Say Goodbye

say goodbye

“Kau tahu, walaupun anganku menjadi kenyataan, sebenarnya semua itu hanya maya. Bagaimana kau yakin aku pasti akan menerimanya?” 

” Karena aku percaya padamu, Min. Bukankah masih ada yang belum kamu sampaikan padaku?”

.

.

.

“Hari ini mau pergi lagi? Katanya cuaca hari ini buruk.”

“Tenang saja, lagipula aku ‘kan selalu beruntung! Jangan samakan aku denganmu, babo!”

“Yah! Siapa yang bilang kau boleh menambah iming-iming itu, hah!?”

******

“Kau lambat sekali!”

Lee Minyoung—atau Min, berkacak pinggang sembari menatap kekasihnya dari kejauhan. Pemuda yang bernama Lee Junho itu hanya tertawa kecil, lalu berlari mengikuti langkah riang Min. Sudah delapan tahun lamanya pemuda itu mengenal Min, dan ia sudah tahu bagaimana sifat asli gadis mungil itu. Tidak bisa diam, cerewet, juga penuh semangat. Entah sejak kapan Min selalu menjadi energi baginya.

“Jalanlah pelan-pelan, dasar anak kecil.”

Yah! Berani bilang anak kecil lagi, kupukul kau!” ancam Min serius. Junho kembali tertawa.

Kini mereka duduk di bangku taman. Rencana awal sebenarnya mereka ingin pergi ke taman bermain, tetapi mendadak Min tidak ingin lagi melakukannya. Ia lebih memilih tempat yang sederhana; tetapi dapat memunculkan suatu arti khusus.

“Sudah lama sejak kita tidak main ke taman ini, ya? Mungkin saat kau kelas satu dan aku kelas dua?” Junho mendaratkan tubuhnya di atas bangku taman berwarna cokelat, diikuti Min yang segera mengambil tempat di sebelahnya.

“Tidak, kurasa aku pernah terjatuh disini saat kelas tiga.” Min mencoba mengingat kembali kenangan-kenangan masa lalu mereka, dimana dirinya sering bersedih saat ditinggal Junho yang sudah lulus SMP. Telunjuknya mengarah ke bagian depan taman.

Junho terkekeh geli, lalu menyenggol pundak gadis berambut pendek itu, “ya, dan beruntunglah, sang pangeran tampan ini melihatmu ketika ia pulang dari sekolah, dan akhirnya ia harus menggendongmu pulang. Rasanya seperti membawa badak!”

Ck. Jahat!” Min memukul punggung Junho, menyebabkan satu ringisan kecil disertai tawa dari bibir pucat pemuda itu. Keduanya kembali diam, sesekali terdengar helaan napas Junho dan dengusan kesal Min. Angin menerpa anak-anak rambut mereka, dan pergerakan udara menghasilkan suara gemerisik dedaunan pohon. Taman sangat sunyi kala itu, matahari sudah hampir mencapai ufuk barat dan semburat jingga samar-samar menghiasi belahan sang poros semesta.

Ada banyak kata-kata yang ingin mereka ucapkan, tapi tidak bisa. Keterbatasan waktu dan tekanan hati masing-masing membuat mereka menahan diri, dan berpikir secara cepat bagaimana menyusun kata-kata itu dalam kalimat singkat tanpa meninggalkan satupun.

“Hei, Min.”

“Hmm….”

“Lee Minyoung!”

“Apa?”

“Lee Minyoung~!”

“APA!?”

Junho mencibir, “Jangan marah.”

“Bagaimana aku tidak marah kalau kau memanggilku begitu? Terus-menerus tanpa ada maksud.”

“Salahmu sendiri tidak menjawab.”

“Kau tuli, ya?” Min mendecak sebal. Junho itu—dari awal sampai akhir—sepertinya memang tak ada niatan untuk memiliki pembicaraan yang ‘damai’ dengannya. Selalu saja pemuda yang nampaknya pendiam itu cari masalah. Nampak luar boleh kalem, tapi dalamnya? Ah, Min tidak mau berkomentar apapun tentang karakteristik seorang Lee Junho. Minta ampun.

Sebelum ia sadari, telapak tangan Junho sudah berada di puncak kepalanya, mengelus dengan lembut. Seukir cengiran lebar menghiasi wajah putih Junho, dan dengan ekspresi riang ia bertanya, “kau mau es krim?”

Min termangu mendengar tawaran itu. Ia mengeryitkan alis, “sudah kubilang aku bukan anak kecil.”

“Yakin?”

Gadis berambut sebahu itu terdiam. Junho masih saja menatapnya dengan cengiran lebar khas pria itu, membuat Min berkali-kali melirik dan membuang pandangan ke arah Junho.

“… Asal kamu yang belikan.”

“Nah! Kenapa sih kamu tak pernah mencoba jujur? Sebentar ya!” Junho segera bangkit dari tempat duduknya, lalu berlari ke arah seorang pedagang es krim. Min dapat melihat sosok sang pemuda yang diterpa cahaya mentari, berkilauan tanpa ada sisi buruk dari sudut manapun ia dipandang. Tanpa sadar, gadis itu tersenyum. Tersenyum sedih.

******

“Aku sudah tahu kalau kamu tidak akan menolak godaan es krim.” Junho berkata dengan nada bangga, seolah-olah ia mengetahui hal yang setingkat dengan misi paling rahasia FBI.

“Berisik!” hardik Min jengkel. Baru saja perasaannya kembali tenang setelah menghabiskan es krim, Junho malah membuatnya tambah kesal.

Hyung!”

Sebelum Junho dapat membalas perkataan Min, dua sosok pemuda sudah menghampiri mereka. Keduanya menggunakan baju bebas, dan nampak sangat akrab.

“Wooyoungie! Chansungie!”

“Oh, sedang jalan-jalan dengan Minyoung?” sahut Wooyoung—Jang Wooyoung, pemuda yang lebih muda kira-kira 15 bulan dari Junho. Pria itu mengembangkan senyuman lebarnya, dan Min juga membalas dengan seuntai senyum dan sebuah high-five.

Hyung, katanya kau ikut jalan-jalan juga dengan teman-temanmu? Kenapa disini?” Hwang Chansung—atau Chansung, pemuda yang lebih tinggi, memandang Junho dengan tatapan penasaran.

“Oh..” pemuda bermata sipit itu melirik sekilas ke arah gadis berpipi gempal yang ada di sebelahnya, lalu kembali mengalihkan pandangannya lagi pada Chansung, “ya… aku sudah ada janji, sih.”

“Ah kau ini, sekarang sudah lebih memikirkan wanita, ya?”

Gelak tawa mengiringi percakapan mereka, sesekali Chansung dan Wooyoung melawak sehingga membuat suara tawa Junho memenuhi seisi taman. Min tidak terlalu terlibat, gadis itu hanya memandang wajah ceria Junho dengan senyum samar.

******

“Eh.” Sesaat setelah Wooyoung dan Chansung pergi meninggalkan mereka, Junho langsung menolehkan kepala ke arah gadis di sebelahnya, sembari menaikkan kedua alis.

“Apa lagi?”

“Maafkan aku, ya?”

Min menatap lekat-lekat pendar bola mata Junho, mencari ketenangan dari sana. Kata-kata Junho membuat napasnya tercekat, ia tidak ingin ada permintaan maaf. Ia tahu Junho tidak suka kalau dirinya pura-pura tegar, tetapi khusus hari ini saja, dia ingin menahan seluruh emosinya selama apapun yang ia bisa.

Junho tersenyum dengan eye-smilenya yang manis, salah satu senjata pria itu sehingga Min tidak bisa marah, lalu menautkan jemarinya pada jemari Min. Gadis berambut pendek itu terkesiap.

“… Untuk apa minta maaf?” Min bergumam—dengan suara yang hampir tak terdengar—berusaha menahan agar tangisnya tak pecah.

“Kurasa aku bukan pemuda yang baik. Selalu saja menghina, bicara manis saja jarang.” Gumam Junho. Pria itu tidak menatap balik Min, ia merasa takut. Entah apa yang ia takutkan.

“… Aku tahu kok. Kamu itu gentleman, tapi kalau denganku, kamu bersikap seadanya. Kamu tahu kalau cara menarik perhatianku adalah dengan berperilaku seperti ini.” Min juga memandang lurus. Ia tersenyum tipis, merasakan tangan dingin Junho mengeratkan genggaman mereka, seperti enggan untuk melepas.

Nah, itu kau tahu.”

“Kamu pikir berapa tahun aku mengenal pemuda bermata sipit bernama Lee Junho?”

Mendengarnya, Junho tertawa.

“Kamu juga, sudah berapa tahun aku mengenal gadis pecinta bokong?”

Yah! Apa tak ada kata-kata lain? Bokong itu tanda keseksian yang paling murni!”

“Berarti menurutmu aku seksi?”

“… Maumu begitu?”

Alih-alih menjawab, Junho malah mengelus kembali puncak kepala Min dengan sebelah tangan, tersenyum lembut. Gejolak perasaannya ia biarkan menjalar dengan sendirinya, karena memang seperti itulah cara ia menunjukkan seberapa besar rasa sayangnya. Mungkin menurutnya, dengan bergumam dalam hati dan menyentuh kepala Min, gadis itu akan mengerti apa yang ingin ia katakan tanpa perlu dijelaskan lagi.

“Hei, hei. Aku mau jujur. Tapi… kau jangan tertawa.”

“Apa sih? Katakan saja.”

“Janji, ya?”

“Iyaaa! Sudah, mau bicara apa?”

“Err.. begini. Orang yang bernama Lee Minyoung itu… menurutku sangat manis. Cantik juga, sih. Tapi bukan itu yang membuatku jatuh cinta. Aku tidak tahu sejak kapan dan mengapa aku bisa jatuh padanya, tetapi—maksudku—yang aku tahu, sebelum kusadari, aku sudah menyayanginya.” Junho berkata dengan kikuk, rasanya jantungnya sudah mau copot saja. Sedangkan Min merespon pernyataan itu dengan tawa kecil, rona merah menjalar ke pipinya—dan badannya panas seketika.

“Lee Minyoung bilang, dia juga merasakan hal seperti itu pada Lee Junho.”

“Bohong.”

“Benar, kok.”

“Lalu, kenyataan bahwa Junho selalu merindukan Lee Minyoung itu dia juga tahu?”

Dada Min terasa sesak. Ia kembali mengulas senyum, namun pelupuk matanya tidak dapat menahan tekanan itu terlalu lama. Air mata lantas membanjiri, membuat bulir-bulir kristal tersebut mengalir satu-persatu. Min mengangguk-angguk, menggantikan kata ‘iya’ yang sudah tidak sanggup keluar dari mulutnya.

“… Dan dia juga tahu kalau Lee Junho tidak suka melihatnya menangis?” Junho menyeka air mata Min dengan kedua tangannya, memandang iba sekaligus sebagai tanda permintaan maaf yang tiada batas. Pemuda itu juga ingin mengeluarkan air mata, tetapi ia tidak ingin Min khawatir. “… maaf..”

“… Jangan berkata bodoh.. jangan meminta maaf..!” Min berseru dengan suara serak. Ia menggigit lapisan bawah bibirnya, menahan isak tangis yang tak kunjung berhenti.

“Aku tidak akan berhenti berkata begitu sampai kau bilang bahwa dirimu memaafkanku.”

******

“Sudah tenang?”

Junho kembali duduk di atas bangku taman, menyeka air mata Min kembali. Gadis itu merengut, lalu memandang Junho dengan pandangan nanar.

“Nyanyikan lagu untukku.”

“Hah? Kenapa tiba-tiba?”

“Kubilang, kau harus menyanyi untukku. Tidak ada alasan spesifik.”

“Harus, ya? Ng… lagu apa, ya? Ah, ini saja.” Junho bangkit dari posisinya, lalu berdiri tepat di hadapan Min. Ia menatap teduh iris mata gadis itu, berharap hati gamang mereka berdua dapat terobati. Berharap Min dapat mengerti bahwa Junho sangat menyayangi gadis itu, lebih dari dirinya sendiri. “I have died everyday waiting for you, darling don’t be afraid I have loved you—”

Duk!

Kaki Min menendang tulang kering Junho, menyebabkan pemuda berambut hitam kecokelatan itu menjerit kesakitan.

“Kau mau aku menangis lagi?”

Junho meringis kecil, matanya mendelik kesal ke arah Min. Ia melompat-lompat dengan satu kaki, lalu merebahkan dirinya di atas bangku. Perlahan, kepalanya berlabuh di atas paha kekasihnya.

Keheningan kembali menyelimuti.

“… Minyoung, aku… menyayangimu.” Bisik pria itu, tenang dan dalam. Kelopak matanya tertutup, sekilas ia dapat mendengar debaran jantung Min dan desah napas yang tak beraturan. “Aku merindukanmu, Minyoung. Dan akan selalu begitu. Aku menginginkan keabadian bersamamu, atau paling tidak.. sampai menikah dan punya keturunan.”

“… Kau sedang menggombal?”

“Tidak. Aku mencintaimu, aku jujur.” Junho membuka kelopak matanya, kini tangan kirinya sudah menyentuh pipi kanan Min, menahan agar gadis itu tidak menjatuhkan buliran kristal lagi dari lingkar matanya. “Selama empat tahun kau jadi milikku, kurasa kamu belum sekalipun mengatakan ‘aku mencintaimu’ padaku?”

Entah kenapa Min malah tertawa kecil. Ia menggenggam erat tangan Junho yang masih mengelus pipi halusnya, lalu berkata, “Memang harus, ya? Kukira kau sudah mengerti.”

“Belum, belum. Katakan sekarang.”

“… Harus?”

“Harus.”

“… Aku mencintaimu…,” bisik gadis itu, sembari menutup mata. Ia tak berani menatap manik cokelat sang pemuda yang kini memandangnya begitu lekat.

“Anak pintar.” Senyum Junho kembali terulas, dan Min dapat melihat bahwa itu adalah senyuman paling membahagiakan—sekaligus paling menyakitkan—yang pernah ia lihat langsung dari wajah Lee Junho.

Ponsel Min bergetar. Ada telepon masuk.

“Kau tahu… ketika aku berusaha membencimu, aku malah semakin jatuh padamu, Jun oppa…,” bisik gadis itu lagi, pelan dan tertahan. Tetapi di dalam telinga Junho, ia dapat mendengar dengan sangat jelas kata apa yang keluar dari bibir Min.

Pria itu kembali tertawa. Akhirnya ia dapat mendengarnya, kalimat yang disembunyikan Min padanya, selama bertahun-tahun. Relung hatinya penuh dengan kehangatan. Ia bahagia.

Ujung jari kakinya perlahan menghilang. Diikuti tubuh, kemudian wajah damainya, semuanya terkikis menjadi debu, terbawa angin yang dengan kejamnya membawa sosok itu semakin jauh dari Min.

“Jangan pergi…!” Gadis itu menjerit, namun tenggorokannya tercekat. Ponselnya masih bergetar, dan sesegera mungkin ia mengangkatnya dengan seluruh tenaga yang tersisa setelah semuanya hilang seiring dengan tubuh Junho yang berubah menjadi kumpulan debu udara.

Jang Wooyoung calling..

“Yeoboseyo, Minyoung-ah! Baru saja aku dapat berita, mobil yang dikendarai Junho dan teman-temannya jatuh ke jurang. Tapi tidak mungkin, ‘kan? Junho tadi sedang bersamamu—“

Min tidak menjawab, tangis gadis itu seketika kembali pecah. Kali ini ia tidak berusaha menahan lagi air mata itu mengalir, membiarkan kekecewaan, amarah, kesedihan, dan rasa sayangnya bercampur jadi satu dan tumpah dalam bentuk kristal. Sejak awal ia tahu Junho yang bicara padanya, menautkan jemarinya, mengelus lembut kepalanya, bukanlah sosok asli pemuda itu. Bukanlah Junho dengan raganya yang biasanya terasa panas dan detak jantungnya yang biasanya selalu terdengar tak beraturan ketika Min mendekat.

“Berapa kali harus kubilang ‘aku mencintaimu’ agar kamu kembali..?”

I have died everyday waiting for you

Darling don’t be afraid I have loved you

For a thousand years

I loved you for a thousand years..

fin.

******

Comeback with JunMin~ lol melodrama gini jadinya-__- banyak kata yang ngga pas.. #terusngapaindipublish

Maafkan untuk kekurangan yang ada di fic ini. Anda bingung berarti saya sukses besar! o/

Mind to leave your comment?😀

16 responses to “Say Goodbye

  1. eum, eon jujur pas pertama kali bacanya, aku agak bingung aja, judulnya aja ‘say goodbye’ tapi ceritanya kok happy”-an gituh, dan ternyata pas ngegeser mouse turun, jeng-jeng… itu junho palsu ternyata (?) huhuhu kasian Min nya *puk-puk min*
    and as usually, ff ini sama keren nya kayak ff eonni yang laen!! cuman kalo koreksian ku ajah, percakapan antara min sama junho nya dikit mbosenin gitu🙂
    tapitapi over all ini teteup keren kok thor,, hiraukan aja koreksian ku itu fufufu u,u
    keep writing ya thor! black circus nya aku tunggu ! muahaha :* ;p

    • Lol kalo kamu junmin shipper, mungkin gaakan bosen :p /plak/
      Percakapannya sih sebenernya buat dapet feeling fluff ajakok, soalnya kan gaasik kalo tiba-tiba chansung-wooyoung udah langsung nyamperin aja. Jadi tujuannya supaya pembaca bisa ngerti sedeket apa min-junho itu🙂 tapi makasih koreksiannya o/
      Eh, baca black circus toh?._. oke, ditunggu ajaya :3

  2. Well, aku selalu suka ff kamu fikha -_-” ya tapi ya itu, ada percakapan yang lumayan buat aku bosen tapi bikin penasaran (lah?) mwehehe. Tapi tetep daebak kok!

    Hehe, akhirnya kamu update ff juga saeng, T_T aku binggung mau baca kemana lagi selain ketempat kamu -_- Ffindo udah rame dan castnya EXO semua. Gak asik. <– lah jadi curhat/dikepret.

    Yaudah fighting ya fikha, buat apa? buat apa aja deh. Annyeong!

    • Ehehe makasih unniee xD maklum shipper gila. aku masih belajar, Alhamdulillah bisa lebih baik (‾ʃƪ‾) mana ff unnie heyyy o/

      Kalo gitu ke IFK aja *halah-_-* tapi disitu entah kenapa juga banyak EXO. Gaseru ya unn kalo gitugitu doang, aku juga bosen disitu, authornya banyak banget pula-_-

      Yeay! Fighting juga untukmu~ :*

  3. Haduhduhduh…nysek amiiiir…
    Terus itu yang beli icecreamnya sapa dong??hiiiiy…asli serem….
    Serasa nonton drama apaa gtu lupa…
    Ini keren deh aslinya…sampe tercengang waktu Wooyoung nelpon…ternyata udah over ya Junho nya?? huaaa
    Daebak!!!🙂

    • halo kakkk o/
      yang beliin eskrim.. dari awal tuh sebenernya min udah tau junho udah mati, tapi dia mau nepatin janjinya buat jalanjalan terakhir mereka😀
      uh aku aja mikir, kayanya ini kebanyakan dialog deh…
      makasih banyak ya kak!!!😀

  4. deg degan bacanya, merinding bacanya ToT
    fikha… aku kira bakal sweet terus*?* walopun emang kalo sweet terus gabakal nyambung sama judul kkk~
    terus akhirnya ketemu hal-hal yang ganjil gitu.. kata-katanya bikin nyesek masa ToT
    dari prolognya udah bikin aku gregetan …
    dan lagih*?* castnya junmin !😄 haaa.. semenjak baca ff fikha yang apa ? love letter ya? *plak lupa .__.v* yang jelas yang itu.. gatau kenapa aku jadi suka junmin kopel😄 hahahaha.. thengs sudah mengenalkan XDb

    bagus fikha.. aku suka nih…
    terus berkarya ya ‘-‘)b
    semangat😄

    • nah iya makanya, banyak yang heran pas baca awalnya kok ga singkron sama judulnya nyehehe._. masa? :O
      iyakk love letter! junmin kopel itu unyu banget loh seriusan, duaduanya samasama koplak xD okeh samasama!

      kamu juga yaaa! semangat!😄

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s