[Lee Chaerin Birthday Fic] Lies and Promises

liesandpromises

Pembohong. Orang ini pembohong. 

Apa alasanmu untuk merusak janjimu?


“Ada anggota baru yang ingin bergabung dengan kita.” Seru Choi Seunghyun—atau TOP, kepala inspektur divisi bagian kriminal dan pembunuhan. Para anak buahnya menatapnya dengan tatapan penasaran.

“Siapa, hyung? Perempuan?” Lee Seunghyun atau Seungri, menatap hyungnya dengan tatapan berbinar. Sedangkan TOP menjawabnya hanya dengan sebuah gelengan.

“Aaaah kita dapat anggota namja lagi? Membosankan!” protes Kang Daesung. Ia melipat tangannya di depan dada sedangkan Seungri merangkulnya di bahu.

“Salah sendiri kerja di divisi ini. Hanya satu yeoja saja di kepolisian yang tahan melihat mayat dan darah yang begitu banyak.” Celetuk Dong Youngbae—atau Taeyang, sembari melirik ke arah gadis muda yang berdiri di belakangnya. Gadis itu hanya mengangkat dagunya dengan sinis tanpa membalas tatapan Taeyang.

“Siapa orangnya?” Lee Chaerin—gadis satu-satunya yang bekerja di divisi itu, akhirnya membuka mulut. Nada suaranya yang dingin dan tatapan matanya yang serius, serta sifatnya yang sinis, memang sangat cocok untuk image wanita pemberani. Apalagi, dialah mata-mata dan salah satu polisi terhandal.

“Ada, nanti kau akan tahu sendiri.”

******

Police Department Lobby, Same Time…

Seorang namja berambut pirang dan berkacamata hitam masuk ke dalam lobi kantor kepolisian dengan cueknya. Ia seakan tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang memandangnya, dan terus melenggang melewati lobi. Tubuhnya yang kurus dan jaket kulitnya yang hitam membuatnya lebih nampak seperti tawanan.

“Dimana ruang divisi kriminal dan pembunuhan?” Namja itu menepuk pundak seorang lelaki paruh baya yang berdiri di depan lift. Lelaki itu tidak menjawab, melainkan menatapnya dengan pandangan sinis.

“Kau siapa?” tanyanya.

“Sudahlah, cukup jawab saja.”

“Tapi saya tidak bisa menjawabnya jika anda tidak memberitahu siapa anda. Disini kantor polisi, apa kau mau cari masalah?” Nada suara pria tua itu mulai meninggi, tanda bahwa kesabarannya sudah mulai berkurang.

“Jangan marah, aku hanya bertanya.”

“Setidaknya lepas dulu kacamatamu dan kembalilah kesini setelah kau cat hitam rambutmu!” bentak lelaki itu lalu kembali menatap lift. Namja berambut pirang itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu menggerutu. Padahal dia sedang buru-buru, tapi bapak tua di depannya ini merusak segalanya.

“Ini kartu nama saya. Sekarang, boleh saya lewat?” Akhirnya, namja tadi mengeluarkan kartu kepolisiannya. Lelaki paruh baya itu kaget setengah mati saat melihat nama yang tertera pada kartu yang ditunjukkan tersebut.

“K—Kwon Jiyong!?” Jeritnya.

“Jika anda tahu saya, berarti anda sudah senior disini. Sekarang, tolong minggir.” Namja itu—Kwon Jiyong, mendorong lelaki paruh baya tadi agar menyingkir dari depan lift lalu masuk ke dalam lift sendirian. Ia tidak ingin menunjukkan siapa dirinya dahulu, karena ia sudah tahu sendiri bagaimana reaksi teman kerjanya nanti kalau sampai mereka tahu ia sudah pulang.

“Jangan bilang siapa-siapa.” Bisik Jiyong sembari meletakkan telunjuknya di depan bibir. Pria tua di depannya masih menganga lebar, tidak percaya.

Kemudian, pintu lift tertutup rapat.

******

Criminal and Murder Division Room

“Siapa orangnya hyung, siapa?” Seungri makin memajukan posisinya di atas sofa biru yang empuk. Dia tidak puas dengan jawaban hyungnya, yang sepertinya tersimpan rahasia di dalamnya.

“Kalau hyung tak mau mengatakannya, berarti dia orang hebat?” terka Taeyang. Seungri dan Daesung makin mendekat ke arah TOP dan Chaerin hanya diam di sudut ruangan. Dia tidak tertarik dalam hal anak baru itu, meskipun kepala inspekturnya sendiri terlihat sangat bangga mendapati orang baru itu masuk ke divisinya.

“Ya, dia orang yang sangat hebat. Memang luarnya acak-acakan, tapi dia seorang detektif yang cerdas luar biasa.” Ujar TOP dengan nada bangga. Ketiga namja yang berada di depannya terperangah mendengar kata-katanya.

“Sangat tumben hyung memuji orang lain.” Ujar Taeyang, ia meletakkan tangannya di atas meja.

“Ya! Berarti dia hebat?” Daesung terlihat bersemangat.

“Wah, jadi tidak sabar!” timpal Seungri.

“Sudahlah, hanya urusan orang baru saja ribut-ribut.” Chaerin akhirnya masuk ke dalam kawanan itu, lalu menatap keempat orang di depannya dengan tatapan sinisnya. “Oppa, aku percaya padamu. Tapi jangan sampai kau kehilangan wibawamu hanya karena orang baru itu.” Katanya pada TOP, lalu mengambil pistol yang terletak di atas meja.

“Ya, aku mengerti, Chaerin. Kau juga jangan hilang kendali, kantor ini membutuhkanmu.”

“… Ya, aku sudah tahu. Sekarang, boleh permisi? Aku dan Taeyang harus bertugas.” Ujarnya ketus, lalu bersiap-siap dengan peralatannya.

“Apa kita benar-benar harus pergi sekarang, Chaerin-ah?” tanya Taeyang. Sedetik kemudian, dia langsung menyesal telah mengatakannya. Mengetahui bahwa percuma saja ia bertanya seperti itu pada gadis kaku itu.

“Menurutmu?”

Cklek

Tiba-tiba saja, pintu terbuka. Lelaki dengan rambut pirang dan kacamata hitamnya masuk ke dalam ruangan itu, menatap semua orang yang terkejut melihatnya. Termasuk Chaerin.

Dia… Kenapa dia bisa ada disini?

“Nah, semuanya, inilah orang yang kumaksud.” TOP merangkul pemuda itu—Kwon Jiyong, dengan bersahabat. Namja yang dirangkulnya itu membuka kacamata hitamnya lalu menyengir lebar.

Annyeong haseyo, Kwon Jiyong imnida.” Sapanya ramah.

“K—Kwon Jiyong??” seru Taeyang, setengah tidak percaya. “Orang nomor satu yang ditandakan telah tewas dalam tugas lima tahun lalu?!”

Mwooo!?” Daesung ikutan kaget. Dia memperhatikan penampilan Jiyong dari atas sampai bawah. Sama sekali tidak terpikirkan bahwa orang di depannya itu adalah seorang detektif hebat.

“Bagaimana—? Kau tidak mati?” Seungri juga ikut-ikutan. Sementara Chaerin, ia malah menjauhkan dirinya dari kawanan itu. Matanya masih tertuju pada satu orang yang sekarang tengah tertawa dengan mata teduhnya.

Kwon Jiyong, salah satu orang yang paling dibencinya.

Untuk apa dia disini? Kenapa dia kembali?

“Chaerin, kesini, ikutlah dengan kita!” seru TOP. Jiyong merasa sangat familiar dengan nama itu, lalu ikut memperhatikan Chaerin yang masih terdiam di sudut ruangan.

“Lee Chaerin?” ujar Jiyong. Sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya, dan kakinya tanpa sadar bergerak mendekat ke arah Chaerin. “Kamu juga kerja disini?”

“Jangan mendekat!” Chaerin bergerak mundur untuk menjauh dari Jiyong. Melihat orang ini saja tidak mau, apalagi disentuh?

“Kau kenapa, Chaerin-ah?” tanya Daesung, heran melihat tingkah Chaerin yang lebih berlebihan dari biasanya. Gadis itu memang tidak suka didekati orang baru, tapi sepertinya ada sesuatu dari Jiyong sampai membuat ekspresi gadis itu berubah jadi panik, dan suaranya pun meninggi.

“Jauhkan orang ini dariku!” seru Chaerin, tanpa membalas tatapan kecewa Jiyong. Dengan cepat, ia melangkah keluar dari ruangan tanpa menunggu respon dari siapapun.

Sebenarnya, dia takut. Aura kengerian tiba-tiba saja datang kembali menyergapnya, begitu melihat namja tadi masuk ke dalam ruangan.

Kwon Jiyong… Kenapa dia bisa kembali?

“Kenapa dia?” Taeyang menggaruk kepalanya yang tak gatal. Rasanya aneh sekali tingkah laku Chaerin hari ini. Biasanya yeoja itu pasti akan menatap orang yang tak disukainya dengan tatapan sinis, dan nada suaranya akan selalu rendah seperti biasa. Tapi ini tidak. Ada sesuatu yang salah.

“Chaerin…” Jiyong hanya bisa menatap ruang kosong dibalik pintu, tempat dimana Chaerin hilang dari pandangannya.

******

4 days later…

“Ada pekerjaan apa untuk besok?” Chaerin melangkah masuk ke dalam ruangan TOP. Bossnya itu memeriksa berkas-berkas permintaan dari atasan lalu memberikan secarik kertas pada Chaerin.

“Itu tugasnya, baca saja.”

“… Transaksi antara perusahaan XX dan organisasi?”

“Ya, permintaan itu dikhususkan pada kita karena sepertinya ada sesuatu yang salah pada organisasi itu. Boss perusahaan XX meminta kita menyelidikinya, maka dari itu, aku memerlukanmu yang seorang mata-mata.”

“Hmm, bisa diurus. Untuk apa transaksi ini?”

“Uang pembayaran jasa pegawai perusahaan XX pada organisasi itu. Sepertinya pegawai itu korupsi, karena beberapa hari ini uang di brankas hilang beberapa milyar dan si boss perusahaan curiga padanya.”

“Kalau begitu kita harus menemui boss perusahaan itu dahulu, ne?”

Ne. Di misi ini, kau perlu partner. Akan kupanggil Kwon Jiyong untuk ikut bertugas.”

Mwo!?” Mata Chaerin terbelalak. Baru saja beberapa hari ini dia bisa menghindari namja itu, sekarang sang inspektur malah sengaja memasangkan dirinya dengan orang itu. “Andwae!” tolaknya.

Mianhae, tapi untuk hal ini, dia amat diperlukan.” Ujar TOP. Dalam perkataannya jelas sekali mengandung unsur penolakan.

“Tapi, kenapa—”

“Dia seorang detektif hebat, ingat? Dia pasti akan sangat membantumu.” TOP berkata acuh tak acuh, lalu mengelap bingkai kacamatanya yang berwarna hitam.

“Kenapa tidak dengan Seungri? Dia penembak yang handal! Atau tidak Daesung, informan yang bisa memberiku banyak informasi. Dengan Taeyang juga tak apa, bukankah dua mata-mata yang bekerja lebih baik?” teriak Chaerin panik. Tapi, dia langsung mencoba mengendalikan emosinya lagi. Kenapa dalam hal yang berhubungan dengan namja itu, dia mudah sekali emosi? Padahal biasanya orang paling kurang ajar sekalipun tak mampu membuatnya mudah naik darah.

“Apa kau kecewa berpasangan denganku?” Jiyong muncul dari balik pintu. Ia menatap Chaerin dengan tatapan kecewa. “Sudah lama aku menunggu saat-saat ini.”

Melihat itu, Chaerin hanya berdecak kesal. Kenapa juga orang ini harus datang?

“Aku takkan mengganggumu.” Ujar Jiyong pelan. Sedangkan Chaerin hanya berpura-pura tak mendengarnya.

“Ya, sudah diputuskan. Jiyong, aku titip anak buahku padamu.” TOP menepuk pundak Jiyong dengan penuh rasa percaya, sedangkan Chaerin hanya melongo melihatnya.

Oppa…!” jerit gadis itu, jengkel. Tapi TOP tetap tak mau mendengarnya.

“Chaerin, mohon bantuannya.” Jiyong tersenyum, lalu segera keluar dari ruangan. Ia ingin berbicara banyak, tapi itu bukan saat yang tepat. Ia terkejut pada sifat gadis itu yang tiba-tiba saja berubah 180 derajat, seperti bukan Chaerin yang ia kenal lima tahun lalu.

Ya… Lima tahun lalu. Saat dimana ia dikira sudah mati.

Sedangkan Chaerin, yang melihat tingkah laku Jiyong yang memperlakukannya biasa saja, hanya bergumam. “… Jangan anggap aku sama seperti dulu…”

******

The next day

Chaerin berjalan cepat melewati lobi. Bagaimanapun juga, dia tak ingin bekerja dengan orang itu. Lebih baik pergi lebih cepat dan melakukan semuanya sendiri daripada menunggu orang itu.

Baru saja ia keluar dari pintu kepolisian, sebuah mobil sport hitam berhenti di depannya. Jendelanya terbuka dan Jiyong muncul dari dalam sana.

“Lama sekali, sih?” keluh namja itu. Chaerin berdecak kesal. Kenapa orang ini bisa tahu kalau dia ingin pergi lebih cepat?

“Jangan memandangku begitu, begini begini aku seorang detektif.” Jawab namja itu asal. Chaerin masih terdiam menatapnya. “Hei, ada apa? Cepat naik!” perintah Jiyong.

“Tsk.” Chaerin bergerak masuk ke dalam mobil Jiyong. Ia duduk dengan memepetkan tubuhnya ke pintu, agar jarak dia dan namja itu semakin jauh. Makin jauh, makin bagus.

“Ada apa kau ini? Duduk saja dengan santai!”

“Diam kau.” Seru Chaerin ketus. Daripada lama berdebat dan malah membuat Chaerin semakin kesal, Jiyong memutuskan untuk segera menginjak gas dan menjalankan mobilnya.

Lima menit berlalu. Chaerin hanya diam memandang ke luar jendela, sementara Jiyong fokus menyetir. Gadis itu sesekali melirik ke arah namja di sebelahnya, yang ternyata juga selalu melirik ke arahnya. Jika pandangan mata mereka bertemu, selalu saja pemuda itu tersenyum manis padanya. Membuat kesal saja.

Yaa! Berhenti melihatku seperti itu!” bentak Chaerin kesal.

“Kau sendiri melirik terus.” Goda Jiyong dengan nada jahil. Chaerin hanya cemberut lalu memalingkan wajahnya. Jiyong terkekeh geli saat melihat tingkah laku gadis itu, lalu memperhatikan setiap lekuk tubuhnya yang sudah terbentuk seperti gadis pada umumnya. Lima tahun lalu, Chaerin masih lebih kurus dari ini.

Tatapan mata Jiyong tertuju pada bekas luka bakar di tengkuk Chaerin. Ah… Ternyata luka itu masih ada. Luka itu telah menjadi alasan Jiyong selama bertahun-tahun untuk melindungi gadis itu. Tapi Chaerin malah menghilang darinya.

“Apa kau lihat-lihat? Kau mau kita berdua mati?” bentak Chaerin lagi. Jiyong tersenyum mendengarnya. Setidaknya sekarang ia sudah ada di dekat gadis ini, dan nampaknya gadis ini sehat-sehat saja.

“Mati denganmu juga aku tidak apa-apa.” Canda Jiyong, meski ada sedikit keseriusan dalam kata-katanya. Chaerin hanya melirik kesal ke arahnya lalu kembali menatap ke luar jendela.

Kenapa orang ini harus muncul lagi? gerutu Chaerin.

“Tapi aku tidak mau kalau sampai kamu mati.” Gumam Jiyong. Ia melirik ke arah Chaerin, yang sepertinya tidak mendengarkan perkataannya. “… Seperti lima tahun lalu, akan kulakukan jika memang harus.”

******

XX Big Boss’s Office, 13.00PM

Annyeong haseyo, Kwon Jiyong imnida. Saya dari kepolisian bersama partner saya, Lee Chaerin.” Jiyong menundukkan badannya dan menunjukkan kartu kepolisiannya pada boss perusahaan XX, yang sudah duduk di depannya.

Yaa, yang benar kau itu partnerku!” bisik Chaerin jengkel.

“Jadi kau menerimaku sebagai partnermu?” goda Jiyong. Chaerin hanya kembali mendecak kesal. Kenapa sih orang ini selalu saja bisa membalikkan omongannya?

“Ya, tadi inspektur Seunghyun sudah menelepon saya. Silahkan duduk.” Big boss dengan kepala botak dan berkumis tebal, serta bertubuh besar dan agak pendek itu menjulurkan tangannya dan menunjuk dua bangku yang ada di seberang tempat duduknya. Tanpa basa-basi, Jiyong dan Chaerin langsung duduk disana. Tapi sebelum Chaerin bisa duduk dengan nyaman, kaki bangkunya patah.

“…!” Suara Chaerin tertahan. Jiyong dengan cepat menangkapnya agar dia tak jatuh.

Hening.

“Le—lepaskan aku!” seru Chaerin, wajahnya memerah. Jiyong melepas gadis itu, dengan senyuman tetap menghiasi wajahnya.

“Kamu duduk saja di bangkuku.” Ujar Jiyong, lalu mendorong Chaerin sampai gadis itu duduk. Awalnya Chaerin ingin menolak, tapi Jiyong tetap menahannya agar tidak bergerak.

“Jadi, apa yang anda ketahui?” Jiyong mengawali pembicaraan.

“Baiklah, pegawai saya itu orang baru, tapi sangat cerdas. Awalnya saya bangga dia mau masuk kesini, tapi gerak-geriknya jadi mencurigakan tak lama setelah dia memergoki saya sedang membuka brankas di ruangan ini.” Jelas sang boss perusahaan, sembari melirik ke arah lemari. “Disanalah tempat saya menyimpan brankas saya.”

“Boleh saya periksa?” pinta Chaerin. Sang boss mengangguk lalu berjalan ke arah lemari, diikuti Chaerin. Sementara Jiyong memeriksa ruangan itu dengan seksama.

Matanya memperhatikan setiap sudut yang bisa ia lihat. Tiba-tiba, matanya menangkap sebuah retakan di kenop pintu. Kecil memang, tapi ia bisa melihat benda itu dengan jelas. Diperhatikannya baik-baik, mungkin saja ada orang yang memaksa masuk. Kelihatannya orang itu tak terlalu professional, dilihat dari bentuk retakan.

Jiyong kembali menatap ke belakang. Chaerin masih berdiri di belakang boss perusahaan, menunggu bapak tua itu membuka brankasnya. “… Dari sudut mana bisa melihat bossnya menekan password brankas?” gumam Jiyong.

Ia mundur beberapa langkah dari posisinya, lalu berdiri di sudut satunya lagi. Sepertinya posisinya itu terlalu jauh dari brankas, sehingga apa yang bossnya tekan tidak terlihat. Apalagi ditutupi oleh tubuh sang boss yang gemuk dan besar.

“Jadi lewat mana…?” Ia memperhatikan ke atasnya. Sebuah kamera CCTV terpasang disana, dan tepat di bawah kamera CCTV itu, permukaan karpet tertekan agak ke dalam. Ia melirik ke arah bangku patah yang tadi hampir diduduki Chaerin.

Ahjussi, apa ruangan ini belum diubah sejak peristiwa itu terjadi?” seru Jiyong.

“Ya, untuk mengantisipasi. Takutnya ada bukti terhapus jika dibersihkan.” Jawab boss perusahaan XX itu sembari tetap memperhatikan Chaerin yang memeriksa setiap sudut brankas.

“Hmm… Begitu rupanya. Kalau begitu, bagaimana anda bisa tahu tentang transaksi itu?”

Setelah mendengarnya, Boss perusahaan itu menelan ludah. Dengan ragu ia menjawab, “Itu… Sebelumnya saya telah memeriksa. Anak buah saya memiliki banyak hutang pada sebuah organisasi, jadi saya pikir dia akan membayar hutangnya dengan uang perusahaan…”

“Ooh… Apakah anda tahu dimana transaksi itu dilaksanakan?”

“Ma—maaf, saya tidak tahu.”

“Baiklah kalau begitu. Sisanya serahkan pada kami. Chaerin-ah, ayo kembali.” Jiyong hanya tersenyum, lalu menarik Chaerin yang masih memeriksa. Sementara boss perusahaan masih terdiam di dalam ruangannya.

******

Yaa! Kenapa, sih? Aku belum selesai memeriksa!” omel Chaerin. Jiyong menatap gadis yang ditariknya dengan tatapan serius, namun sekilas, tatapannya langsung berubah jadi biasa lagi.

“Tak apa, aku sudah menemukan cluenya.” Ujar Jiyong, santai.

Mwo? Padahal kerjamu hanya melihat-lihat saja!”

“Itulah detektif, jangan protes apa-apa. Terus, kamu nggak melaporkan tentang apa yang kamu temukan di brankas?” Jiyong mengalihkan pembicaraan, membuat Chaerin merasa agak jengkel.

“Tsk. Tidak usah memerintah.” Jawab Chaerin ketus. “Tidak ada apa-apa di dalamnya. Hanya saja aku merasa aneh pada orang itu setelah kau bertanya bagaimana ia tahu mengenai transaksi. Apa jangan-jangan dia…?”

“Tidak, tidak.” Jiyong menggelengkan kepalanya, lalu kembali menatap Chaerin. “Instingmu kurang tepat.”

Chaerin tidak menanggapinya. Intinya, dia tidak ingin berada disana. Hanya berdua dengan Jiyong, di depan perusahaan klien, rasanya aneh. Meski ini pernah terjadi—dan selalu terjadi lima tahun sebelumnya, tapi tetap saja ada yang berbeda.

Janji. Ya, janji yang belum ditepati.

“Apa kamu tidak merindukanku?”

Chaerin tersentak kaget. Tiba-tiba saja Jiyong berkata begitu, membuatnya tidak percaya.

“Maksudmu?”

“Sudah lima tahun berlalu sejak saat itu, Chaerin-ah. Apa kamu tidak merasakan apapun saat melihatku?”

“Tidak. Untuk apa?” jawabnya. Bohong, tentu saja. Dia merasakan sesuatu. Tapi entah apa perasaan itu. Antara rindu, sedih, marah, ataupun kesal. Chaerin sendiri tidak mengetahuinya.

“Kamu bohong.” Jiyong menatap lekat-lekat mata Chaerin. Gadis itu merasa risih, rasanya seperti Jiyong dapat melihat ke dalam hatinya.

“Untuk apa aku bohong? Sudahlah, lebih baik misi ini cepat dilanjutkan.” Chaerin segera mengalihkan pembicaraan, lalu masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Jiyong. Sementara Jiyong hanya diam, lalu melirik ke belakang dengan ujung matanya.

Kelihatannya, ada orang yang memperhatikan mereka sedaritadi.

******

Police Department, 15.00PM

Hyung, apa tak ada panggilan tugas hari ini?” Taeyang masuk ke dalam ruangan TOP, yang masih sibuk membereskan berkas.

“Untukmu? Ada, hanya pekerjaan kecil mengenai tindakan kriminal yang sudah lima tahun lewat. Harus diselesaikan sebelum batas waktu habis.” TOP menyerahkan secarik berkas pada Taeyang lalu meneguk teh dalam cangkirnya.

“Begitu, ya. Ah, mengenai lima tahun itu… Apa ada sesuatu dengan Lee Chaerin dan Kwon Jiyong? Dan kenapa namja itu masih hidup?”

“… Kau mau dengar, Taeyang?” TOP meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap mata penasaran Taeyang. “Baiklah, silahkan duduk.” Katanya.

Taeyang duduk dengan rapi di bangku seberang meja TOP. Ia sangat penasaran dengan hal ini.

“Mau teh?” tawar TOP, sembari mendorong baki berisi tiga buah cangkir teh.

“Ya, kamsa hamnida.” Taeyang mengambil secangkir teh lalu menyeruputnya pelan. Harum teh menyeruak ke sudut-sudut ruang, membuat keduanya merasa lebih tenang.

“Baiklah, jadi…”

Flashback

Seoul City, 15 January 2007, 01.00AM

“Sedang apa kau disini?”

Jiyong memperhatikan seorang gadis yang nampaknya seumuran anak SMA, sedang duduk di pinggiran jalan. Gadis yang berpenampilan kotor itu hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Rambutnya berantakan dan di wajahnya banyak bekas luka.

“Kau siapa?” Gadis itu balik bertanya.

“Namaku Kwon Jiyong.” Jawabnya singkat. Sebenarnya ia sedang dalam tugas, tapi melihat seorang gadis terdiam di pinggir jalan pada waktu yang sudah sangat larut ini, sebagai pria sejati, ia tidak bisa tinggal diam begitu saja. “Ayo, kau tak boleh disini. Bagaimana kalau orang tuamu khawatir?”

“Mereka tidak akan khawatir.” Jawab gadis itu dingin. Jiyong agak terusik dengan tatapan hampa gadis itu. Tak ada ekspresi, hanya pandangan yang tak berarti. “Mereka membuangku. Berpisah dan tak ada satupun yang ingin bertanggung jawab. Hidupku sudah sia-sia.”

“Aah… Benarkah?”

“Ya.” Kemudian, gadis itu kembali diam. Sepertinya dia tak ada minat untuk membalas tatapan Jiyong, membuat namja itu semakin khawatir.

“Kau baik-baik saja?”

“… Aku selalu baik.”

“Mau ikut denganku?”

Gadis itu hanya diam. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Anggukan ataupun gelengan pun tidak.

“Apa kau mau?”

“… Tidak.” Tolak gadis itu, membuat Jiyong agak terkejut. “Nanti aku akan dibuang lagi. Kau akan meninggalkanku dan aku akan sendirian. Lebih baik aku hanya merasakan ini sekali saja.”

“… Aku tidak mengerti.” Jiyong menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia membungkukkan badannya, dan memberikan jaketnya pada gadis itu. Udara lembab dan dingin karena tadi hujan telah membasahi kota Seoul. “Kalau kau terus begini, nanti kau akan terus merasakan kesepian. Ikut denganku saja, aku takkan meninggalkanmu.”

“… Janji?” Gadis itu mengulurkan jari kelingkingnya pada Jiyong, sedangkan namja itu hanya terkekeh geli. Gadis ini seperti anak kecil.

“Janji.” Jiyong menyilangkan jarinya pada gadis itu, lalu mengulurkan tangannya. “Sekarang, ayo kita pulang. Siapa namamu?”

Dengan ragu, gadis itu menyambut uluran tangan Jiyong perlahan, lalu bangkit dari posisinya. “Chaerin.” Ujarnya.

“Lee Chaerin.”

******

“Jiyongie, kau sudah pulang?” Chaerin menyambut Jiyong yang baru pulang dari bekerja. Tangannya menggenggam spatula, dan ia juga menggunakan celemek.

“Hei, sudah kukatakan kalau aku lebih tua darimu, jangan sembarangan memanggil.” Gerutu Jiyong. Chaerin, yang pikirannya masih seperti anak kecil, hanya mengangguk.

“Kalau begitu aku harus memanggilmu dengan apa?”

“Panggil dengan ‘Oppa‘.” Ucap Jiyong dengan nada bangga. Chaerin nampak berpikir sebentar, lalu akhirnya menatap Jiyong dengan tatapan teduhnya.

“Jingyo oppa.” Panggilnya. Mendengarnya, entah kenapa, membuat Jiyong tersenyum.

“Heei, namaku Jiyong! Ah, sudahlah. Sekarang, kita makan, eo? Kau masak apa?” Jiyong membuka jas kerjanya lalu mengikuti Chaerin ke ruang makan. Ada keuntungannya juga ia mengambil gadis ini. Selain polos, gadis ini juga jago memasak dan bisa memijitnya jika ia lelah.

******

“Jiyong, hari ini kau harus benar-benar menuntaskan tugas.” Kepala inspektur divisi saat itu, tempat dimana Jiyong bekerja sebagai detektif dan polisi, menatap Jiyong yang tengah berdiri di depannya. “Organisasi itu akan bergerak duluan kalau kau tidak cepat.”

Ne, saya mengerti.” Jiyong menundukkan badannya, lalu berjalan keluar tanpa menunggu respon. Dia tahu tentang organisasi itu, bahkan dia yang paling tahu.

Mereka akan bergerak malam ini. Tanggal 25 Februari, tepat sebelum ulang tahun gadis yang disayanginya. Ia berjanji akan merayakannya, maka dari itu ia harus segera pulang, lalu baru mengerjakan tugasnya.

******

“Aku pulang…” Jiyong mengintip ke dalam rumahnya. Tiba-tiba saja, ada suara derap langkah yang berisik dari dapur. Chaerin berlari ke hadapannya dengan cakes di tangannya.

“Halooo!” seru gadis itu semangat. Senyum cerah menghiasi wajah manisnya.

“Ahahahah, iya, iya. Selamat ulang tahun.”

“… Ada apa?” Chaerin menatap wajah lelah Jiyong. Gadis itu meletakkan punggung tangannya di dahi Jiyong. “Kamu sakit? Oppa kelihatan lelah. Bekerja menjadi polisi memang melelahkan.”

“Tidak, hanya sedikit kecapekan. Aku membawa hadiah untuk Chaerin. Kau mau?” Jiyong mengangkat sebuah kantung berisi baju. Chaerin langsung mengangguk lalu menarik Jiyong ke ruang tamu, merayakan ulang tahun Chaerin bersama.

Mungkin, ini perayaan terakhir bagi Jiyong. Maka dari itu, dia tak ingin melewatkannya.

******

26 February 2007, 02.00AM

Mata Jiyong terbuka perlahan. Namja itu memandang ponselnya yang sedaritadi berbunyi tidak jelas. Baru tiga jam dia tidur setelah menemani Chaerin.

Yeoboseyo?” sapanya, penuh rasa kantuk.

“Jiyong! Penjahat itu hilang dari kejaranku! Apa kau tak merasakan sesuatu?!” teriak teman kerjanya. Mata Jiyong langsung terbelalak kaget. Benar, misinya sama sekali belum selesai!

“Kemana mereka pergi?” Jiyong buru-buru mengenakan seragamnya lalu bergerak ke pintu depan. Telepon ia jepitkan antara bahu dan kepalanya.

“Mereka ke kawasan rumahmu! Berhati-hatilah, mungkin dia mengincarmu!”

Jiyong tersentak kaget. Dia segera keluar dari rumah, tapi ia teringat sesuatu. Sesuatu yang harus diselamatkan secepat mungkin.

“Chaerin…!” jeritnya. Ia berlari ke lantai atas, lalu menarik Chaerin yang masih tidur di kamarnya. Gadis itu membuka matanya perlahan lalu memandang Jiyong dengan keadaan setengah sadar.

Oppa…? Wae…?”

“Tak ada waktu menjelaskan! Cepat ganti baju, lalu turun ke bawah! Kutunggu di mobil!” perintah Jiyong. Ia keluar dari kamar Chaerin, lalu menyiapkan pistol dan alat-alat yang ia perlukan. Setelah selesai, ia memasukkan peralatannya ke dalam mobilnya, lalu mengendarai mobil itu ke depan rumah. Chaerin muncul dari balik pintu, lalu masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru.

“Ada apa Oppa?”

“Nanti kau akan tahu!” seru Jiyong. Ia menginjak gas, dan segera mengarahkan mobilnya ke kantor kepolisian. Ia melirik ke arah belakangnya. Benar saja, sebuah mobil tak dikenal nampak mengikutinya.

“Chaerin, kenakan sabuk pengaman.”

Jiyong segera menginjak gas kembali, kali ini dengan kecepatan maksimal.

******

Police Department, 2.40AM

Jiyong memarkir mobilnya di depan lobi. dengan segera, ia membantu Chaerin keluar lalu mendorong gadis itu pada TOP—yang saat itu masih menjadi detektif polisi biasa, yang sudah menunggu di depan pintu.

Oppa…! Mau kemana…?” Chaerin menarik lengan baju Jiyong. Tatapannya penuh kekhawatiran, membuat Jiyong merasa tak tega meninggalkannya, tapi apa boleh buat.

“Disini aman Chaerin, kamu berada di tempat yang tepat!” Jiyong menggenggam kedua tangan Chaerin, memberikan ketenangan pada gadis itu. “Kamu akan terus aman disini, tidak ada yang meninggalkanmu!”

“Tapi—”

“Percaya padaku! Jangan kemana-mana, arasseo?” seru Jiyong, membuat Chaerin terdiam. Namja itu mengangguk pada TOP, lalu buru-buru menaiki mobilnya kembali. Meninggalkan Chaerin disana.

“… Memang tak ada yang meninggalkanku disini…” gumam Chaerin. Matanya tak lepas dari mobil Jiyong, yang sekarang sudah menjauh darinya.

“… Tapi kamulah yang pergi…”

******

Mobil Jiyong, rekannya, dan mobil organisasi buruan kepolisian saling kejar-mengejar di jalan raya. Jiyong mengendarai mobilnya sambil mengarahkan pistol ke arah mobil penjahat, tapi sayangnya tidak kena. Mobilnya juga memiliki beberapa bekas peluru tembakan.

“Jiyong! Kananmu!” seru rekannya. Sebuah peluru mengenai kepala rekannya, sehingga mobilnya berjalan dengan tidak wajar dan akhirnya menabrak pembatas jalan.

“REOOOO!!!” Jiyong mengendarai mobilnya dengan cepat, menyejajarkan posisi mobilnya dengan mobil organisasi itu. Ia mengarahkan pistolnya tepat ke kepala si supir, lalu menembaknya. Mobil berjalan dengan tidak wajar.

Baru saja Jiyong dapat bernafas lega, sebuah bantingan dari atas mobilnya membuatnya terkejut. Sebuah peluru melesat masuk dan sukses membuat bangku di sebelahnya berlubang.

“Masih ada lagi?” serunya, lalu mengintip lewat celah bekas peluru. Sebuah peluru lagi melesat tepat di depan matanya, membuatnya menyingkirkan kepalanya agar tidak kena.

“Sial…!” umpatnya. Ia mengambil pistolnya lalu menembak ke atas. Terdengar teriakan penjahat yang jatuh terpelanting ke belakang mobil, dan akhirnya terjatuh di jalan raya. Sepertinya pelurunya berhasil mengenai penjahat itu.

“Halo, Kwon Jiyong.” Terdengar sebuah bisikan yang membuat Jiyong merinding. Sebuah palu mendobrak masuk dari atap mobilnya diikuti seorang penjahat lagi, menatap Jiyong dengan tatapan nanarnya dan senyuman lebarnya.

“Tsk!” Jiyong mengarahkan peluru lagi, tapi pelurunya hanya menembus kaca belakang mobilnya. Dan berikutnya, giliran penjahat itu yang mengarahkan pistolnya. Pelurunya melewati Jiyong, tetapi berhasil menorehkan darah di pipi kirinya.

“Kau mau aku mati?” kekehnya. Jiyong menatap mata nanar yang tidak memiliki perasaan apapun yang tersirat di dalamnya itu. Yang ia rasakan, hanya perasaan yang membuat hati tidak enak.

Yaa! Jangan mengotori mobilku!” Jiyong menendang wajah penjahat itu, tapi tetap saja orang itu tak bergeming. Ia mencakar wajah Jiyong, membuat namja itu meringis kesakitan.

“Kalau kau ingin aku mati…” Penjahat itu mendorong Jiyong sampai menabrak kaca mobil, lalu menendang rem tangan, sehingga mobil yang sedang berjalan dengan kecepatan tinggi tiba-tiba saja berhenti dan terbalik. “Kita mati bersama!!!!”

Sekali lagi, Jiyong menatap mata itu. Mata yang gelap, mata yang begitu menyedihkan. Ekspresi yang begitu tersesat.

Pembohong…

Entah kenapa, suara Chaerin bergeming di kepalanya. Tepat sebelum mobil itu menyerempet pembatas jalan.

Maafkan aku… Akhirnya, aku harus meninggalkanmu sendirian lagi…

BRAKKKK!!!

******

Chaerin tiba-tiba menggigil. Udara memang dingin, tapi daritadi yang ia rasakan hanya udara yang menyentuh kulitnya.

Ada apa…?

Rasanya perasaan saat itu kembali lagi pada dirinya. Di saat Ayahnya menamparnya dan Ibunya mengatakan bahwa mereka tidak memerlukannya lagi. Saat rumah tangga itu berantakan dan satu-satunya pilihannya adalah hidup sendiri.

Ya, rasa kesepian pada saat itu lagi-lagi datang.

Yeoboseyo? … JINJJA!?” TOP yang sedaritadi mondar-mandir di lobi akhirnya menerima panggilan masuk dari rekannya. Chaerin langsung mengarahkan pandangannya ke arah TOP. Pandangan heran, sekaligus takut.

Ne, begitu kami datang keadaannya sudah begini.” Seru orang di telepon dengan keras. “Mobil Reo dan Jiyong sudah hancur parah. Mayat Reo sudah kami temukan tapi di dalam mobil Jiyong tidak ada siapa-siapa. Hanya darah segar yang tercecer.”

Tubuh Chaerin membeku seketika. Apa katanya…?

“Pembohong…” isaknya. Kakinya terasa amat lemas, sehingga ia jatuh ke lantai tanpa sadar. “… Kamu janji tidak akan meninggalkanku…” ia menggenggam tangannya yang bergetar dengan hebat. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Entahlah, perasaan sesak di dadanya terus menekan hebat sehingga kesedihan dalam dadanya terluapkan dalam setiap bulir air matanya.

Chaerin tidak ingin menangis. Tapi mengingat wajah Jiyong, yang bisa ia lakukan hanya menangis.

“Ayo ikut denganku. Siapa namamu?”

“Panggil aku Oppa!”

“Selamat ulang tahun, Chaerin…”

… Pembohong…

Flashback End

“Chaerin menjadi sangat pendiam sejak itu. Tapi aku tahu, walau sudah bertahun-tahun lewat, sampai aku berhasil menjadi inspektur, dia masih menunggu Jiyong. Dia masih menuruti perintah namja itu, dengan melakukan apa yang Jiyong katakan terakhir padanya.”

“… Apa?”

Jangan kemana-mana…”

“Ah… Itu sebabnya dia berlatih menjadi polisi disini? Setitik harapan di dalam hatinya mengatakan Jiyong pasti kembali.” Taeyang mengambil kesimpulan, lalu mengangguk. Akhirnya ia mengerti. Kesiapan mental Chaerin yang belum siap membuatnya menjadi dingin pada Jiyong. Gadis itu membenci Jiyong bukan karena sekedar rasa benci, melainkan rasa rindu yang tak bisa diungkapkannya. Ia marah karena Jiyong datang tanpa mengatakan maaf sekalipun padanya.

Tapi, Chaerin masih menunggu Jiyong. Ia berlatih di kepolisian ini demi mengasah kemampuannya, agar ia tidak menjadi gadis lemah. Agar di misi-misi Jiyong selanjutnya ia dapat mendampingi Jiyong. Tapi kedatangan Jiyong yang terlalu tiba-tiba, membuatnya malah tidak fokus. Membuatnya malah goyah, membuatnya belum siap.

“… Nah, terus, bagaimana Jiyong bisa kembali kesini?” tanya Taeyang lagi, baru sadar bahwa cerita TOP belum lengkap.

“Hah? Oh iya, benar juga. Jadi…”

Flashback

Rem tangan ditendang tiba-tiba oleh penjahat itu, membuat mobil terbalik. Dengan cepat, Jiyong membuka pintu disampingnya dan terguling keluar sebelum mobil menyerempet ke pembatas jalan. Sayangnya, penjahat itu juga mengikuti tindakan Jiyong.

BRAKKK!!!

“Hahaha… Kwon Jiyong,” ujar penjahat itu pelan. Mereka berdua terdampar di pinggir jalan raya, tak jauh dari mobil yang meledak. “Akan kuingat hal ini…”

Jiyong hanya dapat melihat dengan samar-samar. Tubuhnya penuh luka, membuatnya tak bisa bergerak. Tapi yang pasti, ia melihat penjahat itu berjalan, menjauhi dirinya.

Dan tak berapa lama, akhirnya kesadarannya menipis.

Flashback end

“Saat di hari itu, aku ke TKP langsung dan menemukan Jiyong disana. Dia terluka amat berat, sampai butuh waktu empat tahun untuk pemulihan. Ia bilang padaku agar memberitahukan semuanya bahwa dia telah mati, agar si penjahat itu tidak mengejarnya selama masa pemulihan berlangsung. Dan selama sisa waktu setahun, ia gunakan untuk mempelajari kembali tentang kepolisian.” TOP menutup cerita. Taeyang hanya bisa mengangguk. Ternyata selama ini TOP lah yang menyembunyikan Jiyong.

“Lalu, kalau begitu Jiyong sudah tahu tentang Chaerin yang bekerja di kepolisian?”

Ne, dia sudah tahu semuanya dan dia khawatir akan keadaan gadis itu. Tapi, dia masih tak mau menunjukkan dirinya sebelum saat yang tepat tiba.”

“Hmm…” Taeyang menganggukkan kepalanya, sekali lagi. Sepertinya dia mengerti akan kekhawatiran Jiyong. Dimana dia harus menyembunyikan dirinya, dan dimana dia khawatir akan keselamatan Chaerin. Makanya itu, dia menahan luapan perasaan rindunya saat pertama kali melihat Chaerin lagi.

“Nah, sudah kan ceritanya? Sekarang, cepat selesaikan tugasmu sebelum Jiyong dan Chaerin kembali ke hadapanku.” Perintah TOP, membuat Taeyang mencibir.

Wae, hyung? Istilahnya seperti aku anak buah yang tidak cepat mengerjakan misi saja.”

“Bukan istilahnya lagi, tapi kenyataannya begitu. Oh, Youngbae…” TOP masih membereskan berkas-berkas lama. Dan ia menemukan sebuah berkas yang menarik perhatiannya.

Nde? Ada perlu apa lagi, hyung?”

“Panggil Daesung kemari. Tanyakan, apa dia masih menyimpan informasi mengenai organisasi yang dikejar Jiyong lima tahun lalu?”

******

“Kau ngapain sih mengendarai cepat-cepat?” Chaerin melirik ke arah Jiyong yang mengendarai mobilnya sambil senyam-senyum. Rasanya aneh sekali.

“Proteksi.” Jawab Jiyong singkat. Chaerin menatapnya dengan tatapan heran.

“Untuk?”

“Proteksi.” Jawab Jiyong lagi, membuat Chaerin merasa kesal.

“Mengesalkan. Kalau memang mau selamat, jangan ngebut, babo.” Gerutunya. Jiyong tersenyum lebar mendengar perkataannya. Chaerin mungkin bukan Chaerin yang seperti anak kecil lagi, tapi dia senang karena gadis itu menunjukkan bahwa dia peduli padanya.

Mereka sedang dalam perjalanan menuju kepolisian. Lagi-lagi, Jiyong merasa seperti diikuti.

“Mereka lagi, ya?” bisiknya. Kemudian, ia menginjak gas, mengendarai mobilnya lebih cepat sehingga mobil-mobil lain tertinggal di belakang.

Yaa! Tak perlu buru-buru begitu!!”

“Sudah kubilang, ini proteksi~” seru Jiyong, sembari menurunkan kecepatannya. Ia kembali melirik kaca spion. Benar saja, ada satu mobil yang mengikuti kecepatan mobilnya dan sekarang jarak mereka tinggal beberapa meter saja.

******

Hyung, aku ada data informasinya. Ada apa?” Daesung dan Taeyang masuk ke dalam ruangan TOP sambil membawa sebuah dokumen. Ia menyerahkannya pada TOP, yang langsung membuka-buka dokumen tersebut.

“Hmm… Benar dugaanku. Sekarang, panggil Seungri, ada tugas dadakan.” TOP segera menutup dokumen dari Daesung lalu berdiri, mengambil pistolnya, dan membereskan jasnya yang agak berantakan.

Waeyo? Ada yang gawat?” tanya Daesung, dengan nada khawatir. Kalau TOP sampai bersiap-siap dengan cepat seperti itu, berarti memang ada yang gawat.

“Ya, ada yang gawat. Penjahat yang hampir membunuh Jiyong lima tahun lalu, masih ada. Nama organisasi yang sedang ditangani Jiyong sekarang sama dengan nama organisasi yang ditanganinya lima tahun lalu. Dan mungkin mereka sedang mengejarnya sekarang.”

Jinjjayo!?”

******

“Hei, hei, kita malah semakin jauh dari kepolisian!”

“Biar saja.” Jiyong masih fokus menyetir, sambil sesekali melirik ke kaca spion. “Ck, mereka cukup keras kepala juga ternyata. TOP hyung pasti tahu apa yang harus dilakukan.”

Mwo!? Memang kita sedang apa? Aku mau misi ini cepat selesai!” bentak Chaerin jengkel. Kelakuan namja ini makin aneh saja!

“Chaerin…” Jiyong melirik ke arah gadis di sebelahnya, yang masih memasang ekspresi tidak sabaran. “Biarkan aku melakukan ini, ya? Ini demi keselamatanmu.”

Chaerin yang mendengarnya langsung merasa jengkel setengah mati. Keselamatan apa? Dia sudah ditinggal selama lima tahun karena alasan itu. Dan sekarang namja ini melakukannya lagi? Apa sekarang pun dia akan ditinggal lagi?

“Kau mau apa? Aku sudah cukup bersabar. Kau selalu saja bilang demi aku, tapi sebenarnya kau tak mengerti perasaanku!” serunya, lalu mendorong rem tangan sampai mobil berhenti mendadak. Jiyong terkejut melihat kelakuan tiba-tiba gadis ini.

“Chaerin!”

“Pembohong!” jerit Chaerin, lalu membuka pintu mobil.

“Yaa! Chaerin!” serunya lagi. Tapi terlambat, Chaerin sudah melangkah keluar dan berlari meninggalkannya. Secercah rasa khawatir membuncah dalam diri Jiyong, lagi. Khawatir jika gadis itu menghilang. Khawatir jika gadis itu dalam bahaya, dan dia tak ada disana. Ia khawatir, selama lima tahun ini. Bukan hanya Chaerin saja yang merasakannya. Dia juga merasakannya.

Bagaimana kerinduan yang begitu dalam menyeruak dalam dirinya, meski mereka hanya melewatkan waktu bersama dalam waktu kurang dari dua bulan. Tapi detik-detik yang mereka lalui, adalah saat-saat berharga yang tak bisa dilepaskan begitu saja.

Lalu, jika dia sudah pergi begitu saja, pasti ada rasa menyesal dalam diri Jiyong. Ada perasaan yang menyesakkan dadanya, yang membuatnya sulit bernafas nantinya.

Ya, dia harus melindungi Chaerin, sekali lagi. Meski ia harus dibenci, tapi yang pasti gadis itu akan selamat.

“Tunggulah Chaerin, jangan kemana-mana.” Jiyong kembali menginjak gas, lalu menatap mobil di belakangnya. Ia sudah menduganya, karena jalanan sudah semakin sepi, maka sudah pasti baku tembak akan terjadi lagi kali ini. Sama seperti lima tahun lalu. Penjahat itu—penjahat bermata nanar itu muncul lagi. Menggenggam pistol, sembari menyeringai lebar.

“Sudah kuduga, kasus transaksi ini hanya umpan untuk memanggilku keluar.” Gumam Jiyong, lalu menggenggam erat pistolnya. Ia sudah siap menekan pelatuknya kapan saja, sambil tetap menggenggam kemudi setir. Untuk mengejar Chaerin.

“Halo, Kwon Jiyong.” Bisik penjahat itu, ia kembali menyeringai lebar.

“Akan kubalas dendam Reo.” Balas Jiyong, lalu menekan pelatuknya dan mengarahkan moncong pistolnya ke arah penjahat itu. Satu tembakan, tidak kena.

“Kau terlambat.” Terdengar lagi bisikan itu. Kali ini, peluru yang melesat ke arah Jiyong—bagaikan dejavu. Dan kali ini juga, dia bisa mengelak. Sebisa mungkin, Jiyong harus menggerakkan tubuhnya agar ia bisa menghindar. Ketepatan menembak penjahat itu sepertinya meningkat dari lima tahun lalu.

“Kwon Jiyong… Ada apa denganmu?” tanyanya nanar dari kejauhan. Mobilnya diserempetkan ke mobil Jiyong hingga mobil Jiyong terdorong ke pinggir.

“Tsk!” Jiyong berusaha mengendalikan setirnya lagi kali ini, lalu menembak dan menembak lagi. Tapi peluru itu terus-terusan bisa dielakkan. Sialan, apa kemampuan menembakku sudah berkurang? umpatnya.

“ADA APA KWON JIYONG? KEMAMPUANMU BERKURANG SETELAH LIMA TAHUN BERLALU!?” teriaknya ganas. Lagi-lagi, mobil penjahat itu ditabrakin kembali ke mobil Jiyong. “AKU TAHU KAU MASIH HIDUP! TAPI KAU AKAN HIDUP SIA-SIA KALAU BEGINI!”

“Hidupku sudah sia-sia.”

Mendadak, kepala Jiyong sakit. Belasan memori itu kembali ke dalam otaknya, mulai dari pertemuannya dengan Chaerin sampai ia harus meninggalkan gadis itu demi keselamatannya.

“Jingyo Oppa.”

Chaerin…

“Pembohong!”

Deg.

Ya, dia tahu semuanya salahnya. Tapi mau apalagi, semuanya sudah terjadi.

“Maaf, selamat tinggal.” Penjahat itu mengarahkan pistolnya tepat di pelipis Jiyong, membuat Jiyong sadar dari halusinasinya. Hanya dalam waktu sepersekian detik, peluru sudah melesat.

Dor!

******

“Chaerin! Kau sedang apa!?” TOP menghentikan mobilnya di tengah jalan. Ia menemukan Chaerin yang sedang berdiri di jalan raya dengan tatapan hampa, seperti sedang menunggu sesuatu.

“… Apa aku salah?” desah gadis itu pelan. Air mata mengalir dari pelupuk mata kecilnya.

“Salah tentang apa?” Seungri turun dari mobil, memperhatikan gadis itu yang masih memandang dengan tatapannya yang hampa, seperti gadis kecil yang kesepian.

“Apa aku salah meninggalkannya?” gumamnya lagi, sembari menatap jalan raya. Diujung sana, ada Jiyong. Jiyong yang ia tinggalkan. “Aku sudah meninggalkannya…”

TOP mengerti keadaan gadis ini. Dengan segera, ia turun dari mobil dan mengusap pelan punggung Chaerin. “Sekarang kau mengerti perasaan Jiyong saat itu. Dia merasa bersalah, sekaligus khawatir.” Ujar TOP, membuat Chaerin menengadahkan kepalanya. “Jadi, kita jemput Jiyong?”

Tanpa jawaban, Chaerin mengangguk. Ada sesuatu yang dia lupakan selama ini.

Bahwa selama ini, dia juga sudah berjanji.

******

Location, 18.35PM

“Kita terlambat…” Taeyang turun dari mobil, memandang pemandangan mengenaskan di depannya. Lagi-lagi, dua buah mobil tertabrak pembatas jalan dan berakhir terbalik.

“Seperti lima tahun lalu…” TOP merasa agak sesak melihat pemandangan di depannya untuk kedua kalinya. Dua orang yang sama, kejadian yang sama, dan luka yang sama. Tapi kali ini, dua-duanya tidak menghilang. Masing-masing terkapar di dalam mobil.

Tanpa berpikir lagi, kali ini Chaerin menggerakkan kakinya ke arah mobil Jiyong. Tak peduli seberapa banyak darah segar yang mengguyur tubuhnya malam itu, yang ia inginkan hanya memeluk Jiyong. Meminta maaf, karena dirinya telah meninggalkan Jiyong sendirian.

Kepala Jiyong terluka, membuat darah mengalir dari sana. Mata kecil Jiyong tertutup, dan bibirnya juga mengeluarkan darah. Chaerin merasa sangat bersalah. Dia tidak mau mendengarkan penjelasan Jiyong, lalu meninggalkannya. Suatu hal yang tak adil.

“Jiyong hyung sempat menembak perut penjahat itu beberapa detik sebelum peluru dari pistol penjahat mengenainya. Syukurlah, ia dapat menggerakkan kepalanya dengan cepat dalam waktu yang sangat pendek itu.” Daesung menatap penjahat yang tertiban mobilnya dengan pandangan iba. Bagaimanapun juga, orang itu sudah berusaha membunuh Jiyong dua kali. “Kalau seperti ini, menangkap sisa anggota organisasi itu juga mudah.”

“Jiyong…!” jerit Chaerin. Ia memeluk tubuh yang tidak berdaya itu dengan lemah. Dia memang belum kuat, meski ia berusaha untuk kuat. Ternyata memang sampai sekarang, dia masih membutuhkan perlindungan namja yang didekapnya itu.

“Hei… Jingyo oppa…” bisiknya. Sebulir air mata mengalir di pipi merahnya, membasahi bibir pucat Jiyong. “Mianhaeyo… Aku juga berbohong. Aku juga sudah melanggar janji kita.”

“Chaerin.” TOP menghampiri gadis itu, lalu menepuk pundaknya. “Kita bawa Jiyong ke rumah sakit sama-sama, ne?”

“… Ne.”

******

Seoul City Hospital Centre, 26 February 2012

Chaerin duduk di lobi rumah sakit. Sudah berapa hari sejak Jiyong koma? Entahlah, dia tidak menghitungnya. Rasanya seperti bertahun-tahun lewat, bahkan rasanya lebih menyakitkan daripada lima tahun ke belakang ini.

Belum dipastikan apa Jiyong masih sanggup bernafas lagi atau tidak. Itu yang membuatnya gelisah, dan hampir tidak ingin menggerakkan kakinya sejengkal pun dari rumah sakit. Dia ingin menunggu, sampai pemuda itu membuka kembali matanya.

“Chaerin-ah?” Taeyang berlari menghampiri Chaerin, mengatur nafasnya yang sesak karena terengah. “Sudah saatnya.”

“… Jinjjayo?” Chaerin langsung berdiri dari posisinya. Matanya membulat, tidak percaya. Apa akhirnya Jiyong—!?

******

Jiyong’s Room

Chaerin membuka pintu ruangan Jiyong perlahan. Taeyang tidak ikut dengannya karena sedang ada pekerjaan, dan sedaritadi ia sudah berkonsultasi dengan dokter. Sedangkan TOP, Daesung, dan Seungri, masih ada pekerjaan. Mereka akan datang nanti malam.

“Annyeonghaseyo.” Sapa Chaerin pelan. Ia menarik sebuah bangku ke samping ranjang Jiyong. Setelah bangkunya siap, ia duduk disana lalu menatap wajah Jiyong.

Rasanya bening, seperti malaikat. Cahaya matahari pagi ini menimpa wajahnya yang putih pucat. Sudah lama sekali sejak Chaerin tidak melihat wajah ini, wajah tertidur Jiyong.

“Bangunlah.” Bisiknya. “Kalau kau tidak bangun, kau akan kehilangan satu hari berharga.”

Hening.

“… Aku tahu hari ulang tahunku tidak berharga.” Chaerin hanya bisa cemberut. Lagipula, mau apa dia pada orang yang baru saja melewati masa-masa koma?

“Aku tidak akan bangun.” Tiba-tiba, terdengar suara bisikan dari bibir Jiyong. Mata namja itu terbuka perlahan, lalu menatap Chaerin—yang sudah mengeluarkan air mata. “Karena aku tidak memiliki hadiah untukmu.”

Chaerin tersenyum mendengar alasan Jiyong. Alasan bodoh, menurutnya. Sudah jelas namja ini sudah membuka matanya.

Yaa, dasarbabo.” Umpat Chaerin jengkel. Ia menatap dalam mata cokelat Jiyong lalu berujar, “Aku tidak perlu hadiah, karena aku sudah berumur 22 tahun sekarang. Kau sudah melanggar janjimu, kau meninggalkanku.” Katanya ketus.

Yaa! Bukankah kau juga melanggar janji itu? Sebelumnya kan kau sudah menyesal!” protes Jiyong. Ia mencibir pada Chaerin.

“Tapi kan…”

“Hmm… Baiklah, kalau begitu, ayo kita membuat janji baru.” Jiyong tersenyum simpul, lalu menarik lengan Chaerin sehingga posisi telinga kiri Chaerin berada di depan bibirnya.

“Aku berjanji, mulai sekarang akan selalu menjagamu. Menyayangimu, dan akan mengenakan cincin yang sama denganmu di jari manis, suatu saat nanti.”

Chaerin kembali tersenyum mendengarnya. Senyuman lebar, tepatnya. Pipinya kali ini bersemu merah, tidak seperti biasanya. “Kalau kau melanggar janji kali ini, berarti kau benar-benar jahat.” Katanya. Jiyong hanya tertawa kecil, lalu merengkuh gadis itu dalam pelukannya.

“Kita mulai dari awal lagi?”

“Ya, kita mulai dari awal lagi.”

Fin.

******

Saengil chukkae hamnida kakak iparku yang cantik jelita nan mempesona dan berkharisma dan imut dan dan dan tersayang!!!! Woohooooo *disko*

Ceritanya aneh? Iyasih emang aneh-_–v hayo dicommeeeent silent readers gaboleh bertebaran!

14 responses to “[Lee Chaerin Birthday Fic] Lies and Promises

    • jingyo oppa mah pantes jadi apa aja yang penting yang kecekece ya eonn :3
      dia sudah sembuh kok… ;;) oalaah nanti yaaa pas ultahnya jiyong oppa tersayang :3 jangan bosenbosen baca cerita skydragon dari aku ya eonn~ hohoho:$

    • Saking bosennya dirimu eonn.. tunggu ya, aku ngebut Your Secret Admirernya kok :’D
      Nanti aku mau bikin Skydragon lagi~ /tapikapan
      Gomawo readmennya eonnieee :*

  1. ASDFGHJKL QWERTYUIOP GADA KATA2 LAIN YANG BISA NGUNGKAPIN FF INI SELAIN DAEBAK!!!!!!!!

    Feelnya, pas adegan actionnya, kerasa banget ini dada deg-deg-deg-deg mode on(???)
    aduh terakhirnya bikin hauhaehuehuahauheuhueahay bangettttttt *speechless*

    aaaaaaa apalagi saya shipper beratnya Skydragon :*

    aduh udah selesai baca FF ini aja masih keinget tiga kalimat:

    “Pembohong!”

    “Selamat ulang tahun Chaerin-ah…”

    “Jingyo Oppa.”

    Huaaaaaaaaaa chingu tolong lebih banyak buat FF Skydragon lagi yaaa, yang genre nya romance2 getoh h3h3h333333(?)

    IM YOUR BIG FANS AUTHOR KIHYUKA! Tanpa FF mu aku galaaaaaaaau :’) *iklan banget-.- *

    • … Aku speechless baca komen ini.__. Soalnya ff-ffku masih banyak banget salahnya m(-__-m )

      Hiyeey terima kasiiih aku juga shipper hardcorenya Skydragon!!!😄

      Pastiiii!!!! Soalnya aku juga jarang nemu ff Skydragon yang bahasa Indo, jadi apa boleh buat, bikin sendiri deh щ(°͡▿▿▿▿▿▿°щ)͡

      Wah………. :O aku kembali speechless nih hehehe-__-v
      Makasih looooh hahahah XD:’D

      • Banyak bet salahnya apaan, ini tuh FF yang bisa bikin orang angkat jempol \m/
        Wuaaaaaa sesama Skydragon shipper ya^^

  2. kyaa..actionnya kental bgt d sini,suka deh*Thumbs up*
    pgn bs nulis ff action kyk gini,cm modal bwt ngebayangin adegan2nya msh minim..
    btw salam knal ya aq reader br d sini ^^

  3. Keren action nya bagus. Di kira akhinya bakan sdih dan penuh pnyesalan.
    Upz aku reader baru nih sist.

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s