EXISTENTIA — The Bloody Memories: Chico’s Joke [5th Chapter of Tale]

existentia5-1

1) Gunwoo (RASA) diganti jadi Himchan karena beberapa faktor, maaf untuk ketidaknyaman membaca😀

2) Ada penjelasan di awal supaya enggak bikin bingung. [!!!] Bakal panjang banget! Mohon bersabar ya muahaha xD

.

.

.

Ia terengah, tatapan nanarnya menyorot purnama

ketika chico menatapnya, yang terucap dari bibir anak itu adalah identitasnya: yang tersisip di belakang namanya atas apa yang ia lakukan

“Pembunuh….”

existentia

Casts belong to God. © Fikha Adelia : kihyukha

2013 project. do not plagiarize, copycat, or repost without my permission.

previous:

The Beginning: PROLOGUE | 1st [Filia’s Destiny: EXPLICATIO] | 2nd [Ignition: BATTLE] | 3rd [Ignition: CONFUSE] | 4th [Ignition: THE KING’S ORDER] |

.

Henolia adalah negara bersistem monarki yang terletak di dekat ekuator. Luasnya sekitar 8400km2, merupakan negara kecil dengan tingkat kesejahteraan tinggi, di mana produktivitas industri, pertanian, perikanan, dan pertambangannya seimbang. Ibukotanya bernama Henolia, sama seperti nama negara.

Dengan segala keuntungan dan harmonisasi yang ada di Henolia tidak membuat negara ini aman sepenuhnya. Letak Henolia juga dekat dengan Tartaron, sebuah negara berkembang yang dulunya pulau tak berpenghuni, dan digunakan sebagai ‘markas’ oleh para penjahat kelas dunia, sebelum tempat itu diambil alih oleh negara sentral dan diurus sebaik-baiknya. Raja Henolia dan para Ilmuwannya menciptakan senjata untuk melindungi Henolia dari teroris, dan akhirnya menghasilkan delapan anak dengan kekuatan luar biasa, yang dimasukkan ke dalam Kelompok Rahasia dan diasingkan di sebuah kastel tua. Tetapi ada kendala, tiga di antaranya membelot, dan belum diketahui bagaimana nasib mereka.

Masih banyak rahasia yang tersimpan pada anak-anak itu, bahkan mereka tidak mengetahuinya. Rahasia disimpan oleh seorang Ilmuwan yang merupakan unsur utama penelitian tersebut, namun ia meninggal dunia dan belum diketahui apakah ia meninggalkan catatan rahasianya atau tidak. Yang tersisa darinya hanyalah istri dan seorang putri, di mana istrinya diculik dan putrinya sekarang berada bersama anak-anak Kelompok Rahasia, ikut berpartisipasi menguak misteri di balik penelitian dan kudeta yang diam-diam terjadi di dalam negara kecil tersebut.

Selama lima tahun terakhir, Henolia selalu berada dalam keadaan baik, tetapi tiba-tiba sekelompok penjahat muda muncul dan berniat menghancurkan negara itu, karena suatu dendam yang tak pernah terungkap oleh orang luar.

events

(nantinya akan ada post tersendiri. bertambah seiring misteri terkuak)

29 November 652 — Ibu Hyunah diculik, Hyunah dibawa Hyunseung, Doojoon, dan Ilhoon menuju kastel persembunyian Kelompok Rahasia.

30 November 652

day  Latihan Hyunah pertama kalinya melawan Ilhoon.

night — Ledakan pertama, tanda-tanda pertama. Mansion di tengah hutan diledakkan Quadro.

1 Desember 652

day — Jang Hyunseung mendapat petunjuk mengenai kekuatannya: sesuatu yang bisa membuat tubuh tahan luka Ilhoon tak bisa sembuh.

night — Ledakan kedua di Hotel Prosperità. Hyunseung bertemu sekilas dengan Quadro, juga ayahnya….

2 Desember 652 — Panggilan dari Baginda Raja, di mana beliau mengungkapkan bahwa keponakannya diculik dan ia mendapat tantangan dari Quadro berupa kartu yang berisikan interfectorem & chico, memories.

.

Character(s)

existentia-hyunseung

|| Orang pertama di Kelompok Rahasia | Shiren: Titik-titik putih | Kekuatan: ? ||

existentia-hyunah

|| Anak tunggal dari Ilmuwan yang menciptakan kekuatan Hyunseung dkk | Shiren: ? | Kekuatan: Melihat wujud shiren ||

existentia-doojoon

|| Pandai memasak, sosok kakak yang baik | Shiren: Rusa biru langit | Kekuatan: ? ||

existentia-byunghee

|| Aneh, suka melamun, sulit ditebak, senang membuat senjata. Intuisinya selalu tepat | Shiren: Bunga Matahari | Kekuatan: ? ||

existentia-dongwoo

|| Optimis, ceria, dan bersemangat | Shiren: ? | Kekuatan: Tangan yang bisa bicara (?) ||

existentia-ilhoon

|| Cerewet, daya pengamatan tinggi, pendengaran dan ingatan tajam. Satu-satunya yang mengingat masa lalunya | Shiren: Liliger | Kekuatan: Tubuh yang tak bisa dihancurkan, selalu bisa kembali ke asalnya tanpa cacat. Namun luka di punggungnya, yang disebabkan oleh Hyunseung pada saat latihan, tak pernah bisa sembuh ||

existentia-seungho1

|| Raja Henolia | Shiren: Naga Hitam Raksasa | Kekuatan: ? ||

existentia-tigerjk

|| Ayah Hyunah. Ilmuwan ternama yang meninggal ketika usianya 31. Menyimpan rahasia penelitiannya hingga kini | Shiren: ? | Kekuatan: Otak yang cerdas? ||

existentia-yoonmirae

|| Ibu Hyunah. Diculik untuk suatu alasan. Satu kakinya lumpuh akibat diserang oleh salah satu pengkhianat | Shiren: Bunga Lantana | Kekuatan: ? ||

existentia-jinyoung

|| Dokter Kerajaan. Paling tertarik dengan hal-hal aneh seperti anak-anak Kelompok Rahasia, terlebih Byunghee | Shiren: Merak Putih | Kekuatan: ? ||

existentia-yoseob

|| Penyampai Pesan Kerajaan. Enerjik dan ceria | Shiren: Kucing Jingga | Kekuatan: ? ||

existentia-junhyung

|| Penyampai Pesan Kerajaan. Ahli dalam menggunakan sayap besi | Shiren: ? | Kekuatan: ? ||

////

existentiafront1

Quadro

existentia-himchan

|| Bersikap sebagai Pemimpin Quadro. Seseorang di masa lalu Hyunseung | Shiren: ? | Kekuatan: ? ||

existentia-jonghyo

|| Ahli membuka kunci. Santai dan agak sensitif | Shiren: ? | Kekuatan: ? ||

existentia-hana

|| Gadis pemarah dan angkuh. Sepupu Youngjae | Shiren: ? | Kekuatan: ? ||

existentia-youngjae

|| Cerdas, dingin, dan cuek. Ahli dalam pemrograman, membuat bom, dan berbagai senjata mutakhir | Shiren: ? | Kekuatan: ? ||

existentia-hakyeon

|| Ahli dalam menyembuhkan dan mata-mata yang baik. Di balik mata kelabunya, tersimpan rahasia. | Shiren: ? | Kekuatan: ? ||

existentia-seokjin

|| Sniper, pribadinya paling kalem. | Shiren: ? | Kekuatan: ? ||

.

.

.

5th chapter of tale

happy watching!

.

.

.

chico’s joke,

the bloody memories

.

.

.

existentia

Ilhoon melangkah ke depan gerbang besar, kemudian berlutut di depan makam ibunya, menangkupkan tangan, dan berdoa. Doojoon dan Hyunah berhenti di belakangnya, memerhatikan.

Hyunah awalnya tidak begitu mendengarkan, namun ketika kalimat “Ibu, apakah mereka yang membuatmu menghilang?” terucap dari bibir Ilhoon, ia langsung memasang telinganya tajam-tajam. Mendadak puluhan pertanyaan yang sekiranya memerlukan jawaban terlintas di dalam kepalanya. Bagaimana ibu Ilhoon meninggal? Bagaimana caranya sampai semua anggota Kelompok Rahasia tidak ada yang memiliki ingatan tentang masa lalu mereka? Siapa gerangan yang menghilangkannya? Dan apa tujuannya?

Hyunah tertegun. Jika dipikir-pikir, dirinya sendiri juga tidak terlalu ingat seperti apa masa lalunya. Yang ia ingat hanya ingatan sedari usianya delapan tahun. Ada apa saat itu?

Tidak seperti mereka bertiga, Hyunseung, Byunghee, dan Dongwoo langsung pergi menuju kastel. Hyunseung mendelik tak suka pada Ilhoon dan makam ibunya. Ada sesuatu di dalam tatapannya yang menyimpan makna tak terduga; laksana kabut pengungkap mimpi. Namun ia belum mau menebas pedang untuk mengoyak gumpalan mimpi itu. Sesuatu mengganggu Hyunseung, dan keberadaan makam itu adalah salah satunya.

Langkah Hyunseung cepat dan panjang-panjang. Byunghee menyeret kaki di belakangnya dan Dongwoo mengekor, berpayah-payah mengikutinya.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Dongwoo, seusai menutup pintu baja yang berat. Ia membersihkan bajunya dari salju. Saat pulang tadi mereka harus melewati jalur darat menaiki pedati milik Kerajaan, tak disangka salju turun lebih cepat dan membuat jalan udara menjadi agak berisiko untuk dilewati.

“Pecahkan saja arti kartu itu,” kata Hyunseung dingin, sembari melepas mantelnya dan melemparnya ke kapstok di samping pintu. “‘Chico‘ dalam bahasa Spanyol berarti ‘anak laki-laki’. ‘Interfectorem dalam bahasa Latin berarti ‘pembunuh’. Barangkali ‘memories atau ‘kenangan’ adalah kunci yang mengaitkan keduanya.”

“Kau pintar bahasa ya,” gumam Byunghee.

“Bukan itu yang harus diperhatikan… ah, sudahlah.” Hyunseung mendesah berat. “Panggil tiga makhluk konyol yang berduka untuk batu itu ke dalam, kita perlu membahas kartu. Tak ada waktu lagi. Raja Seungho perlu mengurusi beberapa kasus dan masalah kartu ini sudah ia percayakan sebagai masalah utama kita.”

Hyunseung berjalan cepat menuju ruang makan. Byunghee dan Dongwoo berusaha merendenginya.

“Bagaimana dengan keponakannya?” tanya Dongwoo, kala ia berhasil menyejajarkan langkah dengan Hyunseung.

“Pasukan sudah dikirim untuk mencari keponakannya.”

“Aku bahkan tak pernah tahu tampang keponakannya… anak kakak Raja, ‘kan? Heran kenapa tidak ada desas-desus tentang Raja meracuni kakaknya atau apa untuk merebut takhta.”

“Raja Seungho lebih cerdas dan bijaksana daripada kakaknya. Ia tak perlu meracuni atau apa pun untuk mendapatkan takhta. Lagi pula kakak Raja Seungho sakit-sakitan, sudah lama meninggal.”

“Ah, pantas saja.”

“Tapi kasihan, ya,” gumam Byunghee, membuat perhatian Hyunseung dan Dongwoo teralih padanya, “keponakannya, maksudku. Orang tuanya sudah tiada, bahkan ia tidak mendapatkan perhatian dari satu-satunya keluarganya. Pernahkah terpikir kalau ia memang melarikan diri dari istana karena tidak tahan?”

“Yah,” kata Hyunseung. Ia mendorong pintu di dekat anak tangga, menemukan ruang makan mereka masih sama seperti pagi tadi. “Nasibnya sama saja seperti kita dan mereka.”

Byunghee dan Dongwoo langsung bungkam.

***

Ilhoon selesai berdoa. Ia menatap Hyunah sekilas sebelum akhirnya melengos pergi. Hyunah merasa bahwa Ilhoon tahu ia menguping sedari tadi, tetapi memutuskan untuk tidak mengacuhkannya.

Yang bisa Hyunah tangkap dari doanya hanya permohonan supaya ayah dan ibunya sehat selalu di mana pun mereka berada. Tak ada petunjuk apa pun. Setelah dipikir-pikir, semua anggota Kelompok Rahasia secara sengaja atau tak sengaja menutupi berbagai hal yang menjadi rahasia mereka. Dibanding rasa penasaran untuk mencari tahu tentang Quadro, Hyunah lebih penasaran tentang teman-temannya. Ia mendapat firasat bahwa teman-temannya sebetulnya adalah kunci identitas Quadro, tapi entah dengan cara apa.

Doojoon menuntun Hyunah masuk ke dalam kastel. Kini semuanya sudah berada di dalam, dan kendatipun tak ada yang memberi komando, mereka kompak berkumpul di ruang makan. Raja Seungho telah membebaskan mereka dari kegiatan membunuh teroris dan menyelidiki pejabat Kerajaan yang korupsi, jadi mereka berkonsentrasi pada kartu dan berusaha memecahkannya.

“Ini jelas dari Quadro. Sebuah tantangan terbuka.” Hyunseung mengambil buku tipis berwarna hitam dari dalam saku bagian dalam jaketnya dan melempar benda itu ke atas meja. Tatapan semuanya terfokus pada buku. Doojoon membuka buku supaya tulisan interfectorem & chico. memories terlihat.

“Kira-kira apa hubungannya, ya? Dengan kita dan mereka, maksudku?” tanya Dongwoo bingung.

“Pembunuh dan anak laki-laki… apa mungkin pembunuh ini adalah seorang anak laki-laki? Atau mereka dua orang yang berbeda? Kurasa kenangan adalah kata kuncinya,” Doojoon mulai memberikan argumennya.

“Keparat orang-orang itu, mereka semestinya tahu sebagian dari kita tidak begitu ingat masa lalu,” Hyunseung mengumpat. Hyunah melirik Ilhoon sekilas tatkala kata-kata “sebagian dari kita” meluncur dari mulut Hyunseung, tapi agaknya pemuda itu sibuk berpikir sampai-sampai tidak memerhatikan.

Masa lalu.

Mendadak Hyunah menyadari sesuatu. Mereka semestinya tahu sebagian dari kita tidak begitu ingat masa lalu. Itu masuk akal….

“Ingin membangkitkan masa lalu,” Hyunah menyimpulkan. Kontan semua kepala menoleh ke arahnya, dan Hyunah merasa agak gugup manakala berpasang-pasang mata menyorotnya, tapi ia tak bisa terus-menerus ketakutan dan bicara tersendat-sendat. Jadi ia mengambil napas dan mulai menjelaskan, “mereka ingin membangkitkan masa lalu kalian. Kalau memang ingatan kalian diambil dan ada alasan di balik itu, barangkali Quadro hendak membangkitkannya kembali dengan memberikan kunci-kuncinya. Mu—mungkin tidak semuanya. Mungkin satu demi satu. Mungkin interfectorem dan chico adalah kunci untuk ‘membuka’ ingatan salah satu dari kalian.”

“Pintar,” puji Doojoon takjub.

“Masuk akal… eh, tapi jangan anggap aku memujimu!” Ilhoon cepat-cepat mengklarifikasi, dan Hyunah juga tidak  repot-repot menganggap ia dipuji.

“… teruskan.” Hyunseung mengapit dagunya dengan jempol dan telunjuk, tatapannya berfokus pada Hyunah kian lekat. Hyunah senang mengetahui Hyunseung mau mendengarkannya.

Eum, dan aku merasa ini… seperti versus. Ubah simbol “&” menjadi “vs” dan muncullah interfectorem versus chico. Entah bagaimana tapi aku pikir ini semacam duel. Eh, tapi cuma perkiraan….”

Semuanya terperanjat. Hyunah tidak mengira reaksi mereka akan seserius itu, ataupun menganggap pendapatnya adalah kebenaran. Kini semuanya terdiam, sibuk berpikir.

“… untuk apa membangkitkan kenangan kita?” Dongwoo yang kali pertama memecah kesunyian.

“Mungkin ada sesuatu di dalamnya,” usul Doojoon.

“Ya, seseorang yang kenangannya berisi seorang pembunuh dan seorang anak laki-laki,” tambah Ilhoon.

Keheningan menerpa mereka lagi. Ada ketegangan yang berangsur-angsur memuncak kala keheningan itu terus bertahan, tapi barangkali hanya Hyunah yang merasakannya.

“Hyunah….”

Gadis itu tersentak kaget sampai lututnya menabrak pelipir meja. Semuanya kontan menatapnya dengan tatapan heran, tapi Hyunah hanya tersenyum dan menggeleng seraya mengusap-usap pahanya yang nyeri. Pelipisnya dibasahi keringat dingin. Ia yakin tadi mendengar suara ibunya.

Ibu, di mana kau?

***

Somewhere

Ruangan itu dingin hingga menusuk tulang. Langit-langitnya jauh di atas kepala, hanya sekelumit pelita yang tumpah menerangi ruangan sehingga kegelapanlah yang menguasai. Desah napas nan berat mengepul, berejawantah menjadi udara putih. Sepasang tangan pucat milik seseorang berusaha menggerapai ujung rantai, namun jemari-jemarinya terus menggelingsir. Ia mengumpat keras dan menarik-narik tangannya, namun tidak bisa lepas. Pergelangan tangannya lecet dan mengeluarkan darah, namun orang itu tidak mengindahkannya, seolah ia pernah merasakan sakit yang lebih parah.

Orang itu adalah seorang wanita. Ia terantai di salah satu sisi ruangan. Pergelangan tangan dan kakinya diikat simpul-simpul besi, dan lehernya dipasangi lingkaran besi seperti hewan agar tidak melarikan diri. Matanya liar, menyiratkan amarah yang luar biasa. Geramannya disusul bunyi gembok yang dibuka, dan sosok seorang pria muncul dari balik kegelapan. Ada seringai puas terbingkai di wajahnya.

“Berengsek,” bisik wanita itu tajam. Tatapannya mengancam, namun si pria tidak gentar sedikit pun.

“Selamat sore, Nyonya.” Pria itu berjongkok di depan sang wanita, mengambil sejumput rambut cokelat wanita di hadapannya dan mengecup helai-helai rambut itu.

Si wanita mendadak meludah ke wajahnya.

Alih-alih marah, Si Pria hanya mengulas senyum, mengeluarkan saputangan dari saku jaketnya, dan membersihkan wajahnya secepat kilat.

“Jangan mengajakku bicara, pengkhianat,” desis wanita itu.

“Dulu kau perempuan yang sangat lembut, Nyonya Mirae.” Sepucuk pistol ditarik Si Pria dan ia memosisikan moncong pistol tersebut tepat di bawah dagu Si Wanita. “Dan aku bukan pengkhianat yang sebetulnya, kalau maksudmu tidak secara harfiah.”

“Aku takkan bersikap lembut pada pengkhianat.” Wanita bernama Mirae itu membuang muka, namun pistol terus mengikuti gerakannya. Ia mendengus. “Mengapa berlama-lama? Tembak saja aku.”

“Aku cuma mau membuatmu takut. Tapi pistol sepertinya tidak mempan.” Pria itu menyimpan kembali pistolnya. Senyum memuakkan menghias wajah tampannya yang kini dipenuhi kebengisan. “Tidakkah semestinya kau berterima kasih? Kau seorang wanita cerdas dan istri dari ilmuwan ternama Henolia yang tinggal di tempat terpencil untuk melindungi putrinya, dan kemudian dibawa sekelompok orang dari Tartaron untuk diperdagangkan sebagai budak, bersama para wanita di desanya? Aku menyelamatkanmu dari mereka saat mereka mau membunuhmu karena dianggap tidak berguna, dengan kakimu yang tak berfungsi itu.”

“Lebih baik aku mati di tangan orang-orang busuk Tartaron. Suamiku sudah meninggal, putriku juga—”

“Putrimu mesin pembunuh yang baik. Aku tahu.”

Mirae tersentak.

“Kau senang, ‘kan? Putrimu ada bersama Jang Hyunseung dan kawanannya. Dia selamat. Dia baik-baik saja. Dan aku membiarkannya. Nah, Nyonya Mirae, semestinya kau menimpali kebaikanku dengan menjawab pertanyaanku.”

Mirae sontak menunduk sedih. PutrikuHyunah, maafkan Ibu.

Tidak mengacuhkan kesedihan Mirae, Si Pria mengeluarkan secarik kertas bergambar. Gambar yang ada di sana adalah liontin dari emas dengan permata hijau berkilau.

“Kau pernah melihat benda ini?”

Mirae mengangkat dagunya, menilik gambar itu, dan menggeleng.

“Kau yakin?”

Ia memandang Si Pria dengan tatapan jengkel, seakan jika pria itu bertanya lagi, ia akan membunuhnya.

“Oke, oke.” Si Pria tergelak dan berdiri sambil mengangkat kedua tangannya. Ia mundur perlahan-lahan, berbalik, dan melambaikan tangannya sembari berjalan keluar ruangan. “Jaga dirimu, Nyonya. Makanan datang dua jam lagi. Jangan apa-apakan Hakyeon ya, dia cuma mau membalas budi.”

“… Kim Himchan.”

Pria itu berbalik, tatapannya bersirobok dengan milik Mirae.

“Sejak kapan…?” tanya wanita itu parau. “Sejak kapan kau—”

“—sejak kapan aku merencanakan semua ini?” Kim Himchan terkekeh geli. Ia melangkah santai ke luar ruangan dan mengunci pintu besi. Maniknya yang berkilau keji memandang dari balik jeruji pada celah pintu. “Sudah jelas bukan? Sejak aku menjadi asisten suamimu, semuanya sudah tersimpan dalam otakku.”

***

Hyunah mengatur aliran napasnya. Senyum ibunya yang hangat dan tulus melingkupinya, namun anehnya, dengan hawa dingin yang membuatnya takut. Ada sesuatu. Ibunya masih hidup, entah bagaimana Hyunah tahu itu, tapi lambaian kelopak bunga lantana, wujud shiren ibunya, terlihat ringkih di dalam kepalanya.

Ibu, semoga ibu selamat. Aku akan berusaha mencari ibu, setelah memecahkan kode dari kelompok itu. Kelompok yang sepertinya mengekang ibu.

“Kalau memang ini adalah duel, siapa lawan siapa? Pihak kita dan pihak Quadro? Yang mana kita dan yang mana Quadro?” Giliran cecaran Ilhoon yang mengusir keheningan. Semuanya terlihat gusar. Hyunah memerhatikan shiren mereka, tapi tak ada yang tampak terganggu oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang membangkitkan kenangan mereka.

Tunggu. Ia lupa satu orang.

“Senior Byunghee, kenapa membisu begitu?” tanya Doojoon heran. Yang lain mengalihkan perhatian mereka, baru sadar bahwa sedari tadi orang yang suka menyela dengan kalimat tak terduga dan kadangkala tidak jelas itu tidak membuka mulut. Namun Hyunseung tidak terlihat begitu heran, seolah ia tahu sesuatu.

Byunghee tampak kaku. Maniknya memandang kosong, tapi bukan kekosongan yang selalu mengisi tatapannya, tapi kekosongan yang menakutkan.

Sekonyong-konyong, ada sesuatu merangsek ke dalam kepala Hyunah sehingga membuatnya menjerit. Meja makan dan lantai keramik lenyap ke dalam cahaya menyakitkan, digantikan potongan-potongan gambar yang tidak dikenalnya. Sebuah ruangan suram di dalam rumah. Perabot-perabot kayu termakan usia, kipas besar bermodel lama berputar-putar dalam gerakan lambat, dan sesosok anak lelaki dengan wajah pucat berdiri memandang ke arah lantai. Hyunah seolah menjadi sesuatu yang ada di lantai itu, sehingga wajah si anak lelaki dapat ia lihat dengan jelas. Si anak lelaki tampak terkejut. Cairan merah membasahi tangannya yang menggenggam pisau dengan gemetaran.

“Tidak…,” bisiknya serak. Pisaunya jatuh, berkelontangan dan samar-samar diiringi bunyi seperti air terciprat. Anak itu jatuh berlutut dan mencakar wajahnya sendiri, yang sekarang dibasahi darah dari tangannya. Tapi ia tak peduli. Keterkejutannya lebih kuat dan jauh lebih dalam dari kesadarannya.

Ia menangis tapi hanya suara napasnya yang terdengar, saking shock melandanya. Kepalanya menunduk dan air mata berjatuhan tak henti-hentinya ke lantai yang dibasahi darah. Tangan seseorang yang lain terkulai tak berdaya di atas genangan merah.

“Ayah….”

Kau pembunuh. Sama sepertiku.

Suara berat itu terngiang dalam kepalanya, menusuk-nusuknya. Kalimat terakhir ayahnya begitu menancap dalam di ulu hatinya, seolah ikut membunuhnya.

Tahu-tahu, pintu depan terbuka. Anak itu kontan menoleh ke arah pintu, masih dengan jantung yang belum berdentam dengan normal.

Sosok seorang anak berdiri di sana. Dia perempuan, tapi rambutnya pendek seperti laki-laki.

“Apa yang kaulakukan, Byunghee?” tanyanya. Tatapannya seolah menelanjangi anak lelaki yang bersimbah darah itu. “Kau… membunuh ayahmu?”

Kengerian mengganti kehampaan pada wajah anak perempuan itu.

“Pembunuh!”

Anak itu berlari tersaruk-saruk sebelum Byunghee bisa menahannya. Jerit memilukan mengakhiri peristiwa itu, kegelapan merasuki kepala Hyunah, dan yang dilihatnya kemudian berbeda. Byunghee, yang usianya mungkin sekitar empat belas tahun, berlari ke suatu tempat di tengah hujan deras. Ia tampak ketakutan, menggigil, dan pucat dihunjam air.

Kakinya berhenti melangkah di depan sebuah bangunan putih besar. Sebuah laboratorium. Byunghee menggedor-gedor pintu, makin lama makin lambat dan pelan, hingga ia terpuruk di depan pintu. Akhirnya, seseorang membuka pintu. Orang itu memiliki mata bulat dan tajam selayaknya mata elang, tingginya seperti Byunghee, rambutnya cokelat dan acak-acakan. Ia tampak tercengang menemukan Byunghee yang sekujur tubuhnya basah menangis di depan pintunya.

“Ada apa—”

Sebelum pertanyaannya selesai, Byunghee telah mencengkeram bajunya.

“Aku membunuh ayahku…,” katanya, penuh penekanan namun terkesan sangat lemah. Ringkih. Tak berdaya. “Aku seorang pembunuh, Hyun… apa yang harus kulakukan….”

Hyunseung tak bisa bicara. Mulutnya menganga, bukan karena tak percaya, namun lebih karena kaget mendengar pengakuan itu. Ia membiarkan bajunya dipenuhi air mata Byunghee sementara ia berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.

Hyunah merasa seolah dirinya ditarik ke belakang dan pemandangan di hadapannya berputar, dan sekejap saja meja dan lantai keramik kembali mengisi pandangannya. Sesaat ia merasa dirinya bisa melihat, namun kegelapan kembali melingkupinya; kegelapan yang biasa, kegelapan yang hanya dihiasi shiren orang lain. Doojoon dan Dongwoo berlutut di sampingnya dan Ilhoon menatapnya cemas, tapi Hyunah tidak memerhatikan mereka. Tatapannya tertuju langsung pada orang yang, entah bagaimana, kenangannya memasuki kepala Hyunah.

Byunghee juga menatapnya. Wajah Byunghee sama pucatnya dengan Byunghee di dalam kenangan itu, seusai ia membunuh ayahnya sendiri.

***

Kingdom’s Laboratory, Varnoxes, Henolia. 06.17 P.M

Laboratorium Utama Henolia adalah sebuah bangunan besar dengan banyak koridor dan ruangan serbaputih berisi berbagai penelitian dan hasil uji coba. Letaknya di ujung utara wilayah istana, kendatipun gedungnya terpisah, akses ke sana cukup mudah dan cepat. Terdapat enam lantai di laboratorium, dua di bawah tanah. Lantai satu untuk kantor, dua lantai bawah tanah untuk penelitian-penelitian rahasia dan berbahaya, dan tiga teratas untuk ruang penyimpanan, percobaan-percobaan sederhana dan pembuatan mesin-mesin mutakhir, serta penelitian-penelitian fisika. Laboratorium utama berada di lantai empat, langit-langitnya tinggi dan berkubah. Biasanya para staf yang sudah berpengalaman saja yang boleh memasuki dan mengadakan penelitian di sana.

Seorang ilmuwan yang sudah cukup berumur masuk ke dalam ruang laboratorium tersebut, bermaksud memeriksa tabung-tabung penelitian yang menyimpan berbagai hewan aneh. Ia mengambil sebundel perkamen yang diletakkan di atas meja panjang di tengah laboratorium, membaca data-data. Saking fokusnya, ia sampai tidak menyadari kedatangan dua orang pemuda berjubah hitam di atas atap kubah. Atau mungkinkah karena suara langkah kedua pemuda itu sangatlah ringan, laksana langkah-langkah kucing?

Sebetulnya, salah satu dari mereka memang selayaknya kucing: lincah dan awas. Matanya yang berkilat kebiruan memandang Ilmuwan tadi, lantas lidahnya mendesis meremehkan.

“Sampah Henolia, ilmuwan ini,” katanya, dengan suara yang hanya bisa didengar kelelawar.

“Diam, J-Hyo. Aku tahu tadi kau mencelanya,” kata yang memanggul senapan besar. “JIN01” terpahat dengan bagus dan tanpa cela di tubuh senapannya. Tidak berlama-lama, pria itu memegang senapannya dalam posisi siap, kemudian mulai membidik melalui viewfinder.

“Oh, hebat, akhirnya kau memanggilku dengan code-name itu? Lucu sekali,” cemooh pemuda bermata hitam kebiruan. Dia membuka bungkus permen karet dari sakunya dan mulai mengunyah, sementara matanya menjelajahi sudut-sudut ruangan dan berkali-kali melirik ke arah pintu, memastikan tidak ada siapapun kecuali ilmuwan tadi. “Bagian mana?” tanyanya sambil lalu. Bola besar berwarna merah manyala terbentuk dari permen karet yang ditiupnya.

“Kepala. Atau jantung,” jawab yang satu lagi. Ia mendelik sekilas, merasa terganggu dengan suara decak lidah partner-nya.

“Tidak seru, kupikir kau bisa menembak yang lebih sulit lagi,” kata pemuda yang meniup permen karet, Kim Jonghyo. Ekspresinya memang menunjukkan ketidaktertarikan, membuat Kim Seokjin merasa kesal sekaligus tertantang. Seokjin menendang dinding di belakangnya sehingga membuat Si Ilmuwan terkejut dan menoleh ke arahnya. Jonghyo sendiri kaget melihat Seokjin melakukan hal itu.

“Jin, apa yang kau…?”

“SIAPA KALIAN? BAGAIMANA CARA—”

Jin menarik pelatuk.

“—TURUNKAN SENJATA ITU!”

DOR!

Pemicu ditekan, peluru meluncur cepat dan menembus mata kiri Si Ilmuwan. Ilmuwan itu jatuh ke belakang, dengan wajah masih dipenuhi keterkejutan dan kengerian. Jonghyo tak percaya dengan apa yang dilihatnya; ia merasa kagum dan heran di saat yang sama.

“Eh, sori. Tak sengaja tertekan,” kata Seokjin. Ia sendiri kaget melihat Si Ilmuwan terpelanting ke lantai. Jonghyo terbahak.

“Tak sengaja? Guyonan apa itu? Tapi keren! Ajari aku nanti!”

Seokjin mengedikkan bahu, lantas memanggul kembali JIN01 dan memanjat keluar melalui lubang yang dibuat Jonghyo di kaca kubah beberapa saat lalu. Sebaliknya, Jonghyo melompat ke lantai, meletakkan secarik kertas hitam berukuran kecil di sebelah kepala si Ilmuwan sembari tersenyum mencela kepadanya.

Sampai jumpa lagi,” bisiknya, dengan suara rendah yang jauh berbeda dengan suara miliknya.

“J-Hyo, cepat!”

Jonghyo terkekeh geli, kemudian berlari menyusul Seokjin, meninggalkan sesosok mayat dengan darah membasahi wajahnya bersama selembar kartu. Aksara-aksara putih membentuk kata “underground ” tercetak indah di atasnya.

***

Yang lainnya mengikuti pandangan Hyunah, selain Hyunseung yang sejak awal sudah melihat Byunghee dengan tatapan tegang sekaligus bersalah, barangkali karena ia baru menyadari tadi bahwa dulu pernah ada peristiwa itu, peristiwa yang agaknya hanya dirinya dan Byunghee yang tahu. Ia bahkan tidak mengerjap.

Chico….” Byunghee mulai membuka suara. Sejak mendengar kesimpulan Hyunah, ia sadar akan sesuatu. Ada kenangan yang menyeruak dari dalam dirinya, yang menceritakan kepadanya mengenai masa lalunya. Mengingatkannya tentang siapakah dirinya. “… adalah Jung Hana.”

Dan dirinya adalah….

Interfectorem,” bisik Byunghee, nyaris tak terdengar. Semuanya terkesiap. “… Sang Pembunuh adalah aku.”

.

.

.

5th Chapter of Tale

END

.

Jung Byunghee telah menyadari siapa yang dimaksud Quadro. Dia dan Jung Hana.

Surat lain dikirim oleh Quadro, kali ini berisi tantangan, dan lokasi yang akan membangkitkan kenangan nyata antara interfectorem dan chico.

Sementara Dongwoo berhasil menemukan ikan yang selama ini tak pernah menggubris umpannya.

“Sudah kubilang ‘kan, aku tak mau lagi terlibat.”

a story for the bloody memories,

clue

***

Selamat atas comeback Trouble Maker (meski sudah lewat)! o/

Selanjutnya yang akan ketahuan adalah identitas salah seorang pengkhianat. Siapakah dia? Jeng jeng jeng jeng! Silakan ditunggu!

Terima kasih sudah membaca! Dan yang tanya BC apa kabar, Insya Allah proses menyunting beneran kelar besok (Minggu) dan Senin masuk proses proof-reader, yeay! EXISTENTIA ga akan bernasib sama kaya pendahulunya (BC + SG) kok :’>

Mind to review?😀

9 responses to “EXISTENTIA — The Bloody Memories: Chico’s Joke [5th Chapter of Tale]

  1. sebelumnya aku pengen teriak dulu… YA!!!!!
    Akhirnya keluar juga!!! Demi apapun aku lumutan nunggu ini keluar T_T Dan begitu dapet kabar dari email, langsung meluncur ke sini.

    Satu lagi, ini FF bener2 jadi obat penghilang stress akibat UAS yg kebetulan materinya banyak banget ._.

    Ini keren, makin bikin penasaran dan oh God! aku bingung mau bilang apa lagi.
    ditunggu kelanjutannya, pliss jgn lama-lama… ._.v
    ditunggu juga BC-nya, aku kangen sama Ji

    • Aaaa oke akhirnya publish juga setelah menunggu sekian lama /lebay/ tapi ini baru tau huaaa dan parahnya taunya pas lagi sibuk sibuknya aishh /oke abaikan ini curhat gak penting/

      Dari semuanya bener bener penasaran sama masa lalunya hyunseung serius dah.. Kalo G.O udah tau sedikit yang laenya masih burem. Trus syok banget pas tau kalo ternyata nyokapnya hyuna masih idup dikira udah meninggal yaampun. Dan tambah tambah syok pas tau siapa yg ngerencanain ini semua bener bener gak ketebak deh.

      Kyaaa BC udah mau kelar, wajib beli ni wkwk
      Pokoknya ditunggu next chapnya.. Fikha fighting!

  2. AAAAAAAAAAAAAAAA!!! Existentia udah keluar!!!! /telat/ Kenapa begitu menghebohkan!!! Aaaaa!!! Ini seperti belahan bumi yang lain @_@

    Bener-bener penasaran sama pribadi dan latar belakang mereka satu pesatu. Semuanya! Baca fanfic ini, semuanya langsung tergambar (khayal) jelas di otak, seperti adegan film! dan oh wow! Hyuna bisa melihat masa lalunya byunghee juga! Apa yang bakal terjadi antara byunghee dan hana? Apa latar belakang himchan? Penasaraaan!!! Ayo dilanjutin ya kak fikhaaaa~ :3

    Aku suka alur, ide cerita dan cara pembawaannya! ^^ (dan nggak ada typo /krik/)

    Eeeeh? BC mau dipublish lagi? SG juga???? *antusias* *antusias* *antusias* *shock* *wow* masalahnya aku belum pernah baca BC! :((((( dan SG pas bagian seru2nya tiba-tiba hilang😦 heeeeem….

    • KIWI HAIIIIII iya dong di belahan bumi yang lain namanya juga negeri antah-berantah :3 Waduh aku gatau harus ngomong apa selain makasih banyak, beneran :’> iya, katakanlah hyunah punya kemampuan istimewa hehehe Siapppp segera meluncur dalam waktu dekat! Eh BC sama SG sebenernya bukan di-publish, jadi itu dehh hehehe. Sekali lagi terima kasih banyak ya kiwiiii<3{}

  3. huaaaa!!!!!!! Ruu telaaat bangeet baru baca iniii!!!! Udah berapa bulan ini.. Maafkan ruu Fikha TT
    ini… kereeenn, ternyata hyuna juga cerdas seperi bapaknya(?)😄
    wiiih, apakah 3 org yang jadi pengkhianat itu ada di dalam Quadro????? penasaraaan! Tapi karena pertanyaannya duanya lagi dimana, berarti mereka ada di clan yang lain ya?? hanya satu, yaitu…Hana?? Haha ga taulaahh.. belum bisa nebak Ruu. Terus juga, alasannya balas dendam? Apa karena itu sebagian dari mereka hilang ingatan? Mungkin kalau mereka ingat akan jadi pengkhianat juga?? hahaha pemikiran liar😄 Ditunggu yaaaa chap selanjutnyaaaaa! Semangat Fikhaa!! Ruu tunguuu!! Maaf telaaat

  4. maaf sebelumnya. Aku telat banget banget banget banget baca EXISTENTIA ini -_-

    Tapi yang jelas aku masih tetap nunggu ini series kaya aku nunggu BC di terbitin di toko buku terdekat (?) *eh.

    Yang aku pikirin sejauh ini, ayahnya Hyuna pasti bermarga Kim /abaikan/ -_- dan Hyuna berpikir rahasia dari balik Quadro itu sendiri adalah teman-temannya. Apa Hyuna juga berperan penting dalam rahasia masa lalu itu sendiri? Masih belum bisa nebak untuk kedepannya -..-

    Selanjutnya ditunggu Fikha🙂

  5. Halo kak:3

    Okesip jadi gini nih aku nemu fiksi ini pas malem yang besoknya tryout._. dari awal baca judul sampe cover terus summary aku jadi tertarik dan akhirnya berharap 4 hari mengesankan bakal cepet berlalu :v *curcol

    Dan akhirnya bisa baca ngebut deh sampe chapt 6 yang di IFK. Bagus ceritanya sampe lafflafflaff kak’-‘b tulisan kakak bikin aku kaya bener bener ada di tempat itu tapi tak terlihat oleh mereka :”

    Cuma saran aja nih ya kak:3 Kenapa enggak coba dibukukan kan? aku yakin bakalan banyak yang tertarik juga. Tapi cuma saran aja sih kak buat di bukuin dan aku bener-bener ngarep fiksi ini bakal dibukuin :v

    segitu aja ya kak makasih/? Keep writing and Good luck kakak 9’-‘)9

    Athens♡

  6. Pingback: EXISTENTIA — The Bloody Memories: Clue [6th] | Cappulatte·

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s