[Kim Junsu Birthday Fic] My Butterflow (Epilog)

mybutterflow

Kamu sudah membuatku menangis, Kim Junsu. Kamu sudah membuat seluruh pikiranku terisi sepenuhnya oleh dirimu. Jadi, ayo kembali… Jangan membuat aku menunggu dan mati seperti Raoya… 

Jangan…

DIIIN…!

BRAKKK!!!

Kim Junsu…. Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu tidak kembali…?

Kenapa…?

Padahal, air mataku masih mengalir…

PART.1 | PART.2 | EPILOG

Kenapa kamu sampai bisa tertabrak?

Yeri baboya. Kenapa kamu baru menyadari perasaanmu? Kenapa?

Kenapa, Yeri? Kenapa?

“… Ri…”

… Siapa?

“… Yeri…”

Siapa yang memanggilku?

Mata Yeri terbuka perlahan. Cahaya menerobos masuk ke dalam ruangan, membuat penglihatannya agak buram. Ia memandang ke sekitarnya, dan ia dapat memastikan bahwa tempat ini adalah rumah sakit. Semuanya serba putih.

Lalu, ia menangkap keberadaan sesosok namja dengan tatapan teduhnya, duduk di samping ranjang dan menatap ke arahnya.

Siapa orang ini…?

“Yeri…” Orang itu menariknya ke dalam pelukannya, membasahi tengkuk halus Yeri dengan air matanya. Yeri mencoba menerka kembali siapa orang yang memeluknya, sementara inderanya belum bekerja dengan normal.

“… Junsu…?” Akhirnya, ia merasakannya. Mengingat kembali perasaan ini, ketika bibir hangat Junsu menempel di bibirnya, dan kehangatan yang ia rasakan saat itu persis seperti yang ia rasakan sekarang. Bedanya, yang ia rasakan dulu terasa sedih dan kelu.

Baboya! Apa yang kau lakukan? Apa kamu mau mati!?” bentak Junsu dengan nada kesal. Kenapa wanita ini sangat bodoh, sampai tidak melihat lampu merah sudah menyala?

“… Karena Raoya mengejar Butterflow… Jadi aku melakukannya.” Ujar Yeri, tatapannya hampa. Tapi bulir-bulir air mata yang mengalir dari pelupuk matanya membuktikan bahwa ia sedih.

“Untuk apa kamu melakukan itu…?” Junsu menatap yeoja di depannya dengan tatapan tidak percaya.

“… Karena… Kamu pergi…” Air mata mulai membanjiri pelupuk mata Yeri, tapi kali ini, gadis itu sama sekali tidak berusaha untuk menyeka air matanya. Ia membiarkan air mata itu tumpah, untuk pertama kalinya. “… Kenapa… Kamu pergi…?” tanyanya lagi, sembari menggenggam erat lengan baju Junsu.

“Aku… Menemani eomma yang dipindah kerja ke USA…” Junsu berusaha menjelaskan, tapi Yeri pasti tak ingin mendengar alasannya.

“… Kamu jahat… Kenapa kamu membiarkan aku seperti Raoya? Kenapa? Kenapa kamu membiarkan aku mati…?” Yeri terus mempererat genggamannya. Kepalanya terasa pusing saking beratnya ingatan yang dulu ia bebani, ingatan yang merusak pikirannya sampai ia sama sekali tak melihat lampu merah telah menyala.

“Yeri, tenang…!”

“Kenapa? Kenapa!? Kenapa kamu pergi tanpa bilang apa-apa? … Kenapa kamu tega membuatku menderita!?” jeritnya terus menerus, ia memukuli dada Junsu dengan segenap tenaganya, meski tenaganya tidak sekuat dulu karena kondisinya.

“Yeri, aku—”

“… Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?” isaknya. Dadanya sesak. Kata-kata yang ia keluarkan masih belum cukup untuk mewakili perasaannya, yang sudah terlalu banyak meluap. Entahlah, mungkin sejak Junsu menyapanya, perasaan itu sudah muncul. Tapi belum berkembang. “… Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu suka padaku…?” ujarnya lagi.

“… Aku tidak ingin kamu menjadi Raoya.” Junsu akhirnya menarik yeoja itu ke dalam pelukannya. Ia mengelus kepala Yeri yang masih terus menangis.

“Awalnya, aku hanya tau perasaanmu pada Wooyoung. Aku berpikir cintaku bertepuk sebelah tangan, makanya aku tak pernah mengatakannya karena takut membebanimu. Aku berpikir, walaupun aku menjadi Butterflow, kamu tak akan menjadi Raoya.”

“Aku tahu kamu menyayangi Wooyoung dengan tulus, dan aku cemburu karenanya. Kupikir suatu saat kamu akan melupakanku, jadi tidak akan apa-apa jika aku tidak mengatakan apapun padamu, karena aku yakin tidak akan ada yang berubah walau aku pergi.”

“Aku tidak ingin kamu mati seperti Raoya. Cerita itu sama sekali tidak berakhir bahagia, malah seperti Romeo & Juliet. Cinta sejati itu bukan Romeo & Juliet, tapi kakek-nenek yang saling mencintai dan meneruskan hidup bersama-sama. Aku ingin meneruskan hidup denganmu, tapi aku takut kamu akan menolakku dan akhirnya meninggalkanku…”

“… Aku menyayangimu, Yeri. Sejak pertama kali aku melihatmu di depan rumahku, menjulurkan tangan untuk meminta bola softball dengan mata cokelatmu. Aku berpikir gadis sepertimu tidak akan menyukai games yang kusukai, tapi ternyata kamu malah menyukainya setelah aku melihatmu dengan Wooyoung. Karena itulah aku menyapamu.”

Yeri masih terisak di dalam rengkuhan Junsu. Dia mendengar dan memperhatikan setiap kata yang Junsu ucapkan, dan ternyata selama ini dia telah menyakiti namja itu. Benar, ia baru sadar kalau selama tiga bulan ke belakang, Junsulah yang selalu menjaga dan menyeka air matanya.

“… Kamu… Kenapa bisa disini?” gumam Yeri, masih memandang Junsu dengan matanya yang bengkak. Rasanya aneh, bukankah namja ini sudah pergi ke USA?

“Aku memohon pada eomma supaya tidak membawaku kesana. Aku ingin tetap tinggal disini, sambil menjaga Yeri. Tapi sepertinya kita akan jarang bertemu, karena aku dititipkan di rumah Ahjumma.” Junsu menyengir, menunjukkan gigi-giginya yang rapi. Yeri hanya tersenyum hangat lalu mengangguk.

Asalkan ada Junsu, dia tidak membutuhkan apa-apa lagi untuk menahan air matanya.

“Kalau begitu, setelah sembuh kita main Fighting Warriors lagi? Atau kamu sudah bosan?” Junsu terkekeh geli, sedangkan Yeri nampak berpikir sebentar.

“Tidak, kita akan kencan. Kencan pertama.” Jawabnya mantap, lalu tersenyum manis, membuat semburat merah menghiasi pipi Junsu.

******

10 years later…

“Yeri!”

Seorang gadis dengan rambut panjang bergelombangnya menatap dedaunan hijau di sepanjang taman kota. Rasanya sangat sejuk berjalan-jalan disini pada hari libur. Gadis itu menoleh ke belakang, menatap seorang namja yang masih sibuk menenteng tas es krim.

“Kau terlambat.” Katanya sinis, lalu memalingkan wajahnya.

Mianhae… Antrian es krimnya panjang sekali. Jangan cemberut begitu, sudah kubilang kau tak pantas cemberut.” Gerutu namja itu—Junsu, lalu menempelkan tas es krim yang dingin ke pipi Yeri.

“Aw! Tidak sopan.” Gerutunya, tapi namja iseng di belakangnya hanya terkekeh geli.

“Jangan ngomong gitu, ah. Aku sedang ulang tahun, loh?” Junsu kembali mengingatkan, membuat Yeri menggembungkan pipinya.

“Aku tahu, aku tahu. Tapi aku tetap bete kenapa aku harus memakai baju seperti ini!” protesnya. Junsu menatap Yeri atas-bawah lalu tersenyum puas.

“Sudahlah, kan aku sudah bilang kalau kamu cantik pakai rok polkadot?”

“Kapan kau bilang begitu?” Yeri mendelik, lalu memandang namjachingunya dengan tatapan sinis.

“Ah~ koma dua bulan sampai menghapus sebagian ingatanmu, ya? Sudah ah, jalan a la cewek doong~ jangan merusak penampilanmu!” canda Junsu, sedangkan Yeri masih terus-terusan cemberut sambil memukul lengan namja di sampingnya.

“Menyebalkan.”

“Lebih menyebalkan lagi ketika mendengar kamu menggerutu tidak jelas saat Wooyoung dan Jieun bertunangan.” Celetuk Junsu, membuat amarah Yeri agak reda. Gadis itu hanya senyam-senyum lalu menundukkan kepalanya.

“Yaaah… Habis, kaaan… Wooyoungie tetap saja teman sejak kecil~” Yeri memberi alasan, berusaha membela dirinya sendiri.

“Aish, kamu masih saja begitu. Bahkan kamu memanjangkan rambutmu demi aku, kan? Mana ucapan selamat ulang tahunnya?” Junsu menyenggol lengan Yeri dengan jahil. Kejahilannya bertambah semakin hari setelah ia menyatakan perasaannya sepuluh tahun yang lalu.

Aniyooo! Aku tidak memanjangkan ini demi kamu!” jerit Yeri dengan panik, wajahnya memerah. “Ahhh, baik, baik. Saengil chukkae hamnida uri namjachingu Kim Junsu.” Katanya cepat, tapi masih dapat didengar oleh Junsu.

Gomawo, yeojachingu.” Junsu menundukkan badannya lalu mengecup bibir Yeri sekilas, membuat yeoja itu tak sempat menolak. Wajah Yeri berubah menjadi sangat merah.

“Aish… Kim Junsu!!!” teriaknya, lalu berlari mengejar Junsu yang sudah kabur duluan seraya tertawa keras. Tapi dalam hatinya, ia senang.

Dua kupu-kupu terbang kembali, bersama-sama, terikat suatu takdir yang mempertemukan dan membawa mereka bersama.

Dan seperti sebelumnya, Butterflow dan Raoya pun pasti akan kembali bersama.

Bagaimana ceritamu?

Fin

******

Hai~ akhirnya cerita ini selesai juga. *sujud syukur*

Pengerjaannya lumayan lama, lah. Authornya sendiri ngga tahu ini ide bisa dapet darimana, pokoknya dikerjain aja== /ngasalbanget

Btw, thanks for reading! Mind to leave your comment for me?🙂

13 responses to “[Kim Junsu Birthday Fic] My Butterflow (Epilog)

  1. HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    sedih to the maxxxxx *peluk Junsu*
    pas ngedengerin lagunya, terus ngeliat muka Junsu di poster itu langsung…langsung..langsung……..nangis T_T
    aaaaaaaaaaaa:'( daebaaaak!!

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s