchan, tawa Baro meledak.

“Aah… Apakah ini yeojachingunya Gongchan? Kenalkan, Han Nayeul imnida, yeojachingu Sunwoo.” Gadis cantik di sebelah Baro menunduk pada Rami. Gadis itu tersenyum amat manis, membuat Rami terpesona melihatnya.

“Ah, ani. Kenalkan, namaku Min Rami. Aku… Teman sekelas… Gongchan.” Rami merendahkan suaranya, lalu menunduk. Benar, Gongchan mengantarnya pulang karena paksaan Haerin, bukan karena dia itu special. Dia merasa tak berhak untuk berkata apapun walaupun dalam hatinya ingin.

“Tak usah malu-malu, Rami-ah~” senandung Baro dengan santainya. Tapi kata-kata ini malah membuat Rami semakin minder.

“Kau ngapain disini?” Gongchan menatap ke arah Nayeul dengan tatapan sinisnya yang biasa.

“Menemani Sunwoo latihan! Sudah lama tak bertemu, lagipula dia kan ace klub sepakbola. Kenapa kamu tak latihan bola lagi, Gongchanie? Padahal saat SMP kamu paling semangat.” Ujar Nayeul, membuat Baro juga ikut mengangguk semangat. Gongchan menanggapi omongan gadis itu dengan tatapannya yang biasa, namun ekspresinya melembut. Mereka bertiga berbincang-bincang mengenang masa lalu, membuat Rami merasa dunianya berbeda dengan mereka.

“Ah, baboya! Padahal kau jago main bola, kenapa keluar!?” seru Baro dengan nada kesal.

“Benar! Padahal aku sudah membuat spanduk untuk menyemangati kalian! Sebagai manager, tugasku berat, tahu?!” Nayeul ikut mengomeli Gongchan, tapi orang yang diomeli tak mau mendengar. Setelah berbincang beberapa saat, Rami melongo melihat ekspresi Gongchan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Gongchan tertawa. Dia tersenyum lebar, seraya menatap hangat Nayeul yang sibuk melingkarkan tangannya di lengan Baro.

“Ah, sudahlah. Kau ini susah diajak bicara. Semangati aku untuk berlatih ya, bu manager?” Baro tersenyum jahil. Nayeul hanya tertawa kecil lalu mengangguk, mereka berdua berlari ke tengah lapangan lalu memainkan bola, sementara Gongchan dan Rami yang mengikutinya memilih duduk di bangku pinggir lapangan.

Hening. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan, lagipula mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Rami menoleh ke arah Gongchan, namja itu masih menatap kedua sosok yang asyik bermain di tengah lapangan, dengan tatapan hangat.

Tapi entah kenapa, Rami merasakan ada kesedihan yang tersirat di dalam tatapannya.

Tertawa, tersenyum manis, ekspresi melembut, semuanya ia lihat hari ini dari Gongchan…

Sejak dia kembali bertemu dengan Han Nayeul.

Ice prince… Apa aku salah sudah memberikan hatiku untukmu?

Continue to Your Secret Admirer part.2

******

Mind to leave your comment?

14 responses to “Your Secret Admirer (1/3)

  1. eonnieeee muach muach keren ceritanyaaaa xD bikin penasaran! pasti gongchan dulu sempet suka sama nayeul yaaa :3

  2. Pingback: Your Secret Admirer (2/3) | Cappuchino In Your Life·

  3. ya ampun., chanie qk tega amat sama rami? u,u
    Itu baro bawa2 kata “sesuatu”, virus sahroni udh nyampe ke korea fik? Haha.. Aku lanjut ke part 2 ya saeng..😀

  4. Pingback: Your Secret Admirer (3/3) | Cappuchino In Your Life·

  5. Eh? Gak nyangka kata ‘sesuatu’ eksis banget ya. Sampai-sampai Baro aja make kata sesuatu._. #plak

    Karakter OC buatanmu manis deh. Min Rami yang pemalu + tidak menonjol dan Haerin yang karakternya sedikit evil. Nayeul sih aku belum tau karakternya, toh baru baca😀

    Dan Baro? Aigooo karakter kenakan memang khasnya deh. Loncat-loncat gitu gak capek apa?😄

    • Yang mana ya… OH yang pas di lapangan ituya…

      Eh? Ehehe makasih banget ya .///. bakal tau kok gimana karakternya Haerin kalo baca part.2 sama part.3~ /o/

      Sepertinya dia memang ditakdirkan buat jadi anak kecil…

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s