Sweet Mystery : Fumiiji (1/2)

sweetmystery

PART.1 : Fumiiji

“Dasar bodoh! Sudah jelas kau akan kebasahan kalau berlari seperti itu di sisi sungai!” 

“Jangan memanggilku bodoh! Dan aku memang sedang ingin basah-basahan!”

Yaa! Kau itu perempuan, jangan bicara ‘basah-basahan’ semudah itu!”

“Itu biasa saja! Dasar, memang pikiranmu kotor!”

Mwo!? Kau berani bilang aku kotor? Jangan sembarangan! Aku ini pemuda paling suci di lingkungan ini!”

.

.

… Dan itulah percakapan terakhirku denganmu. Masih kekanakan, dan tidak menampakan perasaan dari hati masing-masing. Kenapa aku mengingat percakapan bodoh itu kembali?

Ah, ya, karena aku menyesal tidak menyatakan perasaanku saat itu.

******

Samyang High School, 1 February 2012. Class 2-C

“Jadi anak-anak, untuk menghadapi ujian tengah semester nantinya, kalian harus belajar benar-benar. Ingat, sebentar lagi kalian akan masuk dalam era yang paling menantang di kehidupan SMU. Kelas tiga.”

Han seonsangnim sibuk berceloteh di depan kelas. Seorang namja yang duduk di paling belakang hanya melongo melihat guru itu berkomat-kamit. Entah apa yang dia bicarakan. Hahaha… Kelas tiga? Lalu kenapa? Apa dia akan mati karena sudah akan masuk kelas tiga?

“Hwang Chansung, mohon duduk dengan benar dan dengarkan perkataan saya baik-baik. Nilaimu juga di bawah rata-rata.”

Namja yang duduk di belakang itu—Hwang Chansung, hanya menanggapi wali kelasnya dengan menguap. Sebodo amat dia mau dibilang kurang ajar. Sebisa mungkin sebelum dia dipaksa pihak manapun untuk belajar saat kelas tiga, dia ingin memberontak dan menikmati kehidupan remajanya saat kelas dua.

“Hwang Chansung, tolong sopan sedikit terhadap saya. Saya lebih tua dari kamu.”

“Lalu kenapa kalau seonsangnim lebih tua dari saya? Toh anda cuma lahir duluan dan berpendidikan lebih tinggi dari saya. Sebenarnya kita sama saja, sama-sama manusia. Hanya saja seonsangnim mempunyai keriput di wajah, kalau saya mempunyai ketampanan di wajah.” Jawab namja itu dengan santai. Smirk menghiasi wajah maskulinnya yang tertimpa cahaya mentari, membuat kesal Han seonsangnim bertambah berkali-kali lipat.

“Cukup. Kalau anda tidak bisa mendengarkan saya, lebih baik anda keluar saja.”

“Ah, kalau begitu saya juga keluar ya, seonsangnim. Sebenarnya daritadi saya tidak mendengar apa yang anda katakan.” Seorang namja yang duduk di sebelah Chansung ikut mengangkat tangannya, lalu menyengir jahil pada sahabat di sebelahnya. Mereka berdua terkekeh geli lalu segera kabur keluar tanpa melihat wajah Han seonsangnim yang menjadi merah.

Yaa! Ok Taecyeon, Hwang Chansung, awas kalian kalau bertemu saya lagi!”

******

“Hebat! Kau lihat ekspresi Kakek Han?” seru Taecyeon diiringi gelak tawanya yang renyah. Chansung hanya tersenyum saat mengingat Han seonsangnim tadi.

“Ya, sepertinya asap akan keluar dari telinganya. Untung saja kau langsung memotong pembicaraannya, kalau tidak tanganku akan habis digunakan untuk mengepel kamar mandi.” Chansung berhenti sebentar di kantin, lalu menendang-nendang vending machine. Mungkin ada suatu hal magis, yang membuat sekaleng minuman jatuh dari dalam sana. Baru saja namja itu mau mengambilnya, Taecyeon sudah menyerobot dan mengambil kaleng itu duluan.

“Hei!” protes Chansung. Ia memasang ekspresi tidak rela.

Wae? Kau jago menendang, tendang saja lagi. Anggap saja hutang budimu lunas, ne?” Taecyeon meneguk habis sekaleng minuman itu tidak sampai semenit. Chansung hanya menggerutu dan kembali menendang vending machine itu sampai satu kaleng lagi jatuh.

“Coba tadi kita lebih panas-panasi lagi. Bisa-bisa dia ngambek seperti bulan lalu, dan hasilnya dia tak masuk kelas selama dua minggu!”

Chansung tertawa ringan. Sahabatnya memang selalu saja ada ide menjahili seonsangnim mereka yang satu itu. Walau tampangnya galak, tapi ia setuju kalau wajah Han seonsangnim itu seperti meminta untuk dijahili. Apa ya? Memelas tidak, tapi entah kenapa ada sesuatu saja yang membuat mereka berdua gemas untuk membuatnya marah. Tapi kadang takut juga kalau dimarahi, apalagi jika tidak ada ruang untuk kabur.

“Sudahlah, aku mau membolos saja. Kau masih mau disini?” Chansung menatap Taecyeon yang sekarang sibuk memperhatikan makanan kantin. Kelihatannya namja itu kelaparan. Tapi kalau dipikir-pikir, Taecyeon memang selalu kelihatan kelaparan.

“Ya, aku akan menunggu sampai pelajaran Han seonsangnim selesai. Kau benar mau membolos sekolah?”

Ne, aku bosan sekali. Setelah ini ada pelajaran si killer dan si pembaca buku untuk bayi, kan? Aku tidak tahan mendengar curhatan mereka. Duluan ya~”

Chansung melambaikan tangannya pada Taecyeon lalu segera berlari kabur ke luar gedung sekolah. Ada sebuah spot rahasia yang menghubungkan taman belakang sekolah dengan sebuah padang rumput dengan sungai indah di belakang sana. Jadi, disitu pagar pembatas sekolah sudah rusak dan tak ada yang menemukannya, jadi tak pernah dibenarkan. Solusi yang brilliant untuk seorang Hwang Chansung!

******

“AAAAH INI HIDUP! IIIIINIIII HIIIIDUUUUUPPP!!!”

Chansung menghirup udara dengan sebebas-bebasnya. Akhirnya, tidak ada lagi bau tinta dan kertas yang mengganggu penciumannya. Semuanya hilang saat dia melihat sungai berair jernih yang sekarang sudah berada di hadapannya. Pemandangan yang lebih dan lebih menyegarkan daripada soal matematika! Iya, tentu saja! Lagipula, soal matematika dan pemandangan indah itu terbalik seribu delapan ratus delapan puluh tiga derajat. Nah, jangan menuduh kalau dia tidak tahu derajatnya, hanya saja dia tidak peduli tentang derajat-derajatan. Persetan dengan itu! Yang penting santai!

“Hmm… Melegakan… Melegakan…” ia bersenandung riang sementara tungkai kakinya bergerak kesana-kemari di sisi sungai. Entah kenapa dia berubah jadi anak kecil kalau sudah ada di tempat seperti ini.

“Hai. Kamu bolos?”

Sontak, kaki Chansung langsung terpeleset dan dia jatuh ke sungai. Untung saja tempat itu dangkal. Tapi batu-batu kecil di dasarnya melukai tubuh besarnya.

Kepalanya bergerak kesana-kemari mencari sumber suara yang tadi mengagetkannya. Pandangan matanya menemukan seorang yeoja yang tadi bicara. Gadis itu berambut cokelat dikepang panjang, terlalu panjang malah. Kulitnya putih bersih, dan matanya yang sipit terlihat lucu saat dia sedang tertawa. Ya, gadis itu sedang tertawa saat ia menemukan gadis itu.

“Apa yang kamu tertawakan?” gerutu Chansung. Matanya melirik ke arah si gadis yang sekarang sedang mengulum senyumnya.

“Butuh bantuan?” tanyanya lembut. Ia mengulurkan tangannya dan langsung dibalas dengan gelengan cepat dari Chansung.

“Tidak. Lelaki tidak butuh bantuan dari seorang gadis seperti kamu.” Gerutu Chansung ketus. Sudah dibuat terpeleset seperti tadi, masa dia mau melecehkan dirinya sendiri dengan membiarkan dirinya ditolong perempuan?

“Jangan begitu. Lelaki itu tidak selamanya bisa berdiri sendiri.” Ujar gadis itu. Ia merapikan rambutnya yang agak berantakan lalu kembali tersenyum.

Chansung memperhatikan yeoja itu dari atas sampai bawah. Rambut kepangnya yang longgar membuatnya dia tidak seperti gadis desa, tapi pakaiannya sudah agak lusuh. Manis sih, tapi kok sepertinya ia tidak pernah melihat gadis ini, ya? Apa dia siswa dari sekolah lain dan juga kabur kesini? Seragamnya juga berbeda, walau desainnya agak mirip-mirip dengan seragam Samyang High School. Tapi tunggu dulu, sungai ini juga termasuk dalam wilayah Perguruan Samyang. Jadi aneh saja jika gadis ini murid dari sekolah lain. Masa dia hanya iseng-iseng? Jam pelajaran, lagi! Bisa-bisa dia dilempar keluar wilayah sekolah duluan oleh satpam.

“Kau sendiri juga bolos, kan? Kau anak dari mana?” terka Chansung. Gadis itu terkekeh kecil mendengar pertanyaan namja di hadapannya.

“Menurutmu apa aku tidak membolos? Bisa iya, bisa tidak. Aku anak disini kok, hanya saja seragamku kupinjam dari kakakku dulu, jadi seragamnya masih model lama dan sudah agak lusuh. Aku sedang menunggu seseorang disini.”

“… Kau menunggu orang? Di tempat begini?” Chansung menatap gadis di depannya dengan tatapan heran. Tapi rasa penasaran menggelitik hatinya, membuat dia tak tahan untuk tidak bertanya. “Siapa?” Namja itu melepas seragamnya, sementara pandangan matanya masih tetap menuju pada gadis itu.

Yaa! Jangan membuka baju di depan seorang gadis!” protes yeoja itu. Ia refleks membalikkan badannya dan menutup wajahnya. Chansung terkekeh geli melihatnya.

“Kenapa tidak mau? Aku mempunyai tubuh yang bagus~” godanya. Ia mendekatkan tubuhnya pada gadis itu, tetapi gadis itu malah memukul perutnya dan menyuruhnya jauh-jauh. Niatnya ingin menggoda, tapi perutnya sekarang malah kesakitan.

“Rasakan! Makanya jangan menggodaku!” serunya galak. Chansung tidak mengerti karakter gadis itu. Tadinya lembut, tapi sekarang jadi sangat menakutkan. Ternyata memang semua perempuan mempunyai bakat bermuka dua—menurutnya. Kecuali kalau yang dipukul tadi adalah Taecyeon, dia pasti tidak akan menyerah dan malah akan semakin menggoda gadis itu. Memang darah playboy sudah tercap di jidatnya.

“Aish! Kenapa kau harus memukulku!?” protes Chansung.

“Karena kau menggodaku! Jangan berbicara hal-hal seperti itu di depanku!” protes gadis itu balik. Hah, seperti seorang gadis pada umumnya, awalnya manis ke belakang kasarnya bukan main. Menyeramkan.

“Ini kan gara-gara kau yang menjatuhkan aku ke sungai itu! Kalau aku tidak membuka baju, bisa-bisa masuk angin! Kau mau tanggung jawab kalau aku masuk angin? Hah? Brrrrh udara dingin sekali, kau gila menyeburkanku ke sungai saat musim dingin!” Chansung memeras seragamnya yang masih basah. Dalam hatinya ia masih menggerutu yang macam-macam.

“Ah, mianhae… Lain kali kamu harus hati-hati juga, jangan berjalan di sisi sungai seperti itu atau kau akan terpeleset dan terbawa arus.” Tegur gadis itu. Chansung hanya menatapnya dengan tatapan bingung.

“Terbawa arus? Ini sungai dangkal, paling-paling hanya setengah meter. Satu-satunya yang terbawa arus hanya semut yang iseng berenang disitu atau anak kecil. Mana ada anak kecil yang ke kawasan SMU.”

“Ada waktunya saat sungai itu meluap dan airnya semakin tinggi. Saat musim hujan, itu bisa saja terjadi. Musim-musim begini juga bisa, kalo salju mulai mencair.”

“Ooh… Oke. Tunggu, kenapa kau tahu banyak tentang sungai disini? Kau penunggunya, ya?”

“… Jangan sebut aku seperti itu. Begini-begini aku lebih tua darimu. Kenalkan, Lee Jisun imnida.” Gadis itu mengulurkan tangan mungilnya, dan langsung disambut oleh jabatan tangan Chansung.

“Hwang Chansung imnida. Salam kenal sunbae.” Ujar Chansung, sedikit ketus dan datar.

“Panggil aku Jisun saja, jangan memakai noona. Aku tidak mau nampak sok tua.”

“Siapa juga yang mau memanggilmu noona?” goda Chansung. Ia tertawa kecil saat melihat perubahan ekspresi Jisun.

Yaa! Kau—”

“Bercanda~ ampun! Baiklah Jisun, jangan marah dan memukulku lagi. Sudah cukup pukulan telakmu mengenai perut sixpack-ku ini. Aku kabur dari kelas karena bosan, wali kelasku terus-terusan mempermasalahkan tentang ujian dan tantangan saat kelas tiga. Siapa yang tidak keki dengan hal itu?”

“… Wali kelas, ya? Siapa?”

“Han seonsangnim. Kau tentu kenal, karena seluruh kelas dua diajari pelajaran tata bahasa oleh dia. Tahun lalu juga begitu, kan?”

“… Tahun lalu? Oh, iya, tentu saja.” Jisun menganggukkan kepalanya perlahan, lalu duduk di atas rerumputan hijau di sisi sungai. Chansung mengikuti gerakannya, dan ia menempatkan dirinya tepat di sebelah Jisun.

“Kalau kau? Sedang apa kau, anak kelas tiga, bermain-main di tempat seperti ini?”

“Bukankah sudah kubilang aku sedang menunggu seseorang?” jawab Jisun, kali ini dengan nada yang lebih tinggi. Tatapannya mendadak kosong ke arah sungai, memperhatikan tiap desiran dan aliran sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Seperti waktu.

Ya, seperti waktu. Waktu yang tak pernah berhenti mengalir. Terus, dan terus mengalir, tanpa menghentikan perasaannya. Perasaan seorang Lee Jisun.

“Siapa? Sebegitu pentingnya sampai kau memotong pelajaran?” Chansung menyadarkan lamunannya. Pemuda itu masih memperhatikan setiap lekuk wajah dan tatapan dari Jisun. Jisun baru tersadar kalau namja itu masih di sebelahnya—dan memperhatikannya.

“Sangat penting. Makanya aku terus menunggu disini.” Jawabnya tegas, tanpa koma. Chansung mengangguk kecil, enggan menanyakan kelanjutannya. Tadi ia melihat tatapan serius Jisun sekilas, dan tatapan itu terlihat seperti tidak mau terganggu. Jadi biarlah gadis itu menunggu seseorang yang ia tidak tahu.

Tunggu. Lagian, apa urusannya?

Chansung langsung menggeleng tanpa arti. Ck, dia sebenarnya orang yang mudah penasaran, tapi mengingat rasa sakit yang masih membekas di perutnya, ia mencoba menahan bibirnya. Setidaknya sampai Jisun mau cerita padanya sendiri.

“… Lagian, tadi kupikir…” gumam Jisun. Ia melirik ke arah Chansung yang juga melirik padanya. Mulutnya mendadak terasa seperti dikunci. “… Tidak. Tidak jadi.” Potongnya.

“Hah? Wae? Wae? Aku sudah bersabar tadi, sekarang cerita kenapa!” Chansung langsung heboh sendiri. Ternyata memang sifat ingin mau tahunya tidak bisa dilepaskan lagi.

Mwo? Kenapa kau mendadak tertarik seperti itu? Jangan mendekat seperti itu, atau perutmu akan kupukul lagi. Menjauh, atau aku tidak akan cerita!” bentak Jisun galak. Chansung yang tadinya mendekatkan tubuhnya sekarang menyeret mundur dirinya sampai kira-kira setengah meter dari Jisun. Setelah memastikan dirinya aman, Jisun akhirnya kembali tenang.

Gadis itu mengambil nafas sebentar, lalu menghembuskannya perlahan. “Kupikir saat melihatmu berdiri dan bermain di sungai ini, kau adalah orang yang kutunggu.” Ceritanya.

“Wah, maaf, aku merusak khayalanmu.” Komentar Chansung seadanya. Jisun hanya mengangguk, lalu tatapan matanya berpindah ke aliran sungai kembali.

Gwenchana. Aku juga tidak berharap terlalu muluk. Aku hanya berharap bisa bertemu dengannya lagi, meski hatiku masih tidak tenang sekarang ini.” Ujar Jisun, suaranya merendah. Sorot mata yeoja itu nampak teduh, membuat Chansung merasa nyaman.

Aneh. Padahal baru bertemu. Ngapain juga dia menatap seorang gadis begitu lekat?

Chansung kembali menggeleng. Bulu kuduknya merinding. Bukan, bukan karena Jisun bulu kuduk itu berdiri, tapi karena sikapnya yang tiba-tiba luluh begini. Menatap seorang gadis terlalu lekat, merasakan kenyamanan dari sorot matanya, dan… Err… Apasih, namanya? Menjaga kenyamanan gadis itu? Entahlah, biasanya kalau memang sedang penasaran dengan sesuatu, namja itu akan terus bertanya sampai hatinya puas, tak peduli orang akan jadi sekesal apapun padanya. Tapi sekarang tidak.

“… Apa mungkin karena dia kakak kelas?” gumam Chansung pelan.

“Hm? Kau ngomong sesuatu?”

“Eh? Ani, aku bicara dengan diriku sendiri dan seratus persen aku hanya bergumam!” serunya, panik. Wajahnya entah kenapa memerah, membuat Jisun tertawa melihat perubahan ekspresinya.

“Tidak kusangka kamu bisa kalut juga.” Ujar Jisun. Senyumannya merekah di bibir tipisnya, membuat Chansung ikut tersenyum.

“Nah, kau pantas tersenyum, ngapain juga kau marah-marah? Begitu kan lebih cantik.” Sahut Chansung, jujur. Tanpa ada maksud apa-apa.

Nyut.

“… Hah? Oh, iya, terima kasih…” Jisun hanya bersungut-sungut, lalu tersenyum malu. Entah kenapa tadi ada sesuatu yang melintas di pikirannya. Apa itu…?

“Oh iya, boleh aku tahu siapa nama orang yang kau tunggu itu? Siapa tahu jika aku bertemu dengannya, aku bisa bilang padanya kalau kamu menunggunya disini.” Tanya Chansung, agak mengada-ngada. Yah, sebenarnya dia hanya mau mendapat sedikit perhatian dari Jisun. Berbasa-basi kan memang tata krama dalam masa pendekatan.

Tunggu dulu… Pendekatan? Ngomong apa aku ini…

Mwo? Ani, kau tidak mungkin bertemu dia. Dia suka pergi entah kemana, keberadaannya tidak jelas. Karena dia paling sering ke tempat ini dan memang selalu kelihatan bermain disini, maka aku menunggunya disini.” Jisun menggeleng cepat, menolak maksud tersembunyi Chansung.

“Kalau begitu namanya. Kan tadi aku meminta kamu beritahu namanya, kan?”

Deg.

“Ah… Soal namanya… Itu… Mungkin kau akan merasa aneh dengan namanya. Sama seperti kesan pertamaku saat aku mendengarnya.”

“Tak apa, bilang saja. Banyak orang tua yang seleranya aneh, kok.” Ujar Chansung, walau kata-katanya sama sekali tidak membantu menenangkan Jisun.

“Ah… Fumiiji. Hwang Fumiiji.” Bisik Jisun pelan. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Fumiiji? Ah, namanya susah.” Chansung merasa aneh dengan nama itu. Meski marganya sama seperti dirinya, tapi nama itu tidak terdengar seperti nama Korea. Apa dia anak campuran?

Appanya Korea, eommanya Jepang.” Jisun segera menambahkan kata-katanya. Chansung mengangguk, tanda bahwa ia baru mengerti.

Hm…

Hwang Fumiiji.

“Hwang Fumiiji?”

Jisun hanya mengangguk.

“Kenapa kau menyebutnya dengan tergagap begitu, sih? Takut aku naksir padanya, ya? Tenang saja, aku masih waras dan seratus persen masih menyukai perempuan.” Chansung tersenyum dua jari, membuat Jisun tertawa. Ah, seperti dugaannya, senyuman dan tawa gadis itu lepas dan terlihat manis.

Chansung tersenyum lembut melihat Jisun. Gadis itu mendadak langsung salah tingkah diperhatikan begitu oleh namja itu. Sebuah semburat merah menghiasi pipi pucatnya, membuat senyuman Chansung tambah lebar.

Eh, boleh juga kalau aku merubah karakter sedikit saja untuk gadis ini. Gumam Chansung. Tapi, sekali lagi, ia menggeleng. Aish, ada apa sih dengan otaknya?

Otaknya error. Pasti error. Mungkin karena dia kebanyakan membolos?

“Eh, Jisun—”

Teng! Teng!

“—Baru saja aku mau bilang, jam Kakek Han sudah selesai. Aku harus buru-buru, kau tidak mau masuk?” Chansung segera berdiri, menatap gedung sekolahnya dengan tatapan khawatir. Sebenarnya ia bukan mau bicara tentang itu, tapi yasudahlah.

“Hm? Tidak. Aku masih mau menunggu disini.”

“Aish. Memang orang itu datang jam berapa sih? Murid sekolah lain ya, sampai harus menunggu begitu? Sudahlah, aku duluan ya! Jangan terlalu sering bolos sepertiku, bisa-bisa merusak imagemu sebagai perempuan!” Chansung segera berlari sambil mengenakan seragamnya yang sudah kering setelah diterpa sinar sang mentari tadi, lalu menerobos lubang pagar dan berlari masuk ke lorong. Beruntung musim dingin kali ini bisa lumayan cerah.

Jisun hanya tersenyum melihatnya. Namun, hanya sekilas.

Dia kembali memandang kosong ke arah aliran sungai yang entah mengapa mengalir lebih deras. Tatapan teduhnya berubah menjadi tatapan sendu. Seperti tak ada lagi suara gemericik air terdengar dari sungai.

“… Kamu dan dia mirip, bodoh…” gumamnya. Sayup-sayup suara desiran angin mengalir kembali melewati telinganya. “… Aku jadi merasakan kamu ada disini, makanya aku merona karena melihatnya…”

“Aku, bodoh?” gumamnya lagi. Sebulir air mata mengalir di pipi dinginnya. “… Aku tidak bodoh. Kamu selalu bilang aku bodoh.”

“Aku benci kamu…”

Dua, tiga, empat. Dan seterusnya, bulir-bulir kristal terus mengalir di pipinya. Tapi ia tak membiarkan satupun air mata itu jatuh ke tanah. Semuanya ia tahan di telapak tangannya, yang ia gunakan untuk menadah benda-benda mungil itu.

“… Hiks…”

Kita seperti anak kecil.

Padahal aku sadar, aku dan kamu, sama sekali bukan anak kecil lagi

Walau pertengkaran kita seperti anak kecil, tapi fisik kita tidak mengatakan hal itu

Ya, fisik kita tidak akan mengatakan hal itu…

******

Class 2-C

“Yo! Ngapain balik lagi?” Taecyeon menepuk pundak Chansung jahil. Yang ditegur hanya mendelik kesal.

“Entahlah. Kedua kakiku yang membawaku kesini, bukan karena keinginanku ya. Jadi jangan salah sangka seperti mengira bahwa aku sedang menjadi anak rajin. Sehari pun takkan terjadi hal itu.” Chansung langsung mengoceh panjang lebar sebelum sahabatnya berbicara banyak. Taecyeon hanya terkekeh geli lalu meneguk botol air putih yang tadi dibelinya.

“Ya, dan hari itu akan datang pada saat ini juga!”

Karena terkejut, tak sengaja Taecyeon menyemburkan air yang masih ia teguk ke wajah seseorang, dan Chansung menatapnya dengan tatapan ‘kita-akan-mati’.

“… Hwang Chansung, Ok Taecyeon, mari ke kantor guru sebentar.” Han seonsangnim mengelap wajahnya dengan sapu tangan. Taecyeon dan Chansung hanya bisa meringis. Sial, mereka kena kali ini.

******

Teacher’s Office

“Baiklah, dalam catatan yang saya buat, kalian sudah melarikan diri dari pelajaran saya sebanyak lebih dari tiga kali dalam bulan ini. Apa alasan kalian melakukan hal tersebut?” Han seonsangnim membetulkan kacamata tuanya. Kumis tebalnya yang hitam dihiasi uban selaras dengan rambutnya. Dan hal itulah yang selalu membuat Taecyeon dan Chansung terkekeh geli melihat guru ini.

“Saya merasa saya tidak membutuhkan nasihat seonsangnim.” Aku Chansung. Daripada berbohong dan nantinya malah tambah repot, jujur begini dua kali lipat lebih baik. Dia pernah mencoba membohongi guru ini dan hal terakhir yang ia dapat saat itu adalah mengerjakan ulangan seminggu penuh di ruangan kepala sekolah. Menyesakkan jiwa dan raga.

“Kenapa begitu?”

“Karena kalau tentang ujian, saya juga pasti nanti memikirkannya. Saya tidak ingin terlalu serius di kelas dua ini, saya ingin menikmati masa muda dengan banyak kenangan yang tercipta. Tidak asyik saja kalau saya memiliki anak nanti, hal yang akan saya ceritakan padanya adalah ‘Dulu appa mengerjakan soal matematika yang susah sekali. Kamu tahu kan, dua akar kuadrat di tambah ini ini ini akan jadi berapa? Nah masa jawabannya tidak ada! Mana saat itu appa tidak membawa buku rumus’. Bisa-bisa anak saya yang akan menelantarkan saya.” Ocehnya. Taecyeon hanya menahan tawanya.

Hening. Han seonsangnim hanya diam. Chansung dan Taecyeon masih menunduk sambil sekali-kali melirik ke arah guru itu.

“… Ehm, saya mengerti jawabanmu. Tapi setidaknya kerjakan pekerjaan rumahmu dan perhatikan saya sekali-kali. Karena pelajaran di kelas dua juga akan diuji saat kamu sudah kelas tiga.” Han seonsangnim berdehem, lalu menatap lurus ke arah Chansung yang hanya manggut-manggut.

“Kalau saya—” Baru saja Taecyeon mau menjawab pertanyaan Han seonsangnim, guru itu sudah mengusir mereka berdua dari kantor guru dan sibuk membuka-buka arsip lama.

******

“Ada apa sih dengan Kakek Han? Tumben kali ini melepaskan kita begitu saja.” Oceh Taecyeon. Dia dan Chansung berjalan beriringan menuju kelas. Oh, dan mereka memanggil Han seonsangnim dengan Kakek Han bukan karena tanpa alasan. Guru itu sudah mengajar di Samyang High School selama empat belas tahun. Umurnya sudah lebih dari lima puluh.

“Entah, sedang kesambet setan baik hati, mungkin?”

Kedua namja itu langsung tertawa membayangkannya.

“Tidak mungkin, mana ada setan baik yang mau sama dia. Malaikat saja tidak ada yang mau menghampiri!” Taecyeon menggeleng-gelengkan kepala dan tangannya. Chansung terkekeh geli dan mengangguk sesekali.

“Ah! Itu dia Chansung dan Taecyeon! Cepat sini, kita sudah menunggu kalian untuk melakukan voting acara kelas nantinya!” seorang siswa muncul dari balik pintu kelas 2-C. Taecyeon langsung berlari dengan semangat lalu masuk ke dalam kelas.

Mendengar itu, Chansung spontan menatap ke luar jendela. Mencari sosok yang ingin dilihatnya meski tak mungkin pandangan matanya bisa menemukan sosok itu. Menunggu ya?

Kira-kira, orang bernama Fumiiji itu sudah datang menemui Jisun, belum ya?

******

Back to Teacher’s Office

Han seonsangnim masih membuka-buka arsip lama. Setumpuk buku tertata rapi di atas mejanya.

Tangannya terus bergerak sampai menemukan halaman yang ia cari. Ya, halaman yang berisi foto-foto. Dan di tengah-tengah, ada seorang anak lelaki yang tersenyum ceria dan cengirannya yang lebar menghiasi wajah putihnya.

Salah satu orang yang tidak mengikuti upacara kelulusan.

“… Anak itu…” gumam Han seonsangnim perlahan. Bayangan Chansung yang tadi duduk di hadapannya masih terbayang di benaknya. “… Mirip denganmu, Fumiiji…”

******

Jisun duduk termangu di sisi sungai. Ia mengintip ke dalam tangannya yang menelungkup. Seekor kupu-kupu putih terbang dengan bebas dari tangannya.

Jisun tersenyum menatap kupu-kupu kuat itu terbang. Sepertinya untuk setelahnya, dia bisa menemukan tempat untuk menghangatkan diri. Orang itu sama seperti kupu-kupu, sangat bebas dan karakternya selalu menentang peraturan yang ada.

Tatapan mata sendunya kembali lagi. Makin menyakitkan.

“… Fumii… Aku sudah tidak bisa merasakan hangat lagi…” gumamnya. Lagi-lagi butiran kristal mengalir di pipinya yang memerah, dan kedua tangannya bergerak memeluk lututnya sendiri.

Fumiiji…

Fisik kita tidak mendeskripsikan karakter kita sekarang ini…

Jemput aku…

******

Samyang High School, 3 February 2012, Class 2-C

“PANAAAASSSS!!!” Chansung mengipas-ngipaskan lehernya dengan tangan kanannya. Mendengar itu, Taecyeon langsung melemparnya dengan buku tulis saking kesalnya. Suara maupun penampakan namja di depannya sekarang sama-sama mengganggu ketenangan lingkungan.

“DIAM KAU! MUSIM DINGIN BEGINI JUGA!” bentaknya, tidak santai. Sekarang ini mereka sedang dikurung dalam ruangan kelas. Tentu saja, oleh Han seonsangnim. Siapa lagi?

Kedua orang ini ditugaskan mengerjakan pekerjaan rumah dan semua tugas yang mereka tinggalkan selama semester dua ini. Yah, you get what you pay.

“Kau! Tidak bisakah bersikap sedikit optimis? Kalau kita ngomong dingin, maka cuaca akan semakin terasa dingin!” Chansung balas membentak. Dia menggeratakkan giginya karena kedinginan. Dikurung dalam ruangan dingin begini sama saja Han seonsangnim membiarkan mereka berdua mati perlahan-lahan. Dan mereka sama sekali tak bisa kabur karena jendela dan pintu dikunci rapat-rapat.

“Ck. Memang malaikat tak mungkin menghampiri si setan itu.” Decak Taecyeon kesal. Sekali-kali ia bersin, mengusap-usapkan tangannya agar hangat, lalu mencari-cari jaket tambahan di kolong meja teman-temannya.

“Brrrr aku sudah tidak tahan! Berapa lagi sih tugas yang belum selesai? Boleh kan kalau kita membawa semua ini pulang?” Chansung memeluk tas gendongnya erat-erat. Matanya menatap seluruh kertas-kertas yang entah-ada-berapa di atas meja dengan pandangan nanar.

“Sialan. Kalau bisa akan kubakar semua benda-benda ini dan kujadikan api unggun.” Gumam Taecyeon pelan. Tangannya bergerak-gerak seakan mengutuk buku-buku di depannya.

“Percuma, percuma. Kakek Han cuma akan menambah pekerjaan kita.” Chansung memajukan posisi bangku yang ia tempati, lalu mulai membuka lagi sebuah buku untuk dikerjakan. Tangannya bergerak-gerak mengisi jawaban dengan pensil.

“Aaah kau ini, tumben sekali jadi sangat rajin. Biasanya kau juga sudah lompat dari jendela dan menarikku untuk kabur, kan!” protes Taecyeon. Chansung hanya mencibir, lalu menjulurkan lidahnya.

“Jangan sembarangan bicara ya. Itu karena kau yang mengidekan.” Balasnya, tidak terima.

Yah! Aku sudah pusing dengan semua pekerjaan membosankan ini! Berikan aku bukumu!” Taecyeon mulai frustasi. Ia menarik buku yang sedang dikerjakan Chansung sampai halamannya robek setengah.

Yah! Kurang ajar!! Kau pikir aku mengerjakan itu butuh berapa menit!?”

“Aku tidak peduli! Yang penting pekerjaanku selesai dan aku bisa tiduran di dalam selimut yang hangat!!”

“Selimut gambar hello kitty saja kau rindukan! Jangan membuat aku marah!!”

“Ck, kau ini—”

“KALAU KALIAN BERISIK, TUGAS KALIAN AKAN SAYA TAMBAH DUA KALI LIPAT!” teriak Han seonsangnim sembari membuka pintu kelas mereka. Gigi-giginya yang agak tonggos entah kenapa berkilauan diterpa cahaya lampu. Taecyeon dengan panik langsung kembali ke tempat duduknya dan membuka sebuah buku, sedangkan Chansung masih meratapi nasib bukunya yang sekarang sudah hancur karena perbuatan sahabatnya yang semena-mena itu.

“Akan kubalas suatu hari nanti…” rutuk Changsung. Ia mendelik tajam ke arah Taecyeon yang dengan takut-takut langsung menutup wajahnya dengan buku.

******

16.00PM

“Lihat apa perbuatanmu! Hari Sabtu yang harusnya menjadi hari bebas begini harus kuluangkan denganmu dan juga buku-buku sialan itu!” seru Chansung dengan nada kesal. Jam segini, dia dan Taecyeon baru saja pulang setelah seluruh pekerjaan itu dikerjakan tanpa ampun.

“Siapa juga yang mau meluangkan waktu denganmu! Kau lihat, dari jam sembilan pagi sampai jam segini kita harus meladeni Kakek Han dan buku-buku itu. Berapa jam jadinya? Satu… Dua… Tiga… TUJUH JAM! Tujuh jam tambahan aku menghabiskan waktu bersamamu dalam seminggu!” Taecyeon memasang ekspresi seperti dia habis melihat sesuatu yang paling menjijikkan di bumi, membuat Chansung memukul pelan pipinya.

“Jangan berlebihan! Aku juga bosan menghabiskan waktu selama lebih dari sepuluh tahun denganmu!” seru Chansung. Sedangkan Taecyeon hanya mencibir. Ya, mereka berdua teman sejak kecil. Makanya tak pernah sungkan satu sama lain. Pribadi asli mereka yang cool dan santai tidak nampak lagi kalau mereka hanya berdua.

Langit semakin jingga, sang mentari juga sudah turun dari posisinya di puncak. Jujur saja, mengerjakan pekerjaan sebanyak itu membuat Chansung dan Taecyeon tak sanggup bertengkar lama-lama.

“Aku capek bertengkar denganmu.” Desis Taecyeon, nadanya terdengar pasrah. Ia melirik ke arah Chansung yang sekarang sibuk memperhatikan ke arah taman belakang sekolah. “Yah! Sedang apa kau?”

“… Dia masih menunggu, tidak ya?” bisik namja yang diteriaki itu. Taecyeon hanya memiringkan kepalanya untuk melihat apa yang namja di depannya lihat, tapi tidak ada yang menarik di depan sana. Hanya rerumputan dan semak-semak yang menganggur.

“Kau pulang duluan saja, aku mau kesana dulu!” Chansung langsung berlari ke arah taman belakang sekolah tanpa menunggu respon dari Taecyeon. Kakinya dengan cepat bergerak ke arah lubang tersembunyi itu. Dia ingin cepat memastikan, siapa tahu ‘dia’ masih menunggu disana. Ya, Jisun.

“Hei!” teriak Taecyeon, agak terkejut kenapa tiba-tiba temannya lari begitu saja. Tetapi Chansung sudah tak terlihat lagi, dan mungkin suaranya sudah tidak sampai ke telinga pemuda yang masih berlari sekuat tenaga itu. Namja ini menghela nafas, lalu berjalan pulang dengan lunglai.

To be continued

******

Hai~ aku kembali lagi dengan FF super telat yang menyiksa batin~ seperti biasa, idenya selalu aja dadakan B-) <— baru muncul tadi siang.

Yaudah yuk dikomen aja. Banyak komen besok dipost deh terusannya :B

13 responses to “Sweet Mystery : Fumiiji (1/2)

  1. Boleh saya nangis lihat Chansung? O.o #lho
    Chansung di posternya sangatsangat keren banget! Benar-benar gak nahan lihatnya~ T^T

    Awalnya masih belum jelas, jadi penasaran sama lanjutan ini fanfic😀

    Dilanjutin yah setidaknya sebelum saya UN😥

    Oh ya saeng kamu edit fotonya di mana? Hehe soalnya penasaran editanmu bagus-bagus sih😀

    • lho kok…
      ganteng banget di posternya ituhhh!😄 makanya saya pilih, terpesona dengan kegantengannya yang maha ganteng T^T #nahkokcurhat-_-v

      belum jelas kah? hohohoh, semuanya akan release di part.2! dinantikan ya eonnie :3
      sipp! hari jumat/sabtu pasti selesai, soalnya aku udah done UTSnya heheh meski gatau bakal remed atau ngga-_-v
      di photoshop eonn😄 makasih yaaa udah jadi pembaca setiaku hehe, aku terharu banget :”D makasih readmennya eonnieee :*

      • Oke kutunggu yah😀

        Wah editanmu bagus saeng. Aku juga mau edit gitu tapi gak bisa photoshop ^^” #kampungan

        Hoho cheonmaneyo~ :3

      • Siiiiap! Ceritanya udah 50% selesai huehehe:D

        Itu masih editan abalabal eonn, aku masih perlu banyak belajar. Otodidak sih ehehe==” gapapaa! Eonnie pasti bisa!! Fighting!!! /o/

        Gomawooo:3

  2. Pingback: Sweet Mystery : Jisun (2/2) | Cappuchino In Your Life·

  3. aku udah baca ini kemarin, tapi mian ya lagi komen sekarang, maklum koneksi inter lemot ._.

    ini keren fik, buangeet ! jadi pengen tahu masalahnya kyk gimana ^^
    fikha pinter juga ya bkin saya penasaran , wkwkwk…

    lanjut deh saya bacanya –> lets go to part 2

  4. wah kece beut ffmu.. terharu deh T,T #lebay…
    mianhae, baru baca+comment ffmu sekarang:D .. kau tahu? itulah deritanya murid terpelajar yang terpelajar. ignore it.
    back to ff… cuma sampe part 2 kah? fufu~ *tanda2 pengen lebih.. kyakya
    FIGHTING FIKHA!

    • hehehe makasih eonnieee^^
      gwenchana, yang penting eonnie udah baca dan komen :3 uhmmm okeoke:/ *gangerti*
      kalo kepanjangan aku juga yang tepar eonnie =w=
      SIAP! FIGHTING!

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s