[Kim Junsu Birthday Fic] My Butterflow (1/2)

“… Ri…”

… Siapa? 

“Yeri…”

Siapa yang memanggilku?

Perlahan, kubuka mataku. Sesosok orang yang tidak kukenal menatapku khawatir dengan mata teduhnya. Ah… Tunggu, siapa… Orang ini…?

******

“Yeri, maafkan aku.”

“Untuk apa?” seorang gadis berambut lurus sebahu yang sedang duduk di ayunan, menatap namja di depannya ini dengan tatapan bingung.

“Sudah, tidak penting. Jadi kau mau memaafkanku atau tidak?”

Gadis bernama Yeri itu meletakkan tangannya yang putih pucat di rantai-rantai ayunan, berkata dengan nada santai yang menjadi khasnya, “Tergantung, apa kesalahanmu?”

“… Kamu bertanya apa kesalahanku?”

“Ya, apa kau tidak mendengarnya? Apa mau kuulangi?” tegas gadis itu.

“… Kesalahanku… Aku sudah menjadi Butterflow untukmu. Tapi kamu belum menjadi Raoya-ku.”

******

Yeri POV

“Keluarga Kim sudah pindah rumah tiga hari yang lalu.” Jelas eomma dengan nada santai. Aku tertegun, jadi begitukah? Pantas saja orang itu menghilang setelah bersikap seperti itu.

“Sayang ya, Yeri? Padahal kamu kan belum banyak meluangkan waktu dengan Junsu-ssi.” Tambah eomma, sembari mengaduk sup yang tengah ia masak.

Junsu? Ya, itu dia namanya. Aku mengingat dirinya datang ke sini tiga bulan lalu, saat bunga sedang mekar-mekarnya…

3 Months ago

Saat itu aku bermain softball dengan teman satu klubku di SMP, sampai bola yang kupukul terbang ke halaman rumah di sebelah rumahku. Ketika sampai di rumah itu, tiba-tiba saja seorang anak lelaki keluar dari rumah, lalu tersenyum. Umurnya kira-kira seumuranku.

“Ini.” Dia mengulurkan tangan, bola softballku ada dalam genggamannya.

“Ah… Gomawo.” Ucapku asal, lalu mengambil bola itu dengan cepat. Takkan kubiarkan bola kesayanganku ini kotor.

“Hati-hati.” Katanya, kembali menyengir. Aku hanya bergidik ngeri, dia sudah gila atau bagaimana…? Atau memang orangnya terlalu ramah…? Ah, pasti itu. Memang aku tak bisa menilai orang baik.

“Yeri! Darimana saja?” Jang Wooyoung—atau Wooyoung, sahabatku sejak kecil, menghampiriku yang masih bengong di depan rumah bocah namja tadi. Ia sudah membawa stick baseball di tangannya. Dengan sesegera mungkin, aku menggeleng dan mendorongnya supaya meninggalkan tempat itu.

“Yah! Kan aku sudah bilang, bawa itu hati-hati. Kau mau itu rusak!?” omel Wooyoung, sembari memasukkan bola ke dalam tas gendong yang kubawa. Dia mendelik tajam padaku, dan aku hanya tertawa lalu pura-pura tidak melihatnya.

Kami dekat? Ya, bisa dibilang seperti itu. Pacaran? Tidak mungkin. Kami sudah seperti saudara kembar, kemana-mana selalu bersama dan kami tidak pernah sungkan satu sama lain. Lagipula, Wooyoung memperlakukanku seperti namja, selain karena penampilanku yang memang kecowokan, aku juga pandai berkelahi dan lebih suka bermain bersama anak lelaki lainnya. jadi istilahnya kami hanya teman sepermainan yang kompak.

“Wooyoungie, besok kau mau main ps di rumahku?” Ajakku, teringat bahwa kami belum menuntaskan pertarungan game fighting warrior kemarin malam. Game itu adalah game yang sedang booming di kalangan anak SMP, semua namja di sekolahku memainkannya, dan siapapun yang paling jago, dianggap sebagai raja di sekolah. Aku dan Wooyoung mengincar jabatan itu.

“Aaaah kalau main denganmu aku selalu kalah! Dasar yeonam. Ani, aku ada urusan.” Jawabnya. Aku menatapnya dengan pandangan kesal, lagi-lagi dia memanggilku yeonam (yeoja-namja). Lihat kan? Dia tidak pernah memandangku sebagai teman perempuan. Lagipula tumben sekali dia menolak bermain fighting warrior, padahal biasanya dia yang mengajakku bermain sampai kerah bajuku tercekek karena diseretnya. Apa ada sesuatu yang sangat gawat, sampai ia rela tidak berlatih untuk menjadi raja sekolah?

“Park Yeri-ah?”

Sebuah suara lembut membuatku dan Wooyoung menoleh, suara itu berasal dari Jieun—atau Lee Jieun, teman sekelas kami. Dia tersenyum ramah lalu menunduk.

“Ah, Jieun-ah. Ada apa? Kamu perlu sesuatu?” tanyaku, dengan ciri khas suaraku yang seperti cowok.

“Aku hanya menyapamu, Yeri-ah. Sudah kuduga Wooyoung-ssi ada bersamamu.” Ujarnya, menatapku lugu. Mwoya? Wooyoung? Apa ada sesuatu dengan dua orang ini?

“Ah, Jieun-ah… Ayo. Yeri, duluan ya.” Wooyoung berjalan melewatiku, semburat merah menghiasi pipi tembemnya. Ah… Begitu, toh. Dasar, si bodoh penggila fighting warrior itu sedang jatuh cinta rupanya.

“Wooyoungie, jangan berbuat yang macam-macam!” seruku padanya. Wooyoung hanya melirik kesal dengan ujung matanya, lalu memutuskan untuk mensejajarkan langkahnya dengan langkah mungil milik Jieunah. Ah, rasanya lucu melihat mereka berdua.

“Mau main denganku?”

Aku terkejut. Sebuah suara lembut dari arah belakangku membuatku membalikkan badan. Junsu sudah tersenyum di belakangku, tangannya menggenggam sebuah kaset yang benar-benar kukenal.

Asdfghjkl.

FIGHTING WARRIOR VERSION 3!!!!

Kaset itu limited edition di toko games, harganya sangat mahal. Aku sangat mengenal bentuk dan keindahannya (?) karena setiap hari aku menempelkan wajahku di kaca toko, sampai mbak penjaga tokonya mengusirku. Kaset itu seperti sebuah harta berharga di sekolahku, maka jangan pernah membawa kaset itu kesana jika kau punya. Kau bisa habis babak belur dicakar-cakar para manusia-manusia ganas dan kaset itu akan berakhir pecah, jatuh dari lantai 3. Hal ini terjadi pada seseorang di kelasku, dan setelah itu orangnya sendiri tidak masuk kelas selama seminggu saking shyoknya mendapat serangan.

Dan seperti sekarang, aku hampir saja melompat dan memeluk kaset itu jika tidak kutahan nafsuku.

“… Boleh?” tanyaku, sok-sok jaim. Perbolehkan aku memainkan benda itu jika tidak mau tubuhmu cacat sebagian! rutukku.

“Tentu saja boleh, kan aku mengajakmu?” tawanya jenaka. Uwah, dia ternyata manis juga kalau tertawa. Aku mengangguk-angguk semangat, dia tersenyum lalu mengajakku ke dalam rumahnya.

Rumahnya berbeda dari yang lain, minimalis, rapi, serba putih, dengan lantai kayu berwarna cokelat pucat. Berbeda dengan rumah tradisionalku, dan kamarku yang seperti kapal pecah. Wooyoung pasti akan langsung mengomel lalu membereskan semuanya jika mampir ke kamarku, jadi aku senang mengajaknya main. Untungnya, aku tak usah mencari pembantu lagi.

“Silahkan masuk, Yeri-ah. Jangan sungkan begitu.” Ajaknya. Aih… Bukannya dia yang aneh? Memakai bahasa formal begitu.

Ne, ne…” Aku menurut, lalu duduk di sofanya setelah dia mempersilakan. Aku menatap ke seluruh penjuru ruangan. Memang rapi sih, tapi entah kenapa suram. Apa dia sendirian?

“Langsung kusetel saja, ya? Yeri jago main ini?” tanyanya, sembari memasang kaset Fighting Warrior 3 ke dalam playstationnya. Aku mengangguk tanpa jawaban, lalu mengotak-atik stick yang akan kugunakan. Cukup nyaman.

“… Kamu sendiri?” tanyaku, memulai pembicaraan. Ah, aku malas berjaim begini. Masa main games jaim?

“Ya, appa dan eommaku pergi kerja. Maklumlah, dipindahkerjakan begitu.” Jawabnya, lalu terkekeh kecil.

“Jadi kamu sendirian?”

“Jangan bilang begitu, kesannya aku ini anak kesepian. Aku cukup kuat kok, sudah biasa.” Ujarnya. Ah, dia tahu saja apa maksudku. Sudah biasa? Jadi dari dulu begitu?

“Tunggu, kau pindahan dari mana?” Aku menerka. Dia tersenyum jahil, lalu menatapku.

“Kenapa kamu ingin tahu semua tentangku? Naksir, ya?” Kekehnya. Aku menatapnya dengan tatapan geli. Enak saja. Aku bukan tipe-tipe yang percaya dengan love at the first sight atau apapun itu kalau belum mengenal orang secara dekat. Jadi jangan harap aku akan jatuh cinta segampang itu.

“Hah? Nggak.” Jawabku enteng. Dia hanya mengangguk-angguk lalu mulai mengatur posisi duduknya di lantai. Kami berdua sudah fokus ke layar, tidak ada yang memulai pembicaraan. Setelah iklan-iklan perusahaan, maka home menu dari games itu muncul. Junsu langsung memilih ‘tournament’, dan ‘2 players’.

“Yeri, tadi kau bilang kau jago, kan?” ujarnya tiba-tiba.

“Ya, sangat.” Jawabku, pede.

“Bagus, kalau begitu aku tidak ragu-ragu lagi.” Tekadnya, lalu menekan tombol x untuk memilih character. Tsk, dia meremehkan aku rupanya. Aku menatap layar kembali, dia memilih si ice god, Butterflow. Ah, gampang. Butterflow itu tidak sepadan dengan pilihanku.

“Raoya, hm? Tak kusangka, kupikir jagoanmu itu cowok.” Gumam Junsu, setelah aku memilih satu karakter wanita berambut merah bernama Raoya.

“Raoya itu karakter paling kuat disini. Gerakannya cepat dan keagresifannya tinggi. Dia kuat dan nyawanya tidak gampang habis, walaupun di settingnya Hugo si karakter utama paling kuat. Kenapa juga kau pilih Butterflow yang seperti itu? Maksudku, dia lemah dan gerakannya lamban.” Ujarku. Junsu hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.

“Orang lemah tidak selamanya lemah. Aku juga penasaran, kenapa kau pilih yang kuat?” Dia balik bertanya. Kami tak sadar kalau pertarungan sudah akan dimulai.

“Tentu saja! Kalau memang mau menang, kau harus pilih yang kuat. Anak bayi juga tahu!” seruku, tidak mau kalah.

“Tapi bagaimana kalau yang lemah malah punya senjata terkuat?”

“Hah?”

Dia hanya tersenyum licik, lalu langsung menggerakkan sticknya. Aku panik, baru sadar kami sedang bermain. Dengan cepat, aku menggerakkan Raoya untuk menyerang Butterflow. Dengan cepat, nyawa Butterflow langsung berkurang. Hah, jadi segini saja kemampuannya?

Butterflow masih sibuk terbang kemana-kemari, sayapnya yang besar dan mengganggu membantunya melindungi diri. Aku masih sibuk tertawa sampai aku melihat nyawa yang tadinya tinggal 30% sekarang sudah bertambah setengahnya.

“—Apa-apaan—!?” jeritku, bergerak lebih dekat ke layar, belum percaya dengan pemandangan yang kulihat.

“Lihat? Apa kubilang. Butterflow bisa menyembuhkan dirinya tanpa harus diam di tempat.” Junsu berkata penuh kemenangan, tapi aku belum mau kalah. Ayo Raoya!

Aku terus menggerakkan stickku tanpa aturan, membuat Raoya terbang kesana-kemari untuk menendang dan memukul Butterflow tanpa ampun. Sampai akhir, nyawa Butterflow tinggal 20% dan nyawa Raoya masih 95%. Aku tersenyum, lalu bersiap untuk mengeluarkan jurus andalan Raoya.

“Terlambat.”

Junsu entah memencet tombol apa, tiba-tiba sebuah cahaya besar muncul dari tubuh Butterflow, lalu membuat seluruh layar jadi putih. Aku syok, tiba-tiba saja di layar muncul tulisan “Player 1 WINS!”.

Apa yang dia lakukan?!

Aku menoleh dan menatap Junsu yang masih tersenyum seraya menaikkan alisnya dengan tatapan tidak percaya. “Apa yang kau lakukan—? Itu… Jurus tadi…?” Aku tergagap. Bagaimana bisa sesosok peri yang lemah dan kerjaannya senyam-senyum nggak jelas itu mengalahkan Raoya yang kuat dan angkuh, dan sudah terlatih untuk bertarung? Apa dia memang punya banyak jurus rahasia?

Don’t judge a book by its cover,” katanya santai, mengutip quotes terkenal sejak jaman bebek berenang di rawa.

“Tapi aku tidak pernah tahu tentang itu. Apa Fighting Warrior ada komiknya? Sampai kau tahu jurus rahasia itu?” Aku menarik-narik ujung bajunya dengan semangat. Kalau aku tahu jurus itu, semua orang di sekolah akan tunduk padaku!

“Tidak. Tapi, penggemar berat games ini pasti tahu cerita mengenai Butterflow dan Raoya.” Bisiknya. Aku melongo mendengarnya, lalu bergerak lebih dekat ke arahnya. Jangan anggap yang aneh-aneh, aku hanya ingin mendengar ceritanya.

“Sebenarnya ini diangkat dari kisah asli tapi dijadikan games. Hugo memang tokoh utama, tapi kisah dibalik layar pembuatannya tentang Butterflow dan Raoya ini paling menarik perhatian penggemarnya. Jadi… Ini diangkat dari kisah dua sahabat, namja dan yeoja. Yang namja orangnya sangat baik dan ramah, suka tersenyum, dan kelihatannya sakit-sakitan. Sedangkan yang yeoja adalah gadis yang angkuh, cuek, namun sangat tekun. Mereka berdua bertemu, dan si namja suka mengekori si yeoja kemana-mana.”

“… Lalu?” Aku mulai penasaran. Rasanya aku belum pernah mendengar cerita ini, meski dari teman-temanku yang penggila Fighting Warrior sekalipun.

“Kau tahu sendiri Butterflow dan Raoya dekat, tapi terasa jauh. Si namja bertekad ingin menjadi kuat demi si yeoja yang terlalu memaksakan diri dan membuat dirinya jauh dari teman-teman sebayanya. Maka dari itu, si namja mempelajari banyak hal, termasuk hal yang yeoja kesayangannya itu tekuni, yaitu bela diri. Ia mempelajari sangat dalam, membuat dirinya jauh dengan si yeoja.”

“Ehm… Kemudian?”

“Si yeoja merasa kesepian, namun perasaan itu ditahannya karena dia tidak ingin merasa sakit dan sedih. Tapi perasaan itu terus mengganggu hati dan pikirannya, sampai ia tak dapat melakukan apapun kecuali menangis. Sampai akhir, ia tak ingin mengaku kalau ia rindu pada si namja. Si namja yang tak tahu apa-apa, pulang dan memutuskan untuk bertingkah seperti biasa, menyembunyikan kekuatannya. Namun apa yang terjadi?”

“… Apa?”

“Si yeoja meninggal karena kecelakaan. Namja itu menyesal seumur hidupnya, karena itu ia terus bertingkah seperti orang lemah, menyembunyikan kekuatannya agar ia tidak terus teringat dengan si yeoja. Sama seperti Butterflow, dia bertingkah lemah untuk tidak menunjukkan kekuatannya, agar ia bisa melindungi Raoya diam-diam. Kau tahu, di original version Fighting Warrior, diceritakan Raoya mati dan Butterflow mengeluarkan seluruh kekuatan rahasianya untuk membalas dendam. Terakhirnya, Butterflow ikut mati, tetap memeluk Raoya.”

Aku melongo mendengarnya. Jadi begitu? Aku baru mendengarnya. Aku saja tidak tahu Butterflow dan Raoya dekat, mereka berdua terlihat jauh bagiku. Raoya yang angkuh masuk ke team lawan, namun terakhirnya Butterflow melindunginya. Hanya itu saja yang kutahu. Kupikir Butterflow melindunginya karena memang sifatnya yang baik.

“Lalu? Kau menyerah, nona Raoya?” ujarnya jahil. Aku menggeleng cepat.

Yaa! Jangan bilang begitu, rasanya aku seperti orang ingin mati saja!” gerutuku, merajuk.

“Hahahah kalau begitu, ayo lanjutkan saja!” Junsu tertawa geli, lalu kami kembali bertarung. Aku hanya menang sekali melawan dia. Ck… Memang beda ya, kalau melawan penggemar beratnya…

******

Oyoe Junior High, Busan. Class 2-1

“Wooyoungie! Ayo, bertarung!” Ajakku, seraya mengacungkan jari telunjukku pada Wooyoung yang sedang asyik membaca komik di bangkunya. Dia hanya menatapku sekilas, lalu kembali membaca. “Yaa! apa-apaan kau? Menyebalkan.” Gerutuku.

“Aku ada janji dengan Jieun, Yeri~ lain kali saja, ya? Ya? Ya?” tawarnya, membuatku tambah cemberut. “Tolonglaaah, ini masalah percintaan sahabatmu. Ya?” rengeknya, manja.

“Yasudah, lain kali kalau begitu. Jangan lupa!” ancamku. Dia nyengir dan mengangguk, lalu berlari ke arah Jieun yang tengah membaca buku di bangkunya. Aku menatap mereka berdua yang asyik bercanda ria.

…?

Kenapa dadaku sesak, ya?

******

“Apa mungkin karena dia sahabatku? Jadi aku tak terbiasa melihatnya mengobrol asyik selain dengan namja lain?” gumamku, di jalan menuju rumah. Hari ini Wooyoung dan Jieun tambah mesra, dan sepertinya sebentar lagi mereka akan jadian. Ah, ngomong-ngomong, sejak kapan ya si bodoh itu menyukai Jieun? Sepertinya dia tak pernah bilang padaku. Akhir-akhir ini juga jarang mengobrol…

Kenapa Wooyoungie jadi terasa agak jauh, ya?

“Yeri! Mau main lagi?” Tak terasa, aku sudah di depan rumah. Junsu berdiri di depan pintu rumahku, menunjukkan wajah cerahnya.

“Aaah… Aku capek.” Ujarku. Entah kenapa hari ini tubuhku terasa amat lelah.

“Capek? Hmm…” Junsu nampak berpikir sebentar, lalu menjetikkan jarinya. “Kalau begitu, mau ke tempat persembunyianku? Aku menemukannya ketika datang kesini.”

Begitu mendengarnya, aku mengangguk semangat. Junsu memang penuh kejutan!

******

Kami berdua berdiri di sebuah padang rerumputan di pinggir sungai. Tempat itu sangat indah, cahaya matahari terbiaskan ke air, membuat air nampak lebih berkilau. Aku mengambil tempat di pinggir sungai, mencelupkan kakiku ke air sungai yang bening, diikuti oleh Junsu. Kami berdua terus diam, menikmati desiran air sungai yang tenang, sampai dua pasang kupu-kupu datang menghampiri.

“Hei, apa kamu tahu kenapa namanya ‘Butterflow’?” tanyanya tiba-tiba, seperti biasa. Ia memperhatikan kupu-kupu yang hinggap di jarinya sembari tersenyum manis.

“Karena diangkat dari ‘Butterfly’, kan?” tebakku, ikut memperhatikan kupu-kupu itu.

“Yap. Kupu-kupu itu cantik, berkilau, dan bebas, sama kepribadiannya dengan Butterflow yang bercahaya dan bebas. Mereka mempunyai beragam jenis dan keindahan masing-masing, begitu juga 2 kupu-kupu ini. Kalau diperhatikan, yang berwarna putih dan berukuran lebih besar ini seperti Butterflow, lembut dan melindungi. Kalau yang merah-hitam ini seperti Raoya, terkesan berani, angkuh, kuat, namun sebenarnya lemah di dalam.” Jelasnya, panjang lebar. Aku mengangguk tanpa menatap Junsu yang masih tersenyum. Kami berdua sama-sama memandang ke atas, ketika kedua kupu-kupu itu terbang bersama-sama.

“… Ngomong-ngomong, kemarin itu ulang tahunku, loh.” Sahutnya tiba-tiba, membuatku menoleh padanya.

“Oh, iyakah?” Aku bertanya dengan nada datar. “Selamat ulang tahun! Maaf telat.”

“Terima kasih.” Junsu tersenyum simpul, kembali memperhatikan air. Dua kupu-kupu yang tadi masih sibuk terbang tanpa arah. “… Pada akhirnya, Butterflow dan Raoya kembali bersama.”

“… Apa ketika melihat Butterflow pergi, Raoya merasakan sakit dan sesak di dada?” tanyaku, entah kenapa. Rasanya pertanyaan itu meluncur keluar begitu saja dari mulutku.

“Tentu saja.” Jawab Junsu, singkat.

“Apa nama perasaan yang dirasakan Raoya?”

“Itu namanya rindu… Dan cinta.”

Aku mengangguk. Ternyata begitu. Ah, apa aku harus mengakuinya? Masa iya, sih… Aku menyukai Wooyoungie? Bahkan Junsu bilang itu namanya cinta! Aish… Tidak, tidak mungkin.

“Yeri! Mau main, nggak?” Terdengar sebuah suara familiar dari belakang, membuatku dan Junsu memutar badan. Wooyoung berdiri di atas, memandangku dan Junsu seraya memasukkan tangannya ke dalam saku celana. “Nde? Ada si anak pindahan juga? Apa kalian sudah begitu dekat?” godanya. Aku langsung panik, lalu berlari ke atas.

“Apa yang kau katakan? Aniyo!” sergahku. Dapat kurasakan wajahku memanas.

Mwo? Kenapa kau membentakku? Aish… Kau ini, bukankah sudah biasa untukmu berada di dekat cowok?” gerutunya, membuatku salah tingkah. “Junsu! Besok kau akan masuk kelas kami, ne? Kau akan tahu seberapa ganasnya Yeri!” teriak Wooyoung tiba-tiba, membuatku memukul lengannya kuat-kuat.

“Diam kau!” bentakku.

“Aish… Lihat kan? Dia itu galak! Sudah ah, aku duluan ya!” Wooyoung langsung berlari kabur, tanpa menunggu respon dariku. Rasanya ingin sekali aku memukulnya lebih banyak lagi. Sayangnya, dia sudah kabur duluan.

Aku memandang sosok Wooyoung yang menjauh dariku. Entah kenapa, aku merasa… Jauh. Meski kami bisa ngobrol dengan akrab, tapi sekarang tidak seperti dulu lagi. Dan nampaknya si bodoh itu sudah tidak memikirkan posisi raja sekolah lagi, setelah Jieun-ah menyita waktu dan perhatiannya.

Kalau aku Raoya…

Berarti Wooyoung adalah… Butterflow?

Author POV

Yeri masih berdiri sembari memandang sahabatnya yang sudah menjauh. Entah sejak kapan tatapannya berubah, menjadi lebih sendu. Ia tidak ingin Wooyoung pergi…

Sementara Junsu, masih memandang Yeri dari bawah. Memperhatikan ekspresi gadis itu.

“… Dia bukan Butterflow…” gumam namja itu, lalu kembali menatap kedua kupu-kupu tadi.

Sekarang, mereka sudah terpisah.

Continue to My Butterflow part.2…

******

Well, how’s this story? Comment please!😀

16 responses to “[Kim Junsu Birthday Fic] My Butterflow (1/2)

  1. Pingback: [Kim Junsu Birthday Fic] My Butterflow (2/2) | Cappuchino In Your Life·

  2. Pingback: [Kim Junsu Birthday Fic] My Butterflow (Epilog) | Cappuchino In Your Life·

  3. Annyeong saya muncul lagi~
    Gak bosan kan kalau kukoment di sini + IFK? Hehe 8D

    Seperti kesan pertama saya yang juga telat baca fanficmu ini u.u Daebak. Kata-katamu dalam. Dan suami saya *dihajar fans Jun. K* sangaaaaaaat innocent kayaknya di sini > < *meluk2*

  4. DAEBAK! suka banget sama ff ini😀 aku pengen deh jadi Junsu😄 ahahahaha =D Happy bornday Junsu^^ *udah lewat woyy!* hahaha😀

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s