EXISTENTIA — Ignition: The King’s Order [4th Chapter of Tale]

existentia5

bergerak perlahan-lahan, namun mematikan

merangkak pada siluet kehidupan 

dalam usia yang begitu muda, menggerayangi kegelapan

menenggelamkan yang berkuasa dalam permainan

.

.

.

existentia

Casts belong to God. © Fikha Adelia : kihyukha

2013 project. do not plagiarize, copycat, or repost without my permission.

|| Kim Hyunah [4Minute] || Jang Hyunseung [B2ST] || Yoon Doojoon [B2ST] || Jung Ilhoon [BtoB] || Jung Byunghee [MBLAQ] || Jang Dongwoo [INFINITE] || Yang Yoseob [B2ST] || Yong Junhyung [B2ST] || Jung Jinyoung [B1A4] ||

and illi.

previous:

The Beginning: PROLOGUE | 1st [Filia’s Destiny: EXPLICATIO] | 2nd [Ignition: BATTLE] | 3rd [Ignition: CONFUSE] |

.

existentiachara

.

.

.

4th chapter of tale

happy watching!

.

.

.

agreement.

the king’s order

.

.

.

existentia

Matahari telah tenggelam di cakrawala barat ketika Hyunah membuka pelupuk matanya perlahan-lahan. Tampaknya dia tertidur sepanjang hari akibat shock dan kelelahan. Dapat Hyunah rasakan tulang lengannya yang diretakkan Ilhoon masih terasa nyeri, namun tidak sesakit tatkala dipuntir saat latihan. Peristiwa yang terjadi sebelum-sebelumnya bukanlah mimpi belaka, entah Hyunah harus merasa lega atau kecewa mengetahui hal itu. Dengan sebelah tangannya yang tidak terluka, dia menopang tubuhnya untuk duduk.

“Oh!”

Terdengar suara seseorang dan derit engsel pintu bergerak, membuat Hyunah sontak mengalihkan pandangan kosongnya ke arah di mana suara berasal. Dia ingat… suara itu adalah milik Doojoon, suaranya yang berat dan lembut, menenangkan kalbu. Sosok seekor binatang bertanduk dengan warna yang menenangkan muncul perlahan-lahan, menyelusup dari balik kegelapan yang melingkupi pandangan Hyunah.

“Tebakan Hyun benar, kau bangun tepat pada waktu makan malam! Baiklah, kubantu kau ke ruang makan… semua sudah di sana….”

Binatang itu mendekat, mengarahkan moncongnya ke arah Hyunah, seolah-olah mengajaknya ikut bersama. Hyunah merasakan tangan hangat Doojoon menyentuh lengannya, membantunya turun dari ranjang, dan menuntunnya ke ruang makan. Dengan sabar, Doojoon memerhatikan Hyunah yang harus meraba-raba dinding dan melangkah pelan-pelan untuk memastikan dirinya aman.

“Lenganmu masih sakit, ya? Kuharap kau bisa bertahan dengan rasa sakit itu setelah ini. Jinyoung memberikan penyembuh ampuh yang bisa membantu meredakan rasa sakit dan memulihkan kondisimu dalam waktu beberapa hari saja. Tidak lama, terakhir Dongwoo pulih sekitar seminggu setelah bertarung dengan Senior Byunghee. Senior Byunghee sangat beringas, lebih dari Ilhoon, jadi kurasa tiga hari saja sudah cukup untukmu,” Doojoon kedengarannya berusaha menenangkan, namun Hyunah merasa tak tenang. Jadi dia akan merasakan hal yang sama lagi kelak, bahkan lebih sakit dari ini?

Hyunah tak ingin mengeluh, apalagi mengingat inilah kehendak ayahnya dan dia harus menjadi lebih kuat demi menolong ibunya. Hyunah panik jika memikirkan bagaimana nasib sang ibu, tapi dia tahu ibunya takkan suka jika dia tidak berkepala dingin, maka dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak marah-marah dan menanyakan ke mana ibunya dibawa kepada siapa pun di rumah ini, karena dia tahu, tidak ada yang mampu menjawabnya. Barangkali dia bisa minta tolong Hyunseung untuk mencari informasi ke mana ibunya dibawa pergi, tetapi Hyunah masih merasa sedikit takut dengan nada dingin dan angkuh pria itu. Berbeda dengan Doojoon, Hyunseung terasa sedingin es, tak bisa disentuh. Seakan-akan dia menutup rapat dirinya agar tidak mampu dijangkau orang lain. Jika dibandingkan dengan Byunghee, Hyunah lebih senang berada di dekat Byunghee, karena shiren bunganya benar-benar indah dan menenangkan, lepas dari kebiasaan anehnya yang suka berbicara sendiri, merangkung di atas birai jendela, ataupun menggigiti pecahan kaca. Dongwoo juga tidak buruk, dia ceria dan dipenuhi semangat bergelora, bagaikan api yang membara.

“Semuanya! Filia sudah bangun!” Terdengar suara pintu yang dibuka, dan denting peralatan makan dari logam yang saling bersinggungan. Hyunah dapat melihat shirenshiren yang dikenalnya bergerak menatapnya, namun ada satu shiren asing, berbentuk hewan yang luar biasa cantik dengan warna putih menghiasi seluruh bulunya, seperti salju. Ada mahkota yang tampak selayaknya bunga-bunga berukuran kecil di atas kepalanya, matanya berwarna hijau mengesankan, dan ekornya menjuntai panjang. Hyunah terpesona melihat hewan rancak ini.

“Ada siapa… di—di sana?” Jari Hyunah spontan mengarah ke binatang indah itu. Orang yang ditunjuk hanya tersenyum, tak heran apabila Hyunah menanyakan dirinya.

“Namaku Jung Jinyoung, dokter yang merawatmu tadi,” kata orang itu, ramah dan tenang. Hyunah cepat-cepat menunduk untuk meminta maaf dan berterima kasih. “Tidak apa-apa, tak perlu sungkan. Ngomong-ngomong, kudengar kau bisa melihat wujud dari shiren, Tuan Putri? Itu kemampuan yang sangat langka. Nah…, aku ingin tahu, ketika kau melihatku, kau pasti melihat burung merak putih. Benar?”

“Kau tahu wujud shiren-mu?” Hyunseung yang duduk di sebelah Jinyoung memandang sangsi ke pemuda berambut merah itu, dan Jinyoung hanya tergelak, senang Hyunseung menanyakannya.

“Baginda Raja adalah orang yang serbabisa. Dia juga punya kemampuan itu dan berkata lebih senang melihatku dalam wujud merak putih dibanding seorang pria dengan rambut merah dan mengenakan jas,” timpalnya. Byunghee memandang kosong ke arahnya dan Dongwoo tampak tertarik mendengar itu; Ilhoon tidak bereaksi atau sekadar memerhatikan, dia membiarkan kepalanya tergeletak di samping piringnya dan menggerundel karena perutnya meraung minta diisi. Doojoon, setelah membantu Hyunah duduk di kursinya, bergegas ke luar ruangan untuk mengambil makanan di dapur.

Byunghee melempar pandangan dari Jinyoung ke arah Hyunah, terdiam sebentar, lantas berpindah ke Hyunseung yang duduk di sebelahnya. Sambil mengerjap-ngerjap, dia berkata, “Penantianmu tidak sia-sia ternyata.”

“Maksudmu?” Hyunseung mengernyit heran, sementara Byunghee mengabaikan pertanyaan tersebut dan berjalan ke arah jendela yang jaraknya terpaut jauh dari meja makan, menikmati angin malam dari arah laut. Hyunseung hanya mendengus melihat itu, lalu memutuskan untuk tidak mengindahkan Byunghee lagi. Jinyoung tersenyum melihat polah Jung Byunghee, yang terkesan menyebalkan, misterius, namun Jinyoung tahu itu disebabkan dia membentuk dunianya sendiri.

“Seperti biasa, dia membuatku penasaran dengan apa yang berkeliaran dalam pikirannya,” ujar Jinyoung penuh minat; Hyunseung menghela napas mendengar itu. Jinyoung selalu merasa senang di sini, lantaran dia merasa rumah besar ini punya banyak hal yang pantas dipelajari, dari arsitektur hingga perangai para penghuninya.

Hyunah melihat shiren Byunghee menjauh. Bunga yang mekar dengan indah itu mendadak tidak begitu berkilauan seperti seharusnya. Ragu-ragu, dia beranjak dari kursinya, tidak menjawab ketika Dongwoo bertanya, dan melangkah perlahan-lahan ke arah bunga, ke arah Byunghee yang sekarang bercangkung di atas birai jendela, tidak takut walaupun jendela itu menghadap tebing.

Hyunah menghentikan langkah di depan jendela, di samping Byunghee yang agaknya tak terusik akan kehadirannya. Mereka bergeming memandang gelombang laut yang tenang dan langit hitam berhiaskan jutaan bintang. Hyunseung menyuruh Dongwoo untuk tidak menginterupsi, Jinyoung dengan hati riang memerhatikan mereka dari kursinya, sementara Ilhoon masih menggumamkan kata “lapar” berkali-kali.

“Kau sedang merisaukan sesuatu,” kata Byunghee tiba-tiba. Hyunah menoleh ke arahnya, memasang ekspresi bingung kendatipun tatapannya tetap kosong. “Kupikir keberadaanku mengganggumu.”

“Tidak lagi,” jawab Hyunah lembut. Dia tersenyum kecil, kini kelopak bunga indah itu bergerak-gerak laksana tertiup angin sendu. “Aku ingin… berada di dekat bungamu. Shiren ibuku juga be—berbentuk bunga, tetapi lebih kecil, da—dan warnanya tidak secerah ini, namun menenangkan. Gerakan bungamu itu… membuatku tenang.”

“Ketika rusa Doojoon kembali, kau akan dengan senang hati berada di dekatnya.”

Hyunah tampak terkejut. Bukankah mereka semua tak bisa melihat shiren? Dan seingat Hyunah dia tak pernah berkata bahwa shiren Doojoon adalah rusa, bahkan Hyunah tak tahu seperti apa bentuk rusa. “Kau… bisa melihatnya?” katanya, heran sekaligus kagum di saat yang sama.

“Tidak, Doojoon di dalam lingkup pandanganku sama seperti yang lain lihat, sampai-sampai aku bosan. Tetapi kalau kau mau tahu, yang datang dalam benakku tatkala kau mendeskripsikan shiren Doojoon hanyalah rusa. Sekarang, apakah bungaku benar-benar membuatmu nyaman? Kau takut kepadaku,” kata Byunghee, tanpa memindahkan pandangannya seinci pun dari laut. Dia berbicara lambat, sehingga Hyunah masih bisa mengikuti topik pembicaraannya yang bertolak belakang dengan cara bicaranya—cepat sekali berubah.

“Ti—tidak… sekarang, aku tidak takut padamu….”

“Baguslah. Tapi aku tak pernah ingin mengubah kebiasaanku meski tahu bahwa kau takut. Setelah makan malam aku akan minta pecahan kaca dari Doojoon dan makan di depanmu, jadi mungkin aku akan membuatmu takut lagi.”

Entah mengapa Hyunah merasa senang. Kecakapan Byunghee dalam berbicara jujur benar-benar membuatnya kagum. “Aku akan mencoba untuk tidak takut lagi,” tandasnya.

“… apakah kau pernah terpikir untuk menangis?” Sekonyong-konyong Byunghee menoleh, membuat jantung Hyunah serasa mencelat. Gerakan Byunghee tak diduga cepat sekali, barangkali inilah salah satu faktor yang kata Doojoon berbahaya dari Byunghee. “Baru kemarin kau harus merobek perut orang, namun usahamu gagal karena ibumu diseret pergi sebelum kau mampu menggenggam tangannya,”—Hyunah merasa sesak dan sedih ketika mendengar ini—”Dan setelah kejadian itu kau dibawa orang asing, diminta bekerja sama karena orang-orang ini adalah anak-anak yang menjadi pelindung negara berstatus rahasia dan mendapat perintah terakhir dari ayahmu yang sudah lama meninggal, dan tadi pagi kau dipaksa merobek perut dan merasakan organ-organ dalam orang lain hancur dalam genggamanmu, membasahi tanganmu dengan darah, melubangi jantung yang masih merenyut dengan jemari, lagi. Kau tahu Ilhoon pulih dengan cepat, tetapi rasanya tidak enak ‘kan, menghancurkan daging orang seperti itu?”

Hyunah hanya bergeming mendengarkan. Kini kesenangannya sirna, namun kata-kata Byunghee benar. Dia ketakutan dan shock, namun berusaha untuk bertahan setiap mengingat kegagalannya dalam melindungi ibunya. Dia tak ingin gagal lagi, tak ingin menjadi orang lemah yang tak punya pegangan. Membunuh orang sebetulnya membuatnya takut dan frustrasi, namun dia tak bisa menghindar karena harus melindungi hal-hal yang berharga untuknya. Kebiasaan ini tak sengaja selalu dilakukannya karena dulu, ketika pertama kali didatangi orang-orang yang menurutnya jahat, dia mencoba melepaskan diri dari mereka dan malah tak sengaja merobek perut salah satunya. Hyunah masih kecil dan tangannya paling jauh hanya bisa menjangkau perut, maka dari itu perut menjadi sasaran utamanya.

Barangkali, saat malam penculikan ibunya, Hyunah akan merobek perutnya sendiri apabila Hyunseung, Doojoon, dan Ilhoon tidak datang dan mengajaknya pergi, lantaran setelah ibunya tiada dan dia tak tahu harus mencari ke mana, Hyunah kehilangan alasannya untuk tetap hidup dalam kegelapan. Tak ada pelita yang menuntunnya lagi.

“Terima kasih…,” katanya lirih. Perutnya serasa ditonjok beberapa kali oleh banyak orang, dan kepalanya terasa berat sehingga dia menunduk. Bukan salah Byunghee, Hyunah memang ingin sekali menangis, namun air matanya selalu tertahan.

“Menangis saja, tidak ada yang melihat,” bisik Byunghee. Dia kembali memandangi laut, menikmati bunyi debur ombak yang menabrak karang dan mendengarkan uhu burung hantu dari kejauhan. “Bahkan aku tak melihatmu,” imbuhnya.

“… tidak… aku tidak mau menangis.”

Kata-kata itu, yang diiringi intonasi suara yang penuh keyakinan, membuat Byunghee mengalihkan seluruh konsentrasinya hanya pada Hyunah. Dia tak lagi melihat kawanan burung camar di atas lautan atau menilik bayang-bayang ikan besar dari kejauhan.

“Tidak adil untukmu,” kata anak perempuan itu, parau. Matanya jernih dan sorotnya lurus. “Kau juga ingin menangis. Bu—bungamu tampak layu dan ti—tidak secemerlang tadi… apakah masa lalumu le—lebih buruk dariku? Masa laluku… dipenuhi senyuman dan tawa ibuku. Ya—yang membuatku takut hanyalah penglihatanku yang nyaris selalu gelap…, dan keberadaan ibu yang tiba-tiba lenyap. Ta—tapi… kau pasti….”

“Aku tidak tahu masa laluku,” tukas Byunghee. Tatapannya kosong sekarang, tapi tidak menyiratkan amarah. “Aku tidak tahu siapa orang tuaku atau apakah aku punya saudara atau tidak, aku tidak tahu di mana aku tinggal dulu atau siapa yang membesarkanku sebelum ayahmu. Sekarang aku punya keluarga di sini dan semuanya baik-baik saja.”

“Ta—tapi… kurasa… karena kau tidak tahu, makanya kau… tersiksa.” Byunghee benar-benar dibuat bungkam atas pernyataan Hyunah. “Kau… berusaha… mencarinya di dalam ingatanmu, ta—tapi kau tak pernah menemukan jawabannya. Kau… tidak tahu, kau tidak ingat, dan karena itu menyakitkan, maka dari itu kau memilih untuk mengambil kesimpulan bahwa kau… memang tidak tahu, dan kau baik-baik saja.”

Byunghee menelan ludah sebelum menimpali. “Kejujuranmu lebih menusuk daripada kejujuranku,” Dia terkekeh geli, ekspresinya tampak puas. Dia tahu tentang itu tetapi dia menepis kenyataan yang dibuatnya sendiri. Karena itu fakta, dia dan Hyunah tahu, tak ada yang perlu meminta maaf atau merasa bersalah. “Tapi aku serius, aku tak ingin menangis.”

Hyunah menatapnya, menampakkan kebingungan yang hanya bisa dibaca oleh mata Byunghee, bahkan luput dari mata awas Ilhoon.

“Mengapa?”

Byunghee tersenyum lembut, satu senyum penuh arti yang tak pernah dia sunggingkan selama bertahun-tahun.

“Karena jika bungaku layu, dia takkan bisa menenangkanmu lagi.”

Sekarang aku tahu, rusa Doojoon dan bungaku berbeda arti dalam pandangan anak ini.

Dan Hyunah hanya tertawa mendengarnya.

.

.

“AKHIRNYA! OH TUHAN, AKU SUDAH MENUNGGU RATUSAN TAHUN!!”

“Maaf membuatmu menunggu, Ilhoon—Dongwoo, jangan mencomot daging yang berukuran besar, itu bagianku—Hyunseung, cuci tangan sebelum menyentuh ikannya! Jinyoung, potong kuenya sama rata, potonganmu itu untuk tiga orang….”

Hyunah dan Byunghee menoleh ke belakang, menemukan Doojoon telah tiba membawa berpiring-piring makanan. Dongwoo asyik menata piring, mengabaikan tangan kiri bersuara cemprengnya yang sekarang protes karena udara terlalu dingin dan tangan kanan bersuara baritonnya yang melawan pendapat itu. Ilhoon mengambil lauk dengan serakah, sementara Hyunseung bersungut-sungut sambil meraih saputangan basah dan Jinyoung sibuk memerhatikan panjang dua sendok yang tidak sama. Serentak, mereka bergegas menuju meja makan, dengan senyum cerah yang sepertinya takkan pupus, setidaknya hingga tengah malam nanti.

***

Air hujan menampar-nampar atap, berbeda jauh dengan keadaan saat makan malam. Sekarang sudah larut, cuaca berubah mendung cepat sekali setelah melewati pukul sembilan dan langit mulai menangis sekitar pukul setengah sepuluh. Hyunah, Dongwoo, dan Ilhoon sudah pergi tidur, menyisakan Hyunseung, Doojoon, Byunghee, dan Jinyoung—yang belum pulang—di ruang makan. Samar-samar, mereka dapat melihat asap hitam membubung tinggi di langit-langit yang menaungi pusat kota yang dipenuhi cahaya lampu.

“Ada kebakaran besar. Tampaknya hujan pun tak mampu meredakan amarah api itu,” Jinyoung menyimpulkan. “Kau tidak memeriksa ke sana, Hyun?”

Hyunseung menatap asap hitam raksasa itu sebelum berucap, “Aku ragu itu pekerjaan mereka. Biasanya, mereka melakukan itu di tempat-tempat tertutup seperti mansion kemarin, dan melakukannya di tengah-tengah Varnoxes? Terlampau nekat, penjagaan Henolia tidak semudah yang dibayangkan. Mereka akan sulit melarikan diri.”

“Siapa tahu saja,” sahut Jinyoung datar. Bahunya berjengit.

Doojoon tampak cemas melihat hal itu. “Tidakkah sebaiknya kita memeriksanya, Hyun? Sepertinya itu bukan kebakaran biasa….”

“Mengapa kita harus melakukan pekerjaan yang kemungkinannya bukan seratus persen ulah mereka, atau teroris? Jika iya, pihak Kerajaan pasti akan memberi tahu. Memangnya Henolia tidak punya Penegak Keamanan dan Pemadam Kebakaran?” jawab Hyunseung ketus. Kebakaran bukan hanya sekali ini terjadi di Varnoxes, dan dia sudah tinggal bertahun-tahun di rumah yang dapat melihat ke seluruh penjuru ibukota Henolia itu. Tidak heran apabila terdapat kebakaran besar.

“Itu memang bukan kebakaran biasa,” kata Byunghee sambil melamun. Dia menggigiti pecahan kaca dan sesekali menelannya bulat-bulat, tidak mengindahkan ujung-ujungnya yang masih runcing dan tajam. Doojoon tak bisa membayangkan jika pecahan-pecahan itu menggores kerongkongan Byunghee hingga berdarah. “Sumber asap itu… Hotel Prosperità, hotel mewah milik orang Italia. Setidaknya apabila bukan disebabkan oleh mereka, kurasa tidak akan begitu sia-sia kita ke sana.”

“Kenapa kau bisa mengatakan itu?”

“Tadi Yoseob bilang padaku,” Byunghee memotek pecahan kaca seperti memotek biskuit. Tatapannya berubah muram. “Malam ini Mr.Jang menghadiri pesta pelelangan di sana.”

Mendengar itu, Hyunseung terenyak, spontan berlari ke luar ruangan, tidak lagi mendengar seruan Doojoon.

***

Aula Hotel Prosperità benar-benar porak-poranda. Segala-galanya terbakar habis, nyaris seluruh benda kuno lenyap terbungkus api. Puluhan orang tewas dan beberapa yang berada di dekat aula mendapati luka parah. Evakuasi besar-besaran dilakukan, petugas berwajib telah mengamankan area dan petugas medis merawat orang yang luka serta membawa mereka ke rumah sakit. Penyebab kebakaran itu belum diketahui secara jelas, tetapi menurut kesaksian seorang portir, dia melihat cahaya temara dari dalam ruangan sebelum terdengar bunyi ledakan yang besar. Diduga alat yang digunakan berupa bom, tetapi sisa-sisa bom itu sendiri tidak ditemukan di mana pun sehingga tak dapat diketahui siapa pelakunya.

Di tengah-tengah ratusan pengunjung hotel yang menyelamatkan diri, Park Gunwoo berjalan santai sembari membetulkan posisi topi bulatnya yang miring. Yoo Youngjae berjalan di sampingnya, asyik menggerak-gerakkan jari di atas tombol-tombol game yang diciptakannya sendiri. Dia mengenakan mantel hitam panjang yang menutupi tubuhnya, topi rajutan berwarna kelabu, dan kacamata bundar. Tampak cuek terhadap kebakaran yang telah dibuat bom mini buatannya, dia mengunyah permen karet dan melangkah menjauhi keributan yang masih terjadi di sekitar hotel. Hana mengikuti di belakangnya, kantuk masih menggelayut manja pada pelupuk matanya yang ditutupi kacamata hitam. Hakyeon yang berambut merah mengenakan topi yang menutupi rambutnya dengan sempurna, dan di tangannya terdapat satu buah koper hitam besar. Jonghyo bertura-tura di belakang mereka semua, protes mengapa bom diledakkan sebelum dirinya dan Jin sempat menginjak puncak tangga lantai kedua sehingga mereka ikut terluka akibat efek ledakan. Sedangkan Kim Seokjin—atau Jin—hanya diam saja, terlihat lelah. Dia menyentuh tangannya yang berdarah, di mana kulitnya terbuka dan menampakkan daging yang memerah akibat terkena panas. Tidak ada yang memerhatikan mereka, semuanya sibuk menyelamatkan diri masing-masing.

“Akan kusembuhkan itu nanti,” kata Hakyeon tenang, seraya menunjuk luka yang diderita Jin. Jin mengangguk patuh.

“Hebat ya, bom rancanganmu,” kata Hana pada Youngjae, seraya menahan kuap. “Aku sih tidak akan tahan seharian menekuni satu benda yang sama, memastikan bahwa kabel-kabelnya sudah betul, dan sebagainya. Itu benar-benar kau.”

“… tentu saja, aku bisa membuat apa pun semauku,” gumam Youngjae sambil lalu. Tatapannya tetap terpaku pada layar, memerhatikan tengkorak-tengkoraknya yang kini menyerang para kesatria berkuda. “Karena orang sepertiku-lah yang dapat menangani tajuk Quadro.” Alih-alih mengatakannya dengan berpuas diri, dia mengucapkannya dengan gaya masa bodoh. Gunwoo tersenyum mendengar kata-katanya.

Lamat-lamat terdengar bunyi derap langkah yang tak asing, menyebabkan Gunwoo memicingkan mata. Beberapa meter di sampingnya, dia menemukan sosok Hyunseung tengah berlari, beserta Doojoon dan seorang pria berambut merah. Bibir Park Gunwoo mengukir seringai sebelum mulai melangkah lagi.

“Dua puluh tiga,” bisiknya.

Entah bagaimana, Hyunseung tersentak. Dia mendengar suara seseorang, mengucapkan deretan aksara yang membuatnya bingung sekaligus berpikir. Kata-kata berbau pemberitahuan itu menghantam gendang telinganya di tengah-tengah keriuhan.

“Kau—”

Ketika Hyunseung berbalik, orang yang singgah dalam benaknya tatkala mendengar suara tadi telah menghilang, raib di tengah-tengah khalayak yang bergerak.

“Hyunseung, itu!”

Suara Doojoon mengalihkan pandangan Hyunseung. Dari kejauhan, mereka melihatnya. Seorang pria paruh baya dengan rambut hitam, tubuh penuh luka dan bilur-bilur, berlutut di atas jalan dan sedang berbicara dengan seorang pria muda berjas. Hidung dan matanya persis milik Hyunseung, pakaiannya rapi seperti bangsawan kebanyakan, namun tidak berlebihan. Di rambutnya tumbuh banyak uban, raut mukanya serius, tulang pipinya kentara dengan kulitnya yang pucat, pipinya tirus, dan sorot matanya lurus, pun tegas.

“Syukurlah beliau masih tampak kuat,” kata Jinyoung, seraya menghela napas. “Sepertinya aku akan menjadi salah satu yang menangani beliau, Hyun. Lukanya cukup serius, kurasa….”

Hyunseung mengertakkan gigi. Kau sudah setua itu sampai aku nyaris tidak mengenalimu, pria tua tololDia menatap dengan pandangan benci sebelum akhirnya mendekati seorang petugas yang sudah cukup sering bertemu dengannya, meminta izin untuk memeriksa tempat kejadian yang telah bebas dari api, lantas berjalan cepat-cepat ke dalam gedung. Selagi Doojoon dan Jinyoung mengekor di belakangnya dengan langkah tergesa-gesa, pria tua dengan wajah mirip Hyunseung itu sempat melihat rambut cokelat berantakan milik seorang pemuda, yang seketika lenyap di balik kegelapan gedung hotel.

“Hyunseung…?”

.

.

.

Cahaya matahari menyeruak dari balik tirai, namun Hyunah mengabaikan itu. Sedari satu jam yang lalu dia sudah terjaga, mengerjap-ngerjapkan mata, menolak untuk terlelap lagi. Rasanya ada yang aneh, kendatipun dia tak bergerak untuk memeriksa keadaan yang lainnya, namun dia yakin akan memulai hari yang tak biasa.

Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Doojoon mengatakan sebelum Hyunah pergi tidur semalam bahwa dia akan membangunkannya pukul tujuh untuk latihan ringan, kemudian sarapan dan bersiap-siap menuju istana atas panggilan Baginda Raja, tetapi Hyunah tak bisa menunggu hingga satu jam lagi. Dia lekas beranjak bangun, berjalan perlahan-lahan sembari memastikan posisi benda-benda di sekitar dengan tangan dan kakinya, lalu berhasil mencapai pintu, menekan kenop, dan melangkah ke arah ruang makan. Setidaknya, itu adalah satu-satunya ruangan yang diyakininya mungkin ada orang. Kini Hyunah sudah hafal jumlah anak tangga, dapat memperkirakan panjang koridor, serta tidak dalam kondisi diburu-buru, maka dari itu dia tiba di ruang makan tanpa mendapat luka seperti kali pertama mencoba ke sini dalam latihan bersama Ilhoon.

Pintu terbuka, menampakkan sosok Byunghee, masih dengan rambut basah. Dia tersenyum—Hyunah melihat bunga Byunghee melambai-lambai seperti memberi salam—sebelum pemuda itu pergi menyusuri koridor, entah ke mana. Setelah memastikan shiren Byunghee menjauh, Hyunah melongok ke dalam dan menemukan titik-titik putih shiren Hyunseung, membuatnya merasa sedikit rikuh. Dilingkupi rasa tak nyaman sekaligus penasaran, dia beringsut mendekati kursi, dan duduk asal entah di kursi siapa. Sebelumnya dia sempat menabrak sebuah kursi dan membuat dirinya sendiri jatuh, namun Hyunseung hanya menghela napas panjang ketika melihat hal itu.

“Cepat juga kau bangun,” kata Hyunseung pelan. Dapat Hyunah rasakan tatapan tajam dari mata elangnya yang memicing. “Ilhoon ada di luar bersama Doojoon. Pergilah dan ajak mereka latihan.”

“A—apa yang… mereka… lakukan?” tanya Hyunah lirih. Hyunseung mengalihkan pandangan dari gadis kecil itu menuju koran pagi di tangannya.

“Mengunjungi makam. Sudah kubilang makam bodoh itu seharusnya tidak perlu dikunjungi, apalagi dibuat, tapi Ilhoon tidak peduli,” kata Hyunseung ketus. Hyunah entah mengapa sedikit marah mendengarnya. Makam yang dimaksud adalah makam ibu Ilhoon ‘kan? Mengapa Hyunseung menyebut makam itu bodoh?

“Ku—kurasa… tidak ada salahnya dia… membuat makam untuk mengingat ibunya… bukan?” Nada suara Hyunah meninggi, dia tampak kesal, tetapi Hyunseung mengabaikannya.

“Jangan marah-marah padaku, bocah. Dia bersikap tidak adil pada semuanya,” timpal Hyunseung sengit. Dia tetap tidak menatap Hyunah. “Byunghee lupa sama sekali tentang masa lalunya, Dongwoo juga sulit mengingat apa yang terjadi ketika dia masih kecil. Doojoon juga, sebetulnya dia pun tak ingat keluarganya, dan dia masih berbaik hati mau menemani Ilhoon. Bukankah Ilhoon bersikap tak adil, dengan membuat makam, karena dia ingat dan tahu ibunya? Sementara yang lain pasti merasa lebih sedih lagi lantaran tidak tahu apa-apa tentang orang-orang di masa lampau mereka, terlebih ibu mereka. Maka dari itu aku mengatakan bahwa dia dan makam itu bodoh.”

“Apakah… itu bu—bukan karena kau yang egois?” Hyunah tidak tahu keberanian dari mana sehingga dia berani berargumen dengan Hyunseung. “Yang lain tampak biasa-biasa saja… hanya kau ya—yang melawan itu… memereka pasti mengerti kesedihan Ilhoon…”

“Hanya karena mereka tidak menunjukkannya, bukan berarti mereka tidak merasakannya,” tukas Hyunseung. Dia mulai jengkel, tatapannya beralih lagi pada wajah gadis kecil di hadapannya. “Kau mau bicara apa lagi? Aku hidup dengan mereka jauh lebih lama daripada kau, setidaknya aku lebih mengerti darimu yang hanya tahu sifat mereka dengan bercakap-cakap selama beberapa menit dan berdasarkan pemberitahuan Doojoon. Hanya karena kau bisa melihat wujud dari shiren, bukan berarti kau bisa dengan bangga mengatakan seolah-olah kau mampu melihat pikiran dan jiwa seseorang.”

Hyunah tampak gusar sekarang. “A—aku….”

“Aku sudah minta tolong Junhyung untuk mencari tahu tentang ibumu. Setelah semuanya selesai, kau bisa kembali ke pelukan ibumu dan tak perlu membunuh lagi. Sudah jelas? Sekarang keluar,” perintah Hyunseung tegas.

“Tapi

“Kim Hyunah, keluar.”

Hyunah merasa kesal sekaligus bersalah di saat yang sama. Dia tahu ucapan Hyunseung semuanya benar, tetapi dia masih merasa bahwa Hyunseung tidak pantas menyebut makam ibu Ilhoon dengan mengimbuhkan kata ‘bodoh’.

Dengan kaki yang lemas, dia menyeret dirinya menuju luar ruangan, meninggalkan Hyunseung dengan koran paginya. Kini Hyunah tidak merasa sesemangat tadi. Alih-alih pergi ke halaman depan, dia melangkah perlahan-lahan ke lantai atas, kembali ke kamarnya.

Hyunseung menatap pintu usai Hyunah menutupnya rapat-rapat dengan sangat pelan dan berhati-hati. Dia menghela napas, merasa letih. Tidak seharusnya di pagi seperti ini amarahnya sudah memuncak. Tetapi mau apa lagi, Hyunah membuatnya kesal dengan mengucapkan kata-kata yang seakan menuduhnya sebagai orang yang menggunakan orang lain untuk melindungi perasaan sendiri.

“Bocah berengsek itu, yang benar saja,” gumamnya pelan. “Dia tidak mengerti.”

Makam itu memang semestinya lenyap saja.

***

Ketegangan saat sarapan sedikit mencair karena tangan-tangan Dongwoo mulai berbicara lagi dan Ilhoon bertengkar dengan mereka. Byunghee hanya makan nasi (dia tidak menambahkan lauk apa pun), membuat Doojoon tersinggung dan berkali-kali memeriksa apakah masakannya kurang lezat. Hyunah diam saja, begitu pula Hyunseung. Terasa seperti biasa, tetapi Hyunah masih merasakan kerikuhan yang luar biasa setiap tak sengaja bertemu pandang dengan Hyunseung, kendatipun dia tidak melihat mata cokelat tua pria itu, tetapi pergerakan shiren-nya memberi bukti. Byunghee memerhatikan, tetapi tidak berkomentar. Doojoon yang juga merasakan kecanggungan antara keduanya, bergegas mengambil tempat di sebelah Hyunah.

“Kalian tidak apa-apa?” bisiknya pada Hyunah. Maniknya sesekali melirik ke arah Hyunseung yang makan tanpa melihat apa pun lagi selain makanannya.

“Tidak… apa-apa.” Berpikir untuk tidak lagi membahas ataupun mengingat argumen tadi, Hyunah bermaksud menyembunyikannya. Lagi pula dia sudah berkontemplasi di kamarnya satu jam lalu dan akhirnya memutuskan bahwa dirinya-lah yang memang salah.

“Hem…,” Doojoon melirik ke arah Hyunseung sekali lagi sebelum akhirnya menepuk kepala Hyunah. “Kalau ada apa-apa, katakan saja. Menurutku bercerita akan membuatmu lebih lega. Oke?”

Hyunah merasakan kelembutan dan kehangatan yang dirasakannya saat pertama kali datang ke rumah ini. Sambil mengukir senyum, dia menjawab, “Oke.”

Dan Hyunseung bergeming sekejap sebelum akhirnya menyantap kembali makanannya.

.

“SEEELAAAMAAT SOREEEEE!”

Seakan sudah tahu bahwa teriakan itu akan terdengar lagi, semua yang ada di ruang makan sontak menghentikan kegiatan mereka, menghindar dari segala ancaman yang akan terjadi. Sembari mendelik marah, Ilhoon berteriak, “Kau tak perlu menjerit! Dan ini masih pagi, matamu pasti rabun!” omelnya.

Yoseob hanya tersenyum lebar. Pakaiannya persis seperti dulu, hanya saja ditambah sebuah topi aneh bergaris-garis bagaikan topi badut dan sepasang sepatu berwarna-warni yang ujungnya runcing. Tidak mengindahkan tatapan sengit Ilhoon dan Hyunseung, dengan cepat dia masuk ke dalam ruangan. Dongwoo kagum melihat sayap besi berwarna perak di punggungnya, yang nyaris sama dengan sayap besi hitam yang dipakai Junhyung kemarin. Rentangan sayap yang lebar menyebabkan ujung-ujungnya menabrak meja makan, membuat piring-piring jatuh dan pecah. Kedua sayap itu bergerak-gerak liar dan cepat, menciptakan embusan angin yang kuat, sebelum akhirnya berhenti dan melipat sendiri.

“Lain kali sebelum kau tiba, akan kujatuhkan kau ke laut dengan katapel,” ujar Ilhoon, yang sekarang terjatuh dari kursinya akibat sayap Yoseob. Untung saja dia sempat menyelamatkan punggung berharganya.

“Maaf, saya tidak terbiasa menggunakan benda ini.” Diiringi cengiran lebar, Yoseob lekas merapikan jubah putihnya yang kusam dan sedikit robek akibat terkena sayap. Kini semuanya mengerti mengapa Junhyung harus membawa-bawa Yoseob untuk bisa ke sini.

Pandangan Hyunseung menjelajahi ruangan yang kini terlihat laksana kapal pecah. Dia berang, namun amarahnya itu disimpan, jadi dia tidak memarahi Yoseob lagi. Tetapi dia bersumpah akan meminta pihak Kerajaan bertanggung jawab atas kerusakan yang dibuat sayap sialan itu di ruang makannya.

“Kami baru saja ingin bersiap-siap ke Istana Raja seusai sarapan,” kata Doojoon cepat, sedikit heran melihat kedatangan Yoseob.

“Oh, ya, karena itu saya datang ke sini. Saya diutus untuk mengiring kalian ke Istana. Baginda Raja sudah menunggu, dan beliau menyarankan agar ambil jalan udara saja,” jawab Yoseob riang. Dia mengeluarkan beberapa sayap berwarna putih yang berukuran lebih kecil dari sayap besi peraknya dan bisa dicopot-pasang seperti miliknya. “Temuan baru Laboratorium Kerajaan, versi lebih imut-imut dari sayap yang saya gunakan. Sebetulnya, ini belum pernah dicoba, tapi saya rasa jika gagal pun kalian bisa berenang….”

“Pihak Laboratorium menggunakan kami sebagai kelinci percobaan? Keterlaluan!” Ilhoon memprotes, tetapi Yoseob sudah memasangkan satu pasang sayap di punggungnya, membuatnya shock lantaran tindakan itu terlalu tiba-tiba.

“Ha! Menyenangkan! Kita berlomba siapa yang jatuh duluan!” jerit tangan kiri Dongwoo, yang suara cemprengnya melengking dan membuat Byunghee dan Doojoon spontan menutup telinga.

“Tutup mulutmu! Aku tidak mau jatuh!” balas Dongwoo jengkel. Sedangkan Yoseob dengan hati riang memasangkan sepasang sayap di punggungnya sebelum Dongwoo sempat bertengkar lebih lanjut dengan tangannya.

“Aku bisa pasang sendiri,” kata Doojoon, pasrah akan keadaan. Dibanding membuat Baginda Raja menunggu, ini lebih baik. Lagi pula jika dia bisa mengontrolnya seperti Junhyung, siapa tahu sayap itu tidak akan gagal. Dia mengambil satu dari tangan Yoseob dan memasangnya sesuai instruksi utusan Kerajaan itu.

Hyunseung mengambil dan memasangnya sendiri pula, tampak tidak peduli. Doojoon memasangkan untuk Hyunah, Byunghee meminta dipasangkan satu-satunya sayap berwarna merah terang—mengingat sifatnya yang suka jika berbeda dari yang lain—dan Yoseob dengan senang hati membantunya. Beberapa saat kemudian, mereka siap berangkat.

“Lebih baik pergi berdua-dua,” kata Yoseob. Tetapi sebelum dia bisa menentukan siapa-siapa saja yang akan berpasangan, Hyunseung sudah melesat lebih dulu ke luar jendela, meninggalkan yang lain. Hyunseung terbang lurus, terlihat andal mengatur gerakan terbangnya, dan itu memicu Dongwoo untuk menyusul. Dia berlari dan melesat sendirian, Byunghee menyusulnya. Mereka berdua berputar-putar dan tergelak-gelak di belakang Hyunseung.

“Aku menuntunmu,” ujar Doojoon, sebelum akhirnya dia menggenggam tangan Hyunah dan membawanya terbang berdua. Hyunah dapat merasakan embusan angin menerpanya, dan itu terasa sangat mengasyikkan. Doojoon memberi tahu bahwa laut berada dekat sekali dengan mereka dan keduanya memutuskan untuk turun lebih rendah, memasukkan tangan ke dalam air sembari terus melesat.

Yoseob terdiam melihat mereka sudah jauh. Dengan cepat, dia menoleh ke arah Ilhoon yang masih diam di tempat.

“Jadi, kita berdua?”

“Apa? Maksud—oh, TIDAK AKAN!” hardik Ilhoon. Dia sedikit takut tempat tinggi, jadi dia ragu-ragu untuk mengikuti yang lain. Tetapi didorong rasa jengkelnya terhadap Yoseob, dia melesat keluar jendela sendirian. Yoseob tersenyum melihat mereka semua begitu bersemangat, dan setelah menutup jendela, dia juga ikut bergerak dan terbang menuju Istana.

***

Istana Kerajaan berada di atas bukit, sedikit jauh letaknya dari perkotaan. Untuk pergi ke sana lewat jalur darat dari kastel tua—yang merupakan tempat tinggal Hyunseung dan kawan-kawannya—memerlukan waktu sekitar kurang lebih dua jam. Istana dan kastel hanya dibatasi tebing dan laut, kendatipun jaraknya terpaut berpuluh-puluh kilometer, tetapi lebih aman dan cepat melewati udara. Wajar jika Baginda Raja menginginkan jalur itulah yang digunakan.

Lapangan besar sudah disiapkan untuk pendaratan, beberapa pengawal menunggu di sana. Hyunseung mendarat terlebih dahulu, dengan mulus mengontrol sayapnya sendiri untuk menutup, dan melangkah dengan berwibawa menuju ke dalam istana lewat pintu raksasa yang dinamai pintu selatan. Dongwoo dan Byunghee mendarat setelah mereka melakukan salto di udara, Doojoon tetap membantu Hyunah, dan Ilhoon berhasil sampai dengan keringat bercucuran. Dia ingin mati saja ketika membayangkan kembali bahwa dia telah berada jauh dari daratan selama sekitar satu jam, dengan suara Yoseob yang meneriakkan kata-kata penyemangat menggema dalam kepalanya. Dongwoo menertawakannya, tetapi dia membantu Ilhoon yang masih gemetaran untuk berjalan.

Gerbang selatan dibuka, menampakkan ruangan dalam istana yang mewah dan didominasi warna emas dan merah. Dinding-dindingnya dibuat dengan keramik terbaik, sebagian lantainya yang dingin dan halus ditutupi karpet merah panjang. Berbagai lukisan dari para seniman terkenal dan pahatan-pahatan indah memenuhi sisi-sisi ruangan. Langit-langitnya tinggi dan Dongwoo sempat berdecak kagum ketika melihat kandelar raksasa bergantung di atas kepalanya, sementara Ilhoon yang tidak terbiasa melangkah cepat-cepat melintasi ruangan, takut kandelar itu jatuh dan menimpanya.

Mereka sampai di depan satu pintu lagi. Dua orang penjaga membukakan pintu dan memunculkan ruang takhta, di mana singgasana raja berada di atas undak-undakan pada satu sisi dinding. Seorang pria yang wajahnya masih tampak muda, dengan rambut pirang dan sorot tajam, duduk di kursi kehormatan itu.

“Selamat sore, Baginda!” seru Yoseob ceria. Dia masuk terlebih dahulu dan berlutut di depan kaki tangga untuk memberi penghormatan. Yang lain lekas mengikuti di belakangnya. Hyunah tak sadar tentang itu, dan hanya dia sendiri-lah yang berdiri. Gadis kecil ini tidak pernah bertemu atau mendengar tentang Raja, dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan jika sedang menghadap sang Raja. Tetapi, Baginda Raja hanya terkekeh melihat hal itu, tidak marah.

“Selamat pagi, Yoseob. Kucing berwarna jinggamu tetap saja ceria hari ini. Dan selamat datang di istanaku, Nona.” Baginda Raja beranjak dari singgasananya, menuruni tangga, dan berhenti di depan Hyunah yang terlihat bingung. Hyunseung tahu Baginda Raja sudah tidak membutuhkan suasana formal lagi, jadi dia lekas bangkit berdiri. Yang lainnya mengikuti. “Ayahmu memberi kontribusi yang luar biasa untuk Henolia. Aku bersyukur Hyunseung menjemputmu dengan selamat. Pastilah hari-harimu yang dulu terasa sangatlah berat, ibumu juga pasti menginginkan hidupmu tenteram.”

Hyunah terlihat canggung. Shiren di hadapannya benar-benar memukau… dia tak tahu itu binatang atau apa, tetapi ukuran tubuhnya luar biasa besar, meninggalkan wibawa dan kekuatan yang sangat mendalam. Mata makhluk itu tajam dan memberi kesan intelek, tetapi juga terasa melindungi… Hyunah tak pernah tahu ada orang yang memiliki shiren sehebat ini.

“Na—nama saya Kim Hyunah…,” kata Hyunah lambat-lambat. “A—apakah Anda kenal ibu? Juga… ayah…?”

Baginda Raja tersenyum. “Aku dekat sekali dengan mereka.”

Kedua ujung bibir Hyunah tertarik. Orang ini dekat dengan orang tuaku! Dia merasa senang sekali.

“Dan aku tidak ingin kau memanggilku dengan cara formal. Baginda Raja atau Yang Mulia atau Tuanku… terlalu kaku, jadi kau bisa memanggilku seperti teman-temanmu melakukannya. Hyunseung, seperti apa kau memanggilku?”

Bola mata Hyunseung bergerak malas. Pertanyaan tolol. “Raja Seungho,” jawabnya cepat.

“Aku tahu kau malas mengatakan itu. Kau terlampau ketus,” kata Baginda Raja, membuat Hyunseung mendengus. “Namaku Yang Seungho. Sekarang, mari kita tuntaskan bahasan yang ingin kubicarakan dengan kalian. Ada hal penting yang harus didiskusikan.” Raja Seungho membawa mereka ke ruangan lain yang pintunya terletak di dinding timur. Mereka tiba di sebuah ruangan berlangit-langit tinggi seperti tadi, hanya saja satu dinding dipenuhi jendela-jendela panjang sehingga cahaya matahari memenuhi ruangan tersebut. Di tengah-tengah, terdapat meja berbentuk oval yang panjang, didampingi kursi-kursi dari kayu. Sehelai karpet tipis berwarna merah tua melapisi lantai sebelum kaki-kaki meja dan kursi menyentuhnya.

Sebuah ruang rapat, pikir Hyunseung. Junhyung berdiri di sebelah kursi paling besar sembari membawa nampan besi. Yoseob melangkah ringan ke sampingnya.

Seungho melangkah menuju kursinya dan duduk di sana, lantas mempersilakan para tamunya untuk duduk. Suasana berubah sedikit tegang ketika raut wajah Seungho tidak lagi menunjukkan keramahan selayaknya tadi.

“Mari kita percepat saja.” Seungho mengenakan sarung tangan, kemudian mengambil selembar kartu dari nampan yang dibawa oleh Junhyung. Dia memperlihatkan simbol kartu itu, yang tentu saja, membuat Hyunseung, Doojoon, juga Byunghee terkesiap.

Simbol sekop. Tengkorak. Merah dan hitam.

Mereka.

“Ini tentang keponakanku. Aku sudah tidak bertemu dengannya kira-kira lebih dari seminggu karena urusan negara, dan kemarin pagi pada akhirnya aku bisa menengoknya. Pelayan mengatakan bahwa keponakanku berdiam diri di dalam kamarnya untuk belajar tekun selama satu minggu aku berkeliling Henolia, dan aku berniat menanyakan apa saja yang sudah dipelajarinya dan mengajaknya berjalan-jalan di taman istana. Tetapi ketika aku masuk ke dalam kamarnya, kamar itu kosong dan jendelanya terbuka lebar. Setelah memastikan bahwa dia tak ada di kamar mandi, aku duduk di atas tempat tidurnya dan secara tak sengaja menemukan kartu ini tergeletak di dekat bantal. Aku merasa aneh, dan intuisiku menyuruhku untuk bergegas mencari keponakanku. Aku mengerahkan seluruh pelayan, namun dia tidak ditemukan di seluruh penjuru istana, dan biasanya jika dia ingin keluar, dia pasti mengatakannya kepada para penghuni istana. Kami memutuskan bahwa keponakanku telah menghilang, tetapi aku ingin memastikan hingga pagi ini bahwa dia benar-benar menghilang tanpa kabar… atau perkiraan kami, diculik. Maka dari itu, aku memutuskan untuk memanggil kalian kemarin untuk berjaga-jaga. Dan prasangkaku semakin kuat tatkala Jinyoung memberi tahu bahwa kau menemukan kartu yang sama di dalam mansion yang terbakar itu,” kata Seungho, seraya menoleh pada Hyunseung. Yang ditatap merengut; dia tahu sebentar lagi akan ada badai yang menghantam mereka.

Sekonyong-konyong, Jinyoung muncul dari balik pintu ruang takhta sambil membawa dua lembar plastik, masing-masing berisi selembar kartu dengan gambar yang sama persis.

“Halo, Hyun dan semuanya!” sapanya ramah. Dia berjalan ke samping Seungho, dan meletakkan plastik itu di depan sang Raja. “Kebetulan sekali, Yang Mulia. Saya, Hyunseung, dan Doojoon pergi ke Hotel Prosperità yang aulanya terbakar semalam. Kami baru mengetahui ketika sampai di sana bahwa kebakaran itu terjadi akibat ledakan bom.”—Byunghee menatap Hyunseung, terlihat dari kilatan maniknya bahwa sarannya untuk memeriksa hotel itu tidak sia-sia, dan Hyunseung membalasnya dengan kesal, namun dia berterima kasih—”Tidak ada petunjuk apa pun di dalam aula, dan kami juga tidak tertarik untuk memeriksa aula itu lebih lanjut. Yang menarik justru adalah, kala kami memeriksa tiap-tiap kamar di lantai dua puluh tiga, kami menemukan satu lagi kartu yang sama, di dalam kamar yang sungguh aneh dan memiliki aura ganjil. Kamar itu bekas dipakai, tetapi entah mengapa rapi sekali… seolah-olah orang yang ada di kamar itu tahu ini akan terjadi.”

Jinyoung menunjuk kartu yang tadi dia sebutkan, dan Seungho memeriksanya dengan teliti, menyamakan dua kartu yang ditemukan Hyunseung dengan kartu yang ditemukannya di atas tempat tidur keponakannya.

“Ini semua sama, tak diragukan lagi,” katanya kemudian. Dia menatap Hyunseung, Doojoon, Byunghee, Hyunah, Ilhoon, dan Dongwoo, satu-persatu. “Junhyung berkata pernah menemukan simbol ini di satu situs… tetapi dia melihatnya hanya sekilas. Kalian tahu siapa pemilik simbol ini? Kurasa kalian sudah sering berhubungan dengan teroris.”

“Saya tahu,” sambar Hyunseung cepat, dia berdiri karena tiba-tiba saja amarah menggelegak dalam dirinya ketika melihat simbol itu. Dia tampak tegang, juga fokus di saat yang sama. Aura pembunuhnya menguar, sedikit demi sedikit. “Ini mereka… saya yakin. Simbol ini terlihat begitu jelas bahwa ini tanda mereka.”

“Bagaimana caranya?”

“Saya merasakannya,” katanya, penuh kebencian. Matanya menatap tajam, tak pernah semenusuk itu.

Yang lain hanya bergeming, tak bisa menambahkan atau berkomentar. Hyunah melihat shiren Hyunseung bergerak-gerak tidak nyaman.

Seungho tampak berpikir beberapa lama sebelum akhirnya dia berbicara lagi. “Dua puluh tiga… bagaimana kau bisa menentukan angka seakurat itu? Menentukan lantai mana kamar mereka berada?”

“Itu—” Tenggorokan Hyunseung tercekat. Suara itu memenuhi isi kepalanya lagi. Suara yang entah mengapa bisa terdengar olehnya, kendatipun di tengah-tengah suasana yang begitu riuh. “—saya mendengar orang itu mengatakannya. Dua puluh tiga, dia bilang.”

Semua mata memerhatikannya, membuat Hyunseung merasa seperti orang gila. Dia kembali duduk, kini sibuk berpikir.

“Begitu…,” Seungho mengempaskan diri pada sandaran kursinya. Tak disengaja, tubuhnya dan semua orang di dalam ruangan menegang. Sang Raja membiarkan otot-ototnya rileks untuk sementara. “Pada awalnya kita membiarkan mereka karena mereka juga membantu menumpas teroris, meski dengan cara aneh yang disebut kontrak darah. Kalian tahu tentang itu. Tetapi berhubung mereka sudah meledakkan aula hotel ternama Henolia, menculik keponakan Raja, dan membunuh orang-orang tak bersalah, secara otomatis mereka telah berubah status menjadi teroris.”

Rahang semuanya mengeras.

Mereka tak bisa lagi diabaikan.”

Akhirnya. Hyunseung merasa bersemangat dan frustrasi di saat yang sama.  Jadi kalian betul-betul ingin berperang dengan kami.

“Yang Mulia, perlukah kita menunjukkan…?” Junhyung berbisik di telinga Seungho, dan Seungho mengangguk, menyetujui sarannya. Pemuda berambut cokelat itu pergi dari ruangan dengan tergesa-gesa dan kembali beberapa saat kemudian sembari membawa sebuah buku bersampul kulit hitam dan berukuran besar di tangannya yang terbungkus sarung tangan. Seungho menerimanya, dan meletakkan buku besar itu di meja. Bukunya sangat tipis, barangkali tidak memiliki kertas halaman, hanya berupa sampul depan dan belakang.

QUADRO

Invitation…? Undangan…?” gumam Doojoon.

“Ini ada di atas meja kecil di samping tempat tidur keponakanku,” ujar Seungho. Nada suara dan raut wajahnya serius.

Quadro. Hyunseung menatap lekat-lekat enam aksara itu. Takkan pernah kulupakan.

“Kupikir awalnya ini untukku, mungkin berisi surat untuk meminta tebusan atau apalah. Tetapi di dalamnya berisi hal yang tak bisa kumengerti hubungannya, dan setelah mendengar cerita Jinyoung, barulah terpikir olehku bahwa barangkali ini diperuntukkan untuk kalian.”

Seungho membuka buku itu, sehingga memperlihatkan tulisan yang ada di dalam sana.

Alis para anggota bertaut.

1

interfectorem & chico.

Memories.

Pembunuh dan anak laki-laki.

Kenangan.

.

.

.

bisikan iblis,

rayuan mereka berujung pada dasar kegelapan.

membangkitkan ketakutan yang tertidur jauh di dasar jiwa.

memerangkap raga dalam hitam pekatnya keabadian.

.

.

.

4th Chapter of Tale

END

.

.

.

EXISTENTIA 5th

“Dia mengatakan bahwa dirinya pembunuh.”

a story for the the bloody memories,

chico’s joke

***

notes:

Halo! Ternyata isi otak saya masih dipenuhi dark-mystery jadi susah buat dapet feel fluff buat MBLAQ series, jadi mohon jangan tendang saya ahahaha #kemudiandigorok

Eniwei memang ada perubahan sedikit pada simbol Quadro, yang ini gaada darah-darahnya kaya yang saya deskripsiin di Plan sebelum ini kalo gasalah (maklum ingatan terbatas) soalnya nemunya yang paling keren di google itu sih #modalgoogle

Naaah silakan tebak kelanjutannya dan apa yang dimaksud dalam invitation. Saya seneng kalo ada yang mau berargumen :3 sekadar catatan aja, tiga pengkhianat itu belum tentu semuanya ada di Quadro dan saya juga ngga pernah bilang siapa tiga pengkhianat tersebut dari keenam orang Quadro, jadi silakan cari tahu sendiri~

P.S: Penyebab di sini ngga ada lagunya karena saya buat semacam folder Soundtrack EXISTENTIA (ambil dari banyak anime. Pembuatnya brilian semua!) dalam format .rar. Silakan download di MF!

Terima kasih sudah membaca! Last but not least, mind to review?

12 responses to “EXISTENTIA — Ignition: The King’s Order [4th Chapter of Tale]

  1. satu hak yang bikin aku betah baca FF kamu itu, karena meskipun dark mystery yang umumnya kesannya kaku dan serius mulu’, tapi kalo yang ini masih ada beberapa hal yang “menggelitik” (macam tangan Dongwoo yang bisa idup)

    jujur masih bingung sama Quadro, terlalu banyak nama-mana baru yang aga susah buat dihafal (maklum pelupa)

    ditunggu kelanjutannya ^^

    • satu hal maksudnya kah? #iyafik
      iya, karena kupikir dark-mystery itu kalo ga diselipin komedi malah bikin gaenak x)

      sebenernya karena aku emang sengaja pake cast yang jarang dipake sih =))

      makasih banyaaak!

  2. Jadi bpakny hyuseung msh idup toh tp,psti ada sesuatu yg trjdi ampe si hyuseung ktemu bpakny sndri. Curhatan si kuda lumping ke hyuna bkin saia mndpt sdkit clue tntang dia dkit tapi ._.
    Trus bom mini yg mledak it smcam dinamit bkan? Kyaky bkan xD mkin kesini mkin byk misteri tak terduga yg km tebarkan fik n pnempatanny pun bgus bgt, nyaris mencapai ending T^T D.A.E.B.A.K *.*

  3. Sebenernya aku udah baca ini dari dua hari yg lalu, udah ngetik buat komen dan panjang tapi tiba tiba ke close.. Jedarr sakit ati dan ini baru ngetik lagi *curhat*

    Huaa abaikan yg diatas ya haha.. Oke makin kesini makin misterius yah haha.. Menurut aku tentang undangan itu mereka sengaja ngelakuin buat mancing hyunseung dan teman temannya.. Semacam ada sesuatu yg mau ditunjukkin..

    Dan huaa uri leadder jadi raja haha lanjjutkan.. Satu lagi entah kenapa aku ngerasa si hana ama hyunseung dulu ada something *abaikan* *ini kebanyakan nonton drama*

  4. WOW. Ru penasaran sama alasan tiga org itu jadi penghianat. Banyak bgt misteri nya. sukaaa .-. terus lambang quardo nya keren ceritanya juga kerenn karakternyaa apalagi kerenn huaaa semuanya keren daah… suka sama karakter byunghee, kalau baca bagian tangan dongwoo jadi keinget break.. ahh suka deh sama fikha yg nyiptain stiap karakter dgn misteri tersendiri /ngomongapasaya’-‘
    ohya, yg invitation itu, keponakannya laki2 ya? pembunuh itu quardo, tapii… yah belum ketebak sma sekali nih’-‘
    hayolahhh part 5 nya ditunggu yaa. Fighting!
    terlalu semangat, jadi komentarnya panjang.. maaf fikha (_ _ )

    • HALO RUUUUUUU! apa ya alasan mereka? mungkin hyunseung terlalu galak kali:/ he-eh Alhamdulillah nemu di google gambarnya keren O:)
      Break… ohiya dia kan juga agak-agak, tapi Break itu kece bingits!!
      oooh invitation itu mungkinkah tentang keponakannya? :3
      okaaaay siaaap! eh aku suka baca dan bales komen panjang kok, cuma karena suka kagok takut balesnya ga memuaskan jadi aku mikir-mikir buat balesnyah:”’> makasih banyak ya ruuuu!{}

  5. fikhaaaaa w(;A;w)
    kmu di tinggal bentar ff nye makin keceh aja seh u,u

    btw, jujur aku baca dr part awal dia masih teaser ampe skrng.. cuma yah, mian baru komen gara2 biasnya on dr hp dan sinyal minta di gerogotin u,u
    entah kenapa walau gak kenal2 bgt, aku suka penempatan cast nya.. feel nya jg ttp dpt like usually lah xD

    boleh usul cast gak? masukin tao dong~ kek nya asik xD
    kkk~ usul doang yoo xD
    ohya, ohya! aku masih penasaran bgt sama yg berkhianat itu.. siapa sih mereka ‘^’

    segini dlu lah! entar nyusul lg komen nya :3
    chap 5!! cepetan keluar ye xD

  6. Pingback: EXISTENTIA — The Bloody Memories: Chico’s Joke [5th Chapter of Tale] | Cappulatte·

  7. AAAA KAK FIKHA!!!!!
    jadi kakak adalah author fav ku;;—–;;
    Aku suka ngasih link fanfic buatan kakak ke temen dan responnya macam “gila, keren banget”, “bingung”, “diksinya bagus banget”
    Dan………diantara semua fanfic bikinin kakak, aku paling suka Sweet Mystery, Existentia, A Stupid Argument About The Moon and The Lake (eh bener ga sih…-3-)

    Dari kelas 7 awal aku cuma jadi sider di semua fanfic, sekarang akhirnya aku kasih komentar tentang fanfic yang aku baca. Btw, aku sekarang kelas 8 hoho.

    Kebanyakan ya basa basinya…..

    INI FANFICTION KEREN ABIS AAAAAAAAAAAAAAA

    Aku masih bertanya-tanya siapa aja 3 penghianat ituuuuuu.
    Trus…..Doojoon sama Hyunah cute banget;;———-;;
    Tapi aku pengen kalo endingnya Hyunseung sama Hyunah #dikiraromance

  8. Pingback: EXISTENTIA — The Bloody Memories: Clue [6th] | Cappulatte·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s