The 3rd Dimension (2 of ?)

the3rddimension

… Permainan dimulai. Lanjutkan dan temukan misterinya! 

******

Chapter.1 | Chapter 2: The Lonely Lady

Gongchan terbangun dari tidurnya, dan menemukan dirinya dan hyunghyungnya yang masih tak sadarkan diri di sebuah ruangan aneh.

Ruangan itu gelap dan hitam kelam, tempat yang mereka pijak adalah sebuah jalanan sepanjang 30m yang berlubang-lubang dan dihiasi tembok-tembok hancur dan kotor, yang penuh dengan gambar dan tulisan pilox. Di ujungnya terdapat jalan buntu. Di bawah mereka hanya ruang kosong berwarna hitam yang sepertinya tak berujung. Bulu kuduk Gongchan langsung berdiri.

Hyung, bangun!” Gongchan mengguncang-guncangkan tubuh namja yang memakai rompi berbahan jeans yang tergeletak sambil memeluk skateboard kesayangannya itu. Perlahan, mata namja itu terbuka dan sambil mengucek matanya, ia melihat ke sekeliling.

“… Ini dimana?” tanya namja yang dibangunkan Gongchan itu—Jinyoung, yang masih dalam kesadaran yang belum pulih.

“Sepertinya di dalam buku.” Jawab Gongchan seraya mengangkat bahunya. Jinyoung hanya mengangguk-angguk dan menatap ketiga anggota yang terbaring disampingnya, CNU, Baro, dan Sandeul.

TAKK!!

Jinyoung langsung menddakbam dahi ketiga anggotanya yang masih terlelap dengan kuat dan tanpa ampun. Gongchan menganga dan hanya bisa tertawa kecil saat melihat dahi para hyungnya berubah menjadi merah dan mereka bertiga terbangun secara panik.

“Aish! Siapa, sih? Sakit, babo!” teriak Baro, dia segera bangun sambil memegangi dahinya yang masih nyeri.

“AH!! Aish aish…” Sandeul meringis kesakitan, ia menggeliat di atas jalanan sambil tetap memegang dahinya.

“Auw! Aiiih padahal aku masih ingin bermimpi memegang tangan noona…” CNU segera bangun dan memegang dahinya, ia meringis kesakitan. “Siapa sih? Jinyoung, ya??” teriaknya kesal.

“Ah, kau tahu saja. Ayo cepat bangun, kalau tidak kalian akan kena ddakbam lagi untuk kedua kalinya.” Kata Jinyoung cepat, dan sukses membuat ketiga namja yang tadinya meringis kesakitan itu dan Gongchan terduduk rapi di atas aspal.

“… Jadi? Kita sudah di dalam buku?” Baro mulai sadar dan memandang ke sekitarnya dengan tatapan kagum.

“Aaah kenapa akhirnya masuk juga, ya?” Sandeul menggaruk kepalanya yang tak gatal, mencoba menerima kenyataan bahwa mereka benar-benar masuk ke dalam buku itu.

“Woaaa ruangan apa ini? Apa bagian dari Starwars?” CNU menatap lekat-lekat setiap sudut ruangan itu, tapi dia tak bisa menemukan ujung ruangan gelap itu. “… Uh… Sepertinya bahaya juga kalau tersesat…” ujarnya dengan ragu.

“Selamat datang, Tuan-tuan sekalian. Inilah ‘Blackworld’, dunia milik saya.”

Terdengar suara menggelegar yang cempreng dan bergema. Suara itu tidak enak untuk didengar dan sesekali orang yang berbicara itu tertawa kecil. Para member B1A4 spontan terkejut dan memandang ke sekeliling mereka.

“Namaku El, inilah istanaku yang megah dan luar biasa.”

“Megah? Apa dalam duniamu yang begini sudah bisa dibilang megah?” sindir Baro dengan nada kesal. Dia melihat ke tempat ia berpijak, tempat itu kotor dan hanya berjarak 30m sampai jurang gelap yang dalam dan tak berujung. “Jangan bercanda dan tak usah sok merendahkan diri.” Tambahnya lagi.

“Aku tidak merendahkan diri, bocah. Tempat yang kalian pijak sekarang hanyalah pintu masuk yang sudah lama tak terpakai. Istanaku bukan tempat murahan seperti itu, aku hanya menaruh kalian di tempat yang cocok dengan level kalian.”

YAH!! Jangan mengatai derajat kami!!!” bentak Sandeul dengan emosi.

“Benar!! Kau pikir kau siapa!?” teriak Baro. Untuk kali ini dia satu pendapat dengan Sandeul.

Hyung, hentikan!” bentak Gongchan, membuat Sandeul dan Baro langsung terdiam. Tetapi wajah mereka sudah terlihat emosi.

“Namaku El. Apa kalian bingung tentang dunia apa ini?”

“Ya, tolong jelaskan.” Pinta Jinyoung dengan nada yang dewasa dan tenang. Namja ini berusaha mengendalikan dirinya.

“Baik. Jadi tempat ini adalah sebuah dunia games. Pemain harus terus bertarung sampai dapat mencapai ‘finish’ dan di akhir cerita mereka akan melihat ‘sesuatu yang tak pernah terbayangkan’ dalam hidup mereka. Jika semuanya kalah, maka akan dikembalikan ke dunia mereka kembali, tetapi jika mereka berusaha untuk kembali masuk ke dalam sini, sampai buku ini lenyap tidak akan bisa keluar lagi. Tapi—“

“Jadi jika kita kalah kita bisa keluar lagi, kan? Syukurlah…” CNU menghela nafas dengan lega.

“… Ya, tapi sistem itu sudah lama dihapuskan.”

“… Apa?” Baro spontan terkejut dan tanpa sadar memukul tembok yang ada di sebelahnya. “Apa maksudnya!?” tanyanya lantang.

“Sistem itu sudah lama terhapus, entah siapa yang menghapusnya. Jika kalian semua kalah, maka akan benar-benar mati. Game over.”

“AH!!!” dengan kesal, Sandeul menonjok tembok di sebelahnya dengan kasar, lalu mengangkat kerah baju Baro. “Ini gara-gara kau, idiot! Sudah kubilang permainan ini berbahaya! Pake sok-sokan bilang ini untuk meningkatkan kerjasama, lah!” umpatnya.

“Bukannya kau sudah setuju ikut? Sekarang siapa yang idiot? Dasar idiot!” Baro mendorong tubuh Sandeul dan menjatuhkan dirinya.

“Jangan macam-macam, deh! Kalau ada apa-apa pada kita, apa kamu mau tanggung jawab!?” tanya Sandeul. Ia memajukan badannya ke arah Baro dan balas mendorong Baro sampai namja itu hampir terjatuh.

“Bilang saja kau takut mati!” bentak Baro balik. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu. Ia melangkah lalu mendorong dan menjatuhkan Sandeul.

“Hentikan!!” Jinyoung dan Gongchan melerai mereka berdua, sedangkan CNU hanya menganga melihat kedua dongsaengnya tiba-tiba bertengkar seperti ini.

“Ya! Aku ogah mati! Apalagi di tempat seperti ini!” Sandeul mendorong tubuh Baro sampai Baro menabrak tembok, lalu menonjok pipinya keras-keras.

“Ini belum apa-apa!!” Baro kembali mendorong Sandeul dan kali ini ia membuat Sandeul terpelanting di atas aspal, lalu menonjok pipi kirinya tanpa ampun. “Jangan menghina lebih dari itu!!” teriak Baro, lalu bersiap untuk memberikan sebuah pukulan lagi di pipi Sandeul yang sudah memar.

“HENTIKAN KALIAN BERDUA!!!!” teriak Jinyoung, lalu menarik kerah belakang Baro dan mendorongnya ke aspal. “Kalian memalukan! Hanya karena ini lalu bertengkar!?” teriak Jinyoung lagi. Dia emosi dan wajahnya sudah memerah karena kesal.

“Ji—Jinyo..” CNU dan Gongchan hanya bisa terdiam melihat leader mereka yang sudah marah besar itu.

“Tapi hyu—” sebelum Sandeul bisa memberi alasan, sebuah guncangan hebat tiba-tiba terjadi. Mereka semua terpaksa berpegangan pada tembok-tembok untuk bertahan, dan tak lama kemudian guncangan pun mereda.

“Kalian berisik sekali, sih. Jangan ribut-ribut di depan pintu masuk dong.”

Terdengar suara cempreng itu lagi. Baro dan Sandeul masih terengah-engah, keduanya mengatur nafas masing-masing dan masih memasang tatapan jengkel. Sedangkan Jinyoung ditenangkan oleh hyung dan maknaenya.

“Tadi kubilang memang kalian akan mati semua, tapi bukan berarti tak ada cara.”

“… Apa itu?” Gongchan memberanikan dirinya.

“Menangkan sampai akhir. Siapa saja diantara kalian, seorang pun tak apa. Walaupun yang lainnya tewas, tapi jika salah satunya bisa memenangkannya, kalian semua akan keluar dalam keadaan hidup.”

Mereka semua mengangguk mengerti setelah mendengar penjelasan makhluk yang bernama El itu. Dari suaranya saja sudah ketahuan kalau dia makhluk aneh.

“Baiklah, aku tak bisa menunggu lagi. Permainan dimulai!”

Mendadak dari jalan buntu keluar sebuah cahaya yang amat menyilaukan, membungkus ruangan gelap itu dan menarik Jinyoung, CNU, Baro, Sandeul, serta Gongchan masuk ke dalamnya. Terdengar bunyi-bunyian dan suara yang memekakkan telinga.

Cahaya itu menghisap tubuh kelima namja itu, entah kemana.

******

Anonymous place, unknown time

“AAAAAHHH AAAAAHHH!!!!”

BRUK!!!

Seorang namja jatuh dari sebuah lubang hitam yang muncul di langit-langit, bokongnya dengan sukses mendarat duluan di atas rumput. Dari rasa penging di kepalanya, ia beralih mengusap bokongnya yang kesakitan.

“Auw… Aish… Uh…” Namja itu meringis kesakitan dan menggeliat-geliat di atas rumput. Akhirnya namja berambut sebahu itu—CNU, melemaskan badannya sambil tiduran di atas rumput yang lembut. Sampai tiba-tiba…

“AAAAAHHHH!!!”

BRAKK!!

Namja satu lagi jatuh dari lubang hitam dan mendarat persis di atas bokong CNU.

“ARGGGHHH!!!” pekik CNU dengan histeris. Dia menahan sakit yang amat-sangat di bokongnya. “Aisssshh rasanya bokongku sudah hancur.. Sudah nggak ada bentuknya…” katanya dengan pasrah.

“Ahh mianhaee! Gwenchana?” Pemuda yang menimpa CNU—Jinyoung, membantu namja yang sudah terkapar tak berdaya diatas tanah ituuntuk mengamankan bokongnya sebelum ada apa-apa terjadi lagi.

“Jinyoung, kelihatannya dia sudah tak bisa hidup lagi…” ujar CNU sambil menunjuk bokongnya dengan pasrah.

“Bersabarlah.” Ujar Jinyoung singkat, lalu menepuk pundak namja yang lebih tua darinya kira-kira 2 bulan itu. Ia memandang ke sekelilingnya, menemukan sebuah taman bunga yang besar. “… Dimana ini?”

“Taman bunga! Kau nggak lihat!?” CNU mencoba merilekskan tubuhnya sambil menghirup wangi bunga di dekat hidungnya.

“Ya… Nggak. Aku hanya kaget kenapa bisa di istana makhluk aneh begitu ada tempat indah begini.” Gumam Jinyoung pelan. Ia merasa ada yang janggal.

“Wekk!!! Bunga apa ini?!” seru CNU tiba-tiba, lalu menjauhkan bunga yang baunya menyengat itu darinya. Nampak luar bunga itu bunga mawar, tapi wanginya lebih seperti bangkai binatang.

“Bunga? Ahh benar juga. Disini tidak harum, ya?” Jinyoung mencoba mengendus bunga di sebelahnya, tetapi baunya terus menyengat. “Argh! Nggak lagi-lagi deh.”

“… Semuanya dimana?” CNU mencari keberadaan tiga dongsaengnya yang sedaritadi tidak muncul-muncul.

“Ah benar juga… Sandeulie, Baro, dan Gongchanie kemana ya?” Jinyoung mencoba melompat-lompat untuk mencari keberadaan ketiga namja itu, tetapi hasilnya nihil. “Ah gawat. Gimana kalau eomma dan appa mereka menanyakan keberadaan mereka padaku?” tanya Jinyoung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Kenapa kau terus-terusan bertanya tentang itu, sih? Sudahlah, kita sudah ada di dalam sini, appa maupun eomma mereka takkan bisa menemukan kita atau menghubungi kamu.” CNU mulai berjalan mengelilingi taman bunga yang ujungnya tak bisa dilihat itu, lalu melihat sebuah bunga raksasa di tengah-tengah taman. “Jinyoooounng, ada bungaaa!” teriaknya, dan dengan semangat ia berlari menuju bunga itu.

Mwo?” Jinyoung memperhatikan bunga itu dan tanpa sengaja melihat sekilas bahwa bunga itu punya ekor yang bergerak-gerak dengan liar. Dengan spontan ia berteriak, “CNU!! Cepat kembali kesini!!!”

“Eh?” CNU masih dengan wajah polosnya menengok ke arah Jinyoung, dan sebuah tamparan dari ekor bunga itu mengenai wajahnya dan membuatnya terlempar jauh.

“CNU!!!” teriak Jinyoung, ia berlari menghampiri CNU, tetapi terhalang oleh akar-akar bunga yang bergerak-gerak. “Sial!!”

CNU segera berdiri dan membersihkan pinggir bibirnya yang berdarah, lalu dengan berhati-hati ia memasang kuda-kuda. Bunga raksasa itu mengeluarkan akar-akarnya yang besar untuk menopangnya berdiri, dan dengan sukses bunga besar itu berdiri dan kembali menyerang CNU sampai ia jatuh bergelindingan.

“CNU!!” Jinyoung segera berlari untuk menendang bunga itu, tetapi sama sekali tidak ada efeknya dan malah membuatnya terhempas jauh.

“Jinyoung!” CNU berlari menghampiri Jinyoung yang terjatuh di atas bebatuan kecil. Badan Jinyoung penuh luka dan goresan kecil. “Oi! Gwenchana!?”

Ne, tenang saja.” Jinyoung segera bangun dan menarik CNU untuk maju ke depan. Tiba-tiba terdengar suara suling dan akar-akar bunga di sekitar mereka membungkus pergelangan kaki mereka.

“Ah, sial!” Jinyoung menarik-narik kakinya, tetapi semakin sering ia berusaha membebaskan kakinya, akar yang mengikat kakinya semakin banyak.

“Jinyoung! Diam disitu!” CNU menarik kakinya kuat-kuat dengan tenaga supernya dan menaiki skateboardnya dengan kecepatan penuh, lalu mengeluarkan pisau saku dari tasnya, dan langsung memotong kaki kanan monster itu.

“ARRGGGHHH!!!” erang monster itu, yang kemudian kehilangan keseimbangan.

“Yes! Satu kosong!” seru CNU sembari mengangkat tangannya ke udara. Setelah melakukan perayaan kecil-kecilan, ia berbalik dan melepaskan pisaunya seperti darts dan menusuk mahkota  bunga itu sampai akhirnya monster besar itu jatuh ke tanah.

“Terakhir!” Namja itu segera mengendalikan skateboardnya ke belakang dan menusuk ekor sang monster.

“GRAAAAHHHH!!!!” teriak monster bunga itu. Dia menggeliat dan akhirnya benar-benar rubuh. CNU menyerukan kemenangannya dan berlari kembali untuk menolong Jinyoung.

Jleb!

Sebuah ranting pohon yang ujungnya tajam menusuk lengan atas pemuda berambut panjang itu dan membuatnya jatuh seketika.

“CNU!!” seru Jinyoung. Dan dengan sekuat tenaga ia melepaskan belenggu akar yang mengikat kakinya dan berlari menghampiri sahabatnya itu. Terdengar suara suling yang menakutkan lagi. Kali ini akar merambat cepat di tubuh Jinyoung dan menariknya sampai terpelanting ke belakang.

“Jinyoung!” CNU berlari ke arah Jinyoung dengan ranting yang masih tertancap di lengannya dan segera menarik-narik akar yang membungkus tubuh Jinyoung. Akar-akar itu melawan, menusuk-nusuk kembali lengannya dan menyebabkan banyak lecet, tapi dia tak peduli dan terus melakukannya.

“Diamlah, akar itu akan terus bergerak jika kau terus-terusan menyentuhnya.” Seorang yeoja berambut panjang datang ke arah mereka sambil membawa suling. Bajunya serba hitam tanpa lengan, celananya panjang mencapai mata kaki dan kakinya hanya terbalut perban. Kulitnya putih pucat dan ekspresinya kosong. Rambutnya yang pirang tergerai indah di bahunya.

“… Kau siapa?” Jinyoung menyipitkan matanya, berusaha melihat yeoja yang sekarang berdiri tak jauh dari dirinya dan CNU.

“AAAAHHH!! Gadis di halaman rumah Gongchan!!!” CNU berteriak histeris, lalu menjauhkan dirinya sejauh mungkin dari gadis itu. “Rambutnya tidak hitam tapi wajahnya mirip!!!”

“Namaku Alice.” Jawab yeoja itu, aura yang dimilikinya dingin menusuk, tetapi terasa begitu… Berbeda. Setidaknya begitulah yang dirasakan Jinyoung saat melihat gadis ini.

“Alice…” Jinyoung menggumamkan nama gadis itu pelan, sedangkan CNU sibuk memotong akar-akar yang membalut tubuh sahabatnya dengan pisau yang dibawanya.

“Hentikan.” Seru Alice, lalu menatap Jinyoung yang badannya sudah penuh dengan akar-akar, lalu akhirnya meniup sulingnya kembali. Akar-akar itu tiba-tiba bergerak kembali ke dalam tanah.

“… Kenapa kau menolong aku?” tanya Jinyoung seraya membersihkan bajunya, dan CNU membersihkan luka di tangan dan leher Jinyoung.

Alice tidak menjawabnya dan hanya menatap bunga besar yang sepertinya anak buahnya itu dengan tatapan yang berbeda, membuat hati Jinyoung terusik.

“Amelyn…” ujar gadis itu, lalu memeluk kaki kiri bunga itu dengan lembut, meski tidak nampak di wajah pucat gadis ini, tetapi Jinyoung dapat melihat air mata keluar dari pelupuk matanya.

“… CNU, sudah.” Jinyoung menyuruh CNU yang masih sibuk membersihkan lukanya dan luka dirinya sendiri untuk berhenti.

“Ayo, kita serang sama-sama.” Gumam Alice, lalu menaiki pundak bunga besar itu. Bunga itu seperti mengangguk dan Alice kembali meniup sulingnya, sebuah kaki terbentuk dari akar-akar tumbuhan untuk menopang kembali tubuh bunga itu.

“Sial! Muncul lagi!” Jinyoung dan CNU segera bersiap dengan skateboard mereka dan mengendalikan skateboard masing-masing ke arah berbeda. Dengan sigap Alice meniup sulingnya kembali dan membuat pertahanan dengan akar tumbuhan, sedangkan bunga besar itu menggerakkan ekornya untuk memukul Jinyoung dan CNU yang sudah sampai di sisi kanan dan kirinya.

“Heaah!” CNU melemparkan pisau ke arah kaki sebelah kiri bunga itu, tapi kali ini hasilnya nihil sama sekali. Bunga itu bergerak dan hampir menginjak CNU utuh-utuh.

KRAK!!

“AHH!!” CNU terlempar dari skateboardnya dan lengannya sukses terinjak oleh kaki bunga itu.

“CNU!!!” teriak Jinyoung, yang masih berusaha melawan pertahanan akar Alice. Air mata keluar dari pelupuk matanya. “Bertahalanlah, Dongwoo! Aku akan kesana!!” Jinyoung segera menaiki skateboardnya dan mengendalikan skateboardnya ke arah CNU yang masih tergeletak sambil menahan tangannya.

BRAKK!!

Bunga itu menendang CNU sampai ia terlempar jauh ke ujung taman bunga. Jinyoung dan Alice langsung shyok melihatnya.

“CNU!!” teriak Jinyoung. Ia berlari menenteng skateboardnya dan memeluk CNU yang sekarang terluka parah.

“Amelyn! Tahan!!” ekspresi Alice nampak sangat panik. Si bunga hanya diam saja sambil terus menyerang.

“… Apa?” Jinyoung melihat ke arah yeoja yang masih berteriak-teriak pada teman bunganya itu, sebenarnya apa yang dilakukannya? Bukankah bagus kalau Dongwoo malah jatuh seperti ini?

“… Ji—Jinyoung… Ah…” Jinyoung dengan panik langsung menoleh ke arah sahabatnya yang masih tergeletak lemah dengan tubuh yang sudah penuh darah. CNU hanya tersenyum padanya. “Me—menangkan ini… Da—dan buat Baro senang…”

“Dongwoo!!” Jinyoung menyeka air mata pemuda yang sedang tergeletak itu, lalu menahan kepalanya dengan sebelah lengannya.

“Haha… Kalau sedang panik… Kau dengan otomatis langsung memanggilku ‘Dongwoo’…” CNU tertawa kecil. “… Hei, kurasa aku tahu ‘sesuatu yang tak pernah dibayangkan’ di akhir cerita itu.. Menangkan ya, leader?” katanya, lalu… menutup matanya.

“DONGWOO!!!!”

Setitik air mata turun di pipi Jinyoung. Baru mulai saja sahabatnya sudah seperti ini. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana kelanjutannya, jika CNU yang walaupun bodoh tapi mood maker ini tidak ada. Sedangkan Alice menatap mereka dengan ekspresi bersalah.

“… A—aku..”

“AAAAAHHHH!!!!” Jinyoung meletakkan CNU kembali ke atas tanah, dan berlari membabi buta ke arah bunga raksasa itu dan mengeluarkan pisau dari tas CNU.

“Jangan! Jangan lukai Amelyn!!” Alice langsung melompat turun dan melindungi Amelyn, walaupun sia-sia. Di saat kejadian yang hanya terjadi beberapa detik itu, dia tak mampu berpikir cepat untuk mengeluarkan sulingnya.

Dengan cepat Jinyoung mengarahkan pisau besar ke arah leher Alice dan sudah siap memotongnya, sampai ia menghentikannya tepat di depan mata Alice dan membuat goresan di pipi kanan yeoja itu yang sudah basah oleh air mata.

“… Jangan nangis, babo.” Ujar Jinyoung, lalu kembali menyimpan pisaunya. “… Siapa kau?” tanyanya sekali lagi. “Tolong jelaskan mengenai dirimu dan ‘siapa’ sebenarnya bunga raksasa ini?”

Dengan ragu, yeoja itu menunduk dan menjelaskan semua yang dia tahu, “… Namaku Alice, seperti yang sudah kukatakan tadi. Ini temanku, Amelyn. Kami berdua dulu tinggal disini—di Wonderland—bersama-sama dengan appa dan eomma, juga penduduk lainnya. Kami bahagia sampai El mengambil tempat ini sebagai bagian dari istananya. Hidupku hancur karena makhluk itu…” katanya, dan dengan lemas ia terduduk di atas rumput. “… Setiap manusia yang datang kesini harus dibunuh, sudah peraturannya. Amelyn membangkang dan diubah menjadi bunga, setengah tubuhnya membusuk dan dikendalikan El. Aku takut…”

Alice mencengkram wajahnya dengan ekspresi penuh ketakutan. “… Tidak ada yang datang kesini… eomma, appa, semuanya mati. Semuanya mati…”

“… Alice… Alice In Wonderland…?” gumam Jinyoung perlahan. Rasanya dia pernah mendengar nama itu saat kecil dulu.

“Makhluk itu tidak pantas hidup! Dia tidak punya hati!!” jeritnya, lalu kembali menangis dan memukul-mukul tanah dengan kesal.

“Hei, tenanglah…” Jinyoung merasa sedikit tersentuh, lalu berjalan mendekati Alice untuk menghapus air matanya.

“Kamu… Bawalah ini,” ujar Alice, lalu memberikan sekantung serbuk bunga pada Jinyoung. “Mungkin ini berguna untuk petualangan selanjutnya, untuk dirimu maupun yang lain.”

“I—iya…” Jinyoung menatap yeoja di depannya ini. Kelihatannya ia baik. Baru saja ia menerima kantung itu, sebuah gemuruh hebat terjadi, menyebabkan ia harus berpegangan pada pohon kecil di sebelahnya.

“GRRRRRRRRHHHH!!!!”

Bunga raksasa itu berteriak-teriak, tubuhnya membengkak dan menggembung seperti balon. Tumbuhan di sekitarnya beterbangan dengan liar. Jinyoung segera berlari menyelamatkan Alice yang hampir terhempas jauh dan membawanya serta tubuh CNU untuk lari.

“Kenapa kau membawaku juga!?” tanya Alice dengan setengah berteriak.

“Ngomong apa kau!? Kau mau mati!? Aku tak bisa membiarkan ada orang lain lagi yang mati, apalagi kau tidak punya salah apa-apa!!” balas Jinyoung, sama-sama berteriak. Alice hanya bisa diam mendengar jawaban namja itu. Kau tidak punya salah apa-apa.

“AMELYN!!!” seru Alice, tapi bunga itu terus mengejar mereka dan memukul jatuh Jinyoung sampai punggungnya mengeluarkan banyak darah. Tapi Jinyoung masih berusaha melindungi Alice dan tubuh CNU. Dengan panik, Alice mengeluarkan sulingnya dan membunyikannya, tetapi tidak terjadi apa-apa. Akar-akar tidak mau mendengarkannya. Akar bunga raksasa itu merenggut Jinyoung dengan cepat dan meremas tubuhnya.

“AAAAAHHHH!!!!” sakit dan nyeri terasa di seluruh bagian tubuh Jinyoung. Rasanya tubuhnya sudah mulai hancur secara mendadak.

“Amelyn!!” Alice berlari ke arah tumbuhan itu dan mengeluarkan pisau, lalu memotong kakinya.

“GRAAAHHH!!!” Amelyn terjatuh dan membuat Jinyoung ikut jatuh ke atas tanah. Dengan geram Amelyn mengarahkan duri-durinya yang tajam ke arah tubuh Jinyoung yang sudah tidak berdaya.

JLEB!

… Seketika, air mata mengalir dari mata Amelyn.

“… Alice!” seru Jinyoung.

Alice mengorbankan dirinya. Badannya tertusuk-tusuk duri Amelyn, dan dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya ia memeluk kepala Amelyn. “… Kamu tetap sahabatku…” katanya, lalu menoleh ke Jinyoung. “… Pintu keluar ada di semak-semak yang ada di tempat kau pertama kali melihat Amelyn. Uh… Si—siapa namamu?” tanyanya dengan terengah-engah.

“Ji—Jinyoung…” jawabnya, tak sanggup berkomentar apa-apa.

Alice tersenyum tipis dan berujar, “Terima kasih Jinyoung…”

… Akhirnya, perlahan-lahan ia menghilang.

“ARRRRGGHHHH!!! ALI!! ALICE!!!!” Amelyn terjatuh sambil tetap menangis, lalu meraung-raung dan menyesali perbuatannya. Jinyoung hanya bisa menatap makhluk itu dengan tatapan iba, ingin mengembalikan Amelyn seperti semula juga tidak bisa. Akhirnya ia  memilih untuk segera membawa CNU keluar melalui jalan keluar yang ditunjukkan Alice. Ia berjanji, akan mengembalikan Amelyn setelah pertarungan ini selesai. Ia janji.

Karena persahabatan itu sebenarnya tidak begini akhirnya.

Jinyoung mengerti mengenai hal itu. Karena meski sudah jadi bunga, Amelyn sebenarnya adalah sahabat Alice. Dan sama seperti mereka, CNU yang mati disini juga adalah sahabatnya. Sahabat seperjuangannya.

Maka dari itu, dia berani bersumpah.

******

“Ah, dasar sampah…”

Terlihat di sebuah ruangan gelap dan besar, seorang kurcaci dengan mata runcing dan giginya yang tajam tertawa keras melihat pertarungan itu.

“Mereka semua terlalu memiliki hati.”

One has been eliminated. What about the others?

Continue to chapter 3

******

Sehabis baca ini, Kihyukha sendiri langsung mikir, “Cerita apa ini…”

Maafkan atas segala kegajean yang ada disini, sumpah ya gaje banget ini ceritanya-_-v maafkan saya siapapun fansnya CNU, laki kalian harus mati disini… *sound effect*

16 responses to “The 3rd Dimension (2 of ?)

  1. HOAAAAAAAAAAAA CNU hyuuuuuuung!!! TT^TT
    aaaaaaaah temenku pasti jerit baca pas CNU metong :9 #eh #salahemot

  2. JINYOUNG oppaaaa menangkan permainan ini! xD #readermenjiwai

    CNU kasihan, baru awal udah mati😦
    Eh ke mana Baro, Sandeul, dan Gongchan? Mereka baik-baik saja kan?

    Dan Alice perannya hanya disitukah? Mirisnyaaaa😀 #plak!

    Penasaran banget nih. Ini dilanjut ya🙂

    • PASTIIIII!!! /o/

      Iya, makanya ituh u,u
      Mereka jatuh di tempat lain B) baik-baik aja mungkin~ /ditabok’
      Ya… sayangnya perannya hanya disitu… #freepukpukbuatAlice (:)
      Siiip! Ditunggu ajayah😀

  3. I’m baaack~♥
    Benar-benar deh, aku bacanya lusa lalu tapi malah comment sekarang #plak
    Mian ya soalnya ketiduran😛

    CNU mati? Tragis lo nak. Baru chapter dua udah meregang nyawa-_-”

    Alice? Alice In Wonderland? :>
    Sumpah udah berkali-kali dengar namanya tapi gak pernah nonton tuh._. *kampunganbanget
    Ada filmnya kah? o.O #plak

    Jadi penasaran. Chapter tiganya juga udah ada. ㅋㅋ oke aku ke chappie selanjutnya~~😄 #ngilang

  4. seru banget loh author (y)
    kasian cnu nya u.u nnti di akhir diceritain juga tuh pas amleyn nya udah berubah *banyak mau._.v

  5. wah wah wah WAW (?)
    ga pernah ngebayangin deh CNU yg bakal mati duluan*digampar*
    HUWAAA ~~ yang penting Jinyoung tetap Jaya(?) *apaansi*
    itu.. berasa ada di duniaaa mana gituu😮
    keren banget😄
    aku gabisa buat FF fantasy kaya gini*meratapinasib* wkwkwkwk
    KEREN KEREN !!! ^^d

    • aku juga sebenernya gangerencanain=w=
      JINYOUNG!!!! /o/ eh tapi kasian juga eomma cenu u,u
      cobacoba ajaa, aku juga ini cobacoba doang loh.__.
      gomawo readmennya~

  6. SERUUUU DAEBAAAKKKK!!! aku senyam senyum + menghayati pas baca ini thor > 3 < kerenn deh! Kasian shinwoonya ;;__________;; oke, CNU hyung,

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s