Your Secret Admirer (2/3)

yoursecretadmirer2

PART.1| PART.2

One night, 20.00PM

“Apa? Ekspresinya berubah?” 

Terdengar suara Haerin dari seberang telepon. Suaranya yang serak diselingi dengan suara kripik yang sedang digigit dan lagu Gara Gara Go! dari BIGBANG mengalun disertai musik beatnya yang kontras.

Rami mengangguk kecil. Pipinya digembungkan dan tangannya memeluk boneka beruang berwarna putih dengan pita merah di lehernya. Kamarnya bernuansa merah muda dengan hiasan renda putih dan bunga-bunga kecil, serta berlantai kayu berwarna broken white. Menandakan bahwa dia memang perempuan tulen.

“Sepertinya dia menyukai gadis itu. Bisa saja sampai sekarang masih ada perasaan suka. Atau… Cinta? Bersama sejak SMP, sudah pasti rasa cinta itu bisa terbentuk selama tiga tahun, kan, Haerin?” desah Rami, lesu. Benaknya masih dibayangi wajah Gongchan yang tersenyum manis, namun terkesan sedih.

“Tidak apa, Rami-ah. Baro-ssi juga sudah memiliki gadis itu, dan mereka berdua nampak saling mencintai. Jadi kamu bisa tenang mendekati Gongchan. Just change his feelings.” Seru Haerin dengan nada lantang—ciri khas yang selalu ia gunakan dalam berbicara. Lagi-lagi, suara gigitan keripik terdengar. Haerin berbeda 180 derajat dengan Rami. Gadis itu adalah anak team basket sekolah, berambut panjang namun lebih sering dikuncir kuda, dan penggemar snack yang membuat tubuh gemuk. Walau kadang semua hal itu hilang begitu saja kalau dia sudah bersama pacarnya.

“Uhm… Kamu tahu aku bukan Haerin, jadi tidak bisa mendekati laki-laki semudah itu…” gumam Rami. Dia menggigit bibirnya. Haerin yang mendengarnya merasa sangat gemas. Ingin sekali dia mencubit pipi Rami detik itu juga.

“Dengar, saat menyukai orang aku juga tidak se-out going ini. Aku lebih pemalu, aku mengatur cara bicaraku, penampilanku, cara berjalanku, dan kuubah semua tata kelakuanku yang buruk-buruk hanya untuk menampilkan bahwa aku ‘gadis yang pantas untuk dijadikan pacar’ dan membuat dia terkesan. Tapi aku tidak merubah sifatku. Aku tidak merubah jati diriku sendiri, karena aku ingin dia mengetahui bagaimana aslinya diriku dan kemudian, dia bisa menyukaiku apa adanya. Bukankah itu yang disebut kasih sayang?”

Rami kembali mengangguk. Meski tomboy, Haerin sangatlah dewasa dan pengertian. Dia tahu bagaimana harus bersikap, dan dia mengerti dirinya sendiri. Makanya secara otomatis dia juga mengerti orang lain.

“Mengerti, Rami? Kamu harus selalu optimis! Pokoknya kita akan tunjukkan pada Gongchan, kalau seorang Min Rami ternyata adalah gadis yang sangat cantik dan memiliki pesona tersendiri!!!” Mendadak, Haerin berteriak dari seberang sana. Telinga Rami terasa penging mendengarnya, tapi entah kenapa semangat Haerin seperti mengalir pada dirinya.

“Siap, komandan Haerin!” Rami tersenyum lebar, lalu mempererat pelukannya pada bonekanya. Haerin memang selalu bisa mencerahkan keadaan hatinya.

Dan sepanjang malam itu, kedua sahabat ini terus bercerita macam-macam, seakan mereka tidak berharap pagi akan datang.

******

Somewhere, at the same time

“Aaah~~ ramyunnya enak sekali!” Nayeul merenggangkan tubuhnya dengan wajah puas. Baro yang berjalan disampingnya hanya tertawa dan Gongchan hanya tersenyum dengan smirknya—yang tetap menawan.

“Kebanyakan makan, sih! Dasar gendut.” Canda Baro. Tapi Nayeul langsung menatapnya dengan tatapan tajam.

“Siapa yang kau sebut gendut? Aku tidak gendut! Tiap hari aku olahraga supaya aku bisa langsing!! Kamu pasti akan menyesal telah bilang kalau aku gendut!” bentak Nayeul geram. Melihat itu, Baro langsung berlari melindungi dirinya di belakang Gongchan.

“Tolong aku, Channie!”

“Jangan menolong namja menyebalkan itu, Channie!”

“Heh, ribut saja sih kalian. Aku tidak mau disuruh ikut campur dalam masalah kalian, annoying.” Gumam pria itu pelan, lalu berjalan cepat meninggalkan pasangan itu yang sekarang malah sibuk tertawa. Gongchan Shik mereka yang dulu—ternyata masih belum berubah. Judes dan dingin, tapi auranya seperti minta ditemani.

“Gongchanie~ aku tahu kau sedang merajuk untuk cari perhatian. Iya kan~?” Baro merangkul Gongchan dengan akrab, lalu memasang tampang jahilnya dihiasi sebuah cengiran lebar—membuat Gongchan refleks memasang ekspresi jengkel.

“Apa yang kau bicarakan? Menjauh sana! Menjijikkan!”

“Aaah Gongchanie kau terlihat imut kalau seperti itu~”

Yah! Cha Sunwoo!! Menjauh dariku atau akan kubuat keluargamu bertanya bagaimana cara kau mati!!!”

“Auh takutnya~ Gong Chansik yang imut mau membunuhku dengan tatapannya yang menggemaskan~”

“Kau… Cari mati, ya?”

Nayeul tertawa melihat mereka. Rasanya rindu sekali mengingat saat-saat dulu, saat mereka masih berusia lima belas tahun dan masih bebas kemanapun kaki mereka membawa. Dimana Gongchan dan Baro masih berkejaran di sebuah lapangan hijau memperebutkan bola putih hitam, beserta dirinya yang selalu membawakan minuman dan mensupport mereka.

Sekarang, semuanya sudah berubah seiring waktu membuat tubuh mereka berubah. Lebih tinggi, dan lebih berat. Baro masih seperti anak kecil, tapi dia sudah mempunyai mimpi sendiri dan menatap lurus ke depan untuk menjadi pemain sepakbola internasional suatu saat nanti. Tubuh Gongchan menjulang menjadi sangat tinggi, wajahnya jadi lebih tegas namun sifatnya yang dingin itu memang tidak berubah. Sedangkan Nayeul, dia tumbuh menjadi seorang gadis cantik berambut panjang yang memutuskan untuk masuk ke sekolah mode demi mengejar impiannya. Mereka semua punya mimpi masing-masing.

Baro kabur dari kejaran Gongchan, mendahului mereka berdua dengan teriakan-teriakannya yang riang. Nayeul dan Gongchan hanya tersenyum melihat kelakuan namja itu. Childish—sama seperti dulu.

“… Apa kabar?” bisik Gongchan. Pelan—dan tiba-tiba. Nayeul hanya tertawa kecil mendengar pertanyaannya.

“Baik?” jawabnya, diselingi tawanya yang renyah. Kaget juga mendengar Gongchan tiba-tiba bertanya begitu padanya. Padahal mereka daritadi sudah jalan bersama—dengan Baro tentunya—lebih dari delapan jam.

“Itu satu hal yang ingin kutanyakan setelah setahun tidak melihatmu.” Jelas Gongchan, mengetahui bahwa Nayeul merasa agak bingung dengan pertanyaannya. Gadis berambut panjang itu kembali mengulas senyuman di bibir merahnya.

“Aku baik, kok. Temanku banyak. Kan sudah kubilang berkali-kali kalau aku pandai berteman?” ujarnya, dengan nada bangga. Gongchan hanya terkekeh geli mendengarnya.

“Menurutmu begitu? Jangan berlebihan menilai diri sendiri.” Gongchan menatap ke depan dengan tatapan hangat, masih ditemani senyuman dan tawanya yang lebar.

“Memang begitu kan kenyataannya!”

“Pft. Bisa saja kau bicara.”

Mereka berdua terus mengobrol, merespon satu sama lain dengan senyuman hangat. Sedangkan Baro hanya memandang mereka berdua sedaritadi. Kesal, tapi mengingat inilah kali pertama Gongchan bisa tersenyum selebar ini sejak masuk SMU, ia rasa sebaiknya dibiarkan dulu saja sebentar.

Waktu memang bergulir, namun kadang perasaan yang terlalu dalam tidak berhasil ia ubah.

******

The next day

“Baro-ssi, mau ikut makan bersama?” Rami tersenyum ramah sembari menawarkan kotak bekalnya pada Baro. Mata pria itu dalam sekejap langsung berkilauan.

“Boleh??” ia bertanya dengan nada riang. Namun, ia langsung menyadari sesuatu. Diliriknya Gongchan yang sedang duduk sambil membaca buku, tidak jauh darinya. “Kamu mau aku juga mengajak dia?”

“Uhm… Kalau Baro-ssi mau…” Wajah Rami memerah. Ia menggigit bibir bawahnya, bingung harus bicara apa lagi. Baro tersenyum melihat kelakuan gadis ini. Sebentar-sebentar merona, sebentar-sebentar malu. Nampak sangat manis. Sudah terlihat jelas dari matanya kalau sebenarnya yang Rami ingin ajak adalah Gongchan—bukan dirinya.

“Aaah jadi kamu mau aku mengajak Gongchanie…” gumamnya pelan. Sebuah ide jahil terlintas di pikirannya. Mengingat kejadian kemarin saat ia membiarkan pemuda itu mengobrol dengan NayeulNYA, ia rasa tidak buruk untuk menjahili Gongchan. Ditatapnya kembali Rami yang masih malu-malu. “Ayo, kita makan bersama! Kau mengajakku, kan? Kau baik sekali, Rami-ah! Akan kumakan bekal UNTUKKU dengan lahap!” serunya, memberikan penekanan di kata-kata “Untukku”—membuat Gongchan menoleh ke arahnya.

“Eh… Anu… Aku…” Rami hanya bisa meringis pelan, melihat Gongchan menatap ke arah mereka berdua dengan pandangan dingin—tapi tersirat sedikit rasa penasaran di dalamnya.

“Rami-ah, makananmu selalu enak! Aku bingung, kenapa ya ada orang yang sampai tidak berterima kasih karena diberikan bekal selezat ini secara cuma-cuma?” Baro mengencangkan suaranya, sampai suaranya terdengar satu kelas. Ia terkekeh geli, sementara Haerin—yang sedaritadi hanya memperhatikan—mulai mengerti apa yang sedang dilakukan Baro.

Ia memicingkan matanya ke arah Gongchan yang masih melirik ke arah mereka, lalu berniat untuk ikut.

“Iya ya~ sudah begitu masih bisa protes macam-macam! Kalau aku jadi orang itu sih, Rami bukan cuma kuminta jadi pacar, pasti langsung kujadikan istri!” Haerin melahap sebuah telur gulung. Kata-katanya membuat Baro tersedak telur saking tepatnya.

“Ah, Baro-ssiGwenchana?” Dengan sigap, Rami memberikan Baro air minum dan membantu mengusap punggungnya.

Aigoo~ perhatian sekali~”

BRAK!

Baro, Haerin, Rami, serta beberapa teman sekelas terkejut, lalu menghentikan kegiatan mereka. Gongchan sudah berdiri dan memandang mereka dengan tatapan tajam.

“Makan saja berisik sekali. Kalian tidak tahu tata cara makan, ya?” sindirnya dengan nada jengkel, lalu berjalan ke luar kelas dengan cepat.

“Ah… Haerin siih!” tuduh Rami. Sedangkan yang dituduh hanya mengangkat bahunya. Karena cemas, Rami segera berlari mengejar Gongchan, berniat minta maaf.

“Tsk. Masih ada perasaan suka saja masih berani cemburu.” Gerutu Baro, lalu kembali melahap bekal Rami tanpa peduli.

******

“Gongchan-ssi!” seru Rami. Ia berlari cepat mengejar Gongchan, yang tentu saja memiliki langkah yang lebih besar darinya. Pemuda itu hanya terus berjalan tanpa tentu arah. Tidak tahu apa yang membakar hatinya sampai dia bisa jengkel dan berjalan keluar kelas.

“Gongchan-ssi…!!”

Rami berhasil menyusul Gongchan, menarik kecil ujung seragam pemuda itu. Ia mengatur nafasnya sebentar.

“Ma—maafkan aku…”

“… Maaf untuk apa?” Gongchan membalikkan tubuh tingginya, memandang Rami yang tentu saja lebih kecil darinya.

“Ka—karena tadi berisik di kelas…”

“… Cuma itu?” ujarnya. Mendadak dia merasa ada yang aneh. Memang cuma itu, kan? Kenapa dia bertanya seperti itu? Dia tidak mengerti perasaannya saat ini. Ada sedikit rasa jengkel. Biasanya saat teman-temannya berisik, ia hanya diam—bukan karena malas mengurusi mereka, tapi karena memang dia tidak peduli. Entah kenapa sekarang hatinya begitu terusik, tidak tahan untuk tidak marah.

“… Ah… Kalau soal bekal, sebenarnya aku… Membuat untuk kamu…” Rami mengalihkan pandangannya. Ia merasa sangat malu, menyadari bahwa Gongchan sedaritadi menatapnya lekat-lekat walaupun pemuda itu tak sadar. Buru-buru ia menambahkan, “… Dan… Dan… Juga untuk Baro serta Haerin…”

… Baro?

“Kau mendadak sudah memanggil dia tanpa –ssi?”

“Eh? Anu, maaf… Baro-ssi…”

“Tsk. Lain kali perhatikan tata cara bicaramu.” Decak Gongchan kesal. Kenapa kalau melihat gadis di hadapannya, dia merasa sangat kesal, sih? Rasanya ingin sekali memarahi gadis ini tanpa ampun. Dia gampang sekali menjadi sensi, padahal biasanya biasa saja.

“Ng… Bekalnya sepertinya sudah habis oleh Baro-ssi dan Haerin sekarang ini… Jadi kalau kamu mau, kamu boleh makan bekalku!” Rami sedikit meninggikan suaranya, memberanikan diri untuk membalas tatapan mata Gongchan. Akhirnya dia bisa bicara dengan lancar di hadapan Gongchan—meski hanya sekali.

“… Tidak. Butuh.” Jawab pemuda itu, lugas. Ia menatap Rami dengan dingin, lalu berbalik dan berjalan pergi. Sedangkan Rami masih terdiam dibuatnya.

“… Ah… Ternyata memang bekalku masih belum enak… Setidaknya, sudah tidak bau vanilla lagi…” gumam gadis itu pelan. Tersirat rasa kecewa di dalam dirinya, tetapi ia merasa termotivasi untuk membuat yang lebih enak lagi.

Sementara Gongchan, ia masih berjalan cepat—entah kemana pemuda itu ingin pergi. Isi otaknya langsung blank mendadak, ingin sekali kalau bisa ia memukul tembok. Ia menghentikan langkahnya, mengacak-acak rambutnya yang berwarna cokelat gelap. “Aish… Dasar gadis bodoh. Kalau aku makan bekalmu, bagaimana kau makan nanti?” desahnya pelan. Namun, dia kembali tersadar dengan ucapannya. “Ah… Kenapa aku jadi ingin memakan bekalnya? Kenapa aku malah peduli padanya, sih? Aish…”

Ia berjalan ke atap sekolah dengan gondok. Sifatnya yang dingin itu bisa-bisa hancur kalau gadis itu terlalu lama di hidupnya!

******

In The Evening

Ting nong!

“Iya, sebentar..”

Nayeul membuka pintu rumahnya, menemukan kekasihnya yang sedang tersenyum lebar di depan sana. Melihat cengiran pemuda itu—Baro, ia juga ikut tersenyum.

“Masuk, Sunwoo~” ujarnya riang, lalu mempersilakan namja itu masuk ke dalam. “Aku sedang masak. Tunggu sebentar, ya?”

“Memang kau bisa masak?” Wajah Nayeul berubah masam mendengar perkataan Baro, membuat pemuda itu langsung terkekeh geli melihat kekasihnya merengut. “Bercanda. Tumben, masak apa?”

“Yang gampang-gampang saja, kok. Kamu sudah makan?” Nayeul mengantar Baro ke ruang tamu, lalu menyalakan TV. Appa dan eomma, serta kakak laki-laki Nayeul belum pulang, makanya dia bebas bereksperimen di dapur.

Baro mengambil ponsel Nayeul, membuka-buka games yang ada disana. “Masih kenyang sih, tadi Rami membuat bekal untuk Gongchan, tapi semuanya aku dan temannya yang makan.”

Nayeul menelan ludahnya, lalu mengangguk tanpa jawaban. Ada sedikit rasa aneh terbesit di pikirannya. “Ooh… Begitu.” Ia bergumam pelan, lalu kembali berjalan ke dapur.

Baro masih sibuk menatap ponsel Nayeul. Sebenarnya tadi ia sengaja bicara seperti itu. Meski kekanakan, sebenarnya ia orang yang peka. Ia tahu bagaimana perasaan orang-orang terdekatnya. Tangannya bergerak cepat keluar dari aplikasi games, membuka folder foto, dan menggerakkan sampai foto paling bawah.

Foto itu, masih ada.

Foto yang membuat dia dan Gongchan harus saling mengabaikan satu sama lain selama hampir setahun. Foto yang ia potret secara tidak sengaja, tapi berhasil membuat hatinya hancur.

“Ah… Karena kamu sudah makan, bagaimana makanan sebanyak ini, ya?” Nayeul menatap beberapa piring makanan yang sudah ia persiapkan. Tangannya kembali sibuk dengan spatula. “Orang tuaku pasti sudah makan diluar. Oppa juga pasti sudah makan. Apa kuundang Gongchanie saja, ya? M—Maksudku, aku mau mengerjai dia, soalnya ada beberapa makanan yang—”

Grep.

“… Sunwoo?”

Baro melingkarkan tangannya di bahu gadis itu, mengecup kepala Nayeul sekilas, dan kembali meletakkan dagunya di puncak kepalanya. Dia berbisik pelan dengan suara rendah, “Tidak. Tidak boleh mengundang Gongchan, atau siapapun. Karena aku hanya ingin berduaan saja.”

Nayeul membeku, tangannya lemas sehingga spatula yang ia genggam jatuh ke atas meja bar. Kadang-kadang kekasihnya suka seperti ini. Dan Nayeul paling lemah kalau Baro sudah seperti ini—menurunkan nada suaranya dan bersikap dewasa.

Dan biasanya dia begini kalau ada masalah serius, dimana pria itu harus menempatkan dirinya di tempat seorang pemuda yang bersikap dewasa—bukan Cha Sunwoo yang liar dan suka melompat-lompat seperti orang gila kemanapun dia suka. Bukan. Nayeul tahu bagaimana namjachingunya. Dan dia tahu kalau kali ini, dia juga harus ikut serius.

“… Ada apa?” tanya gadis itu, lirih. Tangannya masih tidak bergerak, seakan menempel erat di samping tubuhnya.

Baro sedikit menggerakkan kepalanya, lalu merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Jari-jarinya memainkan rambut cokelat Nayeul dengan lembut, memelintir ringan rambut-rambut yang seperti benang itu. “Tidak ada apa-apa.” Bisiknya kembali.

Yang ia perlukan hanya kepercayaan, bahwa hati Nayeul memang sepenuhnya miliknya—meski itu belum bisa ia yakini sekarang.

******

The next day

Rami berlari-lari kecil menyusuri barisan pepohonan di sisi kanan dan kirinya. Pemandangan yang biasa ia lihat setiap dia pergi menuju gedung SMA Samyang. Tapi hari ini ada yang berbeda. Bukan, bukan di pemandangan, tapi di barang yang ia bawa.

Ia membawa dua kotak bekal. Yang satu berukuran cukup besar, dan yang satu berukuran sedang. Tercium bau masakan lezat dari sana, dan setiap orang yang ia lewati pasti menatap ke kotak bekalnya dengan tatapan penasaran. Ia membuat banyak untuk Baro dan Haerin yang memang tukang makan, … Serta untuk Gongchan.

Dari tadi malam, dia mencoba membuat berbagai masakan. Dari yang selalu ia buat sampai yang benar-benar tidak ia ketahui sebelumnya. Padahal eommanya sudah bilang berulang kali kalau semua masakan yang ia buat sudah setingkat koki profesional, begitu juga dengan Haerin di telepon. Tapi ia tetap tidak mau dengar. Ia ingin membuat makanan yang terbaik—makanan yang sangat enak, sampai Gongchan bersedia memakannya dan akan bilang “enak” sembari tersenyum lebar.

“Sudah aku bilang, si Gong Chansik itu lidahnya sudah mati gara-gara terlalu banyak bicara dingin! Menurutnya semua makanan itu rasanya seperti bangkai meski orang lain bilang itu makanan terenak yang pernah dibuat di muka bumi!”

Rami hanya tersenyum geli mengingat ucapan Haerin semalam. Gara-gara kalimat itu juga, yang membuatnya terus berusaha demi menghidupkan lagi kepekaan rasa di lidah Gongchan. Ia sudah tidak sabar untuk memberikan makanan itu dan melihat Gongchan memakannya. Semoga saja hasil hari ini tidak mengecewakan.

Baru saja ia sampai di depan gerbang, hatinya sudah kaget karena melihat hal yang tidak terduga. Gongchan dan Han Nayeul—entah mereka sedang bicara apa. Yang jelas Nayeul menawarkan sekotak bekal pada Gongchan, dan Rami dapat mendengar samar perkataannya.

“Ini untukmu. Aku mencoba memasak. Mungkin tidak seenak yang dibuat teman sekelasmu yang bernama Min Rami itu, tapi aku berusaha yang terbaik, loh!”

Rami hanya bisa terdiam—membeku. Rasanya darahnya mengalir terbalik. Itu kata-kata yang selalu berputar di kepalanya, dan ingin sekali ia katakan pada Gongchan. Dan respon Gongchan setelah itu membuat dia lemas seketika.

“Terima kasih, kamu baik juga meluangkan waktu untuk membuat ini.” Gongchan mengambil sebuah telur gulung dan memakannya. Senyumannya yang lebar muncul dan menghiasi wajahnya setelah ia sukses menelan telur itu. Wajahnya kelihatan sangat bahagia.

Setelah itu, Nayeul menawarkan beberapa makanan lagi dan akhirnya pergi. Gongchan yang berwajah puas tak sengaja bertemu pandang dengan Rami—yang sedang membawa dua buah kotak bekal yang lumayan besar jika dibandingkan dengan tubuhnya yang mungil.

“… Ah, anu…” Rami memutar bola matanya, meringis pelan. “Aku… Membawa bekal… Untuk… Kamu dan… Yang lain…”

“Ooh…” Gongchan hanya memandangnya sekilas, lalu berjalan pergi. “Tidak perlu.”

Bulir-bulir air mata Rami mendadak mengalir di pipi merah mudanya. Ia tidak tahu kenapa ia bisa menangis. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa begitu sesak. Ia tidak tahu kenapa hatinya terasa begitu sakit. Ia tidak tahu kenapa ia merasa kesal karena Gongchan mengabaikannya dan meninggalkannya tanpa berbalik sedikitpun.

Ia tidak tahu.

… Tiba-tiba saja, sesosok tangan besar menutupi pandangan matanya yang sudah basah dari belakang.

“Jangan menangis…” bisik sang pemilik tangan besar itu. Baro.

“Uh…” desah Rami pelan. Air matanya malah keluar semakin deras, sampai ia tak mampu menahannya lagi. Ia menutupi sebagian wajahnya, berusaha menyeka air matanya yang sulit dihentikan. Boks berisi bekal itu jatuh dari tangannya yang melemas. Ia merasa begitu sakit.

Dan Baro hanya terus berdiri di belakang gadis itu, menutupi pandangannya, seraya menunggu tangisan pilu Rami berhenti.

******

“… Serius?”

Haerin menganga lebar setelah Baro menceritakan semua yang terjadi di depan gerbang itu. Keduanya mendapat tugas piket bersama sepulang sekolah. Baro hanya memandang kosong ke luar jendela, lalu mengangguk kecil.

“Pantas saja…” Haerin menatap tatapan kosong pemuda di hadapannya. Pantas saja tadi Rami hanya diam dan memberikan makanannya dengan ogah-ogahan. Baro si raja makan hanya makan sedikit, jadi dialah dan beberapa teman yang harus menghabiskannya.

Haerin tidak berani berkomentar lagi, berhubung gadis bernama Han Nayeul itu juga mempunyai hubungan khusus dengan Baro. Kekasih. Pacar. Atau apalah itu. Dan gadis itu masih belum dapat melupakan cintanya yang lama, sama seperti Gongchan yang masih setengah bimbang. Tapi ia merasa kasihan pada Baro. Kalau begini, sama saja Baro yang akan terluka.

“Baro…” gumam Haerin pelan. Tangannya bergerak menepuk pundak pemuda itu. “Mungkin… Aku tidak bisa diandalkan. Tapi kau bisa cerita apa saja. Aku akan membantumu sebisa mungkin, dan juga Rami.”

Baro hanya tersenyum sekilas, lalu mengangguk.

“… Terima kasih sudah menjaga Rami-ku. Dia baru pertama kali jatuh cinta. Dia takut dengan anak lelaki, karena dulu teman-teman TKnya suka menarik rambutnya yang dikuncir dua. Aku selalu berusaha menjaganya, sampai sekarang. Dia sudah mulai bisa mengobrol dengan banyak lelaki, semua karena kau mencairkan suasana untuk membuatnya nyaman.”

“… Tidak.” Baro akhirnya membalas tatapan Haerin. Ia sedikit membetulkan posisinya. “Itu berasal dari gadis itu sendiri, kok. Dia yang mau, maka aku membantunya. Itu semua karena perasaannya yang kuat pada Gongchan.”

Ya, Gongchan. Haerin masih sebal kalau ada orang yang menyebut namanya. Namja tak tahu diuntung. Kemarin dia sudah cemburu karena dipanas-panasi, namun sekarang dia malah meninggalkan Rami begitu saja. Untung Haerin tidak bersama Rami tadi, kalau iya, namja itu sudah ia ceburkan ke comberan terdekat.

“Sekarang, Rami dimana?”

“Tadi kulihat dia ada di taman sekolah. Menyendiri.”

Gomawo. Duluan, ya.” Haerin membereskan barang-barangnya ke dalam tas, lalu melangkah ke arah pintu.

“Ah, Haerin!”

“Ya?” Haerin membalikkan badannya, memberikan respon berupa senyuman pada Baro. Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan sedikit grogi, lalu akhirnya kembali menatap lekat mata cokelat milik Haerin.

“… Terima kasih… Sudah mau menghiburku.” Gumam pria itu, pelan dan terdengar aneh—bagi Haerin.

“Ahahah, kenapa kau jadi grogi begitu? Tidak biasanya. Yasudah, sama-sama. Lain kali kalau ada masalah ceritakan saja, arra? Kau juga cepat pulang ya, sudah sore.” Haerin tertawa kecil, lalu menutup pintu perlahan-lahan. Baro masih memperhatikan sosok itu, sampai suara langkahnya benar-benar menghilang. Setelah itu, ia kembali memicingkan matanya ke arah jendela, menatap kosong ke arah langit yang menghampar biru di atasnya. Mulutnya berdecak pelan.

“… Sejauh mana aku harus terus berharap?”

Haerin menutup pintu, tapi manik matanya masih sulit berpindah dari pintu kelasnya itu. Ia masih memikirkan sosok yang menyiratkan suatu kecemasan di dalam sana, yang tak lain adalah Baro. Sangat tumben pemuda itu bisa menunjukkan wajah sedihnya, bahkan sampai tidak melompat-lompat atau makan banyak seharian penuh ini. Dia hanya diam di tempatnya, menatap ke atas langit yang tidak menampakkan apapun selain warna biru dan putih.

Tiba-tiba saja, seperti ada yang datang secara perlahan. Dipalingkan pandangannya, dan matanya menangkap keberadaan Gongchan yang sedang berjalan ke arahnya.

“Kau masih di sekolah jam segini?” tanya pemuda itu, dengan nada ketus seperti biasa.

“Kau sendiri?” Balas Haerin. Ia tersenyum kecil. Rupanya pemuda di hadapannya ini tidak pernah berubah—dari tatapan maupun nada suara. Sama-sama dingin dan ketus. Tapi lain halnya kalau ada gadis yang tak pernah ia temui bernama Han Nayeul, suaranya yang dingin itu tiba-tiba menjadi rendah dan lembut. Membayangkannya saja Haerin sudah malas.

“Aku tidak suka kalau ada orang yang balik bertanya seperti itu. Kau sedang apa?”

“Habis piket membereskan buku-buku. Aku diam di sekolah karena ada urusan, bukan seperti kamu yang sedaritadi mondar-mandir tidak jelas. Lagipula tidak kusangka kau bisa bertanya seolah kau peduli.” Haerin berkata sama ketusnya, membuat Gongchan memasang ekspresi tidak suka. Tapi Haerin tidak peduli.

“Baro dimana?”

“Oh? Kupikir kau sudah tidak peduli dengan dia.” Ujar Haerin, ditambah seringaian yang terulas di bibirnya. “Ada dua hati yang hancur. Awalnya kupikir hatimu lembut, tapi ternyata sama saja dengan penampakannya.”

“Ap—”

Haerin langsung berjalan melewati Gongchan tanpa menunggu balasan pemuda itu, setelah tangannya bergerak menyikut bahu Gongchan. Dia benar-benar sudah keki setengah mati. Mau apa sih pemuda itu? Bisa-bisa saja Rami menyukai orang seperti itu. Kalau Haerin sampai bisa menyukainya, dia akan mandi kembang tujuh rupa. Amit-amit.

******

Rami memandang jari-jari kakinya yang mungil. Menggerakkannya sedikit-sedikit, perlahan-lahan, tanpa alasan. Dia sedang tidak ada kerjaan—tepatnya, menganggurkan diri. Kalau biasanya jam-jam segini dia sudah berdiri di depan meja bar di dapurnya, sekarang dia tidak ingin melakukan hal yang sia-sia itu. Percuma saja, orang yang ingin dia berikan sudah memiliki orang lain yang akan memberinya sesuatu yang lebih baik.

Bahkan, bisa saja pemuda bernama Gong Chansik itu memang tidak pernah dan memang tidak butuh bekal darinya.

Dipikir-pikir lagi, selama ini Gongchan tidak pernah meminta namun Rami selalu dan selalu membuatkannya, dan akhirnya semua makanan itu habis begitu saja dimakan Haerin dan Baro.

“Tidak butuh.”

… Sepertinya, aku malah merepotkan dia…

Rami mengambil buku tulisnya, menggambar berbagai macam benda tidak penting diatas kertas putih itu. Akan lebih menyenangkan kalau semua perasaan pedih di hatinya bisa tersalurkan ke dalam setiap garis yang ia ciptakan, tapi ternyata tidak begitu. Perasaannya bicara lain.

“… Ini cinta yang singkat, tapi kenapa sulit dilupakan?” desahnya pelan. Ia meletakkan pensilnya dan menatap lekat-lekat gambar yang ia buat. Sesosok pria, sedang membelakanginya, dengan rambut lumayan panjang yang berantakan. Persis seperti tempo hari. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya menggambar ‘orang itu’, yang selalu dan selalu saja muncul di benaknya tanpa alasan yang jelas.

“… Kenapa ya?”

“Kamu masih menyukainya?”

Sontak, Rami terkejut dan memandang ke belakangnya—dimana asal suara tadi terdengar. Haerin tersenyum menatap mata sahabatnya—dimana ada sebuah kesedihan yang terbaca dari iris mata cokelatnya.

“Aaah hari ini semua orang kelihatan sedih, bunganya jadi layu.” Keluh Haerin, lalu duduk di atas kasur Rami.

“Bunga?”

“Iya, bunga. Setiap orang punya bunga dan warnanya sendiri. Dan setiap orang juga melambangkan satu sifat yang benar-benar dominan di dirinya.” Jelas Haerin. Tangannya bergerak mengelus kepala Rami dengan lembut. “Dan sesuatu yang melambangkan Rami adalah kehangatan. Semangatmu selalu membara seperti api. Rami mencurahkan setiap kehangatan yang kau miliki ke dalam setiap masakan yang kau buat, sehingga yang memakannya dapat tersenyum bahagia.”

Rami baru saja ingin tersenyum, tapi kenangan tempo hari masih saja membayangi benaknya. “… Gongchan tidak pernah tersenyum seperti itu kalau memakan makananku…” gumamnya gusar. Haerin kembali mengelus puncak kepala gadis itu.

“Tersenyum dan bahagia itu tidak selalu nampak di wajah. Ada saja orang yang tidak bisa menampakannya melalui ekspresi, seperti Gongchan misalnya.” Mata Haerin melirik ke arah gambar Rami di atas meja. “Dan warna yang mewakili Rami adalah merah muda yang lembut. Merah muda bukan warna terkuat, tapi juga bukan warna terlemah. Bukankah itu sama seperti Rami?”

Rami mulai mengulum senyumnya. Dipeluknya sahabat kesayangannya, menangis di dalam rengkuhan pelukan itu. “Haerin-ah, aku sayang kamu.”

“Aku juga. Rami-ah, kau tentu tahu apa yang tersirat jika kau melihat Gongchan. Dingin seperti es, sudah melekat dalam-dalam pada diri orang itu. Apa yang bisa meluluhkan es?”

“… Api? Kehangatan?”

“Nah, kau tahu itu. Meski sebenarnya aku keki, tapi semua pilihan ada padamu. Kau mau terus mengejarnya… Atau menyerah?”

******

Gongchan melangkahkan kakinya ke luar gerbang sekolah sendirian. Mendadak, hpnya berbunyi. Han Nayeul, nama itu terpampang di layar ponselnya, membuatnya cepat-cepat mengangkatnya.

Yoboseo?”

Yoboseo, Gongchanie~~ aku sedang memasak. Apa kau mau datang mencicipinya?”

“… Bole—ah, tunggu. Kau sudah mengajak Baro?”

“Aku? Ah, Sunwoo sudah kutelepon tapi tidak mau datang, katanya sedang sibuk. Lagipula ada yang mau kukatakan padamu, Gongchanie. Mau datang, kan?”

“… Baiklah.”

“Oke! Kutunggu kedatanganmu!”

Tut.

Gongchan masih menatap layar ponselnya dengan tatapan khawatir. Ia merasa sangat bimbang.

******

“Sunwoo, kau mau kemana?” seru eomma Baro. Sedangkan putranya itu hanya melirik dari ruang depan sembari mengikat tali sepatunya.

“Sebentar saja.” Ujarnya singkat, lalu segera berjalan keluar. Ditatapnya sebentar langit malam yang mendung, lalu membulatkan tekadnya. Meski tadi ia bilang pada Nayeul tidak datang, tapi tiba-tiba saja kaki dan pikirannya sepakat untuk pergi.

Rumah Nayeul tidak jauh dari rumahnya, hanya beberapa blok saja. Jadi meski dia pergi jam segini pun pulangnya tidak akan sulit. Tungkai kakinya terus melangkah, dan pandangannya lurus—meski hampa. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan disana. Meminta maaf? Mengungkapkan bahwa dirinya sakit hati? Tidak begitu.

Beberapa menit ia berjalan, sekarang dia sudah mencapai rumah gadis itu. Baru saja ia mau menekan bel, terdengar suara yang menghentikan seluruh sendinya.

“Gongchanie, selamat datang.”

… Mau apa Gongchan disini?

“Kau mau aku langsung makan saja?”

“… Tidak.” Terdengar suara Nayeul yang gusar. “Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Tadinya kupikir aku bisa mengatakannya setelah makan, tapi hasil masakanku tidak sebaik Min Rami… Jadi sepertinya… Aku harus mengatakannya disini saja.”

“Apa itu?”

Deg.

“Aku… Aku… Sepertinya… Masih… Menyayangimu…”

… Hening.

“… Aku akan bicara pada Sunwoo, besok…”

… Tidak terdengar suara apa-apa lagi setelah itu. Sebenarnya mungkin Gongchan membalas kata-kata Nayeul, tapi organ-organ Baro serasa tidak berfungsi lagi. Tidak. Dia tidak mau mendengar apapun yang dikatakan mereka. Tidak mau lagi.

Dengan linglung, kakinya menyeretnya untuk menjauh—sejauh mungkin. Tatapannya masih kosong. Dia tidak ingin pulang, tapi juga tidak ingin tetap disana. Dia sudah menduga akan begini, tapi tetap saja terasa sangat sakit. Dia sangat mencintai Nayeul, dan dulu sahabatnya sudah mengorbankan perasaan sukanya untuk memberikan Nayeul padanya. Tapi sekarang jadi terbalik. Dia yang harus berkorban.

“… Baro?” Samar-samar, terdengar suara lagi. Suara lembut yang dibalut derasnya suara hujan itu membuatnya tersadar. Jung Haerin, berdiri di hadapannya dengan payung yang melindungi dirinya. Tatapannya cemas. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.

“Hae…” Kakinya terseret, lalu jatuh berlutut. Air matanya mengalir entah kenapa. Sebenarnya sudah lama ia ingin menangis—tapi harapan akan cinta yang akan kembali itu membuatnya terus menahan bulir kristal itu.

Tanpa membalas ucapan Baro, Haerin sudah berlutut, memayungi pemuda itu. “Kamu akan kebasahan.” Ujarnya. Ia menatap Baro dengan tatapan teduhnya, memperhatikan tiap bulir-bulir air mata yang jatuh ke tanah yang basah. Begitu banyak air mata yang terbuang sia-sia.

“Aku… Harus bagaimana…?” tanya pemuda itu, menyeka air matanya meski mustahil bisa berhenti. Terus terisak dan terisak…

Seiring ratusan kenangan itu terus mengalir dan bergulir.

Dimana persahabatan tumbuh menjadi rasa yang lain. Dimana harus ada yang berkorban, antara membuang atau terus menyimpan perasaan dalam-dalam.

Dan dia serta Gongchan, bergantian mendapatkan perasaan itu. Semuanya melebur dalam ingatan dan membuat mereka diharuskan memilih antara kata-kata “cinta” atau “persahabatan”.

******

The Next Day

Gongchan melangkah gontai ke dalam gedung sekolah. Kejadian cepat yang terjadi dalam semalam itu terus menghantui dirinya dan menambah kekhawatirannya. Bimbang, ragu, namun bahagia. Ia berusaha mengelak tentang rasa bahagia itu, walaupun sebenarnya hal itu menempel pada benaknya.

“Aku.. Baru sadar kalau aku masih menyayangimu… Maksudku—Sunwoo sangat baik dan aku juga menyayanginya, tapi—kamu tahu maksudku. Cinta lama tak bisa terlalu cepat dilupakan…”

“… Memang susah dilupakan… Makanya disukai maupun menyukai itu merepotkan…” Gongchan memejamkan matanya, menelan ludah dengan pilu. Terjadi lagi.

Flashback

“Aku… Tidak…” Gongchan menatap ke bawah. Pandangan matanya enggan menatap gadis di hadapannya itu secara langsung. Dia tidak ingin lagi melukai banyak pihak—dimana sampai Haerin saja menyindirnya.

“Gongchanie…”

Gadis itu menyentuh pipi Gongchan. Wajahnya bergerak mendekat, dan bibirnya… Menyentuh bibir Gongchan.

Jeongmal Mianhae, aku terlalu… Jujur…” desah gadis itu pelan. “Tapi aku merindukan… Kecupanmu yang hangat… Saat kau melakukannya duluan, dan kenapa saat ini aku baru menyadarinya… Kalau aku merindukan saat itu…”

Gongchan hanya diam. Bibir maupun tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Otaknya mendadak kosong, mengingat saat-saat dulu, ketika mereka juga melakukannya namun dia sebagai pihak yang melakukan itu duluan. Membuat sakit hati Baro. Benar, kesalahan bodoh itu terjadi lagi.

“Aku… Tidak…” Sebelum Gongchan bisa mengatakannya, Nayeul sudah mengunci gerakan bibirnya dengan jari telunjuknya.

“Kamu bisa memikirkannya lagi.”

Flashback end

Gongchan menyesali perbuatannya kemarin malam. Apa yang dia lakukan? Mengecup kekasih sahabatnya sendiri namanya makan teman, dan dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.

Sialan. Sialan. Sialan.

Baru saja ia membuka loker sepatu, jantungnya mendapat kejutan sekilas. Kotak bekal—seperti dulu—terletak rapi disana. Bedanya, sekarang ada nama pengirimnya yang tertera di atas kertas kecil berwarna merah muda.

Gongchan-ssi, maafkan aku kalau seenaknya dan bekalku malah mengganggu dirimu. Hanya ini yang bisa kuperbuat. Semoga enak! -Min Rami

Gongchan jadi teringat tokoh polos dan lamban di kisahnya sendiri. Min Rami. Gadis manis itu masih belum menyerah juga. Sejenak dia melupakan gadis itu karena masalahnya yang rumit, tapi mengingat dia yang masih berusaha, entah kenapa kepalanya menjadi lebih ringan.

Diambilnya kotak itu, lalu membukanya. Makanan yang ada di dalamnya tidak seperti biasa. Sekumpulan makanan yang dibentuk-bentuk seperti tulisan “Fighting!”, membuat seulas senyuman menghiasi wajah pemuda itu.

“Dasar bodoh.” Dilahapnya salah satu telur gulung yang ada disana, dan menelannya setelah mengunyahnya beberapa kali. “… Kalau boleh jujur… Ini memang paling enak. Lebih dari masakan Nayeul. Dasar gadis polos.”

Namja itu tersenyum hangat, menikmati setiap rasa yang dicecap lidahnya. Tanpa sepengetahuan gadis itupun, ini sudah cukup untuk membuat seorang Gong Chansik tersenyum lebar.

“Sedang senang, ya?”

Gongchan melirik sekilas ke arah sumber suara di belakangnya. Baro berjalan ke arahnya lalu menyomot sepotong sosis dengan satu gerakan cepat. “Bekal Rami memang membuat bahagia kembali, ya? Dasar orang susah berekspresi, kau terlalu menjaga image. Memalukan.”

“Berisik.” Balas Gongchan, sambil terus melahap bekalnya. Baro hanya tersenyum kecil melihat namja ini bertingkah.

“Oh ya, mulai sekarang aku akan menyuekimu.” Ucap Baro, membuat Gongchan mengerutkan dahi.

“Nggak usah bilang-bilang.”

“Tapi aku mau menyuekimu.”

“Ya jangan bilang-bilang!”

“Tapi aku harus.”

Waeyo? Kau gila? Kalau memang mau menyueki cueki saja sana, tidak usah bilang-bilang dulu. Dasar orang aneh.” Gerutu Gongchan jengkel. Baro hanya menatapnya dengan alis terangkat.

“Nanti kalau kejadian yang dulu terulang lagi, bagaimana?” tanya Baro, membuat kegiatan makan Gongchan terhenti. “Aku dan kamu tahu kalau kita pada dasarnya cuek, hingga butuh hampir setahun untuk memperbaiki persahabatan kita lagi. Aku tahu kau orangnya tidak suka repot. Waktu itu kita masih bocah, tapi sekarang sudah besar, sudah kelas dua SMU. Kalau kita berantem hanya karena yeoja lagi, aku tidak bisa yakin kalau sampai universitas kita sudah berbaikan.”

Gongchan hanya terdiam. Memang benar, sih. Dia dan Baro adalah pribadi yang tidak suka repot, malas menangani hal-hal yang berat sekalipun. Tapi gadis yang bimbang itu—Han Nayeul—membuat mereka rela melakukan hal serepot apapun. Tetapi saat disuruh berbaikan karena masalah beberapa tahun lalu, mereka butuh waktu kira-kira setahun untuk memperbaiki hubungan persahabatan yang rantainya mulai putus itu.

Ya, karena dulu sempat ada kejadian seperti ini. Dulu.

“Pokoknya, aku sedang mood untuk menyuekimu, jadi jangan kira aku sombong atau ngajak berantem ya.” Ujar Baro dengan nada seperti memberi penjelasan. Ia menaikkan ujung bibirnya dan menepuk pundak Gongchan. “Maafkan aku, dulu kaulah yang harus menarik jauh perasaanmu demi aku. Tapi sekarang, Nayeul sudah jujur tentang perasaannya. Sekarang akulah yang harus mundur. Jaga dia baik-baik.”

… Bukannya bahagia, Gongchan malah merasa sakit. Entah apa yang sakit di bagian organnya. Yang jelas, ia mengorbankan perasaannya dulu bukan untuk dipermainkan seperti ini. Ia benar-benar rela memberikan Nayeul untuk sahabatnya, asal pemuda bernama Cha Sunwoo itu bahagia. Entah kenapa hatinya selalu bimbang jika berhadapan dengan Han Nayeul, gadis itu selalu bisa menghentikan gerakannya dan membuatnya kaku. Tapi bukan seperti ini yang dia inginkan.

Mendadak, benda di tangannya terlepas, tapi sukses ia tangkap sebelum semua isinya jatuh.

… Bekal dari Rami.

Ia jadi teringat sosok gadis itu. Sosoknya yang tidak kuat, tapi tidak juga lemah. Bagaimanapun juga, gadis itu sama sekali tidak gamang. Gadis pemalu yang jarang bicara itu sudah mengambil keputusan akan selalu memberikan Gongchan bekal selama yang ia bisa secara berani. Agak malas sih mengakuinya, tapi Gongchan cukup salut dengan sikapnya.

“Nah, sudah ya. Kuharap kau bisa membahagiakannya. Ah, kalau kau belum tahu, dia masih menyimpan foto itu.”

“… Foto apa?”

Baro hanya tersenyum tanpa membalas, lalu berjalan melewati Gongchan tanpa menatap mata pemuda itu lagi. Setelah langkahnya jauh dari sahabatnya itu, dia hanya bisa tersenyum kecut. Dengan air mata yang sudah siap keluar kapan saja.

Aku tidak bisa dipermainkan… Tapi kamu, kamu sudah memilih…

“… Kamu sudah memilih, Nayeul…”

******

Nayeul duduk di atas tempat tidurnya, menatap layar ponselnya. Ia sudah bertekad akan menelpon Baro—untuk memutuskannya. Tapi ‘putus’ adalah kata-kata yang menyakitkan, ia jadi tidak tega.

Ia menutup matanya, lalu menekan tombol untuk menelpon pemuda itu.

Tut…

Tut…

Klik.

“… Yoboseo?” sapanya, takut-takut. Tidak terdengar suara balasan dari sana. “… Ini aku…”

“… Aku tahu. Ada apa?” Terdengar suara parau dari arah sana. Mungkin Baro baru bangun tidur? Atau dia sedang tidur? Waktu sekarang masih sore, jam pulang sekolah.

“Anu… Aku… Aku mau bilang… Ah—apa kita… Lebih baik kembali… menjadi sahabat… Saja?” ujarnya terbata-bata. Hatinya meringis. Jika sudah serius, pemuda itu bisa mengatakan apa saja yang di luar bayangannya.

“…”

“… Sunwoo..?”

“… Diam.”

“Eh?” Nayeul segera membenarkan posisi ponselnya. Ia kaget, namun berusaha untuk tetap tenang. Benar kan, Baro bisa mengatakan apa saja yang membuatnya terhenyak dalam sekejap.

“Kubilang diam.” Ujar suara parau itu, terdengar lugas. Tidak tersirat nada main-main dari kata-katanya. “… Jangan lagi-lagi…”

“… Sunwoo?”

“TOLONG DIAM.”

“…”

“… Aku hanya berharap tentang kebahagiaanmu.” Ia mendesah, terdengar suara memilukan dari sana. “… Jadi… Jangan lagi-lagi… Memanggilku seperti itu…”

Nayeul hanya bisa diam. Ingatannya saat setahun lalu kembali lagi. Dulu, Baro pernah bicara menggunakan nada dan suara yang sama, ketika pemuda itu menyatakan cintanya pada Nayeul dan meminta maaf pada Gongchan. Gongchan dan Nayeul sudah sepakat untuk tidak membiarkan nada suara itu kembali keluar dari mulut Baro, tapi kenyataannya tidak begitu. Sekarang terulang lagi. Namun Nayeul tak dapat membohongi perasaannya sendiri.

“… Memanggilku Sunwoo… Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi…”

… Terdengar suara isak tangis.

Klik.

Tut… Tut…

Continue to part.3

******

By the way, abis bikin cerita ini langsung mikir… Ini kok Nayeulnya ngeselin banget ya.. <– yang suka nonton k-drama.

Mind to leave your comments? ;D

17 responses to “Your Secret Admirer (2/3)

  1. ish., nayeul apa bgt dh fik.. -_-
    Maunya apa seh?? Baroku dibkin terluka.. Aish~~
    Oh iya, kalo d telaah *apapulaini* terlalu bnyak “menggaruk kepalanya yang tidak gatal”
    Kamu suka kalimat it ya? Haha., ga masalah sh sebenernya, aku kalo nulis juga suka pake kalimat itu.. ;p

    • ehehehe._. emang takdirnya ceritanya mengalir kaya gitu-_-v <– sebenernya sebelomnya gakepikiran
      errr soalnya kalo nulisnya bingung atau salah tingkah kan kesannya kurang panjang, gaseru /krik
      gomawo readmennya yaa eonnieee /o/

  2. Pingback: Your Secret Admirer (3/3) | Cappuchino In Your Life·

  3. Nayeul nyebelin >o< !! Rami juga.. polosnya gak ketulungan -_- .. Gongchan !! kamu itu es atau apa sih ? dingin amat.. mikir perasaan rami dongg!! #emosi

    ini si nayeul nya mau bikin hubungan dua sahabat hancur lagi ya ?? demen amat .. udah dua kali lho nay , ck,ck,ck,ck,ck,

    *lanjut bca part 3*

    • Wah.. Eonnienya emosi :B #APA

      Di selasela kita berantem antara Skydragon/RiRin ternyata eonnie ingat ff ini😀

      Aku suka reaksinya nih, hehe :B #krikkrik

      Gomawo readmennya Tika-eonnie~ :*

  4. Nayeul ngeselin ih-_-
    Tega amat tuh anak buat Baro nangis😦
    Dan si maknae #lirikGongchan sama aja ngeselinnya :B

    Aku baca next partnya yaa~~😀

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s