When You…

“Ayo, semuanya turun.”

Aku membuka mataku perlahan-lahan, menatap cahaya merah yang terbias dengan samar di kaca tempat di mana aku menyandarkan kepala. Aku merasa sedikit pusing, tidak mood sama sekali untuk turun dari bus.

Aku dan teman-temanku sedang darmawisata, dan saat ini tengah perjalanan pulang kembali ke Seoul. Kami berhenti sebentar di sebuah restoran besar namun murah yang ada di tepi jalan untuk makan malam, tapi sayangnya aku tidak lapar. Dan sekali lagi, kepalaku pusing.

Aku menatap pendar lampu halaman parkir yang bersinar temaram. Setidaknya, suasana hatiku sekarang sama seperti lampu itu. Sebentar lagi akan redup, tapi terus memaksa agar dapat menyinari halaman parkir, membantu orang lain agar dapat melihat ke sekeliling. Sama halnya denganku. Tidak ingin tersenyum, tetapi memaksa diri agar terus tersenyum, supaya orang lain tidak khawatir. Sungguh, bahkan aku sangat lelah untuk mendengar pertanyaan kecil macam, “Kau kenapa?”.

Hatiku lelah.

Dan tanpa sengaja, mataku menangkap sosok yang selalu membuatku merasa lelah itu. Lelah tapi bahagia. Entah kenapa.

Pemuda itu—bernama Lee Junho. Manis, baik, bertampang sedikit serius tapi aslinya sangat lucu. Orang yang sering bercanda denganku dan menunjukkan sisinya yang sebenarnya jika berada di depanku dan teman-teman yang sudah benar-benar akrab dengannya. Sisi sebenarnya yang lamban, tidak bisa diam, juga sering tertawa. Tapi.. ya, inilah kenapa aku merasa sakit.

… dia sudah punya pacar.

Gadis ini berkebalikan denganku. Berambut panjang, tidak sepertiku yang mempunyai tinggi yang sama dengannya, gadis itu lebih pendek, dan sangat cantik. Gadis yang santai dan cuek, namun banyak diminati lelaki. Lee Junho sangat beruntung memilikinya. Dan, gadis itu juga sangat beruntung memiliki Lee Junho.

Dia ada di bawah sana, bermain dengan gadis itu dan tersenyum manis padanya. Senyuman yang hanya untuknya. Perhatian dan segala omongan manis yang takkan diberikannya kepada siapapun kecuali gadisnya.

Ah, aku malas melihatnya lagi. Menambah sakit kepala saja.

Grek.

“Kau tidak makan?”

Aku melirik sekilas ke arah pintu bus. Dia masuk dengan wajah tidak berdosanya, seperti biasa. Manik matanya yang cokelat kelam menatapku dalam-dalam. Aku benci kalau dia sudah seperti ini. Dia suka begitu, selalu tak sengaja bertemu pandang denganku, bicara hal tidak penting denganku, bisa menjadi cowok yang santai dan apa adanya jika bicara denganku, suka menjahiliku, dan yang terpenting—

—dia menganggapku spesial.

Meski dia tak pernah bilang, tapi dari tatapannya dan cara bicaranya yang agak berbeda, aku bisa mengetahuinya.

“Sedang tidak mau. Pusing,” jawabku tak acuh. Biar saja. Aku tak pernah selalu berhasil untuk mengabaikannya, karena jarang sekali aku mendapat kesempatan untuk bicara berdua saja dengannya.

Dia hanya mengangguk, lalu menarik tirai yang tergantung di jendela sampingku, dan mengambil tempat tepat di sebelahku.

“Aku juga mengantuk, barangkali aku juga tidak akan makan malam ini.”

Dia tersenyum manis, manis sekali.

Oh Tuhan, ini tidak adil.

Dia dapat membuat wajahku memerah dalam sepersekian detik dan dia tetap mempertahankan gadis itu. Ini tidak adil.

“Kau mengantuk?”

“Iya.”

“Tidurlah.”

“Nanti saja. Kau tidak akan memfoto wajahku saat tidur ‘kan?”

“Tidak. Baterai ponselku low, dan aku tidak bawa kamera. Tumben kamu mempermasalahkan yang seperti itu?”

“Jaga-jaga saja. Siapa tahu kamu memang mau foto wajahku?”

Ck, kenapa si bodoh ini bisa tahu?

“Ahahaha, jangan besar kepala deh!”

“Hehe, iyaaa.”

Dan begitulah, percakapan kami selalu bodoh. Tapi dipenuhi tawa ataupun hanya senyuman sekilas. Kami tidak pernah bilang bahwa kami menyukai satu sama lain. Tapi kami tahu kami selalu saling memperhatikan, mempunyai keinginan ingin bicara. Tapi aku dan dia memiliki gengsi. Gengsi yang sebenarnya tidak bisa menjadi alasan.

Dia memiliki pacar dan tidak bisa melepaskan gadis itu, tapi dia juga suka memperhatikanku. Inilah kenapa aku bilang ini tidak adil.

Dadaku selalu sesak setiap kali dia memanggil nama gadis itu. Menggenggam tangannya, menatap matanya. Tetapi aku juga tidak bisa menuntut apa-apa. Aku hanya teman—atau hanya sahabat baik. Gadis itu juga salah satu temanku. Ada rasa bersalah setiap kali aku berusaha untuk mendapatkan kembali perhatian Junho. Tetapi—kau tahu, aku tidak ingin melepaskan pria ini. Sedetik pun tidak.

Dan dia masih duduk di sebelahku, tanpa ada rasa bersalah.

Sebenarnya siapa yang kau benar-benar cintai, Junho-ya?

“… Junho-ya….”

Siapa yang lebih membuatmu sakit jika kaulepaskan?

“Apaa?” Dia menatapku, sembari mengulum senyumnya. Manis. Rasanya aku ingin memeluknya, melepas air mata yang nyaris membobol benteng yang selama ini sudah kubangun dengan cukup baik.

Aku mencintaimu, Junho-ya

“… apa…”

Apa kau akan tetap tersenyum manis seperti ini jika aku pergi? Mencintai lelaki lain? Apa kau akan tetap bersama gadis itu sampai selama-lamanya, Junho-ya?

Tes.

“Kenapa nangis, sih?”

Dia tertawa, lalu bergerak untuk menyeka air mataku. Namun gerakannya tertahan.

Mungkin, perasaan bersalahnyalah yang menahannya.

Apakah benar tidak akan tersampaikan? Apakah benar aku tidak akan bisa bersamamu?

Kapan aku bisa mendengar kata-kata manis yang hanya akan ditujukan untukku?

“Tidak apa-apa kok, hanya mengantuk. Tadi mataku tidak sengaja tertonjok jariku sendiri. Ayo tidur, nanti lapar.”

Kapan kita bisa saling jujur satu sama lain?

Kapan aku bisa mengatakan segala isi hatiku ini, Junho-ya?

Aku ingin menangis, jadi kubuang pandanganku ke arah jendela yang ditutupi tirai, bersikap seolah aku mengantuk dan ingin tidur. Dia hanya tersenyum, namun tidak secerah tadi. Tatapannya kembali terarah ke depan, dan perlahan manik dengan bulu mata lentik miliknya itu tertutup. Jika teman-teman kembali ke bus, aku akan mati karena dia—dengan statusnya yang sudah memiliki gadis—tertidur di sebelahku, dan kami hanya berdua di dalam bus ini.

Aku khawatir, tapi bahagia.

Aku tidak ingin berbohong. Aku bahagia mendapati aku memiliki waktu hanya berdua dengannya. Seperti ini, menjaga keheningan malam. Dengan detak jantungku yang bergemuruh dengan hebat dan wajahku yang sudah sangat merah.

Dan juga… kristal-kristal bening yang telah mengalir perlahan dari sudut mataku. Menghiasi wajahku dengan membentuk aliran air di atas pipiku yang merah.

Aku meringis kesal. Kenapa aku harus menangis di saat begini?

“Hei….”

Aku tersentak. Dia memandangku dengan tatapan cemas.

“… sudah kuduga, kamu menangis.”

Tanpa ragu tangannya kini menyeka air mataku.

Junho-ya, jangan memberiku perhatian seperti ini.

Tangisanku akan semakin deras. Tangisanku tidak akan berhenti. Karena aku sedih. Aku bingung. Yang mana yang kaupilih, aku atau gadis itu?

Bolehkah aku terus berharap, Junho-ya?

Seiring dengan sayatan hatiku yang semakin banyak, aku dapat merasakan setitik kebahagiaan di ambang kesedihanku. Aku terus menunggu detik-detik seperti ini akan terjadi lagi. Di mana saat itu aku sudah bisa menggenggam tanganmu, tanpa harus ragu lagi. Tanpa harus gundah dan bingung lagi. Tanpa harus menitikkan air mata lagi.

Dan ketika kamu sudah benar-benar mengatakan, “Aku sayang kamu” hanya untukku.

fin.

23 responses to “When You…

  1. Omona!!! melting daaaah berduaduaan ama junho di dalem bis.. tp sayang dia udh punya gadis.. -____-”
    akh! jadi sbenernya junho pilih sapa? aku atau gadisnya? /lah?/ hahaha..

    • ngebayanginnya gimana gitu eonn… JUNHO-YA MARRY MEEEE >.< /heh /udahadajunhong
      junho memilih aku eonn :& *dibakar* gomawo readmennya eonniehhhh X3

  2. FIKHAAAAAAAAAA! *O* efek galau emang dasyat/duagh/door

    wkwk keyeen, aku berasa jadi aku (Loh?) Jadi Junho milih aku atau gadis itu? Aku aja deh :3/ditabokJB/

    tapi aku udah punya JB, gimana dumbs Junho? udah kamu sama fikha aja/tambah ngelantur deh -____-

    Sipp! Dua jempol buat kamu fik, always daebak!! Terus berkarya yaaa *wink :D:D

    • EONNIEEEEEE!!!! sangat, efek galau itu dahsyat! t(-__-t )
      aku ngerti maksudnyah :3 sudah Junho, kamu sama siapa aja terserah… aku sudah bertunangan dengan Zelo eonn :O
      sekarang lagi suka JB ya~
      makasiiiih😄 pasti eonn! eonnie juga berikan aku ffmu untuk kubacaaa ;__;

      • wkwkwk. Jiah, Junho di tinggal *eluselusJunho*
        APAAAAAAA! KAMU TUNANGAN SAMA ZELOMBIE?!! :O /ditabok/duagh

        Hehe, iya aku suka senyumnya fikh😄 tapi tetep senyum Mir selalu menggoda/plak.
        Yoii! NO WAY!!!! FFku kamu baca waktu aku ngirim ke lomba IFK aja yaaaa *wink*wink

        Hehe😀 annyeong!

      • aku tidak meninggalkan Junho kok :3
        ZELOOO!!! JUNHONGIEEE t(-__–t )
        nah makanya aku mikir ini eonnie udah selingkuh dari Mir atau ngga…
        yaudahsip…
        annyeong~

  3. eh mampir, eh kebaca… eh komen ahh…
    hha…

    uwowowowowo~~ sama aku ajaa… >< aku siap menampung. hha…
    mama kawinin aku kawinin akuu~~ *lahh*

    suka lhoo sama ff nyaa. semacam feelnya dapet gituuhh…
    gaya bahasanya juga ringan. sikasik lahh.
    semacam jadi pengen dipeluk tabi gituuhh. *apadeh*

    duhh, semacam aku makin getje, oke deh. keyenn~ *thumbs up*

    • eonnieeee!!! o/
      jangan, junho sudah ditakdirkan duet sama min u,u /gaadahubungannya /shippergila

      gituhhh tuh semacam sesuatunya syahrini ya…….
      makasih eonnn >w< ficmu juga keren sangat!!! (OwO)

  4. Wassaaaaaaaaap Fikha!!!!!!!!!!!!!! \o/
    Udah lama gak mampir ke sini, ya! Rasanya kangen hahahahahaha
    Oh eniweh, pas ke sini langsung liat poster rain, eh salah. Junho mejeng, and I decided to read this first😀 Junho!!! My Junho!! Kyaaaaaaaa!!! Kamu, tuh, harkoser abis…😥 jahat banget, bikin sebel! /jitak Junho /kemudian cium
    Aku suka ceritanya😀 Ini…….. semacam realita di tahun 2012, Fik. Pernah mengalami, ya? Atau sedang? Wakakakak, bercanda :3
    Dan itu, Maliq yang Untitled, that’s one of my favorite indonesian song tauk!!! Dan serius demi apalah, match banget sama fiction-nya!

    Salahkahku bila ku singgah di hatimu, Junho-ya?

    Buahahahaha nyepam, deh, ah ._.v /ngacir/

    • wasssaaaap eonnie!!!!!!!! o/ wpmu masih diprotect kah? ;__;
      sekarang wpku jadi layoutnya 2pm B) /teruskenapa
      padahal poster hancur itu kupikir takkan mengundang orang untuk baca….-__– harkoser apatoh?._. semua orang yang aku temuin biasnya kebanyakan kalo ga ho, pasti woo ya=w=
      iya, realita… eh? sedang. HAHAHAHAHA.__. /gila
      samaaa!!!! itu lagu enak banget di telingalah, menusuk hati ;A; match kah? syukurlahhh~

      salahkah ku bila, kaulah yang ada di hatiku junho-ya?

      *meleleh*

      nyepam disini dipersilahkan!😄

  5. Udah lama juga ya gak baca FF 2PMnya kihyukha. Pas baca malah yang galo gini T_T *mojok*

    Berduaan bareng Junho? MAU! :3
    Jujur sedih bacanya, dan juga MELTING~
    Feelnya…nancap, pas lagi galo. Efek galonya hebat banget -_____,-

    Buat lagi ya saeng~~😀

    • eonnieeee! >w</ dan aku baru sadar tentang usernamemu, itu Alice B-Rabbitnya Pandora Hearts kan? KYAAAAAA *histeris* *ditendang*

      aku juga mau T.T
      memang, waktu itu gatau harus ngapain jadi menyalurkan galau ke tulisan. syukur ada hasilnya… dan bisa selesai…

      makasih ya eonnieee😀

  6. oh God…… i know how she felt so badly -__- /ngaca/
    aku nyasar baca ini… kenapa harus nemu story ini? dan kenapa harus kamu yg buat sih saeng? /timpukin junho pake marshmallow/ -____-“

  7. Si junho nih, pilih salah satu kek hmmm hehe
    Tapi kenapa ngga dibuat panjang aja sekalian? Pengen tau nih akhirnya gimana hehe
    Sequel bisalah hehe😀

    • au tuh si junho payah T~T akhirnya? akhirannya sad ending jadi aku kasian sama si tokoh ‘aku’nya ahaha xD
      dipikir-pikir dulu yaa, makasih loh :3

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s