Lovely Neighbor (2/2)

lovelyneighbor

PART.1 | PART.2

Shift kerja sudah selesai. Junho dan Min diberikan sebotol air mineral sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu. 

“Kenapa Paman tak pernah sekali saja memberikan bonus gaji?” protes Junho seraya meminum air mineralnya.

“Kalau tidak suka ya jangan diminum! Enak saja, gajimu sudah cukup untuk membiayai kehidupan remajamu itu!” ucap Paman Kagami galak. Min nampak agak sedikit takut.

“Tak apa, dia memang suka galak kalau sudah menyinggung soal uang.” Ucap Junho pada Min, Min pun mengangguk.

“Baiklah, kerja bagus! Besok tolong ya, nah kalian berdua boleh pulang!” ucap Paman Kagami. Junho dan Min pun berjalan ke rumah Min dan duduk berdua di ruang tengah. Min segera menyuguhkan teh untuk mereka berdua.

Ne, Junho-ssi…” ujar Min seraya menoleh ke arah Junho. “Ceritakan tentang gadis itu.” Katanya.

“Gadis yang mana?” tanya Junho, pura-pura bodoh. Ia deg-degan. Min menghela nafas sambil tersenyum.

“Gadis yang kamu suka, Junho-ssi.” Jelas Min. Junho tambah deg-degan dan mengambil nafas dalam-dalam, bersiap untuk bercerita.

“… Ah, namanya Hyorin. Kami berdua, Wooyoung, Mireu, Suzy, dan IU sudah bersahabat sejak kelas 1SMP. Suzy sudah sering bergonta-ganti pacar, Mireu yang selalu happy-go-lucky tetap single sampai nanti bertemu gadis yang disukainya, Wooyoung dan IU jadian dari kelas 2SMP sampai sekarang, Hyorin yang memang sejak dulu disukai banyak cowok tapi tak pernah sadar, dan aku, salah satu orang yang menyukainya itu.” Cerita Junho panjang lebar. “Tapi sekarang, Hyorin benar-benar jatuh cinta pada pacarnya, Jaebeom hyung, yang juga ketua klub dance. Jaebeom hyung juga orangnya cuek tapi mencintai Hyorin dengan sepenuh hati, pasangan yang cocok.”

“Apa kamu tidak apa-apa dengan mereka?”

“Tak apa, karena itu dapat dijadikan alasanku untuk mundur.” Jawab Junho seraya menelan ludah. Min mengambil segelas teh dan memberikannya ke Junho.

“Ini, perasaanmu akan lebih tenang.” Katanya sambil tersenyum.

“Bagaimana kalau malah tidak tenang?” kata Junho khawatir.

“Percayalah padaku, Junho-ssi. Inilah kenapa aku membuatkan teh super enak ini untukmu. Silahkan!” katanya, lalu dengan ragu Junho meminumnya. Perasaannya agak sedikit lega.

Gomawo, Min-ah.” kata Junho sambil mengangguk. Min hanya tertawa kecil. “Kenapa?”

“Baru sekali ini kamu memanggilku begitu. Biasanya langsung Min, apa hanya terjadi jika kau curhat saja?” canda Min, Junho nampak malu-malu. “Lanjutkan, Junho-ssi.”

“Ne. Aku bingung aku harus berbuat apa. Masalahnya aku menyayangi Hyorin tapi juga menghormati Jaebeom-hyung. Aigoo aku harus bagaimana…” Junho mengacak-acak rambutnya frustasi. Min memandang Junho dengan tatapan khawatir. Tiba-tiba, pintu depan diketuk dan terdengar suara seorang pemuda. Junho nampak familiar dengan suara orang ini.

Annyeong~ Ahjussi, aku datang berkunjung~!” sahut pemuda itu dari teras depan. Min segera berjalan ke pintu depan dan membuka pintu. Ternyata… Itu Jo Kwon!

“Kwonnie? Aigoo, ada apa malam-malam begini?” tanya Min.

“Aku datang mengunjungimu, jadi jangan begitu~ aku hanya bisa berkunjung jam segini, kalau siang aku masih ada kegiatan. Oh, ada Junho juga? Annyeong!” sapa Jo Kwon dengan wajah ceria.

Junho memandang Min dengan tatapan heran. Min tersenyum kecil dan bilang, “Kwonnie ini sepupuku.” Katanya. Spontan Junho langsung kaget.

“Benar Junho! Lagian kau sedang apa malam-malam disini? Pacaran? Kau kenal dia dari mana, Minyoung?” tanya Jo Kwon.

“Dia tetanggaku, istirahat sebentar disini sehabis bekerja di rumah paman sushi di seberang itu. Kwonnie, siapa tahu kamu bisa membantu Junho-ssi.” Ujar Min. Kwon mengangkat bahunya dan mengangguk tanda bersedia.

Mereka bertiga masuk ke ruang tengah dan dengan malu-malu Junho menjelaskan semuanya lagi. Jo Kwon mengangguk-angguk mengerti dan dengan gaya seorang hyung, dia memasang tampang serius dan menaruh tangannya di dagu.

“Jadi, begitu?” kata Jo Kwon dengan nada serius yang dibuat-buat, lalu tersenyum. “Kamu sudah tahu jawabannya kalau melihat keadaan sekarang, Junho!” ucapnya. Junho memasang tampang bingung. “Aku takkan bilang siapa-siapa, apalagi pada Jay. Janji deh! Besok aku temui kalian lagi ya~” dan Jo Kwon pun pulang.

Min dan Junho hanya saling memandang, lalu akhirnya Junho pamit pulang dengan perasaan bingung. Min menatap sosok Junho yang berjalan pulang, lalu menatap layar ponselnya, menghela nafas, dan menutup pintu.

******

“… Jadi, gitu ceritanya.” Jelas Junho, sehabis menjelaskan semua yang dia alami hari itu pada Wooyoung, Mir, dan IU di conference call.

“Kwon-hyung? Sepupu Min-ah!? AHAHAHAHAHAHAHAHA!!” Mir terbahak-bahak di telepon. “Mirip tapi beda, ya! Kwon-hyung orangnya ceria-ceria ngeri gitu, sih!”

“Sama kayak kau, sih.” Komentar Wooyoung. IU hanya tersenyum geli.

“Tapi sepertinya aku mengerti maksud Jo Kwon Oppa.” Kata IU. “Maksudnya, kalau keadaan kamu terus begini, terus bersama Min-ah, mungkin saja hatimu bisa berpindah pada Min-ah.”

“Mungkin, ya…” gumam Junho. Yang lain hanya diam.

“Ah, apa kalian tahu iklan baru makanan instant itu? Kalau melihat iklan itu aku jadi teringat Kang Ho Dong.” Sahut Mir tiba-tiba.

“Apa nyambungnya, bodoh? Ah Jieun, besok kita mau kemana, ya?” timpal Wooyoung.

“Kemana saja boleh, kok. Junho, kamu harus terus semangat ya!” balas IU. Telinga Junho jadi penging saking banyaknya suara-suara.

“Hei, aku belum selesai! Maksudku, kenapa Kang Ho Dong bisa membuatku mengingat dia, ya? Padahal iklan itu tak ada hubungannya dengan dia!”

“Mungkin kau rindu padanya.”

Pembicaraan malam itu dilewati dengan Wooyoung dan Mir yang melawak, nasihat-nasihat IU, dan diselingi dengan percakapan pacaran antara Wooyoung dan IU, serta keluhan-keluhan nggak penting dari Mir. Tapi hati Junho masih belum mengerti dengan keadaan sekarang ini. Telepon pun ditutup.

******

04.35AM

Junho masih belum bisa tidur. Matanya capek tetapi kepalanya masih penuh dengan pikiran-pikiran yang mengganggu. Dia membuka jendela dan menatap jendela kamar Min yang berada tepat di seberang kamarnya. Awalnya sunyi senyap, tetapi tiba-tiba lampu kamar Min hidup dan terdengar suara tangisan. Junho langsung cemas dan berteriak memanggil Min. Tak lama kemudian, jendela kamar Min dibuka.

“… Junho-ssi? Belum tidur?” kata Min seraya mengucek matanya.

“Ah, Mianhae, aku membangunkanmu?” tanya Junho. Min menggeleng pelan.

“Udaranya panas, aku susah tidur. Kamu tidak apa kalau belum tidur jam segini?” tanya Min.

“Tadi… aku mendengar suara tangisan dari kamarmu, makanya aku panik dan segera memanggilmu.” Jelas Junho. Min yang mendengarnya hanya tersenyum kecil.

“Aku tak apa, hanya menguap saja. Tidurlah Junho-ssi, sampai nanti.” Kata Min, lalu menutup jendela kamarnya pelan. Junho mengangguk dan menutup pintu kamarnya juga, berusaha tidur. Sekarang perasaannya agak sedikit tenang, walau masih dipenuhi rasa khawatir pada Min.

******

Toko sushi paman Kagami, 08.40AM

Min menyapu lantai dengan wajah mengantuk. Junho memperhatikannya dengan wajah khawatir.

“Kamu tak apa? Istirahat saja.” Kata Junho. Min menggeleng seraya tersenyum pelan lalu mulai menyapu lagi.

“Aku nggak apa-ap––” sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Min jatuh tersungkur ke lantai. Junho kaget dan langsung minta izin pada Paman Kagami untuk merawat Min, setelah diperbolehkan, Junho menggendong Min ke rumahnya dan menidurkannya di kasur, lalu mengompresnya. Tak lama kemudian, Jo Kwon yang datang sambil membawa buah dengan panik ikut merawat Min juga.

Selagi Junho mengganti kompres, Jo Kwon melihat-lihat ponsel Min dan menemukan sesuatu, lalu menghela nafas panjang. “Dia lagi? Aigoo.”

“Siapa?” tanya Junho penasaran, sambil mendekatkan wajahnya ke layar ponsel.

“Ada, cowok di sekolah Min yang dulu. Sudah berkali-kali ditolak tapi masih aja mengejar. Min mau pindah saja dia terus-terusan tanya alamat, cari nomor telepon, bilang mau ketemu seminggu sekali, tiap malam nelepon. Min sudah berkali-kali ganti alamat email ponselnya tapi tetap saja dia tau entah dari siapa. Bikin stress saja.” Ucap Jo Kwon dengan nada kesal. “Min nggak pernah mau cerita siapa orangnya. Dia selalu tersenyum dan bilang ini bukan masalah berat, tapi tetap saja aku-sebagai sepupu satu-satunya dan lebih tua darinya, tetap harus menjaganya.”

Junho tak menyangka Min punya masalah yang cukup berat. Dia memandang wajah Min yang pucat dengan ekspresi cemas.

******

Hari sudah menjelang siang, panas tubuh Min sudah mulai turun. Junho dan Jo Kwon nampak puas dengan kerja mereka, dan sekarang tinggal menunggu Min bangun dari tidurnya.

“Aku lelah.” Ujar Jo Kwon seraya mengucek matanya. “Dasar, padahal aku kemari ingin bermain dengan kalian. Tahu-tahu pas datang, aku diberitahu Ahjumma kalau Min demam. Tadi, saat melihat sepatumu di teras rumah, kupikir kalian sedang bermesraan di kamar.”

“Singkirkan pikiran anehmu itu, hyung.” Seru Junho kesal.

“Jangan marah, Junho-ah~ oh iya, aku mau mencaritahu tentang laki-laki aneh ini dulu.” Kata Jo Kwon, lalu ia ke luar kamar sambil membawa ponsel Min. Sebelum itu, Junho menahannya.

“Kenapa nggak tanya Min?” tanya Junho, Jo Kwon hanya tersenyum kecil.

“Min tidak akan mau memberitahu. Dia memang sok tegar.” Jawab Jo Kwon. “Sudah, kau diam saja disini temani Min.” Lalu Jo Kwon pergi ke luar kamar.

Ne.” Setelah Jo Kwon berlalu, Junho pun segera mengirim sms untuk Wooyoung, menyuruhnya ke rumah Min bersama Mir, Suzy, dan IU. Tak lama kemudian, Wooyoung membalas dengan “OK.”

Junho kembali mengurus kompres Min sementara menunggu yang lainnya datang. Lalu, terdengar suara kaki di tangga, dan perlahan pintu dibuka. Suzy, IU, Mir, dan Wooyoung melangkah masuk sambil membawa buah dan bunga. Mireu nampak agak kaget.

“Loh? Cuma demam?” tanyanya dengan wajah bingung.

“Kan sudah kubilang dia cuma demam tinggi…” ujar Wooyoung seraya menghela nafas, lalu menepuk jidatnya.

“Mir mengira kalau Min tiba-tiba pingsan dan sakit parah, jadi dia kelabakan dan membeli bunga di toko sebelah rumahnya. Dia selalu begitu kalau ada orang sakit.” Jelas Suzy, yang sepertinya memang tak usah dijelaskan lagi pada orang-orang yang memang sudah mengetahui sifat Mir dari kelas 1 smp ini.

“Kalau aku membawa buah ini, supaya Min cepat sehat.” Ucap IU sambil mengangkat keranjang kecil berisi apel dan jeruk.

“… Terima kasih, semuanya.” ucap Min tiba-tiba, setelah bangun dari tidurnya. “Sepertinya aku tidak salah memilih perguruan Samyang. Kalian sangat perhatian. Ah, Junho-ssi, dimana Kwonnie?” tanya Min pada Junho.

“Dia pergi, mencaritahu lelaki yang menelponmu tiap malam itu.” Jawab Junho. Min menghela nafas panjang.

“Ah… Bilang Kwonnie, itu tidak akan berhasil, kecuali aku bicara sendiri pada orang itu.” Perintah Min, Junho hanya memasang wajah bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia tak mau membiarkan Min dalam bahaya seperti menemui lelaki itu, bisa-bisa dia diapakan.

“… Aku tidak bisa, Min. Lebih baik kau istirahat saja.” Ucap Junho dengan nada khawatir. Min tidak menjawabnya, ia tahu Junho khawatir padanya, tapi dia harus cepat bertindak.

Tiba-tiba komputer di kamar Min berbunyi.

“Apa itu?” tanya IU, ia membalikkan badannya dan memandang layar komputer.

Min segera berdiri dan mengecek komputernya. “Oh, messenger. Ah, gadis ini…” Min segera mengetikkan sesuatu dan menekan enter.

“Siapa?” tanya Junho penasaran.

“Ah, bukan siapa-siapa.” Jawab Min tanpa menoleh. Junho sudah tidak sabar lagi. Ia berdiri dan menggenggam tangan Min.  Saat Min menoleh padanya, ia menatap mata Min––lurus dan tajam.

“Bisakah kamu kasih tahu siapa itu, Lee Minyoung?” katanya. Semuanya, termasuk Min, hanya bisa melongo.

Min menelan ludah, lalu bercerita. “Gadis ini teman SMP-ku. Dulu dia sahabatku, aku bercerita banyak padanya, tetapi sekarang sudah tidak lagi.”

“Kenapa?” tanya Junho lagi, ekspresi wajahnya lebih tegas.

“Sebelum itu kurangi tenagamu, Junho-ssi… Tanganku sakit…” Ucap Min sambil meringis. Junho segera meminta maaf dan mengurangi tenaganya. “Lelaki yang mengejarku ini… Adalah orang yang disukai gadis ini. Sepertinya dia yang memberitahu pada lelaki itu, entah apa tujuannya. Untuk menggangguku, atau untuk mendapat perhatian lelaki itu, aku juga tidak tahu. Dan kali ini dia menyapaku dengan polos, bisa saja aku mengabaikannya, tapi aku tidak bisa setega itu karena dia mantan sahabatku.”

“Dia saja tega melakukan ini padamu.” Komentar Junho. Min tersenyum kecil.

“Junho-ssi tidak pernah merasakan rasanya dikhianati sahabat.” Ucap Min, nada suaranya mulai tegas. “Sahabat-sahabatmu sangat baik dan perhatian, beda dengan dia. Perumpamaannya begini saja. Meski Junho-ssi sudah berkali-kali terluka karena mencintai Min Hyorin, tapi Junho-ssi tidak bisa membencinya, mengingat kenangan-kenangan indah yang kalian lalui sebagai sahabat, apa kamu mampu melukainya?”

Kali ini Junho tidak bisa menjawab lagi. Ia melepas genggaman tangannya pelan dan memeluk Min erat. “Mianhae.” Ucapnya. Min tersenyum dan membalas pelukan Junho, lalu melepasnya. “Kau benar. Masalah ini harus cepat selesai, dan satu-satunya cara adalah, kamu yang menyelesaikannya.” Kata Junho lagi. Min mengangguk senang.

“Aku tahu aku takkan punya sahabat lagi, tapi tak ada cara lain.” Ucap Min, meyakinkan dirinya.

“Min-ah!” seru Suzy tiba-tiba, Min menengok ke arahnya. “Jangan bilang kamu tak punya sahabat lagi. Kami semua sahabatmu!” katanya. Min hanya bisa diam, merasa terharu.

“Kau bisa, Minyoung-ah!” Mireu menyemangatinya.

“Kalau bersama-sama pasti bisa.” Ucap IU seraya tersenyum manis.

“Kalau ada apa-apa kau bisa cerita ke kami, kok.” Kata Wooyoung, lalu Suzy dan IU berlari dan memeluk Min. Min merasa terharu dan mengangguk senang.

“Oi, aku belum bisa menemukan clue yang bergun––WAHHHH!! Kenapa teman-temanmu ada disini? Kau sudah bangun, Minyoung?” Jo Kwon langsung panik. Seisi kamar itu tertawa.

“Semuanya, bisakah kalian keluar kamar?” pinta Min tiba-tiba. “Aku akan mencari cara terbaik. Kalau terlalu ramai aku tak bisa berpikir, tolong ya?” katanya. Semuanya terpaksa keluar kamar Min dan membiarkan Min sendirian, lalu berkumpul di ruang tv di lantai bawah.

BIP! BIP! Ponsel IU berbunyi, ia mengecek ponselnya. “Ah, Hyorin bilang dia agak demam dan ingin kita semua main ke rumahnya, soalnya lusa dia sudah mau pergi.” Ucapnya.

“Benarkah? Hei Junho, Hyorin minta kita datang tuh! Katanya dia agak demam.” seru Mir. Junho yang sedang sibuk berpikir dengan wajah khawatir hanya melirik.

“Sampaikan saja salamku. Yang disini lebih penting!” balas Junho, lalu kembali berpikir keras, berusaha mencari cara agar Min dapat menyelesaikan masalahnya dengan tetap selamat.

Jo Kwon, Mir, Wooyoung, Suzy, dan IU memandang satu sama lain sambil tersenyum jahil, lalu mengangguk. “Baiklah, aku, IU, dan Wooyoung saja yang pergi. Selamat berpikir, Junho!” ucap Suzy, seraya tersenyum geli, lalu berjalan keluar dengan IU dan Wooyoung.

“Apaan sih, orang lagi ada masalah mereka malah ketawa.” Gerutu Junho. Mir dan Jo Kwon tidak tahan melihatnya dan tertawa sekeras-kerasnya. Junho hanya memperhatikan mereka dengan wajah bingung. “Kenapa?” tanyanya.

Babo! Kau sudah sembuh, dasar tidak sensitif!” seru Jo Kwon seraya terbahak. “Kau lebih mengkhawatirkan Min daripada Hyorin, bukankah itu berarti kau sudah mampu bilang ‘selamat’ padanya?”

“… Benarkah?” Junho sendiri baru sadar. “Yang benar saja. Memangnya daritadi…?”

“Ya bodoh, bahkan sampai nama Hyorin saja tak membuatmu berhenti berpikir!” kata Mir sambil tertawa lebar. Junho hanya bisa bengong. Tapi iamerasa sedikit lega.

******

Lusanya…

Min tidak keluar rumah dari kemarin. Junho khawatir dan mengunjunginya, dan dia merasa kaget saat melihat Min keluar dari rumahnya dan membawa ransel. Mengerti dengan wajah bingung Junho, Min tersenyum dan menjelaskan. “Aku akan ke daerah tempat tinggalku dulu. Butuh waktu lama, tapi aku yakin bisa menyelesaikannya sendiri. Kemarin aku ngobrol dengan temanku itu seharian, dia menyesal dan bersedia menolongku. Kau lihat Junho-ssi, dengan sedikit pembicaraan, bisa mengarahkan kita ke arah yang lebih baik.”

“Aku tahu.” Jawab Junho seraya tersenyum. “Aku sudah melupakan Hyorin, dan dia tetap sahabat sejatiku.”

“Oh ya? Secepat itu?” Min terlihat kaget. Junho menggangguk. “Karena apa?”

Junho tersenyum lembut, menaruh tangannya di pundak Min pelan, lalu mengecup keningnya. “Sekarang kau tahu karena apa, kan? Hati-hati disana.”

Min memasang ekspresi kaget, wajahnya merah merona. Sambil malu-malu, ia mengangguk dan tersenyum. “Aku pergi dulu, Junho-ssi!” katanya, lalu berlari menuju arah stasiun. Junho memandang sosok itu dengan wajah senang bercampur khawatir.

“Yap, sekarang giliranku bergerak.” Junho segera berlari ke rumah Hyorin, dan tepat saat Hyorin sudah akan berangkat ke rumah neneknya, disana ada Wooyoung, Mir, IU, dan Suzy juga. Junho menghampiri Hyorin.

“Hyorin!” serunya.

“Junho? Kau datang?” Hyorin takjub. “Bukannya kau ada janji dengan tetanggamu?”

“Ah, itu sudah hampir beres. Begini…” Junho mengambil nafas dalam-dalam. “Aku belum mengucapkannya, selamat ya dengan Jaebeom-hyung! Semoga kalian awet dan selalu bahagia.” Katanya, lalu menoleh pada teman-temannya yang lain yang tersenyum dan mengacungkan jari jempol padanya.

“… Terima kasih.” Ujar Hyorin seraya tersenyum senang, lalu melambaikan tangannya dari dalam mobil, iapun berangkat. Junho dan yang lainnya tersenyum gembira dan bergegas pulang bersama-sama.

Akhirnya, dia bisa mengatakannya.

******

7 days later…

“Junho! Jangan malas begitu, lusa sudah masuk sekolah lagi!” omel eommanya, Junho hanya mengangguk-angguk dan memakai sepatunya, lalu berjalan keluar rumah sambil ngedumel.

“Peer sih, tinggal nyontek punya IU saja.” Katanya santai. “Ah… Bagaimana ya kabarnya disana?” Junho nampak lemas dan khawatir.

“Annyeong, Lee Junho-ssi.” Tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar dari belakangnya. Junho menoleh ke belakang dan nampak sosok yang sangat dirindukannya. “Aku tetanggamu, Lee Minyoung. Apa kamu merindukanku?” katanya.

Junho melangkah pelan dengan wajah gembira, lalu mengelus kepala gadis ini. “Sangat.” Jawabnya seraya memeluk erat gadis itu. “Kali ini, aku takkan membiarkanmu pergi lagi.” Katanya.

Gadis itu hanya tertawa kecil dan membalas pelukannya.

Fin

******

Lagi-lagi FF lama-__- cerita ini merupakan cerita lanjutan dari The Dark Blue Handkerchief :} buat selanjutnya adalah cerita Wooyoung dan IU! Selamat menikmati~ (?)

6 responses to “Lovely Neighbor (2/2)

  1. Min..kau membuatku iri -__-

    Tolong nak kau lepas Junho, kasih aja ke aku😀 #maunya

    Congratulations Junho! Cieee udah bisa lupain Hyorin niee. :pp

    Gak ada adegan kisseu nya?o_O #plak!

    Saeng, fanfic about Junhomu kutunggu ya… jangan bosan berkarya tentang Junho (?) ^o^

    • makasih, ini fic aku pas awal-awal banget jadi masih sangaaaat abal (sekarang sih tetep abalnya) tenang aja, sampe skrg aku masih ship iu-woo koook<3

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s