Can’t Leave

cant leave

Choi Jinri version.

.

.

Choi Jinri adalah nama gadis yang selalu memandang ke luar jendela. Entah perihal apa yang dipikirkannya, sering kali segelintir orang bertanya-tanya faktor apa yang membuat Jinri begitu candu menatap panorama kota yang biasa-biasa saja tanpa berniat untuk melangkahkan kakinya di jalan. Selalu hanya sendirian di jendela lantai dua, diam dan membiarkan anak-anak rambut pendeknya yang berwarna hitam melambai-lambai ditiup angin musim panas.

“Aku mau pergi…,” Ekspresi Jinri nampak gelisah. Selalu perkara itu yang ia bisikkan tiap kali melihat guratan jingga berpadu dengan kemerahan di langit barat, isi pikirannya carut-marut dan membuatnya pening. Choi Jinri ingin merasakan sejuk dan menyengatnya udara di luar.

“Kau hendak ke mana?” Sesosok pemuda melangkah mendekati Jinri, dan jantung sang gadis terhentak lantaran terkejut-kejut. Takutnya si pemuda mendengarkan isi hatinya, dan perihal tersebut membuatnya tidak tenang.

“A—aku masih di sini kok,” kata Jinri. Ia berusaha menyunggingkan senyum lebar. Jinri membalikkan tubuhnya dan benar saja, maniknya menemukan Choi Minho bersama mimik kecewanya, menyorotnya dengan tatapan nanar. Tangan sang pria bergerak ke arah kepala Jinri, mengelus rambutnya lembut.

“Jangan pergi lagi…,” gumam Minho. Ekspresinya demikian pilu dan kecewa, seolah-olah perkataan Jinri merenggut nyawanya perlahan-lahan. Kedua indera penglihatannya berkaca-kaca oleh airmata. Alisnya menyatu, membuat wajah Minho tampak amat sedih. “Jika kau mau pergi… bunuh aku dulu….”

Jinri tak berkutik, otaknya bekerja keras demi mencari alasan tepat. Selalu saja seperti ini, dan sudah lebih dari berpuluh-puluh alasan yang diutarakan Jinri untuk menenangkan Minho. Akhirnya, ia mendorong tubuh Minho agar menjauh, tentunya diiringi gelak tawa. “Hyung, aku tidak pernah mengatakan bahwa aku akan pergi! Aku masih di sini dan akan terus di sini. Lagi pula kau bau, jangan mendekat, lebih baik mandi dulu saja!” seru sang gadis, dan kerutan di kening Minho raib seusai Jinri berkata seperti itu. Minho tertawa-tawa sembari menghela napas lega, kemudian menepuk pundak Jinri dan berlalu ke kamarnya sendiri.

Seperginya Minho dari ruangan yang ia tempati selama kurun waktu dua bulan terakhir, sorot mata Jinri kembali sendu. Jarinya mengetuk-ngetuk birai jendela, terlihat tak terlalu senang. Ia bingung juga kalut, sedaritadi ia berpikir pun tiada membuahkan hasil. Sejujurnya ia tak tahan, namun tak tega dan tak mampu melawan.

Tahu-tahu saja terdengar bunyi motor dari luar, dan suara nyaringnya membuat Jinri melempar pandangan ke arah bawah, menemukan kakaknya tengah turun dari motor seraya membawa plastik-plastik besar.

“Heechul oppa!” seru Jinri. Setelah Heechul melambaikan tangan, Jinri lekas berlari ke lantai satu, menyambut kakaknya. Girang sekali ia saat membuka pintu, sekejap memeluk kakak lelaki tersayangnya.

“Aku membawakan kalian makanan,” kata Heechul, ia meletakkan kedua plastik besar yang ada di tangannya ke atas lantai kayu koridor depan rumah, membiarkan Jinri memeluk tubuhnya dulu.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari atas. Minho sedang turun ke lantai bawah, selembar handuk tersampir di pundaknya. “Heechul hyung datang lagi, ya? Apa kabar, hyung? Maaf ya, aku mau mandi dulu. Tidak apa jika kutinggal sebentar?”

“Luangkan saja waktumu,” jawab Heechul, bernada sedikit ketus. Minho tersenyum dan melambaikan tangannya, lalu melangkah ke kamar mandi yang ada di lantai satu. Setelah Heechul dan Jinri memastikan bahwa Minho telah masuk ke kamar mandi, kedua orang tersebut saling berpandangan satu sama lain.

“Tidakkah kamu memaksakan dirimu, Jinri?” Heechul dapat melihat raut letih di wajah adiknya. Ia mengelus pipi Jinri, dan adik perempuan satu-satunya itu hanya menggeleng, mengembangkan seulas senyum pula.

“Akulah yang memutuskannya sejak awal, jadi tidak boleh menyesal di tengah-tengah. Keadaan Minho oppa terlalu memprihatinkan.” Jinri memutar bola matanya, mengingat-ingat kembali bagaimana sorot kecewa Minho menghujamnya. “TohOppa bisa mengunjungiku kapan saja, ‘kan?”

“Taemin-a! Tolong sediakan minuman untuk Heechul hyung!” Mendadak terdengar samar-samar teriakan Minho dari dalam. Suaranya membuat Heechul juga Jinri meringis.

“Nah, kau dengar itu? Jika bukan sepupu kita, sudah kuapakan dia!” Heechul menggeram jengkel, emosinya meningkat akibat ketidak sabarannya. Jinri menggenggam erat kedua tangan kakak lelakinya itu, berusaha menenangkan.

“Orang tuanya meninggal, ditambah Taemin oppa yang adiknya pun meninggal karena kecelakaan saat bepergian tanpa sepengetahuan Minho oppa. Hal tersebut membuatnya syok luar biasa dan mendapat trauma yang berat karena terus-menerus ditinggal. Manakala pemakaman Taemin oppa, dia datang seolah-olah orang asinglah yang dimakamkan, juga menganggapku yang berambut pendek dan mengenakan celana saat itu sebagai Taemin oppa. Semuanya terkejut, namun sesegera mungkin sadar bahwa Minho oppa tertekan sehingga memunculkan delusi tersendiri di benaknya. Heechul oppa haruslah ingat jika ingatan Minho oppa terhapus hingga saat sebelum Taemin oppa meninggal! Mohon dimengerti….” Jinri tahu dianggap sebagai orang lain itu menyakitkan, dan acap kali ia rindu kehidupan normalnya. Ia tak bisa keluar jika tidak bersama Minho, itu pun hal yang begitu jarang terjadi. Minho selalu melarangnya pergi, karena trauma yang merundungnya membuat pria itu tak mau ditinggal. Dia juga tak mau tinggal bersama keluarga Heechul dan Jinri, dia berkata bahwa dia dan ‘Taemin’ harus menjaga kediaman orang tua mereka. Tak ada satu orang pun yang berani memaksa Minho menghadapi realita lantaran iba.

“Dia harus disadarkan! kaupikir harus berapa lama aku menggertakkan gigi melihat dia memanggilmu ‘Taemin’? Bahkan dia berkata tak pernah bertemu Jinri, padahal ‘Taemin’ yang ia sebut tiap hari adalah kamu! Biarkan aku menemui bocah sialan itu!” Heechul mendorong tubuh Jinri agar menyingkir, namun Jinri menahannya. Jinri tahu, Heechul sangat brutal saat menghajar orang lain, dan Minho terlalu rapuh untuk diajak bertengkar.

Oppa! Sudahlah, percuma saja! Kau sendiri tahu, sulit sekali meyakinkannya. Dia takkan mengerti jika kau berteriak-teriak dan memukulnya, ingatannya tidak bekerja sebagaimana mestinya! Aku tidak akan kenapa-napa, percayalah.”

“Tapi, Jinri… sampai kapan? Selamanya kau mau terkurung di sini dengannya, menunggu dia mati, karena dia takkan pernah mengizinkanmu pergi? Aku kakakmu, dan bahkan dengan melihat saja aku sudah tak tahan… kau masih punya kehidupan di luar sana….” Frekuensi suara Heechul merendah, tidak setinggi tadi. Dia mulai mengontrol emosinya yang tadinya meluap-luap. Minho selalu menyuruh Jinri agar membunuhnya jika Jinri ingin pergi, supaya dia tak tertinggal sendirianDan hal tersebut membuat Heechul memikirkannya siang dan malam, bagaimana caranya membawa Jinri pergi tanpa membuat Minho semakin gila?

“Jangan bicara begitu… tenang saja, aku tak apa-apa. Meskipun setiap aku ingin membuka pintu tatkala tak ada tamu, Minho oppa selalu melarangku dan menyuruhku membunuhnya dulu sebelum pergi… aku takkan kenapa-napa.” Jinri kembali mengukir seuntai senyum, dan Heechul hanya bungkam melihat tekad adiknya.

Tapi… sampai kapan? Sampai kapan Jinri harus berpura-pura kuat, menahan diri untuk tidak keluar demi menjaga perasaan Minho?

Sampai kapan?

Jinri sendiri pun tak tahu.

fin.

1st: Jinki&Sunyoung: Angel On Earth | 2nd: Myungsoo&Soojung: Forever |

***

Next: Umma and Appa♥ (ditambah lope supaya terkesan imoedh :3 /yangnulislagierror/ harap berpatisipasi karena yang ini akan sangat-sangat romantis! Tapi ga jamin!)

8 responses to “Can’t Leave

  1. Kereen~ maap baru komen, langsung yg ini hehe *nyengir
    kecewa karena ini ficlet, beginilah ujung akhir ceritanya… Tapi ini mantap dah… Jempol sekali! Ditunggu selanjutnya…

  2. speechless :3 astaga .. ini cerita keren gila >< aw~~ awalnya aku juga mikir ini kisah cinta segitigaan gitu :p eh ternyata melenceng jauh xD kasihan sama Sully dan Minho..😦 hm~~ idenya bener2 di luar perkiraan..😀 keren..
    very good job😀

  3. Pingback: Who Are You? | Indonesia Fanfiction Kpop·

  4. Pingback: Who Are You? | Cappulatte·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s