Angel on Earth

angel on earth

“Serakah… tamak… bermuka dua….”

Jinki, seorang petugas pencabut nyawa, sibuk melihat-lihat insan manusia dari atas langit. Ia berjalan-jalan, memperhatikan tiap jiwa yang melayang kembali ke khayangan dan manusia yang masih memiliki raga melenggang di jalan utama yang sibuk. Ia mendengus keras, melihat ke dalam sanubari manusia sama saja dengan mengotori diri baginya. Lazimlah mereka memiliki hal negatif, namun jikalau negatif itu telah berubah menjadi hal-hal buruk layaknya yang Jinki sebutkan tadi, ia sudah malas membayangkannya.

“Mengapa manusia itu monoton sekali, sih?” keluhnya. Ia turun ke atas sebuah tiang listrik di jalan sepi, berdiri dengan nyaman tanpa perlu khawatir terlihat. Sekejap setelah Jinki mengedipkan mata sekali, nampak seorang wanita tua dengan sapu tangan hitam di tangannya lewat di dekat tiang listrik. Deru angin begitu menjadi hari itu, membuat sapu tangan sang wanita terbang ke arah jalan raya yang sunyi. Tiada masalah hingga terdengar suara truk kontainer dari jauh. Jinki sudah terbiasa melihat hal ini, lantas yang ia lakukan hanya melihat daftar nama dan identitas manusia yang harus segera dijemput pulang. Hei, dia tidak menemukan apa pun tentang wanita tua tersebut!

Sang wanita berjalan pelan-pelan ke tengah jalan raya, tertatih-tatih untuk mengambil sapu tangannya. Bunyi klakson semakin jelas terdengar, dan Jinki sontak membuka matanya lebar-lebar, penasaran bagaimana sang wanita akan selamat, atau tertabrak, hanya sekadar kritis, dan berhasil diselamatkan.

“Nenek! Bahaya!” Tiga detik terlewat dan sesosok gadis muda menerjang ke tengah jalan, memeluk dan melemparkan diri ke sisi jalan dengan sang wanita tua dengan sapu tangan yang telah aman di tangannya. Jinki bungkam sesaat, baru kali ini ia melihat insiden seperti itu terjadi di depan matanya.

“Nenek tidak apa-apa? Tak ada bagian yang luka?” tanya gadis berambut emas kecokelatan itu dengan ramah. Jinki mendecak kagum, lantaran pipi kiri si gadis sendiri dihiasi segaris luka yang kini berwarna merah, tapi ia tak menghiraukannya.

“Nenek tak apa-apa. Terima kasih, anak muda!” Setelah berterima kasih, sang wanita tua melangkah pergi, dan gadis muda yang menyelamatkannya melambaikan tangan diiringi sebuah senyum lebar di bibir merah delimanya, kemudian berbalik dan mulai berlari dengan penuh semangat. Jinki memperhatikan isi hati sang gadis, dan secara otomatis ia terkejut melihatnya. Si gadis memiliki hati yang sangat baik, dengan perangai cerah dan sungguh ramah. Tentu saja ia memiliki kekurangan, namun kekurangan tersebut sepele untuk Jinki.

Ia melirik ke bukunya. Park Sunyoung. Oh, sial. Perempuan beriris cokelat yang tengah ia lihat ini adalah jiwa selanjutnya. Harus bagaimana lagi, ia tak bisa melanggar hukum khayangan. Dengan segera, ia melangkahkan kakinya, namun tak beruntunglah ia lantaran Jinki lupa jikalau dirinya berada di atas tiang listrik. Sejurus saja, tubuhnya jatuh dan terpelanting ke tanah. Jinki mengaduh kesakitan, tentu saja makhluk layaknya ia dapat merasakan sakit pula.

Baru saja Jinki ingin bangkit, seseorang telah mengulurkan tangannya untuk membantu Jinki. Pria malaikat tersebut mengangkat kepalanya, dan menemukan Park Sunyoung dengan senyum secerah mentarinya sedang mengatur napas akibat berlari.

“Apakah sakit? Sanggup berdiri?” tanya Sunyoung, membuat Jinki terdiam beberapa saat, setelah itu menyambut uluran tangan Park Sunyoung.

“Er… bukankah kau sudah pergi tadi?” Jinki memasang mimik bingung. Tangannya menggapai tengkuknya dan menggaruk-garuk meski tidak gatal.

“Terdengar suara keras dari belakang, kupikir nenek tadi terjatuh lagi atau bagaimana, lantas aku cemas dan memastikan. Ternyata antisipasiku tiada memunyai kesia-siaan, ya?” Sunyoung tertawa kecil, membuat Jinki menelan salivanya karena gugup. Gadis itu melambaikan tangan lagi seraya membalikkan badan, berniat berlalu. “Aku duluan, ya! Hati-hati di jalan!”

“Tu—tunggu!”

“Ya?”

Jinki berpura-pura merogoh kantung celana putihnya, padahal ia hanya menyembunyikan tangannya yang mampu mengeluarkan benda apa saja. Ia memunculkan selembar plester, lalu mengeluarkan dan menyodorkan benda itu pada Sunyoung, tentunya dengan pipi memerah karena malu. Jinki tak pernah berhadapan dengan perempuan sebelumnya.

“Untukku?” Sunyoung nampak terkejut, namun sedetik kemudian ia kembali tersenyum lebar, “terima kasih banyak!”

“Oh, biar aku…,” Jinki membuka tutup perekat plester yang ia munculkan tadi, lalu menempelkannya selembut mungkin di pipi Sunyoung yang tergores. “Semoga plester ini membantumu supaya cepat sembuh,” kata Jinki.

Mendengarnya, Sunyoung tertawa ceria. Jinki adalah orang yang sangat menarik baginya. “Terima kasih, kau seperti malaikat!” kata Sunyoung. Dan begitulah, Sunyoung pergi meninggalkan Jinki dengan hati riang. Meski singkat, tetapi kesan yang diberikan Park Sunyoung amat mendalam di hati Jinki.

“Lucu, dia menganggapku sebagai malaikat, padahal aku memang malaikat. Bahkan dia bisa melihatku, ajaib sekali… tinggal menghapus ingatan orang-orang yang melihatnya berbicara sendiri dan tugas selesai.” Jinki mengembangkan senyum kecil, lalu mencoret nama Park Sunyoung dari buku. Ia mengepakkan sayap yang tersembunyi di punggungnya, kemudian terbang ke langit. “Hanya sekali, kubiarkan saja gadis itu hidup lebih lama lagi. Kota ini kerap membutuhkan malaikat bumi yang lebih mulia daripada malaikat langit. Ya, setidaknya hingga besok, besok, besok, dan besoknya lagi.”

Sampai saat di mana kerinduanku terhadap Park Sunyoung telah mencapai batas, dan egoku menariknya untuk segera berlari ke langit, menjadi malaikatku.

fin.

***

tumblr_mgagn9DkPV1qevx7qo3_250 tumblr_mgagn9DkPV1qevx7qo4_250

Momen teraneh sepanjang masa… tapi idiotnya dua orang ini bikin naksir deh!

Next One will be: The Maknae with her Ice Prince

Mind to review?😀

15 responses to “Angel on Earth

  1. Pingback: [Ficlet] Forever | Cappulatte·

  2. critanya simpel tp keren #abaikan
    ska bget ma caramu nyeritainnya. Biarpun pndk, tp trksan manis
    polos(?) n lugu(?)nya onew n luna dpet bget #AbaikanLagi
    ditggu ficlet slnjtnya ya😀
    aku uda bca yg myungstal🙂

  3. Pingback: [Ficlet] Can’t Leave | Cappulatte·

  4. Annyeong, I’m new reader here😀
    baru kali ini baca ff Luna-Onew dan ternyata baguuss banget. Kata-katanya bener2 menyihir >< alami dan ngena😀 awesome (y)

  5. Pingback: Who Are You? | Indonesia Fanfiction Kpop·

  6. Pingback: Who Are You? | Cappulatte·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s