Double Super Love! (1/4)

doublesuperlove!

Yoboseo, eonnie? Iya, tadi aku sudah latihan vocal. Nde? Gwenchana~ suaraku tak apa kok. Hmm, pasti, pasti. Aku? Masih di dekat sekolah, kok,” kata Bae Suzy—atau Suzy, di telepon. Ia tetap fokus pada teleponnya walaupun sudah melewati depan gerbang sekolah. Tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju dengan cepat ke arahnya, membuat dia kaku seketika.

CKIIIT!

“Aah!” saking kagetnya, ia sampai jatuh ke atas jalan. Motor itu berhenti pas di depannya dan si pengendara membuka helmnya dengan tergesa-gesa.

Gwenchanayo?” tanya orang yang mengendarai motor itu. Wajahnya lumayan tampan, wajah orang baik-baik. Dia mengulurkan tangannya dan membantu Suzy berdiri.

Ne, gwenchana. Mianhae aku juga tidak lihat-lihat.” Suzy menundukkan badannya dalam-dalam, merasa bersalah.

“Ah, tak apa.” Lelaki itu menggeleng dan tersenyum. “Lain kali hati-hati ya!” pesannya, lalu kembali menaiki motornya dan masuk ke dalam sekolah. Suzy terpana melihatnya, rasanya dia tak pernah melihat orang itu di sekolah. Orang tua murid juga rasanya terlalu muda. Dia tersenyum dan mengabaikan hal itu, lalu kembali menjawab telepon dari sunbaenya dari klub paduan suara. Dan berjalan pulang.

******

The next day

“Hei, akan ada guru magang menggantikan wali kelas kita yang sakit!” seru seorang siswa. Kelas 2A langsung ribut dengan topik ini. Ada yang bertaruh tentang namja atau yeojakah guru mereka itu, ada yang bertanya-tanya, dan ada yang biasa saja.

“Hei, menurut kalian, orangnya bagaimana?” Junho iseng bertanya pada kelima sahabatnya yang sedang berkumpul di meja IU. Dia meletakkan dagunya di atas meja.

“Kurasa kalau wanita yang cantik dan baik akan membuat kelas lebih bersemangat.” Ujar IU. Ia tersenyum simpul, mengeluarkan aura positif yang memang selalu terpancar dari dirinya.

“Ah paling bapak-bapak atau ibu-ibu galak yang pakai kacamata dan high heels yang tingginya maksa.” Jawab Wooyoung dengan nada bosan.

“Kalau guru yang seksi? Siapa tahu?” canda Mir. Suzy langsung memukul punggungnya.

“Kurasa guru yang masa percobaan? Sekarang ini banyak universitas jurusan pendidikan yang sedang mengujicoba mahasiswanya di sekolah-sekolah seperti sekolah kita, kan?” ujar Hyorin, satu-satunya orang yang bisa berpikir logis diantara mereka. Semuanya mengangguk-angguk. Mendengar hal ini, Suzy jadi ingat lelaki yang hampir menabraknya kemarin. Dia siapa ya?

“Baiklah, semuanya ayo duduk.” Kepala sekolah masuk diikuti seorang pemuda yang familiar bagi Suzy. “Ini pengganti Ibu Kwon Ri selama beliau sakit. Silahkan, kenalkan dirimu.”

Pemuda ini tersenyum lebar dan maju ke depan. “Annyeong haseyo, Park Jungsoo imnida. Ah, teman-temanku memanggilku Leeteuk, jadi kalian panggil saja begitu.” Jelasnya. Seisi kelas mulai ribut membicarakannya. “Ada pertanyaan?”

Seorang siswi dengan semangat mengangkat tangannya. “Berapa umur seonsangnim?” tanyanya.

“Ah, aku masih dua puluh tahun. Jadi tenang saja, tidak usah berpikir suasana kelas yang canggung dan kaku karena aku cukup gaul.” Jawab Leeteuk ringan, disambut gemuruh tawa dari seisi kelas. “Aku harap kalian memanggilku –hyung atau –oppa, supaya lebih akrab. ”

“Dengan senang hati!” seru para siswi di kelas. Mereka semua berteriak-teriak histeris, senang mendapat guru yang tampan dan asyik macam Leeteuk. Suzy juga ikut tersenyum senang, mengetahui orang ini dalam beberapa hari ke depan akan berada di kelasnya.

******

After School

“Mireu, kau nggak mau pulang bareng?” Junho menggendong tas gendong cokelatnya, lalu berjalan ke arah Mir yang sedang beberes di mejanya.

“Ah, aku mau ke klub sepakbola. Katanya Leeteuk-hyung akan jadi pelatih disitu sementara waktu, kurasa menarik juga. Kau nggak mau lihat, Junho?” tanya Mir dengan semangat. Kakinya melompat-lompat kecil dengan tidak jelas, tapi reaksi yang diberikan Junho membuat lompatannya berhenti. Namja itu menggeleng pelan.

“Nggak ah, hari ini aku sudah janji sama Min mau pulang cepat, keluarganya mengajak makan malam bersama. Lagian besok kita juga latihan dance, memangnya kau mau ikut klub sepakbola?” tanya Junho, skeptis. Mir mengangkat bahunya.

“Yah, lihat-lihat saja.” Jawab Mir cepat, lalu berlari keluar dengan semangat. Junho hanya bisa menggeleng-geleng melihat sahabatnya itu, lalu berjalan keluar kelas.

******

Lapangan sepakbola SMA Samyang

“One! Two! Three! Four!” terdengar seseorang sedang menghitung dan suara teriakan gadis-gadis cheerleader menggema di lapangan.

“Taeyeon-eonnie!” seru Mir dengan wajah ceria. Orang yang dipanggil hanya menengok sambil tersenyum manis.

“Baiklah, semuanya! Latihan selesai!” teriak si gadis, yang nampaknya adalah Kapten Cheerleader. Dengan lega para cheerleader itu beristirahat dan mengobrol. Gadis yang dipanggil Mir itu kemudian menghampiri Mir.

“Hei, ada apa Cheolyong-ssi? Masih betah memanggilku dengan –eonnie, hm?” tanya gadis yang bernama Kim Taeyeon itu.

“Hehehe. Pulang bareng, mau?”

“Ah tidak usah, aku bisa pulang sendiri kok.” Taeyeon menyunggingkan bibirnya.

“Bahaya seorang gadis pulang sendirian jam segini.” Ujar Mir. Taeyeon hanya bisa tertawa mendengar jawaban dari namja yang lebih muda darinya ini.

“Baiklah, kita pulang bersama.” Taeyeon akhirnya mengalah, membuat Mir mengangguk-angguk senang. Dengan segera, Taeyeon membereskan barang-barangnya dan berjalan menuju ke arah Mir.

Annyeong haseyo, Leeteuk imnida! Aku adalah pelatih baru kalian!” tiba-tiba terdengar suara tegas yang terdengar amat bersemangat dari lapangan sepakbola. Leeteuk memperkenalkan dirinya pada anak-anak klub yang akan ditanggungnya beberapa waktu ke depan. Mir dan Taeyeon spontan menoleh ke arahnya karena suaranya yang nyaring.

“Leeteuk-hyung!” seru Mir, lalu melambaikan tangannya. Leeteuk dengan semangat membalas lambaiannya lalu meneruskan perkenalan dirinya.

“Kamu kenal orang itu?” tanya Taeyeon, ekspresi mukanya sedikit berubah.

“Dia wali kelasku, meski hanya sementara.” Jawab Mir, masih dengan senyumannya yang lebar. Ia menarik noonanya itu perlahan.

Taeyeon menghela nafas dan memperhatikan Leeteuk sebentar sampai akhirnya Mir mengajaknya kembali bicara. Leeteuk juga menatap Mir dan Taeyeon yang melangkah semakin jauh dari dirinya. Di benaknya, terbesit bayangan masa lalu.

******

Sudah malam, anak-anak klub sepakbola juga sudah semuanya pulang. Leeteuk mengendarai motornya sampai gerbang dan menemukan Suzy yang sedang berjalan pulang.

Annyeong, kita ketemu lagi!” sapa Leeteuk pada Suzy, ia menghentikan motornya. “Kali ini kau tidak sedang bertelepon?” candanya sembari terkekeh geli.

“Ah, aku ada di kelas yang kau wakili, seonsangnim. He? Tidak sekarang ini, kok. Seonsangnim bercanda saja, hehe.” Jawab Suzy sekenanya. Mendadak ia menjadi agak salah tingkah.

“Hei, kalau kau ada di kelasku, berarti kau sudah tahu kalau kau boleh memanggilku oppa, kan?” tanya Leeteuk, masih dengan nada bicaranya yang santai dan ringan. Tapi Suzy malah menggeleng pelan.

“Tidak deh, rasanya gimana gitu terhadap guru sendiri.” Suzy tersenyum manis, membuat Leeteuk ikut-ikutan tersenyum.

“Hei, kau harusnya bersyukur. Hanya kelasmu yang boleh memanggilku begitu, yang lain sih tetap seonsangnim!” ujar Leeteuk, membuat Suzy tertawa dan akhirnya mengangguk. “Nah, sekarang aku mau bertanya tentang dirimu. Kau pulang sendiri malam-malam begini? Tadi sedang apa?”

“Hm? Iya, habis latihan vocal untuk festival sekolah tiga minggu lagi. Besok kami akan mulai mempersiapkan festivalnya.” Jelas Suzy. Leeteuk mengangguk-angguk tanda mengerti, lalu menunjuk motornya.

“Naiklah, sudah malam dan seorang gadis muda tak boleh pulang malam-malam begini sendirian.” Perintah Leeteuk sambil menyodorkan helm. Suzy terkejut dan menggeleng, tetapi Leeteuk tetap memaksanya sampai akhirnya dia menurut dan terpaksa duduk di belakang pemuda itu.

“Pegangan!” perintahnya. Ia menekan gas dan mengendarai mobilnya dengan cepat, melewati setiap belokan Perguruan Samyang dengan mulus. “Siapa namamu? Rumahmu dimana?” teriaknya.

Nde? Ah, Bae Suzy! Di dekat sini kok, lurus saja!” jawab Suzy, sama-sama menjawabnya dengan keras. Tanpa sengaja ia memeluk pinggang Leeteuk karena motor berjalan dengan sangat cepat. Jujur, ia menikmati saat-saat itu.

******

Rumah Suzy

“Baiklah, kita sudah sampai!” Leeteuk membantu Suzy turun dari motor, lalu menerima helmnya kembali dari gadis itu.

“Ne, O—Oppa, terimakasih.” Suzy menunduk malu. Bibirnya ia gigit perlahan.

“Yap, lain kali jangan pulang malam begini sendirian! Harus ada yang menemani!” nasehatnya. Suzy mengangguk, malu tapi senang. Leeteuk mengusap puncak kepalanya dan tersenyum manis, lalu memakai helm dan menaiki motornya, dan akhirnyaberlalu.

Suzy hanya bisa tersenyum lebar lalu masuk ke dalam rumah. Ia berlari ke kamarnya dengan semangat, lalu menjatuhkan dirinya di atas kasur yang nyaman. Ia sadar kalau dia telah jatuh cinta pada orang itu.

Ya, orang itu. Park Jungsoo.

******

The Next Day

Eonnie!” sapa Mir, pada Taeyeon yang sedang berjalan menuju gedung SMU.

Annyeong, Cheolyong-ssi.” Taeyeon menyapa balik seraya tersenyum manis. Mir dan Taeyeon mengobrol sebentar sampai mereka bertemu Leeteuk yang sedang mengotak-atik motornya.

Dengan panik, Leeteuk melihat ke kanan dan kiri, menghela nafas, lalu kembali memperhatikan motornya.

“Leeteuk-hyung? Kau sedang apa?” Mir bertanya dengan nada dan ekspresi heran. Leeteuk yang mendengar sapaannya langsung tersenyum lega.

“Bensinnya habis..” Leeteuk menunjuk ke arah motornya, hopeless. Mir mengangguk mengerti dan sekuat tenaga mendorong motor itu bersama Leeteuk, meski bergerak, tapi tak kuat mendorongnya lama-lama. Taeyeon yang sudah gatal melihat mereka, langsung menghampiri mereka.

“Sini! Kamu itu ya, kenapa pilih motor yang berat sih? Selalu saja menyusahkan orang lain!” bentak Taeyeon, lalu membantu mendorong motor dengan sekuat tenaga.

Mianhae, lagi-lagi aku merepotkanmu, Taeyeonnie…” ujar Leeteuk. Ia tersenyum malu. Taeyeonnie? Mir berhenti sebentar dan memperhatikan mereka. Apa mereka sudah saling kenal sejak dulu?

“Cheolyong sedang apa? Ayo bantu!” perintah Taeyeon. Mir dengan tergesa-gesa mengangguk dan membantu mendorong motor itu.

Pikirannya agak gelisah, sepertinya Leeteuk-hyung dan noonanya sudah saling kenal sejak dulu, bahkan sepertinya dekat. Tapi untuk sementara, dia mengabaikan hal itu dan membantu Taeyeon mengurusi motor Leeteuk.

******

Setelah selesai mengurusi motor gurunya yang merepotkannya setengah mati itu, mereka berdua berjalan bersama masuk ke gedung sekolah. Dua-duanya terdiam, sampai Mir memutuskan untuk memulai pembicaraan duluan.

“Eonnie… Sudah kenal Leeteuk-hyung sejak dulu?” tanya Mir dengan nada ragu. Taeyeon hanya diam.

“Yah… Dulu sih, dia kan alumni sekolah ini. Dia kelas tiga, aku kelas satu. Dia anggota klub sepakbola, aku anggota klub cheerleader. Itu saja.” Jelas Taeyeon sesingkatnya. Mir masih merasa agak ragu, kurang puas dengan jawaban yang ia rasa tak lengkap itu. Ada sesuatu yang janggal.

Eonnie… Dekat dengan hyung?” tanya Mir sekali lagi, lalu melirik pada Taeyeon.

“… Dulu.” Gumam Taeyeon. Mir hanya bisa mengangguk, tidak berani bertanya lagi. Mereka berpisah di tangga. Kelas Taeyeon di lantai tiga dan kelas Mir di lantai dua.

Dengan ragu Mir berjalan ke kelasnya sambil bergumam dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tiba-tiba seseorang menubruk Mir dari belakang sampai pemuda itu hampir tersandung ke depan.

“Bang Mireu! Annyeong~” seru orang itu––Wooyoung, dan diikuti Junho yang ada di belakangnya. Mereka memasang wajah tercerah mereka—seperti biasanya.

“Ah, annyeong..” Mir menjawab dengan lesu. Wooyoung melompat-lompat di belakangnya sedangkan Junho memperhatikan wajah Mir yang menurutnya ‘ada sesuatu yang aneh’.

“Tumben, biasanya kau akan berteriak dan memeluk kami sampai kami jatuh.” Ujar Junho. Mir hanya mengangguk, lalu mengangkat bahunya. Sementara Wooyoung masih melompat-lompat di belakang Mir.

“Kau ngapain?” Mir mengabaikan tatapan Junho yang masih curiga terhadapnya, lalu beralih pada Wooyoung.

“Tumben, biasanya kau ikut melompat?” Wooyoung bertanya balik. Ia berusaha menghentikan lompatannya.

“Aku sedang tidak mood..” desah Mir pelan, lalu berjalan ke arah kelasnya. Wooyoung kembali melompat-lompat ke depan dan merangkul Mir.

“Cerita pada kami!” perintah Wooyoung, dan Junho mengangguk setuju. Mir memandang keduanya dan ikut mengangguk.

“Taeyeon eonnie sepertinya dekat dengan Leeteuk hyung, saat kutanya eonnie katanya mereka dekat… Dulu.” Jelas Mir, pendek. Wooyoung dan Junho malah tersenyum jahil.

“Bang Mireu jatuh cinta! Bang Mireu jatuh cinta!” seru Wooyoung childish.  Mir meletakkan jari telunjuknya di depan bibir untuk menyuruh Wooyoung diam.

“Kim Taeyeon yang anak kelas tiga itu ya? Memangnya kau mengenalnya darimana?” tanya Junho, memastikan.

“Hari kedua setelah libur musim panas berakhir, aku sedang menikmati es krim di taman belakang sekolah. Lalu aku lihat… Eonnie menangis.” Ujar Mir. Junho dan Wooyoung memasang tampang bingung.

“Kenapa dia menangis?”

“Jadivbegini…”

Flashback

“Aah panaaaaasss. Mana pr liburannya belum selesai semua lagi!” keluh Mir seraya menjilat es krimnya, lalu duduk di bangku yang ada di taman belakang sekolah.

“… Tapi…!” terdengar suara seorang gadis, membuat Mir terkejut. Ia berjalan ke arah sumber suara dan mengintip. Terlihat seorang gadis berambut panjang yang sedang menelepon seseorang.

Tiba-tiba dia berteriak, “Kenapa kamu harus disini?!” lalu menutup teleponnya dan menangis. Mir hanya bisa melihatnya saja dengan perasaan antara kaget dan heran, dan akhirnya Mir memberanikan diri untuk menghampiri gadis itu dan memberinya sapu tangan.

Gadis itu hanya termangu melihat Mir—namja yang tidak dikenalnya—memberinya sapu tangan. Dengan ragu, ia menerima sapu tangannya.

Mianhae… Kau lihat ya? Gomawo..” katanya, seraya tersenyum manis.

Mir hanya melongo, dan mengangguk. “Orang ini… Cantik juga ya…” batinnya. Ia mulai merasa ada perasaan yang aneh, tapi ia memilih untuk menghiraukannya.

“Siapa namamu?” tanya gadis itu, membuat Mir langsung tersadar dari lamunannya.

“Ah! Bang Cheolyong, kelas 2-A!” serunya spontan. Gadis itu tertawa.

“Baiklah, Cheolyong-ssi ya? Namaku Kim Taeyeon, kelas 3-B. Maaf ya, sapu tanganmu kucuci dulu, besok kamu bisa ambil saat jam pulang sekolah di klub cheerleader. Gomawo!” ujar gadis itu––Taeyeon, lalu tersenyum dan berlalu.

Mir melambaikan tangannya, dia masih termangu melihat gadis di hadapannya.

Flashback end

“… Mulai saat itu aku menegurnya, bertanya dia kenapa dan lainnya, dan tanpa sadar hampir setiap pulang aku menemuinya dan mengajaknya ngobrol.” Jelas Mir panjang lebar. Junho mengangguk mengerti.

“Jadi kemarin kau tak mau pulang denganku karena mau pulang dengan Taeyeon noona? Pantas saja…” ujar Junho dengan nada jahil.

“Mireu kita sudah dewasa.. kau jatuh cinta.”

Mir tidak percaya dengan kata-kata Wooyoung tadi. Jatuh cinta? Seumur-umur dia baru merasakannya. Dan itupun tidak ia sadari. Melihat itu, Junho dan Wooyoung tertawa dan menggodanya sampai kelas.

******

Tempat parkir motor, at the same time

“Ah, annyeong Oppa.” Sapa Suzy pada Leeteuk yang sedang memarkir motornya. “Baru sampai?”

“Ah, iyanih. Tadi bensin habis dan susah payah kudorong kesini dibantu yang lain.” Ujar Leeteuk, seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan malu-malu.

“Ahahah dasar Oppa. Oh iya, kemarin… Kamsa hamnida.” Ujar Suzy sambil menunduk, wajahnya merona.

“Ne, gwenchana Suzy-ssi. Hari ini persiapan festival sudah mau mulai, ya? Kelihatannya menarik. Apakah aku juga ikut?” Leeteuk memasang wajah polos.

Suzy hanya tertawa melihat tingkah Oppanya ini. Dengan tersenyum lebar, ia menjawab, “Tentu saja, Oppa kan wali kelas 2A.” Katanya. Leeteuk tersenyum dan mengangguk, lalu mereka berdua masuk ke gedung sekolah bersama-sama sambil mengobrol mengenai festival.

Dari jendela kelas 3B, Taeyeon memperhatikan mereka.

******

Kelas 2-A, jam pelajaran ke-6

Annyeong! Namaku Kim Heechul, guru masa percobaan dan sahabat dari wali kelas kalian ini. Semuanya pasti siap ikut festival!!” seru Heechul––guru musik sementara. Ia merangkul Leeteuk akrab. “Ah, disini ada anggota klub dance?”

Wooyoung, Junho, Mir, dan beberapa anak lainnya mengangkat tangannya. Heechul mengangguk dan tersenyum bangga. “Aku akan jadi pelatih klub dance, sampai jumpa di klub nanti ya!” katanya. Wooyoung, Junho, dan Mir, hanya mengangguk-angguk.

“Ah… Taeyeon eonnie…” gumam Mir. Wajahnya berubah khawatir. Lalu dia tersadar, apa hubungan Taeyeon dengan Leeteuk hyung sampai membuat Taeyeon terdiam seperti itu, ya? Seperti saat kemarin, saat dia bertanya tentang hubungan gadis itu dengan wali kelasnya sekarang ini.

Sementara itu, Suzy memperhatikan Leeteuk sambil tersenyum dan wajahnya merona. Leeteuk yang sedang menjelaskan tentang festival bertemu pandang dengan Suzy, lalu tersenyum. Suzy kaget dan balas tersenyum, hatinya senang sekali.

******

Pulang sekolah, kelas 2A

“Eh, anggota klub dance, klub vocal, klub drama, band, cheerleader, dan marching band, setiap hari latihan untuk menyambut festival ya. Yang lain, mempersiapkan saja.” Seru ketua kelas, semuanya mulai beres-beres dan bersiap untuk dekorasi dan lain-lainnya. Semua murid nampak sibuk.

“Wooyoungie, Junho, ke klub yuk! IU dan Suzy juga sudah ke klub vocal. Hyorin juga sudah ke tempat marching.” Ajak Mir sambil membuka pintu kelas. Wooyoung dan Junho mengikutinya.

Di jalan menuju klub, mereka sibuk membicarakan Taeyeon dan Leeteuk. Mir menceritakan segalanya rencananya pada sahabat-sahabatnya.  “Ooh, jadi begitu… Kau mau cari info ketika Leeteuk hyung masih kelas tiga disini? Cari darimana, ya…” Junho mulai berpikir. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak mereka semua dari belakang.

“Hei! Siap latihan?” seru orang itu, yang ternyata Heechul.

Wooyoung memandang Heechul dan menyadari sesuatu, lalu menarik kerah baju Mir dan berbisik, “Hei, Heechul hyung kan sahabat Leeteuk hyung? Siapa tahu dia tahu sesuatu tentang itu, kan?” katanya. Mir baru menyadarinya dan mengangguk.

Hyung!” seru Wooyoung pada Heechul. Nadanya terdengar semangat. Heechul nampak terkejut lalu mengangkat alisnya. “Bantu kami!”

“Ha?” Heechul hanya menjawab dengan ekspresi bingung. Wooyoung Junho dan Mir menariknya ke ruang klub yang masih agak sepi.

******

Setelah Mir menceritakannya pada Heechul sejujur-jujurnya, Heechul mengangguk-angguk. Ia memerintahkan Mir Junho dan Wooyoung untuk duduk di lantai.

“Yah… Aku memang sahabat Teukie dari SMP sih. Walau aku tahu tapi gimana ya… Walau kalian muridku tapi kita baru bertemu…” ujar Heechul, membuat mereka penasaran setengah mati. Wooyoung Junho dan Mir menatapnya dengan tatapan memohon.

“Tolonglah hyung, masa kau tega…” rengek Mir. Heechul tersenyum dan akhirnya mengangguk.

“Baiklah, kuceritakan saja semuanya, deh. Tapi kalian diam-diam saja, Teukie kalau marah seram sekali soalnya.” Bisik Heechul. Mereka bertiga mengangguk dan kembali fokus mendengarkan. “Lagian ya, aku memang kasihan dengan Taeyeon. Dia gadis yang baik dan polos, banyak yang suka, tapi sekali suka sama orang akhirnya menyedihkan.”

“Bagaimana ceritanya…?” Mir merasa sangat penasaran. Heechul mengambil air mineralnya dan mulai bercerita.

Continue to part.2

*******

Hai hai~ begindang deh jadinya-__- ceritanya gaje? Emang._. Semoga suka yaaa~

6 responses to “Double Super Love! (1/4)

    • ini hasil dibenerin sih, jadi banyak kata-kata yang masih aneh juga=A= emang nasip itu ffnya ff pas masih awalawal banget bikin ff
      wooyoungmu…?
      he-eh yoseob :33

  1. Pingback: Double Super Love! (2/4) | Cappuchino In Your Life·

  2. Pingback: Double Super Love! (3/4) « Cappuchino In Your Life·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s