The 3rd Dimension (1 of ?)

the3rddimension

SO YOU THINK YOU CAN BEAT ME IN THIS GAME?

WELL THEN… JUST TRY AND CHASE ME IF YOU CAN!

Chapter 1: The Book 

Jinyoung, CNU, Sandeul, Baro, dan Gongchan memiliki klub sendiri yang dibangun berdasarkan ide sendiri, klub skateboard. Dengan diketuai Jinyoung, mereka melakukan latihan bersama-sama. Mereka menyebut klubnya itu sebagai “B1A4″.

Hari ini ada yang berbeda. Pemuda bernama Cha Sunwoo, atau Baro, masuk ke dalam ruangan klub yang merupakan ruangan yang tidak terpakai dengan wajah yang amat bersemangat.

AnnyeongAnnyeong!” serunya, lalu melompat-lompat ke atas kursi.

“Hei~” Jinyoung melambaikan tangannya pada Baro dengan malas-malasan. Tubuhnya ia sandarkan di atas sofa cokelat yang sudah agak rusak.

“Hei hyung! Sandeulie! Gongchanie! Lihat apa yang aku bawa!” Baro mengeluarkan sebuah buku tua bersampul hitam yang sudah usang dari tasnya. Wajahnya nampak sumringah. “Lihat deh, aku baru ingat appaku memberikan ini waktu kecil!”

“Apa ini? Album?” tanya Jinyoung. Ia membolak-balikkan album yang Baro letakkan di atas meja. “Ini diberikan mendiang appamu? Unik juga seleranya.”

“Ya. Dia menyuruhku untuk masuk ke dalam situ kalau suatu hari menemukan buku ini.” Kata Baro, membuat semuanya memasang ekspresi bingung.

“Masuk? Maksudnya? Ini bukan buku biasa?” Gongchan, si maknae yang lahir paling terakhir, menyentuh buku itu. Tapi saat ia baru mau membuka halaman pertamanya, Baro dengan cepat langsung menghentikan gerakannya.

“Stop! Aaah kau ini, jangan sembarangan bebegitu. Dengar deh, ini buku petualangan, kita akan berpetualangan di dunia lain. Kata appa dulu dia masuk ke dalam sini dengan teman-temannya, tapi sebelum bisa mencapai finish, mereka semua sudah kalah dan kembali ke dunia ini lagi. Kata appa sih dia sudah tak mungkin kembali lagi kedalam sini, hanya bisa sekali.” Jelas Baro sambil mengangkat buku scrap book itu tinggi-tinggi.

“Ah, bohongan kali, kau ini bisa saja. Apa itu bukan cerita karangan biasa untuk membuat anaknya yang saat itu masih berumur enam tahun untuk berkhayal lebih dalam?” Sandeul berkata dengan nada meremehkan, ekspresinya nampak tidak percaya. “Coba deh kau buktikan, buka bukunya!” perintahnya.

Huh? Jangan dulu, sekali halamannya terbuka, berarti petualangan dimulai! Jangan bicara dengan nada yang menyebalkan bebegitu dong Sandeulie, itu namanya kau tidak percaya padaku. Ayolah, appa bilang terakhirnya ada kejutan yang tak pernah kita bayangkan!” seru Baro, semangat.

“Baro, jangan, terlalu berbahaya. Bagaimana kalau beresiko? Aku tidak mau kalian kenapa-napa, apa lagi sampai aku harus bertanggung jawab nantinya. Aku harus bilang apa pada appaeomma kalian nanti?” larang Jinyoung—sang leader, dengan nada khawatir. Ia sedang membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.

“Aku pulang duluan ya, jangan macam-macam selama aku tak ada, lho! Kalau sampai ada apa-apa, kalian akan terima hukuman dariku tanpa ampun!” ancamnya, lalu segera berlalu pergi.

Blam!

“Ah, biarkan saja hyung. Dia tidak akan mungkin bisa menghukum kita, dia kan terlalu baik hati. Ayo ayo, kita masuk!” Setelah menunggu suara langkah kaki Jinyoung tak terdengar lagi, ia kembali memaksa dua orang yang tersisa. Sandeul dan Gongchan.

“Hei hyung, jangan meremehkan Jinyoung hyung dong!” seru Gongchan, si maknae yang sangat menyayangi sang leader.

“Jinyoung hyung bilang tidak boleh.” Sandeul menggoyang-goyangkan jari telunjuknya, lalu menjauhkan dirinya dari buku itu. “Kita tidak boleh melanggar aturannya, itu kan sama saja seperti kita meremehkan leader kita sendiri. Kau sendiri tidak tahu kan apa ini bisa menjamin keselamatan kita atau tidak?”

“Iya, lagi pula itu ‘kan belum tentu benar, siapa tahu appamu hanya bilang bebegitu supaya kau senang!” timpal Gongchan. Sandeul menyetujuinya.

Appa tidak pernah bohong padaku!” seru Baro, wajahnya nampak yakin. “Ayolaaah kita pergi! Kita pergi! Aku jamin tidak akan ada apa-apa! Kalian harus percaya padaku! Masa kalian takut?” paksanya lagi.

Sandeul dan Gongchan nampak kurang yakin. Mereka hanya diam menatap buku itu selama beberapa menit, lalu Baro akhirnya angkat bicara.

“… jadi? Mau masuk?”

“Umm… Kalau kita buat persiapan dulu sih…” gumam Gongchan dengan ragu, manik matanya bergerak. Baro yang mendengarnya langsung tersenyum lebar.

“Tung—”

Annyeong, semuanya~” CNU masuk ke dalam dan meletakkan skateboardnya di samping pintu. Baro, Sandeul, dan Gongchan tidak menyadari kehadirannya dan terus berdiskusi.

“Tunggu! Kok kamu malah setuju mau masuk kesitu?” seru Sandeul pada Gongchan, lalu menatap Baro dengan pandangan jengkel. “Bagaimana kalau kita mati? Kenapa tidak kamu saja sendirian yang masuk kesitu? Masa kamu takut?” katanya dengan nada kesal.

“Ap––” Baro mulai ikut emosi, mendengar kata-kata Sandeul yang mirip dengan kalimat yang dia ucapkan tadi. “Hei, kamu tidak tahu artinya ‘teamwork’? Kupikir kita bisa bersenang-senang bersama sebagai sebuah tim, dan ini bisa dijadikan ajang untuk meningkatkan rasa kebersamaan kita, makanya aku mengajak kalian! Masa kamu tidak bisa berterimakasih sama sekali? Atau menikmatinya begitu?” balas Baro, ekspresinya berubah menjadi amat jengkel.

“Apa katamu!? Kamu sendiri tidak tahu ‘kan petualangannya akan jadi seperti apa? Kau pikir dengan masuk ke sana nyawa kita bisa ada 5 seperti di game-game yang selalu kita mainkan? Lalu untuk mendapat nyawa kembali kita harus lompat-lompat sampai ketemu makanan atau hati, begitu? Dan setelah mati kita bisa hidup lagi? Sembarangan saja, sih!” bentak Sandeul, sedikit membuat Baro merasa takut tapi tidak membuatnya berhenti untuk melawan namja yang lebih tua darinya hanya beberapa bulan ini.

“AH YANG BENAR SAJA DONG! Pikiranmu itu terlalu realistis, sama sekali tidak asyik! Apa kau tidak punya imajinasi?! Dasar babo!” Baro membentaknya balik.

“Kau berani bilang aku babo!?” balas Sandeul, wajahnya sudah memerah karena kesal.

“Ya! Memang berani! Kita kan tidak akan kenapa-napa, kenapa kau sensitif sekali sih mengenai masalah ini? Kenapa pikiranmu terlalu jauh sampai mengira ini benar-benar terjadi dan membuat kita akan mati? Ini kan hanya game!” Baro berusaha untuk membela dirinya.

“Kita tidak tahu ini akan jadi game seperti apa! Kalau kita sampai bisa masuk ke dalam situ, berarti bisa benar-benar terjadi dong?!” bentak Sandeul. Gongchan sudah tidak sabar melihat pertengkaran anak kecil ini, dan memutuskan untuk melerai keduanya sebelum terjadi lempar-lemparan bangku antara kedua hyungnya ini dan membuatnya disuruh bertanggung jawab oleh sang leader.

“BERISIK!!!” teriak Gongchan, membuat mereka semua kaget. “Dengar, sampai kita mendapat izin dari Jinyoung hyung dan mempersiapkan diri, baru kita masuk! Untuk sementara jangan buka buku itu dulu!” instruksinya, kali ini dia terlihat lebih dewasa daripada hyung-hyungnya yang menurutnya berisik minta ampun itu. Sandeul dan Baro dengan ragu mengangguk perlahan dan kembali duduk di bangku mereka, setelah keduanya spontan berdiri saking kesalnya.

“Oi semuanya~ buku apaan tuh?” CNU menghampiri mereka dengan wajah polos dan membuka halaman pertama buku itu sedikit.

HYUNG!! JANGAAAANNN!!!”

Chaos.

Baro, Sandeul, dan Gongchan segera berlari menarik tangan CNU untuk menjauh dari buku itu, tapi malah membuat mereka semua jatuh dari kursi, membuat CNU terjungkal ke belakang, dan akhirnya buku itu jatuh dan halaman pertama terbuka lebar. Sebuah asap hitam dan tebal keluar dari buku itu dan terdengar suara mengerikan dan menggelegar yang berkata ‘Selamat datang’.

CNU, Sandeul, Baro, dan Gongchan langsung shyok, mereka membatu di sudut ruangan. Setelah terdengar suara tawa yang licik, asap pun menghilang. Mereka hanya bisa terdiam sambil melihat buku itu, beberapa menit berlalu dan sama sekali tidak terjadi apa-apa.

“… Kenapa kita tidak terhisap ke dalamnya?” tanya Gongchan yang masih ketakutan, tanpa sadar ia memeluk CNU.

“Tidak tahu…” Baro memberanikan dirinya untuk menutup buku itu, tapi buku itu tak bisa tertutup. Dia melakukan segala cara tapi tetap tak bisa, yang bisa bergerak hanya halamannya. Baro ingin membuka halaman selanjutnya tapi Sandeul langsung menghentikannya.

“Oi oi oi, jangan bodoh! Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi selanjutnya! Sekarang kita tinggalkan saja bukunya di sini dan pulang!” perintah Sandeul. CNU, Baro, dan Gongchan langsung menuruti perkataannya—tanpa berdebat, lalu segera membereskan barang masing-masing.

“Kalau dipikir-pikir, appamu aneh sekali. Memberikan benda seperti ini untuk putra satu-satunya, jangan-jangan dia ingin kau mati.” Gumam Sandeul, Baro melirik tajam padanya.

Appaku ingin yang terbaik buatku! Jangan bicara seakan-akan kau menuduhnya sebagai penjahat!” bentaknya dengan nada kesal.

“Hei, jangan berantem lagi, deh!” teriak Gongchan jengkel. Sandeul dan Baro akhirnya berusaha menahan amarah mereka daripada dimarahi oleh maknae mereka sendiri.

“Ada apaan sih?” tanya CNU yang baru saja datang, wajahnya menunjukkan ekspresi antara bingung dan ketakutan, masih teringat oleh makhluk yang keluar dari buku.

“Oh iya, hyung baru datang ya… Nanti akan kuceritakan saat pulang.” Jawab Gongchan. Kebetulan rumahnya berdekatan dengan CNU dan Jinyoung.

******

Rumah Baro

Eommaaa aku pulaaaang!” teriak Baro di teras rumahnya, lalu segera masuk ke dalam. Ia melepas sepatunya dengan sembarangan dan segera meletakkan tas dan skateboardnya di kamar.

Eomma sudah panaskan air di bak, cepat mandi!” seru Eommanya dari dapur, ia sedang menyiapkan makanan untuknya dan Baro.

“Akhirnya ada ketenangan…” gumam namja itu, lalu segera membawa baju ganti dan handuk dari kamarnya ke dalam kamar mandi yang bernuansa tradisional kayu dan berendam di dalam bak air panas.

“Ah nyamannya hidup…”

Cplak…

Sedang enak-enak mandi, Baro merasakan ada yang tidak beres dengan air di bak mandinya, terasa terlalu panas dan membakar kulit. “AHHHHH!!!” teriaknya, lalu mengeluarkan tubuhnya dari bak mandi.

“Ada apa, Sunwoo??” teriak eommanya dengan nada khawatir. Ibunya memanggil Baro dengan nama aslinya, Sunwoo.

“Tidak apa, eomma! Aish, panas sekali…” Baro memasukkan kakinya ke dalam air yang mendadak menjadi dingin. “Mwo? Ada apa dengan air ini? Semacam sihir?” ia memasang ekspresi bingung, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal dan kembali masuk ke dalam bak mandi itu.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka pelan, terdengar bunyi decitan pintu kayu yang sudah lama tidak diberi minyak. Sesosok bayangan hitam lewat dengan cepat di depannya. Baro kaget dan kembali mengangkat badannya ke luar dari air. Hawa dingin menusuk tulangnya.

“Si––siapa di sana?” tanya Baro, dengan hati-hati ia melihat ke arah pintu.

Tidak ada apa-apa di sana, sunyi senyap. Baro menghela nafasnya dan kembali masuk ke dalam air. Ia menutup matanya, mencoba untuk rileks. Saat dia membuka matanya, seorang lelaki berwajah aneh dan kurus sudah berada di depannya.

Lelaki itu memandang Baro yang diam terpaku dan membatu, tidak sanggup berbicara maupun melakukan apa-apa. Lelaki itu akhirnya membuka mulutnya yang robek perlahan, “… Permainan dimulai. Lanjutkan atau mati…” katanya.

“AAAAHHHH PERGI!! PERGI!!!!” teriak Baro, ia mengarahkan baskom ke lelaki itu, dan seketika lelaki itu menghilang. Dan akhirnya baskom itu malah melayang ke mukanys sendiri.

Hening seketika. Tidak ada tanda-tanda bahwa lelaki itu akan muncul lagi, tapi tetap saja bulu kuduk Baro berdiri.

“Ah… Aku sudah selesai…” ujarnya, lalu dengan gemetar ia keluar dari bak mandi dan segera mengelap badannya dengan handuk, mengganti baju, dan berlari ke kamarnya dengan terbirit-birit.

“Sunwoo! Makan malam sudah siap! Cepat turun ke bawah!” panggil eommanya dari bawah.

“Mendadak aku tidak lapar!!!” teriak Baro, panik. Jika mau ke dapur, ia harus melewati kamar mandi yang pintunya masih terbuka karena ia takut untuk menutupnya. Jendela kecil di atas bak mandi juga terbuka untuk sirkulasi udara dan udara malam yang sejuk yang (rencananya) akan menambah kenikmatan namja itu saat mandi, tapi ternyata malah membuatnya semakin takut.

“Jangan macam-macam ah! Cepat turun dan ambil makananmu!” perintah eomma dengan galak, dan mau tidak mau Baro akhirnya turun dengan berlari cepat, berusaha untuk tidak menghiraukan kamar mandi yang ada di sebelah kirinya.

Saat di lantai bawah, tepat di depan kamar mandi, Baro tidak sengaja menginjak cicak yang sudah mati. “AAAHHH APA INI!! SETAN! SETAN!!!” teriaknya, lalu terpeleset dan jatuh ke lantai.

“Sunwoo! Hati-hati, dong!”

******

Rumah Sandeul

“Ah, akhirnya lepas dari buku tua yang aneh…” Sandeul membuka komiknya yang masih baru dan membaca ceritanya. Komik itu bercerita tentang misteri, seorang lelaki yang dihantui lelaki berwajah aneh.

Saat fokus ke bagian lelaki berwajah aneh itu, Sandeul seperti melihat ilusi. Lelaki di buku itu wajahnya perlahan berubah menjadi lebih menyeramkan, mulutnya lebar dan berwarna merah darah. Lelaki di komik itu seperti mengatakan “Permainan dimulai… Lanjutkan atau mati.” Katanya, dan sebuah tangan keluar dari komik itu.

“AAAAAHHHH!!!!” teriak Sandeul, dengan panik dia melempar komiknya ke dinding. Ekspresinya sangat ketakutan. Setelah hening beberapa saat, dengan hati-hati dia memungut komiknya lagi dan melihat halaman yang tadi.

Semua terlihat biasa.

“Kok…” dia nampak heran, dan kembali melihat bukunya, lalu memutuskan untuk menyimpan buku itu rapat-rapat di dalam kotak, jauh dari pandangannya.

******

Rumah Gongchan

“… Jadi begitu…” Gongchan baru saja selesai menjelaskan semuanya pada CNU, tentang buku yang dibawa Baro, dan semuanya yang dijelaskan Baro saat meyakinkan mereka untuk masuk ke dalam buku itu. Wajah CNU menjadi pucat.

“Jadi? Tadi aku yang memulai petualangannya?” tanya CNU, ia merasa menyesal sekali dengan perbuatannya.

“Iya, tapi tak apa hyung, tidak ada apa pun yang terja––” mendadak, udara menjadi amat dingin, bulu kuduk CNU dan Gongchan berdiri.

Seorang wanita berambut panjang berdiri di halaman rumah Gongchan, dan perlahan dia berkata sambil tersenyum menakutkan, “Permainan dimulai… Lanjutkan atau mati.” Lalu memiringkan kepalanya dan menghilang. CNU dan Gongchan masih amat-amat shyok.

Gongchan perlahan menoleh pada CNU dan berkata, “Hyung… Aku boleh nginap di rumahmu?” pintanya dengan wajah yang masih pucat.

“… Bagaimana kalau kita nginap di rumah Jinyoung? Di kamarku masalahnya ada tv dan balkon, takutnya… Ya, begitu… Kau tahu sendiri, kalau misalnya wanita itu muncul lagi––”

PLAKK!!

Gongchan memukul lengan hyungnya itu, spontan. “Jangan menakut-nakutiku dong, hyung! Aku sudah cukup shyok ada wanita seperti itu yang menghantui halamanku! Bisa-bisa aku tidak pulang lagi!” serunya panik.

“Yasudah, jangan main pukul juga dong! Berarti kita jadi ke rumah Jinyoung!” seru CNU, ikutan panik juga. Gongchan langsung menyetujuinya dan mereka berdua berlari dengan terbirit-birit ke rumah Jinyoung.

******

Rumah Jinyoung

HYUNGHYUNG!!!” teriak Gongchan, dia menggedor-gedor pintu rumah Jinyoung dengan panik. “HYUUUUNG BUKA PINTUUUU KAMI HAMPIR MATIIIIII!!!!” rengeknya. Jika di depan Jinyoung–hyung kesayangannya itu, dia berubah menjadi lebih kekanakan dan manja, tidak seperti saat dia melerai pertengkaran Sandeul dan Baro yang menurutnya sudah cukup kekanakan.

“Apaan, sih?!” Jinyoung membuka pintunya dengan jengkel. Padahal baru saja ia bisa menikmati makan malamnya, sudah ada gangguan seperti ini. Ia menemukan CNU dan Gongchan yang wajahnya pucat di depan rumahnya. “Tung––kalian kenapa?”

“Jinyoung, lindungi kami…” ujar CNU, lalu memeluk Jinyoung dan meminta agar diperbolehkan masuk ke dalam.

“Iya iya. Kalian kenapa?” Jinyoung segera mengantarkan mereka ke ruang tamu dan menyediakan teh agar mereka tenang.

“Ada wanita yang muncul di halaman rumahku!” seru Gongchan, dia masih gemetaran. “Di––dia kayak setan, dan kayaknya Baro benar! Semenjak kami me––membuka buku itu, semuanya ja––jadi aneh!” katanya, terbata-bata.

Mianhae Jinyoung, salahku yang langsung main buka buku itu…” ujar CNU, dia juga berkeringat dingin.

“Kalian ini… Kan sudah kubilang tidak boleh seenaknya. Jadi, wanita itu sedang apa?” tanya Jinyoung, ekspresinya menjadi sangat-sangat serius.

“Di––dia bilang, ‘Lanjutkan atau mati’…” jawab CNU dengan ragu. Ia sebenarnya tak mau mengingat wanita itu atau apa pun yang pernah wanita itu katakan.

“… artinya kita semua harus melanjutkan petualangan di buku itu. Sebagai leader aku juga akan ikutan, besok kita berkumpul di ruangan. Bukunya kalian taruh di mana?”

“Kami tinggal di sana, soalnya bukunya jadi tidak bisa ditutup sama sekali, dan tidak ada juga yang mau bawa…” jawab Gongchan. Dengan gemetaran ia meneguk tehnya.

“Ah baiklah. Semuanya harus datang besok, dan bawa persiapan kalian. Beritahu Sandeul dan Baro, ya. Omong-omong kalian sedang apa kesini?”

“Kami… Mau numpang nginap. Ayolah Jinyoung, kami sangat ketakutan…” pinta CNU. Jinyoung menghela nafasnya dan akhirnya memperbolehkan mereka menginap, asalkan tidak berisik.

******

 “SUNWOO!!”

Eomma Baro masuk ke kamar anaknya, dan mengguncangkan tubuh yang masih terbaring di kasur itu dengan panik.

“Emmh… Ada apa, eomma?” tanya Baro, masih setengah sadar.

“Kamu… kamu lihat buku aneh yang ada di gudang? Kamu lihat?” tanya eomma Baro dengan panik, wajahnya benar-benar nampak khawatir. Baro hanya memandang eommanya dengan pandangan kosong dan mengangguk. Ia masih mengantuk. “Kamu lihat!? DI MANA!?!?”

“Oooh… Aku membawanya ke klub, nanti siang aku dan teman-teman mau berpetualang di sana…” jawab Baro, ia masih setengah tidur.

“Apa!?” teriak eomma, sukses membuat Baro membelalakan matanya. Akhirnya ia benar-benar memiliki kesadaran penuh dan menatap eommanya yang mondar-mandir di dalam kamarnya.

Eomma sedang apa di sini––?”

“Kamu tidak boleh pergi kemana-mana!” seru eommanya, membuat Baro kaget setengah mati.

“Mwo!? Kenapa!?” protes Baro, kalau begini ceritanya bisa-bisa cerita ini tidak berjalan! Eommanya hanya memasang tampang geram dan membuat Baro merasa sedikit takut.

“Pokoknya tidak boleh. Eomma takkan mengizinkanmu masuk ke sana! Kamu tahu, karena luka yang diderita appamu di dalam sana itu yang membuatnya cepat meninggal!” teriak eommanya dengan emosi, lalu keluar kamar dan menutup pintu keras-keras.

Baro hanya bisa bengong melihat aksi eommanya ini. Memang ada apa?

******

 “Hei, kalian sudah kumpul semua?” Jinyoung datang sambil membawa ranselnya. Dilihatnya CNU dan Gongchan yang sedang bermain skateboard di depan ruang klub.

“Hei hyung~ Sandeul hyung dan Baro hyung belum datang.” Kata Gongchan.

“Mereka selalu berantem tapi kompak.” Sahut CNU.

“Hmm. Hei, apa kalian merasa orang tua kalian aneh tadi pagi? Ayahku gemetaran dan melarangku keluar rumah, tapi aku bilang tidak usah khawatir karena aku akan ke klub seperti biasa.” Cerita Jinyoung, CNU langsung menghentikan skateboardnya dan mengangguk dengan semangat.

“Ayahku juga! Katanya hari ini ada yang aneh dan dia berpesan padaku, jangan melakukan hal yang aneh-aneh atau dia tidak akan membiarkanku keluar rumah lagi. Membingungkan.” Sahut CNU. Jinyoung hanya mengangkat bahunya tanda bahwa dia juga bingung.

******

Sudah 1 setengah jam lewat setelah Baro ditahan eommanya di ruang tamu. Baro terus-terusan melirik ke jam dengan gelisah, bisa-bisa dia terlambat.

“Dulu appa dan teman-temannya masuk ke dalam sana, tapi sebelum game over, appa sempat melihat akhir dari buku itu. Katanya sangat indah dan dia ingin membaginya denganmu. Beberapa tahun setelah itu, dia meninggal karena sakit yang dideritanya.” Cerita eomma Baro. Baro terpaksa mendengarkan, lagipula cerita ini membuatnya penasaran.

“Sakit apa?”

“Di tubuhnya banyak luka yang tak kunjung sembuh. Akhirnya badannya sudah tidak tahan lagi, meskipun di saat akhirpun dia masih tertawa dan sama sekali tidak menyesal telah melakukan petualangan hebat itu, walau hanya dia yang menikmatinya diantara teman-temannya. Padahal luka yang ia dapat paling parah. Aku sama sekali tidak rela kalau kamu mati dalam keadaan bebegitu juga.”

Dalam nada bicaranya Baro tahu tersimpan kekhawatiran dan kasih sayang eommanya, tapi dia juga amat penasaran dengan dunia itu. Dunia di mana appanya sangat menikmati setiap petualangan yang ia dapat, di mana ia ingin sekali membagi kebahagiaan dan pengalamannya dengan anaknya. Baro tak ingin menyerah bebegitu saja.

“Sudah, eomma ambil teh dulu.”

Eomma Baro beranjak dari posisinya dan berjalan ke dapur untuk mengambil teh dingin. Baro hanya terdiam di ruang tengah, melirik ke arah jam, lalu ke arah jendela. Sudah tidak ada waktu lagi. Kalau sampai yang mengidekan tidak datang, maka habislah dia dipukuli oleh hyungnya dan si maknae. Ia mengendap-endap ke lantai atas, mengambil ransel dan skateboardnya, lalu turun ke bawah lagi dan bersiap melompati jendela untuk keluar. Namun…

“Cha Sunwoo!!” teriak eomma Baro, saat melihat putera satu-satunya itu sudah menggendong ransel dan bersiap keluar, ia kaget sampai nampan terjatuh dari tangannya.

Mianhae eomma, ini perintah appa. Inilah yang kutunggu-tunggu dalam hidupku. Jangan khawatir, oke?” Baro langsung meloncat turun tanpa menunggu respon dari eommanya. Tungkai kakinya langsung bergerak ke tempat klub.

“… ayah-anak sama saja…” karena lemas, eommanya sampai terjatuh di lantai. Ia hanya bisa berdoa demi keselamatan anaknya.

******

Ruang klub, 10.45AM

“Hei! Maaf telat~!” seru Baro pada teman-temannya yang sudah berkumpul di depan ruang klub. Mereka menatap Baro dengan jengkel.

“Dari mana saja kau, hah!” teriak Sandeul. Matanya memicing tajam ke arah Baro.

“Ya! Kau pikir kita sudah menunggu berapa lama? DUA JAM KURANG DARI LIMAAA BELAAAS MENIT!!!” timpal CNU. Kebiasaan cerewetnya sebagai ‘ibu’ langsung kumat.

Mianhae~! oh iya!! Kemarin!! Kemarin!!!” teriak Baro, wajahnya langsung berubah jadi pucat. “Ada lelaki! Lelaki aneh! Kurus dan mulutnya robek! Datang ke kamar mandiku, muncul di bak mandiku, dan bilang kalau permainan tidak dilanjutkan aku akan mati!”

Ya, dia jadi histeris.

“Kau juga!? Seorang lelaki seram keluar dari komikku dan mengatakan hal yang sama! Tangannya hijau dan menjijikan!” pekik Sandeul.

“Kami juga! Aku dan CNU hyung! Wanita menakutkan sembunyi di halamanku! Dia tersenyum padaku dan memiringkan lehernya––maksudku, kepalanya!” seru Gongchan, ikut-ikutan heboh histeris.

“Jadi kesimpulannya, kita disuruh untuk melanjutkan petualangannya. Apa kalian sudah bersiap? Sudah bawa yang kuminta, kan?” tanya Jinyoung, semuanya mengangguk dan mengangkat barang-barang mereka. Jinyoung memperhatikannya satu-persatu. “Ng… Aku tidak ngerti kenapa kalian bawa skateboard…” ujarnya, setelah melihat masing-masing anggotanya membawa skateboard mereka.

“Kita ‘kan perkumpulan skateboard! Ini wajib dibawa!” kata Baro dengan semangat. “Intuisiku bilang kita membutuhkan ini!”

“Kok… Sama denganku…,” gumam Sandeul, agak tidak terima juga pikirannya bisa sama dengan Baro. Masalah pertengkaran kemarin masih melintas di pikirannya, tetapi ya sudahlah.

“Yah… Sebenarnya aku juga bawa…” Jinyoung mengangkat skateboardnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kenapa kau tanya?” protes CNU. Jinyoung hanya tertawa malu dan mengambil inisiatif untuk masuk ke ruangan klub lebih dulu. Akhirnya, mereka masuk ke dalam ruangan klub dan menaruh buku itu di atas meja.

“Semuanya siap? Jika halaman selanjutnya dibuka, kita akan masuk.” Jinyoung memandang satu demi satu anak buahnya. Keempat namja yang berdiri mengelilingi meja, hanya menjawabnya dengan anggukan. Perasaan mereka antara deg-degan, ketakutan, dan bersemangat, tapi yang penting mereka bisa bersama.

“Satu, dua, tiga!” hitung semuanya, dan Jinyoung membalikkan halamannya ke halaman kedua. Mereka langsung terhisap ke dalam buku itu.

“AAAAHHHHHH!!!!” terdengar teriakan pilu Jinyoung, CNU, Sandeul, Gongchan, dan Baro. Kepala mereka sakit dan terasa seperti tertusuk oleh beribu pedang, dan seketika membuat mereka pingsan.

… Permainan dimulai. Lanjutkan dan temukan misterinya!

… So you want to know about it?

Well then… Just wait for the next part

******

16 responses to “The 3rd Dimension (1 of ?)

  1. Jinyoung kok dewasa banget?! >w<

    Ahh penasaran sama lanjutan ini fic. Genrenya fantasy ya? Kirain ada romantisnya dikit._.

    Lanjuuuut yah =]

    • Jinyoung dewasa dan cute >w<
      Heheheh ditunggu yaa eonnie :B Genrenya fantasy, dan romancenya sedikit sebenernya eheh._. nanti di part part selanjutnya😀

      Makasih readmennyaaa~😄

  2. aaaaaaaaaaaaaaaaaaa keren bngt! tpi tpi aku rasa ini lebih cocok disebut part1 >.< ini pnjang bngt. tpi gpp. aku suka heheh cepetannya ya lanjutannyaaa

  3. Pingback: The 3rd Dimension (2 of ?) | Cappuchino In Your Life·

  4. Woaa keren! Aku suka fic dengan genre ginian!! >_<

    Agak menyeramkan juga sih. Dan Baro sama Sandeul bertengkar mulu kerjanya. Tidak malu tuh sama si maknae ckck -_-

    Aku lanjut ya bacanya ^^

    • I–iya? O.o omongomong url blognya apanih? mau main kesitu dooong hehe😄
      ah awalnya ya?._.
      BaDeulChan moment~~ /heh
      Iyaaa silakaaan😀

  5. huwaaa kereen😄 udah lama ganemu ff fantasy u.u~
    suka suka suka~~~
    penasaran ntar bakal gimana(?)
    okee aku lanjut baca ya😄

    #nyasar lagi :3

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s