[Kim Junsu Birthday Fic] My Butterflow (2/2)

mybutterflow

Recommend Song

 I Love You A Thousand Times – Co-Ed School.

******

PART.1| PART.2

“Apa aku terlihat seperti orang yang jatuh cinta?” Yeri memelototkan matanya, mendekatkan wajahnya ke arah Junsu yang tengah menggenggam majalah. Namja itu sampai terpojok ke dinding karena Yeri bergerak terlalu dekat ke arahnya, membuat semburat merah muncul di wajahnya, dan tentu saja Junsu tak ingin Yeri melihatnya.

“… Aku rasa tidak.” Jawab Junsu cepat. Dia merasa tidak enak menjawab seperti itu, karena jelas sekali terlihat bahwa akhir-akhir ini Yeri lebih bahagia dari biasanya. Tapi dia tak ingin membuat Yeri sadar tentang perasaannya.

“Benarkah? Benarkah begitu?” Yeri kembali mendekatkan wajahnya, meminta agar Junsu memperhatikan raut wajahnya baik-baik. Tapi hal itu malah membuat Junsu semakin malu.

Ne…! Kau seratus persen tidak terlihat seperti orang jatuh cinta!” jerit Junsu, membuat Yeri memundurkan posisinya (?) lalu duduk bersila. Akhirnya Junsu bisa juga bernafas lega.

“Teman-teman bilang aku ada yang berubah..” ujar Yeri, masih dengan polosnya. Yeoja satu itu memang tidak pernah jatuh cinta sebelumnya.

Mwoya? Mungkin mereka bermimpi. Percayalah padaku, kau tak berubah satu milimeter pun.” Ujar Junsu, bohong. Sebenarnya ia tahu dan tidak suka dengan kebohongan yang ia katakan, tapi mau apalagi, dia tidak ingin Yeri menyadari bahwa dirinya benar-benar menyukai Jang Wooyoung.

“Ah… Apa aku terlihat berbeda? Saat bersama… Wooyoungie?” ujar Yeri kembali, membuat Junsu tertohok. Wajahnya memerah karena malu, sekaligus ada perasaan tidak enak pada Jieun mengganjal di hatinya. Hal itu terlihat jelas dari wajahnya, membuat hati Junsu ikut sakit.

“Tidak, kau masih seperti biasa.” Tegas Junsu.

“Ah… Mungkin kamu benar…” gumam Yeri, sembari menganggukkan kepalanya. Selama ini ia menyangka bahwa dirinya menyukai Wooyoung, tapi ia sendiri tak begitu yakin, dan teman-temannya juga tidak bisa dipercaya. Jadi dia menanyakan hal itu pada Junsu.

“Jadi? Nona Raoya kesini ingin bertarung lagi?” Junsu berusaha mengalihkan pembicaraan. Rasanya sangat tidak nyaman membicarakan hal ini, apalagi gadis yang menanyakan hal itu adalah gadis yang disukainya. Sakit hati taugasih.. #lahkok

“Yap! Aku ingin coba mengeluarkan jurus rahasia Raoya!” Yeri kembali bersemangat, dia melompat-lompat di atas lantai kayu, membuat Junsu tertawa kecil melihatnya.

“Baiklah, kalau begitu bersiaplah untuk kalah!” seru Junsu, lalu menyambar stick 1 dan menyalakan playstation. Yeri juga mengambil sticknya dan melatih jari-jarinya agar lebih luwes saat bermain.

Setelah main menu sudah muncul, Yeri menepuk bahu Junsu dan menunjukkan evil smirknya, lalu memandang Junsu dengan tatapan kemenangan. “Kali ini kau akan kalah!” seru Yeri, ia berteriak heboh sembari mengangkat sticknya.

“Coba saja.” Junsu membalas tatapan yeoja itu dengan tatapan yang sama songongnya. Mereka berdua kembali fokus ke layar, dan memilih karakter masing-masing. Seperti biasa, Junsu mengambil Butterflow dan Yeri mengambil Raoya.

“… Kalau Wooyoungie, dia pasti memilih Hugo.” Ujar Yeri tiba-tiba, di saat mereka sedang menunggu loading. Junsu hanya diam, tidak menjawab apapun. Bahkan dengan gumaman pun tidak. “Meski dia pakai Hugo, dia selalu kalah dariku. Hugo memang punya pesona dan kekuatan tersendiri, tapi Raoya jelas lebih kuat. Dia selalu mengeluh kenapa bisa Raoya jadi sangat kuat kalau aku yang mainkan.” Kenangnya.

Junsu masih terus diam. Dia tidak ingin dengar, tapi dia juga tak bisa berkomentar apa-apa.

“Dia selalu memanggilku yeonam karena aku seperti namja. Entahlah, dia tak pernah menganggapku perempuan.” Yeri sedikit menunduk. Perasaannya langsung tidak enak, mengingat Wooyoung yang hanya terpesona pada Jieun.

“Mhm. Tapi menurutku, kalau Yeri sedikit merubah penampilan, kau akan jadi jauh lebih cantik.”

“Eh? Menurutmu begitu?” Yeri hanya tertawa kecil mendengar ucapan Junsu. Senyum kecilnya yang suka ia tunjukkan membuat Junsu semakin terpesona melihat yeoja itu.

“Ya, kira-kira begitu. Yeri pasti akan sangat manis jika memakai rok bermotif polkadot.” Gumam Junsu, dia mulai membayangkan. Tapi pikirannya langsung hanyut entah kemana setelah Yeri menendang perutnya pelan.

“Jangan bayangkan hal yang mustahil! Sampai kau bicara begitu lagi, aku akan serius menendangmu!” ancam Yeri, sembari bersiap melempar stick playstation. Junsu hanya asyik tertawa melihat kelakuan aneh Yeri.

“Hahaha, kau aneh, Yeri~”

“Hah? Aneh bagaimana? AAAHH BABO, BABO! Waktunya sudah habis dan kita menghabiskan waktu pertandingannya untuk ngobrol. Lihat perbuatanmu!!” omel Yeri, seraya menunjuk layar tv. Dia merebut stick milik Junsu dan segera menekan tombol untuk mengulang pertandingan.

“Uh, tunggu tunggu, aku harus ke toilet.” Junsu menghentikan gerakan Yeri, lalu segera bangun untuk ke toilet. Sebelum benar-benar pergi, ia menatap wajah serius Yeri yang masih sibuk mengotak-atik gamenya. Benar-benar menarik—menurutnya.

“Yeri.” Bisik Junsu. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Yeri.

“Apa?” jawab Yeri sinis, masih sibuk memperhatikan layar.

“Kamu harus ingat… Wooyoung itu Hugo. Butterflow itu aku, bukan dia.” Bisiknya, lalu beranjak pergi ke kamar mandi sambil bersenandung. Yeri hanya bengong melihat namja itu.

“… Ah, maksudnya jagoannya dia memang Butterflow kan? Apa dia bicara tentang jagoan?” gumam Yeri polos. Dia memutuskan untuk mengabaikan hal itu lalu kembali berautis-ria dengan gamenya.

******

Klang!

Yeri terbangun dari tidurnya. Ia menengok jam dinding, sekarang sudah pukul 8 malam. Ia mengingat-ingat lagi kejadian tadi sore sebelum dia bisa terkapar di tempat tidur. Setelah berhasil mengalahkan Junsu yang juga sukses mengalahkannya sebanyak 15 kali, ia pulang jam 6 lalu tertidur.

Sekarang, suara apa yang membangunkannya tadi?

Ia menengok ke luar jendela, lalu menatap rumah Wooyoung yang berseberangan dengan rumahnya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali dia masuk dengan bebas ke dalam kamar Wooyoung. Sekarang namja itu jadi was-was jika Yeri datang dan bahkan mengintip saja harus izin dulu.

“Menyebalkan.” Gumam Yeri. Ada sedikit perasaan kecewa di dalam hatinya. Matanya kembali menelusuri pemandangan yang dapat dilihatnya, dan tanpa sengaja ia menemukan Wooyoung yang sedang berdiri sembari menggosok-gosokkan tangannya.

“Wooyoungie!” jerit Yeri. Wooyoung spontan menoleh ke atas.

“Oh, Yeri!” balas Wooyoung. Ia melambaikan tangannya.

“Kamu sedang apa?”

“Tadi aku mengantar Jieun pulang ke rumahnya.” Kata namja itu, tersenyum manis. Jawaban Wooyoung membuat Yeri benar-benar menyesal sudah bertanya padanya.

“Ooh… Hehe.” Tahu dia akan menjawab begini lebih baik aku tidur sekalian! rutuk Yeri.

“Mau masuk?” Wooyoung tiba-tiba menunjuk rumahnya dengan jempol kirinya, membuat Yeri yang daritadi sibuk menggumam tidak jelas langsung terkejut.

“He?”

“Sudah lama nggak ngobrol.” Jelas Wooyoung. Ah… Jadi itu maksudnya. Yeri mengangguk, tanda ia mengerti. Ia juga sudah rindu sekali untuk bercanda dengan Wooyoung. Dengan segera, ia berlari ke lantai bawah dan mengenakan sepatunya, lalu melangkah ke arah Wooyoung yang sudah menunggu.

“Masuklah, kau ini kenapa tiba-tiba jadi ragu-ragu begitu?” gerutu Wooyoung, Yeri hanya tertawa lalu masuk ke dalam rumah Wooyoung duluan, disusul oleh si pemilik rumah.

Sementara itu, Junsu memandang mereka berdua dari balkon kamarnya.

******

“Nih.” Wooyoung membawa dua cangkir teh dingin, lalu memberikan satu pada Yeri yang tengah duduk di balkon kamarnya.

“Dasar kau ini, cangkir itu klopnya dengan minuman yang panas-panas.” Gerutu Yeri, tapi dia tetap menerima tehnya.

“Nggak usah bawel, walaupun dingin begini aku sedang ingin minum minuman dingin. Buang saja es batunya.” Wooyoung ikut menggerutu, lalu duduk di sebelah Yeri. Yeri hanya cemberut lalu menggembungkan pipinya.

“Pertama, aku sadar kalau selama ini aku tidak bercerita apapun tentang hubunganku dan Jieun…” Wooyoung menaruh tehnya dipinggir pintu, lalu menundukkan kepalanya pada Yeri.

Jadi ini yang mau dibicarakan? Yeri kembali menggerutu dalam hati. Entah kenapa akhir-akhir ini dia hobi sekali menggerutu.

“Ya, terus?” jawab Yeri ketus. Sebenarnya ia malas mendengarnya.

“Jieun beda sekali denganmu. Dia manis, polos, ramah, dan benar-benar membuatku merasa harus melindunginya.” Ujar Wooyoung. Walaupun akhirnya Wooyoung mau cerita padanya, Yeri tetap saja tidak suka mendengarnya.

“Jadi maksudmu aku tidak manis, jahat, dan tidak pantas dilindungi?” Yeri menggerutu kembali.

“Iya, tapi… Aku lebih nyaman bersama dengan Yeri. Kuakui, Yeri orangnya agak lamban dan polos, tapi disitulah point kelucuanmu.” Jelas Wooyoung, membuat mata Yeri berbinar. Hatinya berdebar dengan tidak jelas, dan pipinya berubah jadi merah merona.

“O—oh ya?” Yeri berpura-pura ketus, walaupun dalam hatinya dia sudah ingin berteriak pake toa, lalu lompat dari balkon saking senangnya.

“Ya, begitulah. Aku nyaman bersamamu.” Wooyoung menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu meneguk tehnya. Sementara Yeri masih tersipu malu dan menutupi pipi merahnya dengan tangan.

“… Apa kamu sudah ‘jadi’… Dengan Jieun?” tanya Yeri perlahan.

“Hah? Belum, masih proses.”

“Ooh…”

Sementara hening beberapa saat, Yeri mencoba mencari tahu perasaan apa yang terus bergejolak di dalam hatinya. Apa ini cinta…? Seperti yang dikatakan Junsu? Tapi namja itu bilang tidak ada satu milimeterpun dari diri Yeri yang berubah. Jadi, apa dia jatuh cinta…?

Ya, dia jatuh cinta.

Mumpung Wooyoung belum mempunyai hubungan yang terikat, Yeri bertekad akan mengatakannya, sekarang juga.

“Woo—Wooyoungie…” gumam Yeri. Jantungnya benar-benar berdegup dengan keras. Dia tak pernah menyangka akan mengutarakan seluruh perasaan yang terus mengusik pikirannya dalam waktu secepat ini.

“Ya?”

“Aku…”

“Hmm?”

“Me—me…”

“Apaan, sih?”

“Me—menyukaim—”

Drrrt… Drrt…

“Ah, sebentar.” Wooyoung segera mengangkat ponselnya, lalu berdiri dan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Yeri yang sudah kaku saking ketakutannya.

Yoboseo? Aaah~ Jieun-ah? Ne, sekarang? Boleh kokk~ mau ngomong apa?” Wooyoung tiba-tiba berbicara dengan nada ceria, membuat Yeri langsung terkapar di lantai balkon. Sudah ia duga, Wooyoung tak mungkin menyukainya. Bicara dengan nada manja padanya saja tidak pernah.

“Hmm? Ahh aniyo, aku sama sekali tidak terganggu. Aku sangat senang ditelpon oleh kamu.” Katanya lagi, membuat hati Yeri tambah sakit. Apa ada yang lebih buruk daripada ini? Sekalian saja Jieun datang kesini lalu ngobrol dengan akrab di depanku, supaya sakit hatiku maksimal! Yeri makin-makin menggerutu, matanya ia tutupi dengan tangan, agar tangisnya tidak terlihat.

“Yeri?”

Deg!

Dia menyebut namaku…? batin Yeri.

“Ah iya, dia sahabat terbaik yang pernah ada.”

Jleb.

Entah darimana, tiba-tiba perut Yeri langsung sakit, seperti ada kupu-kupu di dalam perutnya. Dadanya seperti ditusuk, sesaknya bukan main. Kenapa dia harus ada disitu sementara Wooyoung dengan orang-yang-disukainya bisa dengan santainya mengobrol dan tanpa sadar sudah menoreh luka di hatinya?

Yeri ingin menangis, tapi terus ia tahan. Memang, semua ini harus ia tahan. Termasuk perasaannya juga.

“Park Yeri!”

Yeri menoleh ke bawah. Junsu sudah ada di bawah sembari melambaikan tangannya, menyuruh gadis itu untuk turun. Dengan lega, Yeri segera berlari ke bawah tanpa melihat Wooyoung lagi. Ia sedang tidak mau melihat namja itu sekarang.

“Junsu…!” Yeri keluar dengan lega dari rumah itu, dan tanpa sadar semua air mata dan perasaannya lepas begitu saja, mengalir tetes demi tetes di pipi merahnya. “Uh…”

Gwenchana?” Junsu menggenggam sebelah tangan Yeri. Tidak, untuk sekarang dia masih belum berani merengkuh Yeri di pelukannya.

“Aku… Jatuh cinta…” isak Yeri, sembari menyeka air matanya.

“Iya, aku tahu. Aku salah tidak menyadarinya. Maaf.” Ujar Junsu pelan. Ia membantu menyeka air mata Yeri dan mengelus rambut pendek bergelombang yeoja itu.

“Tidak, ini bukan salahmu…” Isaknya lagi.

Junsu tidak tahan melihat air mata terus menerus jatuh dari pelupuk Yeri. Dengan segera, ia menarik Yeri ke dekat sungai, tempat persembunyiannya yang kemarin, lalu memberikan jaketnya untuk gadis itu.

“Nah, disini kamu boleh berteriak. Ucapkan segala hal yang membuatmu gundah.” Saran Junsu. Yeri menatapnya dengan mata yang membengkak.

“Harus?”

“Apa kau mau menangis-nangis di rumahmu, lalu ditanyai ibumu?”

Yeri hanya menggeleng.

“Yasudah, lakukan saja. Raoya juga selalu melakukannya, kok.” Ujar Junsu. Yeri menganggukkan kepalanya, lalu menatap lurus ke arah air sungai yang tenang. Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya, lalu membayangkan bahwa Wooyoung ada di hadapannya.

“WOOYOUNGIE BABOYA!!!” jerit Yeri dengan sepenuh hati. Air mata kembali membasahi matanya dan dengan cepat, butiran-butiran kristal itu meluncur satu-persatu. “AKU MENYUKAIMU, BABO! PLINPLAN! LAMBAN! KENAPA KAMU HARUS TELPON-TELPONAN DAN BERBICARA MANJA BEGITU DI DEPANKU? MENYEBALKAAAN!!!” jeritnya terus-menerus, membuat Junsu terkejut melihatnya.

“Aku—aku menyukaimu…” ujar Yeri, lalu menyeka air matanya. “Wooyoungie, kenapa kamu begitu bodoh? Kamu cinta pertamaku…” isaknya lagi. Ia sudah tidak sanggup berteriak, lagipula seluruh teriakannya tadi sudah cukup untuk mewakili perasaannya.

“… Nah, kamu puas?” tanya Junsu, melirik ke arah Yeri dengan ekor matanya. Yeri menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“Ya! Raoya nggak akan semudah itu menangis!” seru Yeri, membuat Junsu tersenyum mendengarnya.

“Ya, Raoya hanya menangis untuk Butterflow, Raoya tak pernah menangis demi Hugo.” Kata Junsu, ia terkekeh geli.

“…? Kamu ngomong apa?”

“Nggak. Ah, Yeri…”

“Apa?” Yeri menatap Junsu dengan mata bulat dan senyum manisnya. Junsu yang ingin mengatakan sesuatu, lidahnya kelu mendadak. Dengan cepat, ia urungkan niat mengatakan hal ‘itu’. “Ayo.” Junsu kembali tersenyum lebar, lalu menarik tangan Yeri, mengajaknya pulang.

Yeri memandang wajah bersinar Junsu. Entah kenapa, jantungnya kembali berdebar, tapi ia mengabaikan debaran itu. Setelahnya, ia juga ikut tersenyum.

Ternyata, memang Butterflow tidak akan meninggalkan Raoya.

******

“Omo! Omo!!! Aku berhasiiiil!!!!” jerit Yeri, ia mengangkat kedua tangannya ke atas dengan penuh kemenangan. Hari ini akhirnya ia bisa juga mengeluarkan jurus pamungkas Raoya tanpa harus dihalangi Junsu.

“Tsk, itu hanya sebuah keberuntungan.” Gerutu Junsu. Memang, tadi dia sedang agak lengah.

“Keberuntungan bagaimana? Hahaha! Baiklah, karena kita sudah janji, truth or dare?” Yeri memasang tampang jahil, lalu menatap Junsu yang tengah berpikir.

“Truth.”

“Okeee~ adakah orang yang kamu sukai? Siapa?” tanya Yeri blak-blakan, membuat jantung Junsu berdetak lebih keras. Namja itu menatap gadis di hadapannya dan kembali berpikir keras, apa yang harus dia katakan.

“Ayolaaah~ jangan lama-lama!”

“… Raoya.” Akhirnya, Junsu mengatakannya.

Mwo!? Aish… Dasar maniak. Masa kau menyukai tokoh game? Yasudahlah, berhubung kamu ngga bisa bohong.” Gerutu Yeri, kurang puas dengan jawaban Junsu. Akhir-akhir ini selalu saja dia yang bercerita, sedangkan Junsu tak pernah curhat tentang asmara padanya.

Junsu hanya memandang Yeri dengan pandangan kesal. Sampai begini saja gadis itu masih saja lamban. Maksudku itu kau, babo.

“Oh, ngomong-ngomong, kenapa ada banyak kardus di lorong?” Yeri melongo ke luar ruang tv. Ada banyak kardus bertumpuk disana.

“Ah… Itu. Ada barang lama yang mau disimpan di gudang.” Jawab Junsu, lalu menatap wajah Yeri yang masih melongo ke luar ruangan. Yang diperhatikan langsung membalas tatapan Junsu dengan tatapan bingung.

“Apa?”

“Nggak… Kamu masih suka Wooyoung?”

Deg!

“… Nggak tahu.”

“Kenapa nggak tahu?”

“Karena… Aku memang tidak tahu. Wooyoung masih bertingkah seperti biasa, sedangkan aku… Masih kikuk di hadapannya. Kadang aku masih merasa sakit jika melihatnya bersama Jieun…” Jelas Yeri. Tatapannya kembali sendu, membuat Junsu merasa sedih sekaligus kecewa. Padahal sudah dua setengah bulan berlalu, dan hampir setiap hari Junsu yang selalu menjaganya. Tapi Yeri tak pernah memandangnya. Rasanya sakit…

“… Menurutmu, bagaimana kalau Raoya kehilangan Butterflow?”

Yeri menoleh ke arah Junsu, yang berbicara seperti itu sambil tetap menatap ke layar. Entah kenapa, Yeri merasa sesak melihat tatapannya. Menyakitkan.

“Tentu saja Raoya akan sedih, kan?” jawab Yeri seadanya. Junsu hanya mengangguk.

“Bagaimana kalau Butterflow pergi meninggalkan Raoya?”

“Hmm? Bukankah di ceritanya Raoya terus menangis?” Yeri makin bingung dengan pertanyaan Junsu. Bukankah namja ini sudah tahu jawabannya?

“Apa kamu akan menangis jika aku pergi?” bisik Junsu, dan sesuai kemauannya, Yeri tidak mendengar perkataannya. Paling tidak, ia sudah mengatakannya, meski hanya dengan sebuah bisikan.

“Tapi yang jelas, aku akan sedih kalau Junsu pergi.” Ujar Yeri, membuat Junsu terdiam. Ekspresinya terkejut. “Soalnya, nanti nggak ada lagi tempat curhat dan orang yang bisa diajak main Fighting Warrior.” Tambahnya.

“Ooh… Kupikir kenapa.” Balas Junsu, sedikit kecewa mendengar tambahan dari perkataan Yeri itu.

“Nah, ayo, kita kembali main!” Yeri kembali bersemangat. Senyum lebar menghiasi wajah mungilnya, membuat Junsu juga ikut tersenyum. Mungkin ini adalah terakhir kali untuknya dapat melihat senyuman indah Yeri, di saat mereka memainkan Fighting Warrior.

“Ayo.”

******

Same day, 22.00PM

Eomma pulang.”

“Selamat datang.” Junsu berlari ke arah pintu depan, membantu membawakan barang-barang eommanya.

“Junsu, kamu sudah mengepack barang-barangmu?” tanya eomma Junsu sembari melepaskan jas (jas buat wanita gitu… Tau maksudnya, kan?) kerjanya.

“Sudah.” Junsu melirik ke arah kardus yang daritadi diperhatikan Yeri. Ya, semua barang-barangnya sudah masuk ke sana, hanya tinggal kasur tidur dan beberapa barang ringan saja yang masih berada di luar.

“Persiapkan dirimu, eo? Sudah lama kita tidak naik pesawat. Pesawat berangkat jam sepuluh malam, jadi kira-kira kita sudah berangkat dari rumah pukul tujuh.”

“… Ne. Eomma, tidak bisakah eomma membiarkanku tinggal disini?”

“Kenapa kamu ingin tinggal sendirian? Kamu masih SMP.”

“Aku sudah punya teman disini, jadi aku ragu untuk meninggalkannya. Lagipula kita baru disini selama hampir tiga bulan.”

“Sudahlah, Junsu. Cepat atau lambat dia akan melupakanmu. Bereskan gamemu, itu sangat berantakan.” Ujar eomma Junsu sembari menunjuk ke arah playstation Junsu dengam dagu, lalu masuk ke kamarnya. Ucapan eommanya membuat Junsu terdiam. Ya, dia tahu suatu hari akan dilupakan, tapi dia berusaha agar Yeri tidak melupakannya. Dengan lunglai, ia membereskan playstationnya dan menatap kaset Fighting Warrior 3.

Benda itu, adalah awal dari pertemuannya dengan Yeri. Bagaimana Yeri bisa dekat dengannya, bagaimana ia bisa mengobrol dengan Yeri, semuanya karena mereka berdua bermain games ini bersama. Kenangan selama hampir tiga bulan ini sungguh menyenangkan dan sungguh berarti. Junsu bersyukur dapat dipertemukan dengan gadis seajaib Yeri.

Seandainya Yeri hanya gadis biasa dan tidak menyukai Fighting Warrior, apa mereka dapat sedekat ini?

Jika saat itu Junsu tidak menyapa Yeri, apakah mereka dapat bermain bersama dan bercerita satu sama lain?

Jika saat itu Wooyoung tidak menolak ajakan Yeri, apakah Yeri akan menyadari perasaanya duluan dan berhasil menyatakan perasaannya?

Yang jelas, ini seperti takdir. Dan Junsu senang sudah diikatkan dengan takdir ini.

BRAK!

Junsu terkejut. Suara dari luar sana mengejutkannya. Dengan segera, ia berlari ke luar dan memperhatikan sekelilingnya, lalu mendapati Yeri yang tengah berlari dalam kegelapan. Sedang apa gadis itu malam-malam begini?

******

(Sangat disarankan baca bagian ini dengan mendengarkan I Love You A Thousand Times – Co-Ed School. Manjur!)

Yeri mengayunkan tubuhnya di ayunan rapuh di taman. Pikirannya campur aduk, tidak tahu apa yang ingin ia pikirkan sekarang itu. Yang jelas, dia tak ingin mengingat pemandangan yang ia lihat tadi sore.

Ketika Wooyoung pulang dan menggandeng tangan Jieun, mengecup kening gadis itu dan mengatakan ‘aku cinta kamu’… dan disambut oleh sebuah senyuman manis dari wajah Jieun.

Ya, sebuah senyuman yang tidak dimilikinya.

Air mata Yeri kembali tumpah. Ia tahu, ia tidak pantas menangis. Junsu juga sudah bilang, bahwa Raoya tidak cocok menangis, apalagi untuk Hugo. Tapi Yeri tidak bisa menahannya lagi. Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Fighting Warriors, ini berhubungan dengan hati.

“Yeri…” desah Junsu. Namja itu mendekati Yeri yang masih terisak dengan perlahan. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya. Bodoh, sudah jelas dia sedang kenapa-napa.

Yeri tidak kuat menjawab. Dia hanya diam, terus menundukkan kepalanya.

“Jangan menangis…” ujar Junsu, mengelus lembut puncak kepala Yeri. Ia tidak ingin yeoja ini menangis lagi. Ia tidak ingin jika saat dia pergi, Yeri masih belum bisa bahagia.

Entah berapa lama sudah mereka hanya diam. Tidak ada pembicaraan yang terjadi, dan tidak ada siapapun yang ingin memulai. Junsu masih menatap Yeri dan Yeri masih terus menunduk sambil menenangkan dirinya.

“Aku sudah tenang.” Ujar Yeri tiba-tiba, lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum. Terlihat sekali wajahnya yang baru menangis. “Junsu sudah tidak perlu khawatir lagi.”

Dada Junsu langsung terasa luar biasa sesak. Dasar gadis bodoh, umpatnya. Junsu sama sekali tak pernah merasa direpotkan. Yang jelas, ia ingin melindungi gadis itu, menjaga dan menyenangkan perasaannya.

Tapi, ia masih tak boleh menyentuh Yeri. Memeluknya pun tidak. Ia masih belum pantas. Ia masih belum bisa melindungi gadis itu dan menghapus seluruh air matanya.

Tapi… Entah kenapa terpikir dalam benaknya. Bagaimana dengan perasaannya sendiri? Perasaan yang terus tersimpan dan belum pernah bisa ia utarakan, perasaan tulus yang ia keluarkan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Perasaan cinta. Perasaan untuk menyayangi Yeri seutuhnya.

Ya, perasaan itu terus menumpuk di hatinya, membuat hari-harinya bahagia ketika melihat tawa Yeri, dan kadang menyakitkan dan menyesakkan hatinya ketika melihat Yeri menangis. Dan… Ketika mengetahui kalau Yeri tidak membalas cintanya.

Kenapa dia tidak membalas cintaku? … Hal itu selalu saja terlintas di pikirannya. Membuatnya terus gelisah, namun dirinya tidak berani bertanya hal itu secara langsung pada Yeri. Ia tidak ingin membebani. Tapi mau apalagi, sebentar lagi dia harus pergi. Tidak tahu kapan lagi dia akan mendapatkan kesempatan untuk menyatakannya.

“Yeri, maafkan aku.” Ujarnya pelan.

“Untuk apa?” Yeri menatap namja di depannya dengan tatapan bingung. Ia masih sibuk menyeka sisa-sisa air matanya.

“Sudah, tidak penting. Jadi kau mau memaafkanku atau tidak?”

Yeri meletakkan tangannya yang putih pucat di rantai-rantai ayunan, berkata dengan nada santai yang menjadi khasnya, “Tergantung, apa kesalahanmu?”

“… Kamu bertanya apa kesalahanku?”

“Ya, apa kau tidak mendengarnya? Apa mau kuulangi?” tegas gadis itu. Setelah menangis ia masih saja bisa berkata sinis.

“… Kesalahanku… Aku sudah menjadi Butterflow untukmu. Tapi, kamu belum menjadi Raoya-ku.”

“… Apa maksudm—”

Junsu menatap lekat mata cokelat Yeri, lalu mengecup bibir gadis itu. Yeri hanya bisa diam, kaku. Dia kaget setengah mati.

“… Terima kasih.” Junsu menarik tubuhnya, kembali berdiri tegap di hadapan Yeri. Yeri menatap wajah pria itu dengan tatapan bingung. Sebulir air mata mengalir dari mata kiri Junsu, tanda bahwa ia sedih. Baru sekali ini namja itu menangis di hadapannya. Tapi… Dia tersenyum.

“Junsu…”

Junsu tidak menjawab. Ia hanya memberikan jaketnya untuk Yeri, lalu berjalan pergi. Ia tahu, jika dia berbicara lagi, air matanya akan terus mengalir tanpa henti dan dia tak ingin melakukan itu di depan Yeri. Dia tak ingin Yeri melihatnya sedang menangis. Dia ingin Yeri terus tertawa, terus tersenyum.

Ya, cerita ini memang seperti kisah asli dari Butterflow dan Raoya. Dimana Butterflow meninggalkan Raoya, dan Raoya terus menangis karena kesepian. Tapi tidak, meskipun Junsu adalah Butterflow…

Yeri bukanlah Raoya. Gadis itu akan kembali pada kehidupannya tanpa Junsu, dengan tawanya yang cerah. Meski gadis itu akan merindukan Junsu, bukan berarti ia akan terus menangis dan mati seperti Raoya. Tidak. Junsu tahu itu, sejak awal ia menatap mata gadis itu.

Dan hal itulah yang terus membuat air matanya mengalir tanpa henti. Cinta pertama, cinta yang bertepuk sebelah tangan.

******

Flashback End

Yeri POV

Sudah tiga hari terlewat sejak malam itu. Setelahnya, aku hanya terus terdiam di taman sampai kakiku membawaku kembali ke atas tempat tidur.

Kenapa dia pergi…?

Kenapa dia berbuat seperti itu…?

Kenapa?

… Aku merindukannya. Aku ingin dia kembali. Aku ingin mendengar suaranya yang memanggilku “Nona Raoya”. Aku ingin melihat senyumnya, dan menyentuh tangannya yang mengelus puncak kepalaku.

Aku ingin melihatnya kembali.

Junsu, kenapa kamu menghilang? Kenapa kamu tidak bilang kamu akan pergi? Kenapa kamu tidak mengatakan apapun padaku?

Aku beranjak ke kamar. Pantas saja rumah sebelah kosong, selama tiga hari ini aku selalu mencarinya tapi tak pernah ada jawaban dari dalam. Dan eomma baru memberitahuku malam ini, tepat setelah aku pulang sekolah.

Entah kenapa, kakiku membawaku ke depan rumah namja itu lagi. Rumah kenangan, lebih tepatnya. Meski sepi dan selalu saja hanya dia yang menyambutku, tapi tempat itu hangat dan nyaman, membuatku betah disana.

Dan setelah itu, aku langsung sadar, yang membuatku nyaman bukan rumah ini, tapi dia.

Kim Junsu.

Dimana semuanya bermula, saat dia menyapaku, mengajakku main, dan aku mulai mengobrol banyak dengannya. Saat dia tahu siapa orang yang kusuka, dan senyuman tulusnya ketika ia menghiburku. Ya, aku menyukai semua hal itu. Betapa konyolnya dia, betapa tinggi khayalannya, dan betapa aku begitu merindukannya.

“Junsu…” desahku. Aku menatap jalan di sampingku. Andai saja saat itu aku mengejarnya, apa dia tak akan pergi?

“Junsu…” aku berlari, entah kemana. Kaki ini terus membawaku ke jalan raya, ke arah taman pada malam itu. Entah kenapa aku terus berharap dia ada di taman itu, menyambutku dengan senyuman hangatnya, mengatakan bahwa dia tidak jadi pergi. Tapi itu tidak mungkin.

Junsu… Apa kamu ingin kisah kita seperti cerita asli Butterflow dan Raoya?

Kamu sudah pergi seperti Butterflow, dan aku menangis dan mengejarmu layaknya Raoya. Aku mengikuti bayanganmu, bayangan yang terus terbayang di benakku.

Jangan pergi…

… Kamu sudah membuatku menangis, Kim Junsu. Kamu sudah membuat seluruh pikiranku terisi sepenuhnya oleh dirimu. Jadi, ayo kembali… Jangan membuat aku menunggu dan mati seperti Raoya…

Jangan…

DIIIN…!

BRAKKK!!!

******

To be continued to Epilog😛

HAHAHA. *evil laugh* tanggal berapa ini? 12 ya? Ah, masih belom sebulan. Agak santaisantai… #dibunuh #apaanbanget

Ini ceritanya akhirnya jadi begini-__- tenang aja, bagi siapapun yang penasaran *ih pede banget* epilognya bakal keluar kok. Ng… Besok sepertinya🙂

Terimakasih untuk yang udah mau baca dan comment. Adios!😀

16 responses to “[Kim Junsu Birthday Fic] My Butterflow (2/2)

  1. Pingback: [Kim Junsu Birthday Fic] My Butterflow (Epilog) | Cappuchino In Your Life·

  2. waaahh keren😀 baca ini, nangis aku.. *terus aku lap* keren banget.. harusnya si yeri tau dong.. kalo aku jadi yeri aku udah peluk junsu duluan😦 aahh yeri!!!!😦
    junsu, jangan pergi😦

      • hahaha😀 entah kenapa lagunya pas aja😄 *sampe download lagunya._.v agar mendalami cerita*
        Ne^^ Cheonmaneyo^^

      • hahaha😀 itu penyanyi trio yaa? kok kaya ada suara cowok, terus suara cewek, dan cewek satu lagi beda.. *mian belum tau co-ed school-_-v* *ndesooo*
        hahaha😀 kan kaya fanfic bersoundtrack😄

      • bukan.. mereka bersepuluh loh.__. jadituh isinya cowok sama cewek. yang rappernya ganyanyi tapi, kesian-__- yang cewek sekarang di sub-group namanya 5Dolls kalo yang cowok di SPEED.
        iyappp~~ setuju!

  3. ooo :O Speed itu yang dari indonesia bukan? yang alay kaya robot itu lhoo *abaikan-_-v*
    hehehe😀 aku aja kalo nonton drakor pasti selesai nonton cari soundtracknya *ketawan suka nonton drakor._.*
    maap itu tadi punya temen ku*yang diatas* diapus aja, aku salah kirim u,u
    tadi soalnya temenku main ke rumah main lepi ku lagi “_”

    • BUKAAAAAN-___-
      SPEED yang mana ya? yang ngecover lagunya T-ARA yang Lovey Dovey. kesian banget cuma ngecover, padahal aku suka sama mereka t(-__-t )
      aku jugaaaa~~
      okeoke…

  4. fika komen yang atas nama itu apus aja.. soalnya nnt tiba-tiba ngecek aku pake namanya eehh malam ngambek dia-_-“v
    hahahaha😀 itu yang cowok kan? *speed*

      • hahahaha😀
        gb/bb indo yang paling mending menurut kamu apa? kaya nya enggak ada yaa?
        lupakan, Fikaa, ayo buat ff thriller.. aku ngiler banget nih sama ff thriller😄

      • ngga ada ji…..
        thriller? tak taulah aku thriller ato ngga u_u yang I Will Follow You Into The Dark noh…… #krikkrik

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s