The 3rd Dimension (3/?)

the3rddimension

one has been eliminated. What about the others? 

******

Chapter 3: Maknae’s Decision

Another strange place, unknown time

Gongchan POV

“AAAAAAAAAAAA!!”

BRAK!!

“Aish…” aku terjatuh di atas dataran tanah yang keras, rasanya bokongku sakit sekali. Entah ini apa, yang pasti benda ini rasanya seperti menghancurkan bokongku.

Tiba-tiba rasa sakit itu hilang saat kuedarkan tatapanku ke sekeliling. Aku terjatuh di sebuah hutan, di ujung sana aku bisa melihat kalau ada lautan luas yang aku sendiri tidak tahu ujungnya. Aigoo, dimana lagi ini?

“Selamat datang. Kamu anak paling muda?”

Gongchan spontan menoleh, nampak sesosok anaklelaki. Wajahnya kurus dan tulang pipinya nampak jelas, matanya bulat dan besar, tipikal anak kecil biasa.

“Bukannya kamu yang paling muda?” kataku, membandingkan wajah dan tinggi badan kami. Sudah jelas wajah bocah itu lebih muda, dan dia memang nampak seperti anak kecil biasa yang belum makan seharian.

“Begini begini umurku sudah tujuh puluh dua tahun.” Kata anak kecil itu. Aku langsung terkejut dan berjalan menjauh dari bocah-berumur-tua itu. Takut saja kalau tiba-tiba wajah dan bentuk tubuhnya berubah menjadi kakek tua peot bertampang menyeramkan dan siap menggigitku kapan saja. Siapa yang tahu kalau orang tua di dunia ini ternyata mengandung penyakit atau racun mematikan seperti ular.

Anak itu tertawa dan menunjukkan tampang jahil. “HAHAHAHA tentu saja bukan, babo. Aku tidak setua itu, dan tidak akan pernah!” serunya, menggelegar.

“Apa maksudmu?”

“Tempat ini adalah Neverland, bisa dibilang akulah Peterpan disini. Dan seperti yang kamu tahu, aku benci orang dewasa.” Jelas anak itu sambil tertawa riang, ia melirik tajam padaku dan menatapku dengan pandangan menakutkan—membuatku sulit bernafas. Bahkan aku tak bisa melihat kemanapun saat pandanganku sudah terpusat pada mata merahnya itu. “… Dan kamu adalah orang dewasa, Kapten Hook yang baik hati dan lemah. Aku benci orang dewasa yang lemah. “

“Dan kamu salah mengerti, sejak kapan umur enam belas tahun sudah dewasa?” tanyaku jengkel. Yang benar saja, aku tidak suka dianggap sudah dewasa ataupun masih anak kecil. Oke—aku itu masih remaja.

“Semuanya, serang!!!” teriak anak itu mendadak, dan keluar peri kecil seperti iblis dengan rambut berwarna ungu tua dan mata yang runcing, juga sekelompok tengkorak kecil yang nampaknya seperti tengkorak anak-anak. Mereka mengenakan pakaian indian, persis seperti anak-anak hilang yang ada di cerita Peterpan.

Mwo!? Apa-apaan mereka?! Tunggu dulu!” Aku terkejut dan langsung berlari terbirit-birit untuk kabur, sementara tengkorak indian-indian itu berlari mengejarku sambil membawa pedang dan panah yang nantinya bisa langsung mereka lempar untuk menembus jantungku. Benar-benar parah, aku disini sendirian dan sekarang dikejar-kejar tengkorak. Dunia sudah gila.

“Mau kemana kapten Hook?” tanya si namja Peterpan. Kita sebut saja Black Peterpan, karena dia jahat. Aku nggak mengerti kenapa bisa aku mengambil kesimpulan begitu, tapi ya lebih baik daripada kita sebut “anak yang menyebut dirinya Peterpan”. Dia mengarahkan pedangnya terhadapku, dan kebetulan aku bisa menghindar darinya. Segera aku berlari secepat mungkin, rasanya aku sudah tak bisa merasakan kakiku lagi. Kakiku terasa ringan dan aku membiarkannya bergerak kemanapun dia mau. Petualangan ini membuatku lelah.

“Kapten Hook yang kukenal bukan seorang pengecut~” seru Black Peterpan, ia kembali mengarahkan pedangnya sementara Tinkerbell yang lebih mirip setan berambut abalan daripada peri kecil yang manis itu mengikutinya. Ck, apasih yang lebih buruk? Dikejar tengkorak karatan, anak kecil aneh, dan peri jadi-jadian itu memang mimpi buruk untuk siapapun.

“Berisik!” teriakku pada anak kecil itu, enak saja, aku bukan Kapten Hook. Padahal ini salah satu cerita dongeng favoritku saat masih kecil, tapi memang dasar pertumbuhan dan mimpi buruk yang menghancurkan semuanya ini membuatku tidak menikmati ceritanya sama sekali, menyebalkan.

“Kapten, ada apa? Tidak memakai pengaitmu dan pedang kecilmu untuk menusuk badan kecilku ini?” tawa Black Peterpan itu dengan geli. Aku geram, masa aku bisa kalah oleh anak kecil bawel ini?

Tanpa kuketahui, sebuah pengait seperti milik Kapten Hook muncul di tanganku dan sebuah pedang besar menggantung di pinggangku. Si Black Peterpan tertawa keras dan tersenyum puas melihatku, “Berarti kamu menerima tantanganku.” Katanya, lalu menyerangku dengan cepat menggunakan pedang miliknya. Spontan aku menarik pedangku dan menangkis serangannya.

“LENGAH!” teriaknya, lalu menebas pipiku sampai darah bercucuran dari sana. Sialan, rasanya ngilu dan sakit sekali. Pedang itu mengenai tulang pipiku tapi untunglah tidak mengakibatkan apa-apa.

Aku emosi, dengan serangan balasan kuayunkan pedangku kesana kemari, sampai peri jadi-jadian itu juga ikut kutebas dengan pedang, tapi dengan lihainya ia bisa menghindar. Black Peterpan terus-terusan tertawa dan memasang tampang jahil, tanda dia tidak serius. Aku sudah bercucuran darah begini dia masih belum serius, berarti yang seperti ini memang belum cukup untuk menghukum anak kecil aneh ini.

“HEAAAA!!!” aku mengayunkan pedangku pada lengannya, sukses ia menghindar dari seranganku. Tapi dengan cepat aku mengayunkan pedangku kembali ke arah kakinya dan…

CRES!!

… Sukses mengenai kakinya. Sebenarnya itu hanya sebuah keberuntungan, tapi untung saja aku masih bisa mendapat keberuntungan di tempat begini.

“AAAAH! SIALAN! SIALAN!!!” teriak Black Peterpan, ia mengerang kesakitan. Berisik sekali, pipiku tergores dan kedua lenganku juga sudah memiliki beberapa goresan saja sama sekali tidak berteriak sampai berlebihan seperti itu. Memang dia makhluk aneh, tapi aku tak mengira dia akan sesensitif itu.

“Ayo sini, Peterpan!” seruku, mulai mendalami peran.

Black Peterpan terbang ke arahku dan mengayunkan pedangnya, menebas kaki kananku, tapi untungnya tidak dalam. Dengan sekuat tenaga aku berjalan dan membalas serangannya, aku mengayunkan pedangku dengan liar. Seumur-umur ini pertama kalinya bagiku untuk melakukan ilmu pedang, dengan pedang aslinya pula! Maka aku tidak terlalu mengerti, tapi ajaibnya aku bisa menangkis serangannya dengan mulus dan rasanya badanku seperti bergerak sendiri.

“Huh, semangatmu sudah muncul, eh?” Black Peterpan tersenyum licik, ia menahan pasukan ‘tengkorak-tengkorak hilang’nya untuk tidak menyerang dulu, sepertinya dia ingin melakukan duel satu lawan satu. Dengan cepat ia turun ke daratan dan mengacungkan pedangnya ke depanku, kami berputar, menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Aku mengambil inisiatif menyerang lebih dulu, kuayunkan pedang ke lehernya dan berhasil ia tahan. Ia mendorong pedangku sampai aku hampir kehilangan keseimbangan. Dengan cepat ia mengarahkan pedangnya untuk menusuk perutku.

“Ukh!”

Sial. Meskipun aku sempat menghindar, tapi sepertinya tetap saja benda tajam itu menusuk bagian perutku hingga terluka dalam. Sakitnya benar-benar nyeri, rasanya memilukan dan bisa kurasakan darah segar mengalir keluar dari mulut dan perutku. Kalau seperti ini bisa-bisa…

“RASAKAN!!!” teriak Black Peterpan, aku yang tidak sempat menghindar tertusuk di bagian kaki dan membuatku tergeletak tak berdaya. Rasanya nyeri sekali… Sementara Black Peterpan hanya menyeringai menakutkan, anak-anak hilang menertawaiku, dan Tinkerbell jadi-jadian itu melayang-layang di sekitarku. Pandanganku rasanya sudah buram, perutku makin sakit. Gawat…

“Anak-anak, siapa mau menusuknya dengan panah duluan? Tapi ingat ya, jangan ambil jantungnya, itu milikku.” Kata Black Peterpan dengan santainya, anak-anak hilang langsung bersorak dan tatapan mereka langsung bernafsu untuk memanahku.

Mwo!? Seenaknya saja. Jantungku itu milikku sendiri!” … Ah, apa yang kukatakan. Sudah sekarat begini masih saja aku bisa protes.

“Bawel.” Komentar Black Peterpan. Sialan, padahal daritadi dia yang paling cerewet.

“GYAAAA!! GYAAAA!!!” teriak anak-anak hilang. Aku menutup mataku, sepertinya setelah ini aku benar-benar akan bersimbah darah. Mungkin aku akan langsung game over. Mungkin aku akan mati tanpa ada siapapun yang menemani. Mungkin aku takkan bisa keluar dari sini selamanya dan ragaku membusuk disini. Aisssh…

Kurasakan dari angin yang menerpa tubuhku, sebuah tombak sudah siap diluncurkan tengkorak-tengkorak ganas itu ke lenganku. Aku pasrah. Benar-benar pasrah. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, rasanya badanku sudah mati rasa dan bahkan aku tak bisa merasakan jari-jariku lagi. Apa aku benar akan dibunuh?

“Jangan sentuh dongsaengku!!!”

BRAK!!

Terkejut, aku membuka mataku. Namja yang sangat kusayangi sekaligus kuhormati sudah berdiri di sebelahku dengan skateboardnya, terlihat keringat membasahi dahinya. Ternyata tadi ia menyeretku cepat, membawaku untuk menjauh dari segerombolan orang gila itu dan tanpa sadar kami berdua sudah ada di pinggir pantai.

“Jinyoung hyung!” teriakku, senang sekaligus khawatir. Tubuh Jinyoung hyung juga penuh luka. Apa sebelum ini dia sudah bertarung duluan?

“Gongchannie!” teriaknya, lalu mengangkat setengah tubuhku. Wajah Jinyoung hyung kotor, ekspresinya nampak sangat khawatir.

Aku tersenyum dan berbisik, “Aku tidak apa-apa.”

“Bagaimana perutmu!?” teriak Jinyoung hyung, lalu membuka bajuku dengan paksa dan memeriksa perutku yang sudah bersimbah darah. Ia terkejut setengah mati. Ya, luka lama itu terbuka kembali. Aku tidak mau mengingatnya.

Hyung, aku tidak apa-apa––”

“TIDAK APA BAGAIMANA!!” teriak Jinyoung hyung. Bisa kurasakan tangannya yang menumpu kepalaku gemetaran dan ia menutup lukaku dengan jaketnya. Jaket kesayangannya.

Hyung, itu jaket kesayanganmu…”

“Aku tidak peduli tentang itu sekarang, yang penting lukamu HARUS menutup kembali, dan akan kuusahakan sebisaku.” Kata Jinyoung hyung, meyakinkanku. Sorot matanya tegas, dan dengan susah payah ia membalut lukaku. Jinyoung hyung

Aku tidak bisa bicara apa-apa lagi. Jaket itu dari eomma Jinyoung hyung yang sekarang sudah pergi meninggalkannya. Dia menatap mataku yang juga menatapnya dengan pandangan cemas. Seakan mengerti maksudku, dia bilang, “Eomma akan lebih senang kalau aku melakukan ini. Kamu kan juga anak kesayangannya.”

Aku tersenyum tipis. Meski perih, tapi setidaknya aku bisa merasakan kebaikan hati Jinyoung hyung.

Mengenai luka lama itu… Kudapat delapan tahun yang lalu, saat aku, Jinyoung hyung, dan CNU hyung masih anak SD. Kami bertiga menemukan rumah kosong di dekat sungai kota dan menjadikan tempat itu sebagai markas. Saat kejadian itu, kami bertiga berada di gudang rumah itu, mengobrak-abrik isinya. Sebenarnya rumah itu tidak kosong, pemiliknya entah pergi kemana dan cerobohnya mereka lupa mengunci pintu gudang. Dan di hari yang sama, kami menemukan sebuah buku unik.

Flashback

“Bukunya berat!” keluh CNU hyung. Ia membawa bukunya dengan tergopoh-gopoh dan dengan susah payah meletakkan buku itu ke lantai.

“Jadi? Apa kesimpulanmu tentang ini?” tanya Jinyoung hyung. Kami bertiga duduk membentuk lingkaran dengan buku di tengah-tengahnya.

“Ya buka, dong!” seru CNU hyung.

“Kita sudah meminjam gudang orang, mengambil bukunya segala. Aku tidak mau tahu kalau orangnya tiba-tiba pulang, loh!” Jinyounghyungberkata dengan nada jengkel. Dia benar-benar orang yang sopan dan sangat berhati-hati.

“Santai saja~” kata CNU hyung dengan santainya. Aku khawatir melihat hal ini, perasaanku tidak enak. Mungkin salahku juga karena saat menemukan buku ini di rak buku tua yang ada di bagian dalam gudang, aku langsung meneriaki CNU hyung untuk mengambilkannya.

CNU hyung dengan sigap membuka buku itu, langsung pada halaman pertama. Tiba-tiba cahaya yang amat terang keluar dari buku itu, membuatku tak bisa melihat ke sekeliling. Samar-samar aku mendengar teriakan Jinyoung hyung dan melihat bayangannya seperti tertarik ke dalam buku.

HYUNG!!” teriakku. Aku melompat ke depannya, ke arah yang kupikir adalah tempat Jinyoung hyung berada dan dapat kurasakan bahwa aku mendorong tubuhnya sampai jatuh.

BRAK!!!

Kurasakan nyeri yang amat sangat di perutku. Rasanya seperti tertebas pedang secara langsung.

Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi. Begitu bangun, aku sudah di kamarku, dengan perut dibalut perban.

Flashback End

Setelah itu tidak ada yang membahas hal itu lagi. Aku juga lupa rumah itu yang mana sekarang ini. Mungkin ingatan Jinyoung hyung dan CNU hyung terhapus pada saat itu, kudengar mereka juga tidak sadarkan diri dan aku ditemukan terjatuh ke dalam lubang di tanah karena lantai kayu gudang itu sudah bobrok.

Aku menatap Jinyoung hyung yang masih berusaha untuk menutup lukaku dengan jaketnya. “… Hyung, tadi kau sendirian?” tanyaku perlahan, hampir tertahan.

“… Gongchan…” ujarnya, lalu menunduk. Aku bingung kenapa dia berlaku seperti itu. “… Dia tadi ada bersamaku.” Tambah Jinyoung hyung, ekspresinya berubah menjadi sangat-sangat sedih dan dapat kulihat bahwa matanya berkaca-kaca. Ia menolehkan kepalanya pada sesosok namja yang terbaring di atas tanah, yang kehadirannya tidak kurasakan daritadi. Namja itu adalah orang yang amat kukenal, dan juga dekat denganku.

“CNU hyung…” Aku menyeret tubuhku di atas tanah, berusaha untuk menghampiri CNU hyung. Kugenggam tangannya yang ternyata sudah dingin. Wajahnya pucat, namun tersenyum. “… Tidak mungkin…”

Mianhae Gongchannie… Mianhae…” suara namja di depanku itu… tertahan dan bergetar. Sebelah tangannya menutupi matanya yang basah oleh air mata. Aku hanya diam, rasanya kakiku lemas sekali. Sekarang aku benar-benar merasa tidak sanggup bergerak lagi.

“Dia… Dia sudah tidak bernafas?” tanyaku, belum dapat mempercayai hal ini. Jinyoung hyung tidak menanggapi apa-apa. Aku tahu, jika ia menanggapiku, itu hanya akan membuat hatinya terluka dengan kenyataan bahwa CNU hyung benar-benar sudah pergi.

Hening beberapa saat. Kami berdua masih menangis sejadi-jadinya. Sekarang ini luka di perutku tidak apa-apanya dibanding luka di hati.

“… Gongchan, sekarang kita hanya berdua disini. Kumohon, kita harus memenangkan pertarungan ini dan melanjutkan ke tahap selanjutnya, menjemput Baro dan Sandeul.” Ujar Jinyoung hyung. Terlihat sekali kalau dia cemas pada Baro hyung dan Sandeul hyung. Aku langsung mengangguk setuju atas pernyataannya. “Sekarang, tunggu di atas kapal itu dan jaga tubuh CNU, kita harus membawa raganya kembali pulang.” Katanya sambil memasang jaket CNU hyung dengan benar, membantuku, juga membopong CNU hyung naik ke atas kapal kuno itu. Dan akhirnya, ia menyenderkan CNU hyung di bahuku.

Hyung mau kemana?” tanyaku sambil mengatur nafas. Aku melihat sosok hyungku itu melangkah ke depanku.

“Pinjam pedangmu,” katanya, lalu mengambil pedang yang tergantung di pinggangku. Aku menatapnya dengan menyipitkan mata, berusaha mempersempit pandanganku untuk melihat jauh. Pandanganku tetap buram walau sakit di perutku sudah mendingan. Gawat, aku harus menghentikanhyung!

“… Hyung…!” teriakku, tertahan. Aku terus memanggil Jinyoung hyung dengan berusaha mengeraskan suaraku, tapi rupanya Jinyoung hyung sama sekali tidak mendengarnya. Hhh, percuma saja aku berteriak dalam keadaan seperti orang hampir mati begini.

Hyung… Aku… Harus menolongmu…”

BRUK!

******

Author POV

Jinyoung berjalan mendekati Black Peterpan dan juga anak-anak hilang yang sedang berpesta pora di tengah hutan. Dia mengendap-endap di semak-semak, juga berwaspada dari Tinkerbell jadi-jadian yang berterbangan mengelilingi lahan kosong itu.

“Kali ini mereka kabur, tapi cepat atau lambat pasti mereka akan kembali!” seru Black Peterpan, yang lainnya bersorak dengan semangat.

Jinyoung menatap Black Peterpan dengan tatapan benci. Jadi orang ini yang membuka luka lama Gongchan?

Jinyoung berjalan sebentar, namun…

KREK!

“Uh…” tanpa sengaja ia menginjak ranting. Karena para penjahat itu masih sibuk berpesta, jadi tidak ada yang sadar kecuali Tinkerbell gadungan. Peri itu menyusuri lahan itu dengan mengeluarkan serbuk hitamnya, dan akhirnya berhasil menemukan Jinyoung. Tinkerbell segera terbang kembali pada Black Peterpan dan membisikkan sesuatu ke anak kecil itu. Black Peterpan langsung menyeringai dan berdiri dari tempat duduknya.

“Ah… Sepertinya anak buah Kapten Hook yang setia sudah datang untuk membalas dendam.” Ujarnya, lalu memandang ke arah Jinyoung sembunyi dengan tatapan menakutkan. “Keluarlah, bau darahmu tercium jelas dari sini.” Katanya, membuat bulu kuduk Jinyoung berdiri.

Hening, Jinyoung belum juga keluar dari persembunyiannya. Black Peterpan berjalan mendekati tempat persembunyian itu, “Ayo pirates~ aku tahu kau bersembunyi disana~” senandungnya.

“HEAAAAHH!!!” Jinyoung keluar dengan melompat dan langsung mengayunkan pedangnya ke kepala Black Peterpan. Dengan cepat serangannya itu ditangkis dan mereka kembali beradu pedang.

“Hei pirates, kamu hebat juga! Kamu tidak kalah dengan Kapten Hook!” seru Black Peterpan sambil tertawa senang. Jinyoung geram dan menyerang Black Peterpan sampai memotong pergelangan tangan kirinya.

“Yang kamu sebut Kapten Hook adalah dongsaengku. Kalau kamu melukainya, sama saja dengan merusak harga diriku sebagai hyungnya.” Ujar Jinyoung sambil mengacungkan pedang pada Black Peterpan yang sedang merintih kesakitan. “Sekarang, tanganmu sama dengan Kapten Hook. Bagaimana kalau kau saja yang jadi Hook?” kata Jinyoung sambil tersenyum kecil.

“Ukh… SIALAAAAAN!!!!” teriaknya, lalu mendadak ia mengayunkan pedang ke arah Jinyoung dengan keras, membuat Jinyoung harus bertahan dan terpaksa menggigit giginya keras-keras, mau tidak mau. “JANGAN SAMAKAN AKU DENGAN HOOK PECUNDANG ITU!! DIA MENUKAR DIRINYA DENGAN MANDY UNTUK DIKORBANKAN PADA EL!!!!” teriak Black Peterpan dengan geram. Jinyoung sontak kaget mendengarnya.

Tunggu… Peterpan? Mandy? Dan… Alice? Apa mereka bukan tokoh fiksi?

“Orang dewasa seenaknya saja menentukan apapun yang mereka mau! Aku benci! Aku tidak suka!!! Dengan seenaknya saja mereka membawa Mandy pergi dan sampai sekarang Mandy belum kembali!!!!” teriak Peterpan, ekspresinya nampak sangat kesakitan, di dalam hatinya.

“Kau––”

“DIAM KAU PIRATES!!!” teriaknya dengan amat kesal. “ORANG DEWASA KEJAM! KALIAN BAHKAN TIDAK MEMBERIKAN AKU KESEMPATAN UNTUK MENGGENGGAM TANGAN MANDY!!! SEKARANG MANDY SUDAH PERGI! MANDY SUDAH TERBUNUH!!!!”

“… Apa maksudmu?” tanya Jinyoung, rasanya arah pembicaraan sudah jelas. Pertama, Alice. Sekarang, Peterpan. Semua penderitaan mereka sudah bisa dipastikan karena makhluk aneh bernama El ini.

“Makhluk bernama El itu datang pada malam tak terduga, saat Neverland sedang tentram-tentramnya. Dia membawa pasukannya datang kesini, lalu membunuh anak-anak hilang yang kusayangi ini sehingga hanya tersisa tulang mereka. Tinkerbell berusaha menyelamatkan mereka, sampai akhirnya ia berhasil mengembalikan jiwa anak-anak ini meski rupa dan raga mereka tak bisa kembali, dan akibatnya ia berubah menjadi amat jelek dan kusut, kekuatannya menjadi aneh. Mandy dibawa pergi oleh Hook yang juga dijadikan budak oleh El, dan kabarnya Mandy sudah mati karena terus melawan.” Desah Black Peterpan. Itu sebabnya ia menjadi amat liar jika sudah menyangkut orang dewasa.

“… Kesimpulannya, yang salah bukan kami, kan?”

“Pada dasarnya, AKU BENCI ORANG DEWASA!!!” teriak Peterpan, menggelegar. Tink dengan segera terbang dan menyerbukkan serbuk hitamnya pada tubuh Jinyoung, yang bukannya membuat ia bisa terbang, malah membuat tubuhnya tambah berat hingga masuk ke dalam tanah.

“Ap–-” suara Jinyoung tertahan. Kakinya masuk ke dalam tanah dan membuat ia tak bisa bergerak.

“HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!” tawa Black Peterpan. Ia mengacungkan pedangnya ke arah Jinyoung. “Kali ini kamulah yang akan jadi Kapten Hook!!!” pekiknya, lalu mengayunkan pedangnya kearah Jinyoung yang sudah sulit bergerak.

Trang!!

“Jangan sentuh hyungku, dasar anak kecil.”

“… Gongchannie!” Jinyoung terkejut melihat dongsaengnya sudah berada di depannya sambil menggenggam dua buah pisau besar.

Gomawo sudah membiarkanku beristirahat sebentar disana hyung, dan sudah kutemukan jalan keluar dari sini. Kita harus menaiki kapal ke arah timur, dimana pulau Ogre terletak.” Kata Gongchan sambil menunjukkan peta yang ia temukan setelah mengobrak-abrik kabin kapal itu.

“Kenapa kau disini, babo!? Lukamu––”

“Diam dulu hyung.” Gongchan meletakkan jarinya di depan bibir. “Jadi tadi aku…”

******

Captain Hook’s Ship, Unknown time. Flashback

Setelah Jinyoung pergi, Gongchan terus mengatur nafasnya dan beristirahat sejenak sampai kira-kira staminanya kembali lagi. Tiba-tiba…

BRAK!!

Sebuah buku terjatuh tepat di atas kepala Gongchan. Ia dan CNU duduk di depan ruang kabin untuk menunggu Jinyoung. Daripada hanya diam tanpa melakukan apapun, Gongchan mengerahkan semua tenaganya untuk meraih buku itu.

“Oh… 1001 bed time stories…” ujar Gongchan, kecewa melihat sampul buku itu. Buku itu sudah terlalu tua untuk ia baca, namun karena tidak ada bacaan lain, ia memutuskan untuk membacanya. Pertama ia melihat nama pemiliknya, Mandy Darling. Sepertinya ia pernah mendengar nama ini…

Di halaman terakhir, ia menemukan cerita aneh. Dimana tokoh-tokoh di bedtime stories itu hancur karena seorang kurcaci jahat yang tinggal di sebuah pulau nan gersang di tengah laut. Di tengah pulau itu ada menara besar. Gongchan merasa ini ada hubungannya dengan dunia yang ia jalani sekarang, dan memutuskan untuk masuk ke dalam kabin yang berupa kamar tidur itu dan mengobrak-abrik isinya. Di laci meja, ia berhasil menemukan peta dan beberapa benda penting lainnya. Setelah menemukan itu, ia senang bukan main dan memutuskan untuk menyusul Jinyoung, sementara CNU ia tarik masuk ke dalam kabin dan ia biarkan terbaring di atas tempat tidur.

“Nanti aku akan kembali dengan Jinyoung hyung, CNU hyung…” bisik Gongchan, lalu menutup rapat-rapat pintu kabin dan berlari mengejar Jinyoung.

Gongchan berlari di tengah hutan sampai ia bertemu merpati putih di tengah jalan. “Nde? Ada juga merpati secantik ini…” ujarnya, lalu merentangkan tangannya dengan lembut sehingga merpati itu mau hinggap di tangannya. Ia mengambil surat yang ada di merpati putih itu, lalu membawa surat itu ikut bersamanya.

Mandy Darling.

******

Kembali ke pertarungan, Gongchan mengerahkan seluruh tenaganya untuk pertarungan kali ini. Ia sudah tidak mau main-main lagi karena melihat kondisi hyungnya sendiri, sudah tidak mungkin Jinyoung melanjutkan pertarungan. Badannya sudah penuh luka dan hanya melihatnya saja kita sudah merasa miris.

“HA!!” Gongchan mengayunkan pedangnya sampai menusuk perut Black Peterpan dan membuatnya terpelanting jauh. Ia merasakan ada yang aneh, si Black Peterpan menjadi lebih lemah dari sebelumnya.

“Hu… Hiks…”  Black Peterpan terisak. Ia menangis sejadi-jadinya. Gongchan dan Jinyoung hanya termangu melihatnya. “… Aku hanya mau Mandy kembali…” ujarnya sambil terus menyeka air matanya.

“Dia… Hanya kesepian.” Ujar Jinyoung. Gongchan menoleh pada hyungnya itu dan mengerti.

Gongchan segera berlari dan menundukkan Black Peterpan sehingga posisi anak itu seperti sujud padanya. Dengan segera ia berteriak, “Ayo minta maaf!” serunya.

“Tidak akan!” seru Black Peterpan itu sambil terus menangis.

Gongchan mendengus dan menurunkan nada suaranya, “Tenanglah, aku sudah mendapatkan peta, buku cerita, dan buku harian Mandy. Benda itu akan membawaku ke tempat Mandy dengan segera. Oh ya, ini surat dari Mandy untukmu.” Bisik Gongchan, lalu memberikan surat yang ia dapatkan dari merpati putih tadi.

“Ma––Mandy!?” seru Black Peterpan, tidak percaya. Ia menerima surat itu dengan gemetaran.

Gongchan hanya tersenyum tipis lalu membopong Jinyoung untuk naik ke kapal. Dunia ini memang sudah gila, tapi dibalik kegilaannya, ternyata ada juga kasih sayang yang tersimpan. Kasih sayang yang tulus.

Dengan hati-hati ia membantu Jinyoung untuk duduk di sebelah kemudi dan Gongchan sendiri mengemudikan kapal itu. Entah dari pengalaman apa, dia bisa mengemudikan kapal itu dengan mulus.

“Tunggu!!” teriak Black Peterpan––atau dari sini kita sudah bisa memanggilnya Peterpan, sambil berlari menghampiri kapal yang sudah hampir berlabuh. “… Biarkan aku ikut kesana, aku sudah pernah ke Ogre Island. Keadaanku sudah membaik dan Neverland sudah hampir pulih. Maafkan aku atas kelakuanku, kalian bukan orang dewasa yang buruk.”

“Sudah kubilang aku belum dewasa!” protes Gongchan dengan jengkel, tapi tetap membiarkan Peterpan naik ke kapal.

“Maafkan aku tentang tanganmu.” Ujar Jinyoung sambil terus menyelimuti tubuhnya yang sudah lemas.

“Tidak, aku yang harus minta maaf. Ini sudah hukuman yang pantas.” Ucap Peterpan sambil menunduk dan meminta maaf. Kedua orang ini saling membalas senyum dan menatap ke depan, di depan mereka sudah nampak Ogre Island, meski masih jauh.

Hyung, jangan disini terus, bisa kedinginan. Kamu di dalam saja, CNU hyung bisa kesepian.” Tegur Gongchan sambil terus mengendalikan kapal. Jinyoung mengangguk dan menyeret badannya yang ngilu untuk masuk ke dalam kabin, sementara Peterpan ikut masuk ke dalam sana untuk membantu Jinyoung berjalan.

******

Kabin

Jinyoung masuk ke dalam dan memandang tubuh CNU yang dingin dan kaku. Dengan perlahan ia menyelimuti tubuh itu dan mengelus kepalanya pelan. Bagaimanapun juga orang ini adalah CNU, sahabatnya yang satu umur dengannya, meski lebih tua tapi kesannya CNU lebih ceria daripada dia.

“Itu temanmu? Kenapa dia meninggal?” tanya Peterpan sambil mengecek rak-rak buku di kabin itu. Ia tahu persis bahwa kabin itu bekas dipakai Mandy.

“Saat ada di padang bunga, di tempat Alice. Dia dibunuh oleh teman bunga raksasanya.” Jawab Jinyoung singkat.

“Alice in wonderland? Ah gadis itu kasihan sekali… Red queen dan pasukannya juga sudah dijadikan budak.” Peterpan membuka-buka buku cerita milik Mandy. Dia masih sangat ingat saat Mandy bercerita untuknya dan anak-anak hilang.

“Hmm.” Jinyoung hanya bergumam, sembari menatap ke langit biru yang memayungi lautan biru gelap di bawahnya. Petualangan sebenarnya akan segera dimulai.

******

Ogre Island, Unknown Time

“KAPTEN!!” teriak seorang pirates, setelah ia mengecek dengan teleskopnya. “Aku menemukan kapal kita di seberang sana!!”

“Diam!!” seru Kapten Hook, ia membiarkan tubuhnya terkulai lemas di pinggir sungai. “Aku sudah cukup menderita diperbudak oleh kurcaci! Aku tidak mau kau menggangguku lebih dari ini!” serunya galak.

“Tapi aku tidak bohong…”

“Diamlah! Aku lelah! Aku tidak butuh imajinasimu, lagipula Peterpan pasti juga sudah mati disana!!” seru Kapten Hook dengan geram. Ia sudah capek tiap hari diperbudak terus. Dan sekarang, ia disuruh mengerjakan hal remeh seperti menjaga sungai. “Apa-apaan itu? Bajak laut menjaga sungai? Membuatku tertawa saja! Sudahlah, kau diam saja dan terus berjaga!”

“… Baik…”pirates itu menundukkan kepalanya dengan lesu.

******

Strange place, unknown time

“Hm hm hm hm hmm~”

Kurcaci itu tertawa keras di ruangannya yang luas. Ia menggigit cherinya dan kembali memandang ke layar.

“Ini akan jadi semakin menarik.”

Ia mengendalikan remote dan mengganti layar monitor menuju ke satu tempat lagi. Nampak dua orang namja yang sedang bertengkar di tengah hutan.

Baro dan Sandeul.

Continue to chapter 4…

******

Hai~ KiHyun juga bingung kenapa jadi ada tokoh Disney begini-_- bodo ah. Untuk kru Disney, aku pinjam tokoh kalian, terima kasih… *really really deep bow*

18 responses to “The 3rd Dimension (3/?)

  1. JINYOUNG!!
    AAA!! Kau asli keren oppa!! ♥.♥ #melt

    Semakin lama ceritanya menjadi agak miris ya :’)

    Terus Baro sama Sandeul masih bertengkar tuh? Ckck gak akur baget tuh dua orang-_-

    Chapter selanjutnya Baro sama Sandeul kan? Ayo dong lanjut, aku penasaran sama mereka berdua u,u

    • JINYOUNGIE!!! X3
      leader berwibawa… setiap kali aku liat dia entah kenapa itulah image yang aku dapet-_-v

      iya, jadi miris gimana gitu ya…

      biarkan BaDeul berantem~~ nanti juga mereka tobat :’) sipsippp tapi nanti yah ehehe aku aja gatau berapa utang FFku coba… sudahlah…

  2. astaga astaga astaga… *itu kurcaci a.k.a si peterpan dramatis amat ya u.u wkwkwk😄
    huwaa… buku yg dulu ditemukan gongchan kayanya buku ayah baro deh*sotau*
    SERU !
    lanjut ah😄 aku penasaran~ ayo ayo semangat lanjutinya!!
    wah disini banyak Jinchan moment :3 i like it like it like it!!

    • emang, dia dramatis banget==” *baru keingetan pas bikin si peterpannya lebe*
      maybe? :3
      yaa… tunggu aja ya :”) #males #kebiasaan
      Jinchannnn!!!! *histeris*

  3. wuuiih….!!! keren ffnya! hahaha berimajinasi ria….😀
    ditunggu part 4nya!!! jgn bikin pnasaran lama2 dong~~ ^^v

  4. SERU banget! :3
    ini masih ada lanjutannya gak?
    di postnya 22 Mei, dan sekarang 29 Juli (?)
    tapi aku ga menemukan part 4nya (?)
    kyaa berharap ini dilanjutin😀

  5. kha.. kamu kalo bikin cover pake apa ._.”, bagi resepnya :<
    aku kalo bikin di Photoshop sama edit dikit di Pixlr Express kayaknya standar-standar aja😦

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s