The Dark Blue Handkerchief (1/3)

thedarkbluehandkerchief

“Selamat pagi, Sunbaenim,” sapa Hyorin dengan sopan. Lelaki yang disapanya hanya mengangguk dan meneguk habis minuman kalengnya. “Terima kasih sudah meminjamkan sapu tangan ini, hehe.” Hyorin menyerahkan sapu tangan berwarna biru tua yang dipinjamkan oleh sunbaenya itu.

“Untukmu saja, aku tidak butuh itu. Jawab kakak kelasnya yang bernama Park jaebeom––ketus, lalu membuang minuman kalengnya ke tempat sampah dan berjalan meninggalkan Hyorin.

“Ah! Sunbaenim, uhm…” seru Hyorin, Jaebeom menoleh dan mengangkat alisnya. “Terima kasih lagi. Permisi!” seraya tersenyum manis, Hyorin berlari kecil meninggalkan Jaebeom. Sedangkan yang ditinggalkan hanya mengangkat bahu dan berjalan cuek.

******

“Benarkah? Kau bicara dengan Jaebeom sunbaenim!?” seru Suzy tidak percaya.

“Aku hanya bilang dia berambut hitam, sipit, dan wajahnya lumayan. Tapi aku tidak tahu namanya,” timpal Hyorin santai. Suzy memasang ekspresi tidak percaya.

“Siapapun di sekolah ini tidak ada yang tidak kenal Park Jaebeom! Dia itu tampan, badannya atletis, jago nyanyi, ngerap, dance, dan sebagainya. Benar-benar idola sekolah!!” teriak Suzy bersemangat. Ia sampai berdiri dari bangkunya.

“Iya ya? Tapi dia agak ketus,” komentar Hyorin. Suzy langsung kembali duduk dan memakan sandwich yang ia bawa sebagai bekal.

“Sayangnya begitu, orangnya terlalu dingin,” ujar Suzy. Hyorin hanya mengangguk-angguk.

IU yang sedari tadi hanya memperhatikan kedua temannya angkat bicara. “Tapi dia baik juga ya mau meminjamkan Hyorin sapu tangan. Bahkan sampai diberi begitu.”

“Iyaaa, baik ya! Aigoo, kalau jadi kau akan tidur sambil memegang sapu tangan itu! Banyak gadis di sekolah ini yang menyukainya!” seru Suzy. Dengan bersemangat ia menyenggol lengan Hyorin, menggodanya.

“Hmm… tapi kelihatannya ia sedih,” ujar Hyorin setengah berbisik, tapi Suzy dan IU masih dapat mendengar perkataannya.

“Sedih? Kenapa dia sedih?” tanya IU dengan wajah bingung. Tiba-tiba seorang lelaki merangkul IU dengan akrab.

Annyeong~ sedang ngobrol apa kalian?” tanya Wooyoung, lelaki yang merangkul IU itu. Dia datang bersama 2 sahabatnya, Junho dan Mir.

Annyeong~” seru Mir, dia menyomot sandwich milik Suzy.

Annyeong WooHoYong. Kami sedang membicarakan tentang Jaebeom oppa. Dan Mireu, jangan habiskan sandwichku!” seru Suzy seraya menjitak kepala Mir, tetapi berhasil dihindari oleh Mir yang sudah membawa kabur tiga buah sandwich.

“Jaebeom hyung ya? Dia kakak kelas kami di klub dance. Skillnya hebat, bisa dance apa saja.” Jelas Junho. Wooyoung dan Mir yang sudah kembali setelah menghabiskan sandwich dengan sekali lahap mengangguk setuju.

“Aigoo, dia benar-benar hebat. Memang sudah asalnya dari Seattle, sih. Wooyoung tuh yang dekat dengan Jaebeom hyung!” seru Mir sambil menyikut lengan Wooyoung.

“Hmm iya sih. Tapi sekarang ini hyung tambah pendiam dan seperti punya masalah, padahal dulu kami selalu melakukan hal konyol bersama.” Jelas Wooyoung, IU mencubit pipi tembem pacarnya dengan gemas.

“Jangan pacaran disini, dong!” seru Suzy seraya mengibaskan buku catatannya ke arah Wooyoung. Wooyoung tambah merangkul erat IU sedangkan Mir dan Junho sibuk mencuri sandwich milik Suzy. Ditengah keramaian itu, Hyorin mencerna kata-kata Wooyoung. ‘Dia seperti punya masalah’.

******

Jaebeom duduk di bangku atap sekolah. Sekarang baru jam pelajaran ke 6 dan dia sudah bolos. Sambil menatap kosong ke arah langit, ia memasang earphone dan memutar lagu dengan volume full.

“Sepertinya masih terlalu cepat untuk bolos.” Jo Kwon mengambil tempat di sebelah Jaebeom dan menarik perlahan earphone di telinga kanan Jaebeom, lalu menempelkannya di telinga kirinya sendiri.

“Kau sendiri? Kau tak tahu apa yang kau perbuat?” kata Jaebeom tak acuh. Jo Kwon terkekeh geli dan menyenggol lengan sahabatnya itu.

“Aku hanya beristirahat, bukan bolos.” Kata Jo Kwon beralasan, lalu tertawa kecil. “Jangan pikirkan hal yang memberatkan pikiranmu, Jay. Kalau ada apa-apa kau bisa curhat padaku. Nichkhun juga mencemaskanmu.” Ucap Jo Kwon, lalu kembali menikmati musik yang diputar seraya menghentak-hentakkan kakinya.

“… Ya.” Seutas senyuman menghiasi wajah Jaebeom. Iapun memejamkan mata kecilnya dan kembali menikmati lagu.

******

Pulangnya…

“Aaaah capeknya! Benar-benar deh, badanku sampai pegal begini. Kenapa sih pulangnya harus sesore ini?” keluh Suzy seraya memijat pundaknya sendiri.

“Yaa yaaa, begitu pulang aku akan mandi dan segera tidur. Untung sudah selesai~” seru Mir sambil menghela nafas lega.

“Tapi kenapa sudah begini kita masih diberi banyak pr… Wooyoung dan IU pergi kencan lagi! Membosankan!” gerutu Junho. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“AAAAH!!” teriak Hyorin setelah memeriksa tasnya. “Gawat, buku catatanku ketinggalan!”

“Wah, bisa gawat tuh. Besok kan ulangan!” seru Junho, membuat Hyorin semakin panik. Hyorin menatap teman-temannya itu sebagai tanda bahwa dia minta ditemani, tapi tak ada seorangpun yang mau menemaninya dengan alasan kecapekan.

“Lebih baik kamu cepat, kelas sudah mau dikunci. Maaf yaa Hyorin, kami duluan!” teriak Suzy sambil melambaikan tangannya. Dengan panik, Hyorin segera berlari masuk ke dalam gedung sekolah dengan tergesa-gesa.

******

Jaebeom melirik jam tangannya. Sudah jam setengah 6 sore dan langit sudah mulai gelap. Dia tertidur di bangku atap dan Jo Kwon juga tidak membangunkannya. Dia menguap dan berjalan ke lantai bawah, awalnya suasananya sangat tenang sampai tiba-tiba seseorang di depannya berlari secepat kilat dan masuk ke salah satu ruang kelas. Terdengar suara berisik bercampur desahan nafas setelah berlari dari sana. Karena penasaran, Jaebeom menengok ke dalam kelas itu.

“Aaah gawat! Aigoo, dimana ya? Apa mungkin di laci meja IU?” Hyorin mengecek lacinya dan laci teman-temannya. Jaebeom masuk ke dalam kelas dan memperhatikan hobaenya yang nampak familiar itu.

“Kau sedang apa?” tanya Jaebeom heran. Hyorin spontan kaget dan menengok ke arah sumber suara, memperhatikan orang yang menyapanya ini.

“Aaah! Oppa! Aku sedang mencari buku catatanku!” jelas Hyorin sembari terus mengobrak-abrik laci mejanya dengan panik.

“Tenangkan diri dulu. Mana bisa mencari kalau kau sepanik itu.” Saran Jaebeom, ia ikut menengok ke dalam laci-laci meja.

“Ah, oppa benar…”Hyorin pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mulai merasa tenang. Mendadak hpnya bergetar, ada telepon masuk dari Suzy.

Annyeong Hyorin? Mianhae, ternyata buku catatanmu ada padaku, besok pagi pasti kukembalikan! Junsung hamnida!” klik! Suzy pun menutup telepon. Hyorin yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas dengan lega.

“Buku catatanku ternyata ada pada temanku, hehe. Maaf merepotkanmu, Oppa.” Kata Hyorin sambil menunduk. Jaebeom tersenyum lega dan bersiap membuka pintu, tetapi mendadak pintu itu dikunci oleh penjaga sekolah dan penjaga itu langsung pergi tanpa mengecek.

“Ah, sial!” rutuk Jaebeom. Ia berusaha mendobrak pintunya tetapi tak bisa terbuka. Si penjaga juga tidak mendengar walaupun dipanggil.

“Jadi… bagaimana ini, Oppa?” tanya Hyorin, ekspresinya bingung.

“Apa boleh buat, kita harus bermalam disini. Aku bisa melompat lewat jendela, tapi kau mustahil. Ini lantai 3..” ujar Jaebeom, membuat Hyorin agak kaget. “Atau tidak, telpon temanmu supaya memanggil bantuan. Hpku mati.”

“Ah, iya––“ Hyorin pun segera mengeluarkan hpnya lagi, lalu memasang ekspresi kecewa. “Baterenya low, tidak dapat koneksi. Aaah…”

“Hhh, yasudah, berarti memang kita harus bermalam disini.” Jaebeom mengambil kesimpulan, lalu bersender di dinding. “Kau tak mau duduk?” tanyanya.

“Eh? Di––di sebelah Oppa?” tanya Hyorin, antara kaget dan salah tingkah.

“Ini sudah mulai dingin, aku tahu kau kedinginan. Jika berdekatan kan jadi hangat. Kalau kau tak mau juga tak apa.” Jaebeom berkata dengan nada cueknya. Ia mengeluarkan iPodnya dan memplay lagu kesukaannya. Karena memang kedinginan, Hyorin berjalan dengan malu-malu, dan dengan pipi merah merona ia duduk perlahan di samping Jaebeom.

“Ini.”

“Eh?” Hyorin terkejut. Jaebeom menawarkan satu earphonenya untuk ia gunakan. Ia memandang earphone dan Jaebeom secara bergantian.

“Pakai, ini lebih baik daripada hanya duduk diam dan menunggu, kan?” ucap Jaebeom tegas, tetapi masih terdengar lembut. Dengan malu-malu, Hyorin mengambil earphone itu dan menempelkannya di telinganya.

“Ah, Only You.” Gumam Hyorin, nadanya terdengar gembira. Ia menyanyikan lagu itu dengan pelan tetapi masih bisa didengar Jaebeom. Mereka berdua mencoba menikmati alunan setiap lagu yang diputar tanpa pembicaraan apapun yang terjadi.

Setelah hening beberapa lama, Hyorin melirik ke arah Jaebeom dan memberanikan diri untuk bertanya.

Oppa,” ujarnya pelan. Jaebeom hanya menjawabnya dengan gumaman. Setelah mendapat respon, Hyorin meneruskan. “Apa kau ada masalah? Mungkin aku bisa membantumu.”

“Apa aku terlihat seperti punya masalah?” tanya Jaebeom, halus tapi jelas.

“Iya, Wooyoung pun bilang begitu.” Jawab Hyorin pelan.

“Ah, Wooyoung. Anak itu ada-ada saja.” Jaebeom menoleh pada gadis mungil di sebelahnya itu dan menatap dalam matanya. “Suatu saat aku akan memberitahu. Sekarang diam dan nikmati saja lagunya.” Jaebeom menepuk kepala Hyorin lembut, tetapi hal itu tidak membuat Hyorin tenang, malah membuatnya tambah menatap wajah Jaebeom dengan wajah cemas.

“Ah lalu, sapu tangan yang kau berikan untukku, apa dulunya itu dari orang lain?” lanjut Hyorin, ia melirik ke arah Jaebeom.

“Ah iya, itu milik Gain.” Jawab Jaebeom sekenanya. “Itu kenang-kenangan yang dia berikan untukku, tapi aku sudah tidak membutuhkannya lagi.”

Hyorin memasang wajah bingung. Jaebeom menatapnya dan menghela nafas, lalu mulai menjelaskan. “Gain itu pacarnya Jo Kwon. Kamu tahu Jo Kwon kan? Sekarang ini Gain sekolah di Inggris.” Jelas Jaebeom. Hyorin mengangguk mengerti. Sebenarnya masih ada hal yang mengganggu pikirannya, tetapi ia urungkan.

“Aku sudah tahu dari awal,” ujar Hyorin seraya terkekeh geli. “Kalau Jaebeom Oppa itu orang yang baik, meski kelihatannya dingin.”

“Eh? Apa maksudmu?” Jaebeom merasa tersinggung, tetapi ia tetap tertawa kecil.

“Jadi, oppa masih ingat beberapa hari lalu?”

Flashback

“Aduh!” Hyorin tersandung dan jatuh di depan gerbang sekolah, lututnya pun terluka. Tidak ada seorangpun yang membantunya karena sebentar lagi gerbang akan ditutup dan tidak ada yang mau terkunci di luar gerbang. “Aish, sakit sekali! Kenapa orang-orang ini semuanya berhati dingin, sih!?” rutuknya, sembari membersihkan seragamnya yang kotor.

“Sini.” Seorang pemuda yang cukup tinggi—–Jaebeom, mengulurkan tangannya untuk membantu Hyorin berdiri.

Kamsa hamnida…” ucap Hyorin sambil tersenyum. Ia melihat dasi yang dipakai pemuda ini, dasi itu berwarna biru tua, yang berarti dia sudah kelas 3. “… Oppa.” Gumamnya. Jaebeom hanya mengangguk, lalu memberikan sapu tangan biru tua pada Hyorin.

“Ah tidak usah.” Tolak Hyorin halus.

“Ambil.” Perintah Jaebeom. Tetapi Hyorin tetap menolaknya. “Ambil saja!” ucap Jaebeom setengah berteriak, lalu dia menaruh sapu tangan itu di tangan Hyorin, dan berlalu.

Hyorin hanya melihat kakak kelasnya itu pergi, lalu menatap sapu tangan biru tua yang antik itu. Ia tersenyum lalu menggenggam sapu tangannya erat-erat.

Flaskback end

“Ah itu, aku hanya berpikir kalau luka di lututmu itu sakit.” Ujar Jaebeom sambil malu-malu, tapi tetap tertawa.

Hyorin tertawa kecil, lalu memandang wajah Jaebeom yang ditimpa cahaya bulan. “Terimakasih Oppa..” ujarnya.

“Untuk?”

“Jika kau tidak menemaniku disini, aku pasti sudah menangis sambil meringkuk sendirian.” Ucap Hyorin. Ucapannya ini membuat Jaebeom tersenyum.

“Apa orang tuamu tidak khawatir jika kau tidak pulang?” Jaebeom teringat sesuatu, bahwa Hyorin adalah perempuan dan masih SMA. Jika dia tidak pulang sudah pasti orang tuanya akan bertanya-tanya.

“Nanti kubilang aku menginap di rumah Suzy untuk mengerjakan tugas bersama.” Jawab Hyorin santai, ia menutup matanya dan mencoba untuk tidur. Dalam hatinya, ia menikmati saat-saat bersama kakak kelasnya ini.

Hening beberapa lama. Sekarang sudah jam 8 malam dan mereka sudah merasa kecapekan. Hyorin tertidur dan tanpa sadar ia menyenderkan kepalanya di pundak Jaebeom.

Jaebeom menatap dengan lembut Hyorin, lalu melepas blazernya dan menggunakannya untuk menutup tubuh Hyorin yang kedinginan. Lalu mengambil earphone di telinganya dan telinga Hyorin, menyimpannya, dan mematikan suara dari iPodnya. Mereka melalui malam dengan tenang.

Jam 1 malam, Jaebeom terbangun dan melirik ke luar jendela. Spontan ia kaget dan membangunkan Hyorin yang sudah terlelap.

“Ada apa, Oppa?” tanya Hyorin, tangannya ditarik pelan oleh Jaebeom menuju atap sekolah. Sesampainya disana, mereka berdua takjub. Langit malam yang luas dan bintang yang bertaburan menghiasi malam itu.

“Cantiknya…” Hyorin terkagum-kagum. Hidungnya memerah karena udara dingin. Jaebeom kembali memberikan blazernya pada Hyorin, melihat hal itu Hyorin hanya menatap Jaebeom dengan pipi merona.

“… Apa?” tanya Jaebeom. Pipinya memerah karena malu. Hyorin hanya tersenyum manis dan kembali menatap langit.

“Aku senang jika setiap malam bisa melihat langit seperti ini.” Ujar Hyorin. Jaebeom mengangguk setuju. Meski keduanya hanya diam, tetapi mereka tahu, ada rasa nyaman yang tumbuh diantara mereka, keinginan untuk terus bersama menatap langit seperti ini.

Ya, terus bersama.

******

“Semalam kau tinggal di sekolah!? Bersama Jaebeom Oppa!??” Suzy heboh sendiri setelah Hyorin bercerita padanya, IU, Wooyoung, Mir, dan Junho. “Perkembangan yang luar biasa! Coba kau tidak jatuh dan diberikan sapu tangan olehnya, dan buku catatanmu tidak kubawa, pasti hari-harimu akan biasa saja!”

“Wah, Jaebeom Oppa ternyata orang yang romantis, ya.” Ujar IU. Wooyoung langsung memeluknya dari belakang dengan manja dan memasang wajah cemberut. IU tersenyum senang melihat tingkah laku pacarnya yang imut ini. “Tapi aku masih lebih sayang Wooyoung kok.”

“Tolong jangan pacaran di pagi yang sangat sumpek ini!” seru Junho, seraya menyalin pr matematika.

“Itu benar! Apa kau tak tahu rasanya tidak punya pacar di umur 17 tahun!?” sahut Mir, dia juga sedang menyalin pr matematika sambil meminum jus jeruk.

“Sudah diaaaaam! Hyorin, ayo temani aku ke kantin, sekalian kau temui Jaebeom oppa!” seru Suzy bersemangat, sebelum Hyorin bisa menjawab ia sudah didorong kuat-kuat menuju kantin.

******

“Ah! Min Hyorin?” sapa Jo Kwon pada Hyorin, dia merangkul Jaebeom akrab. Kini mereka bertemu di depan pintu masuk kantin.

Annyeong, Jo Kwon Oppa.” Balas Hyorin seraya tersenyum manis. Jo Kwon membalas senyumannya dan mereka menjabat tangan.

“Jaebeom cerita tentang kalian, sambil malu-malu. Tak kusangka Jaebeom bisa gerak cepat juga ahaha! Hei, meski Jaebeom ketus begini tapi dia baik sekali lho!” seru Jo Kwon dengan blak-blakan. Hyorin dan Suzy hanya terkekeh geli melihat tingkahnya, sedangkan Jaebeom memukul punggung sahabatnya itu keras-keras.

“Aku tahu kok. Jaebeom Oppa orang yang sangat baik.” Ujar Hyorin seraya tersenyum malu. Jo Kwon langsung menggoda sahabatnya, dan Nichkhun yang sedaritadi diam langsung menasehati Jo Kwon agar tidak berlaku berlebihan di kantin yang penuh ini.

“Ah omong-omong, Gain akan pulang sore ini kan?” tanya Khun pada Jo Kwon, Jo Kwon menggangguk dengan semangat. Jaebeom hanya tersenyum dan ikut bicara sedikit, tetapi Hyorin dapat melihat jika ekspresi wajahnya menjadi sedih. Ada apa dengan Gain? Batinnya.

“Khun akan ikut menjemput Gain di bandara, kan?” tanya Jo Kwon, bersemangat. Khun langsung menggeleng pelan.

“Aku ada janji dengan Vic. Jika kubatalkan dengan alasan ikut menjemput pacar orang, bisa-bisa dia marah.” Jawab Khun, mengingat wajah cemberut Victoria—kekasihnya. Jo Kwon mengangguk-angguk dan menatap Jaebeom dengan pandangan memelas.

“Ah… iya iya, kau kutemani.” Jaebeom balas menatap tatapan memelas Jo Kwon dan menghela nafas. Jo Kwon langsung tersenyum senang.

Gomawoooo!” seru Jo Kwon, bahagia.

“Ya, ya, terserah. Ah, Hyorin, boleh minta nomor hpmu?” Jaebeom mengabaikan sahabatnya dan segera berpindah ke Hyorin, takut kegilaan Jo Kwon bertambah parah dan akan membuat seisi kantin rusuh. Hyorin mengangguk dan menukar nomornya dengan Jaebeom. Jo Kwon dan Nichkhun yang melihat kejadian itu langsung sibuk menggoda perbuatan Jaebeom yang bisa diukur ‘berani’ itu.

“Sudah ya, kami duluan.” jaebeom segera mendorong Jo Kwon dan Nichkhun sebelum godaan mereka bertambah parah keluar kantin. Hyorin sedaritadi hanya diam dan melihat wajah Jaebeom.

Gain? Apa yeoja itu lebih tua dariku?

Kenapa dia terlihat sedih saat Jo Kwon oppa menyebut namanya?

******

Gimana ceritanya? Sumpah ya random banget. Gatau mau ngomong apa-_- ini sekalian FF pertama yang Kihyukha buat, yang jadinya malah berantakan banget ;_; #jadicurhat #dilempartombak

So, what do you think about this fanfiction? Give me some comment~

7 responses to “The Dark Blue Handkerchief (1/3)

  1. Aish. Junho kok sirik banget kalau IU sama Woo bermesraan? Envy kali yah ini anak :pp

    Ficnya bagus thor. Jadi rindu oppa Jay ah bacanya. Maunya dia gabung lagi ama 2pm .__. #curhat?

    Dilanjut yah author~~😀

    • Junho engga iri, dia mah irinya kalo aku lagi pacaran sama jay :pp #apaan #plakk
      aku juga rindu dia :’) aku juga… tapi yaudahlah, jay udah cocok kerja sendiri T~T
      sipp^^

  2. Pingback: The Dark Blue Handkerchief (2/3) | Cappuchino In Your Life·

  3. Pingback: The Dark Blue Handkerchief (3/3) | Cappuchino In Your Life·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s