The Dark Blue Handkerchief (2/3)

thedarkbluehandkerchief

PART.1 | PART.2

Bandara

“Kata Gain dia sudah landing dan sekarang mengambil kopernya. Mana ya? Mana ya?” Jo Kwon melompat-lompat sambil menengok ke kanan dan kiri.

“Jangan terlalu bersemangat, bodoh.” Hina Jaebeom. Dia mengecek hpnya dan mendapat sms balasan dari Hyorin.

From : Min Hyorin
Subject : Annyeong~ ^^

Kau di bandara, Oppa? Hati-hati pulangnya yaa. Kita ngobrol lagi nanti­čśÇ

Jaebeom tersenyum dan cepat-cepat membalas sms dari Hyorin. Mendadak Jo Kwon berteriak memanggil nama gadis berambut pendek dan cantik, yang sedang menarik kopernya mendekat pada mereka.

“Gain, selamat datang!” Seru Jo Kwon bersemangat. Ia memeluk pacarnya yang sudah lama tak bertemu itu.

“Kwonieee aku kangen! Hei, Jay juga ikut? Apa kabar, Jay?” Gain tersenyum manis pada Jaebeom dan mengulurkan tangan untuk melakukan high-five.

“Ah, baik.” Jaebeom segera menekan tombol ‘send‘ dan membalas high-five Gain. Gain memperhatikan Jaebeom.

“Ah Gain, kau tahu kalau Jay sedang dekat dengan adik kelas?” Sahut Jo Kwon. Gain terlihat agak kaget.

“Jay? Dekat dengan adik kelas? Mustahil, ahahaha!” Gain hanya tertawa. Jaebeom tersenyum miris dan kembali memperhatikan layar hpnya. “Omong-omong, sapu tangan dariku kau simpan?” tanyanya pada Jaebeom.

“Dia memberikannya pada adik kelas itu.” Sahut Jo Kwon, memberitahu. Gain langsung nampak terkejut.

“Apa?! Ah kau ini tak pernah menghargai aku deh! Itukan sapu tangan yang bagus!” Protes Gain. Jaebeom hanya memasang dua jari sebagai tanda perdamaian.
Jo Kwon memperhatikan mereka dan menggenggam tangan Gain. “Sudah yuuk Gain sudah sampai kita juga cepat pulang!” Serunya. Lalu mereka bertiga segera pulang.

******

Malamnya, Jaebeom merenung di taman sendirian. Gain tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya. “Hai. Sudah kuduga kau pasti disini.” Kata Gain. Jaebeom hanya tersenyum sedikit lalu kembali menatap langit.

“Cantik ya..” Ucap Gain. Dia ikut memandang ke langit.

“Hm.” Jaebeom hanya mengangguk. Secantik apapun langit ini, langit yang dia lihat bersama Hyorin jauh lebih cantik.

“Apa kau sudah melupakan aku?” Tanya Gain mendadak. Jaebeom hanya diam dan memandangnya dengan tatapan heran. “Kau sudah punya yang lain kan? Adik kelas itu?”

“Aku tidak tahu.” Jawab Jaebeom dengan wajah bingung. “Kau sendiri jangan bertanya begitu setelah kau sudah memiliki Kwon. Dia amat menyayangimu.”

“Aku juga tidak tahu..” Jawab Gain, dia memainkan rambutnya. “Setengah hatiku masih bersamamu, Jay.” Ucapnya. Jaebeom hanya diam membisu dan tak sanggup bicara apapun.

Hyorin sedang berjalan-jalan di dekat sana. Ketika ia melihat orang yang ia sangat kenal duduk disana, ia ingin menegur, tetapi terhenti saat melihat gadis cantik yang duduk di sebelah orang itu. Dia hanya berdiri dan diam, berusaha mendengar percakapan mereka.

“Aku masih menyukaimu. Padahal dulu kau bilang juga menyukaiku, kenapa saat aku bilang begitu kau malah menolakku?” Tanya Gain.

Jaebeom memandang langit seraya menghela nafas. “Karena Kwon menyayangimu.”

“Lalu kenapa kau tidak memperjuangkan aku? Apa demi menjaga perasaan Kwon? Kalau dia sahabatmu, dia pasti mengerti!” Teriak Gain. Dada kedua orang ini mulai sesak. Begitu juga Hyorin yang mendengarnya.

“Kalau sudah begitu kenapa kau menerima dia? Apa menurutmu Kwon itu hanya pelarian?” Tanya Jaebeom. Kali ini giliran Gain yang terdiam. “Jika disuruh memilih, sampai akhir pun aku pasti memilih Kwon.” Ungkapnya, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Gain. Gain menggenggam erat tangan Jaebeom.

“Genggam tanganku. Kalau sudah begitu aku pasti akan melepaskanmu..” Ucap Gain. Air mata keluar dari pelupuk matanya.

“Kau ini ngomong apa—” KREK! Setangkai ranting pohon terinjak oleh kaki Hyorin. Jaebeom dan Gain spontan menoleh. Terlihat Hyorin yang sudah menangis deras, lalu menolehkan wajahnya dan berlari meninggalkan mereka.

“HYORIN!!” Jaebeom ingin mengejarnya, tapi Gain tidak mau melepasnya.

“Jangan pergi!” Isaknya. “Aku sadar aku salah. Aku sadar pacaran dengan Kwon tak berhasil membuatmu mengejarku lagi. Aku tahu…”

Jay menghela nafas dan menatap Gain lurus. “Ya… Aku dulu menyukaimu, sangat menyukaimu. Kamu cinta pertamaku, dan itu sulit dilupakan. Tapi Kwon juga menyukaimu, dan aku sadar cintaku tak lebih dari dia. Dengan sabar dia menunggumu, saat kamu masih menatapku.” Gain masih tetap menangis. Jay melanjutkan ucapannya, “Cinta yang tulus bukan saat kau ingin selalu memilikinya, tetapi saat kau menginginkan kebahagiaan untuknya, walau hatimu harus tercabik-cabik. Itulah cinta Kwon padamu. Maafkan aku.”

“Jay…” Gain menatap lelaki itu dan memeluknya erat.

“Sekarang,” ucap Jaebeom, “ada seorang gadis yang benar-benar ingin aku lindungi.” Katanya seraya melepas pelukan Gain perlahan, lalu secepatnya berlari mengejar Hyorin dengan kecepatan maksimal.

Gain hanya terdiam seraya menatap sosok itu menjauh, lalu dengan perlahan duduk kembali di bangku tadi, dan menangis lagi. Di sisi lain, Jo Kwon yang daritadi sudah bersembunyi di semak-semak, menatap langit dengan pandangan kosong.

******

“Hyorin! Tunggu! Kau salah paham!” Jaebeom berhasil menggenggam tangan Hyorin yang berlari lebih lambat darinya. Hyorin menatapnya sambil menangis.

“Tolong untuk sementara ini..” Ujar Hyorin pelan. “Jangan dekati aku, Park Jaebeom.” Katanya, lalu melemparkan sapu tangan biru tua pada Jaebeom, melepaskan genggamannya, dan berlari meninggalkan Jaebeom.

“…. Maafkan aku…” Jaebeom melihat kepergian Hyorin. Bayangan Hyorin yang menangis masih terbayang di kepalanya.

******

“Gain-noona? Dan Jaebeom hyung? Mereka dulu saling suka!?” Ucap Mir setengah berteriak. Ia tidak percaya pada fakta yang diceritakan Hyorin padanya, Suzy, dan Junho. Sementara Wooyoung dan IU sedang ikut rapat OSIS.

“Gain-noona pacar Jo Kwon-hyung kan?” Tanya Junho. Hyorin hanya mengangkat bahunya pelan dan sekali-kali mengusap air matanya.

“Jadi begini. Gain-eonnie dan Jaebeom oppa saling suka dulu. Tetapi mengetahui Jo Kwon oppa juga menyukai Gain-eonnie, maka Jaebeom oppa berusaha melupakannya. Akhirnya dia berhasil melupakannya dan sekarang menyukaimu, Hyorin. Matanya tidak berbohong!” Jelas Suzy, berusaha meyakinkan sahabatnya. Tapi sekali lagi, Hyorin hanya mengangkat bahunya.

“Aku tidak tahu. Yang pasti, saat ini aku tak mau melihat wajah oppa dulu.” Kata Hyorin, tangisannya tambah deras.

“Uwaa sebentar, nih!” Mir menjulurkan tangannya untuk memberikan sapu tangan. Melihat hal ini, tangisan Hyorin malah semakin menjadi-jadi. Ia teringat akan Jaebeom yang pada hari pertama itu memberikannya sapu tangan juga.

Mir, Suzy, dan Junho kelabakan melihat hal itu. Suzy meminjam sapu tangan Mir dan menyeka air mata Hyorin, sedangkan Mir dan Junho mengibas-ngibaskan tangannya seperti kipas angin untuk membuat Hyorin tenang.

“Hai–Ah! Kenapa Hyorin menangis?!” Wooyoung dan IU yang baru datang sama-sama kaget dan menghampiri meja Hyorin. Mir dan Junho bercerita secara bergantian, dan Wooyoung-IU langsung mengerti.

“Hyorinie, kalau kau melihat mata Jaebeom oppa, kau pasti akan mengerti seberapa dalam cintanya. Bukankah kalian sudah melewati sebuah malam yang istimewa?” Nasihat IU, ia mengelus rambut Hyorin dengan lembut. Kali ini Hyorin menghentikan isakannya dan menatap IU.

“Benar. Hyung yang kukenal bukanlah orang yang akan perhatian pada gadis lain jika dia masih menyukai seseorang.” Tambah Wooyoung, lalu menepuk kepala Hyorin lembut. “Dengarkan kata hatimu, Hyorinie. Kami semua mendukungmu, kok!”

“Ta—tapi, dia masih merasa sedih.. Saat di kantin itu, uhh..” Hyorin mengusap air matanya. “Aku tidak mau melihat wajah sedihnya lagi..”

“Mungkin dia sedih karena tak enak pada Jo Kwon hyung, karena sebenarnya dia tahu kalau Gain noona masih menyukainya.” Jelas Junho. Hyorin mengangguk dan kembali menyeka air matanya. Suzy membantunya.

“Tapi aku.. Masih belum bisa melihat wajahnya..” Ujar Hyorin. Yang lain hanya diam dan menenangkan Hyorin.

******

“Annyeong.” Sapa Khun pada Jaebeom yang duduk terdiam di atap sekolah. “Lagi sedih ya?”

“Apa aku terlihat seperti orang yang sedih?” Tanya Jaebeom, Khun hanya terkekeh geli dan menunjuk iPod yang sedaritadi dipegang Jaebeom.

“Kalau kau sedang sedih, pasti benda itu takkan kau gunakan. Jika sedang biasa saja, kamu pasti akan mendengarkan musik, tetapi jika kau sedih, bahkan musik saja kau bisa lupa.” Jelas Khun, yang mengetahui sifat sahabatnya itu dari dulu. “Ada apa dengan Kwonnie? Kalian bertengkar?”

Jaebeom hanya mengangkat bahu. Ia ingin mendengarkan musik, tetapi tangannya tidak berkehendak begitu.

“Gain, ya? Kau bertengkar dengan Hyorin dan Kwon karena gadis itu?” Tebak Khun. Jaebeom hanya terdiam seraya memandang langit yang mendung. Khun berdiri dari bangkunya, menepuk punggung Jaebeom, dan berjalan ke lantai bawah. Jaebeom hanya diam dan tiduran di bangku atap itu. Menutup matanya dengan tangan kanannya, dan berusaha untuk tertidur.

******

Hyorin duduk di kursi taman belakang dengan tatapan kosong. Junho yang melihatnya langsung mendatanginya.

“Kau kenapa? Masih sedih?” tanya Junho. Hyorin hanya diam sambil terus menatap kosong ke arah langit, sebulir air mata mengalir di pipinya.

“Jangan hiraukan aku..” ujar Hyorin perlahan. Junho memasang tampang kesal.

“Mana bisa!” teriak Junho. Hyorin nampak agak kaget. “Kamu… Kamu… Uh, kamu sahabatku, mana bisa aku membiarkanmu menangis!”

Hyorin masih nampak agak kaget, lalu tersenyum perlahan dan mengusap air matanya. “Gomawo, Junho. Kamu memang sahabat baik yang kupunya.” Ujarnya, lalu sambil tetap tersenyum ia berjalan masuk ke gedung sekolah.

Junho terdiam dan tersenyum pahit. “… Sahabat? Ah…” ujarnya. “Buruk sekali…”

******

Atap sekolah

Jo Kwon melangkah masuk dan duduk di bangku sebelah bangku yang diduduki Jaebeom, ia ikut menatap langit.

“Sudah lama sekali sejak kita begini..” ujar Jo Kwon pelan, Jaebeom hanya mengangguk.

Jo Kwon menatap Jaebeom yang masih lesu. “Kau mencintai anak itu kan? Hyorin?” tanyanya. Jaebeom akhirnya menoleh pada Jo Kwon, lalu mengangguk lagi. Jo Kwon tersenyum.

“Baiklah, itu sudah cukup bagiku.” Ujar Jo Kwon, seraya menepuk pundak Jaebeom, iapun turun ke bawah. Di tangga, ia berpapasan dengan Junho.

“Ah, hyung, Jaebeom hyung ada diatas?” tanya Junho, Jo Kwon hanya tersenyum lalu mengangguk.

Junho naik ke atas dan menghampiri Jaebeom, ia berdiri di hadapan Jaebeom yang juga menatapnya. “Hyung.” Ujarnya. Jaebeom hanya terus diam. “Kau terlalu banyak membuat Hyorin menangis. Jangan buat dia menangis lagi, atau aku akan marah.”

Sedetik kemudian, Jaebeom akhirnya membalas tatapan mata Junho, dan menyadari sesuatu. Ada suatu perasaan yang dirasakan┬ánamja yang berdiri di depannya ini. “Kau…”

“Ya! Aku menyukainya!” seru Junho blak-blakan. “Dan kalau kau menyakitinya, aku takkan membiarkan dia bertemu denganmu lagi!” serunya, lalu berjalan turun ke bawah. Jaebeom hanya bisa diam dan kembali menatap langit.

******

Hyorin mengambil inisiatif untuk pulang lebih dahulu. Ia tak enak pada teman-temannya karena sudah merepotkan, dan dia juga sedang ingin merenung. Ia berjalan melewati taman yang sama seperti malam itu, memandang ke dalam, dan berjalan masuk untuk menaiki ayunan.

Tiba-tiba Gain duduk di ayunan yang ada di sebelahnya. Hyorin hanya memandang tak percaya dan segera bangkit untuk pergi, tetapi tangannya ditahan oleh Gain. “Duduklah,” kata Gain. “Mari kita bicarakan ini dulu.”

Hyorin duduk perlahan dan ragu-ragu, ia tak berani memandang gadis cantik berambut pendek yang ada di sebelahnya itu. “Jaebeom..” Gain memulai pembicaraan. “.. Dan aku adalah teman dari kecil, kami sudah bersama sejak dulu. Mungkin karena itu aku menyukainya. Sedangkan Jaebeom baru menyukaiku saat pertengahan musim panas kelas 1 smp, saat kami main kembang api berdua. Sudah lama aku menyukainya, dan dia baru menyukaiku saat umur segitu. Beda denganmu yang satu hari saja bisa menaklukannya. Haha.”

Hyorin hanya diam. Tetapi dia memasang baik-baik pendengarannya. “.. Aku dan Jo Kwon baru bertemu saat kelas 1 smp, waktu itu Jaebeom mengenalkannya padaku. Waktu itu biasa saja, Jo Kwon juga memberiku perhatian lebih, tapi aku tidak menyadarinya. Musim semi kelas 3 smp, aku bilang pada Jaebeom bahwa aku menyukainya. Saat itu aku mengetahui ketika lulus aku akan disekolahkan di Inggris, dan aku tak mau kehilangan dia. Jaebeom membalas perasaanku tetapi dia mengatakan bahwa dia tak bisa menerimaku. Aku hancur berkeping-keping.” Ceritanya. Hyorin menggigit bibir bawahnya.

“Aku menceritakan hal ini pada Kwon. Diapun kelepasan bicara bahwa dia menyayangiku, dan tak apa kalau aku masih menyukai Jaebeom. Yang pasti, dia akan membuatku menyayanginya juga. Aku yang sedang rapuh dan butuh perhatian, menerimanya begitu saja. Sekarang aku sudah menyayangi Kwon, tapi entah kenapa aku masih menyukai Jaebeom.”

Hyorin masih terdiam dan mendengar. Gain melihat gadis mungil di sebelahnya ini sebentar lalu melanjutkan. “Sekarang aku sudah memantapkan hatiku untuk Kwon sepenuhnya, jadi kau tak usah khawatir.”

“Bagaimana kau bisa membuktikannya?” Tanya Hyorin.

“Semalam setelah Jaebeom pergi, aku masih terdiam di taman. Lalu Kwon muncul dan menarik tanganku dan mengantarku pulang. Di saat itu aku sadar, Kwon masih benar-benar peduli padaku. Kupikir dia mendengar percakapanku dan Jaebeom. Sudah begitu, dia masih menyayangiku. Genggaman tangannya masih seperti yang dulu.”

Hyorin memberanikan diri untuk memandang Gain. Gain juga memandangnya dan tersenyum. “Tunggu apa lagi? Cepat cari Jaebeom.” Perintah Gain. Hyorin segera bangkit dan mengucapkan terimakasih, lalu berlari meninggalkan taman. Gain tersenyum dan kembali mengayunkan ayunannya.

“Aah, kau hebat, nona ego.” Kwon muncul dari balik semak, lalu mengusap kepala Gain lembut.

“Khun menelponku dan membentakku untuk menjelaskan semua itu. Biasanya Khun lembut, tapi aku kaget dia bisa seperti itu. Akhirnya kulakukan.” Ucap Gain dengan gaya ogah-ogahan. Kwon terkekeh geli dan mengecup kening Gain. Gain tersenyum dan menatap mata Kwon. “Gomawo Kwonnie. Kamu sudah mau berada disini, menemaniku, dan menungguku. Meskipun kamu tahu aku masih menyukai Jaebeom, tapi kamu tetap setia padaku.”

“Tidak masalah.” Balas Jo Kwon ringan. Ia menggenggam tangan Gain dan menarik tangannya untuk menyusul Hyorin.

Continue to The Dark Blue Handkerchief part.3…

3 responses to “The Dark Blue Handkerchief (2/3)

  1. Pingback: The Dark Blue Handkerchief (3/3) | Cappuchino In Your Life·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s