EXISTENTIA — Ignition: Battle [2nd Chapter of Tale]

existentia4

hewan buas yang kelaparan,

berlari dan menerkam.

meraup segala-galanya yang berada dalam jangkauan cakarnya 

.

.

.

mereka nyaris sama

hanya saja salah satunya baru dilepas menuju medan pertempuran

sehingga tak tahu dunia

existentia

Casts belong to God. © Fikha Adelia : kihyukha

2013 project. do not plagiarize, copycat, or repost without my permission.

|| Kim Hyunah [4Minute] || Jang Hyunseung [B2ST] || Yoon Doojoon [B2ST] || Jung Ilhoon [BtoB] || Jung Byunghee [MBLAQ] || Jang Dongwoo [INFINITE] || Kim Seokjin [BTS] || Kim Jonghyo [Lc9] || reveal soon

and illi.

previous:

The Beginning: PROLOGUE | 1st [Filia’s Destiny: EXPLICATIO] |

.

.

.

2nd chapter of tale

happy watching!

.

.

.

she can’t escape.

battle.

.

.

.

existentia

“Ilhoon….” Hyunah membeliak, sekarang keringat mengalir turun melalui punggungnya. Udara sejuk, namun mendadak terasa pengap luar biasa. Hyunah tak mengerti mengapa Ilhoon bersikap menantangnya, bahkan melempar pisau!

“Kuberi waktu tiga puluh detik,” kata Ilhoon cepat. Dia beringsut menjauh dari pintu, memberikan ruang untuk Hyunah. “Dalam kurun waktu itu, kau harus bergegas secepat mungkin kembali ke ruangan tadi. Di sana ada senior Doojoon dan senior Byunghee, mereka akan memberitahukan apa yang harus kaulakukan. Tidak ada balasan, tidak boleh membantah, atau kepalamu kulubangi. Satu….”

Hyunah tidak tahu apa yang tengah terjadi, namun dia segera ke luar ruangan, tergesa-gesa meraba dinding demi menuju ruangan besar tadi, yang berupa ruang makan. Tubuhnya spontan bergerak tatkala Ilhoon mulai menghitung, dan dia dipaksa untuk bergerak lebih cepat ketika suara lantang Ilhoon masih menghantam telinganya, yang memperdengarkan hitungan yang terus berjalan.

“… lima….”

Hyunah berlari menyusuri koridor, kedua kakinya berhati-hati menuruni tangga, kadangkala nekat melompati dua atau tiga anak tangga sekaligus. Dia tak tahu berapa banyak anak tangga lantaran tak sempat menghitungnya, maka dia hanya bisa mengira-ngira. Baru saja Hyunah hendak mendarat, perkiraannya meleset jauh dan dia mendarat di salah satu anak tangga dalam keadaan tak seimbang, membuat tubuhnya terhuyung, kemudian berakhir terjatuh di ujung tangga dengan rahang, lengan, lutut, dan betis yang menabrak lantai terlebih dahulu. Beruntung anak tangga yang dipijaknya tadi tidak terlalu jauh dengan lantai dasar. Hyunah bergegas bangkit, mengabaikan rasa sakit pada beberapa titik di tubuhnya, dan berlari susah-payah menuju ruang makan. Tangan yang gemetaran menuntunnya.

“… sebelas….”

Sesampainya di ruang makan, Byunghee dan Doojoon segera menyambut. Hyunah tak punya waktu untuk mengatur napasnya yang berat dan tersengal-sengal, yang dia lakukan hanyalah berdiri di depan pintu dan menunggu kedua pria di hadapannya berbicara.

“Berapa detik yang diberikan Ilhoon untukmu?” tanya Doojoon.

“Ti—tiga puluh….”

“… lima belas….”

Cepat! Cepat! Cepat!

Kaki Hyunah meretek, dia takut waktunya habis dan Ilhoon tiba-tiba datang dan menusuknya dengan pisau. Kulitnya mulai terasa panas, dan tubuhnya dibanjiri keringat. Dia tak mau jika Byunghee dan Doojoon malah mengulur waktu, menyebabkan Hyunah tak sempat melarikan diri—atau yang paling parah—terbunuh sebelum mengerti apa yang tengah terjadi.

“Baiklah, Hyunah, kau harus serius. Seluruh bagian rumah ini adalah tempat pertarunganmu kecuali lantai tiga, karena Hyunseung tidak menolerir kamar-kamar tidur diberantaki. Misimu hanya satu: bunuh Ilhoon,” kata Doojoon segera, dan Hyunah menimpali dengan anggukan patuh, kendatipun dia tak tahu apa yang tengah terjadi sekarang. “Sekarang, keluar dari ruangan ini dan tunggu Ilhoon di tempat yang kaukira aman. Hati-hati, daya pengamatan Ilhoon tajam,” imbuh Doojoon.

“Kau perlu senjata?” tanya Byunghee. Dia berdiri di belakang meja bundar yang di atasnya telah dipenuhi berbagai senjata, mulai dari pisau kecil hingga senapan. Tangannya menarik slide sepucuk pistol berlaras panjang.

Hyunah menggeleng. Dia berbalik, lantas memasuki koridor. “Aku sudah punya senjataku,” katanya, sembari mengangkat kedua tangannya, kemudian berlari ke arah yang berlainan dari tangga, meninggalkan Byunghee dan Doojoon dalam rasa kagum sekaligus senang pada benak masing-masing.

“Paling tidak dia percaya diri menggunakan tangannya,” kata Doojoon.

“Aku tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya mengoyak langsung dengan jemari…,” Byunghee menatapi jari-jarinya satu-persatu, tatapannya menyiratkan impresi skeptis.

“Eung… apa yang terjadi?” Terdengar suara rintihan dari bawah meja, dan sekonyong-konyong Dongwoo muncul dari sana, masih dengan pakaian berlumuran darah, rambut berantakan, dan wajah kuyu. Byunghee dan Doojoon sempat melupakannya, dan ketika dia muncul lagi, mereka menganggap Dongwoo sebagai sebuah gangguan. Byunghee sempat tergagau kala melihat Dongwoo tiba-tiba menampakkan diri.

“Enyahlah kau dari sana,” kata Byunghee, menyembilu. Ekspresinya tak terlihat senang.

“Tu—tunggu, apa salahku?” Dongwoo tampak panik, namun Byunghee hanya mendorong tubuhnya dan memintanya kembali ke kamar untuk mandi, sementara Doojoon mengeluarkan rantai yang melingkar di bawah meja. “Apa sudah dimulai?” tanya pria berambut merah muda itu, tampak bingung. Byunghee hanya menjawab dengan anggukan kecil, lantas menutup pintu ketika Dongwoo telah berada di luar ruangan. Akhirnya, Dongwoo memilih pergi dengan langkah malas, sembari menggaruk-garuk kepalanya walaupun tidak gatal.

Doojoon mencoba menarik dua sisi rantai untuk melihat seberapa kuat sambungan rantai tersebut, dan setelah dirasa beres, dia mengerling Byunghee. “Memangnya kau betul-betul perlu ini?”

“Ya, tak perlu segan,” sahut Byunghee. Dia berdiri tegap dengan tangan menempel di samping tubuh.

“Kalau begitu diamlah, karena kita harus cepat.”

.

.

.

“Dua puluh sembilan… tiga puluh!” Ilhoon membuka matanya yang sedari tadi tertutup, kemudian menyeringai melihat Hyunah telah mengirap dari pandangannya. “Petak umpet dimulai, Filia!” serunya seraya berlari keluar, menutup pintu, dan melaju bagaikan angin ke arah yang menurutnya tepat. Sesekali dia berlari di dinding, melompat jauh, dan tergelak senang. Sudah lama sekali dia ingin melakukannya, hanya saja tak ada alasan sama sekali. Hyunseung akan membuatnya tidur di luar selama tiga hari berturut-turut jika Ilhoon berulah tanpa alasan.

Dengan mudah, Ilhoon melompati enam anak tangga sekaligus dan mendarat di lantai bawah. Dia berlari dan melirik sekilas ke arah pintu ruang makan yang tertutup, dapat didengarnya suara gemerencing dari dalam.

Pastilah Filia sudah bersembunyi.

Ilhoon menggebrak daun pintu untuk memberitahukan Byunghee dan Doojoon bahwa dia lewat. Bibirnya mengulas seukir seringai, kakinya dengan cepat bergerak, sekali-kali berhenti di koridor yang memisahkan dua arah, menerka-nerka ke arah manakah Hyunah berlari.

Melihat perangai gadis itu, barangkali dia mengundang untuk bertarung?

Pandangan Ilhoon mulai menjelajah sudut-sudut koridor. Menemukan ceruk-ceruk mungil tak berarti di dinding—yang pastinya luput dari mata teman-temannya—lalu maniknya menyorot lantai pualam, memerhatikan debu-debu yang nyaris tak terlihat yang menghiasi lantai akibat belum dibersihkan. Terdapat jalur panjang yang bersih dari debu, dan Ilhoon yakin Hyunah-lah yang membuat jalur itu dengan kakinya. Entah terluka atau bagaimana, yang pasti Hyunah berjalan dengan menyeret kaki kiri, dilihat dari beberapa tempat di samping kanan jalur yang juga bersih dari debu namun berbentuk seperti tapak kaki.

Ilhoon terkekeh, kaki telanjangnya mencoba menginjak salah satu bagian dari jalur. Masih hangat dan terasa lembap; bukti bahwa baru saja dilewati—atau dibuat—oleh seseorang.

Dia bergegas merunut lagi, mengikuti jalur yang hanya mampu dilihat matanya, membiarkan cahaya dari luar menerobos jendela besar, memantapkan penglihatan. Bekas kaki Hyunah mengantarkannya ke arah sebuah ruangan besar yang diyakini Ilhoon sebagai tempat rapat para ilmuwan sebelum ayah Hyunah meninggal. Ruangan itu besar, dipenuhi kursi-kursi dan meja-meja yang membentuk oval mengelilingi tepi ruangan dan berbaris-baris, semakin ke belakang, posisinya semakin tinggi. Di tengah ruangan terdapat lantai kosong yang lapang dan luas. Atap ruangan ini khusus dipenuhi dengan kaca, membuat ruangan tak pernah benar-benar gelap. Tempat yang cocok sekali untuk bertarung.

“Kau pintar memilih ruangan,” kata Ilhoon. Suaranya bergema, hingga menakuti Hyunah yang bersembunyi di bawah salah satu meja. Gadis itu terengah, napasnya tercekat, dan matanya membulat. Dia berusaha menahan debaran jantung yang tak terkendali. Keringat dingin membasahi dahi dan telapak tangannya.

Sunyi.

Namun Hyunah masih merasa tak aman.

Mendadak, terdengar bunyi kaki kursi ditarik. Ilhoon sedang memeriksa bawah meja, satu demi satu.

Hyunah bergidik. Dia berusaha keluar dengan sangat berhati-hati, mengusahakan indra perabanya bekerja semaksimal mungkin dengan merasakan getaran di benda-benda dan permukaan lantai. Perlahan-lahan, dia sanggup merasakan getaran langkah Ilhoon, bagaimana bunyinya beresonansi pada meja-meja kendati tidak begitu terdengar apabila telinga Hyunah tidak cukup tajam. Dia merunduk, merangkak di atas lantai sementara Ilhoon semakin dekat dengannya. Hyunah nyaris mencapai tangga menuju ke bawah ketika dahinya terantuk meja, membuat Ilhoon sontak berbalik.

“Kau di situ rupanya,” kata Ilhoon. Dia berindap-indap menuju ke arah sumber suara, kemudian berteriak untuk mengagetkan. Tetapi Hyunah tak ada di sana. “Apa—”

Mendadak, Hyunah menyambar dari arah samping, tangan kurusnya yang tak disangka-sangka kuat menarik leher Ilhoon hingga nyaris patah, namun Ilhoon mengelak.

“Berengsek, boleh juga!” Ilhoon tampak penuh antusiasme, dadanya sesak lantaran dipenuhi gairah bertarung. Hyunah telah berdiri di atas tempat lapang, seolah-olah menunggu Ilhoon ikut masuk juga ke arena pertarungan. Dengan seringai puas, Ilhoon bergegas melompat dari atas, kemudian mendarat di tepi seberang tempat Hyunah berdiri.

Hyunah mempersiapkan jari-jari beserta kakinya, sementara Ilhoon hanya berdiri dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.

“Aku takkan segan walau kau tidak mampu melihat. Saat masih di rumahmu, aku hanya ingin melihat kemampuanmu, bukan melawan, sehingga membiarkanmu merobek perutku. Tapi sekarang berbeda,” seru Ilhoon lantang. Dia menuding Hyunah, wajahnya menggambarkan kebanggaan. “Shiren-ku berwujud binatang besar menyeramkan, seperti katamu, ‘kan? Akan kutunjukkan hewan beringas ini kepadamu.”

Kaki kiri Ilhoon mundur sekitar lima sentimeter, lantas dia menggunakan kekuatan untuk mendorong kakinya demi menambah kecepatan, melesat menyerang Hyunah. Hyunah mengelak, jemarinya bergerak cepat untuk menembus perut Ilhoon, namun Ilhoon melompat dan menggunakan tangan kanan sebagai poros untuk berputar ke belakang, mendaratkan diri di atas meja. Hyunah tidak berhenti, dia mengejar Ilhoon dan berhasil menjambak rambut pria muda itu, kemudian menarik dan menghantamkan kepala Ilhoon ke meja, menyebabkan satu luka besar penuh darah pada dahi Ilhoon dan hidung yang memerah.

“Kasar sekali,” gumam Ilhoon. Dia menarik diri, bergegas menjauh sementara sebelah tangannya menyeka darah yang mengalir pada batang hidungnya. “Tapi beginilah yang aku mau! Ini belum seberapa, gadis! Kau mau kekerasan yang sebenarnya, ha?”

Hyunah tersentak, matanya membeliak ketika Ilhoon mendadak semakin cepat, menendang ulu hatinya dan menerjang tubuhnya menghantam lantai, menyebabkan kepalanya pening akibat benturan. Hyunah segera bangun tatkala Ilhoon lengah, dengan sekuat tenaga mengayunkan tangannya dan berhasil mematahkan leher Ilhoon. Mereka serentak menjauhkan diri dari lawan masing-masing, napas keduanya mulai terengah-engah.

Samar-samar, terdengar bunyi gemeretak dari leher Ilhoon, selayaknya terdapat otot-otot yang bekerja memperbaiki segala kerusakan yang disebabkan Hyunah. Ilhoon hanya merasakan gelenyar yang lumayan membuat geli pada lehernya, dan Hyunah tahu Ilhoon takkan kalah hanya karena leher patah. Barangkali dapat disebut kemampuan pemulihan ekstra cepat.

Ilhoon tersenyum sinis kala melihat Hyunah berusaha menyeka darah yang keluar dari hidungnya.

“Kaupikir taktik mematahkan leher akan berguna padaku? Jangan bercanda, kekuatanmu bukan apa-apa.”

Sedetik usai Ilhoon berbicara, sosoknya lenyap dari pandangan Hyunah. Shiren Ilhoon hilang dalam sekejap, kemudian muncul lagi dari belakang punggungnya. Sontak, Hyunah berbalik, refleks menangkap mata pisau yang dilempar Ilhoon kepadanya—ia dapat merasakan keberadaan pisau tersebut lantaran shiren Ilhoon membekas pada gagangnya—mengakibatkan tangannya teriris tajam dan mengeluarkan darah, namun Hyunah tak peduli. Ia berlari pincang ke arah Ilhoon dengan amarah yang bergejolak dalam dada, tak disangka kakinya bergerak kian cepat tanpa Ilhoon sempat mengelak, hingga Hyunah berhasil memotong tangan kanan Ilhoon yang digunakan pemuda itu untuk berlindung. Ilhoon lengah, dan Hyunah mengambil kesempatan untuk merobek perut pemuda itu, membiarkan darah panas membasahi jemarinya.

Hyunah belum mampu bernapas lega; tangan kanan Ilhoon yang terpotong mendorong tubuh Hyunah hingga terjerembap, dan tangan itu kembali menempel lagi pada tubuh Ilhoon, sama seperti organ-organnya yang mulai pulih. Ilhoon menarik tangan Hyunah, memuntirnya ke belakang punggung. Hyunah menjerit, matanya menjegil, dan keringat membanjiri tubuhnya. Jeritannya tercekat ketika ia merasakan tulang lengannya mulai retak.

“Jadi hanya setingkat ini saja?” kata Ilhoon, melepaskan Hyunah dari siksaannya. Nada suaranya terdengar meremehkan, berhasil membuat Hyunah naik pitam. Gadisitu berdiri dan melangkah terseok-seok, sembari menahan sakit yang luar biasa pada lengan kirinya. Bukan hanya gelenyar, tentu saja, ini lebih dari rasa sakit yang biasa dideritanya saat melawan musuh-musuh terdahulu yang mencoba masuk ke dalam rumahnya. Bahkan Ilhoon melakukan tindakan itu tanpa segan. Betul-betul iblis pertarungan.

Hyunah berteriak, berlari cepat, sesekali terjatuh hingga rahangnya lagi-lagi menabrak lantai karena dia tak bisa menggunakan lengannya untuk melindungi wajah. Kakinya berusaha menopang tubuhnya untuk berdiri, namun luka pada lutut dan betisnya dirambati nyeri yang menggila. Hyunah nekat melompat menyerang Ilhoon, melemparkan diri ke udara, namun Ilhoon bergerak amat cepat hingga menyebabkan Hyunah kembali jatuh mencium lantai. Dia meringis, matanya basah oleh air mata. Hyunah tahu dirinya tak boleh menangis, dia tak mau kalah, namun dia merasa kerdil melawan Ilhoon. Kembali lagi dia berusaha menyerang, Ilhoon hanya terus menghindar dengan memasang ekspresi datar dan tatapan bosan, bahkan sempat memukul titik pada leher Hyunah hingga membuat si Gadis Kecil lumpuh pada seluruh tubuhnya selama sepersekian detik.

“Kubilang, setingkat ini saja? Mereka jago dalam bertarung seperti aku! Walaupun aku satu-satunya yang takkan merasa sakit meskipun dipuntir dan dipatahkan tulangnya, mereka tetap hebat!”

Hyunah sontak gemetaran, kakinya lemas dan tubuhnya tergolek tak berdaya. Shiren Ilhoon laksana hewan buas yang bertambah besar, seperti raksasa yang tubuhnya dibalut energi berwarna terang yang berkobar-kobar. Hewan itu menatap Hyunah, menggeram dan mengaum keras, berlari selayaknya hendak menerkam. Hyunah begitu ketakutan hingga tak sanggup berbicara, ingin lari namun tubuhnya tak mau bergerak. Lumpuh mendadak begitu menyiksanya, meraup udara yang dihirupnya, membuatnya merasa sesak di dada dan ngilu pada sendi beserta otot. Perutnya terserang sakit yang menyiksa. Hyunah meringis, air matanya berderai dan isakannya terdengar bagaikan orang yang kesusahan bernapas.

“Kemampuanmu bukan hanya setingkat ini, ‘kan? Kau yang sekarang tak lebih dari orang yang menyerah setelah mengetahui lawanmu tak bisa kaukoyak! Cepat berdiri!” teriak Ilhoon.

Alih-alih berusaha berdiri kembali, Hyunah hanya diam saja, meratapi diri seraya sesenggukan. Matanya tak bisa menutup, seolah-olah terpatri pada wujud shiren Ilhoon yang tampak berang kepadanya.

Tidak, tidak….

Berdiri, Kim Hyunah!”

Aku takut, ibu… tolong aku….

“Orang ini!” Ilhoon benar-benar marah. Dia menarik lengan Hyunah, membuat gadis itu merintih kesakitan. “Lawanmu nanti lebih kejam dariku! Aku hanya memelintir lenganmu, sedangkan mereka akan menghancurkan jantungmu! Kau bukan aku yang mempunyai tubuh seperti puzzle!”

Hyunah hanya menangis. Dia takut. Hewan buas tadi sekarang berdiri di depannya, bermaksud menginjaknya.

“Kim Hyunah!”

Tiba-tiba, pintu terbuka, menampakkan dua—atau tiga—sosok berjubah putih. Yang satunya dalam kondisi terikat rantai hingga perlu diseret, sedangkan dua lainnya bebas. Yang satu menggenggam ujung rantai, mengeret yang terikat.

“Sudah cukup, Ilhoon. Kau mulai masuk terlalu dalam,” komentar Hyunseung. Dia mengernyit sebelum masuk ke dalam ruangan, menarik Byunghee yang memasrahkan tubuhnya ditarik-tarik dalam keadaan tak mampu bergerak.

“Kau berlebihan sekali! Jinyoung pasti akan mencercamu sehabis ini.” Doojoon berlari-lari kecil dari pintu, lantas membopong tubuh kecil Hyunah. “Kau memberikannya pasien dengan keadaan nyaris sekarat.”

“Kau yang berlebihan. Kondisi gadis itu tidak masuk dalam kategori parah,” gerutu Ilhoon, namun Doojoon tidak mengacuhkannya.

“Lalu, bagaimana hasilnya?” tukas Hyunseung, merasa perihal penting yang harus dibahas mereka seharusnya adalah laporan latihan kali ini. Dia memandang Ilhoon tajam, menuntut jawaban sesegera mungkin.

“Ah, seperti yang sudah diduga. Dia sempat merobek perutku, tapi selanjutnya ketakutan.” Ilhoon berkata dengan gaya apatis.

“Wajar, dia masih amatir,” bela Doojoon.

“Jangan memanjakannya.” Hyunseung memutar bola matanya; tahu bahwa Doojoon terlalu tidak tegaan kepada perempuan. “Tapi benar juga katamu, dia masih amatir. Lemah dan memerlukan banyak latihan. Kau akan terus menjadi lawannya, Ilhoon.” Hyunseung mengakhiri instruksinya. Dia membiarkan Byunghee memandangi ruangan untuk melihat seberapa kerusakan yang ditimbulkan seusai latihan pertama. Byunghee bertanggung jawab dalam menyediakan peralatan, jadi dia adalah orang yang harus mengurus perbaikan nantinya.

“Tunggu, kenapa aku lagi!?” protes Ilhoon.

“Bodoh, siapa lagi yang bisa menangani cara membunuh gadis itu yang langsung merobek perut? Kau yang tubuhnya paling—tidak, bahkan hanya kau yang memungkinkan.”

“Mentornya Doojoon! Dan senior Byunghee dapat melakukan tugas itu lebih baik dariku!”

“Doojoon bertugas memonitor, menjelaskan, dan mengurus keperluannya saja, dia tak ada sangkut-pautnya dengan latihan—setidaknya tidak sekarang. Senior Byunghee akan menghancurkan tubuh gadis itu, dia akan kubiarkan menjadi lawan jika gadis itusudah naik ke level yang jauh lebih tinggi. Paling tidak kau punya kontrol yang cukup baik atas tubuhmu,” jawab Hyunseung, memberi alasan yang membuat Ilhoon tak bisa membalas lagi. Ilhoon melirik ke arah Byunghee yang memandang dengan tatapan kosong ke segala penjuru ruangan, masih dengan tubuh dililit rantai dari kepala hingga kaki.

Sambil bersungut-sungut, Ilhoon berjalan keluar dengan langkah malas, mengekori Hyunseung yang juga menyeret Byunghee.

“Maaf, mereka memang kejam. Kuharap Dongwoo tidak separah mereka,” kata Doojoon lirih. “Sebentar lagi seorang ahli kesehatan dari Istana bernama Jung Jinyoung akan datang untuk merawatmu. Kalau kau tanya mengapa senior Byunghee dirantai, karena dia berdarah panas. Apabila melihat atau merasakan pertarungan, pasti jiwanya ikut menggebu-gebu. Dia akan kehilangan kendali dan melemparkan diri ke dalam arena pertarungan, kemudian berakhir mengacaukan segalanya. Dia selalu dirantai jika kami mengadakan latihan, kecuali jika itu latihannya sendiri.” Doojoon akhirnya melempar pandangan ke arah Hyunah, namun gadis kecil itu tidak mendengarkan, alih-alih pingsan akibat kelelahan. Wajahnya dipenuhi bilur-bilur hitam dan merah, tetapi menyiratkan ketenteraman, walaupun bekas air mata masih tampak di pipinya.

Doojoon tersenyum, lalu berjalan ke luar ruangan, meninggalkan bekas arena pertarungan.

“Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik, Filia.”

***

Hyunseung bersandar di atas kursinya yang dilapisi beledu merah di ruang makan. Dia menghela napas panjang, kemudian beralih memandang sang matahari di balik jendela. Cahaya putih menyeruak masuk, menyinari ruang makan sehingga jasa lampu tidak dibutuhkan lagi. Pagi yang tenang, tak terasa dua jam telah berlalu setelah latihan pertama Kim Hyunah berakhir.

“Aku lapar!” keluh Ilhoon. Dia mendorong pintu dengan setengah tenaga, berjalan loyo ke arah kursinya dan duduk di sana.

“Kau berpolah bagaikan seorang master hari ini. Sepertinya kau lupa bagaimana tangisanmu mengganggu telingaku beberapa tahun lalu,” ujar Hyunseung, tanpa menatap Ilhoon. Yang diajak bicara hanya terkekeh, merasa malu sekaligus geli.

“Aku hanya menirumu,” timpal Ilhoon. Dia mengambil handgun yang tergeletak di atas meja, memutar-mutar handgun menggunakan sebelah tangannya. Dengan sigap, jemarinya menangkap handgun dalam posisi yang tepat, lalu menekan pemicu tanpa memberi jeda, meledakkan sebutir peluru menuju kepala Hyunseung.

Hyunseung, tanpa melihat, menangkap peluru itu dengan jari jempol dan telunjuknya saja. Lidahnya mendecak jengkel. Ilhoon sudah mengganggu para burung maltech, yang bulunya berwarna cadet blue dengan warna sayap pale violet red—paduan yang cukup langka—dengan suara pistol sehingga mereka tergesa-gesa mengepakkan sayap, meninggalkan dahan yang tadi mereka hinggapi.

“Kau mengganggu, berengsek,” caci Hyunseung. Dahinya berkedut kesal.

“Oh, kupikir pada hewan pun kau takkan peduli.” Ilhoon menyengir lucu, tetapi malah menyebabkan Hyunseung semakin dongkol.

Tatapan mata elang Hyunseung memerintahkan Ilhoon bergegas keluar dari ruangan sebelum Hyunseung melempar kursi ke kepalanya, namun Ilhoon lekas-lekas menangkupkan tangan, bermaksud meminta maaf. Hyunseung memilih untuk tidak menghiraukannya dibanding harus melayangkan tinju.

“Hei, sampai sekarang aku masih bingung, Senior.”

Hyunseung mengedikkan bahu, tidak terlihat penasaran dengan pernyataan Ilhoon. Memastikan bahwa Hyunseung tidak terganggu, maka Ilhoon melanjutkan:

“Sebenarnya apa wujud kekuatanmu? Kekuatan konsentrasiItu terdengar lucu….”

Hyunseung bergeming, begitu juga sang penanya. Mereka ditelan kesunyian hingga Hyunseung memecahkannya.

“Entahlah. Dia tidak pernah memberitahuku.”

.

.

.

“Youngjae, berjalanlah lebih cepat!”

Seorang wanita berjalan dengan sedikit terburu-buru, meninggalkan pemuda berambut cokelat dengan iris cokelat terang di belakangnya. Mereka menyusuri koridor gelap beratap tinggi, sehingga lampu-lampu berjarak jauh di atas kepala. Bunyi hak sepatu dan benda yang diseret mengisi senyap.

“Hana! Aku membawa koper jadi sukar menyusulmu, setidaknya mengeremlah sebentar!” gerutu Yoo Youngjae. Jung Hana yang telah menciptakan jarak sekitar lima meter di depan akhirnya berhenti, kemudian memutar tubuhnya yang dibaluti gaun panjang sekelam malam.

“Lalu kau mau aku melakukan apa? Mengangkat koper itu sendirian?”

“Tentu saja, itu kan keahlianmu.”

“Dengan pakaian seperti ini? Tidak!” Hana menolak mentah-mentah, lalu berjalan lagi, meninggalkan Youngjae yang mendengus keras. Langkah Hana terhenti di depan pintu yang sedikit terbuka sehingga membuat celah untuk mengintip. Dia mundur beberapa sentimeter hingga mendapat posisi yang pas untuk memerhatikan keadaan di dalam.

Gelap, hanya diterangi nyala lilin di atas meja. Enam orang lelaki ada di dalam sana, tiga pada satu sisi dan tiga lagi pada sisi yang lainnya. Dua orang duduk di sofa yang berhadapan, sementara sisanya berdiri di belakang sofa, masing-masing berdua, seperti bodyguard. Tampaknya mereka sedang melakukan negosiasi.

“Aku ingin kau membunuh orang ini,” kata pria yang lebih tua, penampilannya seperti seorang pejabat tinggi kerajaan. Dia mengelus-elus janggut panjangnya yang dicat hitam sembari menyorongkan selembar foto. Aroma parfum yang menguar membuat Hana menutup hidung serta mulut, mual.

“Hem… berapa bayaran yang bisa Anda tawarkan kepadaku?” tanya pria yang lebih muda. Rambutnya berwarna krem dan berantakan, tetapi sepadan dengan parasnya yang rupawan dan bergaris wajah tegas.

“Uang bukan masalah. Seratus juta jagle, bagaimana?” Si Pejabat memerintahkan bodyguard-nya untuk menunjukkan isi dari koper yang dibawanya. Sang Bodyguard meletakkan koper hitam di atas meja dan membuka kuncinya, memperlihatkan setumpuk uang yang disusun rapi.

“Bagaimana jika tiga ratus? Orang ini cukup berpengaruh di kalangan mafia, kepalanya diincar dengan harga tertinggi dua ratus tujuh puluh juta jagle. Aku berharap kau bisa memberikanku lebih,” kata pria muda itu, Kim Himchan. Dia tersenyum menantang, membuat si Pejabat menggigit jari, berusaha mencari cara untuk menawar harga yang lebih rendah lagi dengan pemuda cerdas di hadapannya. “Kurasa lima detik sudah cukup untukmu. Negosiasi ini kuanggap tak pernah terjadi dan sebagai gantinya—”

“—tunggu! Baiklah, tiga ratus juta jagle! Tetapi aku kemari hanya membawa dua ratus juta,” kata si Pejabat, memasang raut gelisah. Matanya jelalatan dari Kim Himchan, kedua pria di belakangnya, kemudian menuju koper-koper uang.

“Tak masalah untukku. Ah, asistenku yang ini,” Himchan menoleh ke arah belakang, menunjuk seorang pemuda berambut merah dengan pakaian kelabu longgar menutupi tubuh dan sebagian kepalanya, menyisakan setengah wajah untuk dipandang. “Namanya Cha Hakyeon. Dia akan mengambil sisa uangnya di rumahmu esok hari. Dan Kim Jonghyo di sebelahnya yang akan membunuh target untukmu, tenang saja.”

“Be—begitu ya? Kalau begitu, Hakyeon akan kujamu dengan makan malam termewah yang pernah dia rasakan setelah menyerahkan uangmu kepadanya,” ujar si Pejabat. Berbasa-basi, sekadar menjamin dirinya sendiri bahwa Kim Himchan kelak akan bersedia memberikannya keringanan pada lain waktu.

“Wah, aku senang sekali.” Himchan tersenyum, lantas menjabat tangan kliennya sebagai tanda kesepakatan. “Selain itu, sebagai simbol terjalinnya kontrak kita…,” Himchan menggerakkan jari jempolnya, mengiris telapak tangan si Pejabat menggunakan kuku dengan cepat, mengambil darah. Anehnya, si Pejabat tidak merasakan apa-apa. Himchan melepas tangannya, kemudian mengibaskan tangan ketika darah si Pejabat berubah menjadi api merah muda, menyentak si Pejabat tua dan para bodyguard-nya. Namun, mereka tidak mengatakan apa-apa perihal api tadi.

Kontrak darah telah terikat.

“Senang berbisnis dengan Anda,” kata Himchan. Dia lekas berdiri, mengambil setelan jas kotak-kotak hitam putihnya dari tangan Hakyeon, kemudian berjalan ke luar ruangan, diikuti Hakyeon dan Jonghyo seusai mengambil dua buah koper berisi uang dari tangan bodyguard si Pejabat. Hana dan Youngjae menyingkir, membiarkan Himchan, Hakyeon, dan Jonghyo lewat.

“Asisten? Omong kosong. Kontraknya tak berguna jika kau menggunakan Hana dan Youngjae,” gumam Jonghyo, sembari mengernyitkan alis. Himchan hanya terkekeh melihat reaksinya. Sekejap, Himchan memberi isyarat pada Hana dan Youngjae agar memulai pekerjaan mereka, dan dibalas dengan anggukan singkat.

Youngjae meletakkan koper di depan pintu ruangan. Dia menahan tawa ketika mendengar si Pejabat tua mengumpat. Hana merapikan rambutnya dan diam-diam menekan tombol alat yang dipasang pada telinganya, lantas keduanya meninggalkan gedung.

Himchan, Jonghyo, dan Hakyeon telah lenyap terlebih dahulu.

.

.

.

Himchan dan kedua temannya muncul di tengah jalur hutan yang terbuka lebar, berjarak berpuluh-puluh meter dari mansion tua tempat pertemuan tadi.

“Menjamu? Yang benar saja…,” kata Himchan. Dia mengukir seringai pada wajah tampannya. “Kau takkan sempat melakukan itu, Pak Tua.”

Tahu-tahu, terdengar bunyi ledakan yang luar biasa keras dari belakang mereka. Asap membubung tinggi menembus awan pekat, sama gelapnya dengan langit malam. Api dengan gagah melalap habis gedung, memerangkap dan siap mencengkeram tubuh tiga orang lelaki dalam panasnya kepekatan nan membara.

 

tidak teratur, tidak terhubung.

begitukah hubungan kami dengan kalian?

Tuan Putri telah mengambil langkah pertama,

namun sempatkah ia menghentikan kita?

.

.

.

2nd Chapter of Tale

END

***

notes:

Yoo Youngjae adalah B.A.P’s Youngjae dan Jung Hana adalah rapper SECRET, Zinger! (dan sekarang name stage-nya seperti nama aslinya, Hana! Namanya imut ya :3).

Cha Hakyeon adalah VIXX’s N. Awalnya galau mau dia apa Ken (secara Ken orang aneh dan saya sukak, tapi karena tertarik banget sama mata dan apa pun yang ada pada N, maka…). Si Kelabu itu udah diisi dari awal oleh N, cuma pas abis nulis 1st Plan, baru nonton hyde dan baru tau kalo rambutnya N sekarang merah. Ya udah. Gapapa.

Terima kasih yang sudah mau meluangkan waktu untuk berkomentar dan memberi saran untuk cast yang harus dinistai! Banyak yang membantu, dan Insya Allah saya pakai nanti sebagian, hehe x)

tambahan gif:

Jonghyo a.k.a J-Hyo (Bias di LC9. Jangan dirampok!) :

tumblr_mnc4m7Ur3I1sqhtj2o2_r1_400

Gunwoo a.k.a RASA (Bayangkan Gunwoo di scene terakhir dengan penampilan seperti ini. Aduh dia ganteng.):

tumblr_mnbzat9s0V1qlo8dto1_r1_500

last but not least, mind to review?😀

14 responses to “EXISTENTIA — Ignition: Battle [2nd Chapter of Tale]

  1. Fik, km mauny komen yg bgmana? Saia bingung, galau risau gundah gulana (dilempar bakiak) msti komen apa. Smuany saia suka. Walaupn saia mempunyai kndala dg cast ny yg saia tau cm member beast sm hyuna d’sni dtmbah jinyoung b1a4 mwahaha. . . Gapen bgt komen yg lbh menjurus ke curcol ini -_- maap kan saia yg kece ini #lah

    adegan pling saia suka it pas hyuna sm si ilhoon gontok-gontokkan. Si ilhoon yg sadistis n hyuna yg pntng menyerah it tergambar jlas di otak saia (wlau muka ilhoon ny saia ngarang sndri ntar saia cri tau siapa t org yg 1 spesies sm puzzle). Karakter yg sejauh ini bkin klepek-klepek aduhai si dojoon :* keren dg cara yg halus :3 ad si bibir tbal kikwang gak yah kira2 ._.a

    n dri crita yg dijabarkan ini saia cm bsa menyimpulkan kalo km it tipe author yg detail. Cetar sekali >,<b ganbatte ( ".")9

    • CHAN UNNIE KAU DATAAAAANG!{}
      aaah maaf ya, karena aku sedang membudidayakan(?) pake cast yang jarang dipake, jadi yah…😦 muahahahu gapapa banget! coba dihafal pelan-pelan ayuk xD

      ah aku gapernah ngga terhibur baca komentar unnie:’3 dan mendadak doojoon jadi karakter favorit semua orang… roman-romannya aku bakal kena geplak kalo nistain dia=w= oooh akankah kikwang muncul?

      makasih untuk unnie yang udah sering banget ngebantu dan ngasihtau yaa o/ aku author yang detail, kah? :3
      intinya makasih banyakbanyakbanyaaak!{}

  2. maap ya fikha baru sempet comment, padahal bacanya uda kemaren2 #bungkuk2

    selalu suka sama jalan ceritanya, dan selalu bikin penasaran, ya… meskipun agak bingung dengan banyaknya tokoh, kk~

    selain itu, adegan fight-nya juga keren banget. Jujur itu lumayan serem, apalagi disini hyuna masih kecil, cukup bikin ngeri,
    tapi itu malah yang bikin ceritanya makin menarik ditambah unsur misterinya, klop abis

    And, kelanjutannya ditunggu terus ya ^^

    • iyaa gapapa banget kok!^^

      maaf ya… soalnya ini nyaris sama kaya BC, castnya berlimpah ruah. semoga ga bikin ribet nanti pas di tengah-tengah cerita T~T

      iya, hyunah masih kecil tapi tangannya itu senjatanya. untuk selanjutnya dia bakal terus konsisten ngebunuh pake jari kok x)

      makasih banyak yaaa!{}

  3. Aduh fikk kamu tu ya keren banget
    dapet kemampuan(?) dari mana sih wkwk

    Oke back to ff.. Ahhh aku bingung mesti ngomong apa. Amazing banget dah fik
    dan sekali lagi aku suka banget sama hyunseung bener bener misterius bangett
    Trus juga hyuna ahh suka banget dia bener bener keren fellnya dapet banget, aku aja sampe deg degan bacanya..
    Trus trus trus kalo kemaren aku ngakak pas bagian G.O nah kalo sekarang aku malah ngerasa serem banget gara gara dia dirante

    pokoknya daebakk ditunggu nextnya fikkk

    • kemampuan? O.O aku cuma modal ngayal dan seneng nulis aja kok xD

      hyunseung itu emang cocok jadi tokoh misterius tapi keras, beda sama ji yang aneh :3 /lahsalahcerita/
      yeaaay bersyukur kamu suka sama si tokoh utama! emang lebih baik hyunah dibuat lebih keras ya?
      keanehan G.O sepertinya udah selesai, tapi seterusnya ada Dongwoo juga sebagai tambahan! kalo Ilhoon-Hyunseung sangar, G.O-Dongwoo aneh. kayanya emang cuma Doojoon yang mendingan…

      makasih banyakbanyakbanyak yaaa!{}

      • Hahaha ngayal tapi keren begini aku juga mau

        wahhh kamu ngebahas BC jadi kangen kan wkwk.. Yahhh abang jio keanehanya gak muncul lagi dong tapi gak papa masih ada ilhoob wkwk

        setuju cuma doojoon yang agak mending sepertinya dan aku malah menemukan sebuah keromantisan(?) dalam kata katanya *oke fik yang ini abaikan aja.. Ngawur

      • ahaha ngayal itu asik lo kak, biasanya aku di kamar mandi kerjaannya bengong xD

        yaaaah yaudah jangan dibahas deh itu BC-SG ahaha. abang jio itu forever aneh kok :3

        oooh semacam doojoon suka hyunah? yah mungkin aja kaya gitu, aku juga gatau nanti bakal berkembang kaya gimana ini cerita muahahahau xD

  4. Pingback: EXISTENTIA — 3rd Chapter of Tale | Cappulatte·

  5. Pingback: EXISTENTIA — 4th Chapter of Tale | Cappulatte·

  6. Pingback: EXISTENTIA — The Bloody Memories: Chico’s Joke [5th Chapter of Tale] | Cappulatte·

  7. Pingback: EXISTENTIA — The Bloody Memories: Clue [6th] | Cappulatte·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s