Your Secret Admirer (3/3)

yoursecretadmirer2

PART.1 | PART.2 | PART.3

“Gongchan!”

“… Apa?” Pemuda berambut cokelat itu hanya melirik tajam sekilas. Ia meniup-niup poninya yang panjang ke atas, supaya penglihatannya tidak terlalu tertutupi. Sedangkan pria berwajah ceria yang memanggilnya duduk di sebelahnya. 

“… Nayeul belum datang?” tanya pemuda yang satu lagi—Baro—dengan senyumannya yang polos.

“Belum. Sepertinya tidak datang.” Pemuda berponi panjang—Gongchan, berdiri dan memainkan bola sepaknya. Sedangkan Baro hanya memonyongkan bibirnya dan menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan kanan.

“Kalau boleh ngaku sih… Kalau boleh yaa…” seru Baro, tiba-tiba. Pipinya merah merona. Omongannya yang tidak jelas ini membuat Gongchan menghentikan permainan bolanya dan menatap heran sahabatnya.

“Hah? Maksudnya?”

“Aaah hentikan! Kau membuatku malu!!” Baro memegang pipinya dan mengibas-ngibaskan tangannya, membuat Gongchan tak memiliki pilihan lain selain menendang kaki pemuda itu supaya cepat sadar.

“Apaan, sih? Aku tidak melakukan apa-apa, dasar idiot stadium akhir.”

“Kalau boleh mengaku… Ada orang yang kau suka, tidak? Setelah itu aku akan mengontrol diriku kembali jadi manusia normal dan mengakui perasaanku.”

“Sampai kapanpun kau tetap bertingkah seperti alien, babo. Aku? Tidak ada.” Balas Gongchan, jengkel. Bohong, tentu saja. Dia memiliki seseorang yang spesial di hatinya, tapi dia memang tak bisa mengatakan atau mengungkapkannya pada siapapun. Gadis itu—sangat dekat dengannya maupun Baro. Gongchan merasa bahwa temannya yang lebih ember dari tante-tante itu akan membocorkan segalanya kalau dia mengatakannya.

“… Aku… Ada.”

“Oh ya? Tumben. Siapa?”

“… Nayeul.”

… Satu kepingan sudah mulai hancur.

******

“Gongchanie, kau lihat buku tulis bahasa Inggrisku, tidak?” Gadis berambut agak pendek bernama Han Nayeul berlari menghampiri Gongchan yang tengah berjalan di lorong. Tangannya menyentuh pundak Gongchan, menyebabkan satu detakan mengejutkan di jantung namja itu.

“… Tidak. Mungkin dibawa Baro.”

“Baro? Aish namja itu selalu saja…”

Annyeong~~ mencariku, tuan dan nona?” Baro tiba-tiba muncul dari balik pintu kelas. Senyumannya selalu saja secerah matahari.

Yah! Kau ya yang mengambil buku tulisku?” tuduh Nayeul langsung, tanpa basa-basi. Baro hanya menggeleng kuat. “Lalu siapa?”

“Biasanya kau meletakkan di sembarang tempat, kan? Coba saja cek laci mejamu.” Jawab Baro santai. Nayeul hanya menggerutu lalu berjalan masuk ke dalam kelas dengan diikuti Baro dan Gongchan. Gadis itu terus berkomat-kamit, sementara tangannya sibuk meraba-raba laci mejanya.

“Awas saja kalau misalnya tidak ketem—Ah… Ini dia. Hehe.” Nayeul menggaruk tengkuknya, memberikan cengiran pasrah.

“Dasar. Lain kali cari lebih teliti. Untung saja aku kenal dirimu.” Tegur Baro, diiringi senyuman lembut. Kata-kata Baro tadi sempat membuat Gongchan merasa agak aneh. Biasanya pemuda itu akan berteriak childish dan menghina Nayeul sebagai nenek-nenek pikun, tapi sekarang tidak. Yang ia lakukan adalah mengelus puncak kepala Nayeul dengan lembut, lalu menurunkan nada suaranya menjadi lebih rendah. Hal ini membuat Gongchan jengkel, tapi perasaannya itu ia tahan.

“Oh ya, bagaimana kalau kita makan bareng pulang nanti? Hari ini tidak ada latihan, kan?” ajak Nayeul tiba-tiba. Baro langsung mengangguk excited, sedangkan Gongchan masih berpikir ulang. Diliriknya Baro yang mulai merencanakan apa-apa saja yang akan dimakannya nanti, lalu terdiam dan menghela nafas. Sebenarnya ia sudah lama menyukai Nayeul, tapi Baro sekarang lebih banyak tersenyum dan lebih tenang sejak pemuda itu mengatakan padanya kalau dia menyukai Nayeul, maka dari itu Gongchan memutuskan untuk tidak mengganggu. Meski hatinya sakit.

“Aku tidak ikut. Sibuk.” Ujarnya, lalu berjalan ke luar kelas tanpa menunggu respon kedua orang itu. Ia sudah memutuskan untuk menahan perasaannya. Beberapa bulan lagi mereka akan lulus, banyak waktu saat liburan untuk melupakan Nayeul.

“… Jadi, kita berdua saja?” tanya Baro, menunjuk dirinya dan Nayeul secara bergantian. Dalam hatinya, ia merasa berterima kasih karena Gongchan sudah memberikan waktu mereka berduaan. Namja ini tidak tahu apa-apa.

“… Iya.” Nayeul menggigit bibirnya pelan, lalu melirik ke arah pintu kelasnya. Gongchan memang sudah menghilang.

******

The next day

Baro, Gongchan, dan Nayeul duduk di kursi penonton lapangan basket. Ketiganya menikmati bekal masing-masing, mulai dari Nayeul yang membawa bekal buatan eommanya dan Gongchan-Baro dengan makanan hasil beli di kantin.

“Kalian mau masuk SMU mana?” Baro menyeruput milkshakenya, menatap kedua sahabatnya satu-persatu.

“Samyang. Lanjutan, gampang.” Gongchan menjawab tak acuh. Ia sibuk mengemut roti cokelatnya perlahan-lahan.

“Aku juga! Jadi semuanya Samyang, kan?” Baro tersenyum riang. Dipandangnya Nayeul yang hanya terdiam tanpa menjawab. “Nayeul? Kenapa bengong begitu?”

“… Oh? Aku… Tidak apa.” Nayeul menyunggingkan senyumnya. Kepalanya menggeleng kecil. Baro hanya membalasnya dengan anggukan, lalu kembali mencerocos tentang berbagai hal. Sedangkan Gongchan memperhatikan Nayeul yang kembali terdiam, dengan tatapan penasaran.

******

“… Sekolah designer?”

“Emm… Bukan seperti itu juga.” Nayeul melingkarkan tangannya di lututnya, memandang rendah ke arah hijau rumput. “Itu sekolah yang ekskul designnya paling bagus. Aku sudah lama bermimpi jadi designer. Tapi baru sekali ini aku berani mengambil langkah sendiri, jadi aku agak takut. Orang tuaku sudah setuju, jadi tinggal aku saja. Tapi…”

“… Tapi?” Gongchan menatap gadis di sebelahnya dengan pandangan heran. Sudah ia duga ada yang Nayeul simpan, makanya ia langsung menanyakannya setelah istirahat makan.

“… Sekolahnya bersistem asrama. Aku hanya bisa pulang kalau liburan, atau sekali-kali kalau mendapat izin dari sekolah. Biasanya satu murid hanya diberikan kesempatan pulang sekali dalam satu semester, tapi bukan berarti setiap hari dikurung. Boleh bebas, tapi karena jaraknya dari sana kesini jauh, jadi mungkin aku akan jarang menemui kalian.” Jelasnya. Terdengar nada kekecewaan dari suaranya. “Apa tidak jadi saja, ya?”

“… Jangan. Lakukan saja. Itu mimpimu, maka wujudkan saja.” Gongchan mengulum senyumnya, memberikan ketenangan untuk gadis itu lewat tatapan teduhnya.

“… Kamu benar.” Nayeul mulai tersenyum, dengan rona merah di pipinya. Tatapannya kembali tegas, seperti tatapan Nayeul yang biasanya. “Kalau mau memulai sesuatu, aku harus yakin.”

“Ya, itu kelebihanmu.”

Setelah itu, dua-duanya hanya diam. Menikmati aliran angin yang menyentuh lapisan kulit mereka, diiringi terpaan sinar matahari yang tak begitu kuat. Cuaca sedang tidak panas, tapi juga tidak dingin.

“… Menurutmu, apa ada perubahan dari Baro?” gumam Nayeul, mendadak. Gongchan hanya diam, sambil sesekali melirik ke arah gadis itu. “… Dia… Jadi lebih kalem, ya? Lebih manis… Lebih suka tersenyum…”

“… Iya…”

Sakit.

Sama saja, kan? Mendengar orang yang kalian sukai memuji lawan jenisnya dengan wajah memerah seperti itu rasanya sakit. Gongchan sendiri juga tidak mengerti, tapi dia sendiri malas mendengarnya. Dia sudah bersikukuh akan menarik perasaannya, tapi… Rasanya sakit. Dia sudah lama menyukai gadis disampingnya ini, sementara Baro entah sejak kapan.

“Tapi, Gongchan, aku…”

Sebelum Nayeul bisa menyelesaikan kata-katanya, Gongchan hanya melengos pergi. Meninggalkan gadis itu yang sekarang hanya termangu dengan rasa kekecewaan dalam hatinya.

******

“Gongchanie, kau tahu tidak kalau Nayeul mau masuk ke sekolah lain?” Baro berlari menghampiri Gongchan yang tengah berjalan menuju kelasnya. Pria yang disapa itu hanya diam, memandang tajam ke arah sahabatnya, lalu mengangguk kecil.

“Tahu.”

“Ooh… Sayang sekali…”

“Terus? Kau mau pergi menyusulnya? Susul saja, biar sekalian bisa mendapat cintanya.” Ujar Gongchan jengkel. Entah kenapa hatinya kesal sekali. Biarkan saja, semua yang terjadi terjadilah. Lagipula Baro pasti akan melakukannya, kalau dilihat dari sifatnya yang akan mengejar apapun yang ingin ia dapatkan. Memang begitu kan, pribadi seorang Cha Sunwoo.

“Emm… Tidak.”

“… Hah!?” Gongchan membalikkan badannya, menatap heran namja di hadapannya. “Serius? Kau… Kau tidak—?”

“Tidak. Nayeul ke sekolah itu demi mengejar mimpinya. Aku juga punya mimpi, makanya aku memilih Samyang.” Baro mengangguk mantap, membuat Gongchan terdiam dan menaikkan alisnya.

“Mimpi? Memangnya apa mimpimu?”

“Pemain bola Internasional. Mula-mula aku akan coba bermain di Nasional dulu, lalu nanti di masa depan, aku akan berlaga di ajang dunia. Itulah mimpiku, Gongchanie. Meski cinta, tapi aku juga tidak bisa melepas mimpiku begitu saja. Aku akan berusaha mengejar Nayeul, sampai dia benar-benar menjadi milikku meski kami berbeda sekolah.” Baro menjelaskan dengan mata berkilauan. Sama sekali tidak ada keraguan atau apapun dari tatapannya, membuat Gongchan bertambah iri. Untuk saat ini, pemuda ini belum mendapat impian apapun. Tapi Baro—yang lebih polos darinya—sudah mempunyai mimpi sendiri.

“Kata-kataku tadi keren, kan?” tambah Baro, dengan nada pede.

“Pft. Dasar pelawak.” Gongchan menendang kaki pemuda di hadapannya lagi. Ia akhirnya mengerti, Baro memang pantas berjalan di depannya untuk masalah mengejar cinta. Sakit…? Memang. Tapi tak apa. Dia harus mengerti.

Ya, dia harus mengerti.

******

Next Month

“Ah… Hujan.” Nayeul menjulurkan jarinya keluar jendela, merasakan tiap tetesan air di jari-jarinya. Ia mengulum senyuman manisnya.

“Hei, sudah selesai beres-beres belum? Kesini dulu, hujannya sedang deras.” Panggil Gongchan dari sudut ruangan. Mereka berdua berada di dalam ruang klub sepakbola, membereskan barang-barangnya. Sebelum mereka melepas jabatan, maka lebih baik membereskan dan meninggalkan persiapan untuk anak-anak kelas dua yang akan memegang jabatan nanti.

“Sudah, kok. Aku mau menelpon dulu…” Nayeul merogoh kantong jaketnya, tapi tidak mendapati apa-apa di dalam sana. “Ah gawat…! Ponselku tidak ada…” serunya panik. Dengan tergesa-gesa, ia mengecek tasnya, namun hasilnya nihil.

“Dasar ceroboh.” Gongchan berjalan ke arah Nayeul, lalu ikut membantu mencarinya. Tak sengaja tangannya menyentuh tangan Nayeul saat mereka berdua sedang mengecek ulang tas gadis itu. Buru-buru, mereka menariknya bersamaan.

“… Tidak ada.” Dia membalikkan badannya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Padahal hampir saja dia bisa melupakan gadis itu, tapi kejadian-kejadian reseh seperti inilah yang membuat perasaannya kembali dan kembali lagi. Jujur, perasaan suka itu sangat mengesalkan. Membuatnya harus jatuh dan terluka berkali-kali. “Lebih baik kita cepat pergi. Hujan sangat deras, mungkin ponselmu terselip di kelas.”

“… Oke…” Nayeul mengikuti langkah Gongchan, lalu berteduh di depan ruang klub. Keduanya hanya diam tanpa menatap mata satu sama lain, sampai akhirnya Nayeul melirik ke arah Gongchan dan memberanikan diri untuk menggenggam jari telunjuk Gongchan. Yang dipegang hanya memandang jarinya dengan kaku, tidak sanggup berkomentar apa-apa.

“Aku… Aku… Besok… Ujian masuk ke SMU itu… Jadi… Aku hanya minta semangat… Darimu…” desah gadis itu, pelan dan menyesakkan. Apa lagi ini? Gongchan sudah bersumpah akan cepat-cepat melupakan gadis ini, tapi apa yang gadis ini perbuat tak pernah terlintas di pikirannya. Dadanya serasa mau meledak. Perasaan itu rasanya kembali dan kembali lagi, memaksa masuk ke dalam hatinya sampai ia sendiri tak sanggup menahannya.

“Gongchan… Aku… Aku… Sebenarnya… Menyukaimu…”

Akhirnya, kata-kata itu terungkap juga.

Tubuh namja itu terasa sangat lemas. Dia sudah memaksa diri untuk tidak mendahulukan egonya, tapi gadis di sebelahnya ini menghancurkan segala pertahanannya.

“Tolong… Jangan bicara begitu…”

“Ah, Nayeul sampai melupakan ponselnya begini…” Baro melangkah dengan hati-hati, menelusuri jalanan becek di tengah hujan. Selagi dia memainkan ponsel Nayeul, gadis itu pergi ke ruang klub untuk tugas piket. Makanya dia buru-buru menyusulnya.

“Ng…? Gawat, ini tombol apa?” Namja itu menekan-nekan tombol ponsel Nayeul dengan panik, dan tak sengaja ia menekan tombol tengah.

Cklik!

“… Terfoto…” Ia memandang hasil fotonya sendiri. Senyumannya yang tadi terkembang cerah perlahan berubah pudar, tergantikan oleh sebuah kekecewaan—dan amarah. Ia memindahkan layar ponsel dari pandangannya, dan menatap realita yang menyakitkan itu.

Gongchan menyentuhkan bibirnya ke bibir Nayeul, diiringi sebuah air mata yang mengalir tanpa henti di pipinya.

“… Aku… Tidak bisa… Maaf…” desah pemuda berambut cokelat itu, lalu melepaskan tangannya secara kasar dari Nayeul. Ia berlari pergi menerobos hujan. Pikirannya kosong, dia tidak tahu apa yang tadi ia lakukan maupun sekarang. Yang jelas, dia tidak ingin menatap mata yang terkejut tadi dalam waktu yang lama.

Sedangkan Nayeul dan Baro hanya diam di tempat masing-masing, tenggelam dalam pikiran dan gejolak perasaan yang menusuk dalam.

Harusnya aku tahu, kalau aku tidak boleh berlama-lama melihat wajahmu…

******

A few days later

“… Mana Gong Chansik?” Baro membuka pintu kelasnya dengan kasar, lalu menatap tajam Gongchan yang hanya diam tanpa membalas tatapannya. “Yah! Kau, pengecut!!” teriaknya, lalu menghampiri Gongchan dan menarik kerah pemuda itu.

“… Apa urusanmu?” Gongchan mendelik tajam ke arah Baro dengan tatapan dinginnya. Tatapannya seakan mengatakan ‘jangan-ganggu-aku’.

“Kau keluar dari klub, kan? Itu kenyataannya! Kau tahu aku melihat kejadian tempo hari, lalu sengaja keluar dari klub itu maksudnya apa?! Beri aku penjelasan!” jeritnya. Beberapa siswa disana sudah mulai merasakan aura ketegangan.

“… Aku hanya mau fokus belajar—”

“Itu hanya alasan orang pengecut yang ingin lari!” bentak Baro. Dipukulnya kuat-kuat pipi Gongchan, sampai ada siswi-siswi di kelas yang berteriak histeris. “Kenapa kau melakukannya!? Aku tanya kenapa!?? Kalau kau memang mengaku jantan jawab kenapa!!!”

“Berisik!!” Gongchan balas menendang Baro, sampai pemuda itu hampir jatuh ke belakang. “Memang apa lagi alasannya? Kau mau menuduh aku yang bukan-bukan? Bukankah itu hanya otakmu yang bekerja tidak jelas!? Ini memang alasanku!!!”

“Diam!! Itu bukan alasan yang jelas setelah aku melihat semangatmu setiap menendang bola!!!” Baro balik menerjang, menubruk tubuh pemuda di hadapannya dan meninju berkali-kali pipinya, sementara Gongchan menahan dengan mendorong kuat-kuat tubuh Baro. “Aku tahu kau…! Kau tidak akan keluar dengan alasan sepele seperti itu!!! Sejak kapan kau yang suka membolos ini bisa peduli dengan belajar!?”

“Tahu apa kau tentang aku!!?” Gongchan menendang balik, menonjok pipi Baro sampai ungu. Ia tak bisa menahan luapan emosi dan amarahnya. Rasanya sudah cukup ia menahan semuanya, dan hari ini rasanya ingin sekali ia meledakkan segala perasaannya tanpa ampun. “Kau tak tahu apa-apa!! Perasaanku, perasaan ‘DIA’… Bahkan kau kubiarkan curhat banyak dengan santainya padaku!!!”

“Kenapa kau tak bilang!?” Baro menendang perut Gongchan, menahan sakit yang menjalar di pipi ungunya. Penampilannya sudah berantakan karena jambakan dan pukulan Gongchan yang terasa sangat kuat di kulitnya. “Setidaknya, kau tahu aku kurang peka! Kalau kau.. Kalau kau bilang…”

… Tes.

Gongchan menghentikan gerakan tangannya yang sudah siap balik memukul. Sekarang, di hadapannya, untuk pertama kali dalam hidupnya Baro menangis. Yang ia tahu, pemuda di hadapannya sangat tegar, ia tidak pernah menangis sekalipun. Dari kakinya patah saat hiking SD, tulangnya tergeser setelah bermain sepakbola saat kelas satu SMP, dia tak pernah menangis.

Tak pernah sekalipun Gongchan melihat ada bulir air mata yang mengalir keluar dari mata hitam Baro.

“… Setidaknya kalau kau bilang… Aku yakin aku bisa menahan perasaanku juga… Aku—aku akan minta maaf selama kau mau memaafkannya…” isaknya. Ia menahan air matanya dengan sebelah lengannya, lalu berjalan pelan ke luar kelas dengan kaki yang terseok, meninggalkan Gongchan yang hanya bisa terdiam.

Untuk pertama kalinya, Baro menangis. Dan nada yang ia gunakan saat terakhir kali itu—menyakitkan, menusuk batinnya.

Kenapa bisa kita tidak mengerti satu sama lain…?

“… Gong Chansik…”

“… Hei, pria aneh, bangun.”

Gongchan membuka matanya perlahan, mengerjapkan kedua iris mata cokelat kelam itu lalu memandang ke sebelahnya. Ia rupanya tertidur di mejanya saat pelajaran terakhir, beruntung seonsangnim tak melihat dirinya terlelap. Sementara Haerin sudah berdiri di sebelahnya, memandang dengan tatapan jengkel.

“Bangun, dong! Aku malas kalau harus menunggumu bangun duluan. Aku sudah mau pulang, yang lain juga sudah pulang.” Cerocosnya, masih dengan gayanya yang angkuh kalau sudah di depan pemuda itu. Gongchan hanya mengucek matanya dan kembali mengerjap.

“… Makasih, cewek bawel.” Ujarnya, lalu berdiri dan merapikan buku-bukunya yang masih bertebaran di atas meja dan laci. Sedangkan Haerin yang mendengarnya hanya mendelik kesal.

“Kau ini… Sudah untung kubangunkan…!” Haerin menahan kepalan tangannya yang sudah siap ia layangkan kapan saja. Kalau Rami tidak muncul di benaknya, mungkin namja di hadapannya sudah babak belur.

“Ya, ya.”

“Ck, yasudah. Duluan ya. Oh ya, tadinya mau kuminum tapi aku takut dimarahi Rami. Dia bilang hari ini kau sedang lesu, jadi itu sebagai penyemangatmu. Nih, minum loh, jangan dibuang. Awas kau!” Haerin melempar sebuah botol minuman yang langsung ditangkap Gongchan secara refleks, lalu berjalan keluar kelas dengan cepat.

Gongchan menatap botol minuman yang sekarang ia genggam di tangannya. Minuman penyemangat, yang ia kenal rasanya tidak terlalu manis. Ia mengulum senyumnya dan berujar, “Dasar gadis polos.”

Diingatnya lagi kejadian dulu. Setelah tragedi yang menyebabkan mereka harus dibawa ke UKS itu, mereka semua saling diam. Entah kenapa, Baro mengungkapkan perasaannya dengan nada yang sama pada Nayeul, entah apa jawaban yang gadis itu berikan. Sebelum lulus, Gongchan sempat mengucapkan selamat jalan pada Nayeul, dan berjanji agar tidak membuat Baro berwajah sama seperti saat ia dan pemuda itu bertengkar. Keduanya masuk ke sekolah lanjutan di Samyang, lalu mulai memperbaiki ikatan persahabatan itu dari awal lagi. Makanya, Gongchan maupun Baro tahu, mereka memang tidak ingin merusaknya lagi. Karena sudah cukup sekali saja rasa sakit itu membekas. Cukup sekali.

Mungkin, mimpi tadi semacam peringatan atau apalah untuknya. Kalau ia harus mengingat benar-benar wajah dan nada bicara Baro saat itu, supaya dia maupun Nayeul tidak melakukan kesalahan itu lagi dan membuat pemuda itu melakukan hal yang sama. Tidak, tidak lagi.

Kalau ditanya siapa yang paling terluka, sekarang ia tahu jawabannya:

Dua-duanya sama-sama terluka.

Maka dari itu, mereka berusaha dan berusaha, menutup luka masing-masing. Mencari jawaban atas cinta yang aneh ini.

******

“Rami, kau sedang apa?” Baro melangkah masuk kembali ke dalam wilayah sekolahnya. Ia menatap Rami yang sedang tersenyum lebar sembari menatap jendela kelasnya.

“Tidakkah kamu merasa bahagia kalau melihat senyuman orang yang kamu sayang?” gumam Rami pelan, masih dengan senyuman manis yang terus terkembang di wajahnya. Baro ikut-ikutan melihat pemandangan apa yang Rami lihat. Gongchan.

“Apa sih bagusnya pemuda itu?” tanya Baro, dengan nada setengah bercanda.

“Kenapa bertanya begitu?”

“Yah… Hanya tanya.”

Rami menjinjitkan tumit kakinya sekilas, dengan tangan yang disilangkan di belakang tubuhnya. Ia menggigit bibirnya dan kembali mengulas sebuah senyuman lebar. “Baro-ssi kan sahabatnya, pasti tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padanya.”

“Errr coba kutebak. Karena wajahnya yang tampan menggoda?”

Rami menggeleng kecil.

“Karena… Pesonanya saat bersikap cool?”

Rami kembali menggeleng, kali ini diiringi dengan sebuah tawa kecil.

“Bukan. Memang aku suka menilai orang dari tatapan matanya, dan memang kesan pertamaku pada Gongchan itu, dia orang dingin yang judes dan ketus. Tapi begitu aku tahu kalau ia memiliki suatu kehangatan yang dapat menyentuh hati, aku langsung jatuh cinta sebelum aku menyadarinya.” Ujar gadis itu, dengan nada rendah dan lembut. Baro spontan langsung menoleh pada yeoja berambut hitam di sebelahnya. Entah kenapa gadis itu lebih dewasa. Bukan dari penampilannya—tapi dari aura yang menyeruak dari dirinya.

“Kamu berubah dalam beberapa hari ini.”

Jinjja!? Ah… Mungkin karena aku sudah mulai belajar dari kehidupan nyata. Sebelumnya yang aku bisa hanya bermimpi, jadi ketika aku diharuskan menghadapi kenyataan, yang kubisa hanya lari..” Rami menggaruk tengkuknya. Senyumannya terlihat pasrah.

“Ah… Mengerikan. Kau jadi mirip seperti Haerin dan semua nasihat-nasihat kehidupannya.” Canda Baro, disambut dengan anggukan dan tawa lepas Rami.

“Emm Baro, maaf kalau aku tiba-tiba bilang begini…” Suasana mendadak menjadi canggung. Rami sedikit melirik ke arah Baro dengan ujung matanya. “… Ka—kamu… Sudah… ‘Pisah’ dengan Nayeul-ah…?”

Baro, tanpa menjawab, hanya tersenyum kecut dan mengangguk. Mendadak isi kepalanya dipenuhi oleh Han Nayeul kembali. Bukan, ini tentu bukan salah Rami. Hanya salah dirinya saja yang selalu mengingat gadis itu di tiap detik waktunya bergulir. “Aku sudah mulai melupakan dia.”

Bohong.

“Kamu bohong.”

Baro memilih untuk diam. Rami sudah memperhatikan setiap lekuk wajahnya dan tatapan matanya yang sangat hampa. Gadis itu mengelus kepala Baro, entah kenapa.

“Wajahmu seperti mau menangis.” Gumam gadis itu. “Aku tidak mau melihatmu menangis. Aku suka saat semuanya tersenyum, tidak terkecuali kamu.”

“Aku… Tidak…”

“Kamu mau menangis.” Tegas Rami sekali lagi, membuat Baro menundukkan kepalanya, dengan diiringi sebuah isakan pilu yang keluar begitu saja dari bibir pucatnya. “Haerin bilang sakit saat jatuh cinta itu lebih menyakitkan… Soalnya sakitnya membekas di hati, di alat yang disebut perasaan. Dimana perasaan sebenarnya adalah bagian dari diri kita yang paling rapuh dan sulit kita kendalikan.” Ujar gadis itu lagi. Baro hanya menggeleng, lalu memeluk erat tubuh Rami.

“Maaf… Aku… Bukan untuk… Mencari perlindungan…” Baro menutup wajahnya dengan lengannya yang masih melingkar di leher Rami, membiarkan bulir-bulir air itu mengalir keluar dari pelupuk matanya.

“… Mianhae… Aku hanya bisa memeluk Baro-ssi di saat Baro-ssi sebenarnya memerlukan kekuatan…” Rami menepuk punggung besar itu, yang sekarang merenggang setelah sang pemuda melepaskan pelukannya.

“Kau sudah cukup untuk menjadi kekuatan semua orang.” Ujar Baro, lalu tersenyum kecil—meski masih kelihatan dipaksa. “Kalau hatiku tidak dipenuhi Nayeul, mungkin aku juga akan jatuh hati padamu. Aku akan menjagamu, dan tidak mengabaikanmu selama kamu jatuh.”

“… Terima kasih…” Rami tersenyum manis, dengan pipi merah merona dan ekspresi melega. Dia senang mendapat pernyataan yang membuat dirinya lebih percaya diri. Setidaknya, ia ingin memberikan kekuatan untuk Baro—salah satu orang yang ikut berjuang demi cintanya pada pemuda lain bernama Gong Chansik. “Baro-ssi boleh menangis sepuasnya. Sekarang, bagaimana kalau menenangkan diri sambil berjalan pulang?”

Baro hanya mengangguk, lalu melangkahkan kakinya dengan gontai ke luar sekolah, diikuti Rami.

Sementara Gongchan, memperhatikan mereka dari balik pintu kaca. Ia menunduk, mengulas kembali pikirannya. Dia tidak ingin bertengkar, tidak ingin melihat Baro menangis, ataupun membuat Rami terluka. Tapi dia masih menyayangi Nayeul. Hatinya sendiri menimbang yang mana yang harus ia pilih.

Tut…

Tut…

Yoboseo?” Gongchan mengangkat ponselnya, mendengar dengan seksama suara di telepon.

“Gongchanie… Aku merindukanmu…”

Suara Nayeul.

******

Gongchan berjalan perlahan ke arah rumah Nayeul. Dia sendiri tak tahu dia sedang apa. Gadis itu hanya berbicara dengan suara lirih, bahwa dia merindukannya. Siapa yang takkan datang kalau mendapat panggilan seperti itu?

“Ooh…”

Gongchan yang sedaritadi berjalan sambil menunduk spontan mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang familiar di depannya.

Min Rami.

“Gongchan-ssi, kau mau kemana?” tanya gadis itu, lembut. “Anu… Tadi aku habis mengantar Baro-ssi… Umm dia sakit kepala…”

“Hmm.” Gongchan hanya bergumam, lalu menatap dalam-dalam mata gadis berambut panjang itu. “Aku… Mau ke rumah Nayeul.”

Nyut.

Tenang, Rami… Di saat seperti ini kamu harus bisa tersenyum…

“Oh… Ooh…” Rami berusaha menahan air matanya yang hendak keluar, lalu memaksakan senyuman terlebarnya yang malah nampak awkward. “… Begitukah? Titip salamku untuk Nayeul-ah, ya!”

Dia berhasil mengatakannya.

Tapi keduanya sama sekali tidak merasa lega. Malah rasa sesak yang mendesak di dada mereka. Ini terlalu sakit. Terlalu menekan.

“… Ya…” Gongchan hanya tersenyum kecil, lalu berjalan melewati Rami yang sudah menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. Menahan air mata, yang mustahil bisa ia tahan. Bulir-bulir kristal itu terus terburai keluar, mengalir tanpa membawa rasa sesaknya keluar. Semakin banyak air mata yang mengalir di pipinya, dadanya malah terasa semakin sakit.

Cinta sepihak itu… Tidak disangka akan sesakit ini…

“Aku mencoba untuk terus mencintaimu…” desah gadis itu, menyeka air matanya dengan isakan-isakan kecil yang menyekat nafasnya. “… Aku mencoba…”

******

Nayeul’s House

“Ada apa?” Gongchan masuk ke dalam ruang tamu rumah Nayeul. Gadis di hadapannya hanya menggeleng manja.

“Tidak ada apa-apa.” Katanya, lalu menggenggam sebelah tangan Gongchan erat-erat. “Aku merindukanmu… Aku sadar aku sangat mencintaimu, pagi ini, aku merasakan hal itu mendatangiku bertubi-tubi… Aku hanya ingin melihat wajahmu…”

“…” Gongchan hanya bisa membiarkan gadis itu menggenggam tangan besarnya. Dia tidak merasa bahagia. Tidak. Seakan ada setumpuk dosa yang menekan dirinya.

“Aku menyesal… Sudah memberikan harapan lebih pada Baro…”

“…”

“Aku… Aku berdosa, bukan?” tanyanya. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya, mengalir perlahan di pipi merah miliknya.

“Tidak. Tidak semuanya salahmu. Aku juga salah.”

Nayeul mengulum bibirnya, lalu memeluk Gongchan. Menumpahkan seluruh rasa bersalahnya dalam bentuk air mata di dalam pelukan Gongchan, meski pemuda itu hanya bisa diam tanpa membalas. Nafasnya tercekat. Dia tidak ingin menolak. Tetapi entah kenapa mengalami skinship seperti ini dengan Nayeul, dia malah merasa semakin menyesal. Semakin tersiksa.

“Apa… Apa kamu mau melindungiku di saat aku menangis seperti ini lagi?” tanya gadis itu, pelan namun menyesakkan. Gongchan tidak bisa menjawab apapun, selain menatap mata gadis itu dengan tatapan terkejut. Dia ingin menyeka air mata di pipi pucat itu, tetapi tangannya seakan tidak sejalan dengan pikirannya. Seakan ada sesuatu yang menarik dirinya untuk tidak melakukan lebih dari itu.

“… Aku…” Nafas Gongchan memberat. Ia menjilat bibirnya sekilas, menggenggam erat tangannya sendiri yang sudah basah oleh keringat. “Ah—maksudku, aku selalu ingin menenangkanmu dan menjaga agar air matamu tidak jatuh lagi, tapi—”

“… Tapi apa?”

“Aku tidak tahu…” Ia menggeleng kuat, menahan sakit di kepalanya. Ada apa sebenarnya? Padahal hanya tinggal mengatakan ‘Aku berjanji’, yang mengartikan bahwa Nayeul sudah menjadi miliknya. Tapi lidahnya kelu—bahkan sampai sekarang.

“Aku mencintaimu, Gong Chansik…” bisik Nayeul lagi. Gadis itu menatap heran sekaligus cemas pada Gongchan. “… Apa yang kamu ragukan? … Aku… Memang menyesal tentang Baro, tapi aku ingin… Kembali menjadi sahabatnya…”

“… Aku…”

Terjadi jeda yang panjang. Gongchan hanya memejamkan mata sambil terus menggigit bibirnya, sementara Nayeul menunggu pemuda itu untuk angkat bicara.

“… Aku… Tidak mempermasalahkan tentang Baro…”

“… Begitu kah? … Tapi satu pertanyaanku. Apa jawabanmu sudah jelas…?”

“… Jawaban apa?”

“Jawaban… Mengenai perasaanmu padaku…”

“…” Gongchan kembali diam. Tubuhnya entah kenapa spontan berbalik, ingin segera keluar dari sana—tanpa tahu apa yang mendorong tubuhnya. Padahal biasanya dia pasti akan bertahan disana selama mungkin, dan mungkin sudah mengelus puncak kepala Nayeul dan meletakkan kepala gadis itu di bahunya. Tapi sekarang tidak. Dia tidak ingin melakukannya.

“Tunggu…!” Nayeul memeluk Gongchan dari belakang, menahan tubuh pemuda itu erat-erat, seakan tidak rela. “Jangan pergi… Kamu tahu aku juga merasa sulit dan berat, tapi—tapi aku… Aku…”

Tolong. Jangan bicara seperti itu lagi.

Pertahanan Gongchan hampir goyah. Ia hampir berbalik dan membalas pelukan Nayeul, sampai sebotol minuman tidak sengaja jatuh dari tasnya yang terbuka.

Botol minuman dari Rami. Belum ia habiskan.

Mendadak bayangan gadis itu kembali lagi ke dalam benaknya. Ia tahu tadi Rami ingin menangis, tapi dia malah meninggalkannya sendirian dalam kegelapan malam. Saat gadis itulah yang memerlukan sebuah elusan di kepala, dia malah terus berjalan lurus ke rumah gadis yang sekarang tengah menahannya. Sungguh aneh. Biasanya dia tidak akan peduli dengan perasaan orang lain.

Tapi kenapa…?

Gongchan menundukkan kepalanya, memperhatikan jarinya. Plester yang diberikan Rami setelah pertandingan basket itu masih melekat di jari kurusnya—meski kejadian itu sudah agak lama dan Gongchan yakin lukanya sudah tertutup.

“Hanya ini yang bisa aku berikan. Semoga rasanya enak, ya!”

“Titip salam untuk Nayeul-ah, ya!”

… Setelah bayangan gadis itu tersenyum, bayangannya yang sedang menangis sendirian muncul di benak Gongchan. Perasaan yang mendesak dadanya sekarang lain. Bukan ego, tapi kasih sayang. Dia tidak ingin membiarkan gadis itu sendirian. Dia tidak ingin gadis itu disentuh apapun yang membahayakan sifatnya yang sekarang—polos dan suci layaknya warna putih.

Min Rami.

“… Maafkan aku, Nayeul…”

Gongchan melepaskan pelukan Nayeul, lalu langsung berlari menerjang keluar. Dia tidak peduli Nayeul akan merespon apa terhadap kelakuannya. Dia sekarang tidak peduli dengan semuanya kecuali satu hal. Menemui Rami, lalu merengkuh gadis itu dalam pelukannya untuk pertama kalinya. Gadis itu sudah cukup banyak menangis. Sudah cukup banyak menderita sayatan di hatinya.

Penglihatannya terus terhalang angin kencang yang berlawanan arah dengannya, sampai ia menemukan sesosok gadis yang tengah menarik kakinya diatas jalan—seakan tidak memiliki tempat tujuan. Gadis itu seperti anak hilang yang tidak tahu akan kemana. Berjalan lunglai menerobos angin, membiarkan rambutnya yang panjang dan hitam itu berantakan.

Gongchan tidak peduli lagi dengan ego ataupun imagenya. Tidak untuk gadis ini.

Tangannya terjulur ke depan, lalu menarik tubuh Rami ke dalam pelukan hangatnya. Sedangkan Rami hanya diam membeku, shyok tiba-tiba ada orang yang memeluknya dari belakang di saat dirinya tengah menangis.

“Maafkan aku…” bisik Gongchan, pelan.

“… Ini…” Rami tergagap, belum percaya pada kenyataan. Dia tidak percaya bahwa orang yang memeluknya dan berbisik padanya adalah orang ‘itu’. Ya, orang yang ia kira sudah menolaknya—lagi.

“Maafkan aku, Rami-ah…” ujarnya lagi. Meski suara itu kalah oleh suara desiran angin yang menghantam kulit mereka, tapi Rami dapat dengan jelas mendengarnya. Jelas sekali, sampai membuat air matanya kembali mengalir.

“Gongchan… ssi…?”

“Maafkan aku…”

Rami dengan ragu menengokkan kepalanya, terkejut saat menemukan Gongchan yang sudah tersenyum di belakangnya. Mata pria itu berkaca-kaca. Gongchan tersenyum. Hal yang selalu ingin dia lihat selama ini.

“Gongchan-ssi… Kamu memanggil namaku…” gumam Rami. Dia mendadak merasa sangat bahagia. Baru pertama kali ini, Gongchan memanggil namanya. “… Apa yang kamu lakukan…? Bukankah kamu ke tempat Nayeul-ah…?”

“Tidak.” Gongchan menggelengkan kepalanya, kembali tersenyum dan memeluk gadis itu. “Aku sudah menemukan jawaban kenapa perasaanku sekarang campur-aduk tidak jelas.”

“… Gongchan-ssi…?”

“… Aku mencintaimu…”

“…”

Di bawah terpaan angin deras, mereka berdua kembali merasakan kehangatan di hati masing-masing. Kehangatan yang tumbuh setelah sekian lama beku. Melalui sebuah kecupan manis, yang mampu mengembalikan untaian senyum lebar di bibir masing-masing.

“Aku mencintaimu.”

“… Sekarang, aku tidak akan membiarkan air mata setitikpun keluar dari mata manismu. Tidak akan, Rami-ah. Tersenyumlah, gadis polos.”

******

A Month Later

Nayeul menatap lekat-lekat layar ponselnya. Aneh. Foto itu—yang diambil Baro secara tidak sengaja—masih saja ada di ponselnya. Yang benar saja, entah kenapa kalau melihat foto itu bukannya senang malah membuat dia merasa sedikit kesal.

“Memang tidak bagus.” Sesalnya. Tangannya menggerakkan ponselnya.

Delete.

Sebuah senyum manis terkembang di wajahnya. Dia memang belum bisa move on, tapi tak apa. Nanti pasti ada waktunya, dimana dia bisa menatap kedua namja yang pernah ada di hatinya dengan pandangan lurus dan kembali memanggil mereka sahabat lagi.

“Jadi? Kau sudah dapat panggilan untuk menjalani mimpimu duluan daripada kami?” Pria yang berdiri di belakangnya—Baro—memandang kertas berisi brosur yang membuatnya dan Gongchan berdiri disana. Di stasiun.

“Ya! Keren kan, perancang junior, Han Nayeul, namanya tertulis disana?” Nayeul berkata dengan bangga, sembari berkacak pinggang. “Baru panggilan dari dalam negeri sih, tapi pameran fashion itu sangat jarang memanggil perancang yang belum berpengalaman!”

“Ya, ya, teruslah membanggakan diri.” Ujar Gongchan ketus, sedangkan Nayeul dan Baro hanya tertawa mendengar celetukannya.

“Ah, akhirnya semuanya berakhir tanpa harus saling pukul.” Baro menghela nafas lega, diikuti dengan senyuman yang agak dipaksakan dari Nayeul dan Gongchan.

“… Aku sebenarnya memanggil kalian untuk minta maaf. Pertama, maafkan karena menyuruh kalian datang pagi-pagi buta sebelum sekolah.” Nayeul memasang pose formal, dengan meletakkan kedua tangannya di depan. Senyumannya kembali cerah. “… Kedua, maafkan keegoisanku. Kesannya aku seperti mempermainkan perasaan kalian, dimana aku bimbang dengan perasaanku pada Channie namun aku mau saja menerima pernyataan Baro, padahal saat itu aku sedang labil. Aku benar-benar minta maaf, apalagi untuk Rami-ah yang sudah berkali-kali menyia-nyiakan air matanya dan untuk Haerin-ah, yang malah menjadi kesal padaku.”

Nayeul membungkukkan punggungnya dalam-dalam, tapi Gongchan dan Baro menahan tubuh gadis itu agar tidak melakukannya.

“Ck. Kau ngapain sih bungkuk-bungkuk segala? Kesannya seperti kita itu orang tuamu atau preman yang akhirnya melepaskanmu dari paksaan kriminal!” seru Baro jengkel.

“Kereta sudah mau berangkat. Tenang saja, Rami dan Jung Haerin pasti akan mengerti.” Gongchan tersenyum simpul, diikuti Baro dengan tawanya yang renyah, membuat hati Nayeul terasa sedikit tenang.

“Nah, aku berangkat ya.” Nayeul mengangkat tasnya ke atas kereta, lalu berdiri di depan pintu. “Sampaikan salamku untuk semuanya.”

“Oke, hati-hati ya.”

Pintu hendak tertutup. Sebelum Nayeul mengangkat tasnya dan menuju gerbong tempat duduknya, ia masih menatap lekat-lekat mata kedua sahabatnya. Sahabat yang berarti untuknya. Kedua sahabat yang memberikannya kesempatan untuk mencintai dan dicintai. Kedua sahabat yang akhirnya tidak bisa ia miliki secara pribadi. Tapi dia tidak menyesal, setidaknya setelah melihat senyuman yang terulas di wajah orang-orang itu.

“Sebenarnya, alasan aku memanggil kalian…” Nayeul buru-buru mengatakannya, ketika pintu kereta sudah tertutup dan kereta sudah mulai berjalan. Melihat gerakan bibirnya, Gongchan dan Baro spontan berlari mengejar kereta. Dan Nayeul dengan segera berlari ke gerbong dimana ada jendela terbuka, lalu menatap keluar. Dimana Gongchan dan Baro masih setia berlari, menunggu lanjutan perkataannya.

“… Aku ingin kalian mengantarku… Sebagai sahabat!” Sebulir air mata bahagia mengalir dari pelupuk matanya. Akhirnya. Kata-kata yang daritadi ia tahan sempat ia katakan, sebelum akhirnya kereta bergerak menjauh dari stasiun dan Baro serta Gongchan sudah tak bisa lagi berlari mengejar benda kotak itu.

“Aku sayang kalian..”

“Kau dengar dia bicara apa?” tanya Gongchan, sambil mengatur nafasnya yang masih terengah akibat berlari cepat.

“… Tentu saja. Kita juga sayang dia, kan?”

“… Iya. Dia tetap sahabat kita. Sampai kapanpun, meski perasaan aneh itu sempat menghinggap pada kita. Tapi bagaimanapun, kenangan saat bertiga itu berharga.”

Ya, kenangan itu tetap berharga.

******

Epilogue

“Haerin! Kau menghabiskan bekal sarapanku!!” pekik Baro histeris, sedangkan Haerin hanya menatapnya dengan tatapan tajam dan mencibir.

“Diam kau!” bentak gadis itu, galak. Ia meneruskan makannya dengan ganas, membuat Baro hanya bisa bengong.

“Haerin, makan sambil nafas juga dong..”

“Diam, ah! Biarkan aku makan sendiri!”

“Gendut kau nanti..”

“Sebodoh amat!!!” Haerin tambah meninggikan suaranya, melempar tatapan tajamnya ke arah Baro yang langsung membuang pandangan ke arah lain. “Laki-laki itu menyebalkan! LDR, memang kenapa kalau LDR? Dia pikir aku tidak bisa? Aku bisa! Aku bisa menunggu walaupun bumi akan runtuh sekalipun!! Laki-laki kenapa sama saja, sih!?” rengek Haerin dengan penuh penekanan dan kekesalan. Kekasihnya sekarang sudah masuk kuliah di tempat yang jauh dari Seoul, dan alasan mereka putus adalah karena jarak. Haerin selalu kesal pada orang yang mempermasalahkan hal sepele seperti jarak. menurutnya, cinta itu tidak dibatasi jarak!

“Hei, apa maksudmu laki-laki itu sama saja? Aku berbeda!” protes Baro, tidak terima dengan harga diri pria yang diperosotkan begitu saja.

“Sama saja!”

“Perlu bukti?”

“Bukti apa? Kau mau jadi pacarku?”

“Yah… Tidak apa-apa kan, Haerin? Bukankah tidak ada salahnya mencoba?” canda Baro, dan Haerin langsung menanggapinya dengan ekspresi jengkel walaupun pipinya bersemu merah. Padahal kata-katanya tadi hanya spontan dan siapapun yang mendengarnya pasti menganggapnya candaan. Tapi tak ia sangka Baro meresponnya seperti itu.

“A—Apa-apaan, sih!?”

“… Kenapa?”

“Hah?” Haerin melirik ke arah Baro dengan ujung matanya, memasang wajah heran. Baro yang juga menatap lekat iris mata cokelat gadis itu hanya tertawa, lalu mengelus puncak kepala Haerin.

“Apa kamu nggak suka kalau pacarmu aku?”

“Bu—” wajahnya kembali memerah, lalu dengan cepat ia menggeleng. Ia malu kalau Baro sampai menyadari wajahnya yang sudah memerah, pasti akan sangat jelek. “Yah! Bukan itu! Kembali kesini!”

Wae? Waeyo~? Wajah Haerin kalau sedang merah sangat manis kok!” Baro langsung kabur ke luar kelas sebelum kena amukan Haerin. Ia tidak tahan melihat pipi merah Haerin, saking manisnya ia sampai tidak tahan untuk tidak mencubit pipi itu.

“Nggaaaak! Kembali kau kesini!!!”

******

Gongchan berjalan masuk ke gedung sekolah sembari memasukkan tangannya ke saku, lalu mengecek loker sepatunya. Ia merasa sedikit terkejut, ketika menemukan benda yang terselip diantara surat-surat penggemarnya. Sebuah kotak hadiah. Rasanya sangat familiar.

“Hmph. Sudah lama tidak lihat.” Ia mengeluarkan kotak itu dari dalam loker, lalu mengecek isinya. Benar saja. Sekotak cookies yang aromanya sangat menggoda. Dan wangi vanilla yang khas menempel di kotaknya.

Diambilnya satu buah, lalu menggigitnya. Sementara mulutnya mengunyah makanan itu, matanya sibuk mencari sosok mungil yang pasti sedang bersembunyi di suatu tempat. Dan bingo, ia berhasil menemukannya.

“Hei, Rami.”

Rami tersentak kaget mendengar namanya dipanggil. Dengan takut-takut, ia keluar dari balik tembok dan memberikan cengiran lebar pada Gongchan.

“Kau rindu saat-saat masih jadi stalker, ya?”

“A—aku bukan stalker! Aku hanya secret admirer!” sergah gadis itu. Gongchan hanya tersenyum menyeringai, lalu berjalan mendekati gadis itu dan memberikan sebuah cookies langsung ke mulut Rami menggunakan tangannya. Dengan malu-malu, gadis itu memakan cookiesnya sedikit-sedikit.

“Enak?”

“A—aku tidak tahu… Bagaimana menurutmu…?”

Gongchan menggerakkan tangannya ke kepala gadis itu, lalu tersenyum lebar—dan sangat manis. Sangat mempesona. Sampai membuat Rami memerah melihatnya.

“Sangat enak. Terima kasih, sweet admirer.”

Fin.

Pendukung siapakah kalian? ChanMi? BaMi? Atau BaRin? :B

Di cover, Nayeul yang paling kiri yang blonde, Rami yang tengah, kalo Haerin yang paling kanan yang gayanya paling sporty!

Mind to leave your comment?😀

41 responses to “Your Secret Admirer (3/3)

  1. Akhirnya selesaaaaai!!!! \(^o^)/
    you now what?? aku sempet bngung kenapa tadi diawal rami ga muncul2..
    ternyata eh ternyata itu lg flashback ya? -,-a
    babo yah aku? haha..
    chanie akhrnya nemuin cintanya dr kegalauan (?) panjangnya yah fik.. haha..
    baro it serius ga sh suka sma haerin? -_- *banyak tanya Na!* ._.v

    • AKHIRNYAAAAA *nangisbahagia*
      iya itu lagi flashback, sengaja dibikin begitu supaya readers bingung sendiri:b /ditabok
      iya, chanie terlalu lama galau…
      baro? gatautuh, mungkin iseng dia :3 #jawabanmacamapa

  2. SEQUEL! SEQUEL!! SEQUEEEEL!!!!
    Masih penasaran sama ceritanya baro-haerin sama gongchan-rami._. Itu rami gongchannya jadian atau nggak sih sebenernya._.? Terus Baro haerin kan barengannya belom banyak. Jadi………….. SEQUEL SANGAT DIPERLUKAN FIKH~

  3. Tenang fik., aku ga akan minta squel,. karna ku tau utang ff mu bejubel.. :p
    baro cukup sama aku aja yah.. hae ri nya buang aja .. *ehh,. ._.v

  4. Tenang fik., aku ga akan minta squel,. karna ku tau utang ff mu bejubel.. :p
    baro cukup sama aku aja yah.. haerin nya buang aja .. *ehh,. ._.v

    • dia memang rapper unyu <:3 nanti aku main ke ycwb ya eonnn maap udah lama ga produce epep…
      ah masasih sweet?._.
      gomawo chan eonnieeee :* mana itu terusannya jidi? *todong pake jambul taeyang*

      • Ohw gpp. . . . Lgian t blog sepi naujubillah wkekeke. . . . Jd ntar2 aja ngepostny jg gpp :3
        terusan jidi?? #amnesia
        kmarn udh jd sih, udh d’jdwalin pula bwt terbit tp, b’hbung otak lg knslet lngsung d’buang k’tong sampah :d :d
        mngkn bakal d’buat lg bln dpan <== t'jngkit pnyakit mlas nulis
        m(_._)m cuma mau bca doank bwaanny #d'cipoktaeyang

      • Okedeeh ditunggu ajayaa :3
        ….
        KENAPA DIBUANG!?!?!? /lemparpakegaho cepetan lah eonn, aku udah gasabar mau baca T^T
        *langsungtariktaeyangpergijauhjauhdarieonnie*

  5. ohohoho *nutupin mulut pake tangan* ternyata di sini sudah kelar ya YSAnya kkkk~ ga perlu nunggu di ffindo lagi deh wakakakk~ AAAAAAAAA demi apa aku suka banget sama endingnyaaaaaa xD dan entah kenapa aku malah bersorak ria saat tau Haerin putus sama pacarnya.__. uyeee~ jadian ajalah sama Baro wakakakk~ aku gabakal minta sequel ko :3 segini aja udah bagus^ ^ sukaaaaa deh ngebayangin Gongchan meluk Rami dari belakang, dapet banget feelnya pas di situ :”) dan pandanganku terhadap Nayeul berubah… dia ga sepicik yang ada di bayanganku, dia dewasa juga sama kaya Haerin X) salut sama ff kamu yang ini fik^ ^ unsur (?) persahabatanya bener2 berasa, dari konfliknya, kebersamaan mereka hahhhh~ anak sekolahan banget ya pertemanan mereka :” nice ff *hug fikha*

    • udah kelar dari jaman kapan mungkin eonn… ho-oh, sudah availabe duluan disini dan di ifk :3 endingnya? oalaaah😄 nah orang putus ya… udah nanti juga ujung-ujungnya mereka jadian kok :3 yang pas gongchan meluk rami dari belakang ya? aku juga nulisnya sambil ngebayangin kaya di drama-drama gitu:’3 dia dewasa tapi pas bikin masalah otaknya masih anak-anak sejujurnya..:/ makasih eonnieee dari komenanmu aku tambah semangat :’D *hug back*

  6. Mian saeng aku baru baca fanficmu yang ini😦 #readergagal

    Karakternya Haerin keren > < Pas banget sama Baro-ku #lho
    Karena itu aku pilih BaRin!!! (^o^)
    Ih gemes baca epilog BaRin, jadi nyengir sendiri bacanya😀

    Hidup BaRin…!! *plak
    Kalau seandainya Haerin bukan OC mungkin aku sudah fans berat sama couple mereka hehe😀 entah kenapa aku lebih girang lihat mereka daripada ChanMi yang notabene cast utamanya.__. *peacee^^*

    Sekali lagi mian ya aku baru baca. ini juga detik-detik ujian bacanya._. #JANGANDITIRU!

    Berkarya lagi yaaa🙂

    • gapapa eonnieee santai ajah!😄

      BaRin!!! Baronya iseng imutimut tapi kadang serius, Haerin yang cerewet galak dewasa tapi malumalu itu butuh cowok kaya gitu X3
      iya, aku juga mau (kalo ada) ;_; aku juga pernah ngalamin itusih eonn, Milky Couple misalnya… ._. aku lebih suka mereka daripada taec-suzy ataupun soohyun-suzy ;A;

      Oalaah semangat ujiannya yaa eonnie! /o/ gomawo readmennyaa😄

  7. jadi intinya ini semua happy ending kan ?

    Baro-haerin , Gongchan-Rami dan Nayeul forever alone… hahaha #emangtaeyang -_-

    Ah~ Ini sweet !! banget malahan >< pas adegan haerin-baro aku sukaaa banget .. ng.. bingung mau bilang apa lagi … tapi ini nice ff Fikhaaa.. *lempar Zelo*

    • Happy ending~ ya kalo jumlahnya ganjil emang sepertinya takdirnya Youngbae sendiri… Atau Nayeul sama Taeyang aja? :B #heh #macemmacem

      Waaa gomawo eonnie~ BaRin emang cucok deh :b yang ff eonnie buat April Mop juga aku suka banget~

      *tangkep zelo*

      Ini kenapa tiap kali zelonya selalu dilempar-lempar sih-__-

      • Nayeul jangan sama Tae.. nanti kepala suku dan wakil kepala suku kita bisa melakukan perang dunia ama si Nayeul .. haha😀

        ia , aku lebih suka si BaRin ketimbang si BaYeul..lebih lucu-lucu gimana gitu..

        Kamu suka ff April mop ? Padahal aku bikin itu dalam keadaan galau ria senang (?) tapi gak disangka kamu suka ><

        Zelo itu emang cocok dilempar-lempar , abisnya muda banget.. #ganyambung -_-

      • Ohiya… kasian Nayeulnya, berhubung kepala suku dan wakilnya itu sangar banget-_-v

        ya kalo BaYeul itu… sepertinya ngga lucu…

        iya, aku suka, apalagi pas bagian Seungri :3

        Nah… Tapi dia gasampe dua taun beda umurnya sama aku, jadi nikah boleh lah :33

    • astaga.. udah ngomongin nikah aja -__-

      ingat umur..ingat umur.. masih sekolah.. fikhaaa… ck,ck,ck, Zelo pan seumuran aku .. tapi beda bulan.. kyaa.. kenapa dia jadi dongsaeng aku😐

      • Hm-hm uhuk. . . Uhuk. . . (Keselek ekor gaho)
        masa saia yg baik hati ini mau berperang sm si nayeul #ngasahgolok
        gak mungkin =3= plg tawuran b’jamaah sm si goya nyahahahaha. . . . .
        Fikha. . . . . Driku tdak semenyeramkan itu loh #smirk

      • Jangan diajak tawuran, Nayeul kan lemah lembut tanpa perlawanan :3 mending ajak tampar-tamparan ajah~
        Sayangnya saya tidak percaya..

  8. bersyukur akhirnya Nayeul pergi ,terus Gongchan sama Baro berbahagia .. horeee !!

    keren nih keren… ! daebak uhuy ! unyu !😄 suka alurnya,suka tokoh2nya, suka semuanya fikhaa >_<

  9. Ayo dong sequelnya :p #maksa
    Gak nyangka endingnya gini. Baro sama Haerin…? Ah mimpiku terwujud(?).. TT TT

    Dari awal aku udah khawatir pas baca Haerin udah punya cowok. Alhamdulillah deh mereka putus, makasih author😀

    Ngg kalau harus jujur ya aku lebih suka poster di chapter sebelumnya. Posternya bagus semua lho! Cuma mungkin aku lebih terobsesi sama poster sebelumnya yang aduhai maniss banget >.<
    Sumpah author aku suka banget poster yang kebanyakan putihnya(?) itu😀

    Kalau chapter ini posternya juga keren. Secara gitu ada Baro hehe🙂

    Last chapter keren deh. Ayo tingkatkan fanfic B1A4nya author😀

    • Huumm berarti ceritanya BaRin yaa :p
      Ah syukurdeh:”D

      Ahahah padahal itu hasil gagal >w< tapi Alhamdulillah deh kalo disukaiin hehe :'D iya, awalnya ceritanya mau difokusin ke Rami-Gongchan doang, tapi kepikiran perannya Baro-Nayeul-Haerin jadi mau masukin mereka jadi main cast juga deh hehe😀

      Hehe okedeeeh :3

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s