Double Super Love! (3/4)

Baru kali ini, Mir jatuh cinta. 

******

PART.1 | PART.2 | PART.3

Junho, Wooyoung, dan Yoseob berjalan pulang bersama. Mir dibiarkan pulang duluan untuk merenung, memikirkan lagi dalam-dalam. Lagipula, yang bisa menenangkan dirinya sendiri saat ini hanyalah Mir seorang.

Mereka bertiga terus berjalan, melangkahkah kaki di atas tanah abu-abu sembari menatap langit biru gelap yang memayungi mereka.

Hening menguasai malam dingin itu.

Sampai akhirnya, Wooyoung bergumam pelan, “Mireu… Baru sekali ini dia benar-benar jatuh cinta.”

Junho dan Yoseob ikut menatap langit sambil mendengarkan perkataannya. Kepulan asap putih keluar seiring dengan nafas mereka.

“Dia kekanakan, meski banyak suka yeoja, tapi baru pertama kali ini dia serius dan bilang ke kita kalau dia jatuh cinta pada gadis itu secara langsung. Dia orangnya jujur dan polos, ceria dan bersemangat. Makanya kalau Mireu sedih, kami pasti berusaha sebisa mungkin untuk membuatnya tertawa lagi. Tapi kalau sekarang…” Wooyoung menghela nafas panjang. Junho dan Yoseob hanya dapat menggigit bibir, tanpa bisa berkomentar apa-apa. Karena, menurut Junho dan Wooyoung sendiri, itu memang sebuah kenyataan.

“Mireu orangnya terlalu memikirkan perasaan orang lain.” Ujar Junho.

“… Ah, lalu bagaimana dengan Suzy-ah? Apa dibiarkan saja?” Yoseob membalikkan tubuhnya, menatap Wooyoung dan Junho secara bergantian. Sedangkan kedua namja di hadapannya hanya memasang ekspresi ragu.

“Suzy selalu begini, sih. Dia sebenarnya tidak gampang jatuh cinta karena tipenya itu cowok imut, tapi baru kali ini dia suka cowok yang seperti Leeteuk hyung.” Jelas Junho. Wooyoung menganggukkan kepalanya tanda setuju.

“Yah, kalau dikasih tahu kasihan, kalau tidak dikasih tahu tambah kasihan..” Wooyoung memasang ekspresi serius.

“… Begini saja. Suzy-ah serahkan saja padaku, Hyorin-ah, dan IU. Mir kalian urus deh, bisa kan?” Yoseob memberi usul. Wooyoung dan Junho saling bertukar pandang, lalu akhirnya mengangguk bersamaan.

******

The next day

Hyorin sedang mengikat tali sepatunya di tengah-tengah latihan marching, ketika Yoseob dengan perlahan mendekatinya.

Annyeong, Hyorin-ah!” sapa Yoseob ramah. Hyorin hanya tersenyum dan mengangguk, lalu kembali fokus berlatih melempar tongkat miliknya. Yoseob sendiri hanya berjalan dan duduk di atas bangku di dekat tempat Hyorin latihan.

“… Mau bicara apa?” Hyorin memutar tongkatnya, sementara matanya melirik ke arah Yoseob. Sedetik kemudian, ia menghentikan putaran tongkatnya dan menatap langsung mata cokelat Yoseob. “Apa tentang Leeteuk oppa dan Taeyeon eonnie?”

“Kamu bisa membaca pikiran orang? Seram…” canda Yoseob. Hyorin hanya menjawab pernyataannya dengan sebuah tawa kecil. “Nde, tolong ceritakan padaku semua yang kamu tahu.”

“Bukannya kamu sudah dengar semuanya dari Mireu Wooyoungie dan Junho?”

Ne, tapi kelihatannya ada yang ganjil. Seperti alasan sebenarnya ayah Leeteuk hyung tidak suka dengan Taeyeon noona, rasanya tidak logis. Gadis pintar dan berprestasi seperti Taeyeon noona bisa menjadi aset penting bagi keluarganya, daripada susah-susah mencari gadis lain yang kaya, tapi belum tentu secerdas noona.” Yoseob mengambil kesimpulan.

Hyorin terdiam sebentar lalu mengambil tempat di sebelah Yoseob. “Temanku dari klub koran, dia memang paling ahli dalam hal begini. Kebetulan aku sedang nganggur dan dia sedang dalam semangat tingkat tinggi untuk bercerita, maka aku mendengarkan ceritanya.”

“Jadi katanya… Ibu Leeteuk oppa itu dulu pernah pacaran dengan ayah Taeyeon eonnie. Ayahnya itu dijodohkan dengan ibu Leeteuk oppa, tapi sepertinya ibu Leeteuk oppa tidak menyukai suaminya. Ia menikah dengan terpaksa. Maka saat tahu Taeyeon eonnie adalah anak lelaki yang membuat istrinya begitu, dia jadi seperti itu.” Jelas Hyorin, ia bergidik. “Ayahnya itu seperti setan kalau sudah marah, suka menampar dan semacamnya. Sebisa mungkin Leeteuk oppa tidak ingin membuatnya marah, tapi dia mencintai Taeyeon eonnie sampai rela dipukuli, dan akhirnya babak belur. Taeyeon eonnie sudah pasti tidak tahan melihatnya seperti itu, makanya dia memutuskan untuk mundur sebelum luka Leeteuk oppa jadi lebih parah lagi. Kudengar dia sempat dibawa ke rumah sakit beberapa kali.”

“Orang gila.” Komentar Yoseob geli. Dia ikut bergidik. “Masalahnya sudah reda, kan? Masih ada harapan untuk Mireu.”

“… Kurasa ada. Meski hanya berapa persen, Mireu pasti bisa mendapatkan eonnie. Meski caranya sendiri tidak kumengerti.” Kata Hyorin, lalu beranjak dari tempatnya dan kembali memutar tongkatnya.

“Yang kasihan sekarang adalah Suzy-ah, dia tidak tahu apa-apa.” Sahut Yoseob. Hyorin terdiam sekali lagi—lalu mengangguk.

“Suzy… Aku tak ingin melukai hatinya, tapi satu-satunya cara adalah membiarkan dia untuk tahu.” Ujar Hyorin. Kali ini Yoseob yang mengangguk setuju. “… Terus? Kamu masih menunggu saat yang tepat?”

“Untuk apa?” tanya Yoseob, memasang tampang bingung. Hyorin hanya tersenyum kecil.

“Kamu menyukai Suzy, kelihatan kok. Dari SMP, malahan. Sepertinya awal-awalnya kamu menyukai Suzy, tapi merasa tidak mungkin mendapatkannya, kamu pindah ke IU. Begitu masuk SMA, Suzy tambah cantik dan perasaan yang dulu datang lagi. Banyak kok yang begitu.” Mendengar analisa Hyorin, Yoseob hanya bisa berdecak kagum.

“Kamu keren. Apa semua orang bisa kamu baca hatinya seperti ini?” canda Yoseob.

“Yah, kalau kamu gampang ditebak kok.” Hyorin berujar sambil tersenyum kecil.

“Apa ada yang tidak bisa kamu baca?” Yoseob nampak tertarik. Ucapannya membuat Hyorin  tertawa.

“Ini, aku tidak mengerti diriku sendiri.” Hyorin menunjuk ke arah dadanya. “Kadang aku bisa jadi sensitif dan menangis tanpa henti hanya karena satu orang, tapi bisa jadi sangat kuat. Aku sendiri tidak tahu sifat asliku seperti apa.” Katanya. Ekspresi wajahnya melembut.

Yoseob tersenyum dan melangkah melewati Hyorin, “Aku sendiri tidak tahu, tapi berdasarkan yang selama ini aku lihat, kamu gadis hebat. Gomawo!” katanya, lalu berlalu. Hyorin hanya memandangnya sambil tersenyum lalu kembali memutar tongkatnya.

“Gadis hebat?” gumam Hyorin. Ia tersenyum kecil. Setelah ada orang yang mengucapkan kata itu padanya, senyumannya makin bertambah lebar ketika mendapati seorang lelaki berlari ke arahnya dengan sebuah tawa lebar.

“Hyorin!”

“… Jaebeommie!”

******

Cafeteria

Suzy dan IU menikmati makan siang mereka dengan hikmat, sampai Suzy melihat Leeteuk yang sedang memesan makanan. Gadis itu langsung panik setengah mati dan menarik-narik ujung lengan baju IU. Ia ingin menyapa, tapi keburu tertutup oleh gadis-gadis yang menghampiri Leeteuk.

“Ah…” Suzy menghela nafas kesal.  Ia melanjutkan makannya dengan geram, membuat IU tertawa saat melihatnya.

“Hahaha! Makan buru-buru tidak akan membuat Leeteuk oppa mendatangimu Suzy-ya, kecuali kalau kamu tersedak!”

“Hu-uh! Diam!”

Setelah beberapa menit, akhirnya gadis-gadis itu meninggalkan Leeteuk. Suzy ingin menyapa lagi, tetapi terhenti kembali karena melihat senyuman Leeteuk yang dengan cepat mengembang saat melihat seorang gadis berjalan ke arahnya. Ia dan gadis itu—Taeyeon—mengobrol dengan akrab. Leeteuk dan Taeyeon nampak malu-malu satu sama lain, membuat Suzy tersadar ada suatu hubungan khusus antara keduanya. Entah apa.

“Suzy-ya! IU!” sapa seseorang. Gadis yang menyapa mereka adalah anak klub koran. Ia duduk di sebelah Suzy dan memperhatikan ke arah yang dilihat Suzy. “Hm? Apa mereka sudah rujuk lagi?”

Suzy yang mendengarnya spontan terkejut dan langsung menoleh pada anak klub koran itu. “Apa maksudnya?” tanyanya, dengan nada memaksa dan tatapan cepat-beritahu-aku!

“Eh? Kamu tidak tahu? Mereka kan dulu pacaran, saat Leeteuk oppa masih kelas tiga disini. Tapi putus karena tidak diizinkan ayah Leeteuk oppa. Ironis ya, yang melarang malah pihak lelaki.” Katanya, sambil mengunyah rotinya. “Oh, aku duluan ya, sampai nanti!”

Anak itupun pergi. Suzy hanya bisa diam dan IU mengusap kepalanya dengan wajah sedih. “Jangan nangis, Suzynie…” hiburnya.

Suzy menggigit bibirnya dan tiba-tiba ia tersadar sesuatu. “… Hyorin…” ujarnya. Ia teringat Hyorin yang kemarin memberitahu mereka tentang Taeyeon eonnie, dan dengan segera ia berlari ke lapangan sepakbola. IU dengan panik mengikutinya.

“Suzy-ya! Kamu mau kemana!?”

“Hyorin! Dia harus menjelaskan semuanya padaku!”

Bruk!

“Aduh!”

Suzy menubruk bahu Junho yang tengah berjalan bersama Wooyoung di koridor sekolah, dan IU juga terlihat berlari mengikuti gadis itu. Meski hanya sekelebat, Junho dan Wooyoung tahu ada yang salah, karena itu mereka ikut mengejar Suzy.

******

Samyang High School Soccer Field

Suzy mencari keberadaan Hyorin dan menemukan gadis itu sedang memutar stick majorette. Ia mendatangi Hyorin dan meremas baju Hyorin—yang masih setengah terkejut karena kerah bajunya direnggut secara tiba-tiba. “Kenapa… Kamu tidak bilang dari kemarin?” isaknya. Air mata keluar dari pelupuk matanya. “Kenapa kamu tidak bilang…?” katanya lagi.

Hyorin hanya bisa diam dan memeluk Suzy yang masih menangis, lalu mengelus kepalanya. “Aku tak menduga kamu akan tahu secepat ini. Aku cuma tak mau kamu sedih, aku tahu aku salah. Aku tak ingin menyembunyikannya, tapi sepertinya kamu akan lebih percaya kalau lihat sendiri.”

Suzy masih menangis. IU, Wooyoung, dan Junho baru saja sampai ketika Hyorin sudah berhasil menenangkan Suzy duluan.

“Wooyoungie… Mireu mana?” tanya IU. Nadanya khawatir.

“Ada dengan Yoseob, tenang saja.” Ujar Wooyoung, sembari membelai puncak kepala IU.

“Mireu…?” Suzy memandang mereka semua dengan mata yang masih berlinangan. Tatapan mata cokelatnya masih sendu, namun terasa sekali bahwa ia khawatir.

“Mir jatuh cinta pada Taeyeon noona.” Sahut Junho. Suzy memasang ekspresi terkejut—antara ikut sedih dan perasaan bersalah menerpanya.

“Aku tak tahu apa-apa…” ujarnya, masih menangis. IU memeluknya dan menenangkannya. Junho dan Wooyoung mengusap kepalanya, sedangkan Hyorin memperhatikan ke atap sekolah, tempat dimana Yoseob dan Mir duduk menatap langit.

Apa saja yang sudah dilakukan Yoseob?

******

School Rooftop

“Mireu…” Yoseob mengambil tempat di sebelah Mir yang tengah memejamkan matanya, tertidur diatas bangku panjang yang terletak ditengah-tengah atap. Udara yang sejuk disertai awan membuat cuaca tidak sepanas biasanya. “… Aku menyukai Suzy.”

Mir hanya tersenyum dan bangun dari posisinya. “Tenang saja, kamu bisa mendapatkannya.”

Yoseob hanya tersenyum—sekilas.

“Aaah menyedihkan sekali Bang Mireu yang sekarang.” Mir meregangkan tubuhnya, lalu berdiri dengan sekali lompatan. Ia menatap Yoseob dengan senyum lebar miliknya yang seperti biasa—namun ganjil.

Yoseob hanya terdiam dan memandang wajah sedih Mir. Sekarang dia nampak lebih dewasa dari sebelumnya. “Kau sudah besar ya, saat pertama kali datang kesini kupikir kau masih anak-anak.”

“Masih, kok!” Mir membela diri, seutas senyum muncul di wajahnya. “Cuma sekarang ini, tidak. Soalnya anak kecil tidak jatuh cinta sampai seperti ini, jadi aku bukan anak kecil sekarang.” Katanya, lalu mereka berdua tertawa.

“Mireu.” Kata Yoseob, ikut berdiri. “Kejar orang itu jika kau memang benar-benar mencintainya. Perasaanmu bukan apa-apa kalau tiba-tiba kau berhenti di tengah jalan, jadi kejarlah sampai akhir.” Mendengar Yoseob menyemangatinya, Mir hanya tersenyum dan mengangguk. “Air mata yang jatuh ketika kau mencintai seseorang, itu sangat berarti. Tidak ada salahnya kau menangis, karena tangisan itu bisa jadi kekuatan untuk kau bangkit lagi.”

Mir memandang Yoseob dan kembali tertawa, lalu menepuk punggung namja itu. “Kamu juga sudah dewasa!” serunya, membuat Yoseob tersenyum dan memandang ke arah lapangan, dan memberikan tanda pada Hyorin bahwa dia setidaknya berhasil mengembalikan semangat Mir.

Hyorin mengangguk pada Yoseob lalu menatap Suzy, mengelus kepala gadis itu dan tersenyum.

******

Taeyeon sedang duduk sendiri di bangku pinggir lapangan, memainkan pom-pomnya, melemparkannya, dan memutarnya untuk menghilangkan kebosanan. Sedangkan Mir—yang berdiri sekitar beberapa meter dari yeoja itu—berjalan menghampirinya.

Eonnie…” Mir menelan ludahnya, sesaat ketika Taeyeon sudah berbalik dan menatapnya—dan tentu saja, senyuman tipisnya yang cantik juga menghiasi wajahnya. “Apapun kebahagiaan eonnie, aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Meski aku sedang sedih seperti apapun, aku akan berusaha untuk tetap tersenyum demi eonnie. Atau kebahagiaan lainnya… Pasti akan kuberikan.”

Taeyeon menatap Mir dengan pandangan bingung bercampur cemas, lalu bertanya, “Kamu tak perlu melakukan semua hal itu demi aku. Kenapa kamu segitu inginnya membuatku bahagia?”

“Karena aku menyayangi eonnie.” Jawab Mir langsung, tanpa basa-basi. “Tapi perasaanku ini jangan dijadikan beban. Eonnie tidak boleh sedih.” Katanya lagi.

“Cheolyong…” Taeyeon mulai benar-benar khawatir. Mir menggelengkan kepalanya dan menaruh jari telunjuk di depan bibirnya.

“Aku tahu eonnie masih menyukai Leeteuk hyung, aku rela asal eonnie bahagia.” Ujarnya sambil tersenyum tulus, tapi tetap terlihat sedih. Mir menahan air matanya.

“Cheolyong…” Taeyeon mengusap kepala Mir dengan lembut. “… Gomawo.”

Mir hanya mengangguk, lalu berjalan pergi. Semakin lama langkahnya semakin cepat, sampai ia sampai di taman sekolah.

Ia menggigit bibirnya. Matanya yang memerah, mengeluarkan kristal bening. Kristal yang mewakili perasaan yang sedaritadi ia tahan.

“Yoseobie…” gumam Mir. Ia menyeka air matanya. “… Air mataku tidak akan sia-sia, kan?”

******

Restoran sushi Paman Kagami

“Selamat datang! Oh, Junho-ssi, kau bawa tamu baru? Silahkan, silahkan.” Paman Kagami si pemilik toko mempersilakan mereka semua duduk.

“Toko ini kecil, tapi nyaman dan makanannya juga enak-enak. Aku dan Min kerja sambilan disini.” Jelas Junho, membanggakan tempat kerjanya. Suasananya memang nyaman dan sejuk. Mereka–-Junho, Yoseob, Wooyoung, IU, Suzy, dan Hyorin, duduk di counter sushi.

Saat mereka mulai makan sushi, Yoseob malah memandang Hyorin dan memasang ekspresi bingung. Entah kenapa ia sudah tak tahan untuk bertanya sesuatu yang sudah sejak lama berada dalam pikirannya—mungkin sejak pertama kali bertemu mata dengan Hyorin. “Hyorin yang begini, tipe kesukaannya gimanasih?” tanyanya, lalu langsung membenarkan kata-katanya saat Hyorin menatap tajam padanya, “—Maksudnya, Hyorin-ah kan banyak yang suka, jadi… Hehe.”

“Ngg… Kami juga tidak tahu, yang Hyorinie suka cuma Jaebeom oppa.” Balas IU.

“Pokoknya namja yang baik dan keren, tapi juga bisa melawak.” Sahut Hyorin, sambil tetap menikmati sushi salmon miliknya.

“Kalau IU?” tanya Yoseob. IU langsung salah tingkah.

“Uh… Uhm… Yang seperti Wooyoung?” jawab IU, malu-malu.

“Ahh kau tidak asyik! Misalnya kan cowok imut atau gimana gitu?” Junho malah protes. Di telinganya hal yang dikatakan IU tidak menarik perhatiannya sama sekali.

“Hei Junho-ya, jawaban IU kan sudah sangat sempurna!” Wooyoung yang daritadi fokus makan langsung memprotes Junho.

“Tapi Wooyoung kan termasuk cowok imut, berarti sama saja dong.” Komentar Hyorin. Junho hanya melirik tajam pada gadis itu, tapi Hyorin tetap sibuk makan dengan cueknya.

“Kalau Suzy? Tipe idealmu seperti apa dan siapa?” tanya Yoseob. Sejujurnya,  ia deg-degan. Hyorin yang masih melahap makanannya tersedak, lalu menahan tawa. Tak disangka Yoseob berbasa-basi dulu. Ternyata ini tujuannya.

Suzy nampak berpikir sebentar. “Cowok cute, umm… Seperti Yoseob?” jawabnya seraya tersenyum manis dan malu-malu. Yoseob mulai salah tingkah. Ia meletakkan kepalanya diatas meja dan menggerak-gerakkan badannya dengan tidak karuan.

“Yoseob kalau salah tingkah lucu ya, menggeliat-geliat begitu di atas meja.” Ujar IU seraya tertawa geli.

“Memangnya kau imut?” Hyorin memandang Yoseob dengan tatapan heran.

“Aku imut kok,” bela Yoseob terhadap dirinya sendiri. “Aku imut dan berkharisma.” Tambahnya. Suzy hanya bisa tertawa mendengarnya.

“Kalau Yoseobie? Tipe idealnya seperti apa?” tanya Wooyoung. Yoseob memasang pose berpikir.

“Ahh tipe idealku? Umm… Kulitnya putih bening terus imut.”

“Ah jangan begitu juga dong… Mereka bertiga kan termasuk dalam kelompok-kelompok itu juga!” Junho kembali protes, tapi kali ini Suzy menatapnya tajam untuk membuatnya diam.

“Tidak, Hyorin tuh termasuk dalam kategori cantik judes, kalau Suzy dan IU cewek cute. Nah tapi karena IU sudah jadi milikku, jadi sudah pasti tipemu Suzy, iya kan, Yoseobie?” Wooyoung menatap Yoseob dengan tatapan tajam juga, memaksa dia menyetujui penjelasannya.

“Yah… Suzy itu masih nampak polos dan bersih tanpa noda sih, jadi aku tidak mau dengar kalau kau mengapa-apain dia loh, Yoseob.” Ancam Hyorin. Yoseob hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar.

Suzy hanya bisa senyam-senyum. Sekarang ini hatinya sudah lebih lega, tidak sesakit tadi. Sepertinya sudah waktunya dia melupakan Leeteuk.

Tapi sebelum itu…

“Hei semuanya,” sahut Suzy, semuanya menoleh ke arahnya, “Aku akan menyatakan perasaanku pada oppa.” Katanya, wajahnya nampak serius.

Mwo!?” Yoseob langsung terkejut, semuanya juga ikut terkejut. Apalagi setelah Yoseob menambahkan backsound yang mengagetkan.

“Yap, aku tahu pasti akan ditolak, tapi oppa harus tahu perasaanku sebelum aku melupakannya. Toh belum tentu kami akan bertemu lagi.” Jelas Suzy dengan yakin. Semuanya nampak ragu, tapi Yoseob langsung tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah, katakan saja, Suzy-ah.” Yoseob menyemangatinya. “Nanti setelah kau menyatakannya, aku––maksudku kami, pasti akan menunggumu.”

Suzy tersenyum senang dan mengangguk. “Gomapta, Yoseobie!” serunya. Wajah Yoseob langsung merona. Semburat merah menjalar cepat di pipinya.

“Ah… Sepertinya kau sudah boleh memanggilnya Suzy saja, deh…” celetuk Wooyoung seraya menyenggol lengan Yoseob.

“M––mwo!? Bu––bukannya tidak mau sih, tapikan…” Yoseob terbata-bata, wajahnya memerah sekali lagi—dan dia mulai salah tingkah lagi. Wooyoung dan Junho menggoda Yoseob dan Yoseob hanya bisa berteriak. Suzy, Hyorin, dan IU sama sekali tak berniat untuk membelanya dan hanya tertawa.

******

19.45PM, Mir’s Room

Mir mengenakan bajunya setelah selesai mandi, lalu mengenakan headphone dan menyalakan iPodnya. Ia mulai bergumam sambil menari mengikuti irama lagu, menggerakkan tangan dan kakinya, berputar di ruangan, lalu menghentikan gerakannya saat lagu berhenti.

Dengan perlahan ia menjatuhkan diri di kasurnya dan mendongakkan kepalanya. “Eonnie…” ujarnya dengan tatapan sedih, lalu kembali memplay lagu dan mulai menari lagi.

Dia ingin melupakan kesedihannya sementara waktu. Melampiaskan dalam gerakan-gerakan dance yang terus mengalir begitu saja di tubuhnya.

Sakit.

******

19.45PM, Soccer Field

“Ah, sampai besok..” Taeyeon melambaikan tangannya pada anggota klub yang sudah pulang. Ia membereskan pom-pom yang sudah tak dipakai ke dalam kardus kecil diatas bangku panjang.

“Tae, besok latihan sampai jam 18.30 saja tidak apa-apa, kan? Supaya mereka istirahat, tiap hari mereka sudah kerja keras.” Pinta Tiffany—si manager sekaligus wakil kapten.

“Ah, baiklah. Pom-pom yang rusak sudah diganti yang baru?” tanya Taeyeon. Tiffany menjawabnya dengan anggukan.

“Tentu~ kostum juga sudah siap. Tinggal memaksimalkan penampilan juga. Aku mau pulang nih, kamu mau bareng?” ajak Tiffany sambil membereskan barang-barangnya.

“Boleh,” jawab Taeyeon. Ia mengangguk. “Sebelum itu aku mengecek properti sebentar, ya.” Katanya.

“Oke, kutunggu di tempat parkir!” seru Tiffany, lalu berlari sambil menggendong tasnya.

Taeyeon segera mengecek peralatan di ruang klub, namun tiba-tiba hpnya berbunyi.

Yoboseyo?”

“… Eh?” wajahnya nampak kaget setelah mendengar si penelepon memperkenalkan dirinya. Ia hanya bisa mengangguk-angguk dan akhirnya menutup teleponnya. Dengan cepat, ia berlari ke tempat parkir.

******

20.00PM, One Day Before The Festival

“Persiapan selesaaai!!!” seru Leeteuk bersemangat, dia berapi-api. “Kamsa hamnida semuanya, kelas 2A pasti akan sukses!”

Murid-murid tersenyum dan berteriak senang. Meski capek, tapi mereka senang. Ada yang masih beres-beres, ada juga yang sudah pulang. Leeteuk merenggangkan badannya lalu naik ke atap untuk bersantai.

Di atap, ia bertemu Taeyeon.

Annyeong, Taeyeon-ssi.” Sapa Leeteuk sembari mengulum senyumannya yang selalu nampak ceria.

“Oh, annyeong, seonsangnim.” Sapa Taeyeon. Ia mengangguk formal.

“Oi oi, jangan kaku begitu doong, kau tahu beda umur kita cuma dua tahun.” Canda Leeteuk. Taeyeon hanya menjawab dengan mengangguk dan tersenyum.

“Cepat sekali rasanya kau disini. Lusa sudah selesai ya, masa percobaannya? Selamat ya, sepertinya nilaimu bisa plus plus tuh.” Ujar Taeyeon, sedikit acuh tak acuh. Ia menengadahkan kepalanya untuk memandang langit. Malam ini cerah, banyak bintang.

“Jangan bicara dengan nada begitu, Taeyeon-ssi~ oh iya, mengenai hal itu, maafkan dia ya… Maafkan aku juga.” Ujar Leeteuk. Taeyeon hanya menghela nafas.

“Minta maaf untuk apa? Aku berterima kasih pada orang itu karena dia mau menggantikanku. Berbahagialah… Oppa.”

Taeyeon tersenyum manis. Dan Leeteuk membalas senyuman gadis itu, meski terasa agak ganjil.

Ne, kamsa hamnida. Wah, senyumanmu sudah lebih baik dari kemarin-kemarin. Apa ada sesuatu?” Leeteuk berjalan menghampiri gadis itu dan mengusap puncak kepalanya dengan lembut.

“Kau bisa menebaknya sendiri.” Jawab Taeyeon, sedikit jahil.

“Hmm yasudah. Ah, nanti kan?”

“Nanti? Oh, iya, pasti. Aku duluan ya.” Taeyeon segera berdiri dan melambaikan tangannya pada Leeteuk, lalu turun ke bawah. Leeteuk hanya mendongakkan kepalanya dan menatap langit yang biru gelap dan luas itu. Kini mereka memang tidak bisa seperti Leeteuk dan Taeyeon dua tahun lalu, tapi begini saja sudah membuat Leeteuk lega.

“… Semoga kamu mendapat yang terbaik, Taeyeon.”

******

Taeyeon berjalan di koridor lantai dua dan tanpa sadar ia berjalan ke arah ruangan klub dance. Ia mengintip ke dalam, terlihat lampu ruangan masih menyala dan terdengar suara musik beat serta sesosok pemuda sedang menari. Taeyeon membuka pintu dan melihat Mir sendirian disana.

Mir terus menari tanpa mengetahui kehadiran Taeyeon, ia menutup matanya untuk mencoba lebih fokus. Ia berhenti sebentar dan mengipas-ngipas tubuhnya dan akhirnya melepas bajunya yang basah karena keringat, mengambil botol air, lalu meminumnya.

Taeyeon baru menyadari bahwa Mir lebih tinggi darinya, rambutnya berantakan dan kelihatannya lembut. Matanya lebih kecil darinya dan wajahnya lebih tegas, badannya besar seperti anak lelaki seumurannya dan tidak terlalu putih. Mir yang selama ini sangat manis dan imut di matanya—pasti juga memiliki sisi laki-laki yang kuat dan kokoh, yang dapat membuat semua gadis jatuh cinta dalam sekali tatapan mata. Selama ini gadis itu tak pernah menyadari kharisma seorang Bang Cheolyong sampai ia lebih sering memperhatikan pemuda itu.

Taeyeon terus berpikir sampai Mir tidak sengaja melihatnya yang sedang berdiri di depan pintu masuk.

“AAAH EONNIE!!!” Mir berteriak sambil cepat-cepat memakai bajunya. Dengan panik, ia merapikan rambut dan celananya. “Eonnie sedang apa disitu?”

“Kamu keren kalau sedang menari.” Puji Taeyeon seraya bertepuk tangan. “Ini sudah malam loh, semuanya juga sudah pulang. Kamu tidak pulang?”

Mir mengangguk-angguk dan membereskan barang-barangnya. Ia menatap Taeyeon dengan tatapan yang tak pernah ditunjukannya pada siapapun dan menyentuh rambut Taeyeon. “Eonnie juga belum pulang.” Ujarnya. Suaranya terdengar rendah dan halus, tidak seperti suaranya yang biasanya selalu tinggi dan nyaring.

“Ah, a––aku…” Taeyeon langsung terbata-bata, wajahnya memerah. Baru pertama kali ini Mir memperlakukannya seperti itu.

Eonnie mau pulang bareng?” Mir kembali berwajah polos, dia sendiri tidak tahu tadi tatapan matanya berbeda.

“Ah… Maaf, aku ada urusan..” jawab Taeyeon, wajahnya nampak agak sedih.

“Oh.. Baiklah, kalau begitu eonnie pulang duluan saja ya? Aku masih harus beres-beres ruangan.” Ucap Mir, berusaha agar wajahnya tidak nampak kecewa. Dengan berat Taeyeon keluar ruangan itu dan turun ke bawah.

Tak berapa lama, Mir mendengar suara mesin motor dari bawah. Ia melihat dari jendela, Taeyeon dan Leeteuk naik motor bersama.

Dada Mir langsung terasa sesak, dan dia terduduk di lantai.

“Sabar Cheolyong… Ini kebahagiaan eonnie…” ujarnya, ia memejamkan matanya dan menutup matanya dengan tangan.

Malam itu, Mir kembali menangis.

Continue To Part.4

******

Kesian amat Mireu-__- dan uh… Maaf bahasanya emang jauh banget sama bahasa yang bagus-__- maklum ini termasuk ff lama, pertama kubuat itu pas Oktober tahun lalu dan benar-benar masih amatiran._. Revisi disana-sini u_u

Mind to leave your comment?😀

4 responses to “Double Super Love! (3/4)

    • Iya gapapah=w= lagian kalo ff ini gadikomen juga aku gamasalah.. Karena ini ffku juga dan masih awal-awal banget pas bikinnya
      Ituuu aku bikin karakter Mir kaya Minhyuk CN BLUE di Heartstrings. Yang unyu-unyu, semangat, childish. Si Minhyuk kan manggil cewek-cewek pake ‘eonnie’ di Heartstrings~

  1. Fine. Gue kok pengen nangis pas Mir ngomong ke Taeyeon ‘Apapun kebahagiaan eonnie, aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Meski aku sedang sedih seperti apapun, aku akan berusaha untuk tetap tersenyum demi eonnie. Atau kebahagiaan lainnya… Pasti akan kuberikan.’ Masa buat pen nangis :” #efek_samping_mudah_tersentuh
    Plus gegara meratapi nasib bias sih, HAHAHA x3
    FINE. LANJUUT, SAYA NEW READERS-_-

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s