EXISTENTIA — Filia’s Destiny: Explicatio [1st Chapter of Tale]

existentia2

kami dan mereka,

laksana paru-paru yang terbelah dua. 

melakukan kinerja yang sama, namun tetap saja, tak lagi sama selayaknya dahulu. tak lagi saling mendukung.

.

.

.

sejak kapan?

tepat ketika Myro mencelus ke dalam tubuh, memang itulah yang terjadi.

existentia

Casts belong to God. © Fikha Adelia : kihyukha

2013 project. do not plagiarize, copycat, or repost without my permission.

Kim Hyunah [4Minute] || Jang Hyunseung [B2ST] || Yoon Doojoon [B2ST] || Jung Ilhoon [BtoB] || revealed soon

and illi.

previous:

 | PROLOGUE |

.

.

.

1st chapter of tale

happy watching!

.

.

.

We’re not immortal.

explicatio

.

.

.

existentia

“Ini gawat.”

Adalah kalimat pertama yang dikatakan Hyunseung keesokan harinya. Dia melangkah melingkungi ruangan, memilin-milin jari sementara tatapannya menerawang jauh menuju balik jendela. Doojoon, Ilhoon, beserta Hyunah duduk di atas kursi-kursi berukir yang ditata mengelilingi sebuah meja bundar untuk menyantap makanan. Di atas meja hanya ada tiga bilah pisau, setumpuk kartu remi, dan sepucuk machine-gun dengan peluru kosong. Posisi kursi-kursi dan meja tersebut berada di tengah ruangan, sementara dinding barat dan timur dihiasi lukisan beraliran dadaisme. Dinding utara dan selatan dipasangi jendela-jendela panjang, tingginya lima belas sentimeter di atas permukaan lantai dan puncak jendela nyaris mencapai langit-langit ruangan.

Sesosok lelaki berambut hitam dan pendek duduk di atas birai jendela paling kanan pada dinding utara, pandangannya sedikit kosong dengan mulut mengunyah pecahan kaca. Hyunah sangat takut tatkala pertama kali merasakannya melakukan perbuatan aneh itu, dan pria ini hanya tersenyum dan melambaikan tangan, tidak berusaha menenangkan barang sekelumit pun.

“Sebelumnya, Senior Byunghee, bergabunglah dengan kami,” panggil Doojoon. Jung Byunghee—pria pemakan pecahan kaca tadi—bergegas bangkit, lantas mengulas senyum sembari membiarkan bokongnya mendarat nyaman di atas kursi di sebelah Ilhoon. Umurnya tertua di antara semua yang ada di dalam ruangan, tetapi dia tampak tidak tertarik bersikap sebagai pemimpin, membiarkan Hyunseung yang berperangai bossy untuk memulai bahasan pagi itu.

Eum, dia mengonsumsi kaca seperti kita mengonsumsi kalsium, demi pertumbuhan tulang,” kata Ilhoon, membuat Hyunah kembali tercengang—sekaligus bergidik. Dia pernah memecahkan vas bunga yang terbuat dari kaca, dan tersentuh pecahannya saja rasanya bukan main sakitnya, jadi Hyunah tak dapat membayangkan rasanya ketika menggigiti pecahan kaca. Dia merasa gemap, lantaran orang-orang di hadapannya berbeda dengan yang selalu dia temui. Semua yang dia sentuh, semua yang menyentuhnya, terasa sangat asing semenjak ibunya diseret pergi oleh segerombolan orang aneh.

“Hei, kau pernah bertemu ayahmu, ‘kan?” tanya Hyunseung, sontak Hyunah mengangguk cepat. Rahangnya mengeras, gemetaran. “Kau tahu seperti apa wajahnya?”

Kali ini gadis itu terdiam. Lamat-lamat, terdengar bisikan darinya, “Ti—tidak… ayah ta—tak pernah mengizinkanku me—menyentuh wajahnya….”

“Tidak katanya,” ulang Doojoon, yang duduk tepat di sebelah Hyunah. Tangannya sibuk mencatat entah apa, sedangkan Ilhoon hanya melirik, jemarinya sibuk mengocok-ngocok tumpukan kartu.

“Oh, baiklah.” Bola mata Hyunseung bergerak malas, kini menyorot satu-satunya perempuan di antara mereka. “Ayahmu adalah seorang ilmuwan. Dia-lah yang membuat kemampuan kami. Dia yang membuat milikmu. Pada awalnya kami hanyalah manusia biasa, hingga ayahmu mempertaruhkan hidup dan matinya—ini agak berlebihan, pria berkumis itu memang orang yang terlampau ekspresif—untuk membuat tubuh kami menjadi sangat berbeda dengan manusia normal. Dia dimintai tolong untuk mempersiapkan senjata pelindung negara oleh Raja dan sekarang kami-lah yang mengemban tugas tersebut, sebagai senjata pelindung. Ayahmu bingung setelah dia menerima tugas itu, awalnya dia merencanakan pembuatan robot, tapi tidak jadi karena terlalu riskan. Akhirnya dia melakukan percobaan dan penelitian pada manusia, dan jadilah kami.”

Hyunah bergeming cukup lama. Otaknya sekarang dipaksa menelaah hal yang tak pernah sekali pun terlintas dalam pikirannya. Namun entah mengapa, dia mengerti apa yang dibicarakan Hyunseung. Samar-samar, terlihat titik-titik putih menyelusup dalam kegelapan yang mengerubungi pandangan Hyunah, dan itu berhasil membuat dia tersentak.

Titik-titik bagaikan pelita ini muncul hanya ketika Hyunah menatap Hyunseung.

“Kau mengerti penjelasanku?”

Lekas, Hyunah mengalihkan konsentrasinya kembali, lalu mengangguk perlahan, masih dengan tubuh gemetaran. Doojoon mengusap-usap kepalanya untuk membuatnya merasa tenang, dan hal itu mengundang kekehan geli dari mulut Ilhoon.

“Otaknya cerdas seperti ibunya,” tukas Byunghee. Pikirannya agaknya kosong kala berkata-kata. Dia lelaki aneh. Dia buru-buru menambahkan tatkala Hyunseung mendelik tajam ke arahnya, “oh, aku hanya berbicara sendiri. Lanjutkan.”

“Kemudian, kau…,” Hyunseung menelan saliva, sejurus dia merasa enggan untuk melanjutkan penjelasannya saat melihat tatapan Hyunah; tersirat kesedihan dan kecemasan yang luar biasa. Apakah gadis ini terlalu ringkih untuk mengetahui? batinnya. Namun Hyunseung lekas-lekas mengenyahkan pikiran itu, kembali menjadi orang yang tega seperti biasa. “… ayahmu tidak bermaksud menjadikanmu bagian dari kami. Kami pun masih kecil saat itu, tidak mempunyai orang tua, dan memasrahkan diri ketika ayahmu menawarkan keadaan tubuh baru kepada kami. Tapi kau berbeda. Kau lahir dalam keadaan tak bernapas—singkatnya, mati.”

Hyunah membeliak, kepalan tangannya mengerat dan menyebabkan telapak tangannya berdarah tertusuk kuku, bercampur bersama keringat. Dia menggumamkan kata “Ibu” berkali-kali, sementara matanya basah, dan tubuhnya mulai terasa sakit. Hyunah membunuh untuk melindungi dirinya dan ibunya. Ayahnya pernah berbisik kepadanya tentang definisi ‘mati’, tetapi Hyunah tak pernah merasakan apa yang dinamakan mati. Dia pernah bertanya pada ibunya seperti apa mati, dan ibunya menjawab “Tanyakan kepada ayahmu, suatu hari nanti.”

Tentu saja, sang Ibu belum mati, maka dia tak tahu seperti apa rasanya mati.

Mendengar jeritan-jeritan pilu dari para korbannya, yang akhirnya mengembuskan napas terakhir, menjadikan mati sebagai sesuatu yang menakutkan untuk Hyunah. Tetapi dia terus membuat orang lain mati karena tidak mau mati. Sesimpel itu.

Doojoon memberi tahu Hyunseung agar menjelaskan dengan lebih berbasa-basi karena jiwa Hyunah sedang terganggu, namun Hyunseung menggeleng tegas.

“Itu bukan caraku,” tolaknya, lantas dia bersedekap, menatap Hyunah dengan tatapan kosong. “Hei, jangan menangis. Aku belum memberi tahu kelanjutannya. Kemudian kau berusaha dihidupkan dengan cara seperti kami, dengan mempertaruhkan sebuah percobaan yang berbahaya… aku tak tahu bagaimana rinciannya. Ayahmu berusaha agar kau kembali hidup bagaimanapun caranya, dan jadilah kau yang sekarang. Barangkali buta adalah efek samping dari usaha itu, namun aku mendengar tangis bahagia ibumu ketika penelitian mengembalikan hidupmu berhasil, maka kusimpulkan bahwa ayahmu tidak menyesal.”

Sosok ayah dan ibu muncul di benak Hyunah, membuatnya sedikit tenang, walau wajah mereka hanya hasil mengira-ngira saja. Kasih sayang mereka membuatnya masih hidup hingga sekarang. Ayah Hyunah meninggal begitu umurnya empat tahun. Berdasarkan cerita dari Hyunseung, barangkali nyawanya tak bertahan lama karena percobaan berbahaya itu.

Shiren adalah aura, bagian dari ‘jiwa’ yang menandakan eksistensi dalam diri seseorang, dan sifatnya tidak kasatmata, hanya mampu dilihat orang-orang tertentu. Kau tahu shiren, ‘kan? Apa yang kaulihat dari shiren?”

Hyunah mengangguk dengan ragu, kemudian menjawab dengan suara lirih. “Ha—hanya samar-samar… ta—tapi setiap orang punya ciri khas dan bentuk yang berbeda-beda… awalnya semua yang pernah kutemui memiliki shiren berwarna kuning… ibu bilang warna cerah yang pertama kali menghampiri pikirannya adalah kuning, jadi dia memberitahuku barangkali warna cerah ini namanya kuning… ta—tapi Ilhoon… warnanya lebih kuat dan bentuknya seperti binatang besar yang menyeramkan… pe—perasaan ketika aku menyentuh perutnya juga… berbeda….”

Ilhoon tersenyum bangga. Binatang besar yang menyeramkan sama sekali bukan wujud shiren yang buruk baginya. Singa? Harimau? Apa pun boleh!

“Apa yang kaulihat dari Doojoon? Senior Byunghee?”

“Doojoon…,” Hyunah melirik ke arah kanan, di mana Doojoon masih setia duduk di sampingnya. “… binatang bertanduk? Aku tak pernah tahu ini warna apa, tapi… tampak menenangkan….” Anak perempuan ini mengalihkan pandangannya, menuju Byunghee. “Se—sedangkan Senior Byunghee berbeda… warnanya lembut, seperti kuning, tapi tetap saja aku merasa ini warna yang berbeda… bentuknya mirip… bunga? Ibu pernah membuatku menyentuh bagian-bagian bunga matahari, dan bentuk kelopaknya kira-kira seperti bunga matahari….”

“Bunga? Oh Tuhan!” Ilhoon tergelak, sedangkan Byunghee tersenyum. Dia senang shiren-nya berbentuk lain dari yang lain.

“Tunggu pembalasanku nanti,” kata Byunghee, dan itu membuat Ilhoon menyorotnya dengan tatapan menantang.

“Bagaimana denganku?” tanya Hyunseung lagi. Agaknya dia tertarik untuk mengetahui seperti apa bentuk shiren miliknya.

“… Hyunseung… hanya titik-titik putih…? Warnanya putih… kosong… kata ibu arti warna putih bisa macam-macam… bentuknya berbeda, tak berbentuk…,” timpal Hyunah. Dia sendiri terkesima melihat titik-titik bagaikan cahaya yang berkelap-kelip menghiasi pandangannya.

“Tak berbentuk! Haha!” Ilhoon kembali tertawa lagi, diikuti kekehan Doojoon, namun tatapan bengis Hyunseung membungkam mereka.

“Baiklah, kembali pada penjelasan. Terakhir, ayahmu meninggal, kami diminta untuk mengabdi kepada negara, dan kau dibawa ibumu ke desa terpencil untuk melindungimu. Barangkali dia tak menyangka bahwa kau tumbuh menjadi seorang pembunuh dengan sendirinya, tanpa dibimbing siapa pun. Nyawa pembunuh telah mengalir dalam darahmu, sehingga ibumu mungkin pasrah membiarkanmu menjadi pelindungnya. Selesai.”

“Hei! Apanya yang sele—oh… aku mengerti. Boleh?” Doojoon meminta izin untuk melanjutkan, dan Hyunseung mengiakan saja. Tampaknya pria bermata elang itu tak berminat membahas topik terakhir yang agaknya salah satu bagian terpenting. Dia membuang muka dan memilih untuk menikmati matahari terbit.

Tindakannya membuat perhatian Hyunah sedikit teralih padanya.

“Pada awalnya kami berjumlah delapan orang, jika minus kau.” Doojoon memulai, “terdiri dari aku, Hyunseung, Senior Byunghee, Ilhoon, dan Dongwoo. Tiga orang lagi adalah para pengkhianat. Nama mereka—”

“Tidak perlu menyebut nama orang-orang sampah itu sekarang,” kata Hyunseung, membersut marah. Semua yang ada di dalam ruangan dapat merasakan gejolak amarahnya bergelegak secara mendadak.

“Ba—baiklah. Eungmereka berkhianat karena merasa ayahmu dan Raja bukanlah orang yang pantas dihormati, mereka mengatakannya sebelum melarikan diri dari rumah ini. Salah seorang dari mereka membuat kaki kiri ibumu lumpuh, lantas melarikan diri. Di dekat Henolia, ada tempat bernama Tartaron. Orang-orang menyebutnya “Pulau Buangan”. Pulau itu menampung para penjahat dan beberapa teroris yang berkumpul. Para teroris ini senang mengincar Henolia, negeri kita, yang dikenal makmur. Tugas kami adalah menghabisi mereka-mereka ini. Mereka pun melakukan hal yang sama, tapi entah dengan cara apa. Kami berenam cukup untuk melawan mereka, tetapi mereka sangat piawai dalam melarikan diri.”

“Mereka itu pengecut yang lihai,” cemooh Ilhoon. Dahinya berkedut.

“Seperti ninja,” imbuh Byunghee. Maniknya menyorot lantai, sementara dia merangkung di atas kursi dan mulutnya masih setia mengunyah kaca.

Pembicaraan selesai, kendati dengan cara yang kurang menyenangkan. Sunyi merayap senyap sesudah itu, hanya samar-samar terdengar suara deburan ombak menghantam karang. Kastel kecil mereka berada di atas tubir tinggi yang menghadap laut, ukurannya besar, dindingnya bata gelap, dan banyak kamar-kamar tak terpakai. Pagi telah tiba di Varnoxes, kota bagian ujung selatan Henolia yang terhubung dengan jembatan panjang menuju Salventuary. Lewat jendela ruangan yang sekarang mereka tempati, mereka dapat melihat jembatan, tetapi tetap saja posisi kastel jauh dari perkotaan yang padat.

Eung… di mana orang bernama Dongwoo?” Suara Hyunah memecah keheningan. Ada satu nama tak dikenal menyapa telinganya tadi, dan dia baru bisa menanyakannya sekarang setelah mencari-cari waktu yang tepat.

Kepala Byunghee spontan bergerak-gerak, namun tak ada sedikit pun inisiatif dalam benaknya untuk beranjak dan mencari. Ilhoon bergegas menuju pintu—bukan untuk mencari Dongwoo, namun untuk mencerup udara segar—dan tepat pada saat itulah seorang pria masuk. Rambutnya merah muda terang, bibirnya tebal, senyumnya lebar, dan baju, celana, beserta dahinya berlumuran darah segar.

“Hai!” serunya. Dia berjalan mendekat ke arah Hyunah, memerhatikan dengan lekat—terlampau lekat, malah—lekuk-lekuk wajah gadis itu dengan manik cokelatnya yang memikat. “Ini toh, orangnya? Dia membawa paras rancak ibunya dan barangkali mata intelek milik ayahnya! Siapa namanya? Huna?”

“Hyunah,” sahut Doojoon cepat.

Keringat membasahi pelipis Hyunah, maniknya bergerak-gerak tidak nyaman walau tatapannya tidak menyiratkan apa pun. Orang bernama Dongwoo tidak memancarkan shiren yang berbahaya, bentuknya seperti burung raksasa dan benderang, namun tetap saja, terasa asing. Mungkin Hyunah butuh waktu untuk beradaptasi lebih jauh.

“Apa yang kaulakukan di sana, Senior Dongwoo? Tidak biasanya kau pulang dengan… seperti ini.” Ilhoon mengernyit bingung. Hidungnya sudah terbiasa mencium bau darah, namun Dongwoo luar biasa bau sehingga dia harus menutup hidung.

“Eh? Ya, aku diserang oleh sekitar… sepuluh orang?” Dongwoo berusaha menghitung menggunakan jari, namun dia tidak berlama-lama melakukan itu. “Aku lupa me-reload revolverku, jadi kukoyak saja semua dengan pisau. Berbahaya sekali, organisasi perdagangan manusia ini,” katanya, sembari tertawa jenaka hingga matanya menyipit, terdorong pipinya yang sedikit gempal.

“Bagaimana hasilnya?”

Wajah Dongwoo serta-merta berubah murung.

“Mohon maaf,” sesalnya. “Aku menghabisi komplotannya dan membebaskan orang-orangnya, tapi tidak menemukan Nyonya di mana pun. Sudah kucari di sepanjang jalan dan di tempat mana pun yang terpikir olehku. Maaf.”

Hyunseung melirik Hyunah dan menghela napas. Dia menghampiri gadis itu dan menepuk bahunya.

“Maaf,” ujarnya. “Komplotan yang membawa ibumu sudah dihabisi, tapi ibumu tidak diketahui di mana. Aku tahu kalau sudah seperti ini dia dibawa ke mana… mereka pasti yang mengambil ibumu.”

Hyunah tampak terguncang. Ibunya, satu-satunya orang yang selalu bersamanya, dan orang yang sangat dikasihinya….

“Tenang. Ibumu pasti berharga untuk mereka, dia takkan terbunuh, meskipun kakinya lumpuh sekali pun. Kami sedang melacak informasi mengenai keberadaan mereka, walaupun masih belum berhasil. Kalau kau mau menolong ibumu, jadilah kuat.”

Tubuh Hyunah yang menegang menjadi lebih rileks, walaupun gadis itu tampak pucat dan memikirkan banyak hal. Tidak diduga-duga. Hyunseung kira gadis itu akan menangis lagi, tetapi tidak. Hyunah ternyata lebih dewasa dan lebih berkepala dingin, dia tahu dia takkan bisa melakukan apa-apa sekarang. Dan tak mungkin dia memaksa Hyunseung mencari ibunya sementara Hyunseung mengatakan tidak tahu di mana ibunya berada, dan sudah melakukan usaha pencarian walau masih belum membuahkan hasil.

“Boleh kan aku istirahat sebentar?” tanya Dongwoo. Tangan kirinya yang penuh darah melempar sekantong plastik ke lantai, di dalamnya terdapat satu buah pisau besar dengan darah menempel di permukaan besinya. Melihat pisau itu, Byunghee bergegas mengambilnya dan berlari ke luar ruangan.

“Dia… hendak ke mana?” tanya Hyunah. Dia merasakan shiren Byunghee perlahan-lahan menjauh dari posisi awal.

Ilhoon menyeringai. Dia sempat menepuk pundak Byunghee yang tadi berlalu melewatinya. Tubuhnya berbalik menghadap bagian dalam ruangan, tangan kanannya bertumpu pada kenop pintu. “Membersihkan pisau dari sidik jari, darah, dan sebagainya. Senior Byunghee yang membuat senjata kami,” ujarnya, kemudian pergi dengan langkah santai, tidak menunggu reaksi Hyunah.

“Ilhoon ingin pergi ke makam ibunya di depan rumah, di bawah pohon besar yang menjadi bagian dari pintu gerbang rumah kami.” Sekonyong-konyong, Doojoon berbisik pada Hyunah. Doojoon rasa dirinya dan Dongwoo mampu membuat Hyunah nyaman dalam waktu singkat, namun tidak begitu yakin dengan Ilhoon yang senang kekerasan, Byunghee yang aneh, dan Hyunseung yang berperangai cuek dan kasar. Barangkali Hyunah akan merasa lebih baik jika Doojoon yang menjelaskan nyaris segalanya padanya. “Di antara kami, hanya dia saja yang ingat keluarganya. Daya pengamatan Ilhoon baik dan ingatannya terlampau kuat, dia bisa ingat apa yang kukatakan padanya dua tahun lalu, disertai tanggal, bulan, dan pukul berapa. Aku membantu Ilhoon membuat makam untuk sisa-sisa tubuh ibunya, kendati sebelum itu Hyunseung melarang karena dia bilang kematian tak berarti untuk diingat. Yang sudah biarlah sudah, katanya.”

Hyunah mengangguk kecil. Dia pikir Hyunseung memang orang yang paling keras dari semuanya, lidahnya tajam dan tampaknya dia tidak menyimpan ketakutan apa pun. Semua yang ada di sini membuat Hyunah takut, tetapi setidaknya Doojoon memberikannya rasa tenang, sehingga dia merasa tidak terlalu tertekan. Doojoon memiliki ketenangan ibunya.

Namun… ada sesuatu yang membuat manik kosong Hyunah kerap mengikuti gerik Hyunseung.

Mungkinkah karena cahaya putih?

“Ayah dan ibumu mengharapkan kau diajak ke sini. Mereka telah memperkirakan bahwa akan mendapat kendala besar setelah ayahmu meninggal. Kau harus membantu tugas kami dengan dibimbing Doojoon,” kata Hyunseung. Dia duduk di birai jendela, membiarkan angin bermain-main dengan anak-anak rambut halusnya yang berwarna cokelat kemerahan.

Hyunah merasa lega mendengar itu. Memang kehadiran Doojoon yang paling membuatnya tenang, sehingga dia tidak merasa ada masalah. Lagi pula untuk membunuh, Hyunah punya caranya sendiri dan dia yakin Doojoon takkan menginterupsi cara membunuhnya yang sedikit kasar. Hyunah tahu yang mana orang jahat yang mana yang bukan, lantaran shiren mereka berbeda. Dia tahu yang mana yang harus dibunuh, yang mana yang tidak. Intuisinya pun berbicara.

Sementara Hyunah dan Hyunseung terdiam, Doojoon memerintahkan Dongwoo agar membersihkan diri terlebih dahulu sebelum duduk di kursi, sedangkan Dongwoo bersikeras bahwa tubuhnya letih dan perlu duduk sesegera mungkin. Suara-suara bising terdengar, dan baru saja Hyunseung bermaksud melempari kepala Dongwoo dengan kursi, Dongwoo sudah mengalah pada Doojoon dengan berselonjor di bawah meja, memutuskan untuk tidur di sana.

Hyunah merasa pembicaraan utama telah usai, maka dia memutuskan untuk berdiri, meraba-raba udara, lalu menggapai pintu, berniat kembali ke kamarnya.

Doojoon hendak membantu Hyunah berjalan, namun Hyunseung melarangnya dengan sebuah gelengan keras, membuat Doojoon mendengus. Dia tak habis pikir mengapa Hyunseung selalu saja membimbing setiap orang dengan terlampau tegas, tetapi sedikit ada benarnya juga dia melakukan itu, karena apabila tidak, Ilhoon yang sekarang takkan pernah ada.

Ilhoon yang mudah menangis, Ilhoon yang selalu ketakutan kala tubuhnya teriris, Ilhoon yang tak pernah mampu memaafkan dirinya sendiri. Dia berhasil selamat dari kecelakaan lantaran keadaan tubuhnya. Kendaraan yang dia tumpangi bersama ibunya meledak dan tubuhnya terpotong-potong, namun Ilhoon bisa kembali ke asal.

Tapi ibunya tidak.

Doojoon tidak berada di sana, tetapi Hyunseung kebetulan melihat kejadian itu, dan dia sempat bergeming sangat lama kala memandangi Ilhoon menangisi kepala ibunya yang hancur lebur, di mana kedua tangan kecilnya menyentuh pipi tirus sang Ibu—satu-satunya bagian yang masih utuh—membiarkan tangannya dipenuhi darah.

Insiden lengkapnya tak pernah diketahui Doojoon, karena Ilhoon maupun Hyunseung tak pernah membuka suara untuk bercerita tentang itu. Yang pasti, peristiwa tersebut adalah saat ketika Ilhoon nyaris mati.

“Hyun….” Tahu-tahu kepala Byunghee muncul dari balik pintu. “Mereka sudah siap. Apakah perlu aku menyiapkan obat luka bakar?” tanyanya.

“Ya, tolong ya.” Hyunseung hanya mengerling sepintas, kepalanya mengangguk setuju. Dia bergegas bangkit, kemudian melangkah ke luar ruangan untuk membantu Byunghee. “Kurasa Ilhoon pantas menjadi singa pertama,” imbuhnya.

“Masih mau?” seru Doojoon, tampak gusar. Hyunseung hanya menyeringai, lantas meninggalkannya berdua dengan Dongwoo yang terlelap di bawah meja.

***

Hyunah melangkahkan kakinya lambat-lambat, mencoba menghafal jalan menuju kamarnya yang ditunjukkan Doojoon, Byunghee, dan Hyunseung kemarin malam. Dia merasakan angin sendu menerpa rambut dan wajahnya ketika sampai di sebuah sudut, dan Hyunah tahu dirinya telah tiba di kamarnya. Byunghee membiarkan jendela terbuka, dia bilang udara selalu sejuk dan tak ada yang bisa masuk lewat jendela kamar Hyunah yang berdiri di atas bibir tebing yang curam.

“Latihan dimulai dua hari lagi. Berhati-hatilah.”

Terngiang di kepala Hyunah tentang kata-kata Hyunseung semalam, sebelum pria berwatak ketus itu menutup pintu dengan sedikit kekuatan hingga menyebabkan bunyi keras.

Berhati-hati kepada apa?

Hyunah menggerak-gerakkan kaki, sesekali tangannya menggapai dinding untuk mengarahkan diri menuju jendela, dibantu arah angin. Tatkala tangannya menyentuh birai jendela, Hyunah refleks menjauhkan tangannya.

Sebilah pisau besar tertancap tepat di dinding sebelah kanan jendela.

“Matahari sudah muncul.” Seseorang muncul dari balik pintu, menyeringai culas sementara di tangannya telah siap tiga bilah pisau panjang. “Persiapkan dirimu, Filia.”

.

.

.

“Anak kartu major telah dijemput!” pekik seorang pria. Dia berputar-putar dan tertawa puas, hingga tubuhnya terjungkal ke belakang dan jatuh ke lantai, menyebabkan petak-petak lantai retak, nyaris terbelah. Namun pemuda ini tetap tertawa walau pecahan-pecahan pualam menusuk-nusuk punggungnya. Masa bodoh, pikirnya. Dia kelewat senang hari ini, maka akan lebih baik melewatkan hari dengan tertawa. Dibiarkannya rambut cokelatnya berantakan, jubah hitam bergaris-garis putihnya rusak terkoyak, dan kakinya yang telanjang terkena udara dingin.

Dibangun dengan marmer-marmer berwarna hitam untuk lantai dan dindingnya, dengan lampu gantung tergantung di langit-langit yang tinggi, dan hanya berisi kursi-kursi berwarna merah kelam yang letaknya berjauhan satu sama lain, membuat ruangan tersebut tampak sangat kosong, dengan pria muda tadi berbaring di tengah-tengah ruangan yang lantainya lebih tinggi dari lantai sekitarnya, berbentuk lingkaran, dan tepat berada di bawah lampu gantung.

“Jonghyo, berhentilah bertindak bodoh. Jangan tidur di atas meja.” Seorang pria masuk dari pintu besar yang terbuat dari kayu jati.  Dia menendang tubuh Kim Jonghyo hingga menyingkir dari tengah ruangan, lantas mengernyit kala melihat retakan-retakan baru akibat ditimpa tubuh Jonghyo. “Astaga, kaupikir tubuhmu itu apa!?” ringkingnya lantang, tersirat kemarahan dalam intonasi suaranya.

“Hei, santai saja, Jin! Uang kita masih banyak,” sahut Jonghyo. Dia terkekeh sembari berdiri, lalu menghampiri salah satu kursi dan berdiri di atasnya. “Di mana si Kelabu? Di mana Nona?”

“Kelabu? Oh. Dia sedang pergi ke sana. Ngomong-ngomong tentang Nona, lebih baik kaubawakan ini padanya. Dia ada di lantai bawah,” kata pria bernama Kim Seokjin—atau Jin—sembari melempar kantong berwarna hitam pada Jonghyo, kemudian duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan kursi Jonghyo.

Jonghyo membuka kantong tersebut, sekadar untuk mencari tahu apa lagi yang diinginkan Nona-nya, dan dia tersenyum lebar kala menemukan otak manusia yang telah dibersihkan di dalam kantong.

“Oke, segera!”

.

.

.

pengkhianat?

dengan panggilan itukah kalian menyebut kami?

kami lebih suka memanggil diri dengan…

‘Quadro’.

.

.

.

1st Chapter of Tale

END

***

Jonghyo alias J-Hyo adalah member rookie-group LC9 (League of Competition #9) yang baru debut dari Nega Network tahun ini. Saya jatuh cinta gara-gara ngeliat dia di sini.  Serius, image tengilnya dapet banget! Dan ada Park Gunwoo alias RASA (leader LC9, dan dia GANTENG. Gantengnya itu ganteng semacam Doojoon, bukan pretty boy, menurut saya). Bisa liat RASA di sini dan M/V MaMaBeat di sini. J-Hyo yang pake baju tutul-tutul jaguar gitu dan Rasa yang ninju botol.

Byunghee itu Jung Byunghee, alias G.O MBLAQ (dia aslinya emang aneh kok, jadi… ngga OOC banget ‘kan ya? #apanih). Dongwoo itu Jang Dongwoo, rapper Infinite!😀

Maaf untuk cerita yang aneh ini… last, mind to review?😀

27 responses to “EXISTENTIA — Filia’s Destiny: Explicatio [1st Chapter of Tale]

  1. akhirnya keluar juga…
    begitu dapet pemberitahuan dari email langsung k sini

    kereen, aq selalu suka ceritanya kihyukha aka fikha, apalagi yg genrenya fantasy-mistery, lanjut terus ceritanya!!
    keep write ^^

  2. Annyeong fikha~😀 ketemu lagi~
    Btw, aku udah baca yang prologue, habis itu langsung ke sini ^^ astaganaga~ imajinasi kamu ternyata udah kemana-mana ya > haha

    Oke, back to fanfic –> aku udah ngira-ngira nih jangan-jangan J-hyo sama Rasa itu pengkhianat yang disebutin Dojoon, ditambah lagi si G.O, yaampun makan kaca .__. bibirnya nggak kenapa-kenapa, tuh fik? apalagi waktu aku baca bagian si Ilhoon nangisin Ibunya, duh, itu bikin aku merinding, karena Ibunya itu lhoo~ kan udah tinggal serpihannya doang ><

    Dan aku kirain si Dongwoo itu yang membernya B2ST ._. ternyata member inpinait ya😀 aku baru tahu, terus masuk ke nama2 kota kayak Varnoxes, Henolia, itu hasil imajinasi kamu kan, fik? sama yang kayak di sand glass, kan?😀

    Aiih, pokoknya aku selalu suka karya fantasimu fik~ dan aku sangat2 menunggu kelanjutannya~ *karena ini ada hubungannya sama darah-darah, maklum, lagi pengen baca yang mengarah ke sadism + maincastnya troublemaker ihiii~ xD* keep writing and fighting yaa fik~! (^o^)/

    • yeay! jangan ngeskip chapter tiap baca fic aku, soalnya pasti gabakal jelas xD ahaha iya, imajinasiku terlalu liar kayanya

      J-Hyo sama Rasa? wah aku gatau mereka siapa~ G.O makan kaca semacam debus ya… dibilangnya pasti kaya limbad u,u iyaa ibunya meledak, sedangkan ilhoon selamat. yah sukaduka hidup:’> #iniapa

      oalaaah membernya B2ST sih Dongwoon xD iyaap Varnoxes dan Henolia itu kota dan negara khayalan, sama kaya Salventuary dan Ramovilia di SG😀

      okaaaay! bismillah semoga aku bisa lebih sadis hihi. makasih banyak kak atik dan semangat jugaaa!😀

  3. As usual saia selalu kehabisan stok kta selain keren -_- (komen mcm apa ini) tp ini emg asli keren sangaaaaaaaatt….

    Mreka it smcam penjaga kerajaan toh, n rangkaian kata perkalimatny mkin ciamik fik. Saia cm mw ngarep mga ni epep jalan teruuuuuuuus :* ciusan saia sring bolak balik ifk dmi ngliat epep ini, entahlah bkin pnasaran aplgi saia cinta mati sm crita fantasi.

    Part 1 ini kyakny bru perknalabn awal gtu kan? Okesip akhr kta saia ucpkan daebakiya ^^b

    • chan unnieeee! terharu nih chan unnie masih mau baca kisah yang kutulis, huhu T.T

      ehhh ya mungkin semacam itu, tapi lebih ke orangorang yang punya hubungan sama kerajaan kali ya xD alhamdulillah! wah ahaha okeokee pasti kok, diusahain! aku juga cinta mati sama fantasi :3

      iyaa ini masih perkenalan, berikutnya sudah mulai bertarung. makasih banyak, kepala sukuuuu!!!{}

  4. Ahh fikha always amazing ya tulisan kamu
    misterynya dapet fantasynya juga dapet
    yang bikin aku jadi berkhayal khayal ria(?)
    trus aku juga suka sama pendeskripsian kamu tentang hyuna yang buta itu tu bener bener keren dan kayak orang buta beneran gitu

    aku juga jatuh cinta( ?) sama karakternya hyunseung disini bener bener gitu dah pokoknya wkwkwk…
    Trus ya masa pas partnya G.O gua ngakak fik haha.. Langsung kebayang gimana gitu wkwk

    pokoknya fik ditunggu nextnya ya makin daebak buat kamu fik

    • aku masih belajar juga kok, dan emang mungkin aku cuma bisa ngolah fantasi T~T
      iyaap awalnya aku mau nulis pas dia nyeritain soal shiren, warnanya kaya biru, ijo, dsb tapi mengingat dia buta akhirnya deskripsinya jadi kaya gituu

      hyunseung itu karismatik banget!
      HAHAHA mungkin abis ini bakal lebih heran lagi, karena Jio di sini SUPER aneh!

      sippp makasih banyakbanyakbanyak yaaa!{}

  5. annyeong, aku reader baru dsni ^^

    ini fantasi keren abis, nggk mbosenin
    btw, G.O makan kaca kyk makan kalsium? tulangny dari kaca nih?
    oh ya msh nyari cast kah? emang butuh cast yg sifatny kyk gmn?

    • halo kak wima! salam kenal yaa😀

      mungkin aja? ahaha barangkali kaca buat tubuhnya punya kandungan kalsium? x)
      terserah, nanti cocok atau ngganya sama cast yang mau aku munculin (soalnya aku sendiri gatau akan munculin seberapa banyak cast, seperlunya aja, hehe) aja, jadi nanti kupilih dari saran pembaca😀

  6. Pingback: EXISTENTIA — 2nd Chapter of Tale | Cappulatte·

  7. Pingback: EXISTENTIA — 3rd Chapter of Tale | Cappulatte·

  8. FIKHAAA MAAFKAN AKU BARU MAMPIR TT
    Padahal rencananya setiap chap baru keluar langsung baca. Tapi ya gitulah abg #apaini

    Anyway, cerita ini rumit ya T.T Aku agak bolot dengerin penjelasan hyunseung. Tapi untuk segi storyline daebak banget laaaah :3 Itu gak nyangka si G.O jadi kayak gitu huahahaha ngebayangin si lips-sexy-rapper berlumuran darah itu agak…….

    DAN AKU LIAT DI CHAP 3 ADA YOSEOB YA?!?!? AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

    Udah aku gak pandai bikin komentar-_-v besok ke chap 2 yaaa :3 keep writing fik~~

    • GAPAPA ILAAAA GAPAPA!!!! aku juga kalo on wp cuma ngurus administrasi(?) IFK aja T__T terus malemnya nekurin twitter. kayanya aku punya utang dongeng malem ini.

      Iya, lebih rumit lagi malah nanti… ah makanya penjelasannya ga mungkin cuma sekali doang kok :3 Jio emang sengaja jadi tokoh aneh, soalnya aku selalu suka orang-orang yang karakternya aneh tapi sebenernya kuat

      IYAAAAAAAP YOSEOB ADA DI 3 DAN 4! dan perannya bakal makin banyak ke depannya fufufufu :3

      gapapa ilaaa kamu mampir aja aku udah seneng banget ;__; kamu juga yaaa! fighting! makasih banyaaak

      • ADUH SANTAI DONG FIK. GAUSAH PAKE CAPS GITU. #lahiniapa
        Hehehe lanjutin ya’-‘)/ terus jangan sampe aku mati(?) di dongengnya

        Okedeeh ditunggu dah xD Ihiy berarti kamu suka sama aku dong?😆

        AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA #ulangin
        Beneran? :3 makin semangat ini buat existentia :3 jangan menistakan dia ya:’)

        Hehe kamu bales komenku juga aku seneng :3 Okeee sama-sama😀

      • OKEDEH GABAKAL PAKE CAPS DEH!
        IYA TENANG AJA, TAPI AKU GA YAKIN DONGENGNYA PENDEK KARENA KETAHUILAH AKU ANAKNYA SEKALI MIKIRIN CERITA PASTI PANJANG ;__;

        IYEEEEAH TENANG DIA GA ABSURD-ABSURD BANGET KOOOH!

        KENAPA LAH KITA SALING MENYENANGI(?) SATU SAMA LAIN :”>

      • WEH SITU BISA SELOW GAK?
        Fik, capsmu kayaknya kedudukan junhong……
        Pokoknya panjang gakpapa asalkan aku gak mati ya’-‘)/

        Iya kamu yang absurd fik :3

        Hehehehehe *nyengir*

      • TENANG-TENANG ABIS INI SELOW KOK!
        gatau nih dia cari perhatian banget sama aku. tenang, aku juga ikutan muncul dan kita ga mati kok :3

        yang adil l.joe aja yang absurd

  9. Pingback: EXISTENTIA — 4th Chapter of Tale | Cappulatte·

  10. Pingback: EXISTENTIA — The Bloody Memories: Chico’s Joke [5th Chapter of Tale] | Cappulatte·

  11. Pingback: EXISTENTIA — The Bloody Memories: Clue [6th] | Cappulatte·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s