Double Super Love! (2/4)

doublesuperlove!

PART.1 | PART.2

Heechul meminum air mineralnya dan menatap Mir, Wooyoung, dan Junho bergantian. Ketiga anak itu sudah memasang telinga dan menatapnya serius. Setelah menutup botol, ia mulai mengambil napas dan bercerita. 

“Jadi, dulu itu Taeyeon baru masuk kelas satu, kalau nggak salah satu A. Aku dan Leeteuk di tiga B. Taeyeon itu sebenarnya anak vocal group, tapi vocal group saat itu terlalu banyak anggota dan jadinya ada yang harus keluar, termasuk Taeyeon. Nah, Taeyeon itu bersahabat dengan yang namanya Tiffany. Tiffany ini suka sekali dengan film-film cheerleader. Setelah menonton, Taeyeon punya ide untuk mendirikan klub cheerleader sendiri, dengan bantuan Tiffany. Segala cara halal mereka lakukan agar kepsek setuju, dan Teukie yang melihat hal itu terharu dengan perjuangan keras Taeyeon sampai ingin membantunya. Dari situlah mereka bisa dekat.” Jelas Heechul.

Flashback

Nde? Kau mau membantuku? Mianhae, kamu siapa ya?” tanya Taeyeon, pada seorang pemuda yang tiba-tiba muncul di hadapannya dan menawarkan bantuan padanya.

“Namaku Leeteuk,” jawab pemuda itu dengan ceria. “Kelas tiga B, kapten klub sepakbola. Idemu bagus, dan kelihatannya klub sepakbola memang perlu gadis-gadis manis yang mau menyemangati mereka setiap latihan.”

“Cheerleader bukan untuk main-main seperti itu!” sergah Taeyeon seraya menggelengkan kepalanya. “Aku tahu maksud Oppa baik, tapi–”

“Kalau begini terus, kepsek nggak akan setuju loh? Aku cukup disegani kok, lagipula kamu masih kelas satu. Biarkan aku membantu ya? Ya? Ya ya ya?” paksa Leeteuk. Ia memasang wajah memelas. Taeyeon tidak ada pilihan lain dan terpaksa mengangguk. “Oke! Kamu kumpulkan saja calon-calon gadis manis itu, biar urusan izin aku saja yang urus!” seru Leeteuk, lalu segera berlari meninggalkan Taeyeon yang belum sempat menjawab.

******

Lusanya

“Jeng jeng jeng!!” seru Leeteuk sambil menunjukkan surat keterangan izin mendirikan klub yang sudah ditandatangani kepsek dan ketua komite. “Gimana? Gampang, kan?”

“Bagaimana Oppa bisa mendapatkannya…?” Taeyeon memasang ekspresi tidak percaya.

“Ayah Leeteuk Oppa teman kepala sekolah SMA Samyang, kan?” tanya Tiffany yang sedang duduk di sebelah Taeyeon. Leeteuk mengangguk dengan wajah bangga.

“Ah… bagaimana aku harus membalasnya? Habisnya izin dengan memanfaatkan kedudukan orang tua, kan…” Taeyeon nampak ragu. Tetapi Leeteuk langsung membelai kepalanya dengan lembut.

“Sudah, jangan banyak bicara. Bekerja keraslah mulai dari sekarang!” Leeteuk mengedipkan matanya, lalu bersenandung dan meninggalkan mereka.

Omo, Leeteuk Oppa nampaknya menyukaimu?” celetuk Tiffany dengan wajah jahil. Sedangkan Taeyeon hanya mencibir. Wajahnya memerah.

Aigoo, sudahlah! Semuanya, hari ini kita akan mulai dari gerakan dasar! Fany, ajarkan kami ya!” perintah Taeyeon, lalu mereka mulai berlatih. Anggota awal ada 15 orang, semuanya masih kelas 1.

******

Awal musim panas

“Taeyeon~” Leeteuk berlari menghampiri gadis-gadis cheerleader yang sedang berlatih dengan wajah riang. Taeyeon hanya menoleh dan memasang wajah bete.

“Ada apa, Oppa? Baru saja kami selesai latihan.” Ujar Taeyeon. Leeteuk hanya mengangguk dan menunjuk sebuah motor besar.

“Motor baruku~ akhirnya dapat juga! Pulang dengan naik itu, yuk?” ajak pemuda itu. Taeyeon hanya memandangnya aneh.

“Kamu punya SIM? Aku nggak mau naik kalau nanti akhirnya ditilang.” Tolak Taeyeon ketus. Leeteuk menatap gadis itu sambil terkekeh geli dan menunjukkan SIMnya.

“Hmm… Apa ada jaminannya aku akan selamat?” tanya Taeyeon, membuat alasan.

“Kau meremehkanku?” balas Leeteuk, membuat Taeyeon langsung panik.

Mwo? Tidak!” sergah Taeyeon. Sebelum gadis itu dapat meneruskan kata-katanya, Leeteuk sudah menarik tangannya.

“Kalau begitu ayo naik!” perintah Leeteuk dengan wajah riang. Taeyeon tidak bisa menolak karena Leeteuk sudah membuatnya duduk di atas motor dan motor sudah terlanjur berjalan dengan kencang.

“Dimana rumahmu!?” teriak Leeteuk. Taeyeon hanya menunjuk arah lurus dengan jari telunjuknya.

Sedang asyik-asyik ngebut, tiba-tiba motor berhenti mendadak, membuat kedua orang itu hampir terlonjak dari tempat mereka. Melihat itu, Leeteuk segera turun dan mengecek motornya. Sedetik kemudian, ekspresinya berubah menjadi panik.

“Kenapa?” Taeyeon ikut turun dari motor dengan tatapan penasaran, dan Leeteuk menoleh padanya dengan ekspresi memelas.

“Bensinnya habis..” katanya, membuat Taeyeon menghela nafas panjang.

“Lalu bagaimana nih?” Taeyeon memandangi motor berwarna merah itu dengan tatapan bingung. Sudah keren-keren tapi mogok, jatuhnya tetap saja kere. Roman wajah yeoja itu sudah sedikit kesal. Leeteuk tersenyum pasrah dan membentuk tanda peace dengan jarinya.

“Bantu aku mendorong.” Pintanya sambil berusaha mendorong motornya. Taeyeon memasang ekspresi terkejut saat mendengarnya.

Mwo? Aku ini yeoja, lho! Masa kamu minta bantuan yeoja untuk mendorong motor besar itu? Besar berarti berat, kan? Cari bantuan lain saja!” tolaknya mentah-mentah.

“Sudaaah, bantu saja!” Leeteuk mendorong Taeyeon dan menunjuk-nunjuk motor agar Taeyeon membantunya, dan terpaksa Taeyeon mendorong motor itu dengan dibantu Leeteuk. Gadis itu terus merutuk dalam hati.

“Mengesalkan! Makanya aku tak mau pulang naik ini!” gerutu Taeyeon geram. Leeteuk hanya bisa terkekeh geli lalu mencubit pipi gadis itu.

“Jangan ngambek doong~”

Taeyeon mengabaikan Leeteuk dengan mulut yang masih cemberut. Gadis itu mendorong dengan ogah-ogahan, sampai tiba-tiba Leeteuk tersandung dan jatuh.

“HAHAHAHAHAHAHA!!! Kamu tidak hati-hati sih~” tawa Taeyeon. Saking gelinya, ia sampai harus menahan perutnya yang sudah terasa sakit. Leeteuk yang melihat respon gadis itu—bukannya kesal, malah tersenyum senang.

“Naahh, sekarang sudah senang kan? Ayoo dorong lagi!” perintah Leeteuk, lagi. Kali ini Taeyeon hanya bisa tertawa kecil, lalu membantu Leeteuk kembali. Mereka sibuk bercanda tawa sampai tanpa sadar sudah sampai di rumah Taeyeon.

Flashback end

“… Sejak itu, Taeyeon benar-benar jatuh cinta pada Teukie. Kalau Teukie sih sudah dari dulu. Mereka jadian saat musim gugur, saat itu Taeyeon dilabrak oleh anak kelas 3 fansnya Teukie, dan Teukie menolongnya.”

Flashback

Yoboseo. Eeteuk Oppa?” jawab sesosok gadis—Tiffany, dari seberang telepon.

Yoboseo? Tiffany-ssi, Taeyeon dimana, ya?” tanya Leeteuk sembari mengatur nafasnya. “Taeyeon tiba-tiba menghilang.”

“Taeyeon?! Ah, aku tak tau! Memangnya dia menghilang dimana??” Tiffany yang mendengarnya langsung mendadak panik. Kemana sahabatnya itu!?

“Taeyeon bukannya tadi dibawa oleh kakak kelas 3-B ya? Kumpulan yeoja itu?” sahut salah seorang anggota cheerleader.

“Iya, ke taman belakang, kan?” timpal yang lainnya. Mendengar itu, Leeteuk langsung menutup telepon dan kembali berlari ke taman belakang. Ia panik. Apa yang gadis-gadis yang suka histeris itu lakukan pada Taeyeon?

Taman belakang

“Jangan mentang-mentang Leeteuk baik padamu jadi kau bisa memperlakukannya semaumu, ya!” bentak salah satu gadis. Taeyeon hanya diam.

“Memangnya kau pantas jadi kekasih Leeteuk? Jangan mimpi deh!” seru yang lainnya. Taeyeon spontan menatap gadis ini tajam.

“Memangnya eonnie sendiri juga pantas?” ujar Taeyeon dengan nada sarkastik—membuat gadis-gadis di hadapannya marah.  Salah satu gadis yang berdiri di depan Taeyeon mengarahkan pukulan ke wajah Taeyeon, namun tiba-tiba seseorang menghentikan gerakan gadis itu.

“Hentikan, cewek-cewek bodoh! Kau apakan Taeyeon!?” teriak Leeteuk sangar. Gadis-gadis itu panik dan segera kabur. Leeteuk mengatur nafasnya kembali dan menatap Taeyeon. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.

Sebulir air mata keluar dari pelupuk mata Taeyeon. “Jangan bodoh… Aku takut sekali…” isaknya seraya menghapus air matanya.

Leeteuk menatap gadis itu lekat-lekat dan menghapus air matanya. Sampai pada akhirnya, ia memberanikan dirinya untuk mengecup kening gadis itu lembut. “Ah… Aku menyayangimu, Taeyeon-ah…” gumamnya—pelan, namun menenangkan. Taeyeon hanya memasang ekspresi kaget, wajahnya memerah. “Apa kamu… Juga merasa begitu?”

Taeyeon tidak bisa berbicara apa-apa. Mulutnya seperti terkunci, dan yang ia bisa hanya menunduk dan mengangguk. Leeteuk tersenyum lega dan memeluk gadis itu erat-erat. Aku tidak berniat untuk melepaskanmu lagi, batin pemuda itu.

Flashback end

“Nah, setelah itu, mereka pacaran dengan bahagianya. Aku menggoda Taeyeon saja Teukie langsung menendangku. Tapi… Berhubung anak orang kaya, ayahnya pasti melarangnya memacari gadis biasa dan menyuruh Teukie fokus untuk mengurus perusahaan. Kalau dia tidak mau, ayahnya Teukie akan minta ke kepsek agar klub cheerleader dibubarkan. Sedangkan sekolah tak mungkin mengeluarkan murid berprestasi seperti Taeyeon begitu saja. Teukie bilang dia akan membereskan masalah itu, tapi Taeyeon tidak rela membiarkannya menderita. Akhirnya ayah Teukie memberikan pilihan, dia tidak akan memaksa Teukie kalau Taeyeon memutuskan hubungannya.”

Flashback

“Taeyeon!” seru Leeteuk. Dengan wajah riang dia menghampiri Taeyeon yang sedang duduk sendirian di atas bukit. Sudah lama mereka tak bertemu dan dia ingin sekali melepas rasa rindu. “Mau bicara apa?”

Taeyeon menoleh pada Leeteuk dan menghela nafas. Wajahnya sedih dan muram. Dengan memberanikan diri, akhirnya dia mulai membuka mulut. “Teukie… Kita… Putus saja, ya?”

Mendengar hal itu, Leeteuk langsung nampak sangat kaget. “Kenapa? Kalau masalah itu, aku bisa membereskanny––”

“Aku tak mau terus-terusan melihatmu menderita!” seru Taeyeon. Dia mulai menangis. “Kamu bilang bisa membereskannya, tapi tetap saja, Teukie selalu saja yang menderita, sedangkan aku hanya disuruh menunggu sampai semuanya kembali normal, itu membuatku lelah..”

“Tapi, Taeyeon..” Leeteuk menatap Taeyeon dengan mata berkaca-kaca. “… Aku menyayangimu.”

“… Aku juga…” ujar Taeyeon seraya menahan tangisnya. “Tapi cinta yang terus-terusan menderita begini, sama sekali tidak membuat kamu bahagia.”

“Bersama kamu saja sudah cukup.” lirih Leeteuk,pemuda itu. Matanya memperhatikan lekat-lekat Taeyeon yang sudah menangis deras. Air mata keluar dari pelupuk matanya. “Aku akan bilang pada ayahku, aku benar-benar menyayangimu.”

“Teukie!” teriak Taeyeon.

“Aku ingin menikahimu setelah kamu lulus!” seru Leeteuk, membuat Taeyeon hanya diam dan masih terus menangis. “Aku sudah benar-benar menyayangimu, Kim Taeyeon.. Menikahlah denganku..:

Taeyeon hanya bisa terus menangis, lalu mengangkat wajahnya. “Aku tak bisa membuatmu bahagia, Teukie… Aku tidak bisa…” gumamnya, lalu berlari meninggalkan Leeteuk.

Leeteuk hanya diam membisu, menahan seluruh kesedihan yang tertanam dalam lubuk hatinya.

Ia masih terus menangis.

Flashback end

“… Dan begitulah. Masalah sudah reda, tapi tetap saja mereka tak bisa seperti dulu lagi. Aku tahu pasti masih ada perasaan yang tertinggal di hati mereka masing-masing. Keajaiban kalau kau bisa mengubah hati Taeyeon.” Tambah Heechul, menurup ceritanya yang panjang.

Anggota klub sudah mulai berdatangan. Mir masih duduk di lantai dan terdiam, sementara Junho dan Wooyoung hanya bisa menatap sahabat mereka ini dengan tatapan cemas.

“… Aku harus bisa membahagiakan eonnie.” Tekadnya.

******

Mwo? Kau suka Leeteuk Oppa?” Hyorin nampak kurang percaya. “Tumben kau bisa suka dengan cowok yang tidak imut begitu!”

“Aah, dia itu imut secara tidak langsung!” seru Suzy dengan nada semangat. Wajahnya ceria dan senyum lebar menghiasi wajahnya.

Sekarang ini ternyata vocal group tidak ada kegiatan, makanya Suzy dan IU pergi ke tempat marching band untuk melihat Hyorin yang berperan sebagai majorette. Mau menjadi majorette atau tidak Hyorin tetap saja cantik dan kharismanya membuat iri.

“Suzy suka Leeteuk oppa yang itu? Wali kelas kita sementara?” tanya IU polos, sedangkan Suzy menjawabnya dengan anggukan berkali-kali.

“Dia baiiiik sekali. Orangnya lucu dan lembut. Mungkin ini yang namanya cinta sebenarnya ya, soalnya meski bukan tipeku tapi dia berhasil membuatku jatuh cinta!” seru Suzy dengan nada yang ditinggikan. Hyorin hanya mengangguk-angguk dan berlatih melempar tongkat majorettenya. Gadis itu malas untuk menanggapi lebih jauh.

“Oh, yang di seberang sana klub rcheerleader ya? Ternyata di dekat lapangan juga ya..”  IU menyipitkan matanya.

“Yah dekat dengan lapangan karena itu bisa dengan mudah melihat klub sepakbola latihan. Kau kesini untuk melihat Leeteuk kan, bukan untuk melihatku?” tebak Hyorin dengan nada ketus—seperti biasa, dan Suzy hanya nyengir dan membentuk tanda peace dengan jarinya. Matanya kembali memperhatikan klub sepakbola latihan. Tepatnya, pelatihnya.

“Kamu memanggil Leeteuk oppa tanpa tambahan apa-apa, Hyorin?” menyadari kata-kata Hyorin tadi, Suzy melirik tajam pada Hyorin yang masih sibuk latihan.

“Hm? Memangnya kenapa? Toh bukan di depan orangnya langsung, kan?” jawab Hyorin, dengan nada santai.

“Hmpf, kalau karena Jaebeom oppa saja ekspresimu jadi polos begitu. Gampang senyumlah, gampang nangislah, ngomongnya lembut-lembutlah..” gerutu Suzy. Tiba-tiba sebuah bola menggelinding ke dekat kakinya, dan sesosok familiar berjalan dan mengambil bola itu.

“Oh, mian Suzy-ssi,” ujar orang itu––Leeteuk, dihiasi senyumannya yang manis.

“A—ah, gwenchana…” gumam Suzy pelan. Wajahnya merona. Setelah Leeteuk menjauh, Suzy langsung memeluk IU dan berteriak histeris, menunjukkan bahwa dirinya benar-benar senang. Hyorin yang melihat tingkah gadis itu hanya bisa menghela nafas.

“Ah, cheerleader sedang membentuk pyramid!” IU menunjuk ke klub cheerleader yang sedang berlatih di seberang lapangan. “Yang jadi topnya Taeyeon eonnie ya? Cantik sekali…”

“Ah benar. Eonnie memang sangat sempurna, ya… Yang jadi pacarnya pasti bahagia sekali.” Suzy menimpali, dengan ekspresi kagum. Hyorin memperhatikan kedua sahabatnya ini dengan tatapan kasihan.

“Dulu dia punya pacar, tapi putus dengan menyedihkan. Orang tua pacarnya tidak merestui mereka, dan Taeyeon eonnie juga tidak tahan.” Tiba-tiba Hyorin bercerita, membuat Suzy dan IU spontan menengok padanya. “… Kata temanku.”Buru-buru, Hyorin menambahkan.

“Begitukah? Ahh kasihan eonnie…” gumam Suzy. IU mengangguk setuju.

Hyorin hanya diam memperhatikan mereka, kemudian melirik ke arah Leeteuk yang sedang sibuk melatih klub sepakbola. ia menghela nafasnya, dan kembali fokus berlatih. Cuek? tidak juga, dia hanya malas untuk mengurusi hal yang ujung-ujungnya tidak penting.

The Next Day

Annyeong!” sapa Leeteuk dengan ceria di depan kelas. Semua mata tertuju pada guru yang catchy itu. “Kalian dapat teman baru!! Mana tepuk tangannyaaa??” teriak Leeteuk dengan heboh.

Semua murid bertepuk tangan, dan seseorang yang sangat-sangat familiar masuk ke dalam kelas. Suzy, IU, Hyorin, Wooyoung, Junho, dan Mir langsung kaget saat melihat sosok orang itu.

Ne, annyeong haseyojoneun Yang Yoseob imnida. Dari kalian mungkin ada yang sudah tahu, karena dulu aku bersekolah di SMP Samyang.” Kata orang itu, mengenalkan dirinya. Wooyoung segera memegang tangan IU.

“Baiklah, Yoseob-ssi, kamu duduk di sebelah Suzy. Ng… Suzy, bisa kamu––”

“Ah, tidak usah seonsangnim, aku sudah tahu orangnya yang mana.” Yoseob mengulum senyumnya, lalu segera mengambil tempat di sebelah Suzy.

“Annyeong, Suzy-ya!” sapa Yoseob akrab. Dan Suzy hanya diam dan mengangguk. Sekarang Yoseob makin tinggi dan tampan, tapi tampangnya masih tetap imut. Benar-benar tipe ideal bagi Suzy.

“Hei, kau ngapain pindah kesini lagi?” tanya Wooyoung dengan tatapan tidak suka. Yoseob menatap tingkah laku pemuda itu yang seperti sedang menyembunyikan IU, lalu terkekeh geli.

“Ahahahah tenang saja Wooyoung-ah, aku sudah tidak suka pada IU. Kalian sudah dua tahun, ya? Aku bukan perusak hubungan orang yang sedang pacaran~” Yoseob masih tertawa dengan wajah ceria.

“Yoseobie? Apa kabaaaar~” Mir tiba-tiba nimbrung dalam pembicaraan dan mengajak Yoseob untuk berhigh-five.

Aigoo Cheolyongie? Baiiiikk~” Yoseob membalas high five dari Mir. Mereka nampak sangat akrab.

“Yang Yoseob ini tipemu, kan?” Hyorin tiba-tiba berbisik pada Suzy yang duduk di depannya, dan Suzy hanya memukulnya serta menyuruh gadis itu supaya diam.

“Ah kalian sudah akrab? Baguslah~” ujar Leeteuk, lalu meneruskan penjelasannya. “Nah, kita harus berjuang untuk festival! Kalian tak akan mengecewakan aku saat waktu uji cobaku selesai, kan?” serunya. Semua murid menjawab dengan semangat.

Leeteuk terus memotivasi dan mendorong murid-muridnya dengan semangat membara, begitu juga respon murid-murid kelas 2-A yang tak disangka positif. Semua murid juga berusaha melakukan yang terbaik untuk memberikan kenangan indah bagi Leeteuk di sekolah ini.

Jam Istirahat

“Ah… Oh iya, selesai festival oppa akan pergi…” gumam Suzy dengan nampak agak lesu, setelah Leeteuk keluar kelas. Yoseob memperhatikan yeoja itu, lalu bolak-balik menatap Leeteuk dan Suzy secara bergantian.

“Suzy-ah, kau suka orang itu?” tebak Yoseob, membuat Suzy langsung panik.

Mwo?! … Ne, lagipula oppa masih 20 tahun kok!” Suzy mulai salah tingkah, dan Yoseob meresponnya dengan sebuah anggukan dan tersenyum manis.

“Jangan begitu, Suzy-ah~ Aku cuma bercanda kok.”  Canda Yoseob seraya tertawa jahil. Suzy cemberut dan memukul lengan Yoseob, dan Yoseob tertawa lalu mengusap kepala Suzy. Jantung gadis tu terasa agak deg-degan. Sudah lama bertemu, wajar saja Yoseob jadi kelihatan lebih tampan dan lebih bersinar dari sebelumnya. Kalau saja ia tak bisa menahan kemauannya, bisa saja sedaritadi pipi pemuda itu sudah ia cubit.

“Wuaaah kau sekarang berubah jadi cowok beneran, Yoseobie!” Junho ikut-ikutan masuk ke dalam pembicaraan itu, takjub saat melihat Yoseob yang berubah jadi lebih cowok dari saat SMP dulu.

Ne, jadi sekarang kau mengincar Suzy? Jauh loh, IU dan Suzy. Meski sama-sama mukanya polos.” Canda Mir, membuat Suzy langsung melirik tajam padanya.

“Kalau cewek 6bestfriends kan mukanya memang polos semua…” sambar Wooyoung sambil melirik IU, Suzy, dan Hyorin secara bergantian. “… Tapi galak galak, kecuali IU.” Tambahnya. IU langsung malu-malu sedangkan Hyorin membalas perkataan pemuda itu dengan melempar buku tulis tepat ke kepala Wooyoung.

“Yoseob-ssi, kalau kau mau main saja sama kami.” Ajak IU, dengan senyumannya yang manis. Yoseob menoleh padanya dan mengangguk sembari tersenyum lega.

“Oh iya, siapa maksudmu yang kau sukai itu, Suzy? 20 tahun?” tanya Mir tiba-tiba. Feelingnya mulai terasa tidak enak.

“Kalian tahu orangnya. Leeteuk Oppa.” Jawab Suzy dengan santainya. Dia mendadak excited. “Dia orang yang baik dan lembut!” tambahnya. Mir, Wooyoung, dan Junho saling berpandangan, sedangkan Hyorin hanya menutup wajahnya dengan buku.

“Orang itu… Kenapa kau bisa suka sama dia?” tanya Mir, mulai berkeringat dingin.

“Kenapa memangnya?” Suzy memasang ekspresi bingung, dan secara spontan Junho dan Wooyoung menutup mulut Mir.

“Mireu hanya aneh kau bisa suka sama orang yang jauh dari tipemu kok! Itu saja! Hahahahaha hahaha haha..” Junho memberi alasan yang benar-benar maksa—seperti biasa. Ia lalu menarik Wooyoung, Mir, dan Yoseob keluar kelas sebelum hal-hal yang diinginkan terjadi. Suzy-IU hanya bisa melongo dan Hyorin terdiam tanpa berani bicara banyak.

Atap sekolah

“Bodoh! Kau jangan bicara begitu, dong! Namanya kau ingin langsung menghancurkan hatinya!” seru Wooyoung, kelabakan.

“Tapi Wooyoungie, kalau tidak diberitahu secepatnya kasihan juga Suzy. Cepat atau lambat dia akan tahu kalau Leeteuk hyung itu nampaknya masih menyayangi Taeyeon noona.” Ujar Junho dengan lirih. Yoseob hanya memandang mereka dengan tatapan bingung, tidak tahu topik pembicaraan ini.

“Ah iya, Junho-ya, jelaskan ke dia.” Perintah Mir sambil menunjuk Yoseob. Dan dengan perlahan Junho menjelaskan dari awal sampai akhir pada Yoseob.

“Ah… begitu rupanya.” Yoseob mengangguk-angguk sebagai tanda ia mengerti, setelah mendapat penjelasan singkat padat jelas dari Junho. “Lalu, apa yang mau kau lakukan, Mireu?”

“Kalau masalah itu aku juga bingung, kalau aku bilang tak mau membantu Suzy, dia bisa curiga macam-macam, tapi aku juga ingin membahagiakan eonnie. Satu-satunya hal yang bisa membuat eonnie bahagia adalah membuat dia bisa bersama Leeteuk hyung lagi.” Ujar Mir sambil menghela nafasnya. Junho, Wooyoung, dan Yoseob menepuk pundak pemuda itu.

“Kami mendukung apapun keputusan yang kau ambil.” Ujar Wooyoung. Junho dan Yoseob mengangguk setuju. “Cuma hati-hati ya Cheolyongie… Setiap kau butuh bantuan…” Wooyoung mengangkat ponselnya dan menggoyang-goyangkannya. “Katakan pada kami.”

Mir tersenyum dan mengangguk.

Kemudian, Mir memilih turun dari atap duluan, dan tak sengaja ia bertemu Taeyeon di ujung tangga.

“Ah, Cheolyong.” Sapa Taeyeon, ia tersenyum ramah.

Eonnie…” Mir memasang ekspresi serius, lalu melangkah tepat ke depan Taeyeon. “… Apa kebahagiaan yang eonnie inginkan?”

“Hm? Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang itu?”

“Jawaaaab.” Paksa Mir dengan nada manja, membuat Taeyeon hanya bisa menatapnya dengan pandangan aneh.

“Kamu kenapa? Sakit?” Taeyeon ikut memasang ekspresi serius, dan dengan cemas ia mengecek suhu tubuh Mir lewat dahinya.

Aniyo. Eonnie…” gumam pemuda itu lagi. “Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu bahagia?”

Taeyeon yang mendengar pertanyaan itu tersenyum dan menarik ujung bibir Mir perlahan. “Cukup tersenyum dan tetap bersemangat, seperti Cheolyong yang kukenal. Jangan cemberut begini, aku tidak suka.” Ujarnya sembari mengulas senyuman manis, lalu berjalan pergi. Mir hanya menatap kepergian noonanya itu dengan terdiam.

19.30PM, lapangan sepakbola

Gomawo semuanya, hati-hati di jalan ya.” Taeyeon melambaikan tangannya pada anggota klub cheerleader yang sudah berjalan pulang. Mereka melambai balik.

“Kita juga pulang, yuk?” ajak Tiffany sambil memijit badannya yang pegal, sedangkan Taeyeon tersenyum dan mengangguk.

Taeyeon merapikan barang-barangnya, lalu tanpa sengaja melihat Leeteuk yang tengah duduk sendirian di bangku yang ada di samping lapangan.

“Tunggu sebentar,” pinta Taeyeon pada Tiffany yang sedang beberes dengan pengurus klub lainnya, lalu melangkah pelan menuju tempat Leeteuk duduk.

Annyeong.” Sapanya, lalu mengambil tempat di sebelah Leeteuk.

Annyeong. Tumben kamu menyapa duluan?” canda Leeteuk seraya tertawa ringan, Taeyeon ikut tersenyum. Dua-duanya menatap lapangan dan bernostalgia, teringat saat masa-masa dua tahun lalu.

“Dulu…” Leeteuk memulai pembicaraan. “Kamu ada disitu, ya. Masih Taeyeon si murid kelas satu, semangatnya berapi-api dan selalu tertawa ceria.” Katanya sambil menunjuk pinggir lapangan tempat klub cheerleader berlatih.

“Kamu juga,” balas Taeyeon, tidak mau kalah. “Kamu masih berlari di lapangan ini, memimpin klub sepakbola, kekanakan dan bersemangat.”

“Kenapa dalam waktu dua tahun saja kita cepat berubah, ya?” gumam Leeteuk sembari menatap langit.

“Itulah manusia.” Jawab Taeyeon, ikut menatap langit. Leeteuk hanya tersenyum dan menatap wajah bening gadis itu.

“Tapi kenapa perasaan kadang susah untuk berubah, ya?” ujar Leeteuk, membuat Taeyeon terdiam. Gadis itu hanya berani melirik. Detak jantungnya berisik, persis seperti bunyi drum. Dalam hatinya, ia masih merindukan sentuhan kasih sayang yang Leeteuk berikan padanya dahulu. Ketika mereka berdua masih bersama-sama tersenyum bahagia.

******

“Aaaah akhirnya selesaaai!” Yoseob merenggangkan tubuhnya setelah selesai beres-beres untuk festival. “Ah gila, malam-malam begini baru selesai. Mana aku baru pindah lagi.” Keluhnya. Junho, Wooyoung, dan Mir mengangguk-angguk setuju.

Junho dan Wooyoung berjalan duluan, sampai di sekitar lapangan sepakbola, mereka mendadak langsung panik. “Mireu! Balik arah yuuk tiba-tiba aku ingin makan!” seru Junho, seperti biasa alasannya selalu maksa.

“Ha? Dari sini kan juga bisa.” Tolak Mir, lalu memperhatikan lapangan sepakbola. Kenapa teman-temannya itu tiba-tiba panik setelah melihat lapangan? Ada hantu?

Yoseob langsung menyadari keanehan yang terjadi, tapi tak tau harus berbuat apa. Mau menutup pandangan Mir juga, sudah terlambat.

Mir terlanjur melihat Leeteuk dan Taeyeon di bangku pinggir lapangan. Dua-duanya diam, tapi terlihat aura yang berbeda. Taeyeon tersenyum, meskipun sedih, tapi dia belum pernah melihat senyuman yang seperti itu.

“… Memang kebahagiaan eonnie ada disana.” Gumam Mir. Terdengar pilu—dan menyakitkan. Dadanya terasa begitu sesak, meski ia tahu ini akan terjadi.

“Mireu… Kau masih punya kami.” Kata Junho meyakinkan. Wooyoung dan Yoseob mengangguk setuju pada perkataan Junho.

“Aku tidak apa-apa. Eonnie tidak suka melihatku cemberut.” Ujar Mir lagi, sambil tersenyum—meski kelihatan sekali bahwa senyumannya dipaksa. Ia berjalan pulang sendirian. Wooyoung dan Junho mau mengejarnya, tapi Yoseob menahan mereka.

“Biarkan dia sendirian.” Ujar Yoseob. Junho dan Wooyoung mengerti, dan yang mereka lakukan hanya bisa menatap Mir yang sudah menjauh.

Baru kali ini, Mir jatuh cinta.

To be continued

******

Sebenernya sih boong banget Mir baru jatuh cinta. Semua cewek kan diludes sama dia==” /dilindesMir

Ini bener-bener termasuk FF lama. Butuh rombak di sana-sini supaya ini bener-bener keliatan kaya tulisan yang bener (dikit), bukan yang acak-acakan=A= makasih yaa udah mau baca😀 Mind to leave your comment?:)

8 responses to “Double Super Love! (2/4)

  1. Wkwk, pertama kali jatuh cinta? booohooong -______-
    AAA FIKHA!! Suka sih sama karakter Mir disini, cuma kurang bersemangat dan kurang senyum :p .

    Aku pikir mir bakal jadi Main Cast taunya bukan wkwk, itu Mir aku kira bakal suka sama Suzy, taunya sama Taeyeon -.- <– salah mulu/dikepret. Apalagi ya? aku binggung mau komentar apa, but over all daebak kok! Memang ini beda banget sama tulisan kamu yang sekarang😀 tapi ttp bagus ^^ .

    Terus berkarya🙂

    • emang bohong banget kalo mir baru pertama kali jatuh cinta… sampe anak kecil aja disukain sama dia=.=
      iyasih, dia ngedown garagara Taeyeon ;p

      Mir main castnya kok, kan main castnya ada 5 :3 #banyakamat uh… Suzy cuma bisa kubuat dengan Yoseob=A= iya, si Mir bukannya tipe idealnya *dulu* Taeyeon ya? Ah diamah suka sama banyak cewek==” iyaa, ini tulisan yang lama aku perbaikin. tapi karena kalo kurombak semuanya malah capek, jadi mendingan apa adanya, deh :3

      terimakasih eonnieee /o/

  2. Pingback: Double Super Love! (3/4) « Cappuchino In Your Life·

  3. Kok aku pen nangis ya meratapi nasib My baby Mir :”
    Sabar aja, selain ada Wooyoung, Junho, Yoseob, dll. Bang Mir masih punya saya. Aok aok:v
    Bagus ><

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s