[Lee Junho Birthday Fic] Love Letter

loveletter

Seoul Train Station

Seorang pemuda dengan tinggi lebih dari 175cm berjalan cepat ke arah sisi rel kereta. Orang-orang berlalu lalang di sekitarnya, ada juga yang berdiri di sebelahnya untuk melakukan hal yang sama. Ya, menunggu kereta. 

Sebuah kereta dengan delapan gerbong berhenti tepat di depannya. Setelah menunggu pintu antik kereta itu terbuka, ia masuk dan segera duduk di kursi bernomor yang ada di gerbong. Ia menatap keluar jendela, tanpa mempedulikan orang-orang yang lewat lagi.

Pikirannya melayang, mengingat bagaimana kakinya bisa melangkah sampai ke tempat itu. Semua ini ada alasannya. Dan alasan yang ia miliki adalah kertas yang sedaritadi ia genggam tanpa dilepaskan. Secarik kertas yang isinya selalu memenuhi pikirannya, yang selalu membuatnya bertanya-tanya.

Selama kereta berjalan, pikirannya hanya fokus pada satu arah. Ingin cepat sampai, cepat turun dari tempat itu, lalu mengejar bayangan gadis itu.

Jadi, awal mula kejadian ini dimulai dari dua bulan lalu, ketika namja itu merasa dunia di sekitarnya mulai menjadi hampa.

.

.

.

Aku melangkahkan kakiku ke pinggir jendela kelas. Meski semua orang bilang cuaca pagi ini bagus atau bagaimana, aku sama sekali tidak setuju. Mau cerah kek, mau hujan badai kek, mau petir menyambar kek, rasanya hari tetap begitu-begitu saja.

Nah, pernahkah kalian berpikir begini: Tiap hari hanya itu-itu saja yang dikerjakan. Makan, tidur, belajar, main komputer, jalan-jalan. Tidakkah kalian berpikir ingin melakukan sesuatu yang baru, yang membuat hidup kalian menjadi lebih seru?

Ya, itulah yang aku pikirkan dari dulu. Entah bagaimana caranya, tapi yang jelas aku muak dengan hidup yang membosankan begini.

Sampai hari itu…

***

Junho masuk ke dalam kamarnya dengan sebuah handuk kecil di kepalanya. Ia baru saja selesai mandi, setelah pulang dari toko buku. Sebenarnya ia tak yakin akan mendapatkan sesuatu yang baru dari tempat itu, tapi entah kenapa tangannya gatal untuk memborong majalah, seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari dalam sana.

“Baiklah, mari kita lihat…” ujarnya, lalu memandang satu persatu majalahnya. Mulai dari majalah anak gaul, sampai majalah murid-murid kutu buku cupu yang suka meringkuk di pojok ruangan, semuanya sukses ia beli.

Tangannya membuka satu persatu halaman tiap majalah yang tertumpuk di depannya. Sejauh ini tidak ada rubrik yang menarik. Sebenarnya mata dan tangannya sudah kecapekan, tapi entah kenapa ia terus bergerak sampai ia menemukan satu rubrik yang menarik perhatiannya.

“Mari surat-menyurat dengan teman dari daerah lain!”

Junho yang melihat judulnya sudah hampir tertawa keras. Apa-apaan itu? Apa masih jaman surat-menyurat dengan orang? Kesannya ini masih tahun 2000an awal, padahal sekarang dunia ini sudah modern. Kalau memang mau ngobrol, semua orang lebih memilih sms, telepon, atau chat messenger.

Tapi setelah berpikir ulang… Entah kenapa ini… Menarik.

Ya, nampaknya hal itu menarik.

Meski banyak disepelekan orang, tapi sepertinya akan menarik untuk melakukan ini.

“Siapa tahu aku bisa mengusili orang ini.” Gumam Junho. Ia lalu membuka halaman dibaliknya, melihat satu demi satu profile orang yang sedang mencari sahabat pena.

Lagi-lagi, Junho hampir tertawa dibuatnya.

Kebanyakan sepertinya orang yang memang kesepian dan butuh teman bicara. Junho tak terlalu mengerti, tapi wajah mereka seperti menyiratkan hal itu. Baru saja ia mau menutup buku, ia menemukan satu profile yang menarik.

Seorang gadis berambut panjang dengan warna merah yang tak terlalu menyala. Foto dan biodatanya terpampang disana. Kulitnya putih bersih, dan wajahnya mungil serta tatapan matanya teduh. Di foto itu, ada satu gadis lagi dengan rambut berwarna cokelat dan dikuncir kuda, terlihat lebih bersemangat dari si rambut merah.

Sebenarnya, Junho tertarik dengan kedua orang ini. Keduanya sama-sama cantik, dan tidak terlalu penting juga siapa yang nantinya akan bersurat-suratan dengannya.

Lim Miina

Nama yang indah.

Umurnya 17 tahun, sama seperti Junho saat itu. Hobi gadis itu menulis dan fotografi, dia juga suka menggambar dan olahraga. Tempat favoritnya adalah atap sekolah dan taman dengan pohon yang daunnya berwarna merah ataupun cokelat. Cukup melengkapi kategori sebagai seorang gadis yang menarik.

Jadi, apa pilihan Junho untuk selanjutnya?

***

Junho memandang lekat-lekat sebuah surat dengan amplop berwarna biru langit di dalam kotak pos rumahnya. Tertulis dengan rapi tulisan “Untuk Lee Junho-ssi” di sudut kanan amplop.

Junho hanya menganga saat melihat namanya. Jadi, benar-benar dibalas? Ini bukan sebuah candaan, kan?

Junho sendiri tak percaya dia melakukannya. Awalnya hanya untuk iseng-iseng karena dunianya terasa sudah mulai membosankan, tapi entah apa yang membawanya sampai ia berhasil menulis sebuah surat dan memasukkannya ke dalam kotak pos.

Dengan semangat level tinggi, Junho masuk ke dalam rumah sambil membawa amplop itu ke kamarnya. Dibuka baik-baik isinya, dan akhirnya ia mendapatkan secarik kertas yang dilipat.

Lee Junho-ssi, annyeong haseyo

Namaku Lim Miina. Terima kasih sudah mau mengirimkan surat padaku^^ aku tinggal di Busan, dan Junho-ssi di Seoul, ne? Aku juga ingin ke Seoul suatu saat nanti :D

Senang berkenalan denganmu :)

Miina

Junho tersenyum kecil membacanya. Gadis ini sepertinya adalah gadis yang lucu dan menyenangkan, dilihat dari gaya menulisnya, dan tulisannya yang rapi tapi tidak formal. Rasanya tidak sia-sia juga Junho mengirim surat padanya.

Entah kenapa ada secercah perasaan senang dalam lubuk hatinya, mungkin yang ia perlukan adalah teman baru yang bisa diajak bicara.

Dengan segera, Junho mengambil sebuah kertas kecil dan amplop yang berhasil ia temukan setelah mengacak-acak lemari peralatan eommanya. Diambilnya sebuah pulpen hitam, lalu mulai menulis balasannya.

“Junho? Kau sedang apa?” eomma Junho yang baru saja selesai mandi menatap keheranan anaknya yang asyik menulis di atas meja.

Junho hanya melirik sekilas, lalu kembali menulis. “Nulis surat.” Jawabnya, singkat.

Dia terlihat semangat hari itu, membuat eommanya tidak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum. Akhir-akhir ini Junho suka lesu dan lebih suka diam. Syukurlah semangatnya sudah kembali lagi dengan sendirinya.

Setelah puas melihat anaknya bersenandung ria, sang eomma pun berjalan meninggalkannya.

Untuk Lim Miina

Miina-ssi, bangapta :) omong-omong aku mau tanya dong, kau itu yang berambut merah atau yang berambut cokelat?

Jinjja? Kau ingin ke Seoul? Kalau begitu kunjungilah aku kapan-kapan

Yap, senang berkenalan denganmu juga

Junho

Junho tersenyum puas membaca surat darinya. Isinya idiot dan tidak penting memang, bahasanya juga tidak formal, tapi Junho tidak ada ide lagi untuk menulis balasannya. Tulisan Miina terlalu rapi untuk disandingkan dengan tulisannya yang acak-acakan, dan Junho tidak peduli tentang itu. Sebenarnya bisa saja ia meminta alamat email Miina untuk mempercepat obrolan. Tapi ternyata sensasi menunggu balasan surat sampai itu… Membuat hati deg-degan.

Membuat dirinya sedikit bahagia.

Jadi Junho memutuskan untuk tidak menanyakan hal yang satu itu.

***

Junho terlonjak melihat ada amplop baru di kotak postnya setelah menunggu empat hari. Sebenarnya banyak sih surat yang datang dari kemarin, tapi tak ada satupun yang beralamatkan padanya. Sejak dulu Junho tak pernah menulis surat pada siapapun, jadi ada rasa yang berbeda saat melakukan hal ini.

Dengan cepat, ia menyambar amplop surat itu dan akhirnya berlari ke dalam rumah. Ia membuka surat itu dengan tidak sabaran.

Untuk Lee Junho-ssi

Bangapseumnida^^

Aah, kau bingung ya? Aku yang berambut cokelat, yang berambut merah namanya Song Junri. Dia sahabatku dari kecil! Tubuhnya lebih lemah dariku, makanya dia agak sakit-sakitan :)

Ahahaha boleh, boleh. Kalau perlu sekalian traktir aku, ne? Dan aku mau minta fotomu dong, Junho-ssi. Sekarang giliranku melihat bagaimana rupamu^^

Miina

Junho kembali tersenyum membacanya. Ada ide jahil yang muncul di otaknya dan membuatnya segera berlari ke kamarnya, mengacak-acak laci, dan berhasil menemukan sebuah foto. Setelah itu, ia mengambil satu lagi kertas dan amplop lalu menggunakannya untuk menulis, lagi.

Untuk Lim Miina

Ooh, kau yang itu toh. Iya sih, kau nampak lebih kuat dan bersemangat. Cepat sembuh untuk temanmu ya :) aku titip salam!

Mwo? Mentraktir? Sayang sekali aku tidak punya uang sepeserpun sekarang ini.. Bagaimana kalau kau yang traktir? Sebagai bayaran karena aku telah mengantarmu keliling Seoul :P

Sesuai permintaanmu, inilah fotoku!

Tebak sendiri ya aku yang mana! Hahaha! :D

Junho

Junho terkekeh geli lalu segera keluar untuk memasukkan suratnya ke dalam kotak post yang ada di dekat rumahnya. Untung saja benda itu dekat sekali, kalau tidak, mungkin surat darinya baru akan sampai sebulan kemudian karena faktor malas.

Setelah memasukkan suratnya, ia bersenandung lalu berjalan pulang.

***

“Junho! Mau ikut ke karaoke nggak?”

Park Yeri—teman sekelas Junho—mendatangi Junho yang sedang membereskan bukunya ke dalam tas. Namja itu hanya melirik sekilas ke arahnya lalu kembali fokus membereskan barang-barangnya.

“Siapa saja yang ikut?” akhirnya, Junho membalas tatapan mata Yeri.

“Banyak! Aku, Junsu, Wooyoungie, Jieun, dan yang lainnya juga ikut. Wooyoung bilang dia ingin melakukan duet lagi denganmu, bahkan dia sudah mempersiapkan dance untuk dipersembahkan.” Yeri berbicara cepat dengan semangat. Gadis itu sampai melompat-lompat kecil di lantai.

“Hmm? Boleh. Tapi aku tidak mau bayar.”

“Heei jangan seenaknya saja. Bukankah kamu yang mengajak sebelumnya? Yasudah deh, nanti pasti semuanya juga bayar bareng-bareng. Kita senang-senang, oke?” Yeri langsung menarik tangan Junho tanpa menunggu jawaban dari namja itu lagi. Jika menunggu jawaban Junho, pemuda itu akan terus bertanya sampai ke detailnya, maka dari itu setiap kali mereka akan pergi Yeri langsung menarik tangan Junho tanpa permisi.

***

Karaoke, 05.30PM

“OOOH HEARTBEAT! LISTEN TO MY HEARTBEAT!!” Wooyoung memperagakan dance ‘Heartbeat’ dengan penuh semangat. Kakinya bergerak kesana kemari, dan rambutnya terkibas-kibas dengan erotis. Semuanya bertepuk tangan dan ikut menyemangati Wooyoung—kecuali Junho.

Junho hanya duduk di bangku karaoke dengan lemon icenya, menatap setiap makhluk yang daritadi menyanyi dan menari tanpa kenal lelah. Padahal Junho cukup capek melihat mereka bergerak kesana kemari tanpa henti. Mungkin karena perlombaan memutar kepala tadi masih membuat kepalanya pusing.

“Junho? Kau kelelahan?”

Junho menoleh ke arah sumber suara. Lee Minyoung—atau Min, salah satu teman sekelasnya, mendatanginya sembari tersenyum manis.

Ani. Hanya malas saja.” Jawab Junho. Ujung matanya melirik ke arah teman-temannya yang sekarang sibuk b-boying dan memutar-mutar kepala mereka di lantai. “Mereka kuat sekali. Aku saja langsung pusing begini.”

“Ahahah, begitulah stamina anak-anak kelas kita, tidak mudah dikalahkan begitu saja.” Min tertawa kecil melihat tingkah mereka. Seperti anak kecil, tapi malah lucu.

“Begitu ya? Iya, sih.” Junho ikut tertawa. Dilihatnya lagi teman-temannya yang masih berteriak dengan penuh kegembiraan. Sepertinya seru juga.

“Kamu mau ikut mereka?”

“Ehm.” Junho menjawab pertanyaan Min dengan sebuah anggukan, lalu berlari ke arah teman-temannya yang sekarang menyanyikan lagu ‘Haru Haru’ by BIGBANG. Tapi entah kenapa lagu yang sendu dan mendayu itu dijadikan lagu rock oleh mereka.

“Hei! Darimana saja kau? Pegang micnya! Kita lakukan duet!” seru Wooyoung, lalu mengajak Junho melakukan aksi dance duo saat bagian reff.

Yaa! Wooyoung, kenapa kau seenaknya mengubah koreografinya?!” protes Junho. Ia tidak terima koreografi yang ia buat selama tiga hari tiga malam sekarang jadi berbeda karena diubah-ubah oleh seorang Jang Wooyoung.

“Diamlah dan lihatlah! Kita battle, battle!” Wooyoung melompat-lompat kegirangan. Sekali lagi, ia melakukan spin head. Ya, saking gilanya mereka, sampai-sampai Haru Haru pun bisa jadi lagu disko.

“Ck! Kau tidak akan menang!” Junho menari dengan menunjukkan bokongnya yang mempesona pengunjung (?), membuat Wooyoung langsung terjungkal ke belakang. Perutnya sakit karena kebanyakan tertawa, karena itu ia jadi tidak sanggup menari lagi.

Min terkekeh geli melihat tingkah mereka Siapa lagi yang bisa bertingkah seperti orang dewasa tadinya lalu mendadak jadi konyol seperti itu? Ya, hanya Junho. Matanya tetap tertuju pada namja itu, sejak tadi.

“Min!”

Min tersentak. Junho sudah mengibas-ngibaskan tangannya ke arah gadis itu. “Ayo ikut kesini! Kita duet melawan Wooyoung, ne?” ajaknya, membuat sebuah senyuman lebar menghiasi wajah Min.

Ne!” Tanpa menunggu apa-apa lagi, Min langsung berlari ke tempat Junho, lalu menari dengan menonjolkan tubuhnya yang lentur. Junho juga ikut menari untuk menemaninya, sedangkan Wooyoung mengajak Junsu untuk menari dan bernyanyi bersama. Pada akhirnya, Junho dan Min lah yang menang. Sebagai hukuman, Wooyoung harus push-up sambil membacakan visi dan misi sekolah.

Untuk pertama kalinya, baru sekarang Junho merasa hidupnya lumayan menyenangkan.

******

Untuk Junho-ssi

Huwah aku tidak bisa menebak kamu yang manaaa >.< tapi kurasa kau akan tetap menanyakannya, ne? Menurutku, kau itu yang paling kiri. Benar tidak?

Menurutku kau cukup tampan, Junho-ssi. Hahaha itu hanya menurutku, lagipula tidak ada ciptaan Tuhan yang jelek :)

Kutunggu balasanmu secepatnya!

Miina

Untuk Miina

Aku terkejut, kau benar sekali! Bagaimana kau bisa tahu aku yang mana? Apa kau pernah melihatku sebelumnya?

Hmm tapi tetap saja aku yang paling tampan diantara keenam orang itu, kan? Ah tentu saja, tidak mungkin mereka menang dariku.

Tadi aku ke karaoke bareng teman, tidak kuduga jadinya malah sangat menyenangkan. Awalnya aku ikut kegiatan surat-menyurat ini hanya untuk menghilangkan kebosanan, tapi ternyata cukup menarik. Apalagi aku mendapat partner yang baik. Hehe^^

Kutunggu juga balasanmu!

Junho

Untuk Junho

Ng… Hanya insting? Soalnya dari suratmu, yang wajahnya pas dengan sifatmu adalah yang kupilih itu. Fotomu sudah kusimpan secara pribadi di dalam laci tempat aku menyimpan barang-barang kesayanganku.

Hehehe iya, kau yang paling tampan, Junho^^

Karaoke? Senangnyaaa. Aku lebih sering pergi dengan Junri, dia senang pergi ke karaoke meski tubuhnya sakit-sakitan. Dia memaksa menyanyikan nada tinggi meski keesokan harinya suaranya tak bisa keluar. Oh jadi begitukah? Syukurlah jika menurutmu aku menyenangkan^^ kamu boleh cerita apa saja padaku!

Miina

Lagi-lagi, Junho tersenyum setelah membaca suratnya. Sekarang Miina sudah tidak memanggilnya dengan “-ssi” lagi. Itu artinya mereka sudah menjadi lebih dekat dari sebelumnya, kan?

Untuk Miina

Wah terima kasih! Aku terharu^^

Apa benar begitu? Temanmu kasihan sekali. Penyakit apa yang dideritanya sampai bisa seperti itu? Ah, aku titip salam padanya ya. Tidak saling mengenal juga biar saja deh, yang pasti aku berharap dia cepat sembuh!

Junho

Untuk Junho

Junri tidak mau diperiksa dulu, dia masih ingin bersenang-senang sebelum akhirnya orang tuanya benar-benar mengirimnya ke rumah sakit. Jadi Junho jangan membuang-buang waktumu untuk mengeluh, ya? Karena kau sungguh beruntung mempunyai tubuh yang sehat :)

Dia bilang salam balik untuk Junho. Dia senang kau memperhatikannya dan baik padanya meski kalian belum pernah mengobrol^^

Miina

Junho tertegun membacanya. Sudah dua minggu lebih sejak ia mengawali kegiatan bersurat-suratan dengan Miina, dan sepertinya kali ini dia mendapat pelajaran penting.

Song Junri, walaupun Junho belum pernah berbicara dengannya, tapi sepertinya ia tidak selemah penampilannya. Ia merasa cukup bersalah juga sudah mengabaikan hidupnya yang sebenarnya. Entah kenapa, ia mendapatkan sedikit semangat hidup.

Untuk Miina

Rasanya aku mendapatkan semangat hidup setelah membaca suratmu yang sebelumnya. Bilang pada Junri, aku terinspirasi olehnya, terima kasih!^^ dan sebelumnya aku merasa sayang juga dia sakit-sakitan. Padahal dia cantik hahaha XP

Eh, tapi aku tidak memandang fisik kok. Junri gadis yang kuat, kalau aku ada disana pasti aku mau menjaganya

Junho

Setelah membaca ulang suratnya, entah kenapa Junho langsung tersipu malu. Apa-apaan sih isi suratnya ini? Cukup memalukan. Tidak, sangat memalukan. Tapi Junho sudah terlalu malas untuk menulis ulang, jadi biar saja isi suratnya apa adanya.

Tapi… kenapa dia khawatir, ya?

Dia khawatir bagaimana respon Junri setelahnya. Padahal ia tak pernah berbicara pada Junri, tapi kenapa hatinya lebih bahagia saat membicarakan gadis itu dengan Miina?

Junho langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Memangnya ada perasaan suka yang tumbuh hanya karena itu? Apa perasaan ini sama seperti ketika seorang fans jatuh cinta pada idolanya hanya karena melihat foto mereka? Konyol sekali! pikirnya.

Matanya melirik ke arah foto Miina dan Junri yang ada di majalah. Ia menatap sosok Junri yang mungil, dengan rambut merah panjangnya dan senyumnya yang lucu. Ya, ia tertarik pada gadis itu.

Kalau aku ada disana aku pasti mau menjaganya.

Junho terkekeh geli. Sepertinya itu bukan hanya omong kosong. Ia serius mengatakannya.

******

Samyang High School, Jam Istirahat

“Hei, hei, Min. Kau serius mau membawanya sendirian?” seorang teman sekelas menatap Min dengan pandangan khawatir.

Min sedang mengangkat setumpuk buku pelajaran yang seonsangnim titipkan padanya. Karena jabatannya sebagai ketua kelas, maka sudah pasti ia menerima pekerjaan semacam itu. Gadis itu hanya tersenyum.

Negwenchana. Aku sangat kuat, kok!” serunya, lalu membuka pintu dengan sebelah tangan dan membenarkan posisinya agar buku-bukunya tak berjatuhan. Tapi tetap saja, kakinya tersandung saat di koridor dan membuat tubuhnya oleng seketika.

“Aduh!” jeritnya panik. Kalau jatuh pasti akan merepotkan sekali!

Sebelum buku-bukunya jatuh, seseorang menangkap buku-buku itu, dan juga menangkap tubuh Min.

Gwenchanaeyo?” tanya orang itu, nadanya khawatir dan suaranya terdengar lembut. Wajah Min memerah, tak disangka yang menolongnya adalah Junho—namja yang disukainya. Pria itu tersenyum lalu membereskan buku-buku yang dibawa Min.

“Ah, Junho…” Junho mengulurkan tangannya untuk membantu Min berdiri. Dengan malu-malu, gadis itu berdiri. Wajahnya semakin panas. “Go—Gomawo.” Ujarnya.

Negwenchana. Ini mau dibawa kemana?” Junho mengangkat seluruh buku yang dibawa Min. Gadis yang ada di hadapannya langsung kelabakan.

“A—ah, ke kantor guru. Kemarikan bukunya, aku saja yang bawa…” ujarnya lirih.

“Tidak, tidak. Seorang namja membiarkan yeoja yang ia temui membawa barang berat itu bukan hal yang jantan, kan?” Junho tetap memandang lurus, terlihat lebih jantan dari biasanya, membuat pipi Min kembali merona. Ia senang Junho bersikap baik padanya.

Ya, ia jatuh cinta pada namja itu, sejak dulu. Sejak pertama kali mereka masuk SMU ini.

 

Ng… Jadi, untuk pembentukan panitia acara…”

Min gelisah menatap kelasnya. Teman-temannya tidak ada yang memperhatikannya, mereka sibuk bermain lempar-lemparan buku dan mengobrol; sedangkan sekarang tenggorokannya juga sedang sakit, mustahil untuk berteriak pada mereka. Kalau misalnya tenggorokannya tidak sakit, dia pasti mampu untuk mendapatkan perhatian teman-temannya.

Ng…” Min menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa dia harus berteriak? Tapi tenggorokannya akan makin sakit. “Hei—”

“HEI, KALIAN BISA DIAM TIDAK SIH?”

Semua mata tertuju pada namja yang tadi berteriak. Namja itu melipat tangannya di depan dada dan memasang ekspresi kesal. “Ketua kelas sedang menjelaskan sesuatu. Dia tidak bisa berteriak karena tenggorokannya sedang sakit. Jadi bisa tidak kalian memperhatikannya sebentar?!” bentaknya. Seluruh kelas diam, dan tanpa waktu lama mereka semua memandang ke arah Min.

Min terkesima melihatnya. Dia tersanjung, baru pertama kali ia melihat ada namja seperti itu.

Siapa namanya?

Oh iya…

Lee Junho.

***

“Junho-ssigomamseumnida.” Min tersenyum sembari mendatangi Junho yang sedang memakan bekalnya di meja. Namja itu menatapnya dengan mulut penuh roti.

“Unhuk?”

“Aah.. tadi kamu sudah menolongku. Oh iya, tahu darimana kalau aku sedang sakit tenggorokan?”

“… Uh. Hevenhar.” Junho langsung menelan rotinya, lalu membenarkan posisinya. “Soalnya kamu terus memegang lehermu dengan wajah kesakitan. Apa aku salah?”

Min yang mendengarnya hanya tersenyum geli, lalu menggeleng. Untuk pertama kalinya, wajahnya merona setelah berbicara dengan namja itu.

 

Oops!” Buku yang dibawa Junho hampir jatuh, dan dengan sigap Min langsung membantunya.

“Tuh, apa kubilang. Kita bawa setengah-setengah, ya?”

“Tidaaak! Aku yang bawa! Aku yang bawa semuanya!” pekik Junho, menarik buku-bukunya agar Min tidak bisa mengambilnya. Min hanya tertawa melihat tingkah Junho. Kekanakan, dan menggemaskan.

“Hmm? Kenapa kamu tertawa?”

Aniyo…” Min tersenyum kecil memandang tatapan bingung Junho. Perasaannya sedang sangat bahagia sekarang, dimana perhatian Junho hanya tertuju padanya.

“Yasudah, ayo?” Junho tersenyum pada Min, lalu berjalan pelan-pelan ke kantor. Min tetap berjalan di sampingnya. Menemaninya.

***

Untuk Junho

Aku membacanya dengan Junri. Dia hanya senyam-senyum dan bilang “terima kasih, Junho-ssi” padamu. Dia tersanjung karena kamu peduli padanya, benar-benar berterima kasih, sampai dia menangis karena terharu^^ dia memang cengeng hehe

Oh iya, sebagai tambahan, aku menyisipkan foto Junri yang kuambil tadi siang, saat istirahat^^

Ini! Silakan simpan sebagai kenang-kenangan!😄

Miina

Junho terpana melihatnya. Gadis yang sangat cantik. Junri juga kelihatan imut di situ. Bicara soal surat, sepertinya ada yang berbeda dari tulisan Miina, tapi sudahlah. Mungkin gadis itu terburu-buru saat menulis surat ini.

Dengan segera, Junho meletakkan foto Junri yang didapatnya ke dalam laci lemari kecilnya. Ia senang bisa mendapatkannya.

Untuk Miina

Terima kasih sudah memberikan aku foto Junri^^ dia sangat manis disitu. Tenang saja, aku sudah menyimpannya dengan baik, jadi kau tak perlu khawatir foto itu akan hilang atau semacamnya. Kuakui, dia memang sangat cantik :)

Apa dia mau kukirimi fotoku juga? Hahaha bercanda kok😄

Ternyata, ini menyenangkan. Aku bersyukur dapat berkirim surat denganmu, apalagi aku bisa mengenalmu dan Junri lebih dekat lagi. Sudah hampir sebulan, ya? Haha yasudah deh, kirimi aku lebih banyak foto lagi, ya! Yang kutau kau suka fotografi, kan?

Junho

Untuk Junho

Junri hanya tertawa membacanya. Dia bilang tidak perlu, karena dia sudah cukup senang untuk menyimpan foto yang kau kirim kemarin^^ dia sampai menyimpannya di dalam box putih tempat benda-benda yang ia cintai disimpan. Tidak apa kan kalau aku memberikan fotonya untuk dia?^^

Aaah, kau mau foto lagi? Maaf ya tidak bisa. Junriku terlalu mahal untuk dipublish, dan di foto terbaru ini dia benar-benar imut sampai kau ingin sekali memilikinya!😄 jadi tidak akan kuberikan untuk siapapun, ini simpanan rahasiaku bersama Junri :)

Kutunggu balasanmu!

Miina

Baiklah, sekali lagi, tulisan Miina agak sedikit berbeda. Tapi Junho mengabaikan hal itu lalu menatap foto yang diberikan Miina kemarin-kemarin. Foto Junri.

Junri. Lagi-lagi Junri.

Saat pertama melihat foto mereka berdua di majalah, yang Junho perhatikan pertama kali juga adalah Junri. Padahal Junho hanya pernah melihatnya di dalam foto, tapi debaran jantungnya sudah sampai seperti ini. Apa dia abnormal? Menyukai orang yang belum pernah ditemuinya?

Ah, pasti. Cinta itu memang tidak ada yang logis.

******

Junho meringkuk di halaman sekolahnya, tepatnya di halaman belakang. Suasananya sedang sangat pas dan mendukung untuk menulis surat balasan. Angin berdesir, menyentuh kulitnya yang putih, juga menggerakkan daun-daun kecil. Langit juga tidak cerah, tidak juga mendung.

Junho deg-degan harus bicara apa lagi ke Miina, apalagi dari kemarin mereka terus-terusan membahas tentang Junri.

Bagaimana dia harus menulis surat balasannya?

Untuk Miina

Tidak apa, aku senang Junri mau menyimpannya^^ ah benarkah? Istilahnya seperti aku orang yang berharga untuknya saja. Hahaha

Yak, sampai situ, Junho sudah sangat malu menulis balasannya. Apa-apaan ini? Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak malu untuk memuji Junri, ataupun bilang dia ingin menjaga Junri dan semacamnya. Tapi kenapa sekarang malah malu? Apa karena dia sudah sadar akan perasaannya?

Untuk yang kesekian kalinya, Junho menggeleng dengan cepat. Dia tidak berusaha untuk menepis perasaannya, hanya untuk menguatkan mentalnya saja.

Untuk Miina

Tidak apa, aku senang Junri mau menyimpannya^^ ah benarkah? Istilahnya seperti aku orang yang berharga untuknya saja. Hahaha

Apa benar dia sangat manis? Aku jadi ingin melihatnya, jadi jangan pelit, dong!

Ah, ingin memilikinya? Kurasa itu memang benar :)

Junho shyok membacanya. Apa-apaan tulisannya ini?

Dipukul kepalanya pelan. Yang benar saja. Apa ini yang selalu ingin ia katakan pada Miina? Sebenarnya, isinya benar-benar membuatnya malu. Entah kenapa tangannya bergerak sendiri saat menulis surat ini.

“… Ingin memilikinya…”

Junho tersentak kaget. Yeri sudah berdiri dengan wajah polos di belakangnya, dan tanpa rasa berdosa gadis itu membaca surat miliknya—yang membuat dia bertingkah seperti orang bodoh.

Yaa! Apa yang kau baca, hah?!” bentak Junho, lalu segera menyembunyikan suratnya di belakang punggung.

“Kau sedang menulis surat cinta?” Yeri senyam-senyum melihatnya. Ia menatap Junho yang sudah berkeringat dingin dengan tatapan jahil.

Aniyo! Jangan sok tahu, cepat pergi!” usir Junho, panik.

“Ceritakan saja padaku, Junho~ siapa orangnya? Apa yang kau tulis dan bagaimana kau akan memberikannya?” Pertanyaan Yeri makin menggebu-gebu, sedangkan Junho sudah menyeret badannya untuk menjauh dari Yeri. Semakin jauh, semakin baik.

“Tidak! Tidak ada! Sekarang kau cepat pergi dan tinggalkan aku sendiri!!” jerit Junho, tambah panik. Yeri hanya cemberut lalu pergi meninggalkannya.

Akhirnya, Junho dapat bernafas lega. Ditatapnya kembali si surat-pembawa-masalah itu dan langsung merobeknya, lalu memasukkannya ke dalam tong sampah tanpa berpikir dua kali. Ia sudah cukup kapok menulis surat di sekolah. Untung saja yang melihat hanya Yeri, kalau sampai Wooyoung dan teman-teman namjanya yang melihat, urusan bisa jadi runyam. Mereka semua lebih ember daripada tante-tante.

“Akan kutulis ulang. Yang normal. Yang isinya tidak macam-macam dan tidak mengundang kecurigaan publik.” Gumam Junho, lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Wajahnya masih terasa sangat panas, dan debaran jantungnya masih begitu cepat.

Padahal Junri tidak ada disitu. Tapi tetap saja, ia sudah setengah mati menulisnya.

***

Cooking Class, Samyang High School

“Apaan sih dia itu…” Yeri masuk ke dalam kelas memasak, lalu mengenakan celemeknya. Dia memang tidak jago memasak, bahkan tidak bisa. Tapi Min berjanji akan membantunya hari ini.

“Ada apa? Kau berkeringat.” Min menatap Yeri dengan tatapan heran. Tangannya masih sibuk mengaduk adonan kue. Menu hari ini adalah cupcakes, dan Min cukup pandai dalam membuatnya. Setelah adonan mengembang, ia meletakkannya di atas meja dan mengambil saus cokelat.

“Aku kabur dari Junho. Tadi dia menulis surat cinta untuk seseorang.”

Mendadak, saus cokelat yang Min pegang langsung tertekan begitu saja dan mengotori bajunya. Gadis itu terkejut, saking terkejutnya tangannya sampai hilang kendali. Untung saja adonan sudah ia letakkan di meja, kalau tidak adonan itulah yang akan jadi korban.

“Ada apa?” Giliran Yeri yang menatap Min. Agak terkejut juga tiba-tiba ada sebotol saus cokelat jatuh dan menggelinding ke dekat kakinya.

“Aish…” ringis Min. Yeoja itu mengambil tissue basah dan membersihkan bajunya sesegera mungkin. Hatinya masih gelisah, memikirkan Junho dan isi surat cinta yangnamja itu buat.

“Kau tidak hati-hati, sih!” omel Yeri. Gadis itu ikut mengambil tissue.

“Mianhae … Oh, tentang surat cinta itu… Tahu darimana?” Min melirik sekilas ke arah Yeri, yang sedang membantunya untuk membersihkan baju. Terdengar sekali dari nada pertanyaannya kalau dia penasaran.

“Tadi aku melihatnya sedang membuat surat dengan wajah memerah di halaman belakang. Begitu kubaca sedikit isinya, dia langsung panik.”

“… Begitu…” Min memainkan jarinya. Rasa gelisah sekaligus penasaran membuncah begitu saja dalam hatinya. Untuk siapa surat itu…? Mustahil bukan surat itu untuknya…?

“Ah, kamu menyukai Junho kan, Min?” Yeri menatap sahabatnya dengan senyuman yang sama jahilnya dengan yang ia tunjukkan di depan Junho.

Min, hanya menggigit bibir bawahnya dan menjawab pertanyaan Yeri dengan anggukan kecil. Pipi gadis itu merona, membuat dirinya tambah manis. Yeri tersenyum melihatnya.

“Nah, kalau begitu buatkan saja cupcakes untuk Junho. Siapa tahu kau orang yang dia sukai, kan? Apalagi memang gadis yang paling dekat dengannya itu hanya kamu!” Yeri memberi saran, sekaligus semangat.

“Ma—masa…?” tanya Min, lirih.

Ne, percaya padaku. Junho tidak dekat dengan banyak perempuan. Jadi mudah saja untuk menerka-nerka.”

“Tapi itu kan hanya terkaanmu… Yeri suka salah dalam menerka sesuatu.”

“Hei, kenapa tiba-tiba kamu menuduh aku macam-macam? Sudahlah, sekarang, buatkan cupcakes untuknya dengan curahkan seluruh perasaanmu dari hatimu yang paling dalam!”

Min merasa Yeri agak sedikit berlebihan, tapi ide untuk membuatkan Junho cupcakes ia rasa tidak buruk. Ia mengangguk sekali lagi, lalu menatap adonan yang tadi ia buat. Ia menelan ludah.

Haruskah dia membuatnya?

***

Class 1-A

“Baiklah semuanya! Truth orrrr dare!” Wooyoung memutar pensil yang dijadikan penunjuk untuk permainan truth or dare. Kali ini, dia dan semua anak lelaki di kelasnya sibuk bermain truth or dare sementara menunggu anak perempuan belajar tata boga.

“Tadi sudah dare! Sekarang kita lakukan truth! Pokoknya, siapapun yang dapat harus menjawab sejujur-jujurnya!” Anak laki-laki yang lain berteriak dengan semangat, sementara pensil masih terus berputar. Suasana chaos terjadi dimana semuanya saling tarik-menarik dan dorong-mendorong, berusaha agar tidak ditunjuk oleh sang pensil penentu nasib.

Pensil semakin bergerak dengan pelan. Dan akhirnya, benda itu berhenti. Menunjuk pada satu orang yang sekarang sudah memasang ekspresi terkejut.

“Yak! Junho lah yang mendapatkannya!!!” Entah kenapa, semuanya bertepuk tangan lalu menatap Junho.

“Yak, Tuan Lee Junho, kami disini ingin mendengar pengakuanmu. Siapa orang yang kau suka? Dimana orang itu? Dan jelaskan sedetail mungkin bagaimana orang itu.” Wooyoung memulai sebuah pertanyaan, dan pertanyaannya itu mendapat tanggapan positif dari anak lelaki yang lain. Semuanya sudah menatap Junho dengan tatapan penasaran.

“Errr… Haruskah aku mengatakannya di depan kalian?” tanya Junho, ragu. Sudah ia bilang sebelumnya kalau teman-temannya ini lebih ember dari tante penggosip sekalipun.

“Ya! Harus! Ayolah!!!”

“Kita sesama lelaki dapat mengerti perasaanmu, Junho.”

“Ya! Kami tidak akan membocorkannya pada siapapun. Kalau ada yang membocorkannya, Wooyoung sudah siap meminum susu cokelat satu ember penuh tanpa istirahat!”

Yaa! Kenapa selalu aku yang kalian korbankan!?” protes Wooyoung. Nada bicaranya terdengar kesal.

“Ehm… Baiklah. Karena itu tidak adil untuk Wooyoung, jadi aku memberikan dare untuk kalian semua. Kalau rahasiaku ini terbongkar, kalian semua harus berjalan sambil jongkok di lapangan sepuluh kali putaran, telanjang dada. Bagaimana?”

Wooyoung langsung mengangguk setuju. Dia tidak ingin menjalani sebuah hukuman sendirian sementara teman-temannya juga mengemban tanggung jawab yang sama.

“Baik, baik, kita anggap itu deal. Mulailah bercerita. Kalau sampai ceritamu tidak memuaskan, kau harus bungee jumping dari atap sekolah!”

“Sebenarnya, itu sama sekali tidak adil karena aku sudah menjalani truth.”

“Tapi kan—”

“Kalian mau aku bercerita atau tidak?”

“Huft… Baiklah. Memang susah adu mulut denganmu. Silahkan bercerita, Tuan.”

“Jadi…”

***

Min berjalan dengan riang sambil membawa nampan dengan dua buah cupcakes diatasnya. Yang satu berwarna putih dengan saus cokelat dan hiasan yang membuat cupcakes itu terlihat sangat yummy, dan juga satu lagi cupcakes berwarna cokelat dengan cream diatasnya. Bisa dibilang, cupcakes buatannya sempurna dari berbagai sudut.

Ia tiba di depan kelas. Ia ingin langsung memberikannya pada Junho, sebagai alasan karena Junho adalah namja paling normal di kelas itu, jadi cupcakesnya tidak akan diperlakukan semena-mena. Jika namja lain yang menerimanya, mereka akan berlomba memakan cupcakes itu dengan cara yang tidak bisa dibayangkan. Bisa dibilang, mereka semua itu abnormal.

“Jadi…”

Min tersentak. Sebelum tangannya sempat meraih kenop pintu, suara Junho sudah terdengar dari dalam.

Yeoja yang kusukai tinggal di Busan. Aku baru mengenalnya belum satu bulan, dan aku hanya pernah berbicara dengannya lewat surat. Jangan anggap aku anak cupu, karena aku melakukan korespondensi ini awalnya hanya untuk main-main. Tapi dia berhasil menarik hatiku walau hanya dengan foto. Badannya lemah dan sakit-sakitan, tapi dia punya semangat hidup. Aku terharu saat mengetahui hal itu, dan yang kupikirkan setiap saat adalah, aku ingin menjaganya. Kalian tentu mengerti perasaan seorang namja ketika dia merasa ingin melindungi seorang yeoja, kan?”

Semuanya diam. Para anak lelaki yang ada di dalam terkesima, sedangkan Min… Hanya diam.

Ya, hanya diam.

“Aku terharu saat mengetahui hal itu, dan yang kupikirkan setiap saat adalah, aku ingin menjaganya.”

“Kalian tentu mengerti perasaan seorang namja ketika dia merasa ingin melindungi seorang yeoja, kan?”

Min menggigit bibirnya. Ternyata memang, Junho memang tidak menyukainya. Dari awal dia sudah tahu, tapi secercah harapan dalam dirinya mengharapkan bahwa Junho juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Sebulir air mata mengalir di pipi merahnya. Dan tangannya lemas, sampai nampan yang berisi cupcakesnya jatuh, menyebabkan cupcakesnya rusak dan kotor.

Sama seperti perasaannya sekarang, cupcakes itu rusak begitu saja sebelum dapat diberikan.

“Kau hebat, Junho!” seluruh anak lelaki bertepuk tangan dengan riuh, menyebabkan suara nampan cupcakes Min yang jatuh tidak terdengar. Junho hanya tersenyum lalu memandang mereka semua dengan tatapan ingat-janji-kalian-atau-mati.

Ia terus tersenyum, sampai ia melihat sesosok bayangan di balik pintu kelas. Hatinya terusik ingin memastikan siapa yang ada disana, tapi niatnya ia urungkan karena sekarang Wooyoung sudah kembali memutar pensil.

***

Sore itu, hujan membasahi kota Seoul. Junho mendongakkan kepalanya dari pintu masuk gedung sekolah.

“Bagaimana aku pulang?” gumam namja itu. Entah kenapa feelingnya tadi pagi untuk membawa payung tidak ia hiraukan. dasar namja bodoh.

Min berjalan pelan melewati loker, matanya masih sembab. Tadi Yeri dan beberapa teman yang menemukannya sedang menangis di depan pintu kelas langsung menghiburnya dan memarahi anak lelaki di kelas kenapa mereka terlalu asyik bermain sampai tidak menghiraukan Min. Sebenarnya memang itu bukan salah mereka, tapi Min tidak bisa berkata apa-apa.

Ia tadi sempat melirik ke arah Junho. Namja itu menatapnya dengan tatapan khawatir, lalu menghampirinya dan bertanya “Ada apa? Maafkan kami.” Dengan penuh rasa bersalah. Ia tidak ingin namja itu minta maaf, walau perasaannya dirobek secara tidak langsung.

Min menatap sebungkus plastik yang daritadi ia genggam di tangan kanannya. Di dalam situ ada cupcakes yang ia buat untuk Junho, meski rusak dan berantakan, tapi rasanya sayang untuk membuangnya.

Setelah melewati lorong, ia mendapati namja itu—Junho, sedang berdiri sembari menatap cemas ke arah langit. Tangannya menyentuh tetesan-tetesan air hujan, mungkin karena bosan. Hampir semua murid sudah pulang, dan namja itu tinggal sendiri di depan pintu.

“Mau ikut?”

Min membuka lebar-lebar payungnya lalu memayungi Junho yang masih nampak setengah terkejut. Namja itu hanya tertawa kecil lalu mengangguk, dan akhirnya mengambil alih pegangan payung. Min masih sedikit tersipu, karena Junho masih bersikap gentleman—seperti biasanya. Tapi hal itu menyakitkan hatinya.

***

Junho dan Min berjalan menembus hujan, dengan masih ternaungi oleh payung biru milik Min. Keduanya hanya diam, enggan untuk memulai pembicaraan. Sampai Junho menatap mata sendu milik Min dan mengeluarkan suaranya.

“Tadi kamu kenapa?” tanyanya lirih. Min merasa sesak entah kenapa, mendengar suaranamjaitu—yang peduli padanya.

“Tidak ada apa-apa. Hanya sedih mendadak.” Jawab Min. Ya, alasan terkonyol yang pernah ia buat, tapi sudahlah.

“Lain kali kalau ada masalah, kau bisa cerita apapun padaku.” Junho mengulum senyumnya, dengan eye smile yang tetap mempesona dari matanya. Min tidak berani menatap wajah namja itu.

“Ah, kita sudah dekat rumahmu.” Tak terasa, kaki mereka sudah melangkah jauh ke depan rumah Min. Gadis itu memasang ekspresi heran, lalu memandang Junho.

“Kenapa kamu mengantarku pulang?” tanyanya, tidak sadar bahwa daritadi langkah mereka menuju ke rumahnya sendiri.

“Karena tidak mungkin kamu mengantarku pulang, ne? Kamu pasti lelah setelah sekolah seharian dan menangis.”

Min terdiam mendengar jawaban Junho. Ini tidak adil. Kenapa dia sudah menyukai seseorang, tapi dia masih bersikap sangat baik padaku?Aku tahu Junho sangat gentleman. Tapi kenapa dia berbuat sesuatu yang tanpa sadar malah membuatku semakin menyukainya?

Junho melangkah semakin jauh darinya. Sosok punggungnya yang angkuh membuatnya nampak sedikit lebih keren dari sebelumnya.

“Ju—Junho!” panggil Min, mendadak. Mulutnya seenaknya saja bergerak tanpa kendali.

Ne?” Junho membalikkan badannya yang kebasahan. Namja itu tersenyum manis pada Min.

“I—ini…” Min menjulurkan tangannya. Ia menggenggam erat payungnya. “Kau bisa mengembalikannya besok… Aku tidak mau kamu sakit.”

“Hm? Wah, gomawo , Min!” Junho segera berlari kembali ke tempat Min, lalu mengambil payung yang gadis itu sodorkan padanya. “Kamu memang selalu baik.” Katanya lagi.

Lagi-lagi, hati Min sakit mendengarnya. Meski begitu, ia mencoba supaya air matanya tidak berderai lagi kali ini, tapi sulit. “Ah, sekalian…” ia menyodorkan plastik yang berisi cupcakesnya tadi. Plastik itu menutupi wajahnya yang sudah penuh dengan air mata.

“Untukku?” Junho menatap isi plastik itu dan menemukan dua buah cupcakes di dalamnya. Agak hancur, tapi masih sangat kelihatan lezat untuk dimakan. Min hanya mengangguk tanpa suara. Junho merasa sedikit terharu, lalu tersenyum lebar dan mengambil plastik itu dari tangan Min—yang dengan cepat langsung membalikkan tubuhnya agar wajahnya tak terlihat.

“Terima kasih, aku senang kau memperhatikanku. Duluan ya!” Junho segera membuka payungnya, lalu beranjak pergi dari sana. Min hanya menolehkan kepalanya dan mendapati Junho yang masih tersenyum menatapnya, sembari melangkah jauh.

Syukurlah, air hujan ini menutupi air matanya yang terburai tanpa sebab.

***

Untuk Junho

Hari ini aku dapat mencium wangi bunga semerbak di kamar rumah sakit milik Junri. Rumah sakitnya rumah sakit pusat, jadi fasilitasnya bagus!^^

Dia sudah mulai perawatan sekarang, penyakitnya belum pasti. Doakan untuk kesembuhannya, ya?

Terima kasih sudah menemani aku dan Junri selama dua bulan ini. Kami senang mempunyai teman baru sepertimu^^

Miina

Junho duduk di atas sofa putih kamarnya. Masih membaca berulang-ulang surat yang ia terima pagi ini. Jadi, Junri sudah diputuskan akan menjalani pengobatan, dan akhirnya ia harus masuk rumah sakit. Sepertinya akan sangat berat untuk gadis itu menjalaninya.

Sekarang, Junri sudah memberanikan diri untuk masuk rumah sakit. Sebelumnya, Miina pernah memberitahunya kalau Junri tidak suka rumah sakit. Tapi gadis itu menguatkan dirinya dan masuk rumah sakit atas keinginannya sendiri.

Jadi, kenapa Junho takut mengambil langkah ini?

Ya, langkah ini. Menyatakan perasaannya.

Untuk Miina dan Junri

Junri, kudoakan kamu sehat selalu :) aku benar-benar berharap aku dapat menemanimu disana. Cepatlah sehat, lalu datang ke Seoul. Aku akan membawamu mengelilingi Seoul dengan Miina. Dan aku janji, kalian berdua yang akan kutraktir.

Musim dingin masih berjalan, tapi entah kenapa Seoul sudah mulai hujan. Mungkin pertanda musim semi? Hahaha. Semoga kamu cepat sehat :)

Junri, maafkan aku mengejutkanmu atau mengganggumu di saat kamu sedang menjalani pengobatan. Tapi izinkan aku mengatakan ini.

Aku mencintaimu.

Junho

***

Two weeks after that day, 25 January 2012

Sudah dua minggu tidak ada surat balasan. Ya, Junho tahu keputusannya itu fatal dan terlalu mendadak, tapi mau apalagi, ia sudah terlanjur mengatakannya pada Junri.

Ia melangkahkan kakinya di atas tanah bersalju, menatap ke bawah dengan tatapan sendu. Ia ingin masuk ke dalam rumahnya, tetapi kotak pos hari ini menyita perhatiannya. Entah kenapa ia merasakan ada suatu benda di dalam kotak pos itu.

Ia melongo ke dalam sana. Sebuah surat nganggur terselip di dalamnya, membuat ia terlonjak saking kagetnya. Dengan semangat, ia menarik surat itu dan menatap lekat-lekat nama yang tertera di surat.

Gagal. Nama Ayahnya.

Ia mendesah kesal, lalu memasukkan surat itu ke dalam kantong jaketnya untuk dibawa masuk. Namun tak berapa lama kemudian, seorang postman datang dan membawa sebuah surat ke hadapan Junho.

“Ini.” Kata petugas post itu, lalu berlalu dengan cepat. Udara dingin begitu memang menyebabkan orang ingin cepat menyelesaikan tugas.

Junho kembali menatap surat itu. Dan tulisan kecil “untuk Lee Junho” di amplopnya membuatnya yakin itu surat dari Miina, dan Junri. Dengan segera, ia masuk ke dalam dan langsung membuka amplopnya tanpa mengganti baju.

Untuk Junho

Maaf sudah menipumu

Aku juga mencintaimu

– Lim Miina

Junho terdiam seribu bahasa. Apa maksudnya? Bukankah ia menyatakan cintanya untuk Junri? Kenapa jadi Miina yang membalasnya?

***

Min menatap kalender yang terpajang di depan sebuah toko. Tanggal 25 Januari, ia sangat ingat kalau hari ini adalah ulang tahun Junho. Tadi di kelas, semuanya sudah merayakannya besar-besaran tapi pemuda itu nampak tak terlalu senang.

Sekelebat, angin berhembus di belakang Min. Ia menatap sesosok namja yang tadi membuat jubah musim dingin yang ia pakai terbang kemana-mana, lalu memastikan satu hal yang membuatnya agak terkejut.

Namja itu Lee Junho.

***

Stasiun Kereta Seoul

Min berlari mengejar Junho, dan menemukan namja itu membeli tiket dengan terburu-buru. Entah kemana tujuannya, tapi Min tetap terus mengikutinya.

Dan disinilah ia, berdiri menatap Junho yang sedang mengantri menunggu giliran masuk. Sebelum Junho sempat masuk kesana, Min sudah menarik tangan namja itu dengan nafas yang masih terengah-engah.

“Kamu mau kemana?” tanya Min, lirih. Junho menatapnya dengan tatapan yang sulit dibayangkan. Ia sudah hampir menangis.

“Akan kuceritakan setelahnya, maaf Min, aku sedang buru-buru.” Junho segera lari memasuki peron, meninggalkan Min yang masih terengah di belakangnya.

Maaf, tapi aku harus segera pergi.

.

.

.

“Busan, Busan. Para penumpang yang ingin turun di Busan, harap mempersiapkan barang bawaan anda…”

Junho membuka matanya. Entah kenapa ia bisa tertidur di saat seperti ini. Sepertinya akibat kelelahan. Tanpa menunggu lagi, namja itu melompat dari kursinya dan berlari turun. Ia segera menuju ke rumah sakit pusat di Busan, mengingat Miina pernah berkata bahwa Junri dirawat di rumah sakit Busan.

***

Busan Hospital Center

Junho berlari tanpa kenal arah, setelah bertanya cepat pada resepsionis. Tapi entah kenapa, si resepsionis malah bingung dan mengatakan tidak ada pasien bernama Song Junri. Itu sungguh aneh.

Dengan mengikuti instingnya, ia sampai di depan sebuah ruangan Ada sesosok gadis yang duduk di depan ruangan dengan ekspresi khawatir. Rambutnya cokelat, jadi Junho bisa menyimpulkan bahwa itu Miina.

“Miina!” teriak Junho. Ia menghampiri gadis yang tengah memasang ekspresi terkejut itu.

“Ju—Junho…” ujar gadis itu lirih. Mata Junho menatap papan nama di depan pintu ruangan itu.

Lim Miina.

Hah? Apa maksudnya?

“Ah, sepertinya aku harus menjelaskan semuanya padamu.”

***

“Namaku Song Junri. Aku sering membaca surat yang kau kirim dengan Miina. Miina tidak ingin kau tahu kalau dia orang yang penyakitan, maka dia berpura-pura menjadi aku. Selama ini, orang yang kau sebut dengan ‘Junri’ adalah ‘Miina’ dan ‘Miina’ adalah ‘Junri’.” Gadis berambut cokelat itu—Song Junri, menatap ke bawah dengan penuh rasa bersalah. Sedangkan Junho hanya bisa diam mendengarkan.

“Tapi percayalah, dia serius ingin berteman denganmu. Dia menjadi sangat bersemangat ketika suratmu sampai, dan saking senangnya ia sering menyuruhku untuk membantunya menulis surat balasan. Dia begitu menyukaimu.”

Junho masih diam. Ia mencoba meresapi dalam-dalam setiap untaian kata Junri.

“Kau mencintainya?” sebuah pertanyaan dari Junri membuat Junho tertohok. Ya, dia jelas mencintai gadis itu.

Junho hanya mengangguk. Junri tersenyum melihat pemuda yang jujur itu, lalu menatap dalam-dalam mata Junho. “Maafkan Miina… Dan maafkan aku juga. Kami berdua tak bermaksud menipumu.”

Junho tertegun. Ia menatap seisi ruangan yang dulunya Miina tinggali sebagai tempatnya di rumah sakit ini. Harum yang sering ia rasakan ketika membaca surat dari gadis itu tercium sangat jelas di ruangan ini. Wangi yang lembut dan menenangkan.

Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Air mata terlalu banyak yang menumpuk di pelupuk matanya, dan dadanya sudah terlalu sesak untuk bicara. Yang ia bisa hanya menatap Junri yang terus berusaha menjelaskan semuanya padanya dengan diselingi tangisan yang semakin deras.

Tadi malam, tepat jam 00.00, Miina menghembuskan nafas terakhirnya.

Dan Junri datang kembali kesini, untuk mengenang Miina. Tak ia sangka bahwa Junho langsung datang begitu mendapat surat dari Miina.

“… Iya, aku mencintainya.” Gumam Junho. Junri hanya menunduk, lalu memberikan Junho sebuah album yang sangat tebal.

“Untukmu.” Katanya. “Bukalah.”

Dengan ragu, Junho membuka isinya dan menemukan foto Miina. Semuanya foto Miina, entah apa yang dilakukan gadis itu. Ketika ia menangis, tersenyum, tertawa, cemberut, semuanya ada disana. Kali ini, air mata Junho keluar perlahan dari pelupuk matanya.

Dan foto terakhir membuatnya sesak. Miina, dengan kepalanya yang dibungkus dengan kain, duduk di atas ranjang rumah sakit dengan tawanya yang lebar. Gadis itu menggenggam sebuah foto, yang Junho kenali sebagai foto yang ia kirim.

“… Ekspresinya hidup…” Junho bergumam lagi. Ia menggenggam erat album itu dalam pelukannya, dengan dihiasi air matanya. Benda berharga untuknya, semakin bertambah.

“… Ya…”

***

Seoul Train Station

Junho turun dari kereta. Malam itu juga, ia pulang-pergi Seoul-Busan. Di pelukannya masih terus ada, album foto pemberian Junri untuknya. Sedangkan Junri sendiri, sampai Junho pulang pun, gadis itu masih terus berdiam diri di ruangan Miina. Menatap keluar jendela dengan tatapan rindu.

Mata Junho sembab setelah menangis. Langkahnya gontai sampai ia menemukan Min—dengan pakaian yang masih sama, berdiri di hadapannya dengan wajah khawatir.

Ya. Gadis itu menunggunya.

“Darimana saja?” tanya Min pelan. Yeoja itu menggigil kedinginan, tapi masih bisa menunggu Junho sampai larut malam.

Entah kenapa, Junho merasa bersyukur Min disini. Dengan tubuhnya yang mungil, gadis itu masih sanggup berdiri menatap setiap kereta yang lewat, hanya untuk menunggu dirinya. Namja itu mendekat ke arah Min dan meletakkan kepalanya di bahu gadis itu. “… Terima kasih sudah datang kesini.” Ujarnya.

Dan kembali lagi, air matanya tumpah.

Cheonmaneyo…” Min mengangkat tangan mungilnya, lalu mengusap pelan kepala Junho.

***

6 years later

Sebuah makam di bawah pepohonan rimbun tertimpa cahaya matahari, membuat makam itu malah terlihat indah. Seorang gadis dengan rambut cokelatnya yang pendek meletakkan karangan bunga di makam itu.

“Halo, Miina. Apa kabarmu disana?” bisik gadis itu pelan. Ia tersenyum menatap makam berukirkan nama “Lim Miina” di depannya. “Sudah enam tahun berlalu. Apa kamu sehat-sehat saja? Sebentar lagi pasangan bodoh itu akan datang. Aku tahu kamu ingin sekali bertemu dengan gadis bernama Lee Minyoung itu, ne?”

“Ah, Junri!”

Gadis berambut cokelat itu menolehkan kepalanya, dan ia tersenyum lebar mendapati sesosok namja berjalan ke arahnya, dengan diikuti seorang yeoja lagi di belakangnya.

“Junho, kau bilang akan datang jam delapan tepat?” gadis itu—Song Junri, bangkit dari posisinya dan menghampiri dua orang yang sekarang tepat berada di hadapannya.

“Maaf, Junho terlalu lama memilih karangan bunga.” Gadis di sebelah Junho—Min, menunduk dengan wajah menyesal. Ia melirik kesal ke arah namjachingu di sebelahnya yang hanya senyam-senyum.

“Kau cepat sekali datangnya, Junri. Aku membawakan bunga beraroma sama dengan Miina. Cantik, kan?”

“Terus kenapa? Telat sama saja telat!”

Buk!

“Aduh! Jangan pukul aku, dong!”

“Junho berhak mendapat hukuman!”

… Dan di atas sana, seorang gadis manis dengan rambutnya yang merah, hanya tersenyum menatap tingkah mereka bertiga.

fin.

******

Ini dibikinnya dengan modal sok tau. Dan ada ide dadakan seperti kemunculan Min misalnya… /selaludadakan

Mind to review?

5 responses to “[Lee Junho Birthday Fic] Love Letter

  1. Oke saeng saya menangis lagi baca fanficmu T.T

    Pada akhirnya Junho sama Min juga T.T

    Saeng diksimu aduhai~ banget(?). Junho kasihan banget sih jadi cowok. Cewek yang disukainya malah meninggal T T

    Dan Min juga. Dia nungguin Junho?! Astaga.. cinta itu gila #what

    Dan kirain Junho tetap sama Miina^^

    Oke~ rajin-rajinlah buat fanfic tentang namja ku ini (?) yaaa😀

    • Waah jangan nangis eonn :O

      Iya, kentara JunMin shippernya ternyata tak bisa dilepas :’)

      Hehehe makasih eonn itu baruuu banget belajar😄 iya, ide ceritanya sebenernya udah lama cuma ini aku kembangin aja biar lebih panjang^^

      Itulah namanya cinta yang bener-bener cinta :’) *ikutan terharu*

      Eeehhh ehehehe tunggu aja eonn, pasti bakal jadinya lama banget soalnya._.

  2. O! Jadi beneran ini si Miina meninggal *ikutan nyedot ingus* /srooot.
    Sedih ih. Tapi beneran deh ini ff kompleks banget. Dari awal saia suka idenya, suka bangeeet. Dulu saia punya sahabat pena soalnya, tapi cewek sih. Baca ini jadi ikutan nostalgia, tapi pas di tengah, pas si Junho beneran jatuh cinta sama Junri (bener gak ini namanya) /pikun. Jadi keinget cerita temen saia, dulu ada temen sekelas yang punya pengalaman mirip nih. Gegara nipu temen cowok di kelas saia, dng ngirim surat cinta tapi malsuin nama, eh sekarang mereka beneran jadian deh, si cowoknya beneran fall in love sama sang pengirim haha. Beneran cinlok. LOL.
    Mirip kae Junho nih. Saia puas banget baca yang ini. Masalahnya banyak, terus digodok jadi satu. LOL. Yang asyik-asyiknya juga ada, yang pas karaokean itu, astagah… saia jadi keinget Wild Bunny ep 1. Karaoke gila ala 2PM #troll.
    Di sisi lain, saia suka kegigihan Min juga lho. Jarang digambarkan ada cewek kae gini, ya kalau di k-drama gitu sering, tapi ff biasanya paling karakter yang bengis (cewek antagonis), tapi di sini beda. Ada Min yang sebenernya suka Junho, terus Junho gak suka, tapi Min tetep baik. Bagus. Oya, tapi buat saran, er… buat kata-kata asingnya, sebagian kamu kasih italic, terus sebagian nggak, terutama yang main ‘truth or dare’ itu, saia kira awalnya ‘dare’ itu dibaca dng aksen Indo /doh. Ternyata maksudnya ‘dare’ sama ‘truth’ toh.

    • Iya, beneran meninggal T.T ohya? Ide dasarnya ini entah muncul darimana loh, tapi yang jelas aku dulu gabisa bikin novel/cerpen. Aku cuma suka bikin komik, dan aku pernah coba bikin sketsa awal cerita tentang surat-menyurat ini=w=
      Iyakah? :O cinlok, cinta tuh bisa muncul dengan cara apapun lol-_-
      Minnnn! Iya, aku sendiri garela dia jadi tokoh antagonis-_- syukur deh..
      Lollll! Itu karaoke a la 2PM banget xD 2PM itu gabisa kalo garusuh memang..
      Oh, ini termasuk ff jaman dulu sih eonn, jadi masih kurang beraturan._. Gapapa sih kalo ngomongnya dare karena woo sendiri gaterlalu bagus bahasa inggrisnya-__- /digulung/
      Makasih udah baca karya abal iniii :’D

  3. Salam kenal author
    Ini ff ketiga author yg aku bc
    Semuanya menyentuh hati
    Makasih ya thor
    Udah bikin ff yg bagus n membuat readers seperti aku puas
    Setelah lelah memilih milih ff
    Ternyata pilihanku tepat membaca ff author
    #bkn ngegombal thor
    Aku akan bc semua ff authooor n insaallah akan meninggalkan jejak
    Khamsahamnida

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s