EXISTENTIA — Ignition: Confuse [3rd Chapter of Tale]

existentia3

laksana terdapat rantai yang membelit dan menolak untuk melepas jantungku 

existentia

Casts belong to God. © Fikha Adelia : kihyukha

2013 project. do not plagiarize, copycat, or repost without my permission.

|| Kim Hyunah [4Minute] || Jang Hyunseung [B2ST] || Yoon Doojoon [B2ST] || Jung Ilhoon [BtoB] || Jung Byunghee [MBLAQ] || Jang Dongwoo [INFINITE] ||

|| Kim Himchan [B.A.P] || Kim Seokjin [BTS] || Kim Jonghyo [Lc9] || Yoo Youngjae [B.A.P] || Jung Hana [SECRET] || reveal soon

and illi.

previous:

 | The Beginning: PROLOGUE | 1st [Filia’s Destiny: EXPLICATIO] | 2nd [Ignition: BATTLE] |

.

.

.

3rd chapter of tale

happy watching!

.

.

.

no one answer.

confuse

.

.

.

existentia

“SEELAAMAAT PAAAGIIIIII!”

Suara manis itu menyela kesunyian waktu makan siang. Gelas yang dipegang Dongwoo jatuh dan pecah, Byunghee membuat pakaiannya kotor akibat teh yang tersembur dari mulutnya sendiri, dan kelingking kaki kiri Ilhoon terantuk kaki kursi, membuatnya menjerit dan menjatuhkan diri ke lantai. Hyunseung mengernyit sebal, nyaris melempar kursi ke kepala si sumber suara yang berdiri tepat di luar jendela menuju tebing.

Pemuda bersuara manis itu berambut merah kotor sehingga mudah dikenali. Dia mengenakan pakaian bertudung berwarna krem. Seseorang yang lain menarik tudungnya ke atas, membuat si Pemuda tergantung di udara.

“Berhenti berteriak, Yang Yoseob!” protes Hyunseung. Dia membuka jendela lebar-lebar, membiarkan pemuda bernama Yoseob itu, dan temannya yang tampak kesulitan menarik tubuh Yoseob agar tetap melayang di udara, masuk ke dalam.

“Selamat pagi, Junhyung!” sapa Byunghee ceria. “Dan selamat pagi, Yoseob!”

“Selamat pagi, Tuan Byunghee!” Yoseob menimpali tak kalah ramahnya; Junhyung—yang berambut cokelat terang—menunduk sopan kepada semuanya dan melepaskan tudung Yoseob dengan kasar. Napasnya tak beraturan, tenaganya habis digunakan untuk membawa Yoseob terbang bersamanya. Alat yang menyerupai sayap dari besi di punggungnya melipat dan menutup sendiri, laksana putri malu yang menguncup.

“Kalian menjengkelkan,” kata Ilhoon dongkol. Dia tak mengerti mengapa Byunghee dan Yoseob berpura-pura bodoh seperti itu, karena jelas waktu telah menunjukkan pukul satu, yang mengartikan bahwa ini sudah siang hari. Dia mendengus keras, lantas menarik kepala kursinya dan berdiri di depan pelipir meja sembari bersungut-sungut. Maniknya menilik makanan-makanan yang disediakan Doojoon di atas meja, dan reaksi pertamanya adalah ternganga lebar. “DIA MENYUGUHKAN ROTI PANGGANG DI SIANG HARI? Apa Senior Doojoon juga terkena virus idiot kalian?” dengkingnya marah. Dia duduk dengan malas-malasan, tidak menghiraukan delik jengkel Hyunseung. Sedangkan Byunghee dan Yoseob hanya tersenyum saja.

“Siapa yang menghinaku idiot?” Doojoon muncul dari balik pintu, memandangi seisi ruangan seraya membawa nampan berisi beberapa piring makanan yang ditumpuk menyerupai piramida.

Ilhoon dan Hyunseung bersikap acuh tak acuh terhadap Doojoon yang kerepotan membawa makanan. Dongwoo mengambil inisiatif untuk membantunya menata piring-piring itu, sementara Byunghee mengadu kepada Doojoon tentang pakaiannya yang kotor terkena teh. Doojoon memintanya untuk segera mengganti baju, dan pergilah Byunghee keluar, dengan mata masih terpancang pada pakaiannya. Doojoon baru menyadari kehadiran Yoseob dan Junhyung kala piring terakhir diletakkannya di dekat Hyunseung.

“Oh, hai, Yoseob, Junhyung! Duduklah, maafkan aku, sisa-sisa sarapan belum kubersihkan,” katanya ramah, maniknya melirik tajam ke arah Ilhoon, menjelaskan lewat mata bahwa roti panggang yang dipermasalahkannya adalah bekas sarapan.

“Tidak apa-apa. Urusan kami berdua singkat saja,” kata Yoseob riang. Dia menarik segulung perkamen dari saku jubahnya yang besar dan tampak menenggelamkan tubuhnya, lalu membaca keras-keras isi perkamen itu. “Kepada yang bernama di bawah ini, Jang Hyunseung, Yoon Doojoon, Jung Ilhoon, Jung Byunghee, Jang Dongwoo, dan anggota terbaru Kim Hyunah, dengan ini kami pihak Kerajaan mengundang kalian datang esok hari pukul sembilan pagi untuk menghadap dan berdiskusi dengan Baginda Raja. Salam, Penasihat Kerajaan. Dan tambahan pesan yang diberikan Baginda secara langsung kepadaku dan Junhyung, tidak boleh ada yang tidak hadir.” Yoseob, masih dengan senyum bahagianya, menggulung perkamen dan menyelipkannya kembali ke dalam saku jas.

“Panggilan lagi? Menyebalkan!” Terdengar suara asing yang cempreng dan sengau menyusul suara Yoseob. Tangan kiri Dongwoo bergerak sendiri, membuka dan menguncup seolah-olah membuat gerakan mulut berbicara.

“Hei!” tegur Dongwoo, lalu menggunakan tangan kanannya untuk memukul tangan kirinya. Terdengar rintihan kesakitan dari tangan kanannya.

“Sakit!” Terdengar suara lain, kali ini suara bariton, sungguh tak pantas jika suara itu berasal dari Dongwoo yang masih muda. “Mau apa kau? Kau ingin bertengkar, ha?”

Tangan kiri Dongwoo bergerak, membuka lebar-lebar dan menguncup secara cepat dan berulang-ulang. “Kau yang apa, memukulku tiba-tiba! Maumu begitu ya, berengsek?!”

“DIAM!” sentak Dongwoo kesal. Menyadari Junhyung menatapnya dengan pandangan aneh bercampur heran, dia buru-buru menambahkan, “bukan aku yang melakukannya! Mereka berbicara sendiri!”

“Ah, tangan Dongwoo memang begitu. Mereka… mereka kadangkala muncul, dan… ya, seperti punya nyawa sendiri,” kata Doojoon, sedikit bergidik kala menjelaskannya karena sekarang kedua tangan Dongwoo tengah bergulat dan membuat Dongwoo menjerit frustrasi.

Yoseob tertawa lebar, sementara Junhyung juga tertawa, namun dipaksakan. Keduanya melambaikan tangan sebelum akhirnya sayap besi di punggung Junhyung kembali terkembang lebar (dan sayapnya ini menabrak kursi Ilhoon hingga Ilhoon jatuh terjengkang. Sederet umpatan menggantung di tenggorokannya tanpa dikeluarkan, mengingat Junhyung lebih tua dan tidak begitu dekat dengannya), dan tangannya mencengkeram tudung Yoseob, menariknya ke luar jendela dan melesat terbang menuju Istana. Dongwoo mendecak kagum, mempertanyakan apakah Yoseob tidak tercekik jika tudungnya ditarik sekaligus mengagumi sayap besi Junhyung.

“Satu kendala di sini adalah, Hyunah masih belum sadarkan diri,” kata Doojoon, serta-merta memulai topik baru untuk dibahas setelah Junhyung dan Yoseob tampak seperti titik cerah yang mewarnai langit biru. Dia mengambil satu porsi makanannya, dan ditata dengan rapi di piring porselennya yang berwarna putih. Sepotong ikan kerapu bakar, sayuran-sayuran yang telah dipotong kecil-kecil seperti wortel dan brokoli, nasi putih, telur mata sapi, beberapa batang kentang goreng, dan makanan pencuci mulut berupa puding mangga. Yang lain mengambil bagian mereka, beberapa lauknya sama seperti milik Doojoon.

“Di mana dia sekarang?” Hyunseung, satu-satunya yang tidak bergerak untuk mengambil makanan, mengerling Doojoon.

Yang ditanya berusaha menelan ikannya, setelah itu baru menjawab. “Di ruang perawatan, kurasa? Jinyoung datang setengah jam yang lalu.”

Hyunseung hanya mengangguk, lantas berdiri dan melangkah menuju pintu, berpapasan dengan Byunghee yang sudah berganti pakaian. Byunghee bertanya apakah Hyunseung tidak makan, dan pria bermata elang itu hanya tersenyum dan menggeleng, kemudian berjalan menjauhi ruang makan, membiarkan Byunghee menutup pintu.

“Ada sesuatu yang mengganjalnya… dia menunggu sesuatu,” gumam Byunghee lirih. Dia mengambil tempat di sebelah Dongwoo yang sekarang menusuk-nusuk tangannya sendiri dengan garpu, bermaksud membuat tangan-tangan sintingnya diam.

“Afa?” Ilhoon menyalang ke arah Byunghee, sementara mulutnya penuh.

Byunghee berpura-pura tidak mendengar, tangannya bergerak mengambil lauk untuk mengisi piringnya. Ilhoon mengernyit bingung, namun dia tidak ambil pusing, lantaran setelahnya dia sudah kembali menikmati makanannya, lupa untuk menanyakan maksud Byunghee.

***

Hyunah terbaring lemah di atas ranjang yang diletakkan di pinggir ruangan, di dekat jendela. Cahaya menggerayangi wajahnya yang tenteram, menerpa rambutnya yang bergelombang dan sewarna dengan tanah. Seorang pria berambut merah berdiri di sebelah ranjang, mencatat sesuatu di buku kecilnya. Dia mengenakan pakai seorang dokter, lengkap dengan stetoskop melingkari leher.

Ruangan dengan dinding berwarna kuning muda yang mereka tempati hanya diisi tiga buah ranjang yang berderet di satu sisi dinding, dan pada dinding seberangnya terdapat sebuah lemari putih berukuran cukup besar, berisi peralatan medis dan alat-alat pertolongan pertama.

Lamat-lamat terdengar bunyi derit pintu. Pintu tinggi terbuka sehingga membuat celah kecil, dan Hyunseung mengintip dari sana, memerhatikan keadaan di dalam.

“Masuklah,” kata si pemuda berambut merah. Kepalanya berputar beberapa derajat, manik cokelatnya menemukan sosok Hyunseung berdiri di muka pintu dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. “Hari yang berat untuknya dan untukmu, Hyun. Bebanmu bertambah?”

“Tidak juga,” Hyunseung melangkah masuk, lantas berdiri di sebelah Jung Jinyoung sementara tatapannya terpaku pada sosok Hyunah. Jemarinya menyentuh rambut gelombang gadis itu. Tidak mengelus atau membelai, hanya sekadar menyentuh saja. “Bagaimana keadaannya?” tanyanya.

“Seharusnya kau memerhatikan keadaanmu sendiri,” Jinyoung berkata tanpa memindahkan pandangannya barang sedikit saja dari kertas-kertas catatannya. “Wajahmu pucat. Kau pasti berusaha mencari keberadaan mereka lagi setelah membaca koran pagi ini, di mana mereka mengabarkan mansion tak berpenghuni di tengah hutan terlalap habis oleh api dan tiga mayat ditemukan di sana.”

“Itu bukan hasil dari mereka semua,” tutur Hyunseung.  “Aku pergi ke lokasi sebelum memeriksa latihan. Jejaknya memang mereka, tapi rasanya ada yang aneh… biasanya salah satunya tidak suka meninggalkan jejak. Aku menemukan ini,” Hyunseung mengeluarkan satu buah kartu yang ujungnya terbakar dan menghitam, namun tidak hangus seutuhnya. Gambar yang tercetak pada satu sisi kartu adalah gambar sekop yang biasa menghiasi kartu-kartu remi, bagian bawahnya mengeluarkan darah berwarna hitam, dan gambar latarnya adalah garis-garis hitam yang saling memotong, dengan warna dasar merah tua. “Aku pernah melihat simbol itu di selebaran yang disebarkan di ‘jalanan-jalanan gelap’. Rasanya janggal… aku tahu ini pekerjaan mereka, tapi aku tak pernah tahu mereka adalah bagian dari sesuatu.”

“Wah, wah, biarkan aku melihat nanti apakah ada sidik jari selain milikmu. Seharusnya kau memberikan ini kepadaku dengan kondisi tangan yang ditutupi sesuatu.” Jinyoung mengambil kartu tersebut dengan tangannya yang sudah ditutupi sarung tangan, kemudian memasukkannya ke dalam plastik kecil dan menyimpannya di koper hitam besar yang tergeletak di lantai.

“Maaf, aku terkejut ketika melihat benda itu sehingga terburu-buru. Para Penegak Keamanan telah menguasai mansion, maka aku harus bergerak cepat, sebelum seseorang yang lain mengambilnya.”

“Beruntung kau termasuk dalam kelompok yang memiliki hubungan dengan Kerajaan.”

Hyunseung hanya bergeming, membiarkan Jinyoung menuntaskan pekerjaannya sementara maniknya terus menilik Hyunah. Baru sekali ini Hyunseung melihat sesuatu dengan penuh konsentrasi setelah sekian lama. Sebelah tangan gadis itu diperban, di mana tulangnya retak akibat Ilhoon. Luka-luka pada sekujur tubuhnya sudah diobati dan ditutup dengan  perban.

“Kutunggu kau di ruang makan malam ini.”

Hyunseung ingat sesuatu, namun karena selalu menepis hal itu, lama-lama bayangannya semakin memburam. Dia ingat suara tangis Ilhoon beberapa tahun lalu, tatkala tubuhnya masih sangat kecil, dipaksa untuk bertarung, dan akhirnya tumbuh menjadi orang yang keras dan kasar. Dia ingat Doojoon yang selalu melarangnya untuk berbuat keji, memasak untuk semuanya, dan menjadi kakak yang baik. Dia ingat Byunghee yang suka duduk di sudut ruangan, merangkung sendirian sembari menatap kosong entah ke mana, dan ketika yang lain memulai perkelahian, sekonyong-konyong Byunghee berubah menjadi ganas dan mengacaukan segalanya. Dia ingat Dongwoo manakala pertama kali mengetahui kedua tangannya punya nyawa sendiri, menganggap dirinya gila, namun lama-lama terbiasa. Dia ingat ketiga anak lain… yang sama anehnya, memberikan kenangan yang berlimpah, kemudian pada suatu hari mereka berwajah penuh kemurkaan, mengumumkan bahwa mulai saat itu mereka memisahkan diri, dan tak pernah kembali. Kenangan-kenangan ini membuat Hyunseung murung.

Suatu saat gadis ini akan merasakan hal-hal yang lebih sinting daripada kebutaannya, kemampuannya melihat shiren, dan membunuh dengan jari.

Kepala Hyunseung menunduk, matanya masih memandangi lekuk-lekuk wajah Hyunah. Lantas, dia menggeleng, berusaha mengabaikan pikiran-pikirannya tentang peristiwa lampau.

Gadis ini harus ditempa seperti yang sudah kulakukan pada Ilhoon. Dia akan sekeras Ilhoon, tahan kepada apa pun yang melukainya, namun dengan cara yang berbeda… lebih istimewa. Gadis ini lebih tegar dan kuat dibanding Ilhoon yang dulu, hanya saja jika lawan melenyapkan shiren mereka, habislah sudah.

Hyunseung terdiam sejenak hingga mendadak, terbesit dalam pikirannya, sesuatu tentang kartu yang diberikannya kepada Jinyoung.

“Jinyoung….”

“Ya?”

“Kurasa mereka sedang memberitahukan sesuatu kepada kami.”

“… begitu, ya? Jadi, adakah alasan lain bagimu untuk tidak menyelidiki lebih lanjut, Tuan Jang Hyunseung?”

“Ya… kurasa mau tidak mau, aku, Doojoon, dan Senior Byunghee harus melakukannya. Menurut intuisiku, mereka bergabung bersama satu kelompok yang ditakuti. Kelompok yang mempunyai simbol sekop itu sebagai tanda. Mereka bergerak dengan beberapa orang lainnya yang juga berbahaya.” Hyunseung menggigiti kuku jarinya, berusaha mengulas kembali apa-apa saja yang sudah terjadi belakangan ini. “Tugas kami dan mereka sama, bahkan hingga sekarang, yaitu menumpas para teroris, tapi caranya berbeda. Agaknya kami harus melihat satu atau dua petunjuk lagi… dan setelah itu, kami bisa mencari di mana keberadaan mereka, sekaligus menangkap seluruh anggota kelompok itu.”

“Aku mendukung,” sahut Jinyoung. “Tapi apabila kau sudah mengetahui di mana mereka, mau kauapakan ketiga orang itu? Dibunuh?”

Perlu beberapa detik untuk Hyunseung menjawabnya.

“Tentu saja.”

Hyunseung bergegas beranjak dari sana, menghampiri pintu dan bermaksud pergi ke kamarnya, menyendiri dan berkontemplasi hingga waktu makan malam tiba. Tetapi kata-kata Jinyoung berikutnya menghentikan tangannya menggapai kenop pintu.

“Tolong panggil Ilhoon ke sini, ya? Aku perlu memeriksa luka di punggungnya.”

Hyunseung berbalik dengan ekspresi bingung. “Luka? Bukankah… lukanya sembuh dengan sendirinya?”

“Tidak dengan luka yang itu,” kata Jinyoung, yang akhirnya mau membalas tatapan lawan bicaranya. “Kau tidak ingat, Hyun? Luka itu kau yang membuatnya, dua tahun lalu, di arena latihan. Hanya luka itu saja yang tak bisa sembuh. Kau tahu kenapa?”

“… kenapa?” Sekonyong-konyong rasa bersalah menimpa benak Hyunseung. Dia sama sekali tak ingat dan tak tahu bahwa selama dua tahun Ilhoon menyimpan satu luka di punggungnya. Dia baru teringat bahwa selama ini Ilhoon tak pernah keberatan jika perutnya yang dikoyak, namun dia menunjukkan ketidaksukaan tatkala punggungnya disentuh oleh sesuatu. Tadi juga, ketika Ilhoon tak sengaja terjengkang ke belakang lantaran kursinya terkena sayap besi Junhyung, ekspresinya seperti hendak menangis, namun ditahan. Setahunya luka apa pun, bahkan yang sangat parah, bisa sembuh dalam kecepatan yang fantastis bilamana Ilhoon yang mendapatkannya. Tetapi… luka macam apa yang pernah Hyunseung buat hingga tubuh Ilhoon sendiri tak mampu menyembuhkan luka itu?

“Aku pun tak tahu,” sahut Jinyoung santai, membuat Hyunseung mengepalkan tangan kuat-kuat, giginya mengertak jengkel. “Tetapi itu luka yang cukup parah, Hyun. Sulit menutupnya kendati dua tahun telah terlewat. Bisa jadi luka itu menjadi jawaban atas pertanyaanmu dan semua anggota… apa wujud kekuatanmu,” imbuh Jinyoung, membuat jantung Hyunseung serasa mencelat.

“Kekuatanku…?”

“Ya… sebetulnya apa sebenarnya kekuatanmu?”

Dan, pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban. Hyunseung maupun Jinyoung tak mampu memecahkannya detik itu juga.

.

.

.

Sebuah hotel bintang lima menjulang tinggi di tengah-tengah kota. Bangunannya luar biasa mewah, para wisatawan lokal dan manca negara yang kaya raya memenuhi tiap-tiap kamar, menikmati kemewahan yang memanjakan, bahkan di kamar masing-masing. Pot tanaman puring berdiri di salah satu sudut ruangan, meja bundar dan beberapa kursi untuk menikmati hidangan hotel di dalam kamar terletak di depan jendela panjang yang mencapai langit-langit. Sofa-sofa merah tua tersusun rapi di tengah-tengah ruangan, meja panjang yang terbuat dari kayu terbaik dunia digunakan untuk meletakkan televisi berukuran 72 inci, dan lampu-lampu gantung berada jauh di atas kepala. Di samping pintu masuk, ada pintu menuju toilet dengan ukiran-ukiran dari emas pada dinding-dindingnya, kemudian dua pintu lagi yang berada di dekat jendela dan masing-masing berseberangan menuju kamar tidur, yang memiliki dua ranjang empuk nan nyaman. Di setiap kamar tidur, terdapat kamar mandi dan ruang untuk menggantung pakaian.

Seorang wanita menggeliat malas di ranjangnya, masih setengah tertidur, ketika ponselnya berbunyi nyaring. Nama Kim Jonghyo tertera di layar ponsel.

Dengan malas-malasan, dia mengangkat telepon.

“Halo…? Kau mengganggu tidurku, sialan,” umpat si wanita, namun suaranya lirih.

“Hana, Youngjae ada di sana?”

“Apa? MANA KUTAHU! Dia punya ponsel, mengapa kau repot-repot menghubungiku hanya untuk menanyakan sepupuku!?” ringking Jung Hana dengan jengkel. Ia nyaris menekan tombol untuk memutuskan telepon tatkala terdengar suara Jonghyo kini meninggi.

“Dia tidak menjawab, sialan! Kau ada di kamar tidurmu ‘kan? Lempar saja ponselmu ke luar, barangkali Youngjae ada di ruang tengah!”

“Mana kutahu! Ah, terserah saja!” bentak Hana lagi, kemudian melempar dengan asal ponselnya ke luar pintu. Ponselnya terbanting tepat di muka pintu yang terbuka lebar. “YOUNGJAE! AMBIL PONSELKU DAN BERESKAN URUSAN KALIAN, BERENGSEK!” jeritnya kemudian, lantas kembali tidur sambil menggerutu pelan. Suasana hati Hana benar-benar jelek jika baru bangun tidur.

Yoo Youngjae, yang sedang duduk di karpet beledu berwarna hijau rumput di ruang tengah, melirik sekilas ke arah ponsel Hana yang masih menyala. Di tangannya terdapat berbagai macam alat rakitan dan kabel-kabel berwarna, yang dapat dipastikan adalah bom buatan tangan. Tanpa tertarik melihat ponsel itu lagi, dia berseru keras, berharap si penelepon dapat mendengar suaranya tanpa dia harus repot-repot menempelkan ponsel itu di dekat telinganya.

“Siapa di sana?”

“Yoo Youngjae! Ambil ponselnya!”

Youngjae memicing ke arah ponsel. Dengan kakinya, ia menyeret ponsel itu agar mendekat.

“Oh, rupanya Kim Jonghyo. Ada masalah apa?”

“Kau sedang merakit senjatamu?”

Youngjae hanya bergumam sebagai jawaban. Tangannya masih sibuk mengutak-atik.

“Jin sekarang ada di aula besar bersama Hakyeon, menghadiri pelelangan, berjaga-jaga apabila target kita ada. Tapi aku sudah memeriksa semua barang yang dilelang, namun hasilnya nihil.”

“Begitukah?” Youngjae menimpali dengan acuh tak acuh. Dia melirik ke arah komputernya yang dibiarkan tergeletak di lantai, “pelelangan besar sih, jadi kita harus repot-repot mencari tahu langsung di lokasi karena penjagaannya ketat….”

“Itu karena seseorang malas mencari tahu lewat media lain!”

Tidak mengindahkan sindiran Jonghyo, Youngjae melanjutkan, “Berarti jawaban yang tersisa tinggal sedikit lagi, ya… tolong tutup teleponnya, Kim Jonghyo. Sepupuku akan membunuhku kalau baterai ponselnya habis.”

Terdengar bunyi tut dari arah ponsel, dan layar sekejap menjadi hitam. Youngjae menyalakan komputernya yang dihubungkan dengan berbagai kabel, mulai membuka-buka data-data yang telah dikumpulkannya. Sejumlah gambar barang-barang bernilai tinggi ditimpa gambar centang berwarna hitam tampak sekelebat di layar. Jari Youngjae berhenti bergerak ketika gambar yang muncul di layar sudah sampai pada gambar terakhir pada deretan gambar barang-barang mewah.

“Ini ada pada mereka…,” gumamnya, sembari mengelus lapisan bibir bawahnya dengan jari jempol.

Maniknya tertuju pada sebuah gambar: kalung dari emas dengan permata berwarna hijau berkilau yang berukuran kecil, namun tak terhingga harganya.

Dari arah belakang, suara Kim Himchan yang hanya mengenakan baju mandi lengkap dengan rambut yang basah, menyapa telinga Youngjae.

“Aku sudah memerintahkan Jin, Hakyeon, dan Jonghyo untuk segera kembali ke kamar. Kau mau penanda kedua dinyalakan, Jae?”

Youngjae menjawab tanpa memindahkan pandangan dari layar.

“Ya, tolong.”

Tiga detik setelah Youngjae menjawab, samar-samar terdengar suara ledakan besar dari arah aula.

.

.

.

sang singa berhenti melangkah, menoleh ke belakang, menyadari sang serigala telah membawa pasukan

si raja hutan tak lagi mengabaikan; tak lagi meremehkan

bahaya mengancam, menjalar pada permukaan tanah, siap menghunjamnya dari balik arakan awan

keduanya menggeram, mengatur sasaran, lantas menerjang

.

.

.

namun cakar sang singa terpaku di tanah.

3rd Chapter of Tale

END

.

.

.

EXISTENTIA 4th

“Mereka tak bisa lagi diabaikan.”

a story for the agreement,

the king’s order

***

notes:

hola a todos! Di sini giliran Hyun ambil giliran. Yah kalau melihat kalimat pertama yang paling atas bawah cover (cover-nya ga jelas, i know, bikin cover buat fic sendiri itu malah ga jelas akhirannya), kalian bisa lihat bagaimana menderitanya si Hyun.

kenapa umurnya pada muda semua Fik? Secara mereka pembunuh gitu, sadis amat kalo umurnya segitu.

Gapapa, mungkin dunia sudah berubah… /ditimpuk/ dan usia Hyunah tiba-tiba diubah jadi 12, karena… karena… kayanya kasian aja sih umur 10 udah disuruh kaya beginian. Sama aja? Yaudah gapapa, terus supaya Hyun ngga pedofil banget.

Hei, bagi yang belum kenalan sama anak Bangtan Boys (alias si Jin, yang tampil di sini), ini fotonya:

fdcab-jin

Dia line 92 (Alhamdulillah, masih wajar debut) dan yang TERTUA di BTS. Gilak.

Apa cerita ini terlalu berat atau bagaimana? Sebagai selingan saya mau rilis MBLAQ Fairytale series, ceritanya (insyaAllah) kayak dongeng kok, dan ringan-ringan jadi ngga kaya cerita ini yang saya sendiri ngga tau apaan. Ditunggu ya rilisnya! *promosi*

last but not least, mind to review?😀

WebRep
currentVote
noRating
noWeight

18 responses to “EXISTENTIA — Ignition: Confuse [3rd Chapter of Tale]

  1. Reaksi saia pas liat notif di email kalo ni ff publish asli senyum-senyum gaje n lngsung meluncur kesini😀 mnrt saia bhsany kgak berat krn ya, biasany kan nvel terjemahan bhsany jg bgni tp, ff km lbih ke puitis-puitis gtu wkekeke. . . .
    Seriusan it si hyunseung kekuatanny mengerikan bgtu O.o (free pukpuk for ilhoon) n doojon it krakter lbih kebapakan deh jiwany dimari family man yg seolah berteriak => jadikan aku bpak dr anak-anakmu #plakplakplak
    aduh, kebiasaan deh saia cm fokus sm 1 krakter -_-

    yoseob dibuat cerah-ceria tralala jd ngegemesin wkt ditarik2 tudung sm junhyung bwt diajk terbang

    n kritik pling pd kata manca negara yg kalo gk slah mestiny it tnpa spasi setau saia tapi .-. Okesipp selesai sdh komen ny
    oiya bleh tnya tak? Ad rekomen ff ato novel yg genre bgni?

    • waaaah makasih banyak chan-unnie! :’) iya, menurutku kalo bahasanya berat sementara ceritanya rumit, gabakal ada yang nyambung (dan emang gabisa bahasa berat) tulisanku puitis, kah? xD
      emang, aku aja gatau apa kekuatannya hyunseung. AHAHAHA aku beneran ngakak baca yang bagian doojoon, gapapah dia emang orangnya kebapakan banget, lebih menjurus ke menawarkan diri sebagai bapak sih sebenernya…

      iya, yoseob jadi ceria-ceria mengerikan begitu..

      aaah iya bener kak, aku nyari di google tapi rancu gitu ada yang dipisah ada yang digabung, akhirnya nengok artikata dan emang digabung, aku yang salah… udah dibenerin! makasih kakaaak! :”D
      boleh bangetsss! novel? Harry Potter? #jduar Hunger Games juga bagus, terus ada novel yang aku suka banget karena fantasinya nyenengin (tapi berantem-berantemnya gaada..) judulnya The Night Circus. kalo ff… palingan action sih kak, judulnya Alterego http://indofanfictkpop.wordpress.com/2013/06/11/alterego-teaser-3/ <– jarang baca di luar IFK TT

  2. akhirnya keluar juga lanjutannya, ye…
    aga kaget waktu liat umurnya yg masih muda2 banget, umur segitu uda pada sadis semua ya?? -.- Tapi Doojon apa ga kemudaan ya? Wajahnya kan kaya uda berumur… #digampar

    yg dikubu Hyun, aku uda kenal semua, tapi yg dikubu satunya, kubu sekop (bener ga?) aku cuma tau Jung Hana #payah

    aku paling suka adegan dimana tangannya Dongwoo hidup, hahaha… itu lucu kalo buat aku, sama karakternya Yoseob, ngegemesin

    satu lagi, baca FF mu ini rasanya sama kaya baca bukunya Ulysses Moore, meskipun beda genre, tapi sama-sama ada banyak misterinya

    ditunggu kelanjutannya ^^

    • Doojoon? hyahaha kalo gitu bayangin aja versi doojoon yang lebih muda, supaya pas sama umurnya yang baru 17 xD

      silakan kenalan lagi kalo gitu, mereka semua kecuali hana para rookie kok. LC9 RASA & J-Hyo, VIXX N, B.A.P Youngjae :3 eh VIXX sama B.A.P udah bukan rookie lagi deng..

      ahaha iya, sama kaya orangnya yang juga ngegemesin xD

      oooh yang seri petualangan Ulysses Moore ya? dari erlangga? aku belum baca buku-bukunya T~T

      siaaap! makasih banyaaak!

      • iya terbitan erlangga, kalau ada kesempatan coba dibaca,
        aku kurang 3 buku lagi, pengen bgt beli tapi harganya mahal n kalo beli sekarang aga susah carinya kecuali pesen, yg jilid 5 keluarnya akhir taun lalu aja uda susah dicari T_T

  3. Awooooo yahhh akhirnya udah publis padahal hari ini iseng kesini wkwkwk

    sebelumnya fik aku mau mengoreksi ketypoan kamu wkwk dan aku baru pertama kali liat kamu typo lohh.. Itu pas ilhoon nanya sama g.o kan harusnya “apa” nah disitu malah “afa” wkwk tapi gak papa fik tetep keren kok

    okee dan aku ngakak pas adegan yoseob dateng wkwk trus pas edegan hyuna dikamar itu aku ngebayangin vidio yang di MAMA waktu itu..

    Dan itu kamu mau bikin fic mblaq fik?? Yaampun cant wait bangett fik

    • holaaaaa o/

      eh, itu bukan typo, emang sengaja kutulis “afa” x) di saat mulut Ilhoon lagi penuh, dia gabisa ngomong jelas, jadi semacam kaya “Apa?” tapi ga jelas. coba aja kamu lagi makan, mulut penuh, terus ngomong “Apa?” pasti jadinya kaya “Afa?”

      MAMA yang pas hyuna sama hyunseung kaya ciuman itu bukan sih?

      okeeeh ditunggu yap! makasih banyak niaaa! o/

      • Huaaaaa jadi aku yang salah dong haha miane miane aku kira typo fik wkwk aku gak kepikiran loh haha.. Oke berarty aku blm pernah menemukan ketypoab kamu wkwk

        nah iya fik kan ada vcr hyuna lagi tiduran kan wkwk.. itu kalo gak salh MAMA yang di SG deh.. nah aku ingetnya yang disitu

      • yeaaay okeh! yah semoga sih aku ngga typo-typo. manusia gaada yang sempurna tapi aku orangnya perfeksionis, jadi susah sih T~T /inikenapacurhat/

        iyaap tautau aku, yang dicium hyunseung bukan? /ingetnyayangitu/

      • Hahaha kita sudahi perbincangan typo wkwk.. Yang ada aku typo tu di atas wkwk

        nahh iya pas mereka kissing.. Yaapun itu sesuatu cetar membahana banget wkwk

      • iya, tapi aku ngga protes mahaha xD

        pas bagian itu entah kenapa jiwa shipperku bahagia T~T TROUBLE MAKER HARUS COMEBAAAAACK!

  4. hey you! as always, ceritamu berat-tapi-mengesankan! aduh bener deh nggatau mau gimana cara ngerti jalan pikiranmu, nyerah deeeeh nyeraah. aaaaa castnya ada bangtan boys yaaa ihihi cakep amet/kumat/

    aaaarrrggghhh i like it very much. much love to existentia! and bc also! <3<3

    eh btw header kamu bagus tuh. temanya sekarang cerah ya mentang mentang summer…./geplak/ tapi enak kok liatnya kayak fresh juga pikiran. gravatar juga! hashh junhong emang keren kok kalo dari samping. suka semuaa!

    ehiya satu lagi. itu MBLAQ mau kamu apain ceritanya ringan kekgimana? apa komedi kayak bap yg satu itu? apa fluff? penasaran akooo penasaran fikha fighting mudahan gak ada halangan supaya aku bisa liaaat!/apaansih/

  5. Pingback: EXISTENTIA — 4th Chapter of Tale | Cappulatte·

  6. Pingback: EXISTENTIA — The Bloody Memories: Chico’s Joke [5th Chapter of Tale] | Cappulatte·

  7. Pingback: EXISTENTIA — The Bloody Memories: Clue [6th] | Cappulatte·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s