A Stupid Argument About the Moon & Lake

a stupid argument about the moon and lake

“Alangkah baiknya jika bulan ada dua. Tak apa jika dia hanya ilusi. Tak apa jika dia tidak nyata.” – Ashihara Hinako 

Cahaya remang menyinari semak-semak dan pepohonan di sekitar. Permukaan air yang tenang, hanya beriak ketika sebuah dayung dari kayu menyentuh permukaannya dan perahu mungil berjalan di atasnya. Kunang-kunang tak pernah enggan mengeluarkan pelita, membantu pemuda yang mendayung agar mengetahui jalan, meski sebenarnya tak perlu. Sudah berjuta-juta kali ia melakukan hal ini, meskipun bosan, namun itulah kewajibannya. Sekali-kali ia menyapa rembulan yang tersenyum ramah, bertanya bagaimana kabarnya sekitar ratusan kali setiap malam. Tidak, bulan tidak muak mendengarnya, karena hanya sang pemuda lah satu-satunya orang yang menegurnya. Ia senang berbicara; sayang tamu-tamu di perahu tak pernah menyadari keberadaannya. Tak apa, yang pasti sang dewi malam sudah berusaha rendah hati.

Namun, di suatu malam yang sunyi kala itu, hanya ada satu penumpang. Seorang gadis cantik dengan rambut sehalus sutra dan kulit yang hampir seputih salju. Maniknya mengerjap, sibuk melihat kesana-kemari, pertanda ia bersemangat melihat pemandangan dari perahu. Rembulan yang terlelap membuka matanya perlahan, penasaran siapakah gerangan yang menciptakan bunyi berisik di tengah danau yang biasanya sepi. Tentu saja bukan si pendayung yang memiliki suara yang kalem dan lugas. Yang ini terdengar lembut dan intonasinya berbeda, lebih tinggi.

“Kaulihat tadi? Pohonnya menyapaku! Ada seekor ikan yang memiliki telur emas yang disimpan dalam kerang, dan… oh, selamat malam, Tuan Bulan!”

Bulan terkejut. Baru kali ini ada orang lain yang memanggilnya.

“Selamat malam, Nona manis,” timpalnya, tersenyum ramah. Ia senang akhirnya ada manusia yang tidak duduk di sudut perahu dengan tubuh gemetaran seperti saat si pendayung perahu dan dirinya melakukan percakapan singkat. “Ke mana tujuan Nona ini, Tuan Pendayung?”

“Hanya ada dua pilihan. Kaubisa mengandaikan di mana pun yang kau suka,” jawab si pendayung, sembari tetap mengontrol perahu agar tidak salah arah. Kakinya sesekali ditekuk akibat pegal berdiri. Ia mengedarkan pandangan, menatap dari bawah topi hitamnya, perahu kecil yang kayunya tak pernah rusak sekali pun, dihiasi lentera di ujung depan yang runcing, sedangkan sebuah papan di bagian belakang digunakan penumpang untuk duduk. Gadis yang baru saja naik tadi masih terkesima dengan banyaknya panorama indah di Volterania. Asap putih di atas danau, hutan dengan pohon-pohon yang berbisik untuk sekadar menyapa, dan rembulan yang tersenyum cemerlang. Sungguh unik!

“Benar! Kita akan ke mana, Tuan Dayung?” sahut si gadis, ikut masuk dalam pembicaraan. Pemuda dengan tubuh kekar dibalut jaket hitam itu mengerutkan alis, merasa jengkel pada pekerjaannya yang membuat dirinya harus mendapat julukan sial.

“Namaku Kim Myungsoo! Harus berapa kali aku bilang, Nona Jung Soojung?” protes pemuda bernama Kim Myungsoo itu. Sedangkan bulan hanya terkekeh geli, merasa puas ada tontonan menarik setelah beribu juta tahun lamanya ia menerangi alam Volterania juga beberapa sisi bumi secara bergantian. Jung Soojung, gadis yang menarik!

“Ah, maafkan aku. Setidaknya aku tahu aku akan ke mana,” ujar Jung Soojung. Ia menekuk kakinya, lalu memeluk lutut. “Pembalasan karena aku selalu berharap bisa menggapai bulan, ‘kan?”

“Teori bodoh macam apa itu?”

“Itu bukan teori! Dengarkan saja sebentar. Kautahu aku selalu mengharapkan bahwa danau bisa melahapku kapan pun mereka mau, tetapi sialnya aku bisa berenang dan badanku tak mau merelakan diri. Jadi aku mencari cara lain untuk kabur dari konflik batin yang kuciptakan sendiri. Bodoh, ya?”

“Er, terserah saja. Tetapi danau ini bisa memakanmu jika kau mau, sayangnya kau terlalu terhormat untuk menjadi bangkai yang mengambang di atas permukaan air.”

“Kau baik sekali, Tuan Kim!” Soojung tergelak, meski tak ada hal yang pantas ditertawakan. Myungsoo hanya mendesis, irisnya memperhatikan lekuk wajah Soojung. Begitu sempurna, ditambah sebuah tawa yang manis. Sungguh gadis yang cantik.

“Lalu? Bagaimana kaubisa sampai ke danau ini, Nona Soojung? Kelihatannya kauingin membicarakan sepotong kisah dramatis insan manusia.” Bulan mengalihkan pembicaraan. Aksinya mendapat delik kesal Kim Myungsoo, namun mau apa lagi, Rembulan pasti kesepian dan mencari teman bicara.

“Sungguh kauingin tahu? Baiklah, tidak perlu kias. Kuharap telingamu sudi mendengarkan keluh kesahku.” Soojung tampak bahagia sekaligus sedih di waktu yang sama. Ia mengukir senyum, namun tidak terkesan tulus. Tawanya yang membahana sampai ke pelosok hutan kini terhenti. “Aku… menyayangi kekasihku,” ujarnya lirih. Soojung bergerak ke tepi perahu, meletakkan tangannya di sana, lalu menerawang jauh ke dasar danau, menatap ganggang berwarna-warni yang menimbulkan efek warna pelangi di permukaan air.

“Kau yakin mau mendengar cerita melankolis ini?” bisik Myungsoo pada Rembulan, namun ia tahu pasti bahwa Bulan takkan mendengarkan suara yang lain lagi selain suara Soojung

.

“Soojung, kaulihat sepatuku?” sesosok pemuda dengan wajah tampan dan seulas senyum ramah menghampiri Soojung—sang manager sekaligus atlet lari sekolah—dengan tergesa-gesa. Matanya menyapu seluruh sudut ruang loker, mencari sepasang sepatu lari Nike berwarna merah yang sering dikenakannya. Soojung hanya memperhatikannya sembari memasukkan barang-barang ke dalam sport bag.

Tak berapa lama, ketika barang-barangnya telah tertata rapi dalam tas, Soojung melempar pandangan ke arah sang sunbae. “Masih mencari?” tanyanya.

“Ah, apa kau ada urusan Soojung? Tak usah mengkhawatirkanku, kau duluan saja!”

Siapa juga yang mengkhawatirkan orang ini?

Soojung mendengus. Sunbae yang kini ada di ruangan yang sama dengannya adalah atlet terbaik di klub, sering mengikuti kejuaraan daerah, dan selalu mendapatkan gelar juara. Ketika kaki cepatnya mulai tangkas bergerak di atas lintasan, dalam sekejap saja, meskipun hanya beberapa detik, Soojung merasakan debaran yang kuat di jantungnya. Sosok seseorang yang tengah berlari dengan wajah cerah tak pernah menarik perhatian Soojung, tentu saja, kecuali pemuda satu itu. Seorang pemuda; bukan matahari, tetapi rembulan. Sunbae-nya yang ceroboh tersebut lebih cocok diibaratkan setinggi-tingginya sebagai bulan, tetapi belum cukup untuk menjadi si raja langit.

.

.

Saat kejuaraan tingkat daerahnya diadakan, kakak kelasnya itu sedang terkilir; namun memaksa untuk ikut. Selain karena ia adalah ace klub atletik, rasa tanggung jawab dan kecintaannya pada dunia atletik begitu besar. Tatkala ia berlari dan berada di urutan hampir terakhir, semua orang berteriak dan berdiri, merasakan ketegangan yang menguar hebat dalam stadium, termasuk Jung Soojung.

SUNBAE!”

Dan teriakan Soojung adalah yang paling keras saat itu. Sejurus saja, kaki sang sunbae bergerak lebih cepat, mengejar seluruh rivalnya, lalu memutuskan pita garis akhir paling dulu. Ia terjatuh, orang-orang mendatanginya. Alih-alih menemukan raut kesakitan, yang terulas di wajahnya adalah sebuah senyum lebar.

Sederhana, namun hal itu adalah kemenangan terindah yang pernah Soojung lihat.

Samar-samar dari jauh, sang sunbae mengangkat tangan dan melambai ke arah Soojung. Meskipun tak dapat didengar dari jauh, namun Soojung dapat memastikan orang itu berkata, “Terima kasih!”; menyebabkan satu detakan aneh.

Dan ia sadar bahwa ia mulai jatuh cinta.

.

.

“Rasanya aku melihat sepasang sepatu di sudut ruangan tadi. Di sebelah loker.” Soojung berkata datar sembari menyampirkan sport bag miliknya di bahu. Si pemuda segera melangkah ke tempat yang ditunjuk Soojung, dan benar saja, sepatunya ada di sana. Tawa renyah mengisi keheningan dalam ruangan.

“Terima kasih, Soojungie!” serunya gembira. Tangan besarnya yang hangat mengelus lembut kepala Soojung, menyebabkan semburat merah menjalar dan menghiasi pipi sang gadis. Soojung tidak membalas, hanya tersenyum senang. Ditambah panggilan untuknya yang entah kenapa terasa manis, perasaan cintanya semakin bertambah.

Teringat perkataan seorang kakak kelas yang merupakan sahabat si pemuda untuk Soojung.

“Kau menyukainya, ‘kan?”

Iya, aku menyukainya.

Soojung benar-benar malu. Ia memutuskan untuk keluar ruangan terlebih dahulu, namun sunbae-nya mengenggam pergelangan tangannya, membuat Soojung terkejut dan wajahnya memanas seketika.

“A—ada apa?”

“Duduklah!” perintah sang pemuda. Soojung menurut saja, bingung sekaligus senang. Waktunya bersama sang kakak kelas menjadi lebih lama, mungkin hari ini dia sedang beruntung. Orang itu berlutut dihadapan Soojung, memandang ke bawah dengan mata teduhnya yang menghangatkan sanubari. Jemarinya yang panjang menyentuh tali sepatu Soojung yang terlepas. “Biar kuikatkan tali sepatumu. Kaubisa jatuh, kau tahu?”

Mendengarnya, Soojung merasa sesak di dadanya membuncah dengan luar biasa. Sesak karena bahagia.

“Ng… Sunbae…,”

“Ya?”

“Aku….”

.

.

Sunbae!” Soojung berlari cepat, terlampau cepat malah, ke arah seorang gadis muda yang tengah duduk di pinggir lapangan. Gadis berambut panjang bergelombang itu memeluk erat sang sunbae yang merupakan teman dekatnya, lalu menjerit dari dasar hati. “Dia menerimaku, kak!”

Ekspresi gadis yang merupakan sunbae Soojung—salah satu anggota klub atletik juga—terkejut. Butuh beberapa menit sampai ia bisa kembali mengontrol emosinya. Tangannya mengelus lembut kepala Soojung, memberikan sebuah senyum terhangat yang bisa ia tunjukkan untuk hoobae tersayangnya. “Jangan menangis, ah!” katanya, tertawa kecil. Meski ekspresi pilu masih membekas jelas di wajah cantiknya.

Dan kakak kelas yang begitu lembut dan penuh kasih ini bagaikan riak air danau. Tenang, terkontrol, berbeda dengan Soojung, ia bisa menahan beban siapapun layaknya air danau memaparkan bayangan gagah sang bulan.

.

“Kami menjalani hubungan dengan lancar-lancar saja. Jika aku marah, dia akan mengejar dan memelukku. Tetapi, tatkala aku benar-benar sibuk, walau tak menjauh, dan kami baik-baik saja… di saat yang sama kekasihku bertambah dekat dengan kakak kelas kesayanganku. Gadis yang baik, manis, selalu tersenyum.”

Myungsoo hanya diam, menajamkan indera pendengarannya. Entah sejak kapan ia mendayung dengan sangat lambat; membiarkan dirinya memfokuskan seluruh nyawanya untuk mendengarkan kali pertama dan mungkin yang terakhir, kisah hidup penumpangnya dari mulut mereka sendiri. Oh, alur hidup manusia begitu melankolis. Dia selalu mengatakan hal itu, namun pada akhirnya tertarik juga untuk mendengarkan.

“Selama setahun… aku tak pernah sadar… aku yang baru mengenalnya beberapa bulan telah mendapatkan hati sang senior, sedangkan gadis ini sudah mendambakan cinta kekasihku selama lebih dari enam tahun. Cintanya tertambat sejak pandangan pertama, ketika mereka di sekolah menengah kelas satu.” Tatapannya berubah sendu, dan inilah hal yang tak pernah Myungsoo lihat. Penumpangnya sejauh ini selalu berwajah datar, menatap kosong, atau menunduk dengan tubuh gemetar. Tetapi Soojung tidak.

Soojung berbeda.

 .

.

“Bagaimana persiapan ujiannya?”

“Ah, aku lelah!” Soojung menghela napas panjang. Diseruputnya milkshake dingin seraya membiarkan tubuhnya bersandar di  sandaran kursi sebuah restoran. “Kurasa aku harus kembali mempelajari fisika lagi malam ini. Itu salah satu mata pelajaran yang paling kubenci,” ungkapnya, jengah. Sedangkan pemuda di sebelahnya hanya tertawa kecil, sebuah tawa yang sangat khas dan terdengar begitu menggelitik di telinga Soojung.

“Tak usah dipaksakan, nanti malah sakit, bagaimana?” katanya, lalu menepuk-nepuk kepala Soojung. Soojung mengukir senyum samar, tidak selebar biasanya. Ia senang pemuda ini cemas, tetapi yang ia inginkan adalah kata-kata jenaka semacam, “Berjuanglah! Kalau kau tidak masuk, aku akan puasa sebulan penuh! Kau mau pemuda tampan ini kurus kering?” atau “Aku akan membantu sebisaku supaya kita bisa sama-sama lagi, semangat Soojungie!”. Terlalu muluk memang, tetapi inilah yang Soojung inginkan. Kekasihnya tak pernah menunjukan tanda-tanda bahwa ia bersemangat saat Soojung memutuskan untuk masuk ke universitas yang sama.

“Hei!” Sejurus saja seorang pemuda mendatangi meja mereka, tersenyum ramah dan bertanya, “ini pacarmu? Ternyata kau punya pacar, toh? Kukira selama ini kau sedang dekat dengan teman yang berasal dari sekolah yang sama denganmu! Itu, gadis cantik, anak klub atletik juga?”

“Ha? Bu—bukan! Sungguh, ini pacarku, pacarku hanya seorang!”

“Ah, kenapa kau panik begitu, sih? Mencurigakan!”

Soojung hanya terdiam, mengatupkan rapat bibirnya; memperhatikan. Diliriknya pemuda di sampingnya yang tengah membela diri.

Wajahnya memerah.

Mendadak, hati Soojung terasa kosong.

.

.

“Berkat jurusan dan minat yang sama saat naik ke tingkat universitas, semakin hari mereka semakin dekat, sementara aku sibuk mempersiapkan ujian masuk agar bersekolah di tempat yang sama dengannya. Gosip tentang mereka merebak kemana-mana, namun kekasihku selalu bilang jangan dipedulikan. Dia menyayangiku dan hanya aku. Kupikir itu benar, kupikir dia tak mungkin memiliki secercah rasa karena dialah orang paling jujur yang pernah kukenal. Tetapi… dia juga manusia.”

Di dalam benak Soojung, muncul sosok keduanya. Kekasihnya yang selalu tersenyum hangat, mengelus kepalanya dan memberikan ketenangan, kebaikan hatinya yang menyentuh nurani Soojung. Sedangkan si gadis yang tertawa kecil, membuat Soojung tenang dengan auranya yang mirip seorang ibu, pelukannya yang membuat lega, dan desir suara lembutnya yang mengantarkan Soojung menuju kedamaian jiwa. Dua-duanya sosok yang berarti. Myungsoo dapat merasakan kehangatan sekaligus rasa pedih karena bimbang menelusup di sela-sela hatinya. Padahal selama ini ia tak pernah merasakan hal macam itu. Tetapi dengan menilik pikiran dan perasaan Soojung, ia mulai belajar perlahan-lahan. Ikut merasakan.

“Kupikir tak apa… kupikir tak apa jika dia ada di sampingku dan berkata bahwa dia mencintaiku… namun, aku merasa bahwa ketika tangannya kugenggam, ketika tatapannya tertuju padaku lekat-lekat… aku tidak merasakan lagi ada perasaan yang dalam layaknya pertama kali ia menerimaku. Dia tidak sepenuhnya milikku….”

Angin berdesau, iba melihat air mata yang berkumpul di ekor mata Soojung. Rembulan terdiam. Myungsoo masih mendayung, memperhatikan kerlap-kerlip cahaya di balik kegelapan dihadapannya, tak berani memalingkan wajah lagi ke belakang. Meski begitu, ia masih mendengarkan.

“Walau aku ingin memilikinya lagi, tetap tak bisa. Seolah jaraknya menjauh dan tak dapat kugapai, yang kugenggam hanya udara kosong, bagaikan berusaha menggapai bulan di langit….”

“Kau tahu, ketika pantulan bulan mencapai wajah danau, mungkin kau bisa meraih cahayamu lagi, meski hanya satu kepalan tangan. Tak apa jika dia hanya ilusi. Tak apa jika dia tidak nyata. Meski hanya sekejap, yang pasti kau tahu bahwasanya bulan yang kaulihat sampai sekarang tidak pernah merasa sia-sia telah membagi cinta dan hangatnya tempaan cahaya untukmu seorang. Meski nantinya akan ada orang lain yang menerimanya juga. Yang penting kau pernah mendapat cahaya itu. Hanya kau satu-satunya. Berdiri di hadapan rembulan yang besar.”

“Bukankah… alangkah baiknya jika bulan ada dua, atau lebih? Satu untukku, satu untuk yang lain. Bukankah semua gadis ingin orang yang bicara ‘aku mencintaimu’ hanya untuknya seorang?”

“Kau hanya tak ingin mengakuinya. Bukankah yang namanya realita seperti itu?”

“Aku tahu… sebenarnya, aku memang selalu merasa dia menatap ke suatu tempat yang jauh. Entah apa yang ia lihat dalam sudut penglihatannya. Makanya… makanya aku memutuskan untuk pergi ke danau ini….”

“Menurutmu itu pilihan tepat, ha? Membiarkan dirimu sendiri pergi dari dunia? Kau bodoh jika membunuh detik waktu kehidupanmu sendiri.” Kini permukaan air dihiasi dedaunan berwarna ungu dan merah menyala, yang gugur dari pohon-pohon sepanjang tepi danau. Isak tangis menyela sunyi, dan Myungsoo sangat tahu bahwa satu-satunya penumpang yang melekat dalam pikirannya dari ujung rambut sampai kakinya, tengah menangisi sesuatu. Entah pilihan, ataukah hal lain.

“Kali ini biar aku yang mendukung mereka.” Ujar Soojung perlahan. Airmatanya jatuh, bercampur dengan air danau yang jernih. Melihatnya, Bulan ikut menangis, membuat gurat kehitaman dan awan gelap di sekelilingnya berusaha menghibur.

“Ah!” Myungsoo mendengus keras, lalu mengacak rambutnya frustasi. Pemuda tersebut melempar dayungnya sampai jatuh ke atas lantai perahu, lalu menolehkan kepalanya ke arah Soojung. Sang gadis tersentak, ia termangu menatap manik tajam Myungsoo. “Sudah cukup argumen bodoh tentang danau dan bulan ini! Lalu kau mau kemana? Kau mau aku mengantarmu ke tanah penyiksaan atau dataran kebahagiaan, tetapi kau tahu sendiri, kesalahan besar masih membayangimu!”

Desah pilu dan burai airmata Soojung kembali mendesak ke luar. Saat-saat ketika tubuhnya melindungi kekasih dan kakak kelasnya dari tiang besi yang jatuh mendadak membuatnya ketakutan. Karena sifatnya yang tak sabaran dan kecemburuan menumpuk dalam hatinya, ia menyusun suatu rencana manakala festival sekolah berlangsung. Sebuah tiang yang menahan papan selamat datang di pintu gerbang jatuh ke arah kakak kelasnya, tetapi perkiraannya meleset, karena kekasihnya juga ada di sana. Sekelebat bayangan mengerikan muncul dihadapan Soojungsiluet mayat keduanyaberkecamuk dalam ketegangan. Dan dengan tiba-tiba, Soojung menerjang, membiarkan tubuhnya sendiri menjadi sasaran empuk tiang berat itu. Sekejap setelah ia merasakan sakit yang luar biasa menimpa kepala dan sekujur tubuhnya, penglihatannya memburam dan berubah menjadi kegelapan pekat. Ia yang merencanakan agar tiang itu jatuh, namun pada akhirnya ia juga yang melemparkan diri untuk bertemu ajal.

Soojung menyeka air mata dengan jemari lentiknya, lalu terisak pelan, “Aku ingin tetap di sini… Aku tak mau ke mana pun….”

Myungsoo mendengus keras. Baru kali ini ia juga ikut bimbang, pertama kalinya mendapat penumpang yang menyebabkan emosinya ikut campur aduk. Ia mengambil dayung yang tadi ia banting, lalu mulai mendorong dayung di permukaan air.

“Pada akhirnya kau akan membawaku ke dasar danau?” lirih Soojung. Myungsoo mengendikkan bahu, lalu memejamkan matanya.

“Tidak. Sejujurnya aku letih mendayung terus, biar saja melanggar aturan, seharusnya mereka memberikan asuransi pijit dan hiburan untuk pekerja di tempat membosankan seperti danau ini. Dunia arwah sepertinya memiliki banyak fasilitas, salah satunya rumah makan dan beberapa lokasi wisata. Aku lapar.”

Ng… maksudnya?”

“Kita kencan. Kau dan aku.”

Soojung membelalakkan mata. Ia tak bisa menutupi keterkejutannya, tentu saja. Tetapi rona merah di pipinya segera menjalar tanpa aba-aba. Kim Myungsoo tersenyum hangat, dan tanpa ia sadari, gurat kemerahan sejurus saja segera menghiasi pipi putihnya.

Perjalanan air di bawah pantulan sinar rembulan, yang ia jalani bertahun-tahun lamanya, tak pernah semenyenangkan ini.

fin.

Published before here and here

+===+

A/N:

Ceritanya mengangkat tema yang sederhana (oke, ada orang ketiga tapi orang ketiga ini terlalu baik untuk dinistai huhuhu) tapi pembawaannya yang menarik dan kata-katanya yang ohmygod bikin merinding itulah yang bikin komik The Moon & Lake bagus.

Tapi plot fantasi, Volterania, tentang Myungsoo si pendayung perahu di danau akhirat, juga Soojung yang mungkin bunuh diri dan blablabla lainnya itu murni milik saya. Paling konflik Soojung aja yang punya Ashihara dan scenenya saya ubah😀

Omong-omong, siapa kekasih Soojung dan kakak kelasnya di dalam bayangan kalian?

Mind to review? Terimakasih^^

12 responses to “A Stupid Argument About the Moon & Lake

  1. Kyaaaaaaa Pipikkkkkkkkkkkkkkk

    aku lamaaaaaaaa banget ga buka wp dan begitu buka wp kamu, voila~ udah bertebaran banyak ff. duh bahagiaaaaaaa x3

    aku suka suka suka sama ini.
    kirain ini cm kyk cerita2 picisan gt yg pendayung perahu semacam d venesia (?) gt. ternyata ini cerita fantasi. xD dapet dapet dapettt..

    dan ada sedikit komedi (?) di endingnya -entah itu kamu bermaksud mau dibikin lucu apa nggak tapi menurutku itu lucu #eh- yg bikin seger. suka.😀

    btw klo namjanya, entah kenapa aku kepikiran Dongwoon.. entahlah, dia baik dan ga tegaan (?) sih.
    klo yeoja nya aku kepikiran Luna.. dia kan senyumnya hangat dan keibuan bgt…

    • KAKAKKKKK kakak harus tau betapa aku merindukan kakak T^T /dilemparbesi/ anyway BC lagi hiatus sampe dapat kabar nih, jadi kalo mau baca lanjutannya ke IFK aja yaa x)

      ahahaha aku emang kepikiran Venesia tapi sebenernya inspirasi pertama dapet dari MV-nya IU dan rookienya LOENT siapatuh? yang mereka mendayung perahu di bawah sinar bulan xD
      gatauuu aku sih buatnya happy-go-lucky ajalah fic ini, dari curhatannya soojung mah udah remaja banget terus endingnya sengaja bikin aneh(?) /APA
      Dongwoon? bolehlah boleeeh xD si maknae arab~
      haduduuu aku jatuh cinta sama senyumnya Luna<3

  2. Yeeeee akhirnya aku bisa baca ff fantasy lagi! Sekarang ff fantasy makin langka huhu ;;;;;;
    Ini bagus! Keren loh serius ><
    Aku juga ada ff yg scenenya ngedayung perahu gini trus genrenya fantasy juga, tapi alurnya beda, dan ntah kenapa aku pikir punya kamu ini lebih bagus u.u
    Bentar bentar, jadi si L semacam pengantar roh(?) gitukah? Huehe aku rada gamudeng di situ doang😄
    Dan aku kaget ternyata scenenya ini semacam di akhirat gitu, aku kira bakal di tempat peri2 gitu(?) atau si krystalnya kabur hahaha /ditoyorfikha/
    Ntah kenapa aku ngakak baca kalimatnya si L di ending😄
    Ngelanggar peraturan seenaknya ha..ha.. malah ngajakin krystal kencan pula x.x
    Oke, ini sangattttt bagus dan kata2nya juga enak buat dibaca! Diksi yang bagus ditambah alur cerita yang rapi😀 awesome!
    Love this yaa ^^

    • dan kalo sering-sering dateng ke sini, ff fantasy-nya dijamin berlimpah kok :3 #INIAPA #padahalbarubuatdikit
      heeeeei mana tau yang mana yang bagus? siapa tau punya kakak bagusan, ini juga dibuat garagara bikin covernya iseng terus muncullah ide aneh itu
      iyap dia pengantar roh di dunia yang semacam jembatan antara dunia fana dan akhirat gitu😀
      yeaaaay terima kasih kakaaak!{}

  3. *lewat*
    nah ini lagi FF badaiii :”)
    bahasanya sangat diksi/? puitis…..
    tapi tetep bisa dimengerti…

    tapi… itu ital mau dibawa kemana abis dia ajak kencan😄 mau diajak kawin /? *terus mikir keras*

    ya… intinya, aku selalu suka sama karya author :”) kereeeen hihihi /?

    • halo cintyaaaa! xD
      sebenernya sih ini mengangkat kisah manis-pahit cinta remaja dicampurkan dengan suasana fantasy sih, hehe:>

      diajak nikah nanti, jadi kle sudah menemukan pengganti huhuehe. panggil fikha ajaaa! makasih banyaaaak{}

  4. WOW!! /lempar Junhong/
    Aku suka sama ini cerita..
    AKU SUKKAA!!! 😀
    Walau aku bukan MyungStal Shipper :))
    But I Like this.. :))

    Entah kenapa kamu itu jago banget buat yang kayak gini. (baca:fantasy things)
    Mana eyd bagus juga kosa-kata yang gak itu” aja… I envy you…😥

    Fika sebenernya ini itu modus..
    Biar kamu komen di fic aku😛
    Komen dan like ini ya =>
    http://myfishyworld.wordpress.com/2013/08/04/ofwc-baby-lets-break-up/

    Luph you.. ^^
    Rita ’98 line

    • waaa makasih banyaaak xD
      ah ngga juga kok, mungkin karena aku suka berkhayal melebihi batas yang seharusnya(?) kalo soal kosakata yang banyak, bisa didapat melalui banyak membaca, jadi banyakbanyak baca aja!! ‘O’)9

      oooh okeoke Ritaaa! makasih ya udah baca<3

  5. Halo kak Fikha~ Udah lama banget pengen baca fic ini tapi aku baru sempetin baca sekarang#duak
    BTW kak, FICNYA KEREN BANGET
    Aku jujur loh kak, diksinya rapi banget dan aku gak nemu typo loh… Kak Fikha emang kece banget! Aku jadi ngefans sm kak FIkha#bukannya udah dari dulu*kicked
    Ya udah kak, cukup segitu aja komenku. Goodbye*mmuach

    • HALOOOO aduh aku suka lupa, selain manggil mawar aku bisa manggil kamu apa deh? ><
      ngga banget kok, aku juga masih berkembang nih… ngefans sama aku? oya bolehlah, tapi mending jadi temenku aja ahaha xD
      makasih banyak yaaaa<3{}

  6. wahhh, ficnya bagus banget, feelnya kerasa! Aku bisa banget ngebayanginnya, pokoknya, this fic is amazing! O iya, aku readers baru, salam kenal ya^^, jangan lupa main-main ke blogku, hehe^^#plak
    Once more, salam kenal^^

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s