Sweet Mystery : Jisun (2/2)

sweetmystery

PART.1 : Fumiiji | PART.2 : Jisun

Jejak kakinya berakhir di depan lubang pagar. Matanya lagi-lagi menangkap sosok gadis itu—dan sekarang rambutnya yang cokelat bergelombang terurai begitu saja. Gadis itu masih dengan pakaiannya yang lusuh, menatap ke arah sungai dengan pandangan kosong. Padahal ini hari Sabtu—dan sudah jelas bahwa ini adalah hari libur, tapi apa gadis itu masih menunggu orang bernama Fumiiji itu? 

“Jisun!” tungkai kaki namja itu bergerak ke arah gadis yang hanya melirik sekilas padanya. Aneh sekali, Jisun diam sendiri disini tanpa memakai jaket sekalipun. Padahal cuaca hari ini hampir membekukan tubuhnya, berhubung Korea sedang dilanda musim dingin.

“… Kamu sedang apa disini?” tanya gadis itu—walau lebih terdengar seperti rintihan. Kepulan putih muncul tiap ia bernafas, dan matanya nampak kelelahan dan agak membengkak. Pipinya yang putih pucat sudah menjadi sangat merah. Wajar saja, menunggu di tempat seperti itu tanpa jaket atau apapun sama saja dengan cari mati.

Dengan sigap, Chansung melepas jaketnya dan menyelimuti Jisun. Tadi dia mengeluh dingin, tapi sama sekali tidak gentleman untuk seorang pria membiarkan seorang wanita di hadapannya kedinginan. Lagipula sweater dibalik jaketnya tak disangka cukup membuatnya nyaman.

“Tadi mengerjakan tugas dari Han seonsangnim.” Jawabnya cepat, lalu duduk di samping Jisun. Tangannya secara refleks bergerak cepat untuk menarik Jisun ke sisinya—meski nantinya gadis itu mungkin akan menolak dan menendangnya. Biarlah, sedang dingin begini, toh?

… Hening.

Tak ada penolakan apapun atau respon yang menghebohkan dari yeoja itu. Tumben?

“… Kau bermaksud menghangatkanku?” Akhirnya, Jisun membuka mulutnya yang kering. Manik matanya melirik ke arah wajah Chansung.

“Menurutmu?” jawab pemuda itu. Sebuah senyuman jahil terukir indah di bibir merahnya.

Jisun hanya diam. Dia mempererat jaket pemberian namja di sebelahnya, mencari kehangatan yang lebih terasa pada kulit-kulitnya yang sensitif dan mudah memerah. Dua-duanya hanya diam menatap aliran sungai yang entah kenapa tidak membeku di musim dingin yang menusuk tulang ini. Mungkin karena airnya cukup hangat.

“… Masih menunggu Fumiiji?” desah Chansung. Ia menggosok tangannya yang kedinginan. Diliriknya gadis berambut panjang yang sekarang hanya menatap kosong ke depan.

“… Iya.” Jisun mengangguk kecil. Matanya yang cukup bulat dan kadang nampak bersinar itu sekarang sayu seakan lelah menunggu.

“Kenapa? Sampai kamu rela dingin-dingin begini hanya untuk menunggunya. Memang dia ada dimana? Apa dia tidak bisa ke rumahmu saja?” tanya Chansung bertubi-tubi, mencoba memberi solusi yang cermat dan logis.

“Tidak bisa.” Dan kali ini, Jisun menggeleng dengan tegas.

“Kenapa?”

“… Karena aku yang ingin menunggunya disini.”

Chansung hanya terdiam mendengar jawaban yeoja itu. Jawaban macam apa itu? Terdengar sangat lugas, dan seakan-akan keyakinan tentang ‘kedatangan seseorang bernama Fumiiji’ itu tidak akan hilang dari tatapannya. Sungguh tidak bisa dipercaya ada orang yang mau menunggu pada sesuatu yang datangnya sama sekali tidak pasti kapan. Apalagi dalam waktu yang lama, sampai berhari-hari. Pasalnya seperti cinta saja.

Ya, seperti cinta. Cinta bisa juga setia dan abadi, seperti gadis ini misalnya. Seberapa lamapun orang itu datang, gadis ini terus menunggunya—entah pada saat itu dia bisa saja membeku karena kedinginan, atau dehidrasi karena kepanasan. Cinta memang ajaib.

“Nanti kamu bisa sakit…” ujar Chansung. Hatinya cemas akan keadaan gadis itu, yang selalu saja bisa mengelak dengan segala nasihatnya.

“Aku akan lebih sakit kalau tidak bisa bertemu dengan si bodoh itu.”

Chansung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jadi harus bagaimana dong? Dia mengkhawatirkan gadis ini, tapi gadis itu terlalu keras kepala untuk dibujuk. Sementara tidak mungkin juga dia membawa gadis itu pulang ke rumahnya. Bisa-bisa ia didamprat eommanya, dituduh merendahkan anak orang.

“Yang penting, kamu harus janji padaku, nanti harus pulang.”

“… Tentu saja, aku pasti akan pulang.”

“… Kalau memang mau menunggu disini sampai sore, aku akan menemanimu. Aku tidak mau membiarkanmu kedinginan sendirian.”

“… Terima kasih.” Pipi Jisun memerah, ia bersungut malu. Tapi Chansung tidak memperhatikan perubahan warna pipinya karena sejak awal warna pipi gadis itu sudah memerah karena cuaca dingin. Yang dia perhatikan adalah senyum lebar milik Jisun, yang membuat gadis itu berkali-kali lipat lebih manis.

“Kamu… Manis sekali.” Gumam Chansung pelan. Matanya membulat saat Jisun sudah menatapnya dengan tatapan terkejut dan pipinya yang sudah semerah tomat. Otomatis, pemuda itu langsung kelabakan setengah mati. Gawat, dia harus ngomong apa…!? “A—ah, maksudku—tidak, kau pikir aku ngomong apa? Tenang sajaaa abaikan saja yang tadi! Ah… Ahahaha…”

Sial.

Salting, dia mengacak-acak rambutnya dengan jengkel. Dalam hatinya, ia terus mengumpat atas kesalahannya yang bodoh itu.

“Terima kasih.” Jisun lagi-lagi tersenyum, membuat Chansung tidak berani lagi untuk menatapnya. Jadi ini rasanya suka pada seseorang, toh? Bikin malu saja! Seakan gadis ini bisa kapan saja membuat jantungnya melompat keluar.

“… Ini tanggal berapa, ya?” Jisun melirik sekilas ke arah jam tangan Chansung. Rasanya tadi ia melihat tanggalan disitu.

“Hah? Oh, uhm… Empat. Empat februari.” Jawab Chansung cepat. Jantungnya masih berdegup dengan tidak beraturan.

“Ooh… Tidak terasa, ya.”

“Tidak terasa apa?”

“Empat hari lagi aku ulang tahun.” Ujar yeoja itu cepat. Dia mengulum senyumnya. “Sama seperti Fumiiji. Dia juga ulang tahun di tanggal itu.”

“Ooh.” Chansung merasa sedikit cemburu. Kelihatannya gadis di depannya cinta mati pada orang bernama Fumiiji itu. Dasar, sudah ditunggu berhari-hari juga. Awas saja kalau tidak datang nantinya, bisa-bisa gadis ini direbut—olehku. “Pantas saja kamu menunggunya. Mau merayakan ulang tahun sama-sama, ya?”

Jisun hanya mengangguk. Pandangannya beralih pada matahari yang tertutup awan-awan gelap. Sendu—tatapannya saat itu lagi-lagi kembali. “… Aku belum sempat memberikan hadiahku.” Katanya, terdengar serak. Tersirat kekecewaan dalam kata-katanya, dan Chansung dapat merasakannya.

“Apa yang kamu belikan untuknya?”

“… Sesuatu yang sangat dia inginkan.” Jisun memejamkan matanya, lalu tersenyum kelu. “Sepatu kets. Sepatu yang sangat mahal saat itu.”

“… Begitu?” Chansung hanya mengangguk, meski ada rasa penasaran yang melekat di benaknya. ‘Saat itu’? Mungkin… tahun lalu?

“Fumii sangat menginginkannya, dan akhirnya aku mampu membelinya.” Mendadak, senyumnya berubah cerah. Dia tidak enak juga pada Chansung yang juga ikut-ikutan sedih karena urusannya dengan orang lain. Terlihat jelas dari pandangan yang tersirat dari mata namja di depannya.

“Ooh… Senang, dong.”

“Ya!”

Chansung hanya tersenyum balik melihat senyuman lebar gadis itu. Diliriknya jam yang melingkar di tangannya. Ternyata, sudah pukul 17.00.
Waktu cepat sekali bergulir.

“Aku harus pulang. Kamu juga harus pulang, karena sekarang sudah sore.” Chansung tanpa ragu langsung membantu Jisun berdiri. Gadis itu mengangguk pelan dan langsung mengikuti langkah Chansung yang berjalan di depannya. “Perlu kuantar?” tawar pemuda itu. Dan Jisun hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman manis, serta gelengan.

“Oke.”

Chansung menyejajarkan langkahnya yang besar dengan langkah mungil Jisun, sambil tersenyum manis pada gadis di sebelahnya. Rambut Jisun yang panjang dan bergelombang membuatnya tergoda untuk mencium aroma untaian rambut yang layaknya benang itu, tapi tidak jadi.

Dasar Chansung bodoh. Mau apa kau pada gadis ini? rutuknya pada diri sendiri. Geli. Ya, memang menggelikan. Pada dirinya sendiri tapi. Kau juga merasa geli, bukan?

“Ah, terima kasih ya.” Jisun menatap mata Chansung secara langsung untuk pertama kalinya hari ini, menunjukkan eye smilenya yang manis. “Kamu sudah menemaniku selama ini. Padahal kita baru bertemu dua hari lalu, tapi aku nyaman bersamamu.”

Chansung hanya bisa menjawabnya dengan anggukan. Ia memandang ke arah lain, takut Jisun memperhatikan wajahnya yang sudah memerah, lebih dari tomat. Entahlah apa itu, yang pasti debaran jantungnya sudah tidak bisa dihentikan lagi.

Ah, sebegitu lemah kah dia sampai sekali saja melihat senyuman, serta mendengar pujian dari gadis itu sudah membuatnya hampir mati?

No he isn’t, but the love is.

Dia lemah karena cinta. Kebanyakan orang juga begitu. Orang yang kita cintai tersenyum, rasanya kita ingin ikut tersenyum, ikut merasakan kebahagiaannya, dan ingin berusaha untuk tetap mempertahankan senyuman itu. Apapun yang terjadi. Setidaknya, hal itulah yang lewat di pikirannya.

Memalukan juga, seorang Hwang Chansung bisa berpikir tentang itu. Tapi sebenarnya tidak juga, kadang cinta membuat seseorang bisa menjadi lebih dewasa.

“Sama-sama.” Pemuda itu mengulum senyumnya. Secercah perasaan hangat tumbuh dalam dirinya, membuat ia merasakan kehangatan yang lebih entah darimana. “Tanganmu kedinginan?”

“Eh? Oh, iya…”

“Maaf ya kalau aku lancang. Sini.” Chansung langsung menggenggam erat tangan Jisun, tanpa menunggu lagi. Kalau Jisun kedinginan, tidak mungkin dia membiarkan gadis itu kedinginan sendirian. He said that earlier, right?

Jisun hanya menunduk, tersenyum malu. Chansung kemudian melingkarkan syalnya untuk gadis itu, memberikan satu lagi kehangatan untuknya.

Jisun menggenggam erat ujung syal, menahan rasa debaran jantungnya. Pipinya yang merona ia sembunyikan dibalik benda itu, sementara manik matanya melirik pada pemuda berwajah maskulin di sebelahnya. Udara sedang dingin, namun entah kenapa air muka pemuda yang ia lirik tadi terlihat sangat cerah. Membuat seutas senyuman muncul begitu saja di bibir mungilnya.

“Cinta itu bisa muncul kapan saja, gadis bodoh! Jangan sok tahu tentang cinta kalau memang belum pernah merasakan!”

“Fuh. Aku jadi ingat saat kamu mengajariku. Dia sangat gentleman, beda dengan kamu.” Gumam Jisun. Sangat pelan—sampai Chansung yang tepat berada di sebelahnya tidak mendengarnya.

… Dan sekarang dia bisa memahaminya. Memahami kata-kata itu.

Fumii, meski menyebalkan, tapi kata-katanya selalu menjadi inspirasiku.

Selalu, dan selalu, kata-katamu seperti sinar di dalam hatiku, sangat menyebalkan untuk mengetahui bahwa aku diajarkan oleh seorang Hwang Fumiiji.

Bahkan sampai kita sudah seperti ini, saat keeksisan diri sudah seperti kupu-kupu yang menerjang badai di musim dingin…

Kata-katamu selalu saja terngiang, entah kenapa.

Fumii, itulah kenapa aku membencimu. Dan kenapa aku selalu menunggumu.

******

Monday, 6 February 2012

He’s like a Story Teller.”

“Stol—apa?”

Jisun terkekeh geli mendengar reaksi Chansung. Wajahnya yang nampak bingung juga terlihat konyol. Betul-betul pemuda yang aneh.

“Story Teller, pembaca cerita, atau singkatnya pendongeng. Bukan pendongeng juga sih, dia bukan orang yang suka membaca dongeng. Tapi dia suka cerita macam-macam tentang semua hal yang dia ketahui, dari gosip, cinta, bintang, binatang, tumbuhan, dan sebagainya. Dia tipe orang yang terus bicara, sehingga kita—sebagai pihak yang mendengar—tidak perlu repot-repot untuk mencari topik pembicaraan, karena seakan dia selalu mempunyai stock cerita yang takkan pernah habis.”

“Hoo…” Chansung mulai mengerti tentang karakter pemuda itu. Awalnya dia pikir orangnya kalem dan puitis, tapi ternyata bawelnya melebihi tante-tante, toh.

“Tapi itulah menariknya. Wawasannya luas tapi dia tukang bolos.” Canda Jisun. Mereka berdua tertawa lebar.

“Sama seperti aku!” sahut Chansung tiba-tiba. Dia menyengir jahil.

“Kamu? Jangan, aku saja sudah malas untuk mengenal satu Fumiiji. Jangan sampai ada dua Fumii.” Jisun menggeleng kencang, tanda ia menolak mentah-mentah perkataan Chansung.

“Hmm… Tapi tetap saja suka, kan?” goda Chansung, iseng. Wajah Jisun langsung memerah seketika. Kali ini rambutnya dikepang seperti hari pertama mereka bertemu, dan membuat telinganya yang ikut memerah juga terlihat. Ah, ini dia yang membuat Chansung sedikit cemburu.

“Y—Ya… Ya…” Jisun memalingkan wajahnya, menatap aliran sungai yang bertambah deras. Ia memperhatikan aliran sungai itu dengan teliti. Ekspresinya berubah cemas.

“… Kapan Fumiiji datang?” Lagi, pertanyaan itu kembali meluncur dari mulut Chansung.

“… Ah, maaf. Kamu terlalu lelah menunggunya, ya? Pulang saja, aku tidak akan apa-apa.” Jisun kembali memfokuskan perhatiannya pada pemuda yang duduk di sebelahnya. Ia tersenyum kelu.

“Tidak bisa.” Chansung menggeleng pelan. Matanya menatap lekat-lekat mata cokelat muda Jisun. “Kenapa kamu tidak mencari orang lain saja? Masih banyak pria di dunia yang—”

“Bagaimanapun juga, keberadaan orang tidak bisa digantikan.” Selak Jisun. Nada suaranya kembali terdengar lugas. “Tidak ada orang yang sama. Pasti ada perbedaan, dalam bentuk apapun. Apalagi jika orang itu meninggalkan ‘bekas’ di hati kita, tidak mungkin bisa dilupakan ataupun digantikan. Caranya untuk mengisi hati seseorang yang sudah hilang adalah, membuat kepingan baru untuk terus dikenang.” Terangnya.

Chansung menelan ludah, tidak sanggup membalas. Well, apa yang harus dia katakan? Dia sudah kalah telak. Jisun hidup setahun lebih lama darinya—dan itu pasti membuatnya memiliki lebih banyak pengalaman. Meski hanya setahun, sih…

Jisun yang memperhatikan pemuda itu hanya terkekeh geli. “Tenang saja, responku juga begitu saat diteriaki hal itu oleh Fumii. Bingung mau bicara apa.”

“Ah, begitu, ya?” Chansung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Jisun hanya tersenyum.

Sepanjang sore itu, mereka terus berbagi cerita. Cerita apapun, dari Fumiiji, cinta, sampai pelajaran. Sampai gigi Han seonsangnim yang berkilauan juga dijadikan sasaran pembicaraan. Setidaknya walaupun tak bisa menggantikan Fumiiji, dia bisa mengisi kepingan baru itu. Kepingan hati Jisun.

Berjam-jam sudah lewat, tak terasa sudah jam tujuh malam.

“Ayo pulang.” Chansung beranjak dari tempatnya, dan menggendong tas gendongnya yang berwarna hitam.

“Tunggu!” Jisun menarik ujung lengan baju pemuda itu, membuatnya terduduk kembali. Jari-jari kurus gadis itu menunjuk ke arah langit.

Bintang-bintang bertebaran di langit berwarna biru gelap, angkasa terlihat sekali dari sana. Langit sangat cerah, dan ribuan bintang itu dapat dipandang mata satu demi satu, meski tak bisa dihitung jumlahnya. Membuat mereka berdua menganga lebar, menikmati sensasi keindahan yang jarang bisa dilihat ketika malam tiba.

“Indah, ya…”

Chansung melirik ke arah Jisun. Gadis itu tertawa lebar, asyik menghitung bintang meskipun takkan pernah selesai seumur hidupnya. Wajahnya sama cerahnya dengan langit.

“… Kamu juga lebih indah…” bisik pemuda itu pelan. Sibuk memperhatikan setiap lekuk wajah mungil Jisun. Bintang memang sangat indah, tapi kalau memang kecantikan gadis di sebelahnya mengalahkan keindahan bintang, lebih baik ia memperhatikan gadis itu sampai puas.

******

7 February 2012

“Hei Tuan Playboy, yeoja suka diberi hadiah apa?”

Chansung meletakkan tangannya di atas meja Taecyeon. Orang yang ditanya hanya memandangnya sambil terus menyeruput susu kotaknya.

“Tergantung,” Taecyeon mulai bergaya sok, lalu memasang pose layaknya orang yang memang paling jago tentang urusan perempuan. “Bagaimana karakternya? Apa yang ia sukai? Apa yang sedang ia idam-idamkan?”

“… Harus, ya…?”

“HARUS! Kau pikir bisa langsung jebret asal ambil hadiah begitu saja! Perempuan itu makhluk yang rumit, maunya banyak tergantung karakternya!” Taecyeon mendadak berdiri, membuat Chansung sedikit terkejut. Dia memasang ekspresi serius.

“Ooh… Okedeh. Bantu yah.” Chansung menarik-narik tangan Taecyeon dengan memasang puppy eyes. Tapi Taecyeon hanya mendecak, memasang ekspresi jijik.

“Hentikan tatapan itu! Kau tahu aku jijik melihat orang yang tak pantas beraegyo macam kamu memaksa untuk beraegyo! Baiklah, berikan aku semua informasi yang kau tahu dan akan kubantu. Asal…” Taecyeon mengusap kedua jarinya. Jari telunjuk, dan jempol. Chansung mendecak kesal melihatnya. Ia tahu kalau orang di hadapannya ini tidak mau bekerja cuma-cuma.

“… Sepertinya ada orang yang melupakan kesalahannya dalam merobek buku orang…” ujar Chansung sinis, membuat Taecyeon hanya membalas ucapannya dengan cengiran. “Jadi, mau bantu, kan?”

Taecyeon mengangguk.

“Serius?”

Taecyeon mengangguk dua kali.

“Oke deh, kajja!” Tanpa ba bi bu lagi, Chansung langsung menarik sahabatnya itu untuk pergi. Taecyeon hanya pasrah dengan kenyataan. Kalau memang sudah begini, Chansung tidak bisa dilarang lagi. Dan dia memang merasa bersalah sudah merobek buku Chansung, yang membuat namja itu harus menulis ulang satu halaman penuh.

******

8 February 2012, 15.00PM

Sebuah kantong sudah tergenggam erat di tangan Chansung. Kemarin, Taecyeon membantunya mencari hadiah yang cocok (dan murah) untuk Jisun, maka ketemulah bando vintage berwarna pink dengan motif bunga yang sudah dibungkus rapi dalam kotak. Meski kemarin saat mencari hadiah dia juga sekalian diinterogasi oleh Taecyeon, tapi yang penting dapat.

“Chan, mau kemana bawa-bawa kantong dan kue begitu?” tanya seorang teman sekelas. Chansung hanya menaik-turunkan alisnya dan berlalu pergi. Kedua tangannya sangat sibuk sekarang ini.

Dengan hati-hati, ia membawa semua benda itu ke pinggir sungai, tempat dimana Jisun berada. Mumpung hari ini sekolahnya pulang jam 15.00, dia ingin melewati sore yang indah dengan merayakan ulang tahun Jisun—berdua saja.

“Jisun!” Dengan setengah berlari, ia menghampiri Jisun yang sudah menunggunya dengan senyuman tercerahnya. “Selamat ulang tahun!” serunya.

Gomawo.” Jisun tersenyum malu, lalu membuka tangannya yang ia telungkupkan. Kupu-kupu putih mungil terbang keluar dari tangannya, terbang ke langit lepas. “Dia merindukanku rupanya. Padahal sudah kusuruh mencari tempat hangat.” Gumam gadis itu.

“Siapa?”

“Kupu-kupu itu. Dia begitu kuat, padahal sedang musim dingin.” Ujar Jisun, matanya menerawang jauh ke arah kupu-kupu yang sudah terbang jauh.

Berbeda dengan kupu-kupu yang kami temukan saat itu…

Flashback

“Fumii! Lihat!!!”

“Apa? Apa yang kau temukan?”

Sesosok benda putih tergeletak di tanah bersalju. Sayapnya yang kecil bergerak-gerak pelan, keadaannya memprihatinkan.

“Kita harus mengobatinya!” seru gadis berkepang itu—Jisun, sembari mengangkat benda putih itu dari atas tanah. Kupu-kupu putih, jarang sekali ia temukan.

“Ah, kasihan. Yasudah, kita bawa ke klinik sekolah!” Pemuda berambut cokelat berantakan disebelahnya—Fumiiji, langsung berlari ke arah gedung sekolah, dengan diikuti Jisun di belakangnya. Ekspresi keduanya nampak sangat khawatir.

******

Jisun meneteskan air matanya. Dia menangis, terisak berkali-kali. Sebelum mereka bisa sampai di klinik sekolah, sayap kupu-kupu itu sudah berhenti bergerak.

“Kenapa kau menangis, sih?” tanya Fumiiji dengan nada heran. Tangannya bergerak mengelus puncak kepala Jisun.

“Habis… Habis…” isak Jisun. Matanya nanar menatap Fumiiji yang masih memandangnya cemas. “Habis… Aku seperti melihat Fumii yang sedang sekarat..”

Mwo!? Apa maksudmu?”

“… Habis… Fumii seperti kupu-kupu… Kamu orangnya bebas, tidak terikat apapun… Aku selalu membayangkan Fumii seperti kupu-kupu…” Isak gadis itu lagi. Matanya basah dengan air mata. Pria di hadapannya hanya tersenyum, lalu menyeka air matanya.

“Aku bisa seperti kupu-kupu, tapi aku tidak akan menyerah dan mati semudah itu.” Ujar pria itu dengan suaranya yang agak berat. Senyumnya merekah di bibirnya yang mungil. “Jadi tenang saja dan jangan menangis lagi. Kamu sudah cukup hebat bisa menemukan kupu-kupu itu, yang warnanya tertelan salju.”

Jisun terdiam, lalu mengangguk. Ia menyeka air matanya sementara Fumiiji terus mengelus puncak kepalanya dengan lembut, memberikan dirinya kehangatan dengan senyumannya yang secerah matahari.

Flashback end

“—Sun…”

Jisun tersadar dari kenangan masa lalunya. Ia menoleh pada Chansung yang sudah tersenyum padanya sambil menyodorkan kue padanya. Kue yang nampaknya sangat lezat, dengan tulisan “Happy Birthday Jisun Lee” di atasnya.

Jisun hanya tersenyum.

Dia merasa bersalah pada namja ini, yang sudah mau menemaninya menunggu hal yang sia-sia—namun paling ditunggunya. Dia sudah berbohong, dan kelak, dia harus meninggalkan pria ini.

“Happy birthday Jisun!” Chansung tersenyum lebar sembari mengatakan hal itu, membuat air mata Jisun mendesak keluar entah kenapa. Rasanya ucapan itu terlalu indah untuknya, setelah ia menunggu-nunggu ‘orang itu’ mengucapkan hal itu padanya. Dulu.

Jisun terisak. Ia menangis, lagi.

Gwenchana?” Chansung menatapnya dengan tatapan khawatir, menyeka air mata gadis itu dengan lembut. Wajahnya seperti kebingungan, melihat Jisun tiba-tiba saja menangis.

Gwenchana… Aku hanya bahagia. Terima kasih.” Gadis itu tersenyum, sementara air matanya masih terus mengalir.

… Sepertinya sudah saatnya dia berhenti menunggu.

Chansung menatap gadis di hadapannya dengan pandangan cemas. Tangannya bergerak mengelus puncak kepala Jisun, menenangkan gadis itu. “Tidak apa-apa. Kamu memang harus bahagia di hari ulang tahunmu.”

Pemuda itu menyodorkan kue ulang tahun dan kantong hadiah yang sudah ia persiapkan. Jisun agak terkejut melihat kantong itu, lalu mengambilnya dan memeluknya erat-erat. Ditiupnya lilin ulang tahun dengan pelan, diiringi isak tangisnya yang belum mau berhenti.

“… Saengil chukkae hamnidaSaengil chukkae hamnidaSaengil chukkae hamnida…”

Di sela-sela nyanyian lembut Chansung, Jisun berdoa. Ia meminta maaf pada saat ini, sudah terlalu berharap ‘dia’ kembali dan ingin menciptakan kenangan lebih banyak bersamanya, padahal dia sudah terbang ke langit. Padahal dirinya sendiri sudah menjadi kupu-kupu. Tapi dia masih berharap mendapat kebahagiaan.

“Selamat ulang tahun Jisun… Kita begitu terlambat, menunggu seseorang menghadiahkan hadiah dan kue ulang tahun baru mengatakan hal ini…”

“Selamat ulang tahun juga, Fumii…” rintihnya pelan, lalu menatap Chansung yang tersenyum di hadapannya. “Terima kasih atas hadiahnya, Chansung…”

“Sama-sama.” Jawab Chansung ringan, ia bahagia melihat Jisun senang dengan semua hadiahnya. “Aku berharap kamu selalu sehat, dan berumur panjang.”

Jisun kembali mengulum senyumnya.

Aku berharap kamu selalu sehat, dan berumur panjang.

Ya, semoga saja bisa.

Ia menatap mata jernih Chansung. Tidak ada kebohongan yang tersirat dari mata itu. Hanya kejujuran, dan ketulusan. Serta cinta. Keoptimisan yang tinggi untuk meraih hidup.

“… Chansung…”

Ne?”

“Aku akan berhenti menunggu…” ujar Jisun pelan. Akhirnya, isakannya berhenti. “… Dan pulang sendiri… Tanpa menunggu Fumiiji menjemput lagi.”

“Benarkah?” Chansung tersenyum lebar mendengarnya. Itu artinya Jisun sudah menyukainya dan berniat untuk melupakan Fumiiji, kan? Yah, paling tidak, berniat untuk melupakan Fumiiji, bukan begitu?

Jisun mengangguk.

Chansung tertawa kecil, lalu badannya entah kenapa bergerak untuk mengecup pipi putih Jisun. Dan gadis itu tidak menolak, membuat Chansung merasa mendapat kesempatan yang lebih luas.

Baiklah, inilah saatnya.

“Ah… Jisun… Aku ingin mengatakannya, meskipun kita baru kenal beberapa hari…” Chansung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, entah kenapa jantungnya berdebar begitu keras dan badannya tidak terkontrol, meskipun tadi dia secara reflek mengecup pipi Jisun. Cinta tetap saja cinta, membuat dadanya sesak saking bahagianya. “A—a—aku… Aku… Aku… Mencintaimu…”

Jisun masih tersenyum, sama sekali tidak ada rasa terkejut. Entah kenapa ia merasa saat ini pasti akan tiba.

Dan ia bisa mendengar debaran jantung Chansung, debaran yang sama saat dia dan Fumii juga melakukan hal yang sama—dulu.

Flashback

Saat itu, musim panas. Fumiiji dan Jisun melarikan diri untuk bersantai di pinggir sungai yang sejuk, daripada harus mengikuti jejak teman-temannya yang sedang melakukan ‘lomba tahan panas’ di dalam kelas yang sumpeknya melebihi gurun itu. Dua-duanya menatap langit jingga di hadapan mereka, tersenyum pada pemandangan indah itu.

Entah sudah keberapa kalinya mereka menonton sunset bersama-sama.

Menurut otak Jisun, melihat sunset adalah hal paling romantis di hidupnya. Dan dari tadi malam ia sudah berniat akan mengungkapkan perasaannya pada pemuda berambut berantakan itu. Sekarang juga.

“Fumii… A—a—aku… Aku menyu—ah, bukan… Aku… Mencintaimu…” Jisun mengungkapkan perasaannya, sembari memejamkan kelopak matanya. Ia takut melihat ekspresi Fumiiji.

Tapi, yang dia dapatkan dari Fumiiji bukan balasan kata-kata. Fumiiji malah menjitak kepalanya.

“Aduh! Apa yang kamu lakukan?!” protes Jisun. Tidak terima, masa dia sudah menyatakan itu dengan segenap tenaganya dan dia malah dijitak? Dasar pria kasar!

“Bodoh!”

Mwo!? Siapa yang kau katai dengan babo!?”

Tiba-tiba saja, Fumiiji menutup mata gadis itu, membuat Jisun kaget. Dan suara pemuda itu terdengar lebih rendah.

“Harusnya aku yang bilang begitu, bodoh. Baru saja… Aku… Mau… Mengatakannya…”

Lambat laun, suara pemuda itu tidak terdengar. Jisun mengintip sedikit dari balik celah jari Fumiiji, dan pemuda itu sedang mengalihkan pandangannya—dengan wajahnya yang merona.

Tidak disangka Fumiiji bisa malu-malu juga.

“… Serius?” Jisun membuka mulutnya. Dan Fumiiji hanya bisa mengangguk, tidak bisa menjawab lagi. Bibirnya entah kenapa terasa seperti dilem, melekat begitu saja dan tidak mau terbuka. Dasar bocah.

Sebuah senyuman kecil mengembang di bibir Jisun. Rona pipinya semakin memerah, menyadari Fumiiji masih menutup matanya dan memangku dagunya dengan tangannya, dan pandangannya masih beralih ke arah lain. Mereka berdua sama-sama kaku kalau sedang mengalami cinta, meski kalau sedang membicarakan cinta bisa sampai berjam-jam.

Cinta yang manis, untuk anak kelas tiga SMU.

Flashback end

“… Apa jawabanmu?”

Ia kembali tersadar, bahwa dia masih ada dalam kenyataan dan mengalami hal ini untuk kedua kalinya. Ia tidak mengelak kalau jantungnya sedikit berdebar, tapi tetap saja. Sudah waktunya dia berhenti menunggu.

“… Terima kasih…” gumam Jisun, lalu meletakkan tangannya di pundak Chansung.

Ia mengecup pipi pemuda itu, seperti yang pemuda itu lakukan tadi. Membuat Chansung membeku seketika.

Jisun tersenyum memandang pemuda itu, lalu melepaskan syal pemberian Chansung yang masih melingkar di lehernya dan melingkarkannya di leher pemuda itu. Setidaknya, ia harus memberikan kehangatan, untuk terakhir kalinya.

Sementara Chansung masih menatapnya kaku, Jisun kembali tersenyum lebar, menunjukkan senyum termanisnya pada pemuda itu. Dan air matanya kembali mengalir lagi, jatuh ke atas tumpukan salju. Ujung matanya melirik ke arah air sungai yang sudah naik. Sama seperti dulu, sebuah kejadian yang mengaduk-ngaduk isi pikiran dan hatinya.

Diambilnya sepotong kue yang tertinggal, lalu memakannya. “Enak, kok. Terima kasih, pemuda baik hati. Aku tidak mau hanya menunggu lagi. Sekarang, akan kutempuh kehidupanku sendiri.” Ujarnya, lalu melangkah pergi.

Melangkah pergi. Ya, untuk pulang.

Dan Chansung tidak bisa menghentikannya.

******

11 February 2012

Beberapa hari ini, Jisun tidak pernah nampak lagi. Di pinggir sungai. Dimanapun. padahal sudah dicari-cari. Seakan ada badai salju yang membawa gadis itu terbang entah kemana.

Sunbaenim, apa Lee Jisun noona ada di kelas ini?”

“Tidak ada.”

“Siapa Lee Jisun? Belum pernah kenal.”

“Sepertinya bukan murid kelasku. Coba kau cari di kelas lain.”

“Hah? Siapa itu?”

“Bukan, bukan disini kelasnya, kali.”

“Ah, cari saja di kelas lain.”

Lalu dimana kelasnya?! Tadi ia sudah cari di kelas A, sampai terakhir kelas F. Dan dari kelas F disuruh cari kelas lain. terus dimana? Kelas tersembunyi??

Chansung sudah sangat frustasi, mana pertanyaannya saat itu tidak dijawab. Sebenarnya dia sudah tahu jawabannya. Ditolak. Ya, dia ditolak dengan cara halus, dimana dirinya ditinggalkan di saat tubuhnya sedang membeku. Tragis.

“Hei, cari apa sih? Daritadi keliling-keliling koridor kelas tiga. Masa ulang tahun membuatmu ingin jadi eksis di kalangan para senior?” Taecyeon menghampiri sahabatnya yang sedang meloyor di sekitar kantin, menepuk pundak lelaki itu ringan.

“… Aku harus cari kemana lagi…” gumam Chansung pelan. Dia meringis, sedangkan Taecyeon hanya memperhatikannya dengan tatapan heran. Kenapa lagi temannya yang autis ini?

“AKU HARUS CARI KEMANA LAGI!?” teriak Chansung. Dia merenggut kerah leher Taecyeon dan mengguncang-guncangkan namja itu sampai akhirnya Taecyeon berhasil menghentikan perbuatan gila itu.

“Sabar! Tenang! Apa Jisunmu menghilang? Hah?” seru Taecyeon, tertahan. Ekspresinya khawatir saat melihat wajah Chansung. Nampak sangat kesakitan. Ada limpahan rasa rindu di benak namja yang ada di hadapannya. Matanya yang berkaca-kaca, tanda bahwa ada kesedihan yang luar biasa di dalam hatinya.

Chansung terdiam, menahan air matanya. Pandangannya tertuju ke arah jendela. Hujan.

“Hei, apa benar sungai di belakang sekolah kita meluap?”

“Oh, sudah masanya, ya? Tiga tahun sekali, kan?”

“Airnya tidak sampai sekolah, kan?”

Mendengar itu, kaki namja itu langsung bergerak. Tanpa kenal arah, ia berlari dan terus berlari, berharap gadis itu tidak menghilang disana. Berharap gadis itu sedang tidak menunggu. Berharap gadis itu masih baik-baik saja.

Berharap semoga air sungai tidak membawanya pergi.

“… Lain kali kamu harus hati-hati juga, jangan berjalan di sisi sungai seperti itu atau kau akan terpeleset dan terbawa arus.”

… Jisun…

******

“Tolong! Tolong hentikan orang besar ituuuu!!!” Taecyeon mengejar Chansung dari belakang, tapi Chansung berlari dengan sangat cepat sampai dia tidak bisa mengejarnya.

“Ada apa, Ok Taecyeon?” Han seonsangnim muncul dari balik ruang guru, menatap Taecyeon dengan pandangan heran.

“Ah! Hah… Seonsangnim, muridmu itu gila! Dia berlari ke sungai belakang sana hanya untuk mencari gadis bernama Jisun…!”

“… Jisun? Sungai? Tunggu—jangan-jangan…”

Han seonsangnim terdiam sebentar, mencoba mencerna nama itu. Jisun… Kenapa anak itu bisa muncul lagi? Dan lagi… Sungai?

“Baiklah, cepat kejar dia!!!”

******

Ia berlari, menerobos lubang pagar dan menatap keadaan tempat kenangannya sekarang. Benar, air sungai sudah sangat tinggi, mencapai perbatasan antara bantaran dan sungainya. Airnya mengalir deras, seakan apapun yang jatuh disana akan terus ikut terbawa sampai ke laut.

Dia jadi berhalusinasi. Matanya menemukan sosok Jisun, terjatuh ke sungai dan badannya terguling, terbawa arus sungai. Meski musim dingin, tetapi pertanda musim semi datang lebih cepat dari yang diduga, dan itu menyebabkan air sungai menghangat dan hujan turun.

“Jisun!!!”

Chansung berlari ke arah sungai, sudah siap melompat untuk menyelamatkan bayangan yang terbawa. Menyelamatkan sebuah bayangan.

Kakinya sudah bergerak ke arah sungai.

“CHANSUNG!!!”

Taecyeon dan Han seonsangnim langsung menarik tubuh pemuda itu, sampai mereka berdua jatuh terguling ke belakang

Waeyo!? Kenapa kalian menarikku!? Jisun sudah terbawa—!! Jisun… Jisun…” air matanya mendesak keluar, semuanya jatuh begitu saja. Dia tak tahu harus bagaimana lagi. Sampai gadis itu menghilang saja rasanya penglihatannya sudah buta.

“Diam! Tidak ada yang terbawa! Semua hanya halusinasimu, anak bodoh!” bentak Han seonsangnim tegas. Dia menegakkan tubuh Chansung dan menatap mata pemuda itu lekat-lekat. “Kalau memang sudah pergi, biarkan dia pergi! Kau pikir dia akan kembali kalau kau menjual nyawamu hanya untuk itu? Hah? Kau pikir kau bisa senang kalau kalian mati bersama-sama terbawa arus sungai? HAH!?”

Chansung hanya bisa diam, matanya tertuju ke arah tanah. Air matanya masih terus, dan terus mengalir.

“Jangan ulangi kesalahan yang sama seperti Fumiiji!!!” teriak Han seonsangnim lagi. Entah kenapa… Dia ikut menangis. Membuat Taecyeon dan Chansung terkejut melihat guru mereka, yang tumben sekali bisa menangis. Yang mereka tahu, Han seonsangnim adalah orang yang sangat kaku. “Cepat kembali. Sungai sudah meluap.” Ujarnya, serak.

“Ayo sobat, kau harus merenungi masalah ini. Sekarang kita kembali, biarkan pihak Samyang yang mengurusi urusan sungai.” Taecyeon langsung mengendalikan keadaan. Ia merangkul Chansung dan menuntun pemuda itu kembali ke gedung sekolah.

******

Teacher’s Office

Kedua pemuda itu diam di depan meja Han seonsangnim. Taecyeon memperhatikan Chansung dengan tatapan khawatir, sementara Chansung menatap kebawah dengan tatapan kosong. Sekarang bagian dari dirinya sudah terasa hampa.

“A—ada sesuatu yang mau anda tunjukan, seonsangnim?” tanya Taecyeon pelan. Sementara Han seonsangnim masih sibuk mengacak-acak arsip lama tanpa menjawab pertanyaannya.

“Ini, lihat-lihat.” Tanpa basa-basi, Han seonsangnim langsung melempar beberapa buku yang tebal, lebih mirip arsip dokumen perceraian artis-artis. Dengan hati-hati, Taecyeon membuka salah satu dari buku itu, diikuti dengan Chansung yang memandang dari jauh.

“Uwaah ini foto pada saat festival?” Taecyeon menganga dengan tidak percaya, merasa sedikit kagum pada foto-foto lama itu. “Sudah lama sekali, ya!”

Lembar demi lembar dibuka, sampai pada halaman saat festival olahraga. Dan ada sesuatu yang menarik mata Chansung.

Disitu, ada sebuah foto. Foto Jisun. Sedang menggenggam tongkat bendera teamnya, dan beberapa anak seusianya berdiri di sampingnya sambil memasang wajah yang sama. Senyuman yang lebar dan bersemangat.

Dan di bawahnya lagi, ada foto Jisun. Dan ia dirangkul oleh seorang pemuda berambut cokelat yang berantakan.

“Ini…” jarinya bergerak ke arah foto itu, memandang lekat-lekat wajah keduanya. Sama-sama tersenyum malu, dan tersipu. Tapi bahagia.

“Ya, kau sudah tahu siapa, bukan?” ujar Han seonsangnim. Matanya menerawang ke atas, mengingat semua kenangan yang terjadi dulu. Kenangan manis. “Itu Hwang Fumiiji… Dan Lee Jisun. Dua murid kesayangan saya.”

Chansung menelan ludahnya. Mencoba mencerna kata-kata Han seonsangnim tadi.

“Oi, oi, apa ini?”

Suara Taecyeon mengalihkan pandangan Chansung, membuatnya ikut melihat apa yang sedang Taecyeon baca. Arsip mengenai status kehidupan, mungkin? Entahlah. Karena hal yang sedang mereka lihat sama sekali tidak bisa ia percaya.

Hwang Fumiiji………………Meninggal karena kecelakaan

Lee Jisun……………………..Meninggal dikarenakan kanker otak

“Ini… Apa!?” gumamnya pelan. Tangannya bergetar.

Han seonsangnim menghela nafas berat. Tiba saatnya dia membuka kenyataan masa lalu yang pahit, bagian dari kesalahannya karena dia tidak menjaga Fumiiji dengan baik.

Flashback

“Na—nama saya Han Jishou, guru kebahasaan kalian yang baru.”

Guru baru itu memandang ke setiap sudut kelas barunya. Ya, inilah hari pertama dia bekerja di sekolah terbesar di Korea, Perguruan Samyang, tempat dimana ada sekolah dari tingkat TK sampai Pasca Sarjana. Tepatnya, Samyang High School. Dan perasaannya hari ini sangat nervous.

“Ada yang mau bertanya? Kalau tidak… Saya akan memulai pelajaran. Berhubung kalian semua sudah kelas tiga SMU, maka saya harap kalian rajin belajar dan memperhatikan saya dengan baik.”

Ia kembali mengedarkan pandangannya ke seisi kelas, dan matanya menemukan satu hal yang menarik perhatian. Seorang siswa yang duduk di belakang tengah memandangi luar jendela, sepertinya sama sekali tidak memperhatikan dirinya. Siswa itu penampilannya sangat eyecatchy, dengan rambut cokelatnya yang berantakan, melebihi batas peraturan sekolah. Han menyipitkan mata untuk memperhatikan pemuda itu.

“Kamu yang di belakang, harap perhatikan saya sebentar.” Katanya, berusaha membangun image yang menyeramkan dan tegas.

Pemuda itu tidak menoleh. Setelah ditegur temannya, barulah dia menatap guru yang ada di depannya. Tapi kau tahu, dengan tatapan malas-malasan. Seperti tidak ikhlas.

“Kamu, potong rambutmu. Itu melanggar peraturan sekolah.”

Pemuda itu hanya terkekeh, lalu menjawab tanpa ragu. “Memang anda ini siapa? Guru baru, tapi sok memerintah. Semua guru di sekolah sudah tahu bagaimana sifat saya, jadi tidak ada yang menegur. Mereka yang senior saja mengerti, kenapa seonsangnim ini menyuruh saya? Oh, saya mengerti. Guru baru memang belum tahu, ya?” kata pemuda itu panjang lebar. Ada sedikit penekanan pada kata ‘seonsangnim‘.

“Kamu… Tolong jaga bicaranya. Saya juga guru disini.”

“Wah, wah. Anda sok jadi guru yang handal, ya? Saya tahu anda sebenarnya lembek, karena tadi memperkenalkan diri saja dengan terbata-bata begitu.” Ujarnya. Dan Han tidak bisa mengelak, karena yang anak itu katakan memang sesuai kenyataan. Tapi jangan sampai imagenya jadi hancur hanya gara-gara satu siswa.

“Siapa namamu?”

“FU-MII-JI. Hwang Fumiiji.” Jawab pemuda itu ringan, lalu berjalan keluar kelas tanpa peringatan. Han hanya terdiam melihat pemuda itu, tidak tahu harus melakukan apa. Baru masuk saja dia sudah mendapatkan cobaan berupa murid yang bandel.

Tuhan… Ini sungguh berat…

******

“A—apa kata bapak tadi—!?”

“Ya, seperti yang saya katakan, saya mohon anda untuk membimbing murid kelas 3-A sebagai wali kelas mereka.”

“Ta—tapi… Saya guru baru Pak, saya tidak menyangka akan mendapat tugas seperti ini…”

“Tak apa, kamu pasti bisa. Berjuanglah!” Kepala sekolah menepuk pundak Guru Han dengan bijak. Senyumnya terkembang, menandakan kepercayaan lebih padanya. Membuat guru baru itu hanya bisa menerima nasib yang menimpa dirinya.

Seharusnya, dia senang bisa mendapatkan kepercayaan dari Kepala Sekolah. Tapi hal yang membuatnya malas adalah…

Hwang Fumiiji juga ada di kelas 3-A!

******

Hari ketiga dia jadi wali kelas, banyak komentar tentang Hwang Fumiiji. Meski nilai anak itu tinggi, tapi kelakuannya yang suka membolos dan tidak mentaati peraturan membuat nilainya diragukan. Dan itulah kenapa dia harus turun langsung untuk membimbing anak itu.

“Anak itu sangatlah keras kepala tapi memiliki potensi tinggi, saya bisa melihatnya. Tolong kamu atasi dia ya, Jishou. Bimbing dia supaya dia bisa menyadari potensinya yang sangat besar itu. Saya percaya padamu.”

Dengan gondok, Han berjalan menuju ke pemuda itu—yang sedang duduk di pinggir sungai, bersama dengan seorang gadis berambut cokelat bergelombang dan panjang. Hah, apa dia sedang berpacaran?

“Aduh… Mana panas, lagi…” Pria itu menyeka keringat di dahinya. Seoul baru saja mau memasuki musim panas, dan itu artinya sebentar lagi festival olahraga akan diadakan. Dan dia harus bisa mendapat hati murid-murid kelas 3-A sebelum festival itu datang.

“Hwang Fumi—”

“Kupu-kupu itu indah, ya? Apalagi kalau sedang musim seperti ini. Selalu saja ada banyak kupu-kupu yang terbang!”

Han menahan ucapannya, dan memperhatikan gadis di sebelah Hwang Fumiiji. Lee Jisun, salah satu muridnya juga di kelas 3-A. Begitu… Mereka berdua berpacaran, kah?

“Kamu suka sekali dengan kupu-kupu, sih?”

“Biarkan saja. Kupu-kupu itu mirip seseorang, makanya kupu-kupu itu spesial.”

“Aish, apa pernah kau melihat wajah kupu-kupu? Begini, kujelaskan. Memang mereka memiliki keindahan tersendiri, sih. Kamu lihat, kupu-kupu yang itu namanya unik, dan biasanya memang keluar di saat udara sudah sehangat ini. Asalnya…”

Han mengangguk pelan. Rasanya dia sedikit mengerti, kalau kepintaran anak ini memang asli.

Guru itu sudah seperti penguntit, mengintip mereka dari balik pohon. Apa saja yang mereka bicarakan, dan candaannya ia dengarkan. Omongan mereka terdengar sangat lepas dan campur aduk. Dari topik ini bisa dihubungi dengan topik lain, yang sebenarnya sama sekali tidak nyambung.

“Kenapa kamu selalu bolos, sih? Sampai bisa saja menemukan lubang di pagar pembatas.”

“Hmmm… Kenapa aku selalu bolos?”

Han memasang pendengarannya baik-baik. Ini dia! Dia harus mengetahui hal ini demi membimbing anak itu dengan baik!

“Karena aku tidak mau terikat apapun. Para guru itu sangat mengesalkan, selalu saja bilang ‘Harus rajin belajar…’ ‘Sebentar lagi ujian…’ Tapi mereka sama sekali tidak mengingat posisi mereka dulu. Aku juga sudah tahu kalau aku akan menempuh ujian, tidak usah diperingatkan juga itu adalah hal yang paling diprioritaskan. Tapi mereka selalu bersikap seperti para murid mengabaikan hal itu dan merasa paling benar. Aku ogah mendapat ilmu dari orang-orang seperti itu.”

Han hanya terdiam mendengarnya. Jadi seperti itu, toh. Anak yang ada di hadapannya tidak suka terikat, dia ingin bebas, tapi masih butuh bimbingan dari orang yang tepat—orang yang membiarkan dia belajar tanpa mengikatnya.

Dengan segera, pria yang hampir memasuki usia paruh baya itu beranjak dari sana, memikirkan cara paling baik untuk membimbing siswanya yang sangat bebas namun memiliki otak yang cerdas itu.

******

Teacher’s Office

“Ada apa bapak memanggil saya?” Fumiiji masuk ke dalam kantor guru dengan malas-malasan, lalu duduk di depan meja Han Seonsangnim. Guru itu tersenyum lebar memandang Fumiiji, membuat namja itu merasa awkward. Mau apa guru ini…? Jangan bilang kalau dia homoseksual…

“Begini, Fumiiji. Saya akan membiarkanmu melakukan apapun yang kau mau. asal kau menjaga tingkahmu dan kau bisa lulus ujian.” Ujar guru itu. Tapi respon pemuda di depannya sama sekali tidak sesuai harapan.

“Ah, lagi. Saya tahu mengenai itu kok, tidak perlu diingatkan.”

“Hmm… Begini saja…” Han seonsangnim berpikir ulang, lalu menatap lagi pemuda di depannya. Kelihatannya dia memang butuh sedikit tantangan.

“Kalau kau berjanji pada saya dapat mencetak banyak prestasi, saya tak akan menyuruhmu macam-macam.”

“…Jinjja?”

“Ya, pokoknya selama kau bisa mencetak banyak prestasi. Perlu digarisbawahi, ya. Daaan berbicaralah yang sopan. Selama kau bisa mentaati itu, saya biarkan kamu bebas.”

Fumiiji hanya tersenyum dan mengangguk. Tuh kan, yang pemuda ini perlukan hanyalah kebebasan.

“Kalau saya boleh tahu…” Han seonsangnim membetulkan posisinya, lalu menatap lekat-lekat mata pria itu. “Apa ada suatu hal yang menjadi mimpimu? Satu hal yang kau kejar selama ini?”

Dan jawaban pertama yang ia dapat dari pemuda di hadapannya adalah senyuman lebar. Kemudian, kepalanya mengangguk kecil.

“Tentu saja. Seorang pemusik, pemain gitar tepatnya.” Ujarnya, dengan nada bangga. Kelihatannya baru sekali ini seorang guru bertanya tentang mimpinya. Jadi dia nampak bersemangat. “Makanya yang saya pikirkan adalah, saya belajar IPA, Sosial, dan semacamnya itu hanya untuk masa sekarang. Untuk apa saya belajar itu semua, jika di masa depan hal yang akan saya dalami adalah musik? Bukankah itu membuang-buang waktu?” ujarnya santai.

Han seonsangnim hanya mengangguk. Sebenarnya dia mengerti apa yang dikatakan muridnya, dan sebenarnya juga dia merasa agak setuju dengan pernyataan itu.

“Tapi apa kau yakin kau akan menjadi pemusik? Siapa tahu di masa depan kau berubah pikiran.”

“Tidak. Saya sudah berjanji pada diri saya, akan menjadi pemusik suatu saat nanti.” Ujar Fumiiji. Pandangan dan nada suaranya terdengar sangat tegas, sama sekali tidak terdengar keraguan di dalamnya.

“… Baiklah, itu jawabanmu.” Han seonsangnim mengulum senyumnya, lalu bergerak menepuk bahu lebar Fumiiji. “Mari kita lihat akhir tahun kelas tiga ini. Kau harus membayar janjimu, dan saya juga akan membayar janji saya.”

Dan Fumiiji membalasnya dengan sebuah anggukan pasti.

******

Sport Festival, Summer

“Lihat, lihat, Fumiiji berhasil mendapat peringkat satu lagi!” teriak salah satu anak. Semuanya bersorak saat melihat catatan nilai yang mereka dapat. Kelas A mendapat nilai tertinggi saat itu juga, setelah mereka melewati berbagai lomba.

“Mana applausenya, semuanya?” seru Fumiiji, yang merasa bangga setelah menambahkan banyak poin untuk kelas A. Teman-temannya menoyor kepalanya dan ikut tertawa bersamanya. Sebuah pemandangan yang bersahabat, dan menyenangkan. Membuat Han Jishou—sebagai wali kelas mereka, ikut bahagia.

“Foto bersama! Foto bersama!” Seorang murid membawa kameranya yang masih kuno untuk berfoto bersama. Semuanya dengan semangat berbaris menggenggam bendera kelas, memasang senyum terbaik mereka. Senyuman Han seonsangnim bertambah cerah melihat kehangatan kelas yang ia pegang.

Seonsangnim!” panggil pemuda yang memiliki suara lantang—Fumiiji, sambil melambaikan tangannya untuk mengajak gurunya ikut foto bersama.

“Ah, saya tidak—” baru saja mau menolak, seseorang sudah menarik tangannya. Lee Jisun.

“Ayo, seonsangnim! Kita buat kenangan bersama, ya?” ujar gadis itu, menunjukkan senyumannya yang manis. Han seonsangnim akhirnya memilih untuk menurut, meski hanya berfoto sekali saja. Mereka semua berpose bersama mengelilingi wali kelas mereka, memasang senyum terbaik.

Cklek!

“Hei! Beri peluang untuk pasangan baru berfoto bersama!” teriak salah satu murid, lalu mendorong Jisun ke dekat Fumiiji. Mereka berdua langsung salah tingkah.

Yah! Kalian ini!!”

“Santai, Fumii~ jangan membuat Ji menunggu! Kelihatannya senyumannya sudah siap terkembang kapanpun kamera memotret kalian~” goda salah satu murid. Fumiiji hanya menggaruk kepalanya dan pipinya merona. Sedangkan Jisun hanya menggerutu tidak jelas sambil tetap menahan rona pipinya.

Fumiiji meletakkan tangannya di bahu Jisun dengan kaku, sambil tetap salah tingkah. Dia menggigit bibirnya saking malunya, sedangkan Jisun sekali-kali menutup wajahnya yang memerah karena malu.

“Whoops! Sudah dulu malu-malunya, pasangan lucu! Sekarang senyum!”

“Satu… Dua… Tiga!”

Ckrek!

“Yak, selesai! Fumiiji, ini medalimu, kawan!” Temannya yang bertugas memegang kamera itu terkekeh geli lalu memberikan medali kemenangan pada Fumiiji, dan akhirnya ia berlari untuk bergabung dengan teman-temannya yang lain.

“Ah, aku juga ikut!” Dengan masih malu-malu, Jisun ikut menyusul teman-temannya yang masih asyik berfoto.

Seonsangnim,” Fumiiji tersenyum jahil sembari melingkarkan medali itu di lehernya. Ia menatap yakin pada Han seonsangnim yang juga membalas tatapannya. “Ini bagian dari janjiku, tunggu saja. Nanti aku akan sukses, dan anak lamban itu akan menemaniku.” Ujarnya, sambil menunjuk ke arah Jisun yang sibuk bercanda, dengan dagunya.

Han Jishou hanya tertawa melihatnya. Ya, dia juga yakin akan hal itu. Karena mata muridnya sendiri menyimpan banyak keyakinan yang tak bisa dikalahkan.

******

Next Year in January, Winter

“Han seonsangnim, sepertinya anda pucat. Lebih baik periksa ke rumah sakit saja.” Tegur seorang guru. Han hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan, disusul dengan batuk berdahak. Berhubung guru itu termasuk seniornya, jadi dia hanya menurut.

Rumah sakit terdekat…? Ah, dia tahu. Rumah sakit di kawasan Perguruan Samyang.

Samyang Hospital

“Anda hanya kecapekan saja kok, lebih baik perbanyak istirahat dan hindari lembur.”

Lelaki paruh baya itu berjalan keluar dari ruangan dokter, lalu melangkah menuju farmasi. Hah… Sudah dia duga, penyakitnya itu tidak parah. Beli obat batuk juga jadi.

Matanya menelusuri ruangan putih rumah sakit. Kenapa harus putih semua, sih? Jadi suram kelihatannya. Pandangannya terus berpindah sampai ia menemukan sesosok familiar yang tengah keluar dari ruang X-Ray. Lee Jisun, muridnya.

“Lee Jisun.” Panggilnya. Orang yang dipanggil hanya membalas pandangannya dan tersenyum. “Sedang apa disini?” tanyanya lagi.

“Ah… Saya…” Jisun buru-buru menyembunyikan hasil labnya. Tingkahnya nampak sangat gelisah. “Saya hanya periksa bagian dalam… Perut…”

Han seonsangnim mengintip ke arah dokumen lab yang Jisun pegang. Tertulis ‘otak’ di bagian depannya.

“Tapi tulisannya otak.” Ujarnya. Tak berapa lama, murid yang ada di hadapannya hanya terdiam, dan tiba-tiba saja menangis. Membuatnya bingung, apa dia salah bicara?

“… Seonsangnim… Saya mohon ya, jangan bilang apapun mengenai ini… Pada Fumii..” isak gadis itu. Ia menyeka air matanya yang semakin deras. Dengan ragu, ia menyerahkan dokumen yang ia pegang itu pada gurunya. Dan dengan gemetaran, Han seonsangnim membuka map itu. Terkejut melihat tulisan yang tertera disana.

Lee Jisun
18 years old
Positif terkena kanker otak

“Ini…”

“Saya… Saya…” isak Jisun pelan. Mengingat semua senyuman dan tawa Fumiiji, membuatnya takut untuk menerima kenyataan. Memberikan pengakuan pada pemuda itu, dia takut, sangat takut.

Dia takut kalau nantinya dia mengaku, dia akan merenggut senyuman dari pria itu. Dia takut Fumiiji akan marah, sedih, dan nantinya malah merusak mimpi pemuda itu. Bagaimana kalau Fumiiji nanti akan hancur hanya karena pengakuannya?

Dia tidak menginginkannya. Fumiiji harus menggapai mimpinya, apapun yang terjadi. Meski nantinya tanpa sosok dirinya yang ada disamping pemuda itu, ataupun saat pemuda itu masih bisa tersenyum menggapai mimpinya, dan dirinya hanya bisa menatap senyuman itu ketika rambutnya sudah menipis. Atau ketika, dia sudah menjadi arwah.

“… Sudah mendapat penawaran rawat inap disini, tapi…” Ia menyilangkan jari-jarinya. Menatap map yang berisi pernyataan menyakitkan itu dengan tatapan pedih. Hatinya juga sangat pedih.

“… Lalu? Kau menerimanya, kan…?” tanya Han seonsangnim pelan. Seluruh tubuhnya sudah bergetar, ikut merasakan kepedihan gadis itu. Sakit, sangat sakit. Dia tahu, pasti Jisun sudah sangat ketakutan. Ini terlalu tiba-tiba.

Gadis itu menundukkan kepalanya. Kemudian menggeleng lemah. “Kalau saya menghilang tiba-tiba, Fumii bisa cemas… Dan lagi…” isaknya. Perasaannya campur aduk sekarang. Dia sedih, seluruh tubuhnya menyuruhnya untuk mengakui hal itu, tapi hatinya mendesaknya untuk bertahan. Untuk menyimpan seluruh kenyataan yang ada.

Fumiiji terlalu berharga untuknya, sangat berharga. Pemuda itu mengajarkan banyak hal padanya. Dan kenangan itu, tidak ada yang boleh ia nodai. Dan dirinya sendiri tidak akan tahan saat melihat wajah terkejut Fumiiji ketika dia mengakuinya. Entah pemuda itu akan merespon apa. Apa hanya diam saja, atau… Menangis. Seperti yang gadis ini lakukan sekarang.

Ratusan memori dan kenangan mengalir cepat di kepalanya.

Selagi otaknya masih bisa berfungsi, dia ingin mengingat satu persatu, dan sedetail mungkin setiap kenangan yang sudah ia buat.

“Aku tidak akan mati semudah itu.”

“Harusnya aku yang mengatakannya!”

“… Tapi, aku serius mengatakannya kemarin itu. Aku… Aku mencintaimu…”

Fumii, maafkan aku, aku pergi terlalu cepat. Aku tidak bisa menemani kehidupanmu lebih lama. Aku tidak bisa ikut merasakan kebahagiaan saat kamu bisa menggapai mimpimu nanti…

Aku mencintaimu, Fuumi… Aku sangat, dan sangat menyayangimu… Semuanya jujur, tulus dari hatiku yang terdalam…

“… Tapi saya tahu, batas waktu hidup saya sampai dimana…”

Tik.

Takdir tidak selalu membahagiakan. Dan takdir yang menimpa gadis ini, terlalu kejam untuk dirinya, dan pemuda itu.

******

February, Winter

“Tidak terasa sudah Februari!” Fumiiji tertawa ringan sambil menatap ke langit yang cerah. Tangannya bergerak menggenggam lembut tangan Jisun. Dia melirik ke arah gadis di sebelahnya, dan gadis itu hanya terdiam dengan wajah pucat.

“Kamu sakit?”

Jisun menggeleng pelan, lalu tersenyum kecil.

“Ah, sudahlah kalau kamu sakit. Kita pulang saja, ya? Supaya nanti saat ulang tahun kita, kita bisa merayakannya bersama saat kamu sembuh.”

Jisun tersenyum lagi, lalu mengangguk.

‘Merayakannya bersama saat kamu sembuh.’

“Seandainya aku bisa sembuh…” gumam Jisun, sangat pelan. Ditatapnya wajah cerah pemuda itu, sangat berarti. Ekspresi wajah Fumiiji tidak boleh berubah, dan dia harus menjaga itu semua sampai waktunya tiba.

Dan ketika waktu itu tiba, dia sudah tidak bisa menyentuh Fumiiji maupun melihat senyuman itu lagi. Jadi biarlah, semua ini tersimpan begitu saja.

******

8 February

Jisun melangkahkan kakinya di atas tanah salju. Melihat pemandangan sungai itu untuk terakhir kalinya. Disini, adalah tempat kenangannya.

“Air sungainya makin deras…” gumamnya pelan. Ekspresinya nampak cemas. Tapi diabaikannya hal itu, lalu pulang. Kemarin dia sudah memuaskan diri untuk melihat Fumiiji, dan kalau hari ini dia harus melihat pemuda itu lagi, mungkin dia akan segan untuk meninggalkan dunia ini.

******

“Ada yang lihat Jisun dimana?” tanya Fumiiji pada seisi kelas. Tapi semuanya hanya menjawab tidak tahu. “Ah, dimana dia…”

“Tadi ada yang lihat dia ada di belakang gedung sekolah, di pinggir sungai itu.” Sahut seorang siswa.

Mwo!? Airnya sedang deras, kalau tidak hati-hati bisa-bisa ia terbawa arus!!” timpal yang lain. Fumiiji terkejut mendengarnya. Tanpa menunggu lagi, ia berlari mendobrak pintu kelas, dan terus menggerakkan kakinya ke sungai belakang.

“Fumiiji! Jangan!!!”

“Ada apa ini…?” Han seonsangnim yang baru datang terkejut ketika tiba-tiba saja Fumiiji berlari keluar dari pintu kelas. Semua murid berteriak-teriak dan keluar untuk mengejar pemuda itu, tapi Fumiiji tetap tidak mendengar seakan dia tuli. Dan Han seonsangnim juga ikut mengejar pemuda itu. Dasar bodoh!

******

“Jisun!!!” Fumiiji berlari membabi buta menerobos lubang pagar, mencari-cari gadis yang disayanginya itu dengan panik. Matanya tertuju ke aliran sungai yang deras.

Tuhan… Jangan-jangan, dia—!?

Kakinya tanpa terkontrol bergerak ke arah sungai, melompat masuk begitu saja sesaat sebelum teman-teman dan gurunya sampai di tempat itu.

“Fumiiji…! Jangan!!!”

… Terlambat.

******

“Hei, ada apa ribut-ribut begini?” Beberapa orang penjaga berlari masuk ke dalam gedung SMU, membuat Jisun yang baru saja melewati gerbang menatap dengan heran.

“Ada murid yang lepas kendali! Murid berambut cokelat berantakan itu tiba-tiba saja melompat ke sungai, dan arusnya sedang sangat deras…!”

“… Fumiiji!” Nafas Jisun tercekat. Mendengar ciri-ciri itu disebut, sudah pasti orang itu Fumiiji—orang yang disayanginya. Untuk apa dia melompat ke sungai?

“Fumiiji!” jeritnya, ikut berlari mengikuti orang-orang itu. Tapi mendadak kepalanya terasa sangat sakit dan pusing. Dadanya sesak, seakan melemahkan seluruh organnya. Membuat kakinya lemas tiba-tiba dan pandangannya buram.

“Fumii…!” desahnya, berusaha menegakkan tubuhnya.

“Fumii…”

“…”

Bruk.

Tubuhnya sudah tidak kuat menahan rasa sakit itu. Semua ini terlalu berat.

Kita bahkan belum sempat mengucapkan selamat ulang tahun…

Flashback end

Chansung dan Taecyeon terdiam. Sedangkan Han seonsangnim membelakangi mereka berdua, berusaha menahan isak tangisnya.

“… Kedua anak itu saling mencintai…” ujarnya pelan. “Tapi takdir tidak mempertemukan mereka untuk terakhir kalinya. Keduanya meninggal di waktu yang sama. Mayat Fumiiji langsung ditemukan, dan mayat Jisun sudah dibawa ke rumah sakit. Keluarga dan pihak sekolah sepakat memakamkan mereka berdua di Samyang, tempat dimana kenangan terakhir mereka tertinggal.”

Sebulir air mata mengalir turun di pipi Chansung.

“… Mungkin yang membuat Jisun belum bisa pulang adalah, dia belum minta maaf… Dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk Fumiiji…”

Chansung dan Taecyeon masih terdiam. Jari Taecyeon bergerak menutup album foto yang tadi mereka lihat.

Samyang High School, angkatan tahun 1999-2000

Sudah dua belas tahun. Dan selama itu, Jisun menunggu dan menahan sakit di hatinya karena belum bisa pulang.

“… Seonsangnim… Biarkan saya mengunjungi mereka.”

******

Dua makam lama yang masih tetap terawat berada di tengah-tengah taman kenangan. Sekarang dia tahu kenapa taman ini bernama seperti itu, karena untuk memperingati kejadian mengenaskan yang menimpa dua insan dua belas tahun lalu. Dan dia juga mengerti kenapa jalan menuju sungai itu ditutup, kecuali lubang tersembunyi itu.

Banyak bunga yang tumbuh dan karangan bunga yang diletakkan secara rapi disana. Lokasinya dibawah pohon teduh, sehingga tidak ada yang menyeramkan dari makam itu. Nampaknya, banyak orang yang mencintai mereka berdua.

“Teman-teman dan keluarga mereka selalu datang kesini untuk mendoakan. Guru-guru juga selalu bergantian untuk mendatangi mereka. Fumiiji yang supel dan santai, serta Jisun yang ramah, mereka saling melengkapi. Semua orang mencintai mereka.”

Chansung mendekati kedua makam itu, lalu berlutut. Ia menunduk dan berdoa untuk keselamatan mereka berdua.

Jisun… Aku berharap, kita bisa bertemu lagi, di kesempatan selanjutnya

Nanti… Apa kamu mau mempertimbangkan pertanyaanku? Aku tidak akan menyerah, aku akan jadi lelaki hebat. Dan bisa membuatmu di surga tersenyum bangga

Tunggu aku, ya

******

Epilog

Sesosok gadis cantik dengan rambutnya yang bergelombang memainkan air sungai yang jernih. Gadis itu tersenyum menatap ke bawah. Ke dunia.

“Sedang lihat apa?” Sesosok pemuda dengan rambutnya yang cokelat dan berantakan mendatangi gadis itu. Sebuah senyuman melekat di bibirnya.

“Pemandangan. Pemandangan indah. Wajahnya cerah sekali.” Jawab gadis itu lembut, disambut dengan tawa kecil dari sang pemuda.

“Aku harus berterima kasih padanya. Tapi maaf saja, gadis yang disukainya sampai kapanpun tidak akan kuberikan.”

Gadis itu hanya tertawa, lalu mengangguk. Sebelum ia meninggalkan sungai itu, ia menundukkan tubuhnya dan berbisik. “.. Selamat ulang tahun, Chansung.”

“Kamu sedang apa? Ayo.”

“Iya.”

Kemudian, kakinya melangkah meninggalkan tempat itu. Kembali menyambut uluran tangan pemuda yang ditunggunya—Fumiiji.

Chansung, kuharap kita bisa bertemu lagi. Suatu saat nanti.

Untuk sementara, gapailah mimpimu, selagi masih ada kesempatan untuk hidup

Don’t leave, don’t leave- can’t you stay by my side?
Lies, all lies- I don’t hear anything
I love you, I love you- can’t you show me those words?
I love you, I love you- will you love me again?
(In Heaven – JYJ)

Fin

******

Yak, kupu-kupu lagi, makam lagi. Saya emang ga kreatif==” #krik

Well then! Akhirnya done juga. Ah, bikin FF ini menguras tenaga tapi akhirnya jadi juga :’) dan tipsnya sih ya, mendingan pas baca yang akhir-akhir lagu In Heaven nya diulang-ulang aja terus, biar mewek :p *demen kalo readers nangis*

Okay, DONT BE A SILENT READERS!

Berikan saya komen! Kritik, saran, apapun! Terimakasih bangetbangetbanget kalo mau bekerjasama :”D

Abis ini tunggu yah, mau ngebut nyelesein semua FF yang nunggak. Baru bikin FF baru :’) #ngek

15 responses to “Sweet Mystery : Jisun (2/2)

  1. Aku nangis (T T;) #garukaspal

    Tragis benar kisah cintanya Chansung. Daripada suka sama orang yang udah meninggal mending sama aku, masih single lho~😀 #plak! #dihajarhottest

    Aduh gimana ya komentarnya. Bagus lho saeng. Cuma tragis banget #lho Gak kebayang bagaimana tuh wajahnya Chansung setelah guru Han cerita semuanya.😦

    Pasti sakit hati banget~😄

    Buat lagi yah~
    Kutunggu fic 2PMmu yang lain😀

    • Cep cep, jangan nangis eonn (⌣́_⌣̀)\(‘́⌣’̀ )

      Dan orang yang udah meninggalnya itu lebih tua… Ummm 12 tahun diatas dia lagi eonn, kalo masih idup udah tua banget kali._.v #ikutanngehajar

      Mungkin hatinya udah pasrah. Ya mau digimanain lagi, Jisun sudah pergi :”)

      Siappp! Dan tungguin aja, aku ada project pake Junho :3 entah kenapa buat cast FF gitu, Junho paling enak dinistain :9 ……..tapi bareng Min lagi, hehehe… #shipper #abaikan

      • Ada project Junho?! Horeee😄 #jogelinul

        Memang Junho itu gampang dinistain saeng. Menarik nafsu tuh anak :’9 #iler #lho

        Oke kutunggu fic lainnya🙂

      • yapp ada project buat junho oppa~😄 dan ini genrenya horror gitulah, bismillah semoga bagus :3
        bener… entah kenapa kalo bikin FF terus mau masukin cast dari 2PM, pasti dapetnya Junho :9
        siap!😄

  2. Aku nangis (T T;) #garukaspal

    Tragis benar kisah cintanya Chansung. Daripada suka sama orang yang udah meninggal mending sama aku, masih single lho~😀 #plak! #dihajarhottest

    Aduh gimana ya komentarnya. Bagus lho saeng. Cuma tragis banget #lho Gak kebayang bagaimana tuh wajahnya Chansung setelah guru Han cerita semuanya.😦

    Pasti sakit hati banget~😄

    Buat lagi yah~
    Kutunggu fic 2PMmu yang lain😀 #ngilang

  3. fikhaaaa TT__TT kalo aku mah nggak perlu nyetel lagu JYJ – In Heaven.. ini aja pas aku baca d pertengahan cerita sama bagian fumiji dan Jisun mati sama2 aja aku udah nangis TT_TT udh brapa air mata tuh jatuh ke lantai, sampe aku di liatin sodara2ku … #ngeek ? #abaikan..

    ini keren banget fikhaa…bangeeet bangeeet bangeeet… pas banget ceritanya buat aku yg lagi galau T^T sad ending is my life #eeh ??

    kapan2 bikin lagi fik, biar saya puas nangisnya.. biarin para sodara tetangga ngeliatin, yg penting aq bisa nangis *soalnya udh lm banget aku nggk nangis* TT kkk~

    • Ah seriusan eonn? O.o authornya malah gabisa mewek kalo gadengerin ituh-_-v #maksa iya, mereka menghembuskan nafas terakhir diwaktu yang sama. Unyu until the end :”> #heh

      Gomawo readmen dan komentar yang membangun ini eonnieee :”D kapankapan aku bikin yang sad ending lagiyah, menambahkan galau^^ *seenaknya*

      Udah lama banget?? :O

      Yaudah, nanti aku bikin lagi yaaa ;D <– pengen readersnya nangis

  4. huwaaa sad ending bener ._.V hidungku jadi meler baca ff kece buatan fikha… keren ya keren.. ah *meri
    kasian chansung suka sama hantu … awal baca ga ada tanda2nya kalo ji.. itu hantu .. DAEBAK deh..
    4 jempol untukmuu.

    • :”> ini ff masih sangat abal kok eonn, masih ngasah kemampuan…==”v gomawo readmennya eonnieee😄
      well, aku menikmati reaksi readers yang udah nebak-nebak siapa itu Fumiiji dan Jisun dari awal ataupun yang baru tau dari akhir, semuanya jadi interesting moment buat authornya:3 #ditabok
      4 jempol buat yang bacaaa😄 gomawo lagi yah eonniee *bow*

  5. astaga, beneran deh, nangis baca endingnya T.T
    keren bgt ceritanya, walau sedikit predictable, tapiii tetep aja berhasil buat aku nagis, kereeeen

  6. tp, tunggu deh, ultahnya chansung emang sengaja dibuat beda ya?? hihi beda sebulan dr aslinya

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s