How I Love You (3/3)

howiloveyou

PART.1 | PART.2 | PART.3

IU pulang sendiri, entah kenapa dia merasa kesal kalau berlama-lama di kelas. Hari ini suasana hatinya sedang tidak enak. 

“IU? Mau pulang bareng?” ajak Yoseob. IU hanya melirik padanya dan dengan wajah bad moodnya, lalu mengangguk. Yoseob nampak ragu namun ada secercah perasaan senang di hatinya. Ia menggenggam tangan IU dan menariknya keluar gedung sekolah.

Dari bawah, IU melihat ke atas, ke jendela kelasnya. Nampak Wooyoung dan Bekah masih ngobrol sembari mengerjakan tugas piket mereka. Dengan kesal, IU cepat-cepat menarik Yoseob keluar gedung sekolah.

Bekah menatap sosok IU yang tengah berlari dan tersenyum, lalu menoleh ke Wooyoung lagi.

Yaa, begini saja tidak apa-apa? IU nampak kesal tadi, apa karena kutolak pergi ke kantin?” Wooyoung nampak cemas. Bekah menghela nafas, baru kali ini dia mendapat klien (Bekah itu cupid, tapi playgirl) yang cowok dan ceweknya sama-sama nggak peka.

“Eh, IU pulang duluan ya?” kata seorang anak perempuan di kelas itu pada temannya, mereka sedang bersiap pulang.

“Iya, tadi kayaknya pulang dengan Yoseob-ssi tuh. Mereka pacaran ya? Cocok ya..” ujar yang satunya, lalu mereka berbincang-bincang sambil keluar kelas. Wooyoung hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.

“Hei, gadis itu tadi dibawa cowok manis, loh!” seru Bekah, Wooyoung hanya menghela nafas.

“Ah, Yoseob? Ya, memang mereka dekat sekali kan? Sudah kenal sejak SD.” Wooyoung mendesah dengan pasrah. Apa sia-sia saja dia menyukai IU? Kelihatannya gadis itu biasa saja padanya, apalagi dia mau-mau saja digandeng oleh Yoseob.

Bekah memperhatikan Wooyoung dengan ekspresi kesal.

“Hoi, kenapa kau pasrah gitu sih? Kau suka IU, kan?” bentak Bekah kesal. Wooyoung mengangkat bahunya tanpa memandang Bekah.

Suasana hening sebentar. Setelah berpikir, tiba-tiba Bekah menyahut, “… Eh, cowok-cowok ganteng di sekolah ini, cuma segitu saja?” tanya Bekah, Wooyoung menggeleng pelan.

“Masih banyak lagi, ada di kelas sebelah juga. Kau mau bertemu?” ujar Wooyoung, lalu berjalan ke arah pintu kelas. Bekah menahannya dengan menarik kerahnya. Wooyoung hanya menoleh ke arah Bekah dengan ekspresi heran.

“Jang Wooyoung, orangnya malu-malu, tapi lucu dan mood booster juga. Meski nggak peka, tapi khawatiran dan kelihatannya setia, polos, dan nggak macam-macam. Punya banyak teman, dan kudengar kamu anak klub dance juga kan? Itu cukup.” Bekah memeluk lengan Wooyoung. “Aku capek mencari cowok! Aku akan mulai darimu.” Ucap Bekah, sambil mengedipkan matanya.

“Ap––!?” Wooyoung nampak shock. Apa maksudnya? Jadi gadis ini mau mengincarnya?

“Ahahaha apa-apaan mukamu? Bercanda kok! Tidak mungkin aku menyukaimu, cowok polos!” Bekah tertawa puas, lalu menarik Wooyoung keluar kelas.

Tanpa sadar mereka sudah di luar gedung sekolah. Wooyoung tidak bisa bicara apa-apa sementara Bekah merebut ponselnya dan menukar nomor ponsel mereka.

“Nih! Aku akan memberimu banyak nasihat nanti malam! Jangan lupa untuk membalas!” perintah Bekah, lalu berlari pulang meninggalkan namja itu di belakangnya. Wooyoung hanya bisa terdiam, sembari menatap layar ponselnya.

******

“IU, kau mau makan? Mau kutraktir?” tanya Yoseob. IU hanya terus diam, tatapannya kosong. Sudah tiga kali Yoseob mengajaknya bicara dan yeoja itu hanya diam tanpa menjawab.

“Hei~ IU~” Yoseob mulai beraegyo, IU kaget mendapati pundaknya telah disenggol, dan menoleh pada Yoseob.

Ne? Mianhae, aku bengong.” IU memasang ekspresi bersalah, sedangkan Yoseob hanya tersenyum.

“… Mikirin namja itu, ya?” terka Yoseob, nada suaranya merendah. IU nampak kaget dan menoleh ke Yoseob dengan tatapan bingung. “Namja yang menarikmu saat di depan gerbang sekolah itu, loh. Siapa namanya?”

“… Oh, Wooyoung? Untuk apa aku memikirkannya?” IU memasang ekspresi kesal dan menggembungkan pipinya. Yoseob hanya tertawa kecil dan menggenggam tangan IU.

“Terlihat dari wajahmu,” ujar Yoseob, lalu menarik nafasnya dalam-dalam. “Ah… IU?” ujarnya. Ia menghembuskan nafasnya lalu melirik sekilas pada yeoja di sebelahnya. IU hanya menoleh.

“Emm… Saranghaeyo.” Bisiknya. IU terdiam, wajahnya memerah.

“Kamu bercanda?” tanya IU, polos. Pikirannya campur aduk sekarang. Yoseob menggenggam kedua tangannya dan menatap dalam mata gadis itu.

“Tentu saja tidak,” katanya. “Aku benar-benar menyukaimu, apa aku tak punya kesempatan sama sekali?”

“… Ah.. Bukan begitu…” IU mulai salah tingkah. Yoseob tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya.

“Tidak usah buru-buru.” Yoseob membelai kepala IU dengan lembut. “Aku tahu kita masih anak-anak, yah tapi… Aku memang sayang sama kamu.”

“Bisa kita bicara soal ini lain waktu?” tanya IU dengan wajah tetap merona. Yoseob tertawa dan mencubit pipi gadis itu, lalu mengangguk.

Tidak sengaja Wooyoung melihat kejadian itu. Dadanya terasa sesak, seperti ada yang menusuk-nusuk dadanya secara langsung. Ia pulang dengan lesu, tatapannya kosong dan kepalanya terasa berat. Kenapa juga dia harus melihat adegan bodoh itu?

******

21.00PM

Wooyoung sedang tiduran sembari mendengarkan musik di headphone, sampai ponselnya berbunyi. Dia mengecek, ternyata sms dari Bekah.

From: Bekah
Subject: Heyyy

Nggak sibuk kan? Balas smsku ya^^

Wooyoung menghela nafas dan akhirnya memilih membalas sms dari Bekah, daripada pusing-pusing memikirkan yang tadi siang.

To: Bekah
Subject: Hey

Udah dibalas ya.

Send. Pesan balasan sudah dikirim. Jujur saja, Wooyoung sendiri tahu isinya sama sekali tidak jelas dan tidak penting, tapi yang penting dia sudah membalasnya. Tanpa butuh waktu lama, balasan dari Bekah datang. Dia bertanya apa yang membuat Wooyoung sedih, dengan ragu Wooyoung menceritakan yang tadi siang. Bekah memberinya nasihat panjang.

From: Bekah

Subject: Hey

Dasar babo! Kau menyerah begitu saja? Ambil lagi gadis itu! Namanya bukan pria kalau menyerah begitu saja!

Wooyoung menelan ludahnya. Ya, dia tahu dia tak boleh menyerah, tapi ada sesuatu yang menarik perasaannya dari dalam. Entah kenapa.

Ia berpura-pura ketiduran, tanpa membalas sms Bekah. Dia tahu kalau dia tidak mempunyai jawaban atas perintah gadis itu. Mau bilang “Yah… Mau apalagi?” pasti akhir-akhirnya besok, dia akan ditendang tepat di muka oleh gadis garang itu.

******

Besoknya…

Bekah dan Wooyoung sibuk mengobrol. Sedangkan Junho, Mir, dan Suzy hanya memperhatikan mereka dengan tatapan aneh, sementara IU hanya buang muka. Bekah menyadari tatapan-tatapan menusuk itu padanya dan memutuskan untuk menghampiri Junho, Mir, dan Suzy sebelum mereka salah paham.

“Rahasiakan ini,” ujar Bekah, lalu membisikkan sesuatu pada mereka bertiga. “… Tolong, ya.” Pintanya. Junho, Mir, dan Suzy langsung mengerti dan mengangguk semangat. Suzy menghampiri IU dan mengajaknya ke taman belakang, sementara Junho dan Mir pergi keluar kelas.

******

Di taman belakang, Suzy dan IU duduk di bangku taman. Suzy menatap mata IU dengan tatapan teduhnya diiringi senyuman manisnya. Yak, pertama-tama, membuat hati IU tenang adalah langkah terbaik. “Akhir-akhir ini kamu badmood terus, kenapa?” ia mulai bertanya.

“Hm? Nggak kenapa-napa kok, Suzy~ jangan khawatir!” jawab IU cepat, berusaha untuk nampak biasa, tapi jadinya malah maksa.

Suzy menghela nafas.

“Bekah, ya?” terka Suzy. IU nampak kaget dan menggeleng cepat. “Karena Bekah dekat dengan Wooyoung-ssi?”

Aniyo! Kenapa kau berpikir begitu?” IU langsung panik. Suzy tersenyum melihat tingkah sahabatnya.

“Jangan begitu. Kita sudah bersama sejak SD, tentu saja aku mengerti kamu. Hyorin juga pasti sekali lihat langsung mengerti, karena dia bisa membaca pikiran orang. Cuma dia sedang kegiatan ekskul radio sekolah jadi istirahat jarang ketemu kita.”

“Tapi––aku juga nggak mengerti kenapa..” Ujar IU dengan mata berkaca-kaca. “Saat melihat Wooyoung dengan gadis itu, aku merasa.. Sedikit.. Sesak.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Aku tidak tahu..” IU menutup wajahnya, malu. Sekarang ini wajahnya pasti berantakan karena air mata.

Suzy memeluknya dan memperhatikan layar ponselnya, lalu menekan tombol send untuk sms yang ditujukan pada Bekah.

To: Bekah

Subject: –

IU berhasil mengaku! Sekarang giliranmu😉

Ia tersenyum, lalu mengelus puncak kepala yeoja yang ada di hadapannya.

******

Sementara itu, Junho dan Mir.

“Sebenarnya, tinggal membuat IU sadar tentang perasaannya dan mereka berdua mau jujur satu sama lain.” Ujar Mir. Junho mengangguk setuju.

“Tidak ada cara lain, kita harus ikut aturannya.” Tambah Junho. “Tinggal menentukan dimana dan timingnya saja. Kita butuh orang yang bisa memberikan pengertian tanpa perlawanan dari mereka…”

Mir dan Junho menatap satu sama lain, lalu memasang pose berpikir. Tiba-tiba saja, ada orang yang menepuk pundak mereka dari belakang. Itu Eunhyuk dan Donghae!

“Hei~ dimana Woo si babo dongsaeng?” tanya Eunhyuk dengan nada santainya. Junho dan Mir saling bertatapan—lagi, dan mengangguk.

Hyung, bantu kami!” seru Mir dengan semangat 45.

“Bantu apa?” Donghae kebingungan. Junho dan Mir berbisik sambil memberi penjelasan pada hyung-hyung mereka ini. Setelah diberi penjelasan, Eunhyuk dan Donghae langsung mengangguk dengan semangat.

“Kami mengerti!” seru Eunhyuk.

“Serahkan urusan yang itu pada kami.” Ujar Donghae dengan yakin. Junho dan Mir mengangguk, lalu berterima kasih.

******

IU berjalan gontai ke kelas, dengan lesu ia duduk di bangkunya. Matanya pegal dan kantung mata menghiasi bawah matanya. Semalam ia tak bisa tidur karena memikirkan Wooyoung dan Bekah.

Aigoo… Apa-apaansih? Sana! Sana! Sanaaa!” IU memukuli kepalanya sendiri, berusaha mengusir Wooyoung dari pikirannya. Seorang lelaki masuk ke kelas dan segera berlari untuk menahan tangan IU.

Aigoo kau ngapain sih?” seru Wooyoung, tangannya bergerak untuk menahan tangan IU. IU yang melihatnya langsung emosi.

Aniyo! Lepas! Lepaskaaan!!” teriak IU sambil mengibas-ngibaskan tangannya, dan tanpa sadar ia menampar Wooyoung.

PLAK!

IU terkejut atas tindakannya sendiri dan langsung menatap Wooyoung yang meringis sambil tetap menahan tangannya. IU nampak menyesal dan khawatir, “Wooyoungie! Mianhae… kamu nggak apa-apa?”

Ne, gwenchana..” Wooyoung melepas genggaman tangannya dan menatap dalam mata IU. Wajah yeoja yang ada di hadapannya langsung merah seketika. “Mianhae, sekarang ini aku jarang menyapamu. Akhir-akhir ini kamu kelihatan kesal, apa gara-gara aku?”

IU langsung merasa malu. Ternyata Wooyoung juga merasa ada yang berbeda dari tingkah lakunya. Sembari menutup wajahnya, dia menggeleng pelan.

“Katakan saja,” ujar Wooyoung, IU hanya mengintip dan sekali lagi, ia menggeleng

“Tidak, kamu tidak salah.”

“Lalu kenapa kamu seperti marah padaku?”

“Tidak, aku tidak marah.”

“Tapi—”

Tiba-tiba, pintu terbuka.

“IU!” seru Yoseob, lalu menghampiri gadis itu. “Kamu sudah punya jawabannya? Nanti pulang denganku, ya?” pintanya. Wooyoung berdecak kesal melihat namja itu masuk ketika ia sedang serius. Lagian apa maksud perkataannya? Benar-benar pengganggu.

Wooyoung berjalan mundur ke belakang, dan dengan perlahan keluar kelas. Daripada keki, lebih baik menarik diri dulu.

“Ah––” IU baru saja mau memanggil Wooyoung, tapi Wooyoung sudah menghilang dari balik pintu. Ia merasa bersalah sudah membiarkan namja itu terus-terusan merasa khawatir dan sekarang kedatangan Yoseob malah memotong perkataannya.

“… Kamu ada urusan dengan orang itu?” tanya Yoseob pelan, IU hanya menggeleng. “Yasudah, sampai nanti ya.” Katanya, lalu keluar kelas. IU berdiri dengan perasaan bimbang, sementara Wooyoung yang berdiri tidak jauh dari kelas hanya terdiam setelah menguping pembicaraan mereka.

******

Jam istirahat

Annyeong  babo dongsaeng and beautiful princess~!” teriak Eunhyuk sambil menari memasuki kelas. Suasana di ruangan itu sangat suram.

“Wooyoung~ kemarilah!” seru Donghae, lalu menarik Wooyoung ke atap.

“Ayo, beautiful princess. You’re so gorgeous!” Eunhyuk menarik IU ke taman belakang sekolah. Junho, Mir, dan Suzy yang tadi sedang mencoba menghibur IU dan Bekah yang memberi nasehat pada Wooyoung, hanya melongo melihat perbuatan konyol sunbae mereka.

“Yah, setidaknya suasananya nggak akan suram-suram amat.” Komentar Suzy. Junho dan Mir mengangguk setuju.

“Apa nggak akan kenapa-napa ya? Aku meragukan mereka, sih..” Ucap Bekah dengan wajah khawatir. Ia tidak yakin Eunhyuk dan Donghae bisa menyelesaikan masalahnya.

“Jangan khawatir walaupun tidak berhasil, Eunhae hyung itu mood booster, jadi setidaknya mood Woo dan IU bisa lebih baik.” Jelas Mir. Sambil menunggu, mereka makan bekal bersama. Membiarkan Eunhyuk dan Donghae menyelesaikan segalanya dahulu.

******

Taman belakang sekolah, Eunhyuk dan IU

“Beautiful princess, jujurlah di hadapanku.” Ujar Eunhyuk sambil berlutut di hadapan IU. “Katakan siapa yang kau sukai, kalau tidak kesucian tanganmu ini akan kunodai dengan kecupan lembut pangeranku.”

“Eunhyuk Oppa, kalau semua gadis kau beginikan, nggak akan ada lagi loh yang mau?” komentar IU. Spontan Eunhyuk langsung kembali duduk manis di bangku.

“Tanpa aku begitu memangnya kamu mau jawab? Hehe.” Eunhyuk menunjukkan senyum dua jarinya. IU yang melihat tingkahnya hanya tersenyum dan mengangguk.

Ne, kalau Oppa segitunya ingin tahu sih tidak apa. Aku bingung, Yoseob sangat baik padaku tapi aku cemburu melihat Wooyoungie dan Bekah-ah.” Ujar IU. Ia menghela nafas. Sebenarnya ia tidak yakin Eunhyuk bisa menyelesaikan masalahnya, tapi dia memang butuh teman bicara.

“Baik padamu? Lalu karena itu saja bisa membuatmu bingung?” Eunhyuk nampak tidak percaya, dan IU hanya mengangguk dengan ragu. “Aah kalau begini sih kamu plinplan seperti babo dongsaeng Woo!” Eunhyuk mengacak rambutnya dan menghela nafas.

Gwenchana, Oppa?” ada rasa khawatir bercampur kaget di benak IU, karena tiba-tiba saja Eunhyuk bersikap seperti orang frustasi. Sedangkan Eunhyuk mengangguk dengan wajah capek.

“Aaah Donghae kemanasih? Kok aku langsung kangen ya. Gini princess, kamu jangan plinplan gitu dooong. Kalau hanya karena baik, kau pasti tahu jawabannya! Itu berarti hanya karena nggak enak, karena simpati. Bukan tulus karena kamu sayang Yobose si cowok imut bersuara gulali!” jelas Eunhyuk panjang lebar dan blak-blakan. IU nampak agak kaget dan mulutnya menganga sedikit memperhatikan Eunhyuk menceramahinya.

“Aku tidak mengerti yang begitu, kalau boleh jujur… ”gumam IU dengan nada ragu.

“Cinta yang tulus kayak aku dan Donghae gituloh, karena kami jujur satu sama lain! Kami saling percaya dan nggak malu mengakui kalau kami memang menyayangi satu sama lain sebagai sahabat paling berarti! Haduh, kamu harusnya bisa sadar tentang itukaan, princess?” ceramah Eunhyuk panjang. IU menyadari sesuatu.

Oppa, tenang. Kamu memang tak boleh dipisahkan dengan Donghae oppa ya, coba ada Donghae oppa, kau pasti jadi sedikit tenang.” Ujar IU seraya menghela nafas panjang.

“Ah, benar juga. Donghae selalu mengaku bahwa dia manja padaku, tetapi akulah yang juga membutuhkannya. Aku terlalu cerewet dan Donghae agak pendiam, tapi kalau sudah bersama kami jadi stabil. Donghae menutup kekuranganku dan jika bersama kami bisa melengkapi satu sama lain..” tambah Eunhyuk, terus bercerita.

“… Sama seperti cinta? Cinta juga begitu?” tanya IU, memastikan sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Nde? Tentu saja! Cinta memang harus seperti itu, saling melengkapi! Sudah yuk, kita cari Donghae!” Eunhyuk segera beranjak dari bangku dan menarik lembut lengan IU. IU berpikir sebentar dan menatap ke depan, membulatkan tekad, mengetik sms, lalu berlari menyusul langkah besar Eunhyuk.

******

Sementara itu di atap, tempat Donghae dan Wooyoung

“Nyatakan cintamu, Woo!” perintah Donghae sambil menunjuk foto IU. Entah darimana Donghae bisa mendapatkan foto-foto itu.

“Sepertinya dia ada urusan dengan Yobose. Cowok itu harus musnah sebelum aku memusnahkannya. Ah tapi bagaimanaaaa??” teriak Wooyoung seraya mengacak rambutnya.

“Hei hei tenang! Aku tidak mau kalau kau sampai bunuh diri loncat dari atap gedung ini hanya karena aku salah bicara!” seru Donghae agak panik, Wooyoung mengangguk sambil melipat tangannya di depan dada.

“Habisnya, kau tahu sendiri. Bahkan pria seperti aku ini tak bisa melawan cowok kayak Yobose yang suaranya manis kayak gulali begitu.”

“Sepertinya itu nggak ada hubungannya, Wooyoungie. Lagian Yoseob-ah memang orangnya manis dan banyak dikenal orang loh, jadi kalau dia tidak dapat IU juga… Paling masih banyak gadis yang antri!”jelas Donghae, berusaha menenangkan. Wooyoung memperhatikan Donghae, lalu menyadari ada sesuatu yang berbeda.

“Donghae hyung kalau tidak ada Eunhyuk hyung jadi kelihatan normal, ya? Kalian suka random, teriak-teriak dan curhat nggak jelas.” Wooyoung mengambil kesimpulan.

“Ah, masa sih? Bagaimana bisa tahu? Aku sendiri nggak tahu.”

“Iya, jadi kelihatan biasa saja, seperti seorang hyung yang memberi nasihat untuk dongsaengnya, biasanya kan bertindak konyol begitu.” Tambah Wooyoung, Donghae nampak berpikir sebentar.

“Kau benar. Aku membutuhkan Eunhyuk karena aku sendiri sadar aku itu manja padanya. Bukannya nggak bisa tanpa Eunhyuk, tapi aku benar-benar menjadi diri sendiri kalau ada Eunhyuk. Teman-teman bilang, Eunhyuk itu orangnya sangat sabar karena bisa meladeniku yang sangat manja dan kekanakan ini selama 5 tahun.” Jelas Donghae.Wooyoung mengangguk mengerti.

“Bagaimana kalian bisa mempertahankan persahabatan kalian selama itu?” tanya Wooyoung, Donghae tersenyum bangga mendengar perkataan dongsaengnya.

“Sama halnya dengan cinta pada lawan jenis,” Donghae menjilat bibirnya yang kering perlahan. “Dibutuhkan ketulusan dan saling percaya dalam semua itu, dan yang paling penting adalah kejujuran. Kalau memang tak suka bilang tak suka, jangan diomongkan di belakang saja. Menyayangi apa adanya, dan berharap takkan ada yang berubah.”

Wooyoung terdiam dan mengangguk mengerti. Di saat begini, ia merasa dapat melihat Donghae sebagai hyungnya.

“Donghae~!” mendadak, Eunhyuk datang membuka pintu atap dan berlari menghampiri Donghae dengan wajah gembira.

Aigoo, Hyukie! Kau sudah selesai menasehati beauty princess?” tanya Donghae, pada Eunhyuk dan IU.

“Yaah setidaknya beauty mengerti beberapa hal. Hei, bukankah ini tempat bagus? Kita tinggal saja, ya?” bisik Eunhyuk, Donghae mengangguk setuju. Mereka berdua pamit dan meninggalkan Wooyoung-IU berduaan.

Hening sejenak, Wooyoung memandang ke arah langit dan IU juga memandang ke arah langit.

“Indah ya?” Wooyoung memulai pembicaraan. IU hanya mengangguk. Kembali hening.

“Ngomong-ngomong, aku belum mengenal semua yang ada pada dirimu.” Gumam Wooyoung, IU memandangnya dengan tatapan bingung.

“Maksudmu?” tanya IU, Wooyoung menelan ludahnya.

“Ah~ lupakan saja!” sergah Wooyoung panik.

“Maksudnya apa?” tanya IU lagi.

“Nggak apa-apa!”

“Katakan!”

“Nggak!”

“Katakaaan!”

“Nggaaaak!”

Mereka terus berantem sampai capek, lalu cemberut, dan tak mau memandang satu sama lain. Wooyoung melirik ke IU, IU yang juga sedang melirik ke Wooyoung langsung membuang muka, Wooyoung mencibir.

Hening lagi.

“Aaah apa-apaan sih mereka ini?!” Eunhyuk yang sedang mengintip dengan Donghae, Junho, Mir, Suzy, dan Bekah dari balik pintu masuk, berniat menghampiri mereka. Dia kesal karena bukannya bicara baik-baik, dua dongsaengnya itu malah bertingkah konyol.

“Hyukie! Jangan ganggu! Biarkan Woo lakukan sendiri!” omel Donghae, membuat Eunhyuk langsung kembali diam dan memperhatikan lagi.

IU menggerutu kenapa dia bersikap seperti ini di depan Wooyoung, padahal niatnya bukan begitu. Tiba-tiba Wooyoung menarik tangannya. “Aku cemburu kalau kamu dengan Yoseob,” aku Wooyoung tiba-tiba. “Aku nggak suka melihat kamu sama dia.”

“Aku juga!” balas IU. “Kamu akrab dengan Bekah, sampai kayak pacaran begitu!”

“Kami cuma teman! Dia minta aku mencarikan cowok untuknya!”

“Kami juga cuma teman! Baru saja aku menolaknya!” aku IU. Wooyoung nampak kaget.

“… Benarkah?” Wooyoung tidak percaya. Secepat itu?

IU mengangguk pelan dan menunjukkan smsnya yang berisi permintaan maaf dan penolakannya terhadap perasaan Yoseob, dan Yoseob mengiyakannya dan juga meminta maaf karena agak memaksanya.

“… Kenapa?”

“Kamu sendiri kenapa cemburu?” IU balik bertanya.

“Jawab dulu pertanyaanku!” seru Wooyoung, IU cemberut dan memandang ke arah lain. Wooyoung menghela nafas dan menggenggam tangannya.

“Aku suka padamu.” Katanya, IU langsung terdiam, lalu menutup wajahnya. Wooyoung yang melihatnya langsung menghela nafas panjang. “Ah, begitu lagi. Kamu suka sekali menutup wajahmu, ya?”

IU menggeleng dan mengintip lewat celah jarinya, Wooyoung tersenyum dan memegang tangannya. “Apa alasanmu sama denganku?”

Dengan ragu dan malu-malu, IU menganggukkan kepalanya dan menutup wajahnya lagi. Wooyoung tersenyum lebar dan menepuk kepala IU lembut. “Sepertinya kita harus mengenal satu sama lain dulu.” Katanya, IU tersenyum senang dan mengangguk.

Dua-duanya nampak sangat lucu sekali.

Eunhyuk, Donghae, Junho, Mir, Suzy, dan Bekah tersenyum dari balik pintu. Rencana sukses besar!

******

“… Dan di musim semi awal kelas 2, kita resmi jadian.” Wooyoung mengakhiri flashback. IU tersenyum dan mengangguk.

“Eunhae Oppa sekarang sudah kuliah, Bekah-ah pindah lagi ke kampung halamannya di Hawaii, dia bilang ingin belajar jadi designer. Sedangkan Yoseob memilih high school yang beda, kan?” IU mencoba mengingat-ingat.

Wooyoung menggangguk kecil.

“… Eh, meski banyak yang suka kamu, jangan terlalu dekat dengan mereka ya.” Canda Wooyoung. IU memukul lengannya.

“Tidak akan!” seru IU tegas. “Sekarang ini aku sudah punya Jang Wooyoung.”

Wooyoung tersenyum lebar mendengar jawaban kekasihnya itu. “Aku juga sudah punya Lee Jieun.” Katanya.

IU tersenyum senang dan menggenggam tangannya. Ice cream sudah habis, dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Sore ini, mereka kembali menggenggam tangan masing-masing, berjalan bersama menuju masa depan.

Fin

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s