[Gong Minzy Birthday Fic] Where Are You, Oppa?

whereareyouoppa

Pembohong. Kau bilang akan datang, kau bilang akan segera pulang dan menemuiku 

Aku sudah menunggu selama bertahun-tahun, tapi kamu belum juga muncul…

oppa, kau di mana?

******

Cahaya matahari menerobos masuk ke dalam sebuah kamar yang berukuran cukup besar. Sinarnya menimpa wajah gadis berambut pendek yang tertidur di atas ranjangnya, dan gara-gara cahaya itu gadis itu terbangun.

“… Masih sepagi ini?” Ia mengerutkan keningnya sembari menatap jam weker. Padahal rencananya ia ingin bangun lebih telat lagi, tapi karena ia lupa menutup jendela rapat-rapat, cahaya matahari pagi bisa masuk menerobos kamarnya. Sial memang.

“Mingkki, bangunlah, sudah siang.” Eomma gadis itu—Gong Minji, masuk ke dalam kamar anak gadisnya seraya membawa segelas air putih.

Gomawo, eomma.” Minji tersenyum manis pada eommanya lalu mengambil gelas air putih itu dari tangan eommanya, lalu meneguknya sampai habis.

“Hari ini mau ikut eomma ke makam?” tanya eomma, membuat Minji terdiam sebentar.

Ya, makam. Tadinya Minji berencana bangun lebih siang agar eommanya langsung pergi tanpa mengajaknya, tapi rencananya gagal. Ini semua gara-gara jendela sialan yang lupa ditutup itu.

Ne, aku ikut.” Minji menganggukkan kepalanya. Hhh, akhirnya dia harus ikut pergi juga.

“Tunggu apa lagi? Ayo cepat siapkan dirimu. Dandan yang cantik demi Dae, dia kan, sudah lama tidak melihatmu. Eomma berangkat duluan ya? Annyeong~” pamit eomma sembari memperlihatkan senyuman terhangatnya, lalu keluar dari kamar Minji. Minji sendiri hanya diam di atas ranjang, ia malas bergerak. Lagipula, untuk apa?

Akhirnya, gadis itu bergerak juga setelah beberapa menit berlalu. Ia menatap isi lemari pakaiannya dan mengambil sebuah baju santai dan jeans hitam panjang, baju kasual yang selalu ia pakai sehari-hari.

“Buat apa sih, berdandan untuk bertemu dengan batu?” gumam gadis itu cuek, lalu segera mengenakan pakaiannya. Ia tidak perduli apa komentar eommanya, yang pasti, ia tidak mau melakukan sesuatu yang sia-sia untuk benda mati.

Ya, makam itu hanya benda mati.

Karena ia yakin, Dae masih hidup, meskipun mustahil. Meskipun tidak ada siapapun yang percaya, bahkan appa dan eommanya sekalipun.

“Aku seperti ini karena kamu masih punya janji denganku, kakak jelek.” Ujarnya sembari menatap figura yang ia pajang di atas meja belajar. Fotonya saat masih berumur 9 tahun, dengan seorang pemuda yang memiliki mata yang sama dengannya terpajang rapi disana. Benda itu tidak pernah ia pindahkan, meski sudah bertahun-tahun lewat.

Ya, entah kau yang bodoh itu masih hidup atau bagaimana. Yang pasti, naluriku tidak mempercayai ketidakeksisan dirimu di dunia ini, Oppa.

******

“Ming, mau pergi bertemu Dae hyung?” Lee Seunghyun—atau Seungri, teman sekelas Minji, menghampiri gadis itu seraya tersenyum lebar, dan Minji membalasnya juga dengan sebuah senyuman, meski hampir tak terlihat.

“Ya.”

“Begitu? Bukankah kamu bilang itu hanya benda mati?” Seungri terkekeh geli, mengingat bahwa Minji terus menekankan padanya bahwa Oppanya sama sekali belum pergi ke ‘sana’.

Eomma yang menyuruhku, bukannya karena aku sudah merubah keyakinanku.” Jelas Minji dengan tampang bete. Padahal dulu, eommanya yang paling tidak percaya tentang berita itu. Tapi sekarang malah dia yang terus-terusan menarik Minji ke makam yang entah-makam-siapa itu.

“Yaah… Mungkin dia hanya mencoba menerima kenyataan?”

“Tapi kenyataannya bukan begitu!” sergah Minji. Ia menaikkan nada suaranya.

“Iyaaa, jangan marah padaku, dong! Apa mau kutemani? Jadi pulangnya kita bisa sekalian jalan-jalan kemana gitu, kebetulan aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Ujar Seungri, tapi Minji langsung menjawab ajakannya dengan gelengan cepat.

“Di hari yang katanya hari berkabung ini, eomma tidak akan mengizinkanku keluar, meski sudah kubilang berkali-kali padanya bahwa hari ini tidak ada satupun yang harus diperingati.” Minji mengangkat bahunya, tanda bahwa ia sudah malas berdebat dengan eommanya.

“Oh, benar juga.” Seungri mengangguk-angguk mengerti. Sejak kecil eomma Minji memang selalu begitu, sampai Seungri harus setengah mati kalau ingin mengajak Minji bermain. Sudah seperti diwawancara, ditanyakan kenapa kesana, ingin bertemu siapa, apa manfaat yang akan didapat, dan blablablabla.

“Ah, sudahlah. Aku bolos hari ini saja bagaimana?” Minji menjulurkan lidahnya, khas anak jahil. Dan Seungri hanya bisa tertawa melihat tingkah laku sahabatnya.

“Kau yakin? Jangan sampai aku yang disuruh tanggung jawab oleh eommamu!” canda Seungri, tapi Minji malah menatapnya dengan tatapan serius.

“Aku serius. Aku sudah bosan mengunjungi batu. Nanti bisa kukatakan bualanku pada eomma, dia pasti percaya.” Katanya tegas, membuat Seungri tak bisa merespon apapun kecuali dengan anggukan.

“Baiklah, tapi resikonya kau yang tanggung jawab sendiri, ya.”

“Oke, tenang saja.”

******

“Kenapa di sini?”

Minji melangkah keluar dari semak-semak, memandang pemandangan kota yang selama ini ia tinggali dari sudut atas. Dia tidak pernah tau kalau kotanya yang berpolusi itu bisa juga kelihatan indah.

“Ya, tentu saja di sini. Ingat?” Seungri mengeluarkan bunga yang ia sembunyikan dibalik punggungnya lalu memberikannya pada Minji. “Hadiah ini, seperti saat sepuluh tahun yang lalu aku memberikannya padamu juga. Bedanya sekarang badan kita sudah lebih tinggi dari pagar itu.” Katanya, kemudian menunjuk pagar yang membatasi daratan dan jurang yang agak terjal. Kota berada di bawah tebing ini.

“… Benar juga.” Minji mengangguk pelan, lalu menggenggam pagar pembatas yang terbuat dari kayu itu dengan kedua tangannya. Tetap kokoh, meski sepuluh tahun sudah berlalu.

“Selamat ulang tahun.” Ujar Seungri, sembari menunjukkan barisan gigi-giginya yang rapi, lalu menjulurkan tangannya yang menggenggam seikat bunga. “Sudah dua puluh tahun kita bersama, eo?”

“Dua puluh tahun?” Minji terkekeh kecil, lalu mengambil bunga itu dan mencium harumnya. Meski udara sedang dingin, masih ada saja bunga cantik yang tumbuh. “Umur universalku masih delapan belas tahun, loh?”

“Nah, berarti delapan belas tahun kita sudah bersama. Tapi akui saja, kau lahir di Korea jadi ikutilah hukum Korea.”

“Heheh, pemaksa.”

Hening. Keduanya sama-sama menikmati pemandangan yang ada, merasakan hembusan angin semilir menerpa dan memainkan rambut mereka. Sampai Minji menatap langit dengan tatapan sendu, lalu teringat sesuatu yang penting. Ya, selain ulang tahunnya, berita itu juga sampai ke telinganya sepuluh tahun lalu, tepat pada hari ini.

Daesung yang sedang sekolah di Eropa, katanya meninggal karena kecelakaan pesawat ketika ia ingin kembali ke Korea. Tidak ada yang tahu kabar dari penumpang pesawat itu, dan awalnya tidak ada yang percaya. Tapi setelah melakukan pengecekan, Daesung dipastikan memang salah satu dari penumpang pesawat yang jatuh.

“… Seandainya… Dia memang meninggal, bagaimana?” ujar Minji tiba-tiba. Ia menutup pipi merahnya yang kedinginan dengan telapak tangannya yang juga dingin. Tidak ada efeknya memang, tapi setidaknya hal itu bisa menahan air matanya.

“Tidak ada yang tahu.” Jawab Seungri, ia berdiri dari posisinya dan bergerak ke dekat Minji. “Meskipun itu terjadi, semuanya sudah berlalu.”

“Ya… Aku tahu. Jasadnya tidak ditemukan, dan untuk mengenangnya, eomma membuat makam untuknya. Aku membenci makam itu, benda itu seperti simbol yang menandakan bahwa eomma sudah menyerah untuk mencari Oppa.” Desah Minji. Air mata membasahi pipinya. Cara yang ia lakukan untuk menahan benda itu jatuh tidak berhasil.

“Kita pasti akan menemukannya.” Seungri menepuk punggung sahabatnya itu, lalu menatap mata Minji yang masih berurai air mata. “Kalau memang sudah dicari dan tidak bisa ditemukan, kamu harus belajar merelakannya. Setiap hari Minji selalu murung, meski sepuluh tahun telah berlalu. Dae hyung pasti akan sedih jika melihatmu begini. Jangan bilang begitu tentang eommamu, dia hanya berusaha menerima kenyataan dan menghibur dirinya sendiri, agar tidak kesepian.”

“… Ne… Aku mengerti.”

“Bagus. Sekarang, kau mau kutemani kemana?”

“… Kita ke makam orang itu. Maksudnya, benda pengenang orang itu, sampai aku tahu kenyataannya.”

“Baiklah, ayo!” Seungri menggenggam tangan Minji yang kedinginan lalu menariknya untuk keluar dari tempat tersembunyi itu. Mereka berdua berjalan ke halte bus dan menaiki bus pertama yang datang. Setelah naik, mereka mengambil bangku di barisan kedua dari belakang.

Bus berjalan perlahan meninggalkan halte yang sepi di belakangnya. Dalam diamnya, Minji terus mengingat kakaknya. Ya, janji kakaknya, yang ia katakan pada Minji lewat telepon.

Flashback

Yoboseo?” Minji yang saat itu berumur 10 tahun menjawab telepon pada malam itu, tanggal 17 Januari. Ia memasukkan tangannya yang kedinginan ke dalam kantung yang ada di jaket merah tebalnya.

“… Mingkki!” seru seseorang di seberang sana. Senyum lebar langsung merekah di wajah kecil Minji.

“Daesung oppa!” serunya dengan semangat. Sudah beberapa bulan ini ia belum bertemu langsung dengan oppa kesayangannya itu.

Eomma ada?”

Eomma sedang mandi. Apa Oppa nggak mau bicara denganku?” Minji hanya cemberut mendengar pertanyaan Oppanya. Padahal dia ingin sekali bicara, tapi kakaknya itu malah cuma mencari eomma.

“Kalau begitu kakak bicara dengan Mingkki saja, ya?”

“Ya!” seru Minji. Senyuman kembali muncul di wajahnya.

“Oh, Mingkki besok ulang tahun, kan? Oppa akan pulang loh, nanti kita rayakan bersama-sama, ya?”

Jinjjayo? Oppa benar-benar akan pulang??” Minji menganga tidak percaya. Perasaan senang langsung membuncah dalam dadanya.

Ne, special untuk ulang tahun adikku yang paling kusayangi. Tunggu Oppa, oke?” Suara Daesung terdengar manis bagi Minji, membuatnya mengangguk semangat walau Daesung tidak ada disana.

Oppa janji akan segera sampai besok?”

Ne, Oppa janji. Pokoknya tunggu Oppa, ya?”

“Oke, janji harus ditepati loh!”

“Hahahaha, oke! Mingkki juga harus berjanji akan menunggu Oppa, ya?”

“Ya! Pasti!”

Flashback End

Minji menatap warna putih salju yang bertengger di setiap pohon yang bus lewati. Laksana salju, orang itu juga dengan mudahnya datang, kemudian menghilang tanpa jejak seperti salju yang nantinya pasti akan mencair.

Oppa… Aku terus menunggumu, seperti janjiku…” rintihnya pelan. Sebulir kristal bening mengalir dari mata kecilnya. “… Mana janjimu? Kapan kamu pulang…?”

Seungri hanya diam mendengarkan gumaman Minji yang diselingi isak tangis. Tangannya bergerak menggenggam tangan Minji, menenangkan gadis itu dalam keheningan.

******

Minji dan Seungri sampai di wilayah makam. Meski jarang kesana, Minji sebenarnya sangat hapal jalan menuju makam itu. Makam itu berada di bawah pepohonan rimbun, yang daun-daun merah cantiknya biasa berjatuhan di atas makam jika musim gugur sudah datang.

Annyeong, Oppa babo.” Minji berjalan ke benda-yang-katanya makam Oppanya itu, lalu mengelus batu nisannya. Sebuah karangan bunga sudah diletakkan duluan daritadi, dan tertulis kalimat “Dari eomma dan Mingkki.” Di kertas kecil yang tersangkut. Huruf E-nya sudah agak luntur oleh air yang menetes. Sepertinya, itu bekas air mata Ibunya.

Minji menghela nafas panjang. Kerinduan pada oppanya mengalahkan segalanya, walaupun batu nisan itu selalu ia anggap hanya sebagai benda mati, tapi tetap saja. Ia ingin bercerita banyak, selama sepuluh tahun ini, ia ingin bicara. Mengobrol apapun, mulai dari yang terpenting sampai yang terkonyol, pada oppanya itu.

“Apa kabar? Aku baik-baik saja. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak hari itu, apa kamu ingat untuk menyampaikan selamat padaku? Aku sudah dua puluh tahun, Oppa. Sebentar lagi aku sudah benar-benar dewasa.” Ocehnya. Ia menatap lekat-lekat nisan batu yang masih kokoh itu, dengan ukiran nama ‘Gong Daesung’ di atasnya. Air matanya kembali jatuh, disusul dengan desahan nafasnya yang berat.

“… Aku merindukanmu…” isaknya. Ia menyeka air matanya, walaupun tidak menghasilkan apapun. Air matanya tetap tumpah, mengalir di telapak tangannya yang sekarang basah. “… Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu pergi saat aku sudah sangat bahagia mendengar kamu akan datang…?”

Seungri hanya tetap berdiri, menatap sahabatnya yang masih sibuk menyeka air matanya. Ia ingin merangkul gadis itu dan menenangkannya, tapi untuk saat ini, ia membiarkan Minji dan kakaknya berbicara berduaan, meski kakaknya takkan menjawabnya.

Oppa, aku terus menunggumu seperti janjiku padamu dulu. Kenapa janjimu tidak bisa ditepati? Kenapa…?”

Minji terus menunduk di depan makam kakaknya. Ia biarkan air matanya mewakili semua perkataannya hari itu, membiarkan kesedihannya tumpah dan kerinduannya terobati pada saat itu juga. Ia sudah tidak mau menangis, ia sudah tidak mau mengingat masa lalu.

Seungri tidak tahan melihatnya. Dengan segera, ia berlari ke arah Minji dan membantu gadis itu untuk berdiri. Baru saja Minji ingin berdiri, matanya menangkap sebuah benda yang seperti kotak hadiah. Kotak itu berwarna merah, dengan pita putih di atasnya. Apa mungkin eomma juga sekalian memberikan hadiah ulang tahun untuk ulang tahun Daesung tahun ini?

Ia mengambil kotak itu lalu melihat pesan di atasnya. “Selamat ulang tahun ke 20, Adikku tersayang!”

…? Ulang tahun ke 20? Adik tersayang…?

Air mata Minji kembali turun. Tapi kali ini, air mata bahagia. Ia tidak menyangka prasangkanya selama ini benar. Tidak mungkin eomma yang memberikannya, karena Minji ingat sekali gaya tulisan itu. Gaya tulisan kakaknya, Daesung.

“Minji, apa itu…”

“Ya, ini hadiah dari Oppa.” Senyum merekah di wajah manis gadis itu. Ia menatap ke belakang, dan dia benar-benar terkejut ketika melihat sosok yang dirindukannya, sedang melebarkan tangan, menunggu Minji datang ke pelukannya.

Tanpa ba bi bu, Minji langsung berlari dan memeluk Oppanya. Ia rindu kehangatan itu. Ia rindu belaian Oppanya yang selalu menenangkannya. Ia rindu orang itu.

“Sudah, jangan menangis. Selamat ulang tahun, ya?” Daesung menyeka air mata adiknya dan tersenyum padanya. “Aku terlambat naik pesawat, saking senangnya bisa pulang aku tidur dan bangun telat. Otomatis uang hangus dan aku tidak punya uang lagi. Tagihan telepon juga hampir meledak. Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja dan menabung uangnya sampai aku bisa membeli tiket. Tapi kamu tahu sendiri, bekerja dan sekolah sebagai anak SMU disana itu sulit sekali, apalagi aku hampir tidak pernah punya uang. Makanya aku jarang menggunakan telepon, tidak bisa menghubungi kalian. Handphoneku juga kugadaikan. Mianhae…”

“Dasar bego! Bego!” bentak Minji. “Aku tahu kerja disana dengan status begitu susah, tapi itu alasan terkonyol kenapa sampai tidak menghubungi selama sepuluh tahun!!”

“Maaf…”

“Yasudahlah! Berhubung aku sudah lama kangen padamu. Untung saja kamu bangun telat saat itu, kalau tidak mungkin tubuhmu sudah hilang di samudera pasifik!” amuknya.

“Yah, apa boleh buat…”

“Ish, ngelawan lagi! Seungri, ayo pulang! Meladeni orang seperti ini betul-betul mengesalkan!” Minji menarik tangan Seungri dengan kesal, lalu berjalan meninggalkan Daesung yang masih melongo ke makam yang tertulis ‘Gong Daesung’ di nisannya. Ia tahu tempat ini karena tetangganya memberitahunya bahwa eomma dan Minji pergi ke makam. Tadi sih dia sudah lihat, tapi tidak begitu memperhatikan nama yang tertulis di makam itu karena yang ia perhatikan hanya eommanya yang sedang meletakkan buket bunga. Ia kira itu makam saudara atau siapa. Karena berpikir bahwa Minji akan menyusul, ia menaruh hadiahnya di depan makam itu sebagai kejutan. Tapi… Apa-apaan ini? Dia dikira sudah mati?

“Eh, tunggu!” Daesung berlari mengejar Minji dan Seungri yang sudah berjarak beberapa meter darinya.

“Menyebalkan.” Gerutu Minji, seraya melirik ke arah belakang. Seungri menatap wajah Minji dengan tatapan jahilnya dan menyenggol lengan gadis itu.

“Menyebalkan tapi senang, tuh~”

Yaa! Jangan bicara yang nggak-nggak!”

“Ah, itu kan kenyataannya. Oh iya, Daesung hyung sudah pulang, jadi tinggal satu hal lagi yang kamu cemaskan.”

“Apa?”

Seungri hanya senyam-senyum melihat tatapan bingung Minji. Dengan cepat, ia bergerak dan mengecup pipi Minji. “Aku!” serunya dengan diselingi tawanya yang jahil. Wajah Minji langsung sepenuhnya merah, tapi gadis itu tersenyum senang.

Yaa! Lee Seunghyun, jangan sentuh adikku!!!”

fin.

******

Makasih udah mau baca^^ give me some comment, please?

11 responses to “[Gong Minzy Birthday Fic] Where Are You, Oppa?

  1. Ya ampuuuuuuuuuuuuuuuuuun -_____________-
    Ini sumpah. Semacam jebakan batman, atau robin, yah apapun itu deh.
    Awalnya aku udah mendayu-dayu bacanya, ngira bakalan angst, sad, blah blah blah.
    Eh akhirnya happy end😄
    Serius. Kalo aku jadi minji, bakal aku jitak si Daedae 1000 kali! Gak kira-kira amat ngilangnya ampe 10 tahun. Dae, kamu gak gila, kan? ==’
    Dan aku bisa bayangin gimana wa-ta-dos-nya si Dae nyeritain kenapa dia gak pulang selama se dasawarsa =))
    Dan pas bagian si Dae liat batu nisa, sumpah aku ngakak dong –”
    Greatttaaaaaaaaaaa ^_^b

    • Awalnya aku juga gada rencana bikin happy ending.. Tapi temenku gasuka sad ending, jadi kubuat begini deh u,u mungkin yang jago ngeles bukan daenya tapi aku kaliya..
      Dan ini salah satu cerita paling nyebelin yang pernah kubuat mwahaha-__- daenya minta ditabok Щ(ºДºщ) ngumpulin duit aja 10 taon¬_¬
      Hahahahh dari angst ke comedy yaa xD
      Gomawo readmennya eonnn{}

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s