EXISTENTIA — The Beginning: Prologue of Tale

existentia

are you ready?

if not, turn back.

.

.

.

Prologue of Tale

existentia

Casts belong to God. © Fikha Adelia : kihyukha

2013 project

.

.

.

you can’t go back, now relax and enjoy.

happy watching!

.

.

.

still alive.

us.

.

.

.

existentia

“Menyedihkan sekali,” Yoon Doojoon mendapati ruangan di hadapannya penuh dengan darah. Dinding-dinding putih pucat kini ternoda warna merah, lantai kayu berwarna cokelat tua yang dingin dihangatkan darah segar yang baru ditumpahkan satu lagi korban. Mulai dari lemari tinggi yang menyentuh permukaan langit-langit ruangan, meja berbentuk persegi panjang di sisi kanan, sofa warna merah kelam yang menemani meja, bahkan jam dinding kayu, semuanya terciprat darah, hingga rasanya seperti berenang di dalam lautan berbau anyir. Beberapa manusia tergeletak tak berdaya dengan perut bekas tercebir. Entah Doojoon harus mendecak kagum untuk orang yang telah menyebabkan semua ini, ataukah berbela sungkawa lantaran korban yang jatuh lebih dari yang dia perkirakan? Yang mana saja bukan opsi untuk Doojoon, karena satu hal yang terpikirkan untuknya hanyalah menutup hidung.

“Menangislah jika kau takut,” tutur Jang Hyunseung; tampak tak peduli. Dia masuk lebih dulu, botnya menjejaki petak-petak keramik yang mulai kering. Doojoon mengerling tajam seraya mencibir ke arahnya, namun diabaikan. Hyunseung mendekati gadis yang berdiri di tengah ruangan. Gadis ini bertelanjang kaki dan mengenakan baju tanpa lengan bermotif bunga. Kedua tangannya penuh dengan darah, rambut bergelombang sepinggangnya yang kering dan kusut berwarna antara paduan merah, hitam, dan cokelat. Tatapannya kosong menghunjam Hyunseung, tetapi tersirat kewaspadaan terhadap orang-orang asing yang berdiri di hadapannya. “Tenang saja, kami tidak termasuk penjahat-penjahat kelas teri ini, dan tidak berniat untuk membahayakanmu. Siapa namamu?”

“… Kim Hyun… Ah.”

“Kau yang melakukan ini?”

“… m—mereka me—menyeret ibu… pergi…,” kata gadis itu lambat-lambat. Sorot mata cokelat kopinya mengarah ke lantai kayu, sementara jemari kakinya bergerak-gerak tidak nyaman. Pundak Doojoon berjengit tatkala Hyunseung melirik sekilas ke arahnya.

“Ilhoon, berhentilah pura-pura mati,” perintah Hyunseung. Sejurus saja pria yang terkapar di sudut ruangan dengan tubuh penuh darah dan beberapa organ dalam nan terkoyak, berdiri tiba-tiba dan tubuhnya perlahan-lahan pulih, diakhiri lengan kirinya yang terlempar sekitar tiga meter darinya bergerak sendiri dan menempel pada tubuhnya, tanpa perekat atau apa pun, seketika menyambung pada bagian bahu. Pria bernama Ilhoon itu hanya melakukan peregangan singkat pada lehernya yang tadinya nyaris putus hingga kembali pulih layaknya sedia kala, utuh tanpa cacat. Rambutnya yang cokelat pun terlihat bersih, luput dari debu. Hyunah tercengang.

“Ba—bagaimana—”

“Tampaknya kau belum diberitahu ayahmu soal ini, ya?” kata Hyunseung, sorotnya dingin, namun begitulah bagaimana cara seorang Jang Hyunseung menatap. Tak pernah lekat, tak pernah hanya selayang pandang, dan tak pernah menyiratkan apa-apa. Hampa laksana udara luar angkasa.

“Bagaimana rasanya dibelah oleh tangan seorang gadis?” tanya Doojoon seraya terkekeh. Ilhoon mengedikkan bahu.

“Lumayan. Dia menusuk perutku dengan jari-jarinya dan tahu-tahu saja dia merobeknya. Paru-paru dan lambungku hancur mengenaskan. Ketika aku jatuh, dia menendang kepalaku. Tragis sekali,” timpal Ilhoon santai. Tampaknya dia tidak mempunyai masalah apa-apa jika dikoyak atau dipanggang atau apa pun, karena tubuhnya akan segera kembali seperti semula.

Sementara Doojoon dan Ilhoon asyik berbincang, Hyunseung mengulurkan tangan pada Hyunah, mencoba membuat negosiasi singkat dengan gadis itu. “Akan sia-sia kau berada di sini, lebih baik kuambil sebelum mereka datang menjemputmu. Ayo, pergilah bersama kami.”

“… ke mana?”

“Dunia luar. Bukan di sini. Barangkali kita bisa sekaligus mencari ibumu yang diculik. Kau tidak mau ‘kan, dijual dalam pasar gelap untuk dikirim ke dunia yang tak pernah kauketahui? Kau mungkin sanggup mengoyak tubuh para pedagang sampah itu, namun mereka mampu membunuhmu. Sebaiknya kau kulatih sedari dini. Seperti Ilhoon yang ada di sini, walaupun kupenggal kepalanya, dia hanya merasa kesemutan, kemudian tubuhnya akan tersusun kembali sebagaimana mestinya. Mengerikan dan mengagumkan, seperti dirimu. Kau akan mati apabila dimutilasi, tidak sepertinya, karena kalian berbeda. Namun kau takkan mati—setidaknya tidak sekarang. Hanya pemanfaatannya saja yang perlu dilatih.”

Hyunseung bergerak menarik tangan Hyunah, menuntunnya ke luar rumah, namun kaki Hyunah tersandung kaki seorang mayat dan rahangnya menabrak lantai kayu. Gadis mungil itu meringis—sedikit—sebelum akhirnya bangkit, namun dia tampak kebingungan, seperti mencari-cari sesuatu. Suasana senyap, Hyunseung, Doojoon, pun Ilhoon tak ada yang berbicara, menunggu Hyunah berkata-kata.

“Ka—kalian masih di sini…?” tanyanya lirih. Hyunseung, Doojoon, dan Ilhoon tersentak mendengar kalimatnya. Apa maksudnya?

“Hei, apa kalian meredakan shiren hingga titik nol?” tanya Hyunseung, dan Doojoon beserta Ilhoon mengangguk.

Hyunseung menoleh dengan mimik sangsi ke arah Hyunah, dia pun begitu, karena setelah dirinya memutuskan untuk melangkah keluar, shiren dalam tubuhnya sudah tidak aktif lagi. Ilhoon sendiri mengaku bahwa shiren-nya perlahan menghilang setelah tubuhnya kembali pulih, dan Doojoon tidak mengaktifkan shiren sejak kali pertama masuk ke ruangan. Anehnya, mengapa gadis ini menanyakan keberadaan mereka padahal mereka jelas-jelas masih ada di hadapannya? Apakah dia berhalusinasi? Jiwanya terguncang? Tidak—barangkali lebih sederhana dari itu. Hyunseung mendekati Hyunah, lantas menunduk dan meletakkan kedua telapak tangannya di bahu gadis itu.

“Kau tidak bisa melihat?” tanyanya. Tersimpan keheranan yang luar biasa pada benak Hyunseung, lantaran dia mengetahui sesuatu kala melihat tatapan kosong Hyunah, tapi tak dia duga-duga ternyata intuisinya terbukti.

“Ya. Sejak lahir,” jawab Hyunah, membuat Ilhoon dan Hyunseung tertegun, sementara Doojoon mendecak kagum.

“Dia pembunuh yang hebat, Hyun!” seru Doojoon, terdengar puas. “Beruntungnya, selama ini dia selalu diserang oleh orang-orang yang tak dapat mengendalikan shiren sehingga saat pertarungan, anak ini mampu merasakan keberadaan mereka hanya dengan melihat shiren dalam gulita!”

“Bodoh, aku tahu itu.” Hyunseung berdiri dari posisinya, lalu kembali menuntun tangan Hyunah, dengan seringai terbingkai pada wajahnya. “Kurasa kalian berdua boleh menikmati camilan malam ini. Aku sudah dapat apa yang kucari.”

Ilhoon menggeleng-geleng, dia tahu suasana hati Hyunseung meningkat drastis menjadi terlampau bagus, dan ini mengartikan bahwa mereka takkan pulang sebelum pagi, dan Ilhoon tidak suka itu. Tetapi Doojoon senang, terlebih setelah mendengar kata ‘’camilan’.

Mereka berempat bergegas keluar rumah berbau busuk itu, menaiki kereta kuda, kemudian menghilang ditelan kabut, sebelum matahari mencarak di cakrawala timur.

.

.

.

this is EXISTENTIA

presented by kihyukha

welcome to my world!

.

.

.

Prologue of Tale

END

***

existentiaphotos

A/N: Pertama, jangan tanya apa pun tentang BC atau SG, akan saya beri kabar nanti, di waktu yang tepat! Karena seperti yang sudah pernah saya bilang ke beberapa orang, kedua cerita ini sedang dijadikan project lain. Kedua, karena saya sukaaak banget sama matanya Hyunseung dan kepribadian 4D-nya dan segala-galanya, jadi dia comeback bersama saya! Ketiga, mind to review?😀

30 responses to “EXISTENTIA — The Beginning: Prologue of Tale

  1. Alamaaaak. . . Thrillerny berasa dr awal. Jgnkan hyunseung, ilhoon n dojoon saia aja tercengang wkt tau hyuna ny buta tp, bsa ngbnuh org dwasa hny dg merskan shiren mreka (ngmong2 shiren it tbh penggati kyak di flm bleach kah?) kcuali si ilhoon.

    Akhr kta dri kmen singkat ini : critanya teramat sgt kece

    • KAKAKKKKK! sekarang aku lagi mikir buat bikin fic bigbang nih, ditunggu ya huhu maaf aku hiatusnya lama banget, gatau diri nih ;A; ahh kalo di bleach kan reiatsu, di sini semacam ‘aura’ kalo di BC hehehe

      terima kasih chan unnieeee! beribu terima kasih{}

  2. Ah fikha ini bner bner keren !!!
    Banyak banget prtnyaan di otakku pas bca prolog ini !!
    Ide kamu bener” keren
    kbtlan bget ada biasku ilhoon
    dan yang psti skg aku bner” pnasarann. . . Keep writing ya, ditggu post slnjtnya😀

  3. Jjang~ saya datang kembali setelah sekian lama ^^
    Well, dari awal baca ini emang kerasa tulisan yang kamu banget, mystery, fantasy with a lot of darkness~
    Ide ceritanya, hm, karena baru segini, saya nggak tahu bakal dibawa ke mana ya~ Tapi yang jelas ini ada ‘organisasi-organisasi’ lagi macam BC
    Dan~ ini selanjutnya agak OOT
    Jadi itu ada The Hunger Games nongol di blog Fikha~ dan saya baru beli bukunya kemarin setelah disaranin seorang kenalan ^o^
    Hohoho~
    Fikha tau Anime Karneval? Sedikit banyak ngingetin sama BC settingannya :3
    Yaudah deh~ Fighting~

    • halo kak airaaa! ditunggu ya lanjutan Another, kalo udah yuk kirim ke IFK x)
      ahaha iyaa, barangkali aku emang sukanya genre-genre gini yang berlatar belakang pembunuhan :3
      oooh yakinkah kak ada organisasi? ya bolehlah disebutnya begitu, tapi sekadar spoiler, mungkin ini lebih ke ‘kelompok’ dibanding ‘organisasi’ karena mereka gapunya struktur macam BC😀
      harus baca THG kaaaak! itu seru banget! dan Peeta-Katniss luar biasa manis :3
      iya aku tau Karneval, baru aja mau nonton hari ini karena kata sodara itu bagus. aku mau nonton itu buat nambah pengetahuan dan ide xD
      makasih banyak kak airaaaa{}

  4. AAAAAAAAAAAAAAAAA apaa ini kak? yaampun tadi itu gasengaja buka-buka email dan akhirnya… KAKAK KOMBEK JUGAA ;A; /engga santai banget/
    trouble maker couple! aww aku juga addict sama mereka, juga sama yang kamu jadiin header itu *eh *salahfokus* uhm, karena hyunseung udah gede dan hyuna masih kecil mungkin perkiraan hyun berubah jadi pedopil disini /uhuk/
    ini genre-nya thriller yaa?? asdjfsjd suka abis sama yang beginian ;a; mana hyunah kecilkecil udah jadi psikopat lagi, aduuh.. mana dia buta lagi ._. terus itu ilhoon kok dibunuh sih? terus bisa balik lagi gitu badannya? yaampun hidup akan sangat menyenangkan kalau aku punya tubuh kaya ilhoon /apaaini/
    dan tentang judul.. sumpah aja sihya, judulnya epik banget walau aku gatau artinya apa, semacam keeksistensian mungkin? atau-uh, idk deh, gatau artinya yang penting judulnya keren aja! :3 /gapenting abis/
    apa ini semacam kaya klub-klub an gitu? aduh apasih bahasanya, yah pokoknya semacam BC gitu, terus hyun as jidi? iya engga sih, abis hyun sifatnya gajauh beda sih ama jidi disini, bedanya mungkin dia.. cuek dan dingin abis ._.
    inti dari intinya: lanjut yaa kaak, i’ll be wait for this :3 keep writing yaa ^-^)9

    • haaaaaai lama ngga liat kamu deh mes, seneng kita ketemu lagi hihi :3 /apanih /mulaialay/ eummm iya setelah berbulan-bulan ga jelas akhirnya aku kambek besar ya(?)
      trouble maker dan katniss-peeta itu astaghfirullah lah ya, dan mereka pantas di-shipper-i. HAHA aku gamikir sampe ke situtuh, baru nyadar kalo si hyun bakal jadi pedopil
      iyaa lebih fokus thriller-fantasy deh kayanya, tapi ceritanya absurd banget jadi tolong ampuni segala ke-absurd-an yang kubuat yaa ahahaha iya dia buta dan cara ngebunuhnya kejam. jadiii ilhoon tuh purapura jadi anggota pembunuh bayaran yang dibunuh hyunah itu buat ngeliat gimana hyunah ngebunuh orang, dan hasilnya dia ‘dibunuh’ deh :3
      iya, artinya eksistensi kalo dari bahasa latin^^ ah noooo jadi mungkin lebih ke kelompok, soalnya kalo organisasi itu kan terstruktur kaya BC. hyun as jidi? ah jauh banget mereka, ji itu aneh begitu sedangkan hyun di sini sama kaya hyun di BC, hobinya marah-marah gajelas. terus di sini gaada leader, kalo BC kan leader-nya ji dan golden
      terima kasih yaaa{}

  5. Fikha, anda sukses membuat saya kepo, sayangnya…. apa kabar dengan BC dan SG fik??? T-T

  6. first, saia mau nyapa kihyukha dulu,
    saia reader baru d sini, cuman uda tau kihyukha dari WP sebelah
    salam kenal

    kyaaaa bikin merinding d awal
    prolognya aja keren kaya gini, pasti nanti kalo uda masuk chap.1 tambah keren kaya BC n SG
    pokoknya keren ^^

  7. Pingback: EXISTENTIA — 1st Chapter of Tale | Cappulatte·

  8. Pingback: EXISTENTIA — 2nd Chapter of Tale | Cappulatte·

  9. Pingback: EXISTENTIA — 3rd Chapter of Tale | Cappulatte·

  10. Pingback: EXISTENTIA — 4th Chapter of Tale | Cappulatte·

  11. woaaaa.. ga sabar baca part selanjutny!!
    ru sdg berkelana mencari ff semacam BC, udh lama ga mampir kesini ada ini.. yoshh! keep writing fikha…

  12. Pingback: EXISTENTIA — The Bloody Memories: Chico’s Joke [5th Chapter of Tale] | Cappulatte·

  13. Pingback: EXISTENTIA — The Bloody Memories: Clue [6th] | Cappulatte·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s