EXISTENTIA — The Bloody Memories: Clue [6th]

 

P.S: “HAH! EXISTENTIA MASIH ADA? BUKANNYA UDAH STOP?” IYA! Alhamdulillah masih ada dan akan berlanjut! Enggak ada lagi bingang-bingung  karena yang nulis sudah punya gambaran plot keseluruhan. Kalau kalian masih sudi untuk membaca cerita ini saya sudah senang banget ;_;

++

EXISTENTIA

Roda gigi mulai bergerak.

Manakala galur takdir itu saling berkejaran dan akhirnya bertabrakan, berpadu dalam harmonisasi hitam dan putih yang dengan lihainya menyelusup dalam lika-liku hidup manusia,

Tak ada yang bisa menolak ataupun menghindar.

.

.

Atau,

mungkin saja bisa?

existentia

Casts belong to Allah SWT. Story © Fikha Adelia : kihyukha

existentia5-1

2013-2015 project. do not plagiarize, copycat, or repost without my permission.

Kim Hyunah (Hyuna) [4Minute] ♦ Jang Hyunseung [B2ST] ♦ Yoon Doojoon [B2ST] ♦ Jung Ilhoon [BtoB] ♦ Jung Byunghee (G.O) [MBLAQ] ♦ Jang Dongwoo [INFINITE] ♦ Yang Yoseob [B2ST] ♦ Yong Junhyung [B2ST] ♦ Jung Jinyoung [B1A4] ♦ Yang Seungho [MBLAQ] ♦ Yoon Mi Rae

and

Kim Himchan [B.A.P] ♠ Kim Jonghyo (J-Hyo) [LC9] ♠  Yoo Youngjae [B.A.P] ♠ Kim Seokjin (Jin) [BTS] ♠ Cha Hakyeon (N) [VIXX] ♠ Jung Hana [SECRET]

previous:

| The Beginning: PROLOGUE | 1st [Filia’s Destiny: EXPLICATIO] | 2nd [Ignition: BATTLE] | 3rd [Ignition: CONFUSE] | 4th [Ignition: THE KING’S ORDER] | 5th [The Bloody Memories: CHICO’S JOKE] |

.

Henolia

Negara bersistem monarki yang terletak di dekat ekuator. Luasnya sekitar 8400km2, merupakan negara kecil dengan tingkat kesejahteraan tinggi, di mana produktivitas industri, pertanian, perikanan, dan pertambangannya seimbang. Ibukotanya bernama Henolia, sama seperti nama negara.

Dengan segala keuntungan dan harmonisasi yang ada di Henolia tidak membuat negara ini aman sepenuhnya. Letak Henolia juga dekat dengan Tartaron, sebuah tempat yang dulunya pulau tak berpenghuni, dan digunakan sebagai ‘markas’ oleh para penjahat kelas dunia.

Raja Henolia dan para Ilmuwannya menciptakan senjata untuk melindungi Henolia dari teroris, dan akhirnya menghasilkan delapan anak dengan kekuatan luar biasa, yang dimasukkan ke dalam Kelompok Rahasia dan diasingkan di sebuah kastel tua. Tetapi ada kendala, tiga di antaranya membelot, dan belum diketahui bagaimana nasib mereka.

Masih banyak rahasia yang tersimpan pada anak-anak itu, bahkan yang mereka tidak mengetahuinya. Rahasia yang utama disimpan oleh seorang Ilmuwan yang merupakan unsur utama penelitian tersebut, namun ia meninggal dunia dan belum diketahui apakah ia meninggalkan catatan rahasianya atau tidak. Yang tersisa darinya hanyalah istri dan seorang putri, di mana istrinya diculik dan putrinya sekarang berada bersama anak-anak Kelompok Rahasia, ikut berpartisipasi menguak misteri di balik penelitian dan kudeta yang diam-diam terjadi di dalam negara kecil tersebut.

Selama lima belas tahun terakhir, Henolia selalu berada dalam keadaan baik, tetapi tiba-tiba sekelompok penjahat muda muncul dan berniat menghancurkan negara itu, karena suatu dendam yang tak pernah terungkap oleh orang luar.

Tartaron

Terletak di Barat Daya Henolia. Julukan lainnya untuk Tartaron adalah Pulau Buangan. Di sini didirikan penjara untuk para penjahat kelas dunia, dan di pedalamannya terdapat markas kepunyaan beberapa organisasi dan kelompok kriminal. Keberadaan orang-orang ini membuat Henolia harus selalu dalam posisi siaga. Selain Delapan Anak dalam Kelompok Rahasia, Henolia juga memiliki lapisan militer yang menjaga Henolia luar-dalam, terlebih dari para Penjahat Tartaron. Namun gebrakan besar diciptakan oleh Quadro, yang mampu menyelundupkan kejahatannya di sudut-sudut kota-kota Henolia.

.

Character(s)


cast01

cast02-now

Silakan diklik untuk ukuran sesungguhnya!

.

.

.

6th chapter of tale

happy watching!

.

.

.

the bloody memories,

Clue

.

.

.

existentia

“Dengar, semuanya! Aku membuka lowongan untuk satu tugas yang begitu menyenangkan! Kalian bisa mengakses tempat-tempat di Mansion ini tanpa perlu dipertanyakan alasannya. Siapa yang mau?”

“Tempat apa saja misalnya?”

“Oh, bisa apa saja. Ruang Senjata, Gudang Peta Rencana, Laboratoriumku….” Kim Himchan menyeringai. “… dan puncak Menara Barat.”

.

.

Cha Hakyeon berdiri di depan pintu besi raksasa, satu-satunya yang ada di puncak Menara Barat, salah satu bagian dari Mansion lama yang mereka ambil sebagai markas. Hakyeon sebetulnya hanya tertarik untuk pergi ke puncak Menara Barat, namun dia tak punya alasan bagus untuk pergi ke sana jika tidak mengambil lowongan pekerjaan yang ditawarkan bosnya Himchan—transporter. Syukurlah, yang lain sepertinya oke-oke saja menyerahkan pekerjaan itu pada Hakyeon—malahan mereka menolak mentah-mentah karena kesannya pekerjaan ini seperti kurir, dan mengganggu kegiatan mereka yang padat. Jonghyo memang kelihatannya sibuk berlatih, tetapi dari yang Hakyeon perhatikan, yang lain hanya bermain-main saja. Seokjin tidur sepanjang hari. Hana tidak bisa lepas dari makan camilan dan minum. Youngjae tampaknya sibuk, tapi kebanyakan yang dia lakukan adalah membongkar alat elektronik yang ada di mansion, atau merakit bom kecil-kecilan. Kadangkala dia membuat ledakan dan letupan mini di ruangan. Himchan sendiri hanya bermain catur, tapi Hakyeon ragu kalau tidak ada hal lain yang dipikirkan Himchan. Pria itu pasti sedang menjalin berbagai rencana dan informasi di dalam kepalanya selama dia menjalankan strategi permainan caturnya—sejak mengenalnya beberapa tahun yang lalu, Hakyeon tak bisa menebak seperti apa Himchan itu. Orang akan menganggap dia pria aneh yang ramah dan senang bicara, tetapi Hakyeon tidak pernah menganggap Himchan sepenuhnya seperti itu—sebagian besar karena memang apa yang kini Hakyeon lakukan adalah bagian dari rencana licik Himchan.

Hakyeon mengetuk pintu tiga kali, namun lantaran tidak mendapat jawaban, ia rasa dirinya diperbolehkan masuk ke dalam. Himchan bilang orang itu takkan terganggu selama Hakyeon tidak menyentuh tabung-tabung hijau yang bertebaran di sepenjuru ruangan. Hakyeon membuka pintunya, menyebabkan cahaya hijau suram menyeruak keluar dari kegelapan. Dia menelan ludah. Kakinya melangkah masuk dengan waspada, takut menginjak sesuatu.

“Putri?” Suara Hakyeon bergema, kendatipun sedikit teredam. “Aku membawa pesananmu—otak lagi, kurasa. Youngjae bilang volumenya—”

Hakyeon kontan bergeming. Sosok gelap di sudut ruangan bergerak mendekatinya.

Dia tidak bisa tidak terkesima.

Ah, cantiknya.

Berapa kali pun dia bertemu sang Putri, Putri itu seolah punya beragam cara untuk membuatnya terpana, walau jelas sang Putri tidak melakukan apa pun dengan penampilannya. Putri itu memiliki kulit putih yang pucat, rambut hitam lurus yang panjang, manik mata cokelat yang berkilau ceria, senyum manis nan lembut, dan keanggunan khas seorang Putri. Dia hanya mengenakan gaun tidur, jas putih laboratorium yang dipinjamkan Himchan, dan bertelanjang kaki, namun keindahannya membuat Hakyeon jatuh hati. Dengan keseharianmu yang cuma diisi oleh wanita sekasar Hana, wanita mana pun yang lebih lembut pasti bisa membuatmu terperangah, begitu kata Jonghyo. Tapi Hakyeon tahu, bukan karena itu. Putri punya sesuatu yang berbeda. Hakyeon tidak begitu peduli pada kecantikan, tetapi dia tak bisa mengabaikan kecerdasan seorang perempuan.

Putri mengangsurkan tangannya, menerima kotak yang dibawa Hakyeon. Tanpa memandang balik tatapan Hakyeon, dia menunduk dan tersenyum kecil, tampak malu.

“Terima kasih,” katanya lirih, kemudian berjalan kembali ke balik tabung-tabung hijau raksasa.

“Eh, iya, sama-sama.” Hakyeon memandang takjub ketika punggung sang Putri menjauh darinya. Rasa penasaran bercokol di benak Hakyeon, membuatnya memberanikan diri untuk mengambil langkah. Hakyeon bersijengket menuju salah satu tabung raksasa dan mengintip, menemukan sang Putri berdiri di depan barisan tabung-tabung dengan cairan ungu, membalikkan kotak dan membuat otak yang berada di dalam kotak meluncur masuk ke dalam salah satu tabung. Total ada lima tabung yang sudah terisi. Putri itu berlutut di depan tabung otak yang baru saja didapatinya, mengamati otak itu seolah sang Putri dapat menilik ke dalam sel-sel otak hanya dengan mata telanjang. Jemarinya menelusuri permukaan tabung kaca.

“Sebentar lagi…,” ujarnya. “Sebentar lagi, kita bisa bersama-sama lagi… biar kita beri pelajaran pada pembunuhmu….”

***

Byunghee merasa perutnya seolah terpelintir.

Kendatipun ia berpikir dirinya takkan merasa lebih baik setelah memuntahkan segala aib masa lalunya, namun ia tetap melakukannya lantaran teman-temannya berhak tahu. Selama ia bercerita, Hyunseung mengamatinya baik-baik seakan-akan ikut membayar kesalahannya, sedangkan Hyunah sibuk menelaahnya. Tatapan gadis itu kosong, namun seolah sanggup menguliti Byunghee. Bahkan Byunghee tidak akan heran lagi kalau Hyunah sudah tahu gambaran masa lalunya, entah dengan cara apa. Gadis itu punya hal-hal yang sanggup mengejutkan siapapun.

Setelah selesai bercerita, Byunghee menghela napas. Ia berbicara dengan gaya khasnya—penuh rahasia dan banyak makna tersirat. Kali ini lebih karena ia bersikap defensif, bukan karena memang seperti itulah ia.

Doojoon, Dongwoo, dan Ilhoon sementara itu tetap diam, berusaha mencerna tiap-tiap kalimat yang meluncur keluar dari mulut Byunghee tadi. Pengakuan bahwa salah seorang teman kita adalah pembunuh memang sangatlah mencengangkan, tetapi jika mengatakannya di depan para pembunuh pula, itu sudah seperti sebuah cerita yang hanya menaikkan derajat Byunghee sebagai seorang pembunuh senior. Dan tak ada yang pantas dibanggakan dari itu.

“Berarti… ah, aku tak tahu harus bilang apa,” gumam Ilhoon gusar. Hyunseung mendelik ke arahnya dengan tatapan kalau-begitu-jangan-bicara.

“Aku mau tanya,” Dongwoo meninju udara, cara mengangkat tangan ala Dongwoo. Ia terlihat enggan melanjutkan, namun karena sudah terlanjur, ia buru-buru berkata, “kenapa… kau… maaf, membunuh…?”

“Ayahnya berasal dari Tartaron Utara,” Hyunseung lekas-lekas menjelaskan. Ia merasa lubang di hati Byunghee akan semakin kompong bilamana Byunghee berkisah lebih banyak lagi dari mulutnya sendiri. “Secara sembunyi-sembunyi ayah Byunghee bekerja untuk para penjahat yang masih bersembunyi di Tartaron. Dia berdusta kepada istrinya mengenai pekerjaan dan latar belakangnya, sehingga ketika ibu Byunghee meninggal dalam kecelakaan saat Byunghee empat belas tahun, beliau tetap tidak tahu apa-apa. Tepat pada hari pemakaman ibunya, tabir terkuak. Byunghee tahu identitas ayahnya. Ayahnya hendak membunuhnya, namun Byunghee… seperti yang kalian tahu.”

Hyunah tidak tega melihat Byunghee memendam kefrustrasiannya, tapi tidak ada kalimat tepat yang bisa digunakan untuk menghibur. Tenang saja, kau tidak seperti ayahmu! Kau orang baik, aku tahu! adalah sebuah kalimat yang tidak lebih dari untaian aksara memuakkan. Pada akhirnya, mereka semua tahu bahwa masing-masing dari mereka, tidak hanya Byunghee, adalah pembunuh.

“Kembali pada tantangan ini,” Hyunseung buru-buru mengubah topik, “boleh saja kalau kita mengambil duel sebagai kemungkinan terbesar. Nah, pertanyaannya, kapan dan di mana duel diselenggarakan?”

Doojoon agaknya sepakat dengan keputusan Hyunseung untuk membahas hal lain, jadi ia bergegas menimpali, “Soal itu kita masih harus mencari tahu.”

“Kurasa lebih baik kita ti—”

“SEEEEELAAAAAMAAAT SOOOO—”

Hyunseung kontan menarik pistol dari saku jaketnya dan mengarahkannya ke luar jendela. Tanpa ditanya pun semua sudah hafal siapa pembuat onar itu. Yang Yoseob mengangkat tangannya, sedangkan Yong Junhyung berusaha membuatnya tetap melayang di udara.

“Sekali lagi kau menjerit-jerit begitu, kujatuhkan kau ke tebing curam,” ancam Hyunseung, sambil menyimpan kembali pistolnya. Dia membuka jendela dengan kasar, membiarkan Yoseob dan Junhyung melayang masuk. Dengan mulus, Junhyung mendarat dan menutup sayap besi di punggungnya, sementara ia menjatuhkan Yoseob ke lantai.

“Pesan dari Raja!” seru Yoseob. Dia melompat untuk bangun, anehnya ia terlihat lebih lesu dari biasanya. Kali ini Yoseob tidak mengeluarkan segulung perkamen, tapi membuat dirinya dilingkupi sebuah gelembung tembus pandang yang lekas mengangkatnya ke udara. Hyunah tercengang melihat shiren kucing Yoseob mendadak melayang-layang.

Untuk Jang Hyunseung dan anak-anak Kelompok Rahasia,” Yoseob membuka mulut, namun suara yang keluar darinya bukan suaranya, tetapi suara Raja Seungho. Suara itu bergema, terdengar jauh lebih dalam dan penuh kewaspadaan. “Maaf untuk kedatangan dua utusanku yang begitu tiba-tiba, tapi ini urgensi. Quadro telah membunuh salah satu ilmuwan Henolia dan meninggalkan sebuah kartu yang kurasa diperuntukkan bagi kalian. Datanglah ke istana secepat yang kalian bisa, Junhyung dan Yoseob akan mengawal kalian. Kuharap kalian sudah memecahkan arti dari tantangan Quadro yang kuberikan sebelumnya. Terima kasih, selamat siang.”

Gelembung yang melingkupi Yoseob pecah dan lenyap. Yoseob berdiri di atas kakinya dengan segera, lantas tersenyum kepada semua. Hyunah baru sadar ada kantong hitam janggal menghiasi mata Yoseob, yang biasanya selalu berseri-seri.

“Jalur udara memang agak berisiko lantaran turun hujan, tapi tak ada yang lebih cepat dari ini. Semuanya silakan naik ke perahu.”

Dahi Ilhoon berkerut bingung. “Perahu?”

Yoseob menunjuk ke luar jendela, dan serta-merta tiga buah perahu dayung dari gelembung terbentuk di tengah udara. Masing-masing perahu bisa memuat tiga orang.

“Kenapa kau tidak pakai ini saja saat ke sini?” tanya Doojoon sangsi, “maksudku—kau tak perlu dibawa-bawa Junhyung. Dan ini cukup keren,” lanjutnya. Hanya Doojoon saja yang mau berbaik hati tidak menggunakan kata ‘menyusahkan’ alih-alih ‘dibawa-bawa’.

“Dia tidak bisa,” sergah Junhyung, yang membuat semuanya kaget karena Junhyung-lah yang memilih untuk menjawab. “Membuat gelembung ini membutuhkan banyak energi. Selanjutnya akan kujelaskan di perjalanan. Barangkali kalian bisa lebih mengerti dengan melihat sendiri. Jangan ajak dia bicara,” imbuhnya sembari menepuk pundak Yoseob. Dia dan Yoseob naik terlebih dahulu ke perahu yang berbeda, kemudian melirik ke belakang, menyuruh yang lain-lainnya segera melakukan hal yang sama.

“Yah, tunggu apa lagi?” tanya Hyunseung. Dia naik ke perahu yang belum terisi dan berselonjor dengan angkuh di geladak, sementara Doojoon duduk di depannya, tampaknya tidak terganggu dengan kaki panjang Hyunseung yang membatasi ruangnya. Byunghee dan Ilhoon memilih di belakang Junhyung, jadi mau tak mau Hyunah duduk di belakang Yoseob bersama Dongwoo. Shiren kucing jingga Yoseob bersinar temara, begitu bercahaya hingga Hyunah merasa kegelapan di dalam lingkup pandangannya nyaris sirna. Ada kekuatan yang kuat mengalir di dalam diri Yoseob, laksana magnet; menciptakan tenaga penarik sekaligus membuat bulu roma meremang. Dia tampak begitu diam sehingga Hyunah tak bisa percaya dia bukan Yoseob palsu atau apa, karena Yoseob selalu meremet kapan pun ada kesempatan.

Dengan satu kibasan tangan, ketiga perahu berlayar seolah berada di atas permukaan laut.

Memutuskan untuk tidak lagi memusingkan Yoseob, Hyunah memandangi langit. Kendatipun ia tak tahu seperti apa langit ketika berwarna biru tua, kuning, jingga, biru muda, ataupun merah darah seperti kata ibunya, tapi ia bisa membayangkan bagaimana langit dengan perumpamaan dari ibunya. Kata ibunya, langit merengkuh bumi tanpa berani menyentuhnya, menjaga bumi dari apa pun yang berada di luar sana. Dia tidak ingin bersatu padu dengan bumi. Dia tahu akan ada kerusakan dan ketidakseimbangan bilamana dirinya melebur dengan sesuatu yang dijaganya. Dia hanya diam di sana, selama berabad-abad. Sesekali ia sedih karena kerusakan yang terjadi di bumi, makanya ia menangis. Sesekali dia marah, makanya dia menghasilkan guntur. Tapi bagaimanapun, langit selalu kembali cerah. Langit akan tersenyum lagi.

Hyunah mengalihkan pandangan, menelusuri shirenshiren yang kini tak asing baginya. Dia berhenti pada shiren bunga matahari, yang kebetulan duduk tak jauh darinya. Kedua perahu yang dipandu Yoseob dan Junhyung kini bersebelahan, sehingga Hyunah bisa berbisik kepada si pemilik shiren itu.

“Apakah matahari adalah pelindungmu?”

Byunghee sontak memandanginya. Pemuda itu tidak bertanya. Dia paham maksudnya.

“Kalau itu secara harfiah… yah, Penciptanya adalah pelindungku. Tuhan adalah pelindungku.” Byunghee mengambil napas. Suaranya terdengar datar dan tenang, namun ada sesuatu yang tak bisa digambarkan terselip di dalamnya. “Tapi kalau maksudmu maknanya lain… aku tidak yakin aku masih pantas untuk dilindungi olehnya.”

Hati Hyunah mencelus. Dari dulu, ia selalu bungkam setiap ibunya menceritakan kisah mengenai langit dan bumi. Langit dicemari oleh manusia, makhluk-makhluk yang dijaga oleh bumi. Langit dilubangi. Langit penuh dengan pesawat-pesawat bersenjata yang menghancurkan bumi, menghanguskan apa yang telah dilindungi bumi hanya dalam beberapa jam saja. Itu menyakitkan. Namun suara hampa Byunghee tak Hyunah sangka jauh lebih menyakitkan dibanding bayangannya tentang kerusakan.

“Jangan cemas,” lanjut Byunghee, “bumi ini, kendati banyak cacatnya, selalu ada harapan. Dan, betapapun hancurnya bumi, aku tetap mencintainya.”

Dan itu bukan tentang bumi, Hyunah meringis. Kau berbicara tentang hal lain.

Byunghee tersenyum sekilas sebelum mengalihkan perhatian pada Junhyung di depannya. Dia menusuk-nusuk punggung pria itu dengan pecahan kaca tumpul.

“Hei, jelaskan yang tadi,” pintanya, dengan suara melamunnya yang biasa.

“Apa? Ah, maaf. Bagaimana memulainya, ya… oh ya, kalian lihat istana?” Junhyung menunjuk bangunan istana yang dikelilingi kabut sehabis hujan. “Adakah yang samar-samar terlihat di bagian luarnya?”

Hyunah-lah yang kali pertama sadar. Bagaimanapun juga, melihat yang sulit dilihat adalah keahliannya. Di dalam penglihatannya, hal yang dimaksud Junhyung tampak begitu jelas: sebuah dinding cembung seperti mangkuk terbalik. Dan dia bisa melihat ada sesuatu terbentang di udara: seuntai benang tipis yang menghubungkan benda itu dengan… Yoseob.

“Ada dinding bercahaya melingkupi istana.”

Yang lain perlu memicing untuk bisa melihat dinding tersebut, yang ditutupi kabut tipis sekaligus tersiram cahaya mentari dari balik awan sehingga semakin sukar terlihat. Memang, ada dinding raksasa yang berkilauan di sana, dengan biasan warna pelangi; fenomena seusai hujan.

Hyunah kembali membuka suara, “Dan dinding itu… Yoseob yang membuatnya?”

Semuanya terperanjat.

“Ya. Itu seperti tembok pertahanan yang melindungi istana dari serangan. Gelembung yang bahkan tak bisa dihancurkan bola meriam.” Junhyung memperjelas.

Tidak ada yang berkomentar. Yang jelas, satu yang bisa mereka simpulkan, jangan pernah menganggap remeh pelayan pribadi Raja bagaimanapun tampang dan kelakuan mereka.

“Tapi—tapi—itu tidak berguna lagi…!” isak Yoseob. Entah sejak kapan, tapi air mata bercucuran dari manik cokelatnya yang jernih. Hyunah dan Dongwoo ternganga, tidak yakin harus melakukan apa untuk menghentikan tangis Yoseob. “Aku—sudah gagal—dua kali… Tuan Putri diculik dan sekarang salah seorang ilmuwan mati… sudah jelas gelembungku tak mampu lagi melindungi istana… orang luar begitu mudah masuk—uh….”

“Tenang, Yoseob,” hibur Doojoon.

“Benar. Gelembungmu sudah bertahun-tahun melindungi istana. Pasti ada yang salah dari orang luar itu,” tambah Junhyung.

“TIDAK, DINDINGKU YANG SALAH!” Yoseob mendadak menjerit tersedu-sedu. “AKU YANG SALAH TIDAK MEMPERKETAT PENJAGAAN SELAGI—”

“Kalau begitu penjaga luar juga bersalah karena tidak waspada,” tukas Hyunseung jengkel, entah karena dia marah pada orang luar yang bisa menyelusup ke istana atau karena teriakan Yoseob mengganggunya. “Sekarang diamlah. Kita harus segera sampai.”

Yoseob mengerjap-ngerjap dengan mata yang masih basah. Dia mengangguk patuh, lalu mengayunkan kedua tangannya, membuat tiga perahu berlayar semakin cepat.

***

Cha Hakyeon menyelusuri koridor bata yang temaram, cahaya mentari melayur tubuhnya yang membelakangi jendela koridor yang berhadapan dengan sebuah pintu baja setinggi tiga meter yang dibiarkan terbuka hingga membuat celah. Hakyeon mencoba mendorong pintu—bobotnya hampir menembus batas satu ton, massa yang hanya bisa ditanggulangi Jung Hana. Ada retakan di bagian kenop yang terlepas, dan Hakyeon yakin Kim Jonghyo sempat merusakkan bagian pintu itu sebelum Hana mendorong pintu hingga terbuka. Dia melewati celah, menemukan sebuah ruangan yang akhir-akhir ini sering dipakai untuk berkumpul oleh rekan-rekannya. Ruangan itu berlangit-langit tinggi dan terang. Temboknya dicat kuning muda dan tiap-tiap sudutnya terdapat dinding kayu berpelitur. Ada dua sofa merah berhadap-hadapan di bawah kandelar, lengkap dengan meja panjang dari kayu jati. Meja catur dan sepasang kursi ditempatkan di depan tiga buah jendela sepanjang langit-langit, dan gorden dibuka lebar-lebar, menampakkan pemandangan kota Henolia dari puncak bukit.

Prang!

Hakyeon sontak mengelak. Sebuah vas bunga baru saja meluncur keluar pintu, melewati telinga kiri Hakyeon dengan bunyi desingan. Hakyeon mengalihkan pandangan, mendapati Jung Hanalah yang baru saja menerbangkan benda berbahaya tadi, yang nyaris membuat wajahnya cacat. Hana membanting gelas kosongnya ke meja. Wajahnya memerah akibat mabuk—Memangnya soda bisa bikin mabukbatin Hakyeon sangsi. Hana bergumam-gumam tidak jelas, sementara Hakyeon perlahan-lahan mengambil tempat di sofa berlengan di sebelah sofa yang diduduki Hana. Di sofa seberang, Kim Seokjin tengah tertidur pulas, namun entah bagaimana Hana tidak menggubris pemuda itu.

“Kenapa harus aku yang pertama, ha? Kenapa tidak kau saja, bocah hitam!” Hana menuding Hakyeon.

“Aduh, rasis! Dan apanya yang bocah? Kalau mau protes jangan padaku!” keluh Hakyeon. Hakyeon berniat untuk bersantai-santai di sini sebelum harus mengerjakan tugas berat lainnya, tetapi rupanya dia tidak mendapat sambutan baik. “Apa kau takut untuk maju duluan? Kau menggelikan, ah.”

“Siapa yang kaubilang menggelikan, dasar bocah kasmaran yang bertepuk sebelah tangan!” Hana melempari Hakyeon dengan bantal. Mendengar makian itu membuat Himchan terkikik geli.

Pada akhirnya, Hakyeon menyerah dan melarikan diri ke luar ruangan, bergabung dengan Jonghyo yang masih bermain dengan serentetan mainannya di halaman belakang. Samar-samar terdengar bunyi ledakan sesuatu yang keluar dari moncong pistol, namun bukan peluru.

Hana menghardik lagi. “Pengecut kau, Cha Hakyeon! Lebih baik aku punya dokter tampan berambut merah itu sebagai penyembuhku daripada kau!”

“Hana, berisik,” protes Youngjae kalem, yang kini sedang melancarkan serangan pada bidak milik Himchan yang bermain catur dengannya.

“Tutup mulut, maniak mesin berengsek! Seharusnya aku tahu kau salah seorang otaknya!” Hana melempari Youngjae dengan gelas kayunya, tetapi Youngjae sukses menghindar. Gelas memecahkan kaca dan meluncur mulus ke luar jendela. “Awas kau, Yoo Youngjae! Kau tahu aku tidak mau bertemu lagi dengannya, tapi kau malah—kubunuh kau—”

“Oke, oke, lebih baik kau tidur dulu, sepupu garang.” Youngjae meninggalkan caturnya sebentar untuk menggiring Hana ke kamarnya. Terlalu banyak minum membuat Hana yang memang galak menjadi semakin galak, dan tak ada yang bagus dari wanita pemarah menghancurkan seisi ruangan dengan botol dan gelas minum.

Seusai keduanya raib di balik pintu, Kim Himchan tergelak puas.

“Tidak berubah, temperamen Hana. Selalu meledak-ledak,” ujarnya.

“Karena itu Anda memasangkan dua bom pada satu tempat?”

Himchan menoleh, menemukan Seokjin telah terbangun. Mata hitamnya dan tatapannya yang lurus memandang Himchan seolah tengah menilainya. Sejak awal, Seokjin selalu menjadi yang paling segan pada Himchan. Dia sopan, tetapi menjadi seenaknya jika sudah membidik target dengan JIN01. Tak diduga-duga, dia juga orang yang selalu mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya sejujur-jujurnya.

“Sudah bangun, Jin?”

“Omelan Hana hari ini luar biasa.”

“Yah sampai-sampai bisa membuatmu terbangun, tentu saja luar biasa.” Himchan terkekeh. Dia menjalankan pionnya; pion berwarna hitam. “Ngomong-ngomong, jawaban dari pertanyaanmu: Ya. Itu salah satu alasan, tapi bukan yang utama.”

“Ada kemungkinan ledakan tidak berlangsung lama,” Seokjin menyimpulkan. Dia memain-mainkan ujung bantalnya. “Keduanya terkait. Mudah meledak, tapi mudah redup juga. Kurasa interfectorem tidak akan sepakat.”

“Itu taruhannya.”

“Kalau gagal?”

“Hmm….” Himchan memindahkan satu lagi pionnya, menjatuhkan pion putih Youngjae. “Lihat saja nanti.”

Seokjin mengernyit, namun dia diam saja.

“Hei, Jin?”

“Ya?”

“Jangan bilang Youngjae aku sempat bermain sendiri. Untunglah matanya cuma teliti jika berhadapan dengan senjata.”

“Aku—”

“Ah, sekakmat!”

Seokjin memandangi Himchan beberapa lama sebelum memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Dia tidak peduli jika nantinya Youngjae kalah karena ketidaksadarannya atau Himchan diamuk oleh pemuda itu karena sudah menghancurkan strateginya, yang pasti Seokjin ingin tenaganya pulih betul malam nanti.

Operasi berjalan pukul dua belas tengah malam.

***

Yang Seungho berjalan melingkungi ruang laboratorium utama, memeriksa dan mengamati bagian-bagian yang menurutnya pantas diteliti. Jenazah di tengah ruangan telah ditutupi oleh selembar kain putih, hanya saja masih tetap di sana, menanti para tamu. Jari-jemari Seungho mengetuk-ngetuk salah satu meja dengan gelisah. Kalimat-kalimat yang diucapkan salah seorang ilmuwannya ia dengarkan dengan baik, hanya saja perhatiannya lebih terarah pada pintu ruang laboratorium utama.

Tak lama, pintu itu terayun, memunculkan seorang pria berambut cokelat dan segerombol orang lainnya di belakang. Yong Junhyung mempersilakan para tamu untuk masuk, di mana Jang Hyunseung adalah yang paling pertama mengambil langkah menuju insan tak berdaya yang tergolek mati di atas lantai.

“Ah, kalian datang. Maaf karena harus bolak-balik. Sudah waktunya,” ujar Seungho. Entah bagaimana, dalam beberapa jam saja ia terlihat lebih tua beberapa tahun. Ia mengambil plastik berisi selembar kartu di atas meja dan menyerahkan plastik itu dengan tangannya yang berlapis sarung tangan. “Hadiah untuk kalian.”

Hyunseung mengambil kertas itu dan tertegun melihat kata pertama yang tertera.

underground

“Ada kata underground di kartu ini. Jalur bawah tanah….”

“Oh, maksudnya bawah tanah itu?” Doojoon mengintip dari balik pundak Hyunseung. Hyunseung membalas pernyataannya dengan mengernyitkan alis. “Itu lho, jalur bawah tanah untuk kereta dagang yang rencananya mau dibangun saat masa pemerintahan raja sebelumnya sebagai hadiah ulang tahun untuk kakak Raja Seungho, yang sudah menyempatkan membuat cetak biru ketika ia masih terbaring di ranjang dan tak mampu bangun. Proyeknya dihentikan karena ada sedikit masalah yang diterima Henolia akibat ulah para penjahat Tartaron.”

“Masuk akal,” Hyunseung menyimpulkan.

“Eh… kita dapat kartu lagi? Apa ada tulisan lain?” tanya Hyunah. Dia memajukan tubuhnya sedikit, meskipun ia tahu pada akhirnya ia tak bisa membaca apa yang ada di sana.

“Tunggu, kartu ini punya lapisan lagi….”

Hyunseung membuka lapisan tipis dengan kukunya yang panjang. Kartu itu seperti buku, hanya saja lembarnya begitu tipis sehingga sulit ditemukan bagian selanjutnya. Di lapisan kedua, terlihat tulisan kecil-kecil dan tipis yang ditulis menggunakan pena runcing dan tinta putih di atas kertas hitam:

Kami mencari kunci untuk gembok masa lampau

Alih-alih menenun memoar tiada rampung,

Bayang-bayang ‘dia’lah yang kami pilih

Tanpa pengulas, hari-hari di masa silam hanyalah mimpi, realitas nan elusif

Bukankah menyedihkan bila kita dibiarkan terus terlelap?

Acap kali kami memburu jawaban dari pencipta perkara, namun segala-galanya hanyalah dusta belaka

Sudahkah kalian membuka mata?

Kami heran lantaran waktu pun sanggup dimanipulasi

Perkumpulan khalayak dagang dalam kegelapan malam, serangan lain akan dicetuskan, simbol terpuncak

Pernahkah bertanya, ada apa, bagaimana, dan mengapa?

Kami menyediakan pilihan: Menggali makam bersama kami atau jantung kalian direnggut oleh tangan kami?

Temukan underground sebelum simbol awal dan sebelumnya

Jangan lari,

“… atau harta Kerajaan kalian yang lain akan musnah,” Ilhoon mengakhiri kalimat-kalimat panjang itu dengan mulut terbuka. Tanpa dia menuntaskan pun, semuanya sudah menahan napas.

Menggali makam bersama kami… astaga, apakah mereka mengincar kematian? Mereka ingin mati bersama kita?” tanya Doojoon tak percaya.

“Harta Kerajaan yang lain? Bung, aku bahkan tak tahu itu apa!” seru Ilhoon.

Hyunseung menghela napas frustrasi. Dia membaca ulang sekali lagi kartu itu, dan sekejap ia tampak luar biasa lelah. “Mereka ingin mencari petunjuk yang dapat membuka masa lalu yang masih terkubur. Mereka menggunakan seseorang untuk mempercepat proses itu… dan akan ada korban lagi jika kita tidak ke sana pada simbol awal dan sebelumnya… simbol awal… simbol nomor satu? Sebelumnya… nol? Satu dan nol… berarti jam sepuluh. Apa ada sesuatu yang terjadi di masa lalu di Henolia?”

“Tidak ada peristiwa yang berpengaruh buruk atau berdampak negatif. Hanya jumlah penelitian yang banyak karena ayah gadis itu”—Raja Seungho melirik Hyunah—”sedang gencar-gencarnya melakukan eksperimen demi menghidupkan putri semata wayangnya, juga penelitian terhadap kalian semua.”

Hyunseung menggeram. “Baiklah, saya tahu mengenai penelitian terhadap kami. Namun saya rasa Anda masih berutang cerita mengenai eksperimen menghidupkan manusia kembali yang kedengarannya aneh itu. Saya hanya tahu segelintir kisah dari beberapa ilmuwan, versi yang pernah saya ceritakan kepada putri JK, karena saya tak tahu bagaimana menjelaskan situasinya kepada gadis ini. Saya rasa itu pun masih terlalu dilebih-lebihkan.”

Mendengar kata JK, Hyunah langsung merasa ada seseorang yang menendang ulu hatinya.

JK.

Jung Kwon.

Inisial ayahnya.

“Tolong ingatkan aku nanti,” ujar Raja Seungho, terdengar letih sekali. Dia melemparkan perhatiannya kepada staf-staf ilmuwannya yang tersebar di seluruh ruangan, sibuk mencari sidik jari ataupun petunjuk lain yang sekiranya ditinggalkan. “Tolong jangan sentuh mayat sampai petugas datang—Junhyung, aku perlu laporan pencarian dan data-data para penjaga—ya, peta itu juga, kemarikan.”

Junhyung segera keluar ruangan dan kembali lagi sambil membawa sebuah peta besar. Peta itu dihamparkannya di atas meja panjang di tengah ruangan, bekas di mana barang-barang penelitian bergeletakan. Peta negara Henolia terpampang pada permukaan peta tua itu, yang terbuat dari kulit binatang. Raja Seungho melangkah mendekati meja panjang dan mengambil beberapa pion hitam dan merah dari sebuah peti putih mungil yang ditaruh Junhyung di sebelah peta. Hyunseung dan yang lain beringsut mengelilingi meja panjang.

“Ini titik-titik di mana terdapat stasiun-stasiun untuk jalur bawah tanah tersebut,” kata sang Raja, sembari meletakkan pion-pion hitam di berbagai tempat di sekitar Henolia. Kebanyakan berada di perbatasan negara, “dan di beberapa tempat sudah saling terhubung. Di Stasiun Dorla dan satu yang di dekat Guran pernah digunakan para buronan dari Tartaron untuk penyelundupan. Semua wilayah dijaga ketat sekarang,” dia meletakkan pion merah di tempat-tempat yang dimaksudkannya, “Underground berada di bawah satu negara. Namun kerusakan di satu titik takkan berdampak ke semuanya. Pembangunan sudah dilanjutkan lagi secara diam-diam, aku belum bermaksud mengumumkannya kepada masyarakat. Hanya untuk jebakan bagi orang-orang semacam ini, membuat mereka tidak waswas terhadap para penjaga.”

“Tartaron benar-benar jadi masalah untuk Henolia, ya?” Doojoon bergumam.

“Yah,” Hyunseung menelengkan kepalanya, “nama Pulau Buangan bukan cuma julukan, ‘kan.”

“Apakah Quadro berasal dari Tartaron?” tanya Hyunah. Dia bingung harus melakukan apa, karena dia tak bisa melihat lembaran peta itu.

“Kami tidak tahu,” jawab Hyunseung datar. “Setidaknya, tidak semuanya kami ketahui. Kalau Tiga Pengkhianat berada di sana, berarti tidak semuanya dari Tartaron. Lalu, ada dia juga… kurasa mereka semua dari Henolia… sepertinya. Apa penjaga berhasil mengejar pembunuh dari Quadro yang membunuh ilmuwan itu?”

“Tidak.” Raja Seungho terlihat agak sakit hati. “Penjaga mendengar bunyi letusan senapan yang teredam dan langsung berlari ke tempat kejadian, tapi penjahat-penjahat itu tak ada, hanya mayat dan selembar kartu tantangan. Penjaga juga tidak melihat gerakan di atas laboratorium. Mereka tidak meninggalkan jejak kali ini. Junhyung, ada laporan terbaru dari pencarian keponakanku?”

Sedetik kemudian, perhatian Raja Seungho sudah teralih sepenuhnya.

“Dia sedang sibuk,” kata Doojoon, memandang prihatin kepada Raja yang masih tampak muda itu, “mari menjauh. Ini sudah nyaris malam, waktu kita tidak banyak. Sebaiknya kita lanjutkan perbincangan ini di perjalanan.”

“Aku setuju,” Ilhoon mengangguk-angguk, “tapi bukankah kita harus cari jalan masuk ke underground? Pasti ada jalan masuknya, ‘kan?”

“Maaf aku menginterupsi,” Hyunah berucap lantang, yang sontak mendapat perhatian lebih dari yang diharapkannya, “anu—maaf… tapi aku masih terpikir tentang kartu duel sebelumnya. Kalau ini difokuskan kepada Senior Byunghee dan chico, bukankah sebaiknya kita melihat relasi antara mereka dan jalur bawah tanah ini?”

Doojoon, Ilhoon, dan Dongwoo tampak baru seperti menelan sebongkah nanas bulat-bulat.

“Pintar!” Doojoon menjetikkan jarinya. “Betul—aku lupa karena teralihkan oleh berbagai hal….”

“Kenapa sih kita sulit fokus hari ini?” Ilhoon melotot pada Doojoon, seolah-olah semua ini salahnya.

“Cuma kau saja yang begitu, bodoh!” seru tangan Dongwoo, si cempreng.

“Apa kaubilang? Jangan belagu, kau cuma tangan!” Ilhoon membersut marah.

“Berisik!” Hyunseung memukul Ilhoon dan mencengkeram tangan Dongwoo, supaya makhluk aneh itu diam.

“Adakah yang Senior ingat? Maaf, tidak bermaksud….” Setelah suara-suara berisik tak lagi mengganggu, Doojoon menyalang ke arah Byunghee, yang sedari tadi mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Rasanya agak aneh sekarang kalau Byunghee melamun tanpa melakukan hal-hal aneh seperti mengunyah kaca.

“Samar-samar,” Byunghee mengakui. Suaranya lebih rendah dari biasanya, seolah ia tengah menahan sesuatu, “gerbang terbengkalai yang sering kujadikan tempat bermain panjat-memanjat… kurasa ada jalan masuk menuju terowongan besar di balik gerbang itu. Tapi aku tak pernah berhasil memanjat turun ke sisi yang satu lagi karena selalu ditakut-takuti tentang monster terowongan dan sebagainya….”

“Kira-kira di mana…?”

“Butuh informasi?” Yoseob sekonyong-konyong muncul di antara mereka, seakan ia sudah sepantasnya berada di sana. Padahal tadi ia bagaikan menghilang setelah mengantarkan Hyunseung dan yang lainnya ke Laboratorium Utama. “Gerbang-gerbang menuju jalur bawah tanah sudah banyak yang ditutup setelah pembangunan dilanjutkan. Tapi ada satu jalan masuk di pinggiran Henolia yang biasa dipakai main anak-anak, tapi aku lupa yang mana….”

Hyunseung terdiam sekejap, lantas bergumam dengan mata membulat. “Karaccos… kota pertambangan di sebelah utara.”

Byunghee tampaknya sama kagetnya, namun ia mengangguk kikuk. “Sepertinya aku tinggal di situ saat kecil.”

“Oke, tunggu apa lagi?” Yoseob jadi terlihat agak bersemangat, sepertinya senang akhirnya dia bisa membantu setelah masalah gelembung raksasa menyakiti hatinya. “Mari, kuantar ke Karaccos dengan jet udara.”

***

Udara malam itu kering dan dingin, anginnya begitu kuat dan menusuk tulang. Sebuah perahu panjang dari gelembung berlari membelah angin dan dengan gila-gilaan menghindari hewan-hewan bersayap tepat sebelum hewan-hewan malang tersebut nyaris dihajar cairan sabun yang bergerak dengan kecepatan 160 km/jam. Kalau ini di darat, perahu itu pasti sudah menabrak toko-toko di persimpangan jalan. Yoseob duduk paling depan, dengan tangan diulurkan, berlagak seperti sopir sebuah kendaraan mewah.

“Makin rumit saja kasus ini,” gerutu Ilhoon. Yoseob telah membuat gelembung di sekitar mereka supaya mereka bisa bicara dengan normal, kalau-kalau mereka perlu membahas sesuatu selama di perjalanan. “Penjahat tidak lagi merajalela di balik bayang-bayang kegelapan Henolia. Sekarang aku tahu penyebabnya. Mereka sudah bosan di sana, makanya memunculkan diri.”

“Henolia juga punya para pejabat yang suka menyeleweng kok,” Doojoon, yang duduk tepat di sebelah Ilhoon, memberi usulan tentang hal lain yang bisa digunakan Ilhoon sebagai bahan makian. “Tartaron dekat dengan kita. Para pejabat itu juga memanfaatkan dan dimanfaatkan oleh para buronan dari Tartaron.”

“Kita lebih sering menghadapi bawahan mereka sih, ya—”

“Sudah, kalian berdua.” Hyunseung menggertakkan giginya dengan dongkol. Hyunah bisa memastikan bahwa tangan pemuda itu gatal hendak mendorong Doojoon dan Ilhoon ke laut di bawah mereka. Mata Hyunseung terus-menerus membaca kartu sementara dahinya berkedut-kedut. Sesekali ia memasukkan kartu ke dalam kantong celana, namun ia mengeluarkannya lagi dengan gerakan yang tampak kurang nyaman, kemudian membaca dan mengembalikan kartu ke kantong, seolah takut kartu itu akan terembus angin kencang. Dia terlihat sangat gelisah. Selama Hyunseung membaca, dia agaknya begitu frustrasi hingga titik-titik putih dari shiren di dalam penglihatan Hyunah menghablur setiap sepersekian detik.

“Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Hyunah penasaran. Dia kira Hyunseung akan memandangnya dengan tatapan membunuh, namun nyatanya pemuda itu tidak melakukan apa-apa yang mampu membuat Hyunah merasa terancam.

“Tidak ada,” katanya parau. “Hanya penasaran….”

“Apa?”

“Benarkah Karaccos?” tanya Hyunseung, lebih kepada diri sendiri. Hyunah merasa sudah sepantasnya jika dirinya diabaikan, jadi yang dia lakukan adalah diam mendengarkan. “Tapi tak ada….”

“Ngomong-ngomong soal tak ada,” Ilhoon menolah-noleh bingung, “ke mana Dongwoo?”

“APA?” Hyunseung sontak berbalik. Benar saja. Pemuda berambut merah muda itu tidak ikut naik perahu gelembung bersama mereka.

Wajah Yoseob berubah pucat. “Oh, tidak.” Dia menggeleng-geleng panik. “Apa aku secara tidak sadar menjatuhkannya dan sekarang dia tenggelam di lautan di bawah sana? Atau jangan-jangan aku meninggalkannya? Bagaimana kalau sekarang dia sedang membutuhkan bantuan? Kenapa kau bodoh dan tolol sekali, Yoseob, seharusnya jangan terlalu cepat—”

Doojoon, dengan kesigapannya yang spontan, berusaha menghentikan kepanikan Yoseob yang mengakibatkan perahu menjadi tidak stabil dan membuat mereka semua terguncang-guncang tak terkendali di udara. Hyunseung merasa kepalanya semakin panas. Mengapa tiba-tiba saja kondisinya jadi kacau begini?

“Kalau kau tidak tenang, korbannya malah akan semakin banyak.” Hyunseung mencoba menenangkan dengan caranya sendiri, yang untungnya, bisa membuat Yoseob berhenti menyalahkan diri sendiri dan tidak lagi berusaha menceburkan diri ke laut.  “Begini saja. Lupakan si bodoh Dongwoo sekarang. Aku yakin di mana pun dia, dia punya urusan tersendiri yang sifatnya urgensi, meski aku tidak yakin juga. Tapi lebih baik percaya seperti itu daripada tidak sama sekali. Sebelum kita naik perahu dari istana, dia masih ada. Sementara penjagaan di istana sedang superketat, sehingga kurasa tak mungkin ada penyusup yang masuk dan menculiknya—Raja Seungho takkan pernah membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Dia aman, oke? Dia aman. Kujamin. Jangan pasang tampang begitu.”

“Saya—oh, maaf!” Yoseob mengelap air mata dari sudut matanya. “Saya cuma terharu karena Tuan Hyunseung mau menghibur saya!”

“Er… ya. Bukan, aku bukan menghiburmu. Ya sudahlah.” Hyunseung kembali memandang ke depan lagi, kelihatannya tidak mau bertemu pandang dengan yang lainnya. Mungkin karena malu. Hyunah tidak bisa memastikan ekspresi macam apa yang kini tergambar di wajah Hyunseung.

Yoseob, dengan riang gembira, langsung menstabilkan perahu dan mulai berlayar lagi, kali ini dengan kecepatan yang lebih terkontrol.

Semuanya menghela napas lega, kecuali Hyunseung.

Entah mengapa, intuisinya terganggu.

Ada yang lebih ganjil dalam keseluruhan keganjilan surat ini. Tapi apa itu?

***

Waktu menunjukkan pukul 07.27.

Satu jam delapan menit lagi sampai mereka tiba di Stasiun Bawah Tanah Karaccos.

***

Dongwoo pikir, dirinya akan habis dimaki-maki Hyunseung tatkala mereka pulang nanti. Tetapi dia tidak bisa melepaskan mangsanya kali ini.

Baru saja Yoseob membuat perahu gelembung yang besar dan keren, tiba-tiba seekor gagak bertengger di bahu Dongwoo, mengantar pesan. Kertas yang digunakan kusam dan dilipat-lipat, seolah sang penulis tidak menemukan kertas lain, atau selayaknya sarkasme yang selalu dicelatukkan oleh gadis itu: “Segala milikmu terlihat seperti pemiliknya. Serampangan dan berantakan”.

Isinya singkat, jelas, tanpa berbasa-basi. Walau Dongwoo tahu surat tersebut dituliskan dengan terburu-buru, namun goresan-goresan tipis pena bertinta merah itu mampu memaksakan suatu hal yang memang menjadi pendorongnya untuk keluar malam setiap harinya, menyebar umpan untuk ikan yang tepat.

Dia di bar. Sekarang.

– Ailee

Kemudian, di sinilah Dongwoo, di bar milik paman Ailee, temannya. Bar ini tidak sama dengan bar lain-lainnya, kendati kamuflase yang digunakan sangat lihai sehingga orang awam tak bisa menerkanya. Bar ini adalah, jika Dongwoo harus mengutip kata-kata Ailee, ‘tempat di mana manusia-manusia yang merasa dirinya adalah bagian dari ancaman’ berkumpul, saling menyelidiki satu sama lain. Entah orang-orang Henolia ataukah penyelundup Tartaron. Yang pasti, bukan tempat orang baik-baik. Namun lantaran penjagaan Henolia sudah sangat baik semenjak Raja Seungho menjabat, Dongwoo nyaris tak pernah menemukan orang Tartaron baru di antara wajah-wajah yang berseliweran di bar. Maka dari itu ia heran sendiri mengapa bisa Laboratorium Utama dijebol semudah itu.

“Dia di meja bartender,” bisik Ailee, yang lewat sambil lalu di sebelah Dongwoo, lantas menghampiri meja sekumpulan orang yang berteriak hendak memesan makanan. Pertemanan mereka adalah sebuah rahasia kecil yang lucu, mengingat semuanya berawal karena Dongwoo memaksa Ailee memberitahunya apakah Ailee pernah melihat pemuda kecil berambut pirang dan berwajah cantik yang anehnya senang menggoda wanita. Ailee menamparnya, namun setelah itu memberitahu Dongwoo bahwa pemuda itu pernah bertandang ke bar dua bulan sebelumnya. Ailee berjanji dia akan memberitahu Dongwoo jika pemuda itu datang lagi.

Dan hari ini, Ailee menepati janjinya.

Dongwoo memilih duduk di ujung meja bartender. Ia menyalang tajam ke kursi-kursi di tengah meja, dan tak butuh waktu lama untuknya menemukan sang mangsa.

Orang itu sedang merangkul seorang wanita muda, yang Dongwoo yakini baru orang itu temui hari ini dan di sini. Dongwoo tak percaya pemuda secantik orang itu bisa melangkauinya dalam urusan merayu wanita.

“Anda dari mana, Nona? Jari-jarimu lentik dan cantik… oh, milikku hanyalah jari-jemari pemuda biasa yang begitu ingin bertautan dengan jari-jemari Nona… kurasa aku tak pantas meminta, ya?”

“Wah, aku jadi malu… jari-jemarimu kurus dan panjang, lebih indah dari milikku….”

“Tidak, Nona, tapi aku senang sekali dipuji wanita secantik Anda. Ngomong-ngomong, Anda harum… rasanya harum tubuh Anda sanggup membawaku tidur pulas dalam seminggu ini….”

Dongwoo memutar bola matanya. “Serius, kau memuakkan.”

Orang yang ditegur Dongwoo kontan berbalik terkejut. Sedangkan wanita cantik di sebelahnya terlonjak di kursinya, seolah terbangun dari mimpi. Dia memandang bolak-balik Dongwoo dan pemuda berambut pirang yang merayunya tadi dengan tatapan bingung. Dengan wajah merah, wanita itu beranjak dari sana, mengambil langkah cepat menembus khalayak ramai.

“Berengsek,” umpat si pemuda berambut pirang. “Kau membuat dia lari!”

“Aku yakin dia sudah jadi tunangan atau istri seseorang,” tukas Dongwoo jengkel. “Mulutmu itu luar biasa. Menggunakan kemampuan untuk bersenang-senang, eh?”

“Bukan urusanmu.” Si pemuda berambut pirang bersandar di kursi kayunya, kedua tangannya tergeletak dengan sombong di atas lengan kursi. “Susah payah aku ke sini untuk bermain-main, tapi malah bertemu kau. Sudah kubilang ‘kan, aku tak mau lagi terlibat.”

“Tapi—”

“Kau tak punya telinga, ya?” Si pemuda berambut pirang bangkit dan menyampirkan mantel hitam tebal di bahunya. Seperti yang selalu Dongwoo kenal, pemuda itu selalu berusaha bergaya paling laki-laki dengan baju tanpa lengan dan celana gombrong dan rambut yang ditata sedemikian rupa sehingga tampak berantakan. “Atau kau terlalu sibuk dengan tangan-tangan tololmu itu sehingga telingamu tak lagi bisa menangkap kata-kata?”

“Apa kaubilang—”

“Aku tak mau terlibat. Jelas?”

“Oi—”

“Selamat tinggal, Dongwoo.”

“Aku tak minta kau terlibat!”

Si pemuda pirang, yang baru saja mengambil langkah cepat untuk keluar dari bar, serta-merta menghentikan tumit kakinya dan berputar menghadap Dongwoo. Alisnya terjungkit, agaknya penasaran.

“Setidaknya—tidak secara langsung. Sebetulnya aku mau informasi darimu. Ayo… ng… barter. Apa pun yang kupunyai… yah, boleh kauambil.”

Pemuda pirang itu menyeringai.

Bagus, pikir Dongwoo. Kemungkinan sinyal hijau.

“Kedengarannya oke,” kata si Pemuda. “Tapi lain kali saja, ya.”

Sepersekian detik kemudian, pemuda itu sudah lari, anak-anak rambutnya yang pirang mencolok terkibas seiring dengan geriknya yang tangkas, tampak bermanuver di antara kepala-kepala yang menutupi pandangan Dongwoo.

“Tunggu—oi!”

Percuma saja. Si pemuda berambut pirang telah lesap dari lingkup pandangannya. Lagi-lagi, lari dari sergapan Dongwoo.

Dongwoo menggebrak meja bartender, membuat sang bartender, Paman Ailee, tergagau.

“Sial!”

.

.

.

6th Chapter of Tale

END

.

EXISTENTIA 7th

Interfectorem dan chico. Jung Byunghee dan Jung Hana.

Ketika akhirnya mereka dipertemukan kembali, di mana keganasan Byunghee pertama kali disaksikan Hyunah, Jang Hyunseung menyadari satu hal yang aneh dan mengerikan:

“Hanya satu. Ke mana dua yang lain?”

a story for the bloody memories,

interfectorem and chico.

***

existentiafront

C O M I N G   S O O N:

The first real battle, Jung Byunghee vs. Jung Hana

***

MAAF ATAS KETERLAMBATAN YANG MUNGKIN SUDAH SETAHUN INI HUHUHUHU ;___;

Ehniwei maafkan karena saya begitu plinplan dalam hal cerita ini, tapi cerita ini udah dibangun kok kejelasan plotnya (pas ditulis pertama masih gambaran superkasar). Jadi, beberapa hal yang saya ubah adalah:

  • Hyunah bukan anak kecil umur dua belas tahun tapi sudah gadis remaja (setelah dipikir-pikir, Hyunah enggak cocok jadi anak kecil #tobatabisnontonNowlagi), dan yang lainnya pun sudah dewasa tapi terserah kalian umur mereka mau dijadikan berapa.
  • Kekuatan Hyunseung, Doojoon, Ilhoon, Dongwoo, Byunghee, Hyunah, dsb bukan karena diambil dari pemilik kekuatan ((apalah dan siapalah dia, mohon lupakan saja)) tapi karena sebab lainnya. Belum diketahui dan nanti akan terungkap sendiri.
  • Sisanya sudah diubah di chapterchapter pendahulu ((maaf)) ((karena rumit jadi sulit)).

Kalau bingung, silakan tanya! Karena yang nulis juga sering bingung ohok ;_;

Terima kasih banyak yang masih sudi membaca! Bagi yang tanya “Lha bukannya chapter ini harusnya berantem-beranteman?”. Iya, harusnya. Tapi karena kepanjangan jadi saya potong ;; next chapter will! Dan enggak akan selama chapter ini kok….

Btw, ada yang bisa tebak siapa sang Putri dan pemuda berambut pirang ini? Udah lama ya enggak main tebak cast siapa-dia :3

Sekali lagi terima kasih! Mind to review? Atau mau protes mungkin? Saya terima dengan hati senang! Saya cinta kalian :”’)

xx, fikha

12 responses to “EXISTENTIA — The Bloody Memories: Clue [6th]

    • DHIYAAAAA KANGEEEEN
      maaf baru bales ya huhuhu ;___;
      lho lho tapi luhan emang cantik banget sih huehehe :3
      makasih banyak udah baca yaaaah!!! kangen ngobrol-ngobrol deh😦 {}

    • Waduh kenapa ya?? Tapi komen pendek ini bisakook… mungkin di komennya ada simbol kalii biasanya aku gabisa kalo ada simbol kaya gitu._. Komennya udah di-save kaan? Supaya tinggal copas jadi ngga ngebebaniin. Aku sendiri bisa komen panjaang

      • Gak tahu… Aku gak save fikh soalnya via hp :’)
        Tapi aku komen ke yang laen bisa… Trus ifknya ke protect gitu. Kenapa ya?😐
        Nanti aku komen ulang deh :’)
        Masih inget kok apa yg pengen aku omongin hahaha xD

      • Yaaah sayang banget :(( hah ono opo with my movie……
        Ifk keprotect gimana atuh?
        Waduuu makasih banyak yaaaah!!! Maaf ngerepotin :””(

      • Di sini gak bisa ngirim foto sih😐
        Keprotect gitu… Gak bisa kebuka…
        Trus dia minta request dulu masa… Aku gak ngerti ;-;

        Hahaha gpp fikh…
        Lagian udah lama gak buka wordpress xD jadi kangen…
        Apalagi pas buka dapet ff terbaru dari kamu hahahah xD
        Aku comment di sini aja kali yaaa ><

        Aku masih penasaran soalnya sama dalang dibalik semuanya… Bukan himchan kan ya? Ya kan? *sedang meyakinkan diri klo himchan baik* ;-;
        Trus itu hubungannya G.O oppa sama hana apa? Pacarankah? Atau saudara kandung *mengingat nama marga mereka berdua samaan*?
        Aaaaa pokoknya harus dilanjutin yaaa fikh :')
        Btw aku juga kangen tuh sama ff kamu yg black circus :') hahahaha
        Aaaaa pokoknya tetep bikin movie yang keren dan misterius❤
        Aku tungguin semua cerita terbaru kamu lagiiii😀

      • Oalaaaah yayaya mungkin sama Art Director IFK layoutnya lagi diutak-atik huehehe biasanya emang begitu kalo blog sedang di-protect. Tunggu sebentar yaaah!
        Wih huahaha jadi terharu :”’ #ehiniserius
        Nah siapakah dalang dari semuanyaaaa? Himchankah? Mari kita tonton sampai akhir huehuhu kayanya last chapter bakalan sampe chapter 18-20an deh ((ini aja baru menuju 7)) ((sc kurang ajar))
        On process buat lanjutannya nihhhh! Black Circus kuubah jadi orific terus kukirim ke penerbit huhuh rencananya mau jadi long series. Cerita dan karakternya juga banyak dirombak dari versi ff, cuma penggambaran tokoh khususnya ji dan chaerin a.k.a el sama koook. Doakan yah bisa tembus sebelum aku 17 :”””””>

        Bismillah fikha jangan lemot dan suka menunda kerjaan lagiii dan makasih banyak yaaaaa semangadh chikkk!!! \(^O^/ )

      • Hooo panteessa xD
        Di hidden dulu kali ya xD

        Duh yang lagi terharu *kasih tissu*
        Plis jangan suami aku fikkhh ;A; dia bukan orang jahat, cuma orang galau aja *eeh
        Semangat nulisnya >< tulisan kamu sering jadi inspirasi aku buat nulis ff atau cerpen juga soalnya hahaha
        Semangat fikkhhhaaaaa ^^)9

      • Iyaaah sekarang udah kebuka lagi kokk cuma ternyata layoutnya belum beres….

        *semprot tisu pake ingus* *astaga* *joroknya dakoe*
        Himchan mah emang makhluk galau tingkat neraka….
        HAH DEMIAPAAAA aku mah masih bodoh atuh masa dijadiin inspirasi ;;;___;;;
        semangat jugaaak!!! o///

  1. Saya gak telat kan fik? Baru buka blok kamu setelah sekian lama wkwk
    Dan pas buka bener bener seneng banget liat ada ff ini lagi. Bahasa penulisan kamu tetep rapi dan bagus, tetep bisa ngerti alur ceritanya walaupun lupa cerita chapter yang sebelumnya haha. Kalo kamu nanya siapa tuan putrinya aku bener bener gak bisa nebak, suzy mungkin? Kalo temenya dongwoo mungkin gikwang kali ya tapi gak tau juga hahaha.
    Dan aku sangat sangat menunggu chapter berikutnya yaaa fik

    • AHOYYYY KAKA NIAAA. ngga telat kukkks huehehe ;;3
      Alhamdulillah!!! ahaha kelamaan keluarnya sih ya dan ribet ceritanya makanya gampang terlupa ;A; wah apakah si putri benar-benar suzy? mari kita tunggu bocorannya :3 terus temennya dongwoo…… gikwang juga cantik sihhh astaga ternyata kpop banyak cowok cantiknya /yaemang
      makasih banyak udah baca dan komeeeen!{}{}{} kangen banget ngobrol lagi TAT

Will You Give Me A Happiness? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s