Lovely Neighbor (1/2)

lovelyneighbor

Bel pulang telah berbunyi. Semua murid berteriak senang dan pulang dengan senyum lebar, meski ada juga yang merengut karena pr liburan musim panas. Ya, mulai besok liburan musim panas akan dimulai! 

“Liburan musim panas ini kalian mau kemana?” tanya Suzy pada teman-temannya yang sedang sibuk mengemut es krim.

“Aku akan ke rumah nenek pada pertengahan bulan,” jawab Hyorin seraya menggigit esnya.

“Kami semua nganggur kok, kecuali Hyorin yang akan pergi ke rumah neneknya. Yaa setidaknya kita bisa mengisi liburan ini dengan menghabiskan waktu bersama, ya kan?” ucap Mir, memberi usul dan disambut anggukan semuanya kecuali Junho.

“Kau kenapa, Junho? Sakit?” tanya Wooyoung, mengecek suhu tubuh Junho dan menaruh tangannya di dahi Junho.

“Argh, tak apa-apa. Selama liburan ini aku harus membantu toko sushi paman tetangga, jadi nggak bisa sering ikut ngumpul.” Jelas Junho. Semuanya nampak kecewa dan memukul ringan punggung Junho.

“Gimana kalau kita ikut membantu?” usul IU, Junho langsung menggeleng cepat.

“Jangan! Tokonya kecil, kalau ada kita malah jadi berisik. Sudahlah, nanti kalau aku senggang pasti aku datang.” Kata Junho, semuanya mengangguk mengerti dengan perasaan sedikit kecewa, lalu mereka pulang bersama-sama.

******

Eomma, aku pulang…” seru Junho, dia segera ke lantai atas, masuk ke kamarnya dan menaruh tasnya. Eommanya berteriak dari bawah menyuruh Junho segera turun ke bawah, Junho melengos dan turun ke lantai bawah dengan malas-malasan.

“Di rumah sebelah ada tetangga baru, sebaiknya kau kesana dan membantu mereka pindah. Waktu kecil kau suka main kesitu sebelum tetangga sebelumnya pindah, kan? Cepat sana!” perintah eommanya. Dengan malas, Junho segera memakai sepatunya dan menuju rumah di sebelah rumahnya.

Annyeong, Lee Junho imnida. Apa anda perlu bantuan?” sapa Junho pada seorang lelaki paruh baya yang tengah mengangkat sebuah kardus.

“Annyeong haseyo. Tak apa, tak usah repot-repot. Oh kalau kau mau bisa bantu Min di dalam?” ujar ahjussi itu. Junho mengangguk dan segera beranjak masuk ke dalam.

Di dalam, dia bertemu seorang wanita paruh baya yang sepertinya istri lelaki tadi. Junho mengenalkan siapa dirinya dan meminta izin untuk membantu Min––siapapun itu, di dalam. Wanita itu tersenyum ramah dan menunjuk sebuah ruangan yang sepertinya kamar Min.

Junho mengetuk pintu kamar itu dan seorang gadis berambut pendek, memakai kaos berwarna putih polos dan jeans pendek, membuka pintu kamar. Sepertinya gadis ini seumuran dengan Junho.

“Siapa, ya?” tanya gadis itu dengan wajah bingung.

“Ah, aku tetanggamu, Lee Junho. Senang berkenalan denganmu.” kata Junho seraya menunduk.

Annyeong, Lee Minyoung imnida, panggil saja Min. Senang berkenalan denganmu juga.” ujar Min seraya tersenyum manis pada Junho. “Lalu, kau mau apa disini, Junho-ssi?”

Eommaku menyuruhku kesini untuk membantu.” Jelas Junho, Min langsung terkekeh geli dan kembali tersenyum.

“Kalau kau mau main dengan teman-temanmu pergi saja, aku tak apa-apa kok. Begini saja sih tidak masalah.” Kata Min, sambil menunjuk barang-barangnya.

“Nggak, nggak. Ada barang yang berat kan? Memangnya kasur itu kau bisa memindahkannya sendiri? Lagipula ini sedang liburan, jadi aku ingin meluangkan waktu di rumah.” Jelas Junho. Min memiringkan kepalanya dan menatap Junho lurus. “A—apa?”

“Kamu bohong,” ujar Min. ” Apa diantara temanmu itu ada seseorang yang ingin sekali kau lihat tetapi tak ingin kau lihat?”

“Eh? Apa maksudmu? Jangan ngomong yang nggak kumengerti!” kata Junho dengan wajah bingung. Min tersenyum ramah dan menunjuk mata Junho.

“Mata tidak bisa berbohong loh, Junho-ssi. Maksudku apa diantara temanmu ada orang yang kau sukai tapi orang itu tak bisa jadi pacarmu? Wajahmu nampak lesu dan gelisah.” Jelas Min. Junho bengong dan berpikir, kenapa gadis yang baru saja bertemu dengannya ini bisa tahu? Min yang melihatnya langsung tertawa kecil dan menepuk pundak Junho. “Sepertinya selama liburan ini aku bisa menemanimu, Junho-ssi. Cerita apa saja boleh, kok!”

Junho merasa terharu, sepertinya liburan ini dia mendapat teman bicara yang menyenangkan.

“Junho-ssi, paman di sebelah ada yang punya toko sushi? Paman Kagami?” tanya Min, Junho mengangguk.

“Yaa, katanya sih dia ingin orang-orang di daerah ini lebih mengenal sushi dari negaranya, jadi dia membuka toko sendiri disini. Meski kecil tapi selalu ramai, liburan kali ini aku akan membantunya, supaya dapat gaji. Lumayan untuk jajan.” Jelas Junho, Min nampak sangat tertarik.

“Apa paman masih mencari karyawan lagi? Apa aku boleh ikutan?” tanya Min dengan mata berbinar.

“Yah… kurasa kalau hanya seorang, paman takkan mempermasalahkannya. Mulai besok kita akan bekerja.” Kata Junho, Min pun mengangguk senang.

******

11.43PM..

Yaa! Junho! Kenapa kau menelepon malam sekali, sih?” protes Wooyoung di seberang telepon.

“Maaf, maaf. Omong-omong ada tetangga baru yang pindah di sebelah rumah, namanya Min.” Jelas Junho seraya tersenyum lebar.

“Iya? Yeoja? Manis nggak?” tanya Wooyoung, nada suaranya ditinggikan.

“Manis banget. Hei, kau ini jangan menaikkan nada bicaramu seperti itu, kesannya seperti kau tertarik pada Min. Kau sudah punya gadis manis seperti IU juga!” seru Junho dengan nada yang agak kesal.

“Hahaha tenang saja, yang kusayangi hanya Lee Jieun seorang. Kenapa? Kau cemburu kalau aku tertarik dengan gadis itu?” goda Wooyoung seraya terkekeh geli.

“A—apa?! Jangan sembarangan!” Junho nampak agak panik.

“Bagaimana dengan Hyorin?” tanya Wooyoung. Hening sejenak, lalu Wooyoung melanjutkan, “liburan ini kau tak ingin bertemu dia, kan?”

“… Ya, begitu deh. Sebenarnya saat dia menangis gara-gara Jaebeom hyung aku ingin mendatangi hyung dan membentaknya kenapa dia membuat Hyorin menangis, tapi aku tidak bisa.” Jelas Junho, nada suaranya menurun, tanda bahwa dia sedih.

“Junho… Sepertinya kau tidak boleh ikut kumpul kita dulu, deh. Nanti akan kubuat alasan agar nona-nona itu tidak bawel mencarimu, oke? Merenung saja sejenak. Ah sekedar memberitahu saja, hari ini Mireu menginap di rumahku.” Kata Wooyoung seraya tertawa kecil.

“Apa–? Kenapa kau tidak memberitahu aku!? Mana Mireu?” paksa Junho, terdengar dari seberang sana seseorang mengambil telepon dari Wooyoung.

“Annyeong Junho! Daritadi teleponnya di loud speaker loh~ hahaha. Saranku sih, kau lebih baik meluangkan waktumu di rumah. Jangan khawatir pada kami! Nanti kita main ya, bertiga saja juga tak apa kok.” Kata Mireu dengan nada ceria khasnya. Junho tersenyum puas.

“Ya, terima kasih ya! Untung ada kalian. Met malam,” Junho menutup teleponnya dan tersenyum. Apapun yang terjadi, pada liburan ini dia harus meluangkan waktunya di rumah dan berhenti memikirkan Hyorin sejenak, memfokuskan pikirannya pada pekerjaan, pr, dan mungkin… Pada Min.

******

“Annyeong, Junho-ssi.” Sapa Min yang tengah menyapu lantai toko sushi Paman Kagami. Junho heran melihat gadis ini sudah bangun sepagi ini dan membersihkan lantai.

“Kau merekrut orang bagus, Junho-ssi!” kata Paman Kagami seraya tersenyum puas. “Gadis ini rajin dan bersemangat, aku suka! Kau mendapat gadis yang menyenangkan!”

“Gadis? Hei Paman, dia bukan pacarku. Dia kan tetangga baru kita.” Protes Junho, Min hanya terkekeh geli.

“Oh ya? Kupikir dia pacarmu, tadi pagi dia datang dengan wajah bersemangat dan bilang bahwa dia kesini untuk membantuku, tapi nampaknya dia lebih tertarik membantumu.” Kata Paman Kagami, Junho hanya merengut. “Sudahlah! Aku ingin kau membantuku membuat sushi, masuklah ke dapur, Junho-ssi!” perintahnya. Junho segera berjalan lemas ke dapur, sementara Min masih tertawa kecil sambil menyapu lantai.

“Kau suka gadis itu, Junho-ssi?” tebak Paman Kagami. Junho yang sedang memotong ikan langsung shyok dan hampir saja dia tidak fokus dan menerbangkan pisaunya.

“Paman! Jangan bicara begitu sementara ada benda tajam di tanganku!” protes Junho dengan nada kesal, Paman Kagami hanya tertawa dan mengacak-acak rambutnya.

“Wajar kalau kau menyukai gadis itu Junho-ssi, dia nampak spesial.” Ujar Paman Kagami dengan nada sok tahu. “Sosok gadis rajin, manis, ramah, dan semangatnya berapi-api itu jarang adanya. Sosok yang bagus untuk dijadikan istri, jangan disiakan.”

“Siapa juga yang mau menjadikannya istri? Aku baru kenalan dengannya kemarin!” ucap Junho, Paman Kagami nampak agak kaget.

“Kemarin? Tapi kenapa kalian terlihat begitu dekat?” tanyanya.

“Sudahlah Paman, itu tidak penting… Yang penting adalah, Paman harus memasak nasi sekarang.” saran Junho sambil mendorong Pamannya untuk mencuci beras.

“Hahaha baik, baik. Kau pemuda yang keras dan jujur, Junho-ssi. Begini begini, aku hapal tentang masalah cinta. Kau boleh tanya apa saja dan curhat padaku!” ujar Paman Kagami sambil tertawa keras. Junho hanya tersenyum miris dan menyuruh Pamannya untuk segera memasak nasi.

“Ah, lantainya sudah kupel, Paman. Aigoo, kenapa kau tidak pakai celemek, Junho-ssi? Nanti bajumu kotor. Nih, pakai dulu punyaku.” Min segera melepas celemeknya dan memakaikannya pada Junho, Junho hanya diam dan memperhatikan Min yang memakaikannya celemek dengan wajah memerah. Dia jadi teringat pada kejadian setahun lalu, saat pelajaran PKK.

Flashback

Saat itu, praktek membuat cokelat. Semua gadis dengan semangat membuatnya, sedangkan yang cowok, yang sedang tidak ada kerjaan, membantu mereka. Hyorin, Junho, Wooyoung, IU, Mir, dan Suzy seperti biasa, satu kelompok.

“Oi Junho, aduk ini dong! Susah nih!” perintah Mir.

“Dasar, begini saja minta tolong, dasar payah.” Gerutu Junho, lalu bersiap mengaduk adonannya. Tiba-tiba Hyorin menarik tangan Junho dan melepas celemeknya.

“Dasar, mengaduk adonan cokelat begitu kenapa nggak pakai celemek? Seragammu kan putih, pakai ini!” seru Hyorin seraya memakaikan celemeknya pada Junho, lalu membantu IU memotong cokelat lagi. Junho menatapnya dengan wajah memerah.

Flashback end

“Junho-ssi?” seru Min, membuat Junho tersadar dari lamunannya. “Ada apa?”

“Ah, tidak. Ayo kerja lagi,” kata Junho seraya mengambil pisaunya dan kembali memotong ikan. Min memperhatikannya sambil menghela nafas, lalu kembali bekerja lagi.

Waktu berlalu, dan tanpa disadari toko sudah mau tutup. Paman Kagami tertawa puas dan memberikan sebuah semangka kepada mereka sebagai tanda terima kasih.

“Hanya sebuah? Kami kan tidak serumah!” protes Junho dengan memasang wajah agak kesal.

“Terima kasih Paman.” Ucap Min dengan tulus seraya tersenyum manis.

“Aigoo, kau harus contoh gadis ini, Junho-ssi! Kau selalu saja mengeluh jika kuberikan sesuatu!” canda Paman Kagami, Junho mengangguk dengan malas.

******

Junho membawa plastik berisi semangka itu, sementara Min menemaninya. Lalu menaruhnya di depan pintu rumahnya.

“Aish berat juga. Paman itu memang suka memberi sesuatu secara tiba-tiba!” ujar Junho seraya mengelap keringatnya, Min tersenyum dan mengelap keringat Junho dengan sapu tangannya. Junho hanya menatap Min dengan heran sambil malu-malu. Dia teringat dengan Hyorin yang menawarinya sapu tangan saat di hari hujan, untuk mengelap wajahnya yang basah, tapi dia segera menyingkirkan khayalannya itu.

“Mengelap keringat seperti itu tidak efektif, aku juga tidak berkeringat, kok. Tadi kan Junho-ssi yang membawanya sendirian.” Kata Min ramah. Junho hanya menggangguk sambil malu-malu.

“Kalau begitu, semangka ini untukmu saja, akan kubawakan ke rumahmu.” Ujar Junho seraya tersenyum manis. Min hanya menggeleng cepat dan tersenyum, lalu berjalan pulang. Junho hanya bisa memandangnya dan membawa semangkanya masuk.

******

Esoknya…

“Junho!” teriak Suzy di depan rumah Junho. Dengan malas-malasan Junho membuka pintu dan menemukan Wooyoung, Mir, Suzy, dan IU berdiri manis di depan rumahnya. Junho mau menutup pintu tapi Mir menahannya dengan kakinya.

Mian… Suzy memukuli kami dan menyuruh kami untuk mengantarkan dia ke rumahmu, IU juga ikut.” Jelas Mir dengan mata berkaca-kaca.

“Tenang saja, Hyorin nggak ikut kok.” Ucap IU seraya tersenyum manis. Junho nampak kaget kenapa IU bisa tau, tapi IU menaruh jari telunjuk di bibirnya. “Sudah bertahun-tahun kita bersama, wajar kan? Kami tahu, tapi Hyorin tidak. Nah, boleh kami masuk?”

Junho mengangguk pelan dan dalam sekejap mereka kumpul di ruang tengah.

“Yang jelas, kau ingin mengungkapkan perasaanmu atau nggak?” tanya Wooyoung, to the point.

“Jangan sampai Hyorin tahu!” seru Junho panik. “Kalau kulakukan, persahabatan kita bisa rusak.”

“Lalu? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Mireu sambil meminum jus yang ia bawa.

“Aku akan berusaha menemukan cinta yang baru,” jawab Junho seraya menghela nafas. “Aku bahkan belum mengucapkan selamat padanya. Teman macam apa aku…” ucapnya lesu. Semuanya hanya diam memandang Junho.

GREK! Pintu ruang tamu dibuka. Terlihat Min yang sedang membawa 2 buah semangka. Wajahnya nampak bingung karena melihat banyak orang disini.

“Ah, apa aku mengganggu?” tanya Min dengan ragu.

Omo, Min-ah? Ayo disini saja, kumpul bersama kami!” seru Suzy seraya menarik tangan Min untuk duduk. Junho bingung dan menyenggol lengan Wooyoung, kenapa Suzy tahu nama tetangga barunya?

“Kami memberitahu mereka.” Jelas Wooyoung singkat, sambil menunjukkan 2 jari peace. Junho hanya bisa menghela nafas. Suzy, Wooyoung, Mir, dan IU mengajak Min ngobrol dan menanyai banyak hal.

“Aku akan masuk sekolah kalian,” jelas Min. “Lalu, aku juga akan masuk klub dance. Sepertinya menarik.”

“Benarkah? Hebat!” puji Mir dengan wajah sumringah. “Berarti aku, Wooyoung, Junho, dan kau akan satu klub!”

“Benarkah? Mohon bantuannya!” kata Min seraya tertawa senang.

Waktu berlalu dan sudah siang, maka Wooyoung, Mir, Suzy, dan IU harus pulang sedangkan Junho dan Min harus membantu Paman Kagami lagi. Sebelum pulang, Wooyoung menarik lengan Junho.

“Kita bicarakan tentang Hyorin lain kali, luangkan waktumu sebisa mungkin.” Kata Wooyoung sambil menepuk punggung Junho. “Omong-omong, dia gadis yang ceria ya, seperti Hyorin. Tapi mirip seperti apapun, mereka beda. Tentu kau tahu, kan?”

“… Aku tahu.” Jawab Junho sambil menatap Min yang sedang bercanda ria dengan Mir, Suzy, dan IU. “Ah, Wooyoung!” serunya.

“Hmm?” Wooyoung membalikkan badannya.

Junho mengambil nafas sebentar dan menatap Wooyoung. “Nanti malam, jangan tidur cepat ya.” Pintanya.

Wooyoung tersenyum dan menunjuk Mireu, Junho pun mengangguk. “Oke, nanti malam ya.” Ucap Wooyoung, lalu dia, Mir, Suzy, dan IU pun pulang. Junho melambaikan tangannya pada mereka.

“Junho-ssi,” panggil Min, Junho menoleh padanya. “Ayo kerja. Nanti kau harus cerita padaku saat sudah selesai.”

“Eh? Cerita apa?” tanya Junho bingung. Min hanya tersenyum dan berlari meninggalkannya, Junho yang masih berwajah bingung, mengejarnya masuk ke toko.

Continue to part.2…

******

Aneh? Ya, memang… *nyilet tangan* please comment! Cerita ini satu-satunya yang spontan dan nggak direncanakan alurnya, jadi mian kalau ada yang nggak jelas hehe^^

3 responses to “Lovely Neighbor (1/2)

  1. Junho! Ada fanfic Junho! (ιº o º)!

    Astaga. Posternya keren. My husband guanteng euy =] #hah?

    Two shots yah? Hm… lanjutin deh. Mumpung saya lagi suka-sukanya sama Junho-Min :3

  2. Pingback: Lovely Neighbor (2/2) | Cappuchino In Your Life·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s