I Will Follow You Into The Dark (1/3)

iwillfollowyouintothedark

“Ya, kau tidak akan bisa lari lagi. Tidak akan bisa…”

“Lee Jieun…” 

******

Now, now, what game we should play?

PROLOG | PART.1 : Second Victims. One Killer

Apa menurutmu, hantu itu ada?

“Jieun, ruangan yang mana saat kejadian itu terjadi?”

Kevin menatap lekat-lekat gadis yang sedang meringkuk di depannya. Gadis itu tetap gemetaran dengan hebat, jiwanya tidak tenang. Ia dapat merasakan bahwa aura hitam itu ada di belakangnya, menepuk pundaknya. Meniupkan napas dinginnya di tengkuknya.

“Aku… Tidak ingat…” ujarnya tertahan. Ia melirik ke arah teman-temannya, yang masih menatapnya dengan pandangan heran. “… saat membuka mata… Aku sudah ada di ruangan itu, bersama dengan… darah… dan… dua orang itu—uh…”

Ia meremas kepalanya. Rasanya sakit luar biasa. Memori-memori saat malam itu tergambar jelas di ingatannya, terus mengalir bagai aliran air. Darah… pisau… tali… kedua orang bodoh itu… dan dirinya sendiri…

“Apa boleh buat… kita harus menelusuri tiap ruangan rumah ini.” Kevin mengambil kesimpulan. Baro tampak ragu, benarkah ini rencana terbaik?

“Bagaimana membagi kelompoknya?”

“Sendiri-sendiri saja. Akan lebih cepat, kan?”

Ng… Kevin, bagaimana dengan Jieun? Dia tidak mungkin menelusuri sendirian. Dan… siapa yang mau berkeliling rumah ini sendiri? Kita berlima, jumlahnya ganjil…” ungkap Baro. Dia tidak ingin pergi sendirian di tempat begini. Bukan masalah nyali, masalahnya dia memang merasakan ada yang ganjil dari rumah suram ini. Auranya terlalu menusuk, gelapnya benar-benar gelap, dan suara desiran angin membuat bulu kuduknya berdiri.

“Kau saja.”

MWO!? TIDAK AKAN!!” tolaknya mentah-mentah. Kali ini dia merasakan lagi aura hitam itu, entah kenapa terasa suram dan menyakitkan.

“Ck. Pengecut.” komentar Kevin pedas. Baro ingin sekali memukul namja ini, tapi saatnya tidak tepat.

“Aku dengan Amber.” Henry langsung menarik tangan yeoja di sampingnya itu. Dia tidak ingin Amber bersama dengan Baro maupun Kevin, lagipula ia khawatir. Sedangkan yang ditarik hanya diam, pipinya bersemu merah.

“Hh… baiklah. Aku yang akan pergi sendirian. Baro, kau jaga Jieun. Jangan sampai ada yang terjadi padanya,” kata Kevin dengan sinis, lalu berjalan duluan. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan, diikuti Henry dan Amber yang berjalan ke lantai dua.

DEG!

“Jangan pergi…! Jangan…!!” jerit Jieun, namun tertahan. Entah kenapa, saat melihat mereka semua berjalan terpisah-pisah, ia langsung terbayang saat kejadian di malam itu, ketika semuanya gelap, ketika semuanya abu-abu dan merah. Dia hanya sendirian yang bernapas di dalam sana, sedangkan dua orang lainnya terkapar dan tergantung, dengan tubuh penuh darah. Dia ingin menangis, pemandangan yang ia lihat malam itu adalah pemandangan yang tak pernah ia harapkan di dalam hidupnya. Dimana dia sendirian di sana, bersama dua mayat bersimbah darah.

“Jieun…” Baro khawatir. Gadis ini memiliki beban yang lebih berat darinya. “… Kau merasakan ‘dia’ kan…?”

“Ya… Dia di sekitar sini, sedang menatap kita berdua… Wajahnya seram, tercabik-cabik dan penuh darah. Matanya merah, yang satunya lagi hilang… Kamu… Bisa merasakannya?” bisik Jieun pelan. Ia menatap ke ujung ruangan. Sekarang dia benar-benar yakin makhluk itu sedang menatapnya sambil tersenyum lebar.

Jinjja?” Baro terkejut. Dirinya hanya bisa merasakan auranya, sedangkan Jieun dapat melihat jelas makhluk itu. Mungkinkah karena saat peristiwa itu terjadi, gadis ini melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri?

Sepertinya Kevin, Henry, dan Amber sama sekali tidak merasakan aura hitam yang menyelimuti tempat itu. Ini berarti dia dan Jieun yang harus menahan tekanan yang memiris hati ini.

“Ba—Baro.. Dia tersenyum padaku! Mulutnya… Mulutnya robek…” isak Jieun, ia menutup wajahnya. Bulir air matanya mengalir, makhluk itu masih tersenyum, bahkan tertawa. Mulutnya melebar sampai melebihi batas, dan matanya melotot seakan mau keluar dan akan menghisap kedua anak itu sebelum mereka sempat tersadar. Dia ada di pojok ruangan, berdiri dan terus tertawa.

“Jangan dilihat..” Baro menutupi pandangan Jieun dari depan, memblokir penglihatan gadis itu untuk melihat ke ujung ruangan sana. Dia juga merasa takut, aura itu seakan terus mendekat ke arahnya. Ia ingin menjerit, tapi hal itu dapat merusak harga dirinya sebagai pria.

“Baro… Aku tidak mau disini…” isak Jieun. Baro menatap gadis itu dengan tatapan khawatir.

“… Kita pindah ruangan. Sekarang.” Ujar Baro, lalu menarik perlahan tangan Jieun, mencoba untuk tidak mengusik makhluk di belakangnya, yang tanpa ia sadari sudah menggenggam bahu pria itu dan meninggalkan bercak merah.

******

“Henry… ruangan ini terlalu gelap.” Ujar Amber, seraya mempererat genggaman tangannya di baju Henry. Ia dan Henry masuk ke dalam pintu yang pertama kali terlihat setelah naik tangga.

“Tunggu, biar kunyalakan korek api. Oh, Amber…”

Ne?”

“Jangan genggam bajuku seperti itu. Nanti melar.”

“Oh, mianhae.” Amber segera melepaskan genggamannya dengan panik, lalu menurunkan tangannya. Tapi Henry meraih tangannya lagi dan menggenggamnya. Amber hanya kaget melihat hal yang dilakukan pria itu, wajahnya memerah.

“Begini lebih baik, kan?” ujar Henry, disambut dengan anggukan pelan dari Amber yang masih merona. Setelah memastikan tangan Amber sudah tergenggam erat di tangannya, ia menyalakan koreknya dan memandang sekeliling. Ruangan itu adalah kamar, kamar tua. Meski begitu ruangan ini terlalu kecil untuk kamar tuan besar dan anak-anak bangsawannya.

Kriet….

Henry mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Suara decitan lemari tua, yang terbuka dan berdebu. Dimana-mana ada sarang laba-laba. Lantai dan temboknya juga kotor, tapi hal itu wajar untuk rumah tua yang sudah lama tak ditinggali.

“Kelihatannya bukan kamar ini.” Katanya, lalu menutup pintu. Ia mengalihkan pandangannya ke yeoja yang ada di belakangnya, gadis itu mempererat genggaman tangannya dan menunduk. Dirasakannya tangannya gemetaran.

“Tidak apa-apa, aku akan melindungimu.” Bisik Henry, lalu tersenyum manis. Amber tambah merona mendengarnya, lalu tersenyum dan mengangguk. “Nah, ayo, kita ke kamar selanjutnya.”

Amber dan Henry bergerak ke kamar satunya lagi sebelum sebuah belokan nampak di dalam kegelapan. Henry membuka pintunya, lagi-lagi hanya kamar biasa.

“Henry, sudah dicek?”

“Ne, tidak ada apa-apa.” Jawab namja itu, lalu menutup pintunya.

Kriet…

Sebuah bayangan hitam bergerak di sudut ruangan.

“Mungkin blok ini untuk kamar pelayan, tapi auranya agak aneh.” Komentar Amber sembari menyesuaikan langkahnya dengan langkah besar Henry. Dia masih terus menggenggam tangan Henry tanpa disadarinya, dan Henry yang sadar tentang itupun hanya tersenyum dan terus mempererat genggamannya.

Mereka terus memeriksa kamar lain. Namun isinya hanya debu dan kayu yang hampir rubuh. Sama sekali tidak ada barang selain ranjang dan lemari.

Akhirnya, mereka sampai pada pintu terakhir. kamar itu berada di ujung lorong, tempat yang paling terang karena terkena cahaya bulan. Pintunya lebih besar dari pintu lain, dan nampaknya ruangannya pun lebih besar.

Henry mencoba membuka pintu itu, namun sulit, engselnya sudah berkarat dan sulit tergeser. Setelah perjuangan berat, akhirnya pintu sialan itu mau terbuka juga. Mereka berdua menengok ke dalam, isinya hanya sebuah ranjang tua yang kasurnya sudah bolong dan sebuah lemari kecil dengan banyak lubang di permukaannya. Amber bergidik ngeri, di dalam lemari itu seperti ada sesuatu yang aneh.

“Hm? Apa itu?” Henry mendekat ke arah lemari, membuka lemari itu, dan menemukan sebuah tengkorak tua yang masih setengah berpakaian. Pakaian pelayan. Di tulang-tulangnya banyak ditemukan bercak hitam. Mungkinkah itu darah yang mengering?

“Ah… Henry… Ayo keluar…” ujar Amber, seraya menarik tangan Henry. Ruangan ini bau dan lembab, tidak enak berlama-lama di dalam sana. Henry mengangguk dan menuntun yeoja itu untuk keluar dahulu, lalu menutup pintu.

GREP!!

“AAAAHHHH!!!”

“HENRY!!” jerit Amber. Henry tertarik masuk ke dalam, entah oleh apa. Dengan sekuat tenaga gadis itu menarik Henry untuk keluar. “HENRY! BERTAHANLAH!!”

“Kakiku—Kakiku…” Henry menoleh ke belakang. Ia merasakan ada tarikan kuat dari dalam sana, meremas kakinya erat sampai rasanya hampir patah, bahkan hampir saja menghancurkan kakinya jadi debu.

WAEYO!?” Kevin berlari ke arah mereka dan melihat kaki Henry yang tersangkut ke dalam ruangan. Dengan segera ia ikut membantu Amber mengeluarkan namja itu.

“AAAAAHHH!!!”

BRAK!!

Mereka bertiga terpental ke dinding. Henry menggenggam erat kakinya, kaki itu sekarang bersimbah darah, kurus dan rasanya meremukkan tulangnya. Hanya dengan sebuah genggaman, pergelangan kakinya sukses hancur.

“Henry…” desah Amber. Ia mengeluarkan sapu tangannya dan mengikatnya di kaki namja itu.

“Tsk. Kau bisa berdiri?” Kevin menundukkan badannya, melingkarkan lengan Henry di lehernya dan menuntunnya berjalan. Ia menatap kamar misterius itu, lalu mengintip ke dalamnya dan menemukan lemari yang sudah terbuka lebar-lebar. Tidak ada apapun di sana, hanya segerombolan binatang hitam yang merangkak di atasnya.

“Itu… Bukannya… harusnya ada tengkorak—?” ujar Amber dengan gemetaran.

“Oi… Kalian lihat…” Kevin menunjuk ke arah pintunya dan tanda ‘dilarang masuk’ dengan kayu yang sudah dimakan serangga tergantung di sana. Dengan emosi Henry membanting pintu itu dan langsung menarik Amber dan Kevin untuk turun ke bawah dengan kakinya yang berdarah.

Kret…

Sesuatu muncul dari pintu kedua dari awal, menggenggam kasar kaki Kevin dan membuatnya terpelanting ke lantai. Setelah ditengok… Hanya ada ceceran darah segar yang mengalir dari dalam ruangan ke dekat kaki namja yang jatuh itu.

“Ini… Bohong…”

“Hei.. Itu bukannya darahmu? Ayolah, jangan menakut-nakuti…”

“Bisa kita segera turun ke bawah?” bisik Amber. Lagi-lagi ia merasakan bahwa tubuhnya gemetaran dengan hebat.

“… Kalian yakin tidak mendapat petunjuk apa-apa disini?”

“TIDAK ADA!! Sudahlah, cepat turun!!!” bentak Amber tidak sabaran. Tanpa basa-basi lagi, Kevin dan Henry langsung setuju dan berjalan ke bawah dengan sekuat tenaga.

******

“Henry! Kevin! Apa yang terjadi?”

Henry, Kevin, dan Amber berjalan masuk dengan lemah ke dalam sebuah ruangan besar. Merah dan hitam mendominasi furnitur serta dinding dan temboknya. Kelihatannya ruangan yang mereka pakai sekarang ini adalah ruang tamu, dan Baro serta Jieun sudah ada di dalamnya. Perapiannya menyala, sehingga ruangan itu menjadi hangat.

Jieun duduk sendirian dengan tatapan kosong di sofa, dan Kevin langsung menghampirinya.

“Apa ini? Kau yang menyalakan perapian?” tanya Henry pada Baro, sedangkan Amber membantunya duduk di atas sofa.

Aniyo. Sudah nyala ketika kami berdua masuk kesini. Ah, kakimu kenapa?” Baro buru-buru menghampiri Henry, dan mengecek kakinya. Ia memandang miris kaki yang terjepit itu. Warnanya sekarang ungu dan mengecil, tulangnya pun retak.

“Sudah nyala… Saat kalian masuk…?” Kevin mengedarkan pandangannya ke sekitar, lalu menemukan sebuah gelas di atas meja. Ia meraih gelas itu dengan bersusah payah, lalu memandang isinya—yang ternyata teh—dan masih hangat.

“Ada orang lain selain kita disini.” Sahut Kevin, membuat semuanya spontan menoleh ke arahnya.

“Benarkah? Oh, kakimu juga terluka, Kevin? Ada apa?” Baro beralih ke arah Kevin dan menatap namja yang masih memperhatikan gelas teh tadi.

“Ah, bukan hal besar. Hanya bengkak. Untuk lanjutnya nanti saja.” Kevin berusaha mengabaikan pertanyaan Baro, lalu kembali fokus ke gelas teh yang masih ia pegang. “Tehnya masih hangat, dan mungkin orang itu yang menyalakan perapian.” Jelasnya. Semuanya merasa tertarik dan mendekatinya, kecuali Jieun yang masih terdiam di sofanya.

“Orang lain? Siapa…?” tanya Amber dengan nada heran.

“Aku tidak tahu… Mungkin pencuri, atau mungkin orang yang mengincar harta bangsawan ini. Katanya sekeluarga serta pelayan yang tinggal di rumah ini hilang mendadak, entah kenapa.” Nada bicara Kevin mendadak jadi horror.

“Jadi… Yang tadi menggenggam kaki kalian…” ujar Amber dengan terbata-bata. Ia kembali gemetaran, namun perasaan itu ia abaikan. Ia memilih untuk lebih fokus mengobati kaki Henry.

“Kembali ke masalah awal, orang yang menyelinap juga seperti kita ini berbahaya atau tidak?” terka Kevin. Semuanya juga ikut berpikir.

Jieun menatap semua temannya dengan pandangan kosong, lalu kembali menatap ke depan. Ia masih terus memikirkan ruangan itu. Kira-kira, dimana ruangan itu ada?

Nyut!

Kepalanya terasa sakit saat mencoba mengingat kembali. Namun, selagi teman-temannya sedang berpikir mengenai hal lain, ia mencoba untuk terus fokus pada masalah ini.

Siapa saja yang ada di sana?

Bagaimana keadaannya?

Apa yang dia rasakan…?

“Oh iya, apa kita tidak mengecek keadaan di luar sana?” Henry mengeluarkan ponselnya dari saku, lalu mengetikkan sebuah nomor.

“Telepon siapa?”

“Jaejin.”

Jieun menoleh ke arah Henry yang masih sibuk mengutak-atik ponselnya.

Jaejin…?

Aku mengingat nama itu disebut…

Tapi dimana…?

******

Trrr… Trrrr…

Seorang namja menatap layar ponselnya. Ia bergidik ngeri setelah melihat nama yang ada di sana.

Henry Lau calling…

Dengan buru-buru, ia memutuskan telepon itu dan merenggut kepalanya. Ia merasakan tekanan lagi, tekanan pada malam itu, ketika sebuah keisengan malah membawa mara bahaya untuk dirinya.

Ditatapnya lagi layar ponselnya. Henry kembali menelponnya, dan ia kembali memutuskannya. Ia masih bergetar saat melihat sms dari Amber yang sampai jam 5 pagi tadi.

From: Liu Amber
Subject: –

Jaejin, Kevin menyuruh kita datang ke rumah tua di pinggiran kota itu. Datang ya ASAP

Ia gemetar dengan hebat, lalu menyembunyikan dirinya dalam selimut. Dengan takut-takut, ia memandang rumah tua itu dari kejauhan, dari jendela kamarnya.

“Kalian… Jangan kesana… Jangan…” ujarnya sambil menggeratakkan giginya. Ia memandang rumah itu dengan tatapan nanar, dan seakan ada yang mengejutkannya, ia tersentak kaget dan kembali menyembunyikan dirinya dalam selimut.

******

“Tidak diangkat..” Henry memandang layar ponselnya dengan tatapan heran lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Apa mungkin dia masih sibuk dengan bassnya?” terka Baro. Jieun tersontak kaget mendengarnya.

Bass… Ya…

Malam itu terdengar suara itu…

Suara yang… Jadi latar belakang kematian Gaesun…

“Gaesun…” gumamnya pelan. Ia menutup matanya dan menggeleng, mencoba mengusir semua aura negatif yang ia rasakan.

“Kalau begitu kita benar-benar terkunci disini.” Kevin mengambil kesimpulan, lalu berdiri tegak dengan susah payah. “Sebaiknya kita lakukan pencarian lagi.”

“Pencarian? Lagi? Apa kau tidak jera setelah melihat kaki Henry?” bentak Amber dengan nada yang amat jengkel.

“Lalu? Kau membiarkan kasus ini begitu saja!?” balas Kevin.

“Yang kau pikirkan hanya Jieun! Bahkan kaki Henry sudah begini kau masih saja bersikeras!!”

“Keras kepala! Kakiku juga bengkak!! Kalau kasus ini sudah dimulai, berarti harus diselesaikan!!”

“Kakimu bengkak, tulang Henry patah!! Yang keras kepala itu kau!!!”

“Amber, sudah…” Henry menggenggam tangan gadis itu dan menenangkannya. Amber hanya diam lalu membuang muka dari Kevin.

“Pokoknya, aku tetap akan bersama Henry. Aku akan menjaganya. Baro juga, lebih baik ikut kami, pasalnya Henry harus dibopong untuk berjalan.” Ujar Amber dengan acuh tak acuh.

“Terserah!”

Deg!

“Semuanya, diam!!” jerit Jieun, ia segera menutup telinganya. Tiba-tiba terdengar sebuah lengkingan entah darimana, memekakkan telinga mereka. Tapi, lengkingan ini lebih terdengar seperti teriakan manusia.

“Suara… Darimana?” tanya Baro seraya menutup telinganya. Ia menatap ke sekeliling, merasakan tekanan yang sangat berat. Seperti luka di hati, perasaan yang teriris, dan segala macam tekanan lainnya ia rasakan di ruangan itu. Mendadak, aura menyakitkan tadi hilang tak berbekas.

“Baro… Aura itu hilang…” gumam Jieun. Baro menatap gadis itu dan mengangguk. Kevin yang melihatnya menatap dengan tidak suka.

“Jieun, ayo, kita cari ruangan itu sama-sama.” Kevin mengulurkan tangannya pada Jieun dengan tidak sabaran. Jieun memandang mata gelisah Kevin, lalu tersenyum dan mengangguk.

“Kevin, kamu tidak merasakannya..” gumam Baro saat melihat kejadian itu. Jujur, di dalam hatinya ia merasa sedikit kecewa. Tapi dia merasa agak senang karena hanya dia dan Jieun yang dapat merasakan aura yang menekan ini.

“Baro, ayo kita pergi.” Seru Amber dari ambang pintu. Baro segera berlari dan membantu yeoja itu membopong Henry yang kewalahan dalam berjalan.

“Henry, gwenchana?” tanya Baro dengan cemas.

Negwenchana. Ehem… Baro?”

Ne? Apa kau perlu sesuatu?”

“Tidak, tidak jadi.” Henry hanya tersenyum misterius, lalu memandang Kevin dan Jieun yang nampak sedang membicarakan sesuatu.

“Nah, ayo, kembali cari lagi. Rumah ini ada dua blok, dan blok yang ini lantai duanya nampaknya digunakan untuk kamar pelayan. Tadi lantai satunya sudah kuperiksa dan tidak ada yang mencurigakan, jadi lebih baik kita ke blok satunya lagi.” Usul Kevin. Semuanya mengangguk setuju lalu mengikuti Kevin untuk menuju ke blok satu lagi yang dibatasi dengan lorong di tengah-tengah halaman.

******

“Hmm.. Apa tujuan mereka kesini?”

Seorang pria duduk di atas pondasi-pondasi kayu atap ruang tamu yang merupakan tempat kelima anak tadi berkumpul. Ia menatap dengan tajam kelima anak yang sedang berjalan meninggalkan ruangan tersebut, lalu menangkap sosok Jieun yang sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

“Gadis itu…”

******

Henry, Amber, dan Baro berjalan di lorong lantai satu. Amber menggenggam erat tangan Henry, sedangkan Baro mengecek ruangannya satu-persatu. Dan yang mereka temukan hanya ruangan-ruangan biasa seperti dapur, yang kotor dan penuh debu.

Kriet…

Tes!

Baro melongo ke dalam ruangan. Di dalamnya ada wastafel kayu yang airnya masih menetes, bathtub yang sudah setengah rusak, dan sebuah wc tua. Baro hanya terdiam sebentar lalu berniat untuk mengecek ruangan lain, tetapi saat ia hendak menutup pintunya, Henry mendorong pintunya keras-keras dan langsung berlari dengan tergopoh-gopoh untuk mengecek bathtub.

“… Bercak hitam…” ujar Henry, seraya menatap beberapa bercak hitam di permukaan bathtub. Lalu ia menoleh ke dua orang di belakangnya, “Darahnya sudah lama. Mungkin ini darah dia.”

“Darah siapa? Gaesun? Atau… Pria itu?” ujar Amber dengan sedikit ragu. Baro menepuk pundak gadis itu pelan.

“Jangan sebut dengan julukan ‘pria itu’. Meski… Dia… Melakukan hal itu, tapi dia tetap mantan teman kita.” Ujar Baro, membuat Amber menghela napas dan mengangguk.

“Ah… Aku tahu.”

“Hei, semuanya..” bisik Henry. Ia membulatkan matanya, nampaknya ia menemukan sesuatu yang tergambar di bathtub itu. “Sini sebentar.”

“Ng? Ada apa?”

“Ini—”

BRAK!!!

“HENRY!!!”

Pintu toilet itu tertutup mendadak, membuat ketiganya sama-sama kaget. Amber menekan kenop pintu berkali-kali dengan emosi, kekhawatirannya memuncak.

Baro tersontak kaget, lagi-lagi ia merasakan aura hitam itu. Kali ini terasa menekan, dan… Jahat. Ia menutup matanya, mencoba untuk merasakan aura itu lebih dalam, dan tiba-tiba ia memelototkan matanya.

“HENRY!! HATI-HATI!!!” teriaknya panik, lalu memukul-mukul pintu dengan kegelisahan yang sudah membuncah di dadanya. Mendadak, pintu yang dengan mudahnya ia dorong tadi sekarang menjadi sangat berat.

Sesosok bayangan bergerak di belakang Henry.

“AAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!!!!!!”

“HENRYYYYYY!!!” jerit Baro. Ia mendobrak pintu dengan segenap tubuhnya dan ia sudah menemukan Henry di dalam dengan… Mengenaskan.

Darah memenuhi ruangan itu. Darah Henry terciprat dimana-mana, tembok dan lantai semuanya penuh oleh darah. Nampaknya sesuatu menusuk dada dan perutnya sampai berlubang. Ada banyak goresan dalam di sekujur tubuhnya, dan darah segar keluar tanpa henti dari mulut serta perutnya. Dengan keadaan begitu, mustahil ia masih bernapas.

Amber yang melihatnya langsung lemas, lalu terduduk di lantai. Air matanya tumpah seketika, dan tanpa ragu ia berlari dan memeluk tubuh Henry yang sudah tak bernyawa.

“Henry… Henry…” gumamnya. Ia terus memanggil nama namja itu tanpa berhenti, seperti kaset rekaman yang rusak.

Baro menutup matanya, lalu menyembunyikan tangisnya dengan sebelah tangannya. Miris. Benar-benar miris. Sudah ada tiga orang yang kehilangan nyawa, dan semuanya dimulai dari tingkah laku gila dari ‘lelaki itu’.

Mungkin, dia jugalah biang keladi dari kejadian yang menimpa Henry.

Amber tiba-tiba berdiri. Linangan air mata masih terus mengalir dari mata sayunya. Baro tahu persis bahwa hati gadis ini benar-benar terasa sakit, apalagi mengingat bahwa mereka sahabat sejak kecil dan saling menyukai satu sama lain. Dan akhirnya harus diakhiri dengan Henry yang… Tewas dengan keadaan seperti ini. Kalau Baro menjadi Amber, dia pasti juga tidak rela.

“KEVIN BRENGSEK!!” umpat gadis itu dengan amarah yang memuncak. Ia menangis sejadi-jadinya, lalu bersusah payah merangkul mayat Henry dan membawanya keluar. Baro menatap iba pakaian dan sekujur tubuh yeoja itu, yang sudah penuh darah. Meski begini dia tetap tidak jijik terhadap Henry dan tanpa ragu mengangkat tubuhnya. Baro terharu dengan kasih sayang yang gadis ini berikan.

“Amber, tunggu!” Baro berlari untuk mengejar Amber yang masih bersusah payah menarik Henry, namun ia terpeleset dan menabrak dinding.

“AH!!”

Dinding yang ia tabrak terbalik, dan ia masuk menembus ke dalam dinding.

******

“Oh, Amber, kau menemukan sesua… Apa itu?” Kevin shyok saat melihat Amber datang dengan berlumuran darah di sekujur tubuhnya, dan ia juga membawa mayat.

“LIHAT KARENA PAKSAANMU!!!” teriak yeoja itu dengan geram. Ia terus menangis, entah kenapa ia ingin terus mengeluarkan air matanya, dan amarah menguasai dirinya. Emosinya tidak terkendali dan dengan perlahan ia terduduk dan menidurkan namja yang ia sayangi itu di lantai marmer yang dingin.

“Itu—itu—”

“LIHAT YANG TERJADI PADA HENRY!!! AAAH…” jeritnya frustasi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, membiarkan air matanya terus jatuh ke wajah namja yang tewas dengan mengenaskan—di saat yang paling tidak diduganya.

“Henry…” ujar Kevin lirih. Ia berjalan mendekati mayat sahabatnya dengan lemas.

“Gara-gara kau, memaksakan pencarian ini… KAU TAHU HENRY BAHKAN TIDAK PROTES SAMA SEKALI!!! AAAHHH!!!” jerit Amber. Semuanya bercampur dalam emosinya. Marah, sedih, kesal, kecewa—membuat Kevin yang mendengarnya tidak bisa bicara apa-apa. Kali ini dia tidak berani membalas ucapan gadis itu, karena fakta di depannya bukanlah sebuah candaan belaka. Itu benar mayat Henry. Dan keadaannya… Di luar bayangan.

Jieun memelototkan matanya saat melihat mayat Henry. Mendadak, semua memori dalam ingatannya mengalir.

Memori malam itu, dan latar belakang permainan bass… yang terdengar lebih seperti permainan kematian. Menusuk jiwanya dan menyesakkan dadanya. Ketika ‘lelaki itu’ mengangkat mayat Gaesun, dan melemparnya sampai terpental ke tembok.

“Jieun… Beginilah yang terjadi kalau kamu tidak menerima cintaku…” bisik lelaki itu. Ia menyeringai bagai setan, dan layaknya film, suara tetesan hujan memburu, memainkan irama kematiannya.

“Aku… Tidak bisa…” desah Jieun. Ia tidak berani menatap ke depan, pandangannya samar-samar. Sudah cukup pemandangan yang penuh dengan warna merah memburamkan penglihatannya. “Aku… Sudah ada Kevin…”

“Jieun… APA YANG KURANG DARIKU DAN DIMILIKI KEVIN!?” teriaknya geram, lalu membanting sebalok kayu ke lantai sampai patah. “AKU MENCINTAIMU!!! MATI BERSAMAKU!!!!” namja itu melototkan matanya, lalu menikam Jieun dengan pisau yang sudah berlumuran darah.

Tiba-tiba, semuanya hitam. Terasa menyakitkan.

To Be Continued

******

The Story for PART.2 and PART.3

Semuanya terungkap.

Dimana kata-kata terakhir Henry adalah petunjuk.

Dimana Baro berhasil mengungkap rahasia dibalik tragedi berdarah itu namun tidak dapat berkomunikasi dengan siapapun.

Dimana semua petunjuk mengarah kepada Jaejin. Dan peran penting namja itu dalam mengembalikan ingatan Jieun.

Mereka semakin dekat ke akhir.

And all the secret will be revealed, soon…

******

Maaf kalau ceritanya aneh, dan… Terlalu flat? Gajelas?._.

Mind to leave your comment?

11 responses to “I Will Follow You Into The Dark (1/3)

  1. huwaaa horor ! >< aq merinding pas baca yang ini… ngeri juga waktu Henry udah tiwas itu… sampe darahnya muncrat2, T__T jd berasa nonton film horor deh,

    buat Amber, yang tabah yoo.. n buat fikhaa, keep writing ! d tunggu lanjutannyaa😄 keren nyoo

  2. Ahhh Baro ke mana tuh? Please jangan biarkan Baro berakhir seperti Henry😦

    Aku makin penasaran nih. Udah ada lanjutannyakah?😀

  3. Huaaaa henrynya udah mati aja di part 1, matinya mggenaskan pula, hikseu T^T
    Padahal awalnya seneng2 gmn gtu liat henber momennya.
    Ah tp overall, ini keren kok!

    Ini bakal dilanjutkan thor? *w*

    • soalnya rencana ceritanya cepet sih, cuma sampe 3 chapter >< pada dasarnya ini fic rikues sih, terus nambah-nambahin henber😀

      dilanjutiin tapi tunggu yaa, aku nge-stuck banget sama cerita-cerita baru, yang lama ga sempet dilanjutin T_T

      btw makasih banyaaak! panggil aku fikha ya, 98liner xD

      • oh, haha its okay~ i understand kok thor, eh fikha, hehe

        98liner? seriously? wah wah kita beda 4tahun tah? Btw, i seriously like your blog deh, sugoi dessu~ *^*

  4. wuaaah ff nya bagus banget! feel nya horor banget! sumpah sampe bisa bayangin detail kejadian ><
    kepengen langsung selesaiin bacaannya ^^

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s